• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh tipikal aksi masyarakat memerangi korupsi

DRAFT KERANGKA

Kotak 1: Contoh tipikal aksi masyarakat memerangi korupsi

kepada warga yang menyalahgunakan kekuasaan yang telah mereka percayakan kepada mereka. Terdapat bukti bahwa sanksi semacam itu dapat lebih mudah dilaksanakan dan lebih efektif daripada naskah hukum yang panjang lebar, khususnya dalam kasus korupsi yang lebih kecil. Proyek tersebut tidak mengakui

vigilantisme atau sanksi masyarakat yang ekstrim, tapi

dalam banyak kasus masyarakat dapat mencapai penyelesaian yang bersahabat tanpa mengambil sistem legal yang lambat dan berat (lihat kotak sebagai contoh). Disebutkan, sanksi formal juga mungkin diterapkan. Sebagai contoh, pejabat (pemerintah, non-pemerintah, dll), anggota masyarakat, atau entitas sektor swasta yang terlibat dalam proyek tersebut dapat dilaksanakan jika tersedia bukti yang memadai. Dalam semua kontrak pengadaan, bukti korupsi, kolusi atau nepotisme akan menyebabkan pemutusan kontrak terkait, mungkin dengan tambahan penalti yang dikenakan (seperti denda, masuk daftar hitam, dll) sesuai dengan peraturan Bank dan Pemerintah. Penarikan dana dari Rekening Khusus proyek kepada BKM akan ditangguhkan dalam kasus dimana diduga terjadi penyalahgunaan dana. Pada skala yang lebih luas, seluruh kota mungkin tidak

Kotak 1: Contoh tipikal aksi masyarakat memerangi korupsi

Dalam satu kasus baru-baru ini masyarakat memutuskan untuk menahan sepeda motor milik bendaharawan lokal sebagai jaminan sampai dana yang hilang (Rp 3 juta atau $375) dipertanggungjawabkan dan dikembalikan. Ini jauh lebih cepat daripada mengadukannnya ke aparat hukum yang mungkin membutuhkan biaya lebih besar daripada jumlah yang hilang dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannnya.

diikutsertakan dalam fase berikutnya bila diduga penyalahgunaan dana terjadi secara luas pada kota tersebut. Informasi mengenai kasus yang berhasil, dimana pelajaran dapat dipetik dan dana dikembalikan, akan disebarluaskan.

II. Matriks Pemetaan Korupsi

Pembatasan terjadinya korupsi dalam proyek ini dimulai dengan mengidentifikasi area risiko yang potensial – ini disebut pemetaan korupsi. Pemetaan korupsi ini dan identifikasi peluang korupsi akan diulang sekurang-kurangnya setiap enam bulan sejalan dengan kemajuan proyek dan pelajaran yang dipetik.

Bidang

Pemetaan Korupsi Tingkat Risiko Peluang Korupsi Aksi Penanggulangan PENGADAAN

Kapasitas Pimpro dan Panitia Tender/ Evaluasi

MEDIUM

(Pusat) Penilaian yang tidak independen dalam proses evaluasi konsultan. Keputusan cenderung bias terhadap konsultan sesuai “yang diinstruksijab” oleh pejabat yang lebih tinggi atau pihak lain.

- Profesional independen termasuk sebagai bagian dari tim evaluasi proposal konsultan - Pengembangan kapasitas untuk semua pelaku

yang terlibat dalam pengadaan, termasuk sertifikasi staf sesuai dengan Keppres 80/2003 - Pengembangan Petunjuk Pengelolaan Proyek

untuk merampingkan semua prosedur dan mekanisme sanksi/penanganan keluhan

Bidang

Pemetaan Korupsi Tingkat Risiko Peluang Korupsi Aksi Penanggulangan

Evaluasi Proposal MEDIUM - Penundaan proses evaluasi yang akan menguntungkan konsultan (tertentu)

- Proposal ditolak karena alasan yang tidak terkait dengan kapasitas konsultan dalam melaksanakan jasa tersebut

- Skor teknis yang cukup signifikan tinggi diberikan kepada konsultan “yang lebih disukai” sehingga tidak ada konsultan lain

mengalahkan proposal mereka tanpa

memperdulikan biaya, yang dapat menghasilkan biaya yang tinggi

- Informasi palsu mengenai yang diberikan oleh konsultan

- Rencana Pengadaan, dengan jangka waktu yang jelas, akan mengikat dalam Kesepakatan Legal, dan akan ditetapkan sebagai dasar untuk pengadaan apapun.

- Bank akan menyatakan pengadaan yang tidak sesuai (misprocurement) untuk perpanjangan validitas proposal yang tidak beralasan - Prosedur QCBS dengan pagu anggaran akan

diikuti

- Taksiran anggaran untuk masing-masing paket kontrak akan didasarkan pada pengalaman aktual yang ditentukan melalui survei ekstensif paket yang sejenis yang dilaksanakan pada P2KP 1 dan 2

Penentuan Pemenang

Kontrak MEDIUM - Panitia mungkin memanggil calon pemenang dan bernegosiasi nilai kontrak - Kolusi dan nepotisme

dalam penentuan pemenang kontrak

- TOR akan dirancang agak saklek (kaku)

- Mewajibkan pengumuman pemenang kontrak Kualitas pelayanan

yang diberikan MEDIUM - Pelayanan yang diberikan lebih rendah kualitasnya daripada yang ditentukan dalam KAK (TOR), dan pejabat mungkin mengambil keuntungan melalui perbedaan tersebut - Perubahan siginifikan staf

kunci konsultan pada tahap awal penugasan - Pengawasan yang rendah

secara internasional dan mengambil keuntungan dari konsultan

- Keterlibatan pengawasan masyarakat madani dan konsultan pengawas (sebagai contoh: KMP dalam kasus KMW, dan EC dalam kasus KMP) dalam pemeriksaan jasa yang telah diberikan - Penajaman mekanisme penanganan keluhan - Keterlibatan kelompok masyarakat dalam

pemantauan kualitas hasil (deliverable) konsultan

- Memberlakukan sistem ganjaran dan hukuman seperti dirumuskan dalam Keppres 80/2003

Perencanaan pengadaan, termasuk satu untuk sub proyek

MEDIUM Risiko mengambil keuntungan dan mark up anggaran

- Peninjauan wajib oleh Bank terhadap perencanaan pengadaan, dan pengumuman rencana pengadaan pada ranah publik, termasuk nilai kontrak

Pengadaan secara

umum MEDIUM Risiko mengambil keuntungan, praktik kolusi untuk “memberikan” kontrak kepada konsultan “yang lebih disukai”, dan kualitas pelayanan yang lebih rendah

- Peningkatan keterbukaan informasi, penanganan keluhan, dan sanksi seperti dirumuskan dalam Keppres 80/2003 - Peningkatan kapasitas pejabat yang terlibat

dalam pengambilan keputusan tentang pengadaan, termasuk merekrut konsultan - Peningkatan sistem pengendalian (internal dan

eksternal) termasuk keterlibatan profesional anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pengadaan

- Pengembangan Manual Proyek - Memperketat pengawasan Bank

Bidang Pemetaan Korupsi

Tingkat

Risiko Peluang Korupsi Aksi Penanggulangan

PENGELOLAAN PROGRAM

Daftar final staf CPMU, PMU dan PIU dengan (i) pengalamannya dalam menangani proyek yang didanai donor, dan (ii) sejarah pengelolaan proyek atau pelatihan bendaharawan yang diikuti

MEDIUM - Risiko kapasitas staf CPMU, PMU dan PIU yang tidak memadai.

- Kriteria dan indikator kinerja Pimpinan Proyek, Bendaharawan, staf perencana, staf pengadaan, staf keuangan dan monev (monitoring dan evaluasi). Staf CPMU, PMU dan PIU disepakati oleh Bank telah dimasukan dalam PMM dan akan digunakan sebagai dasar peninjauan kinerja tahunan staf yang relevan

- Ketentuan POM sebagai pedoman bagi pelaksanaan proyek.

- Ketentuan Pengelolaan Proyek Pemerintah, Kebendaharaan dan pelatihan POM untuk staf CPMU, PMU dan PIU.

- Pelatihan tahunan yang disepakati oleh Bank mengenai staf CPMU, PMU dan PIU. Publikasi Laporan Audit MEDIUM Risiko ketidaktersediaan

informasi mengenai kemajuan dan hasil pelaksanaan proyek (termasuk penyalahgunaan, praktik kolusi dan nepotisme, jika ada).

Instansi pelaksana akan (dan Bank Dunia dapat) mengumumkan segera setelah menerima laporan akhir audit yang disusun sesuai dengan

kesepakatan pinjaman/kredit, dan semua tanggapan formal pemerintah.

Mekanisme Akuntabilitas Lokal

MEDIUM Tidak adanya pengalaman setempat mungkin menyebabkan kasus penyalahgunaan dalam masyarakat.

- Disain proyek mencakup pengawasan dan supervisi untuk menekan risiko tersebut. - BKM akan bertemu secara reguler untuk

membuat keputusan kolektif mengenai isu strategis, dan meninjau rekening UPK berkenaan dengan penggunaan dana. BKM juga akan melaksanakan pertemuan tahunan dengan masyarakat umum untuk

mempertanggungjawabkan kegiatannya sepanjang tahun tersebut.

- Keuangan BKM akan diaudit setiap tahun oleh akuntan setempat. Hasil audit akan dilaporkan kepada masyarakat pada rapat

pertanggungjawaban akhir tahun BKM. Idealnya, masing-masing BKM harus dikunjungi sekurang-kurangnya dua kali per tahun oleh KMP. - Untuk meningkatkan kualitas supervisi konsultan

di bawah proyek tersebut, fasilitator diminta untuk memeriksa secara teratur pembukuan BKM dan UPK. Mereka juga perlu

menandatangani dan membuat “pernyataan representasi” secara teratur, yang menegaskan bahwa mereka memeriksa pembukuan tersebut dan menganggapnya memuaskan. KMW pada tingkatan yang lebih tinggi akan memeriksa secara acak pernyataan fasilitator dan juga akan diminta menandatangani dan membuat pernyataan yang sama. Mekanisme untuk memeriksa dan menerapkan sanksi akan dikembangkan untuk mereka yang membuat pernyataan yang salah (sanksi mungkin mencakup pemisahan pekerjaan).

Bidang

Pemetaan Korupsi Tingkat Risiko Peluang Korupsi Aksi Penanggulangan

PARTISIPASI MASYARAKAT Diseminasi secara terbatas informasi mengenai program

RENDAH Informasi dibatasi pada

peredarannya atau diberikan hanya pada kelompok tertentu sehingga proposal yang tidak layak mungkin terjadi

Sosialisasi akan dilaksanakan melalui rapat, lokakarya, dan focus group discussions pada tingkat kelurahan, kecamatan, kota dan provinsi. Sosialisasi tersebut juga mencakup kampanye melalui spot surat kabar dan program radio. Strategi sosialisasi dipicu untuk membuat masyarakat sadar mengenai tujuan proyek, dan aturan dan peraturannya. Ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa stakeholders mengetahui bahwa peran dan tanggung jawab mereka, dan bagaimana membuat masing-masing bertanggungjawab terhadap tindakan mereka.

Pemilihan anggota BKM RENDAH Proses keanggotaan BKM

yang tidak transparan sehingga menyebabkan rendahnya integritas

Proses pemilihan anggota BKM akan dilaksanakan melalui proses pemilihan yang transparan dan adil, dengan partisipasi siginifikan dari anggota masyarakat

Penyaluran dana MEDIUM Mengambil keuntungan

untuk pejabat pemerintah Dana NCEP-P2KP ditujukan langsung kepada masyarakat, yakni rekening BKM. Bila penerima

mamfaat memenuhi persyaratan yang ditentukan, mengikuti permintaan dari PJOK (setelah verifikasi oleh Konsultan Manajemen Wilayah), dana dikirim dari Rekening Khusus dalam beberapa hari. Prosedur, ukuran dan kriteria untuk merumuskan hibah, kriteria eligibilitas untuk penerima mamfaat, dan kondisi untuk penarikan semua disederhanakan dan dirumuskan di depan untuk menjamin bahwa stakeholders dapat memahaminya dengan mudah. Untuk Hibah Kelurahan, persyaratan penarikan dana kepada BKM terkait dengan kinerja bukannya input, dengan penarikan pertama 20% berdasarkan penyelesaian secara memuaskan Rencana Pengembangan Masyarakat BKM; penarikan kedua 50% berdasarkan indikator penggunaan dana dan pengelolaan keuangan yang memuaskan, dan penarikan ketiga 30% berdasarkan indikator kesinambungan BKM. Karena masyarakat mengetahui berapa banyak mereka harus terima, maka seharusnya akan lebih sulit bagi pejabat untuk mengambil keuntungan.

Pelaksanaan investasi

sub proyek MEDIUM Penyalahgunaan dana oleh BKM dan KSM KSM diminta untuk menyusun dan mengajukan laporan mengenai kemajuan dan penggunaan dana

proyek ke BKM.

Semua informasi keuangan dibuat tersedia untuk publik dan ditampilkan di kelurahan. Berita acara, status keuangan bulanan BKM, dan nama dan nilai proposal yang didanai ditempelkan pada papan pengumuman yang diletakkan di sekitar kelurahan. Kebebasan pelaku dibatasi dengan menetapkan aturan bahwa semua transaksi keuangan

memerlukan sekurang-kurangnya tiga tanda tangan, dua dari anggota BKM terpilih dan satu dari KMW. Untuk pembelian di atas Rp 15 juta, proyek meminta BKM untuk melaksanakan penawaran terbatas dimana penawaran harus terbaca di publik. Untuk pembelian yang lebih kecil, pembelian harus dilaksanakan oleh dua orang yang akan meminta penawaran dari pemasok lokal.

Keuangan BKM akan diaudit setiap tahun oleh akuntan setempat. Hasil audit akan dilaporkan kepada masyarakat pada rapat pertanggungjawaban akhir tahun BKM.

Dokumen terkait