BAB IV HASIL PENELITIAN
17. Pedagang Ecerean Obat (Toko Obat Berizin) 57
4.2.2 Analisis Data Penelitian
4.2.2.1 Voice and Accountability
Dimensi Voice and Accountablity yakni melihat sejauhmana masyarakat dapat berpartisipasi dalam memilih sendiri pemerintah mereka, serta kebebasan berekspresi, berkumpul dan sebuah media yang bebas. Dimensi Voice and Accountablity
menggambarkan bagaimana pemerintah dipilih dan diawasi, sehingga menuntut adanya bentuk transparansi dan bentuk pertanggungjawaban dari pemerintah untuk melaporkan, menjelaskan dan dapat dipertanyakan terhadap tiap tindakan, produk keputusan atau kebijakannya. Pada dimensi ini, peneliti membagi analisis data ke dalam tiga sub dimensi, diantaranya partisipasi, akuntabilitas dan transparansi. Berikut adalah analisis data peneliti terkait dimensi Voice and Accountability.
a. Partisipasi
Partisipasi yang dimaksud dalam analisis data ini yakni terkait bagaimana keikutsertaan dari masing-masing pilar good governance dalam proses pembuatan kebijakan, pelaksanaan kebijakan serta evaluasi dari keseluruhan kegiatan yang telah dilakukan dari masing-masing pilar good governance tersebut. Partisipasi sendiri dibagi menjadi tiga bagian, yakni partisipasi dalam perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan seta evaluasi dari pelaksanaan kebijakan tersebut. Peranan
108
atau keterlibatan pilar pemerintah dalam proses pembuatan kebijakan dapat diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan I1-1 sebagai pilar pemerintah, sebagai berikut:
“Kita kan selalu berpedoman pada RPJMN-nya Depkes, terus kita juga berpedoman RPJMD Kabupaten, terus kita juga punya Renstra dari ketiga itu dibuatlah kebijakan-kebijakan yang mendukung tercapainya masing-masing, seperti Renstranya kita mau targetnya seperti apa, nah itulah dibuat kebijakan-kebijakan yang mengarah pada pencapaian target tersebut.” (wawancara di Ruang Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 17 April 2015 Pukul 08.58).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I1-1, dapat diketahui bahwa Dinas Kesehatan dalam tahap perumusan kebijakan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kementerian Kesehatan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tangerang, dan Rencana Strategi (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Ketiga pedoman tersebut nantinya dijabarkan menjadi sebuah program atau kebijakan untuk mencapai target dari masing-masing Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Selain itu, dasar dari perumusan kebijakan atau program Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang juga berdasarkan dari keluhan-keluhan dari masyarakat sebagai mana yang dikatakan I1-2 sebagai pilar pemerintah, yakni:
“Biasanya sih perumusan kebijakan juga berasal dari keluhan-keluhan di masyarakat, misalnya masyarakat kita terkendala pada identitas KTP dan KK, soalnya dulu persyaratan untuk Jamkesda itu harus dua item tersebut, tapi setelah melihat kondisinya pembuatan KTP apalagi E-KTP cukup lama, akhirnya kita koordinasi dengan Disdukcapil, akhirnya cukup dengan syarat NIK KK yang ada NIK Nasionalnya cukup untuk memudahkan masyarakat, tetapi kita tetap pada rel kita tidak menyalahi aturan dan masyarakat bisa ditangani, karena aturan itu gak boleh kaku.” (wawancara di Ruang Kepala Subag Umum dan Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 10 April 2015 Pukul 13.46).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I1-2 terkait pengambilan keputusan dari keluhan-keluhan masyarakat dapat diketahui bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten berani mengambil keputusan yang memungkinkan masyarakat lebih mudah dalam mengakses pelayanan kesehatan, seperti halnya dalam pengurusan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa Dinas Kesehatan tidak ingin mempersulit masyarakat dengan persyaratan-persyaratan yang rumit, asalkan tetap pada jalur yang benar dan tidak menyalahi aturan.
Pada tahap perumusan kebijakan atau program Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang juga melibatkan keikutsertaan dari pilar swasta dan pilar masyarakat. Namun dalam hal ini, tidak semua dari pilar swasta atau pilar masyarakat tersebut turut terlibat dalam proses perumusan kebijakan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh I1-1 sebagai pilar pemerintah terkait pihak-pihak yang terlibat dalam perumusan kebijakan atau program Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, sebagai berikut:
“Keikutsertaannya kita melalui Ormas yang suka kita ajak, misalnya membahas kebijakan-kebijakan itu, nanti setelah dibahas pada tingkat Ormas masuk ke dewan, dan dewan itu kan juga perwakilan dari rakyat yah, disitu dibahas lagi.” (wawancara di Ruang Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 17 April 2015 Pukul 08.58).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I1-1 dapat diketahui, dalam perumusan kebijakan atau program Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang juga melibatkan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS). Selain itu juga, keterwakilan masyarakat dalam perumusan kebijakan atau program Dinas Kesehatan diwakilkan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang. Adapun OMS yang
110
terlibat dalam proses perumusan kebijakan atau program Dinas Kesehatan, sebagaimana yang disampaikan oleh I3-3 dari pilar masyarakat berikut ini:
“Ikut, jadi diwakilkan. Jadi FOPKIA turut serta dalam menandatangani Perbup Nomor 56 Tahun 2014 tentang Sistem Rujukan bersama dengan 21 perwakilan Rumah Sakit di Kabupaten Tangerang. Disitu diatur gimana alur rujukan sesuai peta wilayah tempat tinggal.” (wawancara di Ruang Baca Perpustakaan Umum Kabupaten Tangerang, 13 Agustus 2015 Pukul 10.23).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I3-3, dapat diketahui bahwa dalam proses pengambilan keputusan kebijakan berdasarkan persetujuan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) sebagai perwakilan dari masyarakat sipil dan juga melibatkan sektor swasta di dalamnya. Hal ini dapat dilihat pada saat penetapan Peraturan Bupati Nomor 56 Tahun 2014 tentang Sistem Rujukan yang mengatur bagaimana alur rujukan sesuai dengan peta wilayah tempat tinggal. Pemetaan wilayah alur rujukan Kabupaten Tangerang sendiri dibagi menjadi 3 wilayah besar, yaitu wilayah Selatan, Utara dan Barat.
Adapun yang turut dalam menandatangi penetapan Peraturan Bupati Nomor 56 Tahun 2014 tentang Sistem Rujukan tersebut, yaitu Dinas Kesehatan Kabupaten yang mewakili seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kabupaten Tangerang sebagai fasilitas pelayanan tingkat pertama, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Palang Merah Indonesia (PMI), Forum Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FOPKIA) dan 21 pimpinan Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta di Kabupaten Tangerang dihadapan Bupati Kabupaten Tangerang pada tanggal 30 Oktober 2014 di Aula Pendopo Jalan Kisamaun Kota Tangerang. Di samping itu, keterlibatan pilar swasta dalam perumusan kebijakan juga tidak secara langsung, dalam hal ini Bidan
Praktik Swasta (BPS), diwakilkan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Tangerang dalam perumusan kebijakan, sebagaimana yang disampaikan oleh I2-2 sebagai pilar sektor swasta berikut ini:
“Biasanya Ikatan Bidan Indonesia Pusat yang diikutsertakan dalam perumusan kebijakan, misalnya tentang Undang-Undang Kebidanan, nanti dari IBI Pusat disampaikan ke Provinsi, dari Povinsi ke Cabang, dan dari Cabang ke Ranting, nanti dari Ranting ini saya menyampaikan lagi ke anggota.” (wawancara di tempat praktik informan, 21 April 2015 Pukul 14.44).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I2-2 dapat diketahui bahwa keterwakilan Bidan Praktik Swasta (BPS) dalam proses perumusan kebijakan diwakilkan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Informasi dari hasil perumusan kebijakan tersebut nanti disampaikan kembali berjenjang sampai kepada masing-masing anggota dari IBI tersebut. Untuk itu, dalam tahap perumusan kebijakan dapat diketahui bahwa setiap pilar good governance turut terlibat, namun dalam hal ini keterlibatan pilar swasta dan pilar masyarakat diwakilkan oleh perwakilan dari masing-masing pilar sektor swasta dan pilar masyarakat tersebut.
Pada tahap implementasi atau pelaksanaan program atau kebijakan Dinas Kesehatan, pilar good governance ini memiliki peranan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pegawai Dinas Kesehatan yang bertugas di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dengan yang bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Berikut adalah hasil wawancara dengan I1-2 sebagai pilar pemerintah terkait peran dan tugas pegawai Dinas Kesehatan yang bertugas di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang:
112
“Biasanya seperti bimbingan teknis ke masing-masing Puskesmas, kemudian kita melakukan monitoring soal pelaksanaannya, misalnya pelaksanaan anggaran dengan menggunakan sistem anggaran di Puskesmas, mereka masih banyak kesalahan sehingga bagaimana kita mengawasinya. Kemudian kita nanti melakukan koordinasi dengan pihak DPKAD di anggaran, untuk melakukan revisi, jadi kita seperti pengawas sehingga teman-teman yang di Puskesmas bisa melaksanakan kebijakan sesuai dengan aturan main, tidak ada penyimpangan.” (wawancara di Ruang Kepala Subag Umum dan Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 10 April 2015 Pukul 13.46).
Merujuk pada hasil wawancara dengan I1-2, dapat diketahui dalam tahap pelaksanaan pegawai Dinas Kesehatan yang bertugas di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menjalankan peran dan tugasnya sebagai pengawas dari pelaksaan teknis lapangan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Dalam hal ini, tim dari Kantor Dinas Kesehatan bertugas membimbing pelaksanaan di Puskesmas agar tetap menjalankan kebijakan sesuai dengan aturan yang ada. Tentunya dalam hal ini, mereka juga melakukan bimbingan kepada tim yang ada di Puskesmas jika terjadi kesalahan, terutama dalam pelaksanaan sistem anggaran baru yang sudah menggunakan sistem online, jika ada tim di Puskesmas yang memiliki kendala dalam hal tersebut, mereka akan membantu membimbingnya. Sedangkan tim di Puskesmas banyak terlibat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara langsung, hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh I1-3 sebagai pilar pemerintah berikut ini:
“Kita menjalankan program yang telah ada dari Dinas Kesehatan, dan untuk pencapaian targetnya dari setiap program dan kebijakan itu juga sudah jelas seperti apa target dan sasarannya.” (wawancara di Ruang Kepala Puskesmas Kutabumi, 6 April 2015 Pukul 10.27).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I1-3 dapat diketahui bahwa tim di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) bertugas sebagai pelaksana program dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Dalam mencapai target yang akan dicapai sudah jelas pencapaian targetnya seperti apa yang tercantum dalam Rencana Strategi (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Pencapaian target yang dimaksud dapat dilihat dari tabel di bawah ini:
Tabel 4.8
Target Pelayanan Kesehatan Gizi Anak Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Tahun 2012 dan 2013
Indikator Realisasi
2012
Realisasi
2013 Target Program
Balita Gizi Buruk 0,67% 0,45% 1% Pemberian Makanan Tambahan dan Vitamin Perawatan Balita Gizi
Buruk 100% 100% 100%
Penanggulangan Kurang Balita Kurang Gizi Kecamatan Bebas
Rawan Gizi 93,1% 100% 80%
Pemberdayaan Masyarakat Pencapaian Keluarga Sadar Gizi
Balita Mendapat Vit
A 2x/tahun 87,2% 84,12% 90% Bayi Mendapat ASI
Eksklusif 45% 58,58% 70%
Pemberian Makanan Pendamping ASI Keluarga Miskin
100% 100% 100%
114
Berdasarkan tabel di atas, dapat kita ketahui bahwa dalam pelaksanaannya Tim di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dalam pencapaian Kesehatan Gizi Anak memiliki target dari masing-masing cakupan indikatornya. Dalam mencapai target yang diharapkan dari masing-masing indikator cakupan tersebut, selanjutnya akan dijabarkan dalam pelaksanaan program-program, misalnya dalam indikator perawatan balita gizi buruk dicapai melalui program penanggulangan Balita Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A, dan Kurang Gizi Mikro lainnya dengan memberikan vitamin di Puskesmas atau pada saat kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Sehubungan dengan peran dan tugas tim di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) juga disampaikan I1-1 sebagai berikut: “kalau yang untuk melaksanakan Puskesmas, Dinas itu yang membuat rancangannya dengan bagian hukum di
Pemda.” (wawancara di Ruang Kepala Bidang Pengembangan dan Promosi
Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, 17 April 2015 Pukul 08.58). Berdasarkan hasil wawancara dengan I3-1 dan I1-1, dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan program atau kebijakan kesehatan, pilar pemerintah memiliki peran dan tugas yang berbeda. Tim yang bertugas di Puskesmas lebih banyak terlibat dalam pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan secara langsung kepada masyarakat, sedangkan tim yang berada di Kantor Dinas Kesehatan bertugas sebagai pengawas, pembimbing teknis pelaksanaan serta perencana apa yang harus dilakukan untuk mencapai target dari pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan tersebut.
Pilar swasta dalam tahap pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan memiliki peran dan tugasnya sendiri. Hal ini dapat diketahui sebagaimana dengan hasil wawancara peneliti dengan I2-1 sebagai pilar sektor swasta dalam menjalankan peran dan tugasnya pada tahap pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan, yakni:
“IBI selalu mendukung dalam bentuk tenaga dimana diminta kita selalu siap untuk terlibat dalam beberapa program yang ada hubungannya dengan bidan-bidan. Terakhir ini pun, kita bekerjasama dalam hal peningkatan pengetahuan SDM Bidan dengan melakukan pelatihan-pelatihan dan seminar karena kita dan seluruh Bidan yang ada di Kabupaten Tangerang sudah melakukan MOU dengan Dinas Kesehatan dalam hal peningkatan pengetahuan. Selain itu, kita juga bekerjasama dalam hal pelayanan yaitu dengan mengirim tenaga ke Puskesmas, Dinas Kesehatan, atau dalam kegiatan bakti sosial, dan dalam
event-event tertentu kita juga dilibatkan.” (wawancara di tempat pelatihan Bidan Praktik Swasta, Tigaraksa, 18 April 2015 Pukul 12.30).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I2-1 di atas, dapat diketahui bahwa Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sangat mendukung pelaksanaan kebijakan atau program Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang dengan mengirimkan tenaga bidan ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, atau dalam acara-acara seperti kegiatan bakti sosial dan acara tertentu yang memerlukan keterlibatan bidan dalam kegiatan tersebut. Selain itu, IBI juga telah membuat
Memorandum of Understanding (MOU) dengan Dinas Kesehatan dalam upayanya
meningkatkan pengetahuan bidan-bidan praktik swasta melalui kegiatan pelatihan dan seminar. Disamping itu, dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, pilar swasta memiliki peran tugas sebagaimana yang disampaikan I2-2 sebagai pilar sektor swasta, sebagai berikut:
“Kita melayani ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui dan balita. Selain itu, kita BPS juga membantu kalau ada Posyandu, terus kalau ada Safari KB nanti kita
116
sama-sama membantu.” (wawancara di tempat praktik informan, 21 April 2015 Pukul 14.44).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I2-2 di atas dapat diketahui bahwa peran dan tugas pilar swasta dalam hal ini Bidan Praktik Swasta (BPS), yaitu memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui serta balita. BPS juga membantu dalam pelaksanaan pelayanan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai pemeriksa kesehatan ibu, bayi dan balita yang datang ke Posyandu. BPS juga berperan dalam melakukan Safari Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya untuk menggerakkan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam bentuk pelayanan KB bersama masyarakat ke arah pelayanan masyarakat secara seutuhnya. Dengan demikian dapat diketahui dalam pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan, pilar swasta memiliki peran untuk bersama-sama dengan Dinas Kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan, serta membantu dalam hal penyiapan tenaga-tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Pilar masyarakat dalam tahap pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan, memiliki peran dan tugas yang berbeda-beda pula. Hal tersebut didasarkan pada peran mereka dalam masyarakat itu sendiri. Berikut adalah hasil wawancara dengan I3-2 sebagai pilar masyarakat terkait peran dan tugas mereka dalam pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan:
“Kader Posyandu itu bisa dikatakan ujung tombak, setiap program yang berhubungan dengan kependudukan, kesejahteraan keluarga, kesehatan, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) itu adanya di kader Posyandu, jadi bentuk pendataan pasti melibatkan kader Posyandu, contohnya pendataan keluarga itu yang banyak melakukan kader Posyandu. Pada pelayanan kesehatan kita melaksanakan pelayanan 5 meja itu, seperti pendaftaran,
penimbangan, pencatatan, penyuluhan, dan pelayanan.” (wawancara di kediaman informan, Pasarkemis, 21 April 2015 Pukul 18.47).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I3-2 dapat diketahui bahwa kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dalam tahap pelaksanaan kebijakan banyak terlibat dalam program yang berhubungan dengan kesejahteraan keluarga, kesehatan dan 10 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat, yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, bayi diberi Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif, mempunyai Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, Tidak merokok di dalam rumah, melakukan aktifitas fisik setiap hari, makan sayur dan buah setiap hari, ketersediaan air bersih, ketersediaan tempat buang air atau jamban yang sehat, kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni dan lantai rumah bukan dari tanah.
Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) pada tahap pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan juga menjalankan pelayanan kesehatan di Posyandu yang melaksanakan pelayanan lima meja, seperti pendaftaran, penimbangan, pencatatan Kartu Menuju Sehat (KMS), penyuluhan dan pelayanan kesehatan. Dalam menjalankan pelayanan tersebut kader Posyandu dibantu oleh Bidan Desa yang mana membantu dalam pelayanan di meja kelima, yaitu pelayanan kesehatan. Posyandu inilah yang kemudian menjadi tempat pelayanan kesehatan dasar yang paling dekat dengan masyarakat, karena masyarakat sendiri terlibat dalam pelaksanaannya. Di sisi lain, Motivator Kesehatan Ibu dan Anak (MKIA) dalam tahap pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan memiliki tugas dan peran yang berbeda dengan Kader Posyandu, hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan I3-4, sebagai berikut:
118
“MKIA ini kita memotivasi ibu-ibu hamil, terutama yang beresiko tinggi, misalnya ada ibu hamil yang punya darah tinggi, usia yang terlalu tua, usia ibu terlalu muda dalam perkawinan, atau mungkin juga jarak anak terlalu dekat jadi kita memberi pengertian kepada mereka untuk bersalin di tenaga kesehatan, bukan di dukun bersalin, karena banyak masyarakat yang di kampung-kampung dukun bersalin itu masih lebih dominan.” (wawancara di kediaman informan, Desa Sentul, Balaraja, 23 April 2015 Pukul 17.27).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I3-4, dapat diketahui bahwa Motivator Kesehatan Ibu dan Anak (MKIA) memiliki tugas untuk memotivasi atau memberi pengertian kepada para ibu hamil, terutama yang memiliki resiko tinggi dalam kehamilan, seperti darah tinggi, usia terlalu tua, usia ibu terlalu muda dalam perkawinan, dan ibu hamil yang memiliki jarak anak terlalu dekat, untuk memeriksakan kehamilannya serta melakukan persalinan di tenaga kesehatan yang tersedia, bukan di dukun bersalin atau paraji. Hal ini dikarenakan masih banyak dari masyarakat di Kabupaten Tangerang yang melakukan persalinan di dukun bersalin atau paraji tersebut, terutama masyarakat yang berada di wilayah pedesaan dan pesisir di Kabupaten Tangerang.
Partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan kebijakan dan program kesehatan juga dapat dilihat dari peran dan tugas dari Organisasi Masyarakat Sipil (OMS). OMS sendiri merupakan organisasi yang bergerak berdasarkan isu-isu sektoral dan memiliki hubungan langsung dengan masyarakat dalam upaya untuk melakukan pemberdayaan kepada masyarakat. Berikut adalah hasil wawancara dengan I3-1 sebagai pilar masyarakat terkait peran dan tugasnya sebagai OMS, yaitu:
“Kalau Forum Kader Posyandu ini sendiri mengkoordinir seluruh Posyandu yang jumlahnya 2.224 di Kabupaten Tangerang itu saya yang koordinir, disitu kita fungsinya sebagai wahana komunikasi, koordinasi, pengkaderan, dan
pembinaan kader-kader itu. Jadi ya itu tadi, kader yang tadinya dua jadi bertambah, yang tadinya tidak bisa jadi bisa dengan pembinaan-pembinaan tadi, sehingga kader tersebut bisa mengatur Posyandu tersebut. Karena kami juga dilatih, terutama di Provinsi, karena Forum Kader Posyandu ini baru ada di Banten, di daerah lain belum ada forum ini. Makanya, orang-orang Provinsi inilah yang mencetuskan terbentuk, jadi orang Provinsi inilah yang bertanggungjawab agar Forum Kader Posyandu ini bisa jadi tangan kanan merekalah.” (wawancara di Sekretariat Forum Kader Posyandu, 12 April 2015 Pukul 15.18).
Berdasarkan hasil wawancara dengan I3-1 di atas, dapat diketahui bahwa Forum Kader Posyandu (FKP) merupakan suatu wahana komunikasi, koordinasi, pengkaderan dan pembinaan kader-kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang. FKP sendiri merupakan kepanjangan tangan dari Dinas Kesehatan baik di tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota yang menjalankan tugasnya untuk melakukan pembinaan-pembinaan kepada kader Posyandu sehingga bisa lebih terlatih dan mandiri dalam melaksanakan kegiatan Posyandu di daerahnya masing-masing. Selain itu, terdapat Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) lainnya yang juga terlibat dalam pelaksanaan kebijakan atau program kesehatan, yakni Forum Kesehatan Ibu dan Anak (FOPKIA) Kabupaten Tangerang. Berikut adalah hasil wawancara dengan I3-3 terkait peran dan tugasnya dalam pelaksanaan kebijakan dan program kesehatan, sebagai berikut:
“Kita punya tugas dan fungsi, antara lain pertama sosialisasi, edukasi, advokasi, dan pendampingan. Advokasi ini bisa advokasi kebijakan, sosialisasi, edukasi, dan pendampingan karena FOPKIA ini sudah dibentuk juga di Kecamatan-Kecamatan, bahkan sudah mencapai tingkat Desa-Desa, ada 144 MKIA sudah kita bentuk untuk proses sosialisasi, edukasi dan pendampingan tersebut.” (wawancara di kediaman informan Cibadak, Tigaraksa, 11 April 2015 Pukul 16.12).
120
Sebagaimana hasil wawancara dengan I3-3 di atas dapat kita ketahui bahwa Forum Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FOPKIA) memiliki empat tugas pokok, yang terdiri dari sosialisasi, edukasi, advokasi, dan pendampingan. Tugas advokasi kebijakan, misalnya pada saat penetapan Peraturan Bupati Nomor 56 Tahun 2014 tentang Sistem Rujukan sekitar 54 perwakilan dari OMS menandatangani Peraturan tersebut. Tugas sosialisasi, edukasi dan pendampingan dilakukan dengan membentuk Motivator Kesehatan Ibu dan Anak (MKIA) sebagai mitra FOPKIA meningkatkan motivasi ibu hamil dengan resiko tinggi untuk dapat melakukan pemeriksaan kandungan dan persalinan di tenaga kesehatan. Berikut adalah salah satu kegiatan FOPKIA dalam melakukan sosialisasi, edukasi dan pendampingan kepada MKIA yang dilakukan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pasir Nangka.
Gambar 4.1 Pelatihan Motivator Kesehatan Ibu dan Anak (MKIA) di Puskesmas Pasir Nangka 10 April 2015
Gambar di atas diambil peneliti saat Forum Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FOPKIA) Kabupaten Tangerang bersama Expanding Maternal and Neonatal
Survival (EMAS) sedang memberikan pelatihan kepada Motivator Kesehatan Ibu dan
Anak (MKIA) mengenai Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Kegiatan tersebut merupakan suatu upaya FOPKIA untuk meningkatkan kemampuan MKIA untuk dapat mengetahui apa yang harus dilakukan saat melakukan persiapan sebelum persalinan, saat persalinan dan setelah persalinan. Hal ini dilakukan mengingat jumlah kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Tangerang yang masih tinggi akibat masih banyaknya masyarakat di Kabupaten