• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIOGRAFI INTELEKTUAL NURCHOLISH MADJID

B. Corak Pemikiran dan Iklim Intelektual yang Mempengaruhinya15

Jika kita kategorikan pemikiran Islam di Indonesia kepada dua golongan, yakni Islam tradisional dan Islam modern, maka Nurcholish adalah sosok pemikir Islam yang berada pada keduanya sekaligus. Karena dilihat dari lingkungan keluarga, ia berasal dari keluarga – dimana untuk pertama kalinya ia mendapatkan pelajaran agama – yang berkultur keagamaan NU. Dalam hal ini ia menulis:

“…….bolehlah dikatakan bahwa saya ini adalah seorang (dengan kultur) NU, meskipun bukan anggota NU! Sebab sampai dengan sekitar umur 15 tahun, kegiatan utama saya adalah mempelajari kitab-kitab kuning……”.17

Namun, ditinjau dari dari jenjang pendidikan, ia banyak mengenyam pengetahuan tentang Islam modern, mulai dari pesantren Gontor, IAIN (sekarang UIN) Jakarta, dan Universitas Chicago. Karier intelektualnya, sebagai pemikir

14

Dedy, Zaman Baru Islam, h. 137. 15

Nurcholish Madjid meninggal akibat penyakit hati yang dideritanya. http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/n/nurcholish-madjid/biografi/index.html, artikel diakses tanggal 4 November 2009.

16

Marwan Saridjo, Cak Nur di antara Sarung dan Dasi dan Musdah Mulia Tetap Berjilbab, (Jakarta: Penamadani, 2005), h. 62.

17

Muslim, dimulai ketika ia menjadi mahasiswa UIN Jakarta, khususnya ketika menjadi Ketua Umum PB-HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).18 Dalam masa inilah Nurcholish membangun citra dirinya sebagai seorang pemikir muda Islam.

Bahkan karena karya-karya ilmiahnya di masa ini – dan terutama bakat intelektualnya yang luar biasa, dan pemikirannya yang berkecenderungan modern, tetapi sekaligus sosialis religius – ia pun oleh generasi Masyumi yang lebih tua, sangat diharapkan dapat menjadi pemimpin Islam di masa mendatang, menggantikan Mohamad Natsir, sehingga di masa ini ia pun dikenal sebagai “Natsir Muda”, sampai saatnya pada 1970, mereka, dolongan tua, kecewa akibat makalah Nurcholish yang mempromosikan paham sekularisasi.19

Intelektualitas Nurcholish semakin terbentuk ketika ia belajar di Universitas Chicago, dimana ia secara leluasa bisa berjumpa dengan kepustakaan Islam klasik abad pertengahan yang bergitu luas dan kaya langsung di bawah bimbingan ilmuwan neo-Modernis asal Pakistan Prof. Fazlur Rahman. Fazlur Rahman barangkali bisa disebut sebagai “guru utama” yang penting dalam pematangan intelektual Nurcholish Madjid. 20

Selain kepada Fazlur Rahman, ia tentu saja mengagumi orang-orang yang paling dekat dalam kehidupannya. Mereka, diantaranya adalah ayahnya sendiri, pamannya,21 dan beberapa pejuang nasional yang kapasitas kecendikiaan dan komitmen keislamannya cukup kuat seperti K.H. Agus Salim dan Bung Hatta.

18

Budhy, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. vi. 19

Budhy, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. ix. 20

Dedy, Zaman Baru Islam, h. 128. 21

Paman Nurcholish Madjid adalah salah seorang tokoh masyarakat santri yang tinggal di sebuah desa Jombang, Jawa Timur, yang dipandang gagah berani saat itu. Dedy, Zaman Baru Islam, h. 133.

Namun demikian, di antara sekian banyak tokoh yang mempengaruhi pemikirannya, Nurcholish rupanya merasa berhutang budi kepada almarhum Buya Hamka. Lebih dari itu, “…Beliau (Hamka) adalah tempat saya berdiskusi dan menyelsaikan problem pribadi…” tulis Nurcholish.22

Dari berbagai unsur-unsur di atas, teramu sosok intelektual muslim Indonesia yang – acap kali menemukakan gagasan – konteoversial,23 yakni Nurcholish Madjid. Pola pemikiran keagamaannya dapat dilacak sejak pembaruannya melalui ide “Islam yes, partai Islam no.” Kemudian dilanjutakan dengan ide tentang sekularisasi, yang kemudian disalah pahami kebanyakan orang kerena disamakan begitu saja dengan sekularisme.24

Dalam pada itu, Nurcholish menegaskan bahwa terdapat konsistensi antara sekularisasi dan rasionalisasi. Sebab, inti sekularisasi ialah: pecahkan dan pahami masalah-masalah duniawi ini dengan mengerahkan kecerdasan atau rasio. Kemudian, terdapat pula konsistensi antara rasionalisasi dan desakralisasi. Sebab, pendekatan rasional kepada seuatu benda atau masalah yang telah menjadi sakral,

22

Nurcholish Madjid sangat berterimakasih kepada Hamka karena tradisi menulisnya semakin berkembang tatkala ia bertempat tinggal di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Sebuah bilik di masjid tersebut yang sengaja disediakan Hamka untuk tempat tinggal perantau muda ini. Dedy, Zaman Baru Islam, 129.

23

Setidaknya, terdapat dua buah buku sengaja ditulis untuk membantah dan mengoreksi pendapat Nurcholish Madjid yang membuat kontroversi ini semakin menghangatkan iklim intelektual Islam Indonesia. Pertama, yang ditulis Rasjidi, Sekularisme dalam Persoalan Lagi: Suatu Koreksi atas Tulisan Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: Yayasan Bangkit, 1972) dan Suatu Koreksi Lagi Bagi Drs. Nurcholish Madjid, (Jakarta: DDII, 1973), semuanya kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Bulan Bintang; kedua, yang ditulis oleh Endang Saefudin Anshari,

Kritik atas Paham dan Gerakan Pembaruan Drs. Nurcholish Madjid, (Bandung: Bulan Bintang, 1973), yang merupakan kritik paling panjang dari rekan segenerasi Nurcholish Madjid. Budhy,

Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. xxvii. 24

Di antara reaksi kontroversi Nurcholish Madjid tentang pembaruan yang pernah dikemukakan pada awal tahun 1970, ialah ketidaksetujuan terhadap istilah “sekularisasi”, dan mungkin jenis reaksi ini adalah yang paling keras. Untuk kajian lebih konfrehensif mengenai “sekularisasi”nya Nurcholish Madjid, lihat, Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1987), h. 221-237.

tabu, dan lain-lain menjadi tidak mungkin. Sebelum kita mengadakan pemecahan dan pemahaman rasional atas sesuatu, maka sesuatu tersebut harus bebas dari bungkus ketabuan dan kesakralan. Maka dalam hal ini, untuk kembali kepada prisip tauhid dalam kalimat syahadat, orang harus mantap untuk tidak men-tabu-kan sesuatu. Tuhan-lah yang tabu, dan karenanya tak mungkin dimengerti oleh manusia dengan rasionya itu. Artinya, dengan bertitik tolak dari syahadat itu, manusia dapat memecahkan masalah-masalah kehidupannya dengan mempertaruhkan kemampuan potensial yang ada pada dirinya sendiri, yaitu kecerdasan.25

Bedasarkan gambaran di atas, jelas corak pemikiran Nurcholish berada pada psosisi seimbang dalam menilai tradisi dan modernitas. Oleh karena itu, Nurcholish juga dikenal sebagai tokoh neo-modernisme Islam Indonesia.26 Ia mencoba untuk mengkombinasikan dua unsur penting dalam peradaban Islam Indonesia: moderinisme dan tradisionalisme. Nurcholish menganggap bahwa Kehadiran modernisme memang tidak mungkin dihindari. Tetapi, dengan mengakomodasikan ide-ide modernisme tersebut tidak berarti bahwa tradisionalisme harus dibuang. Dalam neo-modernisme, kedua ide yang berbeda ini dapat dipertemukan dalam satu sintesis. Neo-Modernisme jauh lebih siap untuk menerima ide-ide paling maju yang dikembangkan kalangan modernis, dan, pada saat yang sama, juga bisa mengakomodasi pandangan kaum tradisionalis.27

25

Nurcholish, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, h. 229. 26

Lihat, misalnya, Ahmad Amir Aziz, Neo-Modernisme Islam di Indonesia: Gagasan Sentral Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, (Jakarta: Rineka, 1999), h.22.

27

Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX, (Jakarta: serambi, 2004), h.321.

Dalam potret demikian, ia merumuskan apa yang harus dibangun oleh ide pembaruan Islam, yaitu usaha penyegaran pemahaman. Jadi, inti makna pembaruan adalah up dating pemahaman orang atas ajaran agamanya dan cara mewujudkan ajaran itu dalam masyarakat. Sedangkan tujuan pembaruan itu sendiri adalah untuk membuat agama yang diyakini itu lebih fungsional dalam memberi jawaban terhadap tantangan modern.

Selanjutnya, corak pemikiran Nurcholish pada masa belakangan ini lebih mengarah ke usaha menampilkan Islam secara inklusif, dalam rangka untuk lebih mengaktualkan nilai-nilai keislaman masa meodern. Ciri mendasar teologi inklusif adalah penegasan bahwa Islam itu agama terbuka, dan penolakan ekslusifisme dan absolutisme. Paradigma terpenting dari teologi inklusif adalah komitmen pada pluralisme. Dengan pluralisme, kita ingin menumbuhkan suatu sikap kejiwaan yang melihat adanya kemungkinan orang lain itu benar. Ini penting sekali (menurut Nurcholish) dalam agama kita. Ketika dalam agama disebutkan bahwa manusia itu diciptakan dalam keadaan fitrah (suci, sacred), maka setiap orang pada dasarnya suci dan benar. Potensi untuk benar adalah primer. Inklusivisme, dengan demikian adalah suatu kemanusiaan universal yang dalam Al-Qur’ân, surat ar-Rûm, ayat 30,28 disebutkan sebagai agama yang benar.29

Jikalau ini kita jadikan dasar, maka inklusivisme akan menjadi suatu konsekuensi logis. Karena logika dari kemanusiaan universal adalah inklusivisme itu sendiri. Juga termasuk di sini adalah pluralisme. Dunia ini, sebetulnya, secara

28

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. al-Rûm:30).

29

Nurcholish Madjid, sekapur sirih dalam, Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, (Jakarta: Kompas, 2001), h. xiii.

sejati mengalami mayarakat yang pluralistik. Atau yang pluralis dalam arti menerima plurlitas sebagai satu kenyataan positif.30

Dari sini kita bisa melihat misi Madjid yang mengupayakan penghadiran Islam dan memberi isi, serta peranannya di tengah masyarakat yang sedang berubah. Maksudnya mengadirkan Islam dalam tuntutan kemodernan. Dengan kata lain, gerakan Madjid, terutama ialah mendorong kepada tegaknya subtansi Islam. Sementara tokoh-tokoh Islam yang lain banyak yang sibuk membicarakan wadah gerakan Islam, seperti Negara Islam, partai Islam, syariat Islam, dan institusi-institusi lain yang diharapkan dapat membawa kepada kemajuan Islam. Sementara Nurcholish lebih mengedepankan substansi daripada wadah atau kulit. Itulah sebabnya selama ini ia sering melontarkan pernyataan yang terkesan kontroversial dan mengagetkan orang, terutama orang yang sibuk mengurus wadah dari pada substansi.

Mengembangkan substansi adalah cara berpikir tasawuf. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Nurcholish bahwa tasawuf sangat banyak menekankan pentinganya pengahayatan ketuhanan melaui pengalaman-pengalaman nyata dalam olah rohani (spiritual exercise) yang mengutamakan intuisi.31 Jadi, tasawuf merupakan orientasi keagamaan yang lebih esoteris.32

Cara berpikir tasawuf bersifat utuh dan padu, di mana iman, ibadah, amal saleh, dan akhlak yang mulia itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan

30

Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, h. xiv. 31

Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren; Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina,1997), h. 47.

32

“Esoteris” dari bahasa Yunani “soteros” yang artinya “dalam” atau “batin”. Lorrens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2002), h. 216.

satu sama lain. Keterpaduan dan keutuhan pemikiran itu akan melahirkan kekuatan untuk membangun umat dan peradaban manusia umumnya.

C. Karier Kepenulisan dan Karya-karya

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, karier intelektual Nurcholish sebagai pemikir muslim dimulai pada masa di IAIN Jakarta, khususnya ketika menjadi Ketua Umum PB-HMI. Namun demikian, Nurcholish tidak menonjol di lapangan sebagai demonstran. Bahkan namanya juga tidak berkibar di lingkungan politik sebagai pengurus Komite Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), kumpulan mahasiswa yang dianggap berperan menumbangakan Presiden Soekarno dan mendudukkan Mayor Jenderal Soeharto sebagai penggantinya. Prestasi Nurcholish lebih terukir di pentas pemikiran.33

Pada masa ini (1968) ia menulis “Modernisasi ialah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi”, sebuah karangan yang dibicarakan di kalangan HMI seluruh Indonesia. Setahun kemudian, 1969, ia menulis sebuah buku pendoman ideologis HMI, yang disebut “Nilai-nilai Dasar Perjuangan” (NDP) yang sampai sekarang masih dipakai sebagai buku dasar keislman HMI, dan bernama nilai-nilai identitas kader (NIK).34 buku kecil ini merupakan pengembangan dari artikel Nurcholish yang pada awalnya dipakai sebagai bahan training kepemimpinan HMI, yaitu dasar-dasar islamisme.35

33

http:/www.kampusislam.com/index?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=426, artikel diakses tanggal 4 November 2009.

34

Budhy, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. vi. 35

Ide-ide pembaruan Madjid – yang tertuang dalam buku kecil ini, yang kemudian diidentikkan dengan jati diri HMI – sebenarnya merefleksikan dilema kalangan muda Muslim yang merasa teralienasi karena perebutan politik di kalangan umat Islam serta adanya citra yang

Gagasan Nurcholish “muda” memang sudah mulai menggelindingkan isu-isu demokrasi, keadilan sosial, kebebasan berbicara dan berpikir, teloransi agama, dunia intelektual, dan masalah figur pemimpin yang diyakinya ideal baik menurut pendangan Islam atau pun bedasarkan kriteria demokrasi modern. Namun, yang paling dominan pada masa itu adalah kentalnya gagasan Nurcholish tentang persamaan manusia dan pembelaannya terhadap kaum lemah.

Gagasan Nurcholish “muda”, seperti tampak lewat tulisan-tulisannya yang dimuat di Pos Bangsa, Tribun dan Mimbar sekitar tahun 1970-an merupakan contoh dari pergumulan pemikiran dalam merespons tentang pertumbuhan yang diperdebatkan di awal masa pembangunan politik ekonomi Orde-Baru.36 Juga dari tulisan-tulisan Nurcholish pada kurun itu, kita bisa melihat bagaimana komitmen seorang intelektual muda Islam yang hadir dalam kapasitasnya sebagai pembela kaum lemah.37

Keprihatinan Nurcholish terhadap nasib kaum lemah yang sudah sejak awal muncul, misalnya, bisa kita lihat dari salah satu tulisannya berjudu “kaum buruh seluruh Indonesia, bersatulah”. Tulisan itu tampaknya akan tetap relevan dalam konteks Indonesia mutakhir saat persoalan nasib buruh kecil dan kaum penggiran merupakan agenda kebangsaan yang belum sepenuhnya tuntas.38

kurang bagus tentang Islam sendiri. Kebangkitan gerakan pembaruan pemikiran ini juga merupakan gambaran dari adanya krisis identitas yang dialami kalangan intelektual Muslim pada saat loyalitas pada ideologi primordial menjadi bertentangan dengan cita-cita para penguasa di pemerintahan. Formulasi yang ditawarkan Madjid tentang pembaruan ini merupakan upaya menyelesaikan persoalan ketegangan internal di kalangan umat Islam. Fauzan, Teologi Pembaruan, h.321.

36

Amir, Neo-Modernisme Islam di Indonesia, h.22. 37

Dedy, Zaman Baru Islam, h. 130. 38

Selanjutnya, Nurcholish menulis artikel yang berjudu “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”.39 Sebuah artikel yang dipresentasikan Madjid pada pertemuan silaturahim antara para aktivis, anggota, dan keluarga dari empat organisasi Islam, yaitu PERSAMI, HMI, GPI, dan PII yang diselenggarakan oleh PII cabang Jakarta, di Jakarta 3 Januari 1970.40

Dalam artikel ini, Madjid menggambarkan persoalan-persoalan yang sangat mendesak untuk dipecahkan, khususnya menyakngkut integrasi umat akibat terpecah belah oleh paham-paham dan kepartaian politik. Nurcholish dengan jargon “sekularisasi”-nya dan “Islam yes, partai Islam no” hendak mengajak umat Islam untuk mulai melihat kemandekan-kemandekan berpikir dan kreativitas yang telah terpasung oleh berbagai bentuk kejumudan. Karena itulah, ia menyarankan suatu kebebasan berpikir, pentingnya the idea of progress, sikap terbuka, dan kelompok pembaruan yang liberal, yang bisa menumbuhkan suatu istilah Nurcholish sendiri, psychological striking force (daya tonjok psikologis) yang menumbuhkan ikiran-pikiran segar.41

Karena artikel ini sangat subtansial, dan menimbulkan kontroversi besar, – bahkan sempat membuat Nurcholish kehilangan reputasi baik di kalangan tua yang konservatif – maka Nurcholish merasa perlu memeberikan penjelasan lebih mendalam tentang artikelnya itu. Kemudian ia pun menulis “Beberapa Catatan Sekitar Masalah Pembaruan Pemikiran Islam”, yang muncul tidak lama setelah heboh kertas kerja 3 Januari 1970 itu, dan “Sekali Lagi Tentang Sekularisasi”

39

Artikel inilah yang kemudian menimbulkan perdebatan besar di kalangan intelektual Muslim Indonesia mengenai sekularisasi-sekularisme.

40

Budhy, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. x. 41

(1972) dan “Perspektif Pembaruan Pemikiran dalam Islam” (artikel ditampilkan dalam acara sastra Dewan Kesenian Jakarta, 20 Oktober 1972).42

Selanjutnya, setelah kembali dari Chicago, pada 1984, dengan menggondol gelar Doktornya, Nurcholish mencoba mengaktualkan kembali gagasan-gagasan pembaruan 1970-an itu dengan subtansi yang lebih mendalam. Tulisan pertamanya yang sangat mendalam terbit bebarapa saat sebelum kedatangannya, yaitu wawancara tertulis yang diberi judul “Cita-cita Politik Kita”. Dalam tulisan tersebut, Nurcholish memberi substansi atas gagasan sekularisasi politiknya yang dulu dirumuskan dalam jargon “Islam Yes, Partai Islam No.” dalam tulisan inilah, Madjid terlihat mempergunakan perspektif hermeneutika Neo-Modernisme dalam melihat persoalan kemodernan Islam.43 Pada saat yang hampir bersamaan, terbit pula buku pertama Nurcholish yang merupakan karya terjemahan dan diberi kata pengantanya sendiri, yaitu Khazanah Intelktual Islam, diterbitkan Bulan Bintang, Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Obor Indonesia.44 Pada 1987, terbit pula bukunya yang lain – kumpulan tulisan Nurcholish selama 20 tahun – yaitu Islam Kemodernan dan Keindonesiaan,

diterbitkan oleh penerbit Mizan, Bandung. Lewat buku ini kita bisa melihat bagaimana pergolakan pemikiran Madjid dalam mengaitkan persoalan keislaman dalam konteks keindonesiaan.45

Tulisan Nurcholish yang lain yang tak kalah pentingnya juga terkoleksi dalam bunga rampai karya Gloria Dabis, What is Modern Indonesia?, 1979. Di

42

Budhy, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. xii. 43

Budhy, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, h. xxix. 44

Dedy, Zaman Baru Islam, h. 131. 45

situ Nurcholish menyumbangkan tulisan dengan topik “The Issues of Modernization Among Muslims in Indonesia”. Di kesempatan lain, ia juga telah menuangkan gagasan tentang: “Islam in Indonesia: Challenges and Opportunities” yang ikut menghiasi kumpulan karangan Cyriac K. Pullapilly,

Islam in The Contemporary World, terbit 1980.46

Gagasan Nurcholish terus berkembang, khususnya setelah ia dan kawan-kawannya yang lain mendirikan Yayasan Wakaf Paramadina, pada Oktober 1986. Maka sejak Paramadina didirikan hampir setiap bulan ia menulis paper untuk keperluan diskusi di Klub Kajian Agama (KKA). Sebagian makalah-makalah Madjid kemudian menjadi buku seperti Islam: Doktrin dan Peradaban (1992),

Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (1994), Islam Agama Peradaban

(1995), Islam Agama Kemanusiaan (1995), dan bebarapa buku lain yang tidak terkait dengan KKA, tetapi merupakan pengisian lebih detail ide-ide dalam KKA itu, seperti Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1987) Islam, Kerakyatan dan Keindonesiaan (1993), Pintu-Pintu Menuju Tuhan (1994), Kaki Langit Peradaban Islam (1997) Bilik-Bilik Peasntren (1997), Perjalanan Religius Umrah dan Haji

(1997), dan Dialog Keterbukaan (1997).47

46

Dedy, Zaman Baru Islam, h. 133. 47

Dokumen terkait