• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

4. Controling/Pengawasan

a. Penentuan Standar Pelaksanaan

Standar pada dasarnya sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai patokan untuk penilaian hasil. Tujuan, sasaran, kuota, dan target pelaksanaan digunakan sebagai standar.

Penetapan standar akan sia-sia bila tidak disertai berbagai cara untuk mengukur pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh sebab itu, langkah kedua dalam proses pengawasan adalah menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara tepat.

Sebagaimana hasil wawancara dengan Magdalena S. Layuk Allo, S.E., M.A.P. selaku Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Toraja Utara, bahwa:

“Jelas bahwa ukuran pelaksanaan dikatakan efektif jika target yang ditetapkan terpenuhi”.

(Wawancara Pada Hari Selasa, 14 Juli 2020)

Selanjutnya dikatakan oleh Vemy Sibala', S.E. selaku Kasubag. Program dan Keuangan Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Toraja Utara, bahwa:

“Tentu jika dilaksanakan sesuai SOP dengan bekerja maksimal”.

(Wawancara Pada Hari Senin, 20 Juli 2020)

Berdasarkan pernyataan kedua informan di atas menggambarkan bahwa cukup mudah dalam menentukan standar pelaksanaan kegiatan/program. Salah satunya indikator utama program/kegiatan dikatakan efektif jika realisasi kegiatan sesuai dengan rencana program yang ditentukan sebelumnya. Sebaliknya, jika realisasi kegiatan/ptogram lebih rendah daripada target yang ditentukan sebelumnya, maka program/kegiatan tersebut dapat dikatakan tidak efektif.

Gambar 21

SOP Penagihan Retribusi

Sumber: Telaah Dokumentasi, 2020

Gambar 21 di atas adalah salah satu SOP yang ada terkait dengan penagihan retribusi khususnya Pasar Hewan Bolu.

Berdasarkan alur pada SOP tersebut memang sangat mudah untuk dilaksanakan, hanya saja sebagian pedagang dan kolektor lebih mempermudah lagi pekerjaannya dengan melakukan penarikan retribusi setiap 1 (satu) tahun sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Penentuan standar berdasarkan program. Ini dapat dikatakan efektif karena realisasi kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai dengan program yang ada dengan berpedoman kepada aturan yang ada seperti Peraturan Daerah, Peraturan Bupati Toraja Utara dan mengacu kepada Standar Operasional Prosedur yang ada.

b. Ukuran Pelaksanaan

Pengukuran kinerja bertujuan untuk memotivasi pegawai agar dapat mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar menghasilkan tindakan yang diinginkan oleh organisasi. Pengukuran kinerja digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya diinginkan melalui umpan balik hasil kerja, serta sebagai landasan untuk memberikan penghargaan kepada orang yang telah bekerja maksimal dalam proses pencapaian tujuan organisasinya. Dengan demikian, akan menjadi motivasi bagi pegawai lainnya.

Gambar 22

Penarikan Retribusi dan Pengawasan Di Pintu Masuk Pasar

Sumber: Hasil Telaah Dokumentasi 2018, 2020

Gambar 18 di atas peneliti dapatkan pada arsip kegiatan pada tanggal 3 Maret 2018 dalam rangka penarikan retribusi dan pengawasan terhadap aktivitas hewan yang akan dijual di dalam area Pasar Hewan Bolu yang dilakukan oleh pihak Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Toraja Utara. Kegiatan ini tepatnya dilakukan pada

dini hari mulai jam 03.00 WITA bertempat pas pada pintu masuk Pasar Hewan Bolu sebelum para pedagang melakukan bongkar muatan.

Ukuran pelaksanaan bisa dilihat dari kinerja yang diberikan oleh pengelola retribusi. Dalam pelaksanaan pemungutan retribusi dikatakan efektif ketika semua pengelola retribusi yang terlibat turun lapangan. Dengan demikian, program dapat terlaksana dengan baik.

c. Pengukuran Perbandingan Standar dengan Pelaksanaan Tahap kritis dari proses pengawasan adalah pembandingan pelaksanaan nyata dengan pelaksanaan yang direncanakan atau standar yang telah ditetapkan. Penyimpangan-penyimpangan harus dianalisa untuk menentukan mengapa standar tidak dapat dicapai.

Gambar 23

Rekapitulasi Penerimaan dan Pengeluaran Karcis

Sumber: Hasil Telaah Dokumentasi, 2020

Gambar 23 tersebut di atas peneliti dapatkan melalui telaah diokumentasi yang dilakukan di lapangan. Pada gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa masih tingginya angka sisa karcis baik tahun 2018 maupun tahun 2019. Opname karcis dilaksanakan setiap tanggal 31 desember tiap tahun dengan mengecek potongan karcis (bonggol), bukti setoran (STS) dan menghitung sisa karcis yang ada..

Karcis retribusi hanya berlaku dan boleh digunakan untuk satu tahun saja demi mencegah terjadinya kebocoran PAD, namun tetap dilaporkan sebagai barang berharga tahun berikutnya, sampai tiba waktu pemusnahan oleh Tim terpadu dari kejaksaan, Polri, Asset daerah dan Bapenda. Sisa karcis tersebut disimpan oleh pihak Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Toraja Utara dengan baik dan aman.

Selanjutnya dalam pelaksanaan pada hari pasar yaitu hari sabtu, petugas keamanan harus berjaga setidaknya 1x24 jam sebelum hari pasar. Karena di malam hari yaitu jumat tengah malam ada beberapa pedagang yang mulai membawa hewan dagangannya masuk area pasar tanpa pengawasan. Otomatis pedagang tersebut tidak membayar lagi retribusinya. Melihat situasi tersebut tentunya diperlukan ketegasan dan pengamanan yang cepat dari pengelola retribusi.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi prioritas pengelola retribusi dalam melaksanakan tugas agar penagihan retribusi menjadi efektif antara lain, petugas pengelola harus tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh wajib retribusi, pembayaran

retribusi utamanya pedagang yang dikandang harus tepat waktu, memberikan sanksi kepada wajib retribusi yang tidak membayar retribusinya serta menjaga kebersihan, keamanan, kenyamanan lokasi pasar hewan bolu. secara teratur.

Gambar 24

Kondisi Pasar Hewan Bolu

Sumber: Hasil Observasi, 2020

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di lapangan, dapat digambarkan bahwa standar pelaksanaan yang telah ditentukan berbanding terbalik dengan pelaksanaan di lapangan. Hal tersebut dikarenakan belum maksimalnya pengelolaan Pasar Hewan Bolu sehingga menimbulkan kritikan dari masyarakat setempat terkait dengan dampak yang ditimbulkannya seperti bau kotoran dan sampah sisa makanan hewan yang dijual di lingkungan Pasar Hewan Bolu tersebut.

d. Memperbaiki Penyimpangan dengan Cara yang Tepat

Bila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi.

Tindakan ini harus diambil. Tindakan koreksi dapat diambil dalam berbagai bentuk.

Sebagaimana hasil wawancara dengan Magdalena S. Layuk Allo, S.E., M.A.P. selaku Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Toraja Utara, bahwa:

“Memberikan sanksi/teguran secara lisan. Jika terjadi penyimpangan yang bersangkutan membuat surat pernyataan mengganti kerugian yang ditimbulkan”.

(Wawancara Pada Hari Selasa, 14 Juli 2020)

Selanjutnya disampaikan oleh Eta Yohanes Lande, S.E., M.Si.

selaku Kabid. Pendaftaran dan Pendataan Badan Pendapatan Daerah Kab. Toraja Utara, bahwa:

“Yaa tergantung kondisi sih sebenarnya dan juga tergantung tingkat permasalahannya seperti apa”.

(Wawancara Pada Hari Rabu, 15 Juli 2020)

Pernyataan kedua informan di atas menggambarkan bahwa adanya sikap tegas dari pihak pemerintah daerah melalui Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Toraja Utara atas penyelesaian terhadap permasalahan yang ada. Namun, tentu tingkat penanganan atau pemberian sanksi atas permasalahan tersebut tentu berdasarkan tingkat permasalahannya.

Selama ini pimpinan hanya memberikan teguran lisan kepada petugas yang melanggar dan solusinya mengembaikan dana sebanyak yang diselewengkan ke kas daerah dan jika tidak mengembalikan dana tersebut tentunya ada tindakan dengan

pemberhentian dari pekerjaan. Contoh pada penghitungan sisa karcis.

Jumlah pengambilan karcis - penyetoran selama 1 tahun – karcis sisa

= 0. Dikatakan efektif Jika hasilnya nol maka tdk ada penyimpangan.

Jika ada selisih, itulah yang menjadi pituang. Piutang inilah yang harus menjadi tanggung jawab kolektor dan harus dibayar.

Gambar 25

Bukti Surat Tanda Setoran

Sumber: Hasil Telaah Dokumentasi Peneliti, 2020

Berdasarkan gambar 25 di atas menggambarkan bahwa setiap selesai melakukan penagihan retribusi, kolektor menyerahkan hasil penagihan retribusi setoran sewa kandang kepada bendahara penerima dan dicatatkan dalam Surat Tanda Setoran. Selanjutnya setoran tersebut akan disetor oleh bendahara penerima ke Kas Daerah sebagai pelaporan hasil PAD dari pasar hewan bolu.

Gambar 26

Rapat Konsolidasi Penataan dan Pengeloaan Pasar

Sumber: Hasil Observasi Peneliti, 2020

Berdasarkan gambar 26 di atas, menggambarkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di pasar hewan bolu boleh disampaikan pada rapat konsolidasi bersama komisi 2 DPRD Kabupaten Toraja Utara dan Bapenda serta Organisasi Perangkat Daerah terkait, sehubungan penataan, pengelolaan dan penagihan retribusi Pasar yang berlangsung di Kantor DPRD Kabupaten Toraja Utara pada hari Kamis, 22 Oktober 2020.

Dokumen terkait