BAB IV HASIL PENELITIAN
17. Pedagang Ecerean Obat (Toko Obat Berizin) 57
4.2.2 Analisis Data Penelitian
4.2.2.6 Control of Corruption
Dimensi Control of Corruption melihat sejauhmana kekuatan publik digunakan untuk keuntungan pribadi, termasuk bentuk kecil dan besar dari korupsi, serta “menangkap” negara oleh elit dan kepentingan pribadi. Dimensi Control of Corruption menggambarkan bagaimana masing-masing dari pilar good governance
dalam melakukan pengawasan terhadap tindak kecurangan-kecurangan, seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) serta upaya-upaya yang dilakukan dalam mengurangi kecurangan-kecurangan yang dapat terjadi dalam pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan. Berikut adalah hasil wawancara dengan I1-3 sebagai pilar pemerintah terkait bentuk pengawasan terhadap tindak kecurangan-kecurangan, yaitu: “Kalau kita dari segi keuangan, selalu dipantau oleh Dinas Kesehatan. Kita laporan keuangan tiap bulan, nanti kalau tiba-tiba ada yang tidak cocok, nanti kita klarifikasi lagi. Kebetulan kemarin ada pemeriksaan dari BPK kita lolos, dari KPK kita juga lolos. Tapi, Alhamdullillah Dinas Kesehatan gak ada kecurangan-kecurangan seperti itu, karena program yang kita lakuin semuanya jelas, bukan fiktif. Misalnya pemberian susu, susunya sudah ada, orang yang menerimanya juga sudah ada.” (wawancara di Ruang Kepala Puskesmas Kutabumi, 6 April 2015 Pukul 10.27).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I1-3 di atas, dapat diketahui bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setiap bulannya selalu membuat laporan keuangan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam hal ini berperan sebagai pengawas yang melakukan evaluasi dari hasil laporan keuangan dari masing-masing Puskesmas, dan jika terjadi ketidaksesuaian maka selanjutnya Puskesmas tersebut harus memberikan klarifikasi terhadap hal tersebut. Selain diawasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang,
Puskemas juga diawasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut informan, sejauh ini tidak ada kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang karena target dari masing-masing program jelas sasarannya, misalnya bantuan susu formula bagi balita yang kekurangan gizi, penerima bantuan tersebut juga sudah ada. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh I1-1 sebagai pilar pemerintah, yaitu:
“Pengawasannya dilihat dari laporan keuangannya, misalnya ada indikasi, seperti tanda tangan yang tidak sama atau ada harga yang terlalu tinggi, kita langsung panggil orangnya, kita selidiki benar tidak pelaksanaan kegiatannya di lapangan. Sama kita juga dengan BPK seperti itu, kita kan diperiksa oleh BPK melihat laporan-laporan kita, misalnya kita beli mobil untuk Puskesmas kan dia cek langsung ke lapangan, barangnya ada atau enggak, harganya sesuai atau enggak, proses lelangnya benar atau enggak, kan ada Unit Layanan Pengadaan (ULP) nanti semuanya diperiksa setiap tahun oleh BPK, belum lagi kita diawasi oleh OMS. Tapi kalo ada kesalahan administrasi itu pasti ada, dan akan segera kita perbaiki jika terjadi seperti itu.” (wawancara di Ruang Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 17 April 2015 Pukul 08.58).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I1-1 di atas, bentuk pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang terhadap tindak-tindak kecurangan, seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dapat dilihat dari laporan keuangan dari masing-masing pelaksana kebijakan atau program kesehatan. Hasil laporan keuangan yang memiliki indikasi kecurangan, seperti tanda tangan yang berbeda atau harga pengadaan yang terlalu tinggi akan dipanggil pihak yang bertanggung jawab dalam laporan tersebut. Dalam hal ini Dinas Kesehatan tidak langsung memberikan tindakan kepada pihak tersebut, namun diperiksa terlebih dahulu karena mungkin saja terjadi kesalahan administrasi dalam pembuatan laporan tersebut. Dinas Kesehatan
176
Kabupaten Tangerang sendiri langsung diawasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS).
Pengawasan oleh BPK juga dilakukan dengan melihat laporan-laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, misalnya dalam pengadaan kendaraan Puskesmas Keliling (Pusling), BPK akan melihat langsung ke lapangan apakah kendaraan yang dilaporkan tersebut benar-benar ada, jenis dan spesifikasinya benar, harga barang sesuai dengan harga pasaran atau tidak, serta bagaimana proses lelangnya. Jika terjadi ketidaksesuaian dalam laporan yang diperiksa setiap tahunnya maka Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang juga harus mampu mempertanggungjawabkannya kepada BPK. Adapun pengawasan dari OMS dapat kita lihat dari hasil wawancara dengan I3-3 sebagai pilar masyarakat, yakni:
“Memang kita ini juga lembaga independen, dimana FOPKIA juga melakukan proses pengawasan terhadap pelayanan-pelayanan di Kabupaten Tangerang juga, Puskesmas, Rumah Sakit dan sebagainya, dimana disitu teman-teman FOPKIA, tentu melihat secara langsung di lapangan dan mengawasi disitu, apakah proses pelayanannya baik atau tidak. Jadi, pengawasannya dilakukan secara langsung dan melibatkan media, seperti Tangerang Express, Radar Banten dan sebagainya.” (wawancara di kediaman informan Cibadak, Tigaraksa, 11 April 2015 Pukul 16.12).
Merujuk pada hasil wawancara dengan I3-3 di atas, dapat kita lihat bahwa Forum Kesehatan Ibu dan Anak (FOPKIA) Kabupaten Tangerang ini berperan sebagai lembaga independen yang mengawasi pemberian layanan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Rumah Sakit, atau fasilitas kesehatan lainnya. Tim dari FOPKIA Kabupaten Tangerang disini mengawasi langsung bagaimana pelayanan kesehatan di lapangan apakah telah sesuai dengan maklumat pelayanan atau belum.
Disamping itu, dalam proses pengawasan terhadap tindak kecurangan yang ada di lapangan, FOPKIA Kabupaten Tangerang juga bekerjasama dengan media, seperti Tangerang Express, Radar Banten, dan lain sebagainya. Pengawasan yang dilakukan oleh FOPKIA sebagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) tidak juga dilakukan oleh masyarakat secara umum. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh I3-2 sebagai pilar masyarakat, yang menyatakan bahwa “Untuk pengawasannya belum sampai kesitu pengawasan kita. Kita lebih banyak dalam pelaksanaan program Dinas Kesehatan saja.” (wawancara di kediaman informan, Pasarkemis, 21 April 2015 Pukul 18.47). Hal ini juga disampaikan oleh I2-3 sebagai pilar sektor swasta, yaitu:
“Kalau untuk masalah itu kita tidak tahu ya, pengawasan kita tidak sampai sana karena tadi itu tidak dilibatkan misalnya ada kebijakan atau program apa, jadi kita tidak tahu permasalahan KKN seperti itu. Kita lebih banyak terlibat dalam pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan itu saja.” (wawancara di Kantor Kecamatan Mauk, 12 Mei 2015 Pukul 12.33).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I3-2 dan I2-3 di atas, dapat diketahui bahwa pengawasan masyarakat dan sektor swasta terhadap tindak kecurangan, seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang masih kurang. Menurut kedua informan, keterlibatan mereka banyak pada tahap pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan saja, dibandingkan dalam hal pengawasan terhadap tindak kecurangan-kecurangan tersebut. Adapun upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam mengurangi tindak kecurangan dapat kita lihat berdasarkan hasil wawancara dengan I1-1 sebagai pilar pemerintah berikut ini:
“Kita lewat pelatihan-pelatihan keuangan untuk mengelola keuangan oleh BPK, terus BPKP sebagai pemberi materi dan KPK juga pernah kita panggil, jadi ada pembinaan dari mereka. Sekarang juga sudah menganut e-budgeting, jadi kita
178
langsung ke keuangan, itu baru sistem keuangan, nanti belum lagi sistem kinerja jadi nanti semuanya sudah elektronik.” (wawancara di Ruang Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 17 April 2015 Pukul 08.58).
Sebagaimana hasil wawancara dengan I1-1 di atas, dapat kita lihat upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam menekan tindak-tindak kecurangan yang mungkin terjadi dengan memberikan pelatihan kepada pegawai. Pelatihan yang dimaksud yaitu pelatihan untuk dapat mengelola keuangan, yang mana Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai pemberi materi pelatihan pengelolaan keuangan tersebut. Selain itu, upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam menekan tindak kecurangan-kecurangan yaitu dengan menerapkan sistem anggaran secara online yang disebut dengan e-budgeting. Sistem e-budgeting
ini merupakan upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam mengurangi penyalahgunaan anggaran kesehatan dalam sistem anggaran karena dengan sistem yang langsung terhubungan dengan bagian keuangan ini diharapkan dapat memperkecil kemungkinan terjadi “negosiasi” yang dapat menimbulkan indikasi terjadi penyalahgunaan anggaran kesehatan tersebut. Dengan demikian, dapat diketahui pengawasan sektor swasta dan masyarakat dalam mengawasi tindak-tindak kecurangan, seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang masih kurang, karena mereka lebih banyak terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan program kesehatan saja.
4.3 Pembahasan
Pembahasan yakni mencakup pemaparan lebih lanjut dari hasil analisis data yang ditujukan untuk memaparkan lebih jauh lagi terkait masing-masing dimensi
good governance dalam penelitian ini. Dalam menganalisis data hasil penelitian, peneliti menggunakan teori dari dari Kaufman, Kraay & Mastruzzi (2010:4) yang mana terdiri dari enam dimensi dalam governance, yaitu Voice and Accountability
(VA), Political Stability and Absence of Violence or Terrorism (PV), Government Effectiveness (GE), Regulatory Quality (RQ), Rule of Law (RL), dan Control of Corruption (CC). Berikut adalah pembahasan dari masing-masing dimensi good governance dalam penelitian mengenai “Implementasi Penerapan Prinsip-Prinsip
Good Governance di Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang”.
4.3.1 Voice and Accountability
Dimensi Voice and Accountablity yakni melihat sejauhmana masyarakat dapat berpartisipasi dalam memilih sendiri pemerintah mereka, serta kebebasan berekspresi, berkumpul dan sebuah media yang bebas. Dimensi Voice and Accountablity
menggambarkan bagaimana pemerintah dipilih dan diawasi, sehingga menuntut adanya bentuk transparansi dan bentuk pertanggungjawaban dari pemerintah untuk melaporkan, menjelaskan dan dapat dipertanyakan terhadap tiap tindakan, produk keputusan atau kebijakannya. Pada dimensi ini, peneliti membagi analisis data ke dalam tiga sub dimensi, diantaranya partisipasi, akuntabilitas dan transparansi. Berikut adalah pembahasan dari hasil analisis data terkait dimensi Voice and Accountability.
180
a. Partisipasi
Partisipasi yang dimaksud dalam pembahasan ini yakni terkait bagaimana keikutsertaan dari masing-masing pilar good governance dalam proses pembuatan kebijakan, pelaksanaan kebijakan serta evaluasi dari keseluruhan kegiatan yang telah dilakukan dari masing-masing pilar good governance tersebut. Partisipasi sendiri dibagi menjadi tiga bagian, yakni partisipasi dalam perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan serta evaluasi dari pelaksanaan kebijakan tersebut. Berdasarkan hasil analisis data, keterlibatan masing-masing pilar good governance
dalam tahap perumusan, implemtasi serta evaluasi pelaksanaan kebijakan atau program kebijakan memiliki peran atau tugas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Keterlibatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang sebagai pilar pemerintah dalam proses perumusan kebijakan yaitu sebagai pencetus kebijakan atau program kesehatan. Perumusan kebijakan atau pelaksanaan program kesehatan didasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kementerian Kesehatan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), serta Rencana Strategi (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Di samping itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dalam merumuskan kebijakan atau program kesehatan juga didasarkan pada keluhan-keluhan dari masyarakat, asalkan hal tersebut tidak menyalahi aturan yang berlaku.
Pada tahap implementasi kebijakan, peran dan tugas Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang sebagai pilar pemerintah dibagi menjadi dua, yaitu pegawai yang bertugas di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang berperan sebagai