• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Operasionalisasi Variabel Penelitian

5. Kualitas Audit

Tujuan dari audit laporan keuangan adalah untuk memberikan kepastian mengenai integritas dari laporan keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen. Kepastian mengenai relevansi dan keandalan dari laporan keuangan perusahaan sangat diperlukan untuk membantu pihak eksternal dalam mengambil suatu keputusan bisnis (Mayangsari, 2003). Untuk mengukur kualitas audit digunakan ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP).

kualitas audit diukur dengan dummy variabel dengan nilai 1 jika diaudit oleh KAP big four dan 0 apabila tidak diaudit oleh KAP big four (Febiani, 2012)

BAB IV

PENEMUAN DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Deskripsi Objek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai tahun 2010 – 2013.

Perusahaan manufaktur adalah suatu cabang yang memproses barang mentah menjadi barang jadi. Consume goods memiliki lima sub sektor, adapun kelima sub sektor tersebut terdiri dari: Farmasi, Kosmetik dan keperluan rumah tangga, Makanan dan minuman, Peralatan rumah tangga, Rokok.

Perusahaan manufaktur tersebut telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebelum 1 Januari 2010 dan selama periode penelitian tidak keluar dari Bursa Efek Indonesia atau mengalami delisting. Industri consumer goods dipilih karena memiliki tingkat earnings per share yang tinggi dan stabil dibandingkan dengan sub sektor perusahaan manufaktur lainnya. Earnings per share ini nantinya akan digunakan sebagai data untuk menghitung salah satu variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

Fokus penelitian ini adalah ingin melihat pengaruh konservatisme, komposisi dewan komisaris, keberadaan komite audit, dan kualitas audit terhadap earnings response coefficient (ERC) perusahaan sub sektor consumer goods yang ada.

Alasan penggunaan data empat tahun mulai tahun 2010-2-13 adalah karena tahun 2010-2013 merupakan data perusahaan yang dapat memberikan gambaran mengenai komite audit yang sebelumnya diatur dalam peraturan BAPEPAM dan KNKG pada tahun 2006. Selain itu pada tahun 2010-2013 juga dianggap cukup up to date sehingga laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan lebih terjamin isi yang ada di dalamnya. Namun dalam analisis statistik, peneliti menggunakan data lima tahun (2009-2010) karena ada beberapa variabel yang membutuhkan data dari tahun sebelumnya (t-1), yaitu cumulaitve abnormal return yang nantinya akan digunakan untuk menghitung variabel earnings response coefficient yang digunakan dalam penelitian ini. Sehingga untuk data tahun 2009 tidak dimasukkan dalam analisis statistik karena hanya untuk melengkapi data tahun 2010. Tabel 4.1 di bawah ini menyajikan tahapan seleksi sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Tabel 4.1

Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria

Jumlah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2010-2013 142

Jumlah perusahaan non consumer goods (104)

Perusahaan consumer goods yang delisting selama tahun 2010-2013 (24)

Jumlah perusahaan sampel 14

Tahun pengamatan 4

Jumlah sampel total selama periode pengamatan 56 Sumber: Annual report perusahaan yang diolah

Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2010-2013 berjumlah 142 perusahaan. Dari 142 perusahaan manufaktur sebanyak 104 perusahaan merupakan perusahaan

yang bergerak di bidang consumer goods, dan 24 perusahaan diantaranya mengalami delisting atau keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga pada akhirnya total perusahaan consumer goods yang bisa digunakan sebagai sampel adalah sebanyak 14 perusahaan. Sedangkan total pengamatan yang dijadikan sampel penelitian ini adalah 56 pengamatan.

2. Deskripsi Sampel Penelitian

Sampel pada penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Sampel dipilih bagi perusahaan yang menyajikan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Tabel 4.2 Sampel Penelitian

NO KODE EMITEN

1 ADES Akasha Wira International Tbk 2 CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk.

3 DLTA Delta Djakarta Tbk.

4 SKLT Sekar Laut Tbk.

5 ULTJ Ultrajaya Milk Indsstry & Tradig Co. Tbk.

6 HMSP Handjaya Mandala Sampoerna Tbk 7 RMBA Bentoel International Investama Tbk

8 INAF Indofarma Tbk.

9 KAEF Kimia Farma Tbk.

10 KLBF Kalbe Farma Tbk.

11 UNVR Unilever Indonesia Tbk.

12 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk.

13 KICI Kedaung Indah Can Tbk.

14 LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk.

JUMLAH 14

AKUMULASI 56

Sumber: Data diolah

B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model regresi linear berganda. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai pengaruh variabel independen (konservatisme, komposisi dewan komisaris, komite audit, dan kualitas audit) terhadap variabel dependen yaitu Earnings Response Coefficient.

1. Hasil Uji Statistik Deskriptif

Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif diperoleh sebanyak 56 data observasi yang berasal dari perkalian periode penelitian (4 tahun; dari tahun 2010 sampai tahun 2013) dengan jumlah perusahaan sampel (14 perusahaan).

Tabel 4.3 Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

KNSV 56 .36 46.63 6.1093 10.38905

KOM 56 .25 .80 .4146 .13043

DKOMA 56 .00 1.00 .9821 .13363

DKUA 56 .00 1.00 .4286 .49935

ERC 56 -17.30 5.00 -.5088 3.66141

Valid N (listwise) 56

Sumber: data sekunder yang diolah

Tabel 4.3 menunjukkan statistik deskriptif masing-masing variabel penelitian. Berdasarkan tabel 4.3, hasil analisis menggunakan statistik deskriptif terhadap konservatisme akuntansi (KNSV) menunjukkan nilai minimum sebesar 0,36 dan nilai maksimum sebesar 46,63 dengan rata-rata sebesar 6,1093 dan standar deviasi 10,38905. Hasil analisis dengan

menggunakan statistik deskriptif terhadap komposisi dewan komisaris independen (KOM) menunjukkan nilai minimum sebesar 0,25 dan nilai maksimum sebesar 0,80 dengan standar deviasi sebesar 0,13043. Hasil analisis menggunakan statistik deskriptif terhadap komite audit (DKOMA) menunjukkan nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1 dengan standar deviasi sebesar 0,13363. Hasil analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap kualitas audit menunjukkan nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1 dengan standar deviasi sebesar 0,49935. Hasil analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap earnings response coefficient (ERC) menunjukkan nilai minimum sebesar -17,30 dan nilai maksimum sebesar 5,00 dan rata-rata sebesar -0,5088 dengan standar deviasi sebesar 3,66141, untuk variabel komite audit dan kualitas audit menggunakan variabel dummy, oleh karena itu angka yang muncul hanya berupa 0 atau 1.

2. Hasil Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan dengan menggunakan analisis regresi terhadap variabel independen dan variabel dependen. Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui kelayakan penggunaan model regresi dalam penelitian ini. Uji asumsi klasik pada penelitian ini terdiri atas uji multikolinearitas, uji autokorelas, dan uji heterokedastisitas.

Variabel independen yang digunakan adalah konservatisme akuntansi, komposisi dewan komisaris, komite audit dan kualitas audit sedangkan

variabel dependen yang digunakan adalah earnings response coefficient. Uji asumsi klasik telah dilakukan dan hasilnya adalah sebagai berikut:

a) Hasil Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Model regresi yang baik ada model yang tidak mengandung multikolinearitas (Ghozali, 2013:105). Uji multikolinearitas dapat dilihat dari besaran nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil uji multikolinearitas.

Tabel 4.4

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 12.215 4.604

KNSV .010 .081 .022 .340 2.937

KOM -20.517 5.664 -.582 .443 2.257

DKOMA -3.215 3.760 -.093 .958 1.044

DKUA -2.474 1.234 -.268 .637 1.570

Sumber: Data sekunder yang diolah

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa hasil uji multikolonieritas menunjukkan nilai tolerance tiap variabel adalah KNSV 0,340; KOM 0,443; DKUA 0,637; DKOMA 0,958. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah multikolonieritas dalam model regresi yang digunakan.

b) Hasil Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi menunjukkan hasil yang dapat mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dalam analisis regresi. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin-Watson.

Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan hasil uji autokorelasi.

Tabel 4.5

1 .646a .418 .372 3.64683 1.963

a. Predictors: (Constant), DKUA, KOM, DKOMA, KNSV b. Dependent Variable: ERC

Berdasarkan tabel 4.5 diatas, dengan n= 56 dan k= 4, dapat diketahui nilai batas atas dan batas bawah dari nilai durbin-watson dengan nilai du adalah 1,724 dan nilai 4-du adalah 2,037 dan nilai dw berdasarkan tabel adalah 1,963 sehingga du < dw < 4-du atau 1,724 < 1,963 < 2,037 maka dapat disimpulkan bahwa data tidak memiliki masalah autokorelasi.

c) Hasil Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas digunakan untuk menguji apakah sebuah model regeresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas bisa dilakukan dengan uji glejser. Adapun hasil uji glejser dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.6

1 (Constant) -.468 3.050 -.154 .879

KNSV -.037 .054 -.163 -.690 .493

KOM .964 3.752 .053 .257 .798

DKOMA 2.736 2.491 .154 1.099 .277

DKUA .417 .817 .088 .510 .612

Dependent variable: AbsUt

Sumber: Data sekunder yang diolah

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa tidak terdapat satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen. Terlihat dari nilai probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan 0,05 (Ghozali, 2013:143). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala heterokedastisitas pada model persamaan regresi sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi earnings response coefficient.

3. Hasil Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengukur kemampuan variabel independen, yaitu konservatisme, komposisi dewan komisaris, komite audit , dan kualitas audit dalam menjelaskan variabel dependen, yaitu earnings response coefficient. Adapun hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.7

1 .646a .418 .372 3.64683 1.963

a. Predictors: (Constant), DKUA, KOM, DKOMA, KNSV b. Dependent Variable: ERC

Sumber: Output SPSS

Hasil uji koefisien determinasi pada tabel 4.7 menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,372 nilai ini menunjukkan bahwa variabel dependen yaitu earnings response coefficient dapat dijelaskan sebesar 37,2% oleh variabel independen yaitu, konservatisme, komposisi dewan komisaris, komite audit , dan kualitas audit. Sedangkan sisanya 62.8%

(100%-37,2%) dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak disertakan dalam model penelitian kali ini, seperti struktur modal (Wilijayanti, 2011) dan ukuran kantor akuntan publik (Riyatno, 2007)

4. Hasil Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi berganda, yaitu melalui uji statistik t, dan uji statistik F.

a) Hasil Uji Statistik t

Uji statistik t digunakan untuk mengatahui apakah dalam suatu model regresi ada atau tidaknya pengaruh dari masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji

ERC = 12.125+0.10 KNSV – 20.517 KOM – 3.215 DKOMA – 2.474 DKUA pada tingkat signifikansi 0,05. Jika probabilitas t lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima dan menolak Ho, sedangkan jika nilai probabilitas t lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan menolak Ha.

Berikut disajikan hasil uji statistik t yang dilakukan:

Tabel 4.8

1 (Constant) 12.215 4.604 2.653 .011

KNSV .010 .081 .022 .118 .906

KOM -20.517 5.664 -.582 -3.622 .001

DKOMA -3.215 3.760 -.093 -.855 .397

DKUA -2.474 1.234 -.268 -2.005 .050

Dependent variable: ERC Sumber: Output SPSS

Berdasarkan tabel 4.8, maka diperoleh model persamaan regresi sebagai berikut:

Tabel 4.8 juga menunjukkan hasil uji statistik t antara variabel independen dengan variabel dependen, sebagai berikut:

Hasil uji hipotesis 1: Pengaruh konservatisme akuntansi terhadap earnings response coefficient.

Tabel 4.8 menunjukkan hasil bahwa variabel konservatisme (KNSV) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,906. Tingkat signifikansi tersebut lebih dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa konservatisme akuntansi tidak berpengaruh terhadap earnings response coefficient.

Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif maupun tidak, tidak akan mempengaruhi besaran earnings response coefficient dengan kata lain bahwa para investor tidak merespon saham yang ada dengan melihat apakah suatu perusahaan menerapkan akuntansi yang konservatif ataupun tidak, hal ini dapat disebabkan mungkin saja para investor tidak memahami betul apa itu akuntansi yang konservatif, sehingga mereka hanya memutuskan untuk membeli suatu saham perusahaan berdasarkan faktor-faktor lain. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Seswanto (2012) yang menyatakan bahwa konservatisme tidak berpengaruh terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan persistensi laba dalam penelitiannya. Selain itu hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Assegaf (2008) dalam Andreas (2012) yang menunjukkan bahwa konservatisme tidak signifikan terhadap earnings response coefficient.

Hasil uji hipotesis 2: Pengaruh komposisi dewan komisaris terhadap earnings response coefficient.

Tabel 4.8 menunjukkan komposisi dewan komisaris independen memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,001. Tingkat signifikansi tersebut jauh lebih kecil dari 0,05 yang berarti H2 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa komposisi dewan komisaris independen berpengaruh secara signifikan terhadap earnings response coefficient.

Berpengaruhnya variabel komposisi dewan komisaris independen berkaitan dengan semakin gencarnya pemerintah dalam menerapkan peraturan berkaitan dengan good corporate governance, sehingga investor yang hendak membeli saham suatu persusahaan semakin gencar pula untuk memperhatikan secara seksama apakah suatu perusahaan sudah menerapkan mekanisme coporate governance yang telah diatur baik oleh BAPEPAM maupun KNKG. Komposisi dewan komisaris independen merupakan salah satu dari poin-poin yang ada dalam penerapan mekanisme corporate governance yang baik, semakin banyak dewan komisaris independen maka investor makin tertarik untuk membeli saham suatu perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Febiani (2012) yang mengatakan bahwa komposisi dewan komisaris independen berpengaruh terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan earnings response coefficient dan penelitian Siallagan dan Machfoedz (2006) yang menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh terhadap kualitas laba.

Hasil uji hipotesis 3: Pengaruh komite audit terhadap earnings response coefficient.

Tabel 4.8 menunjukkan tingkat signifikansi komite audit (DKOMA) sebesar 0,397 tingkat signifikansi tersebut jauh lebih besar dari 0,05 sehingga H3 ditolak. Dengan kata lain keberadaaan komite audit dalam suatu perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap earnings response coefficient (ERC). Hal ini dapat diakibatkan oleh para investor yang tidak terlalu mementingkan keberadaan komite audit karena secara tidak langsung komite audit merupakan perpanjangan tangan dari dewan komisaris, sehingga para investor cukup melihat dari sisi dewan komisaris yang ada seperti pada hasil uji hipotesis dua sebelumnya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Indrawati dan Yulianti (2010) yang menyatakan bahwa komite audit sebagai proksi GCG tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba yang diukur dengan earnings response coefficient. Hasil ini juga didukung oleh penelitian Tuwentina dan Wirama (2012) yang menyatakan bahwa good corporate governance tidak berpengaruh pada kualitas laba.

Hasil uji hipotesis 4: Pengaruh kualitas audit terhadap earnings response coefficient.

Pada tabel 4.8 ditunjukkan tingkat signifikansi kualitas audit (DKUA) sebesar 0,050 sehingga dapat dikatakan bahwa H4 diterima. Dengan kata lain, kualitas audit berpengaruh terhadap earnings response

coefficient. Hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa reputasi KAP yang dicerminkan oleh big four atau tidaknya suatu KAP dapat dijadikan faktor untuk pengambilan keputusan oleh para investor apakah akan membeli suatu saham perusahaan atau tidak. Hal ini mungkin terjadi karena para investor menganggap bahwa perusahaan-perusahaan yang diaudit oleh KAP yang termasuk ke dalam golongan big four akan memiliki kualitas laba yang dapat dipercaya sehingga para investor tidak ragu untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Riyatno (2007) yang menyatakan bahwa ukuran KAP berpengaruh terhadap ERC perusahaan. KAP yang berukuran besar dipersepsikan sebagai KAP yang berkualitas sehingga menambah kredibilitas informasi laba yang disampaikan oleh perusahaan. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ginting (2014) yang menyatakan bahwa kualitas audit yang diproksikan dengan ukuran KAP berpengaruh terhadap earnings response coefficient. selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Febiani (2012) juga menyatakan bahwa kualitas audit mempengaruhi kualitas laba yang diproksikan dengan ERC.

b. Hasil Uji Statistik F

Uji statistik F digunakan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen yang ada dalam model regresi secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikan 0,05. Jika probability F lebih kecil dari 0,05 maka Ha

diterima dan menolak H0,sedangkan jika lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan menolak Ha. Berikut tabel hasil uji statistik F

Tabel 4.9 Hasil Uji Statistik F

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1Regression 486.353 4 121.588 9.142 .000b

Residual 678.269 51 13.299

Total 1164.622 55

a. Dependent Variable: ERC

b. Predictors: (Constant), DKUA, KOM, DKOMA, KNSV

Hasil uji hipotesis 5: Pengaruh konservatisme akuntansi, komposisi dewan komisaris, komite audit dan kualitas audit terhadap earnings response coefficient

Hasil uji hipotesis 5 dapat dilihat pada tabel 4.9 yang menunjukkan hasil uji statistik F dengan tingkat signifikansi 0,000. Tingkat signifikansi tersebut jauh lebih kecil dari 0,05 yang berarti H5 diterima dan menolak H0, sehingga dapat dikatakan bahwa konservatisme akuntansi, komposisi dewan komisaris, komite audit dan kualitas audit berpengaruh secara simultan terhadap earnings response coefficient.

hasil ini sejalan dengan penelitan yang dilakukan Tuwentina dan Wirama (2014), Indrawati dan Yulianti (2010) serta Febiani (2012).

Dengan demikian, perusahaan yang menerapkan konservatisme akuntansi dan menerapkan mekanisme corporate governance akan cenderung memiliki nilai earnings response coefficient yang lebih besar pula. Dengan kata lain, bahwa kualitas laba akuntansi yang berkualitas

yang diwujudkan dalam penerapan akuntansi yang konservatif atau berhati-hati, dan mekanisme corporate governance akan mempengaruhi harga saham perusahaan di pasar modal yang ada.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini meneliti tentang pengaruh konservatisme akuntansi, corporate governance (yang diproksikan oleh komposisi dewan komisaris, komite audit, dan kualitas audit) terhadap earnings response coefficient.

analisis dilakukan dengan regresi berganda dengan program Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 22. Data sampel perusahaan sebanyak 14 dengan total pengamatan sebanyak 56 perusahaan manufaktur sub sektor consumer goods yang terdaftar di BEI selama periode 2010-2013.

Hasil pengujian dan pembahasan pada bagian sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil Uji Statistik t menunjukkan bahwa konservatisme akuntansi tidak berpengaruh terhadap earnings response coefficient perusahaan selama periode pengamatan 2010-2013. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Seswanto (2012) dan Assegaf (2008).

2. Berdasarkan hasil Uji Statistik t menunjukkan bahwa komposisi dewan komisaris berpengaruh terhadap earnings response coefficient perusahaan selama periode pengamatan 2010-2013. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Febiani (2012) serta Siallagan dan Machfoedz (2006).

3. Berdasarkan hasil Uji Statistik t menunjukkan bahwa komite audit tidak mempengaruhi earnings response coefficient selama periode pengamatan

2010-2013. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Indrawati dan Yulianti (2010) serta penelitian Tuwentina dan Wirama (2012).

4. Berdasarkan hasil Uji Statistik t menunjukan bahwa kualitas audit mempengaruhi earnings response coefficient perusahaan selama periode pengamatan 2010-2013. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Riyatno (2007), Febiani (2012), dan Ginting (2014).

5. Berdasarkan hasil Uji Statistik F menunjukkan bahwa konservatisme akuntansi, komposisi dewan komisaris, komite audit, dan kualitas audit mempengaruhi earnings response coefficient perusahaan selama periode pengamatan 2010-2013. Hasil ini mendukung penelitian Tuwentina dan Wirama (2014), Indrawati dan Yulianti (2010) serta Febiani (2012).

B. Saran

Penelitian dengan bidang konservatisme akuntansi maupun corporate governance di masa depan diharapkan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih berkualitas dengan mempertimbangkan saran di bawah ini:

1. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan penggunaan seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI.

2. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan penggunaan periode pengamatan lebih lama.

3. Penelitian selanjutnya dapat mengurangi pengukuran variabel dengan metode dummy.

4. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi corporate governance yang lebih lengkap lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Alfian, Angga dan Arifin Sabeni. “Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pemilihan Konservatisme Akuntansi”, Diponegoro Journal of Accounting Hal 1-10, 2013.

Anderson, Kirsten L., Daniel N Deli, Stuart L. Gillan, “Boards Of Directors, Audit Committees, And The Information Content Of Earnings, Paper, University of Delaware, Newark. 2003.

Andreas, Hans Hananto. “Spesialisasi Industri Audior Sebagai Prediktor Earnings Response Coefficient Perusahaan Publik Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia” Jurnal Akuntansi Keuangan Vol 14, No. 2, 2012.

Antonia, Edgina. “Analisis Pengaruh Reputasi Auditor, Proporsi Dewan Komisaris Independen, Leverage, Kepemilikan Manajerial Dan Proporsi Komite Audit Independen Terhadap Manajemen Laba”, Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang, 2008.

Aristiya, Maria Maya dan Pratiwi Budiharta, “Analisis Perbedaan Tingkat Konservatisme Akuntansi Laporan Keuangan Sebelum Dan Sesudah Konvergensi IFRS”, Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2014.

Basu, Sudipta. “The Conservatism Principle and The Asymmetric Timeliness of Earnings”, Journal Of Accounting And Economics 24 (1997) 3-37, Baruch College, New York, 1997.

Baxter, Peter. “Audit Committees And Earnings Quality”. Accounting & Finance, Vol. 49, Issue 2, pp. 267-290, University of the Sunshine Coast. 2009.

Boediono, Gideon SB. “Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Dan Dampak Manajemen Laba Dengan Menggunakan Analisis Jalur”, SNA VIII, Solo, 2005.

Bruegger, Esther dan Frederick C. Dunbar, “Estimating Financial Fraud Damages With Response Coefficients”, The Journal of Corporation Law Vol.

35, 2009.

Chtourou et al. “Corporate Governance And Earnings Management”, Universite Laval, Canada, 2001.

Diantimala, Yossi. “Pengaruh Akuntansi Konservatif, Ukuran Perusahaan, Dan Default Rsk Terhadap Koefisien Respon Laba (ERC)”. Jurnal Telaah & Riset Akuntansi Vol.1, No. 1, Hal. 102-122, 2008.

Effendi, Muhammad Arief. “The Power Of Good Corporate Governance:, Teori Dan Implementasi”. Salemba Empat, Jakarta, 2009.

Febiani, Siska. “Konservaisme Akuntansi, Corporate Governance, Dan Kualitas Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Di BEI)”, Jurnal Ilmiah Mahasiwa Akuntansi Vol. 1, No. 2. Fakultas Bisnis Unika Widya Mandala 2012.

Ghozali, Imam.”Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 21”.

Cetakan VII, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2013.

Ginting, Eka Kristin Paulina BR. “Pengaruh Kualitas Audit Dan Prediktibilitas Laba Akuntansi Terhadap Earnings Response Coefficient”, Artikel Universitas Negeri Padang, Padang, 2014.

Hamid, Abdul. “Pedoman Penulisan Skripsi”, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2012.

Hati, Lia Alfiah Dinanar. “Telaah Literatur Tentag Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konservatisme Akuntansi”. Jurnal Ekonomi & Pendidikan Vol. 8 No. 2, 2011.

Hellman, Niclas. “Accounting Conservatism Under IFRS”, Stockholm School of Economics, Sweden, 2007.

Hermawan, Ancella Anitawati. “The Influence Of Effective Board Of Commissioners And Audit Committee On The Informativeness Of Earnings:

Evidence From Indonesia Listed Firms”, Asia Pacific Journal Of Accounting And Finance Volume 2 (1), Indonesia, 2011.

Indonesian Stock Exchange (Bursa Efek Indonesia), “Fact Book 2010-2013”, diakses lewathttp://www.idx.co.id/id-id/beranda/publikasi/factbook.aspx.

Indrawati, Novita dan Lilla Yulianti. “Mekanisme Corporate Governance Dan Kualitas Laba”, Pekbis Jurnal, Vol.2, No.2, Fakultas Ekonomi Universitas Riau, 2010.

Jensen, Michael C. and Willian H. Meckling, “Theory Of The Firm: Managerial Behavior, Agency Costs And Ownership Structure”, Journal of Financial Economics V. 3, No. 4, pp. 305-360, 1976.

Juanda, Ahmad. “Perilaku Konservatif Pelaporan Keuangan dan Risiko Litigasi Pada Perusahaan Go Publik di Indonesia”, Naskah Publikasi Penelitian Dasar Keilmuan, Universitas Muhammadiyah Malang, 2007.

Kementrian Keuangan Republik Indonesia Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, “Kajian Tentang Pedoman Good Corporate Governance di Negara-Negara Anggota ACMF”, 2010.

Kementrian Keuangan Republik Indonesia Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, “Kajian Tentang Pedoman Good Corporate Governance di Negara-Negara Anggota ACMF”, 2010.

Dokumen terkait