Teori Heliosentris sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno pada abad ke- 3 Sebelum Masehi menyebar hingga ke Timur Tengah pada masa Keemasan Islam pada abad ke-12. Kebenaran dari gagasan Heliosentris Copernicus dapat dibuktikan lebih kurang 200 tahun kemudian (2). Dalam astronomi, teori Heliosentris adalah teori yang menyatakan bahwa Matahari bersifat tetap; tidak berubah dan berada pada pusat alam semesta (Solar System/Tata Surya). Berasal dari bahasa Yunani, Helios = Matahari dan Kentron = Pusat). Secara historis, heliosentrisme bertentangan dengan geosentrisme, yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta. Diskusi mengenai kemungkinan heliosentrisme terjadi sejak zaman Yunani Kuno, gagasan awalnya dipelopori filsuf Yunani, Aristarkhos dari Samos (310 SM – 230 SM).
Dikembangkan pertama kalinya oleh filsuf sezaman Aristarkos, yaitu Archimedes dari Sirakus (287 SM – 212 SM) dalam karyanya yang berjudul The Sand Reckoner. The Sand zreckoner (Yunani: Ψαμμίτης (Αρχιμήδης), Psammites) adalah karya untuk menentukan batas atas semesta dengn menggunakan analogi jumlah butiran-butiran pasir sebanyak 8 halaman. Archimedes kemudian memperkirakan batas atas untuk jumlah butir pasir yang dibutuhkan untuk mengisi alam semesta. Untuk melakukan hal ini, ia menggunakan model heliosentris dari Aristarkhos dari Samos.
The Sand Reckoner adalah sebuah karya yang luar biasa dari Archimedes yang mengagas sistem nomor yang menggunakan kekuatan dari ribuan nomor (base 100.000.000) dan mampu mengekspresikan angka hingga 8 x 1063 dalam notasi modern (8). Dalam rangka untuk mendapatkan batas atas, Archimedes membuat asumsi sebagai berikut:
- Perimeter (lingkaran) Bumi tidak lebih besar dari 300 ribuan stadia (ukuran bobot Yuanani Kuno) 5,55 x 105 km).
- Bulan adalah tidak lebih besar dari Bumi dan Matahari tidak lebih besar dari tiga puluh kali dari Bulan.
- Diameter Matahari seperti yang terlihat dari Bumi, lebih besar dari 1/200 dari sudut kanan (π /400 radian = 0.45 ° derajat).
Kemudian pada tahun 1543 seorang pejabat (kanon) gereja, gubernur dan administrator, hakim, filsuf dan tabib, Nicolaus Copernicus menggunakan suatu model matematis dapat memprediksi secara lengkap sistem heliosentris dan diterbitkan secara resmi yang dibukukan dengan judul De Revolutionibus Orbium Celestium. Gagasan yang mengawali terbitnya De Revolutionibus ada pada 7 tujuh aksioma atau hipotesis dalam naskah The Commentariolus
dengan judul lengkapnya, Titel Nicolai Copernici de hypothesibus motuum Coelestium a se constitutes commentariolus sebanyak 40 halaman yang hanya dibagikan pada rekan-rekan sepemikirannya saja, tidak dipublikasikan secara umum karena gagasannya berlawan dengan doktrin Gereja-Gereja saat itu.
Berikut aksioma dari hipotesis Copernicus dalam The Commentariolus:
1. Planet-planet berputar (ber-Revolusi) tidak hanya pada satu titik saja. 2. Bumi adalah pusat dari garis orbit Bulan.
3. Matahari adalah pusat alam semesta dan semua benda langit berputar (mengorbit) disekitarnya.
4. Jarak antara Bumi dengan Matahari lebih dekat daripada jarak bintang- bintang lainnya terhadap Bumi.
5. Bintang-bintang tidak bergerak, pergerakan Bumi lah yang seolah-olah menampak pergerakan bintang-bintang.
6. Pergerakan satu putaran Bumi terhadap Matahari adalah satu tahun. 7. Orbit Bumi yang mengelilingi Matahari menyebabkan planet-planet
mengorbit Matahari dengan arah yang berlawanan.
Tak bisa dipungkiri, konsekuensi dari gagasan Copernicus ini memiliki setidaknya yang dapat kami simpulkan, 3 (tiga) hal penting.
- Pertama, berakhirnya atau runtuhnya autoritas atau leagalitas, Kitab Suci, para Ilmuwan dan orang-orang bijak, terutama Gerejawi atas dasar Alkitabiah terhadap penafsirannya mengenai Astronomi, yang sangat mungkin menimbulkan “mosi tidak percaya” kepada Gerejawi.
- Kedua, runtuhnya kepercayaan dan keistimewaan bahwa manusia dalam hal ini, Bumi adalah pusat semesta (hilangnya keistimewaan bumi yang sudah diagung-agungkan sejak abad ke-2) yang berdampak juga pada keimanan manusia terhadap Agama.
- Ketiga, awal mula sains modern (ilmu pengetahunan yang objektif) terutama soal astronomi (ilmu perbintangan) yang melahirkan Abad Pencerahan atau biasa disebut “Renaissance”.
Catatan Kaki:
(1) Wattimena A.A, Reza. 2008. Grasindo. Jakarta : Filsafat & Sains(Sebuah Pengantar). Hal : 125 - 128
(2) Anggraini Dasa Febi, Yani Huri, Budi Setyo Sigit. 2008. Ensiklopedia Tokoh Fisika. Jakarta : Balai Pustaka. Hal : 44-45
(3)http://plato.stanford.edu/entries/copernicus/
(4) Goddu, André. 2010. Copernicus and the Aristotelian Tradition. Leiden, Netherlands: Brill. Hal : 245 – 246
(5)http://www.popsci.com/science/article/2013-02/8-things-you-didnt-know-about-copernicus.
(6) Bryan Magee. 2008. The Story of Philosophy. Yogyakarta: Kanisius. Hal : 64-65
(7) Yuana, Kumara Ari. 2010. The Greatest Philosophers . Yogyakarta : Penerbit Andi. Hal : 110- 112
(8)http://physics.weber.edu/carroll/Archimedes/sand.htm . diakases 20 Nov 2015, pukul 21.00
WIB
BAB III
PENUTUP
III. 1. kesimpulan
Filsuf adalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam (radikal/fundamental) lepas dari autoritas apapun dalam hidupnya, seperti pendapat Plato dalam The Republic, bahwa Filsuf sejati ialah, siapapun yang memiliki kecintaan terhadap kebenaran. Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, menjelaskan, memikirkan, menerangkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, radikal sehingga mencapai kebenaran hakikat segala pengetahuan, baik pengetahuan yang bersifat horizontal maupun vertikal. Namun, salah satu kelemahan filsafat ialah. Filsafat tidak melakukan kegiatan eksperimen atau percobaan-percobaan secara konkrit.
Abad Pertengahan merupakan abad transisi dari zaman kegelapan pengetahuan “Dark Age” menuju zaman pencerahan “Renaissance”. Abad yang mengandung sejarah paling unik, setidaknya ada 3 (tiga) aspek yang dibahas pada Abad Pertengahan. Berhubungan dengan Keyakinan atau Keimanan, Autoritas keillahian (Gereja-Gereja), penafsiran akan Kitab Suci, serta yang paling utama adalah pembaharuan dalam dunia Ilmu Pengetahuan, pembaharuan pola pikir terhadap suatu hal apapun yang ada dimuka Bumi. Singkatnya, mendorong manusia untuk berpikir kritis, terbuka (open minded).
Filsafat pada akhir abad pertengahan ini lah bisa dikatakan awal terbentuknya sains modern, mengakhiri abad kegelapan yang di autorisasi oleh Gereja. Bermula dari gebrakan seorang filsuf yang juga seorang ilmuwan kelahiran Polandia, Nicolaus Copernicus dengan istilah Revolusi Copernican atau Revolusi Ilmiah pada akhir Abad Pertengahan dengan Teori
Heliosentrisme hasil pengembangan dari filsuf sekaligus astronom Yunani Aristarchus dari Samos (310 SM – 230 SM).
Melalui cara berpikir Copernicus sebagai salah satu ciri filsuf sejati yang lepas dari autoritas apapun karena kecintaannya terhadap kebenaran, memberontak terhadap hal yang salah walaupun punya legalitas kewahyuan dan tak menjadikan hidupnya menghilangkan suatu keimanan/keyakinan terhadap wahyu. Pemikiran ini lah yang melahirkan Revolusi Ilmiah atau Revolusi Copernican, progresifitas dalam ilmu pengetahuan.
Konsekuensi dari gagasan Copernicus ini memiliki setidaknya yang dapat kami simpulkan, 3 (tiga) hal penting.
- Pertama, berakhirnya atau runtuhnya autoritas atau leagalitas, Kitab Suci, para Ilmuwan dan orang-orang bijak, terutama Gerejawi atas dasar Alkitabiah terhadap penafsirannya mengenai Astronomi, yang sangat mungkin menimbulkan “mosi tidak percaya” kepada Gerejawi.
- Kedua, runtuhnya kepercayaan dan keistimewaan bahwa manusia dalam hal ini, Bumi adalah pusat semesta (hilangnya keistimewaan bumi yang sudah diagung-agungkan sejak abad ke-2) yang berdampak juga pada keimanan manusia terhadap Agama.
- Ketiga, awal mula sains modern (ilmu pengetahunan yang objektif) terutama soal astronomi (ilmu perbintangan) yang melahirkan Abad Pencerahan atau biasa disebut “Renaissance”.