BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.:
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Adanya Skandal Akuntansi Dan Pengungkapan Akun-Akun Yang Kurang Atau Lebih Dari Yang Seharusnya Basis Teori: Teori Agensi Dan Teori Konservatisme Akuntansi
Variabel Independen:
Konservatisme Akuntansi Komite Audit
Dewan Komisaris Kualitas Audit
Metode Analisis: Regresi Berganda
Hasil Pengujian Dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
Variabel Dependen:
Earnings Response Coefficient
Uji Hipotesis: Uji t dan Uji F
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan kausalitas yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel independen, yaitu konservatisme akuntansi, komposisi dewan komisaris, komite audit, dan kualitas audit. Terhadap variabel dependen yaitu, Earnings Response Coefficient. Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dari tahun 2010 – 2013. Sampel penelitian merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsumsi (consumer goods).
B. Metode Penentuan Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur sub sektor consumer goods yang terdaftar di BEI. Metode yang digunakan dalam pemilihan sampel penelitian adalah pemilihan sampel bertujuan (purposive sampling), dengan teknik berdasarkan pertimbangan (judgement sampling), pada metode ini pengumpulan data atas dasar strategi kecakapan atau pertimbangan pribadi semata (Hamid, 2012:27)
Sampel merupakan perusahaan yang bergerak di bidang sub manufaktur consumer goods terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia yang aktif menjual sahamnya selama periode 2010 – 2013.
Sampel merupakan perusahaan sub manufaktur consumer goods yang mengungkapkan financial report dan annual report dan terdaftar dalam BEI periode 2010-2013.
Perusahaan yang memiliki data lengkap berkaitan dengan variabel yang digunakan dalam penelitian.
C. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data skunder. Data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara. Data sekunder umumnya diperoleh melalui studi pustaka (Hamid, 2012). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dengan cara mengumpulkan data sekunder yang diperoleh dari media internet dengan cara mengunduh annual repot perusahaan melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan alamat website www.idx.co.id.
D. Metode Analisis Data
Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi.
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi)
(Ghozali, 2013:19). Tujuan dari analisis ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai data yang telah terkumpul.
2. Uji Asumsi Klasik
a) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel-variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2013:105). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi adalah dengan cara:
1. Nilai tolerance sebesar >0,10
2. Variance inflation factor (VIF) sebesar <10 b) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data time series (Ghozali, 2013:110). Uji
yang digunakan adalah Uji Durbin – Watson (DW test). Keputusan ada atau tidak autokorelasi menurut Ghozali (2013:111) adalah:
1. 0 < d < dl : tidak ada autokorelasi positif 2. dl< d < du : tidak dapat disimpulkan 3. 4 - dl < d < 4 : tidak ada autokorelasi negatif 4. 4 - du < d < 4 - dl : tidak dapat disimpulkan 5. du < d < 4 - du : tidak ada autokorelasi positif
maupun negatif Keterangan:
d : Nilai Durbin-Watson du : Nilai batas atas dl : Nilai batas bawah c) Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi Heterokedastisitas (Ghozali, 2013:139). Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya Heterokedastisitas adalah dengan menggunakan Uji Glejser. Nilai probabilitas signifikasinya harus di atas tingkat kepercayaan 0,05 agar lolos dari Uji Glejser.
3. Uji Koefisien Determinasi
Dalam penelitian ini model yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji hubungan dan pengaruh yang dihasilkan dari beberapa variabel independen terhadap satu variabel dependen. Analisis regresi ini juga digunakan untuk mengestimasi rata-rata nilai populasi atau nilai dari rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independennya. Pada analisis ini juga dapat mengukur kekuatan hubungan antara variabel-variabel yang digunakan, serta menunjukkan arah hubungan antar variabel tersebut.
Model regresi yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini telah dirumuskan sebagai berikut :
ERC = α + β1KNSV + β2KOM + β3DKOMA + β4DKUA + Ɛ
Keterangan :
ERC = Earnings Response Coefficient KNSV = Konservatisme Akuntansi KOM = Komposisi Dewan Komisaris DKOMA = Komite Audit
DKUA = Kualitas Audit
α = Konstansta
β1,2,3,4, = Koefisien variabel
Ɛ = Error
4. Uji Hipotesis
a) Uji Signifikasi Simultan (Uji Statistik F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat.
(Ghozali, 2013:98). Jika probability F lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima dan menolak H0,sedangkan jika lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan menolak Ha.
b) Uji Signifikasi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2013:101). Jika probabilitas t lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima dan menolak Ho, sedangkan jika nilai probabilitas t lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan menolak Ha.
E. Operasionalisasi Variabel Penelitian
Pada bagian ini akan diuraikan definisi dari masing-masing variabel yang digunakan berikut dengan operasional dan cara pengukurannya.
1. Earnings Response Coefficient (Koefisien Respon Laba)
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah koefisien respon laba.
Koefisien respon laba biasa digunakan para ahli untuk menilai kualitas laba atau tingkat berharganya informasi yang diungkapkan oleh
perusahaan. Koefisien respon laba adalah ukuran besaran return abnormal suatu saham sebagai respon terhadap komponen laba kejutan (unexpected earnings) (Riyatno, 2007). Untuk menghitung besarnya koefisien respon laba menggunakan model data time series dan diperlukan beberapa tahap perhitungan. Berikut ini operasionalisasi komponen atau unsur yang diperlukan unuk menghitun variabel ERC tersebut:
Laba kejutan (unexpected earnings) adalah perbedaan antara laba per lembar saham pada periode penelitian dan laba per lembar saham pada periode sebelumnya. Laba kejutan dihitung dengan menggunakan rumus:
(sumber: Riyatno, 2007) Keterangan:
UE = Laba kejutan perusahaan i pada periode t
EPSit = Laba per lembar saham perusahaan I pada periode t EPSit-1 = Laba per lembar saham perusahaan I pada periode t-1 Pit-1 = Harga penutupan saham pada akhir tahun t-1
Lalu menghitung AR menggunakan rumus:
AR
it= R
it- R
mtKeterangan :
ARit : Abnormal Return untuk perusahaan i pada pada hari ke t
Rit : Return harian saham perusahaan i pada hari t RMt : Return indeks pasar pada hari ke t
Lalu selanjutnya menghitung CAR sesuai yang digunakan oleh Diantimala (2008) dan Tuwentina (2014), yang dirumuskan:
CAR
it= CAR
(-3, +3)= ΣAR
it (-3, +3)Cumulative abnormal return (CAR) adalah periode akumulasi return 3 hari setelah dan 3 hari sebelum tanggal upload laporan keuangan yang telah diaudit.
Kemudian ERC dihitung dengan persamaan regresi sebagai berikut atas data tiap-tiap perusahaan:
CAR
it= α
0+ α
1UE
it+ ε
Sumber: Tuwentina (2014) Keterangan:
CARit = CAR perusahaan yang diperoleh dari akumulasi AR pada interval dari hari t-3 hingga t+3
UEit= Unexpected Earnings perusahaan i pada periode t α0 = konstanta
α1 = ERC ε = eror
2. Konservatisme Akuntansi
Konservatisme akuntansi diukur berdasarkan model Givoly dan Hayn (2000) yang digunakan oleh Wijaya (2012). Berikut rumus perhitungan konservatisme:
Rasio dengan nilai lebih besar dari satu mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut konservatif. Hal ini didasari pemikiran bahwa nilai Market to book ratio lebih besar dari satu menunjukkan bahwa peusahaan mengakui nilai buku perusahaan lebih kecil dari nilai pasar perusahaan (Wijaya, 2012).
3. Komite Audit
Komite audit adalah komite yang beranggotakan minimal tiga orang independen dan salah satunya memiliki keahlian dalam bidang akuntansi.
Salah seorang anggota komite audit harus berasal dari komisaris independen yang merangkap sebagai ketua komite audit. Komite audit dalam penelitian ini adalah variabel dummy, di mana 1 untuk komite audit yang komposisinya sesuai dengan peraturan dan 0 untuk yang tidak sesuai atau tidak memiliki komite audit.
4. Komposisi Dewan Komisaris
Komposisi dewan komisaris adalah jumlah keanggotaan yang berasal dari luar perusahaan terhadap keseluruhan anggota dewan komisaris. Indikatornya
adalah persentase jumlah komisaris independen dari total dewan komisaris yang ada pada suatu perusahaan (Febiani, 2012).
5. Kualitas Audit
Tujuan dari audit laporan keuangan adalah untuk memberikan kepastian mengenai integritas dari laporan keuangan yang disajikan oleh pihak manajemen. Kepastian mengenai relevansi dan keandalan dari laporan keuangan perusahaan sangat diperlukan untuk membantu pihak eksternal dalam mengambil suatu keputusan bisnis (Mayangsari, 2003). Untuk mengukur kualitas audit digunakan ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP).
kualitas audit diukur dengan dummy variabel dengan nilai 1 jika diaudit oleh KAP big four dan 0 apabila tidak diaudit oleh KAP big four (Febiani, 2012)
BAB IV
PENEMUAN DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Deskripsi Objek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai tahun 2010 – 2013.
Perusahaan manufaktur adalah suatu cabang yang memproses barang mentah menjadi barang jadi. Consume goods memiliki lima sub sektor, adapun kelima sub sektor tersebut terdiri dari: Farmasi, Kosmetik dan keperluan rumah tangga, Makanan dan minuman, Peralatan rumah tangga, Rokok.
Perusahaan manufaktur tersebut telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebelum 1 Januari 2010 dan selama periode penelitian tidak keluar dari Bursa Efek Indonesia atau mengalami delisting. Industri consumer goods dipilih karena memiliki tingkat earnings per share yang tinggi dan stabil dibandingkan dengan sub sektor perusahaan manufaktur lainnya. Earnings per share ini nantinya akan digunakan sebagai data untuk menghitung salah satu variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
Fokus penelitian ini adalah ingin melihat pengaruh konservatisme, komposisi dewan komisaris, keberadaan komite audit, dan kualitas audit terhadap earnings response coefficient (ERC) perusahaan sub sektor consumer goods yang ada.
Alasan penggunaan data empat tahun mulai tahun 2010-2-13 adalah karena tahun 2010-2013 merupakan data perusahaan yang dapat memberikan gambaran mengenai komite audit yang sebelumnya diatur dalam peraturan BAPEPAM dan KNKG pada tahun 2006. Selain itu pada tahun 2010-2013 juga dianggap cukup up to date sehingga laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan lebih terjamin isi yang ada di dalamnya. Namun dalam analisis statistik, peneliti menggunakan data lima tahun (2009-2010) karena ada beberapa variabel yang membutuhkan data dari tahun sebelumnya (t-1), yaitu cumulaitve abnormal return yang nantinya akan digunakan untuk menghitung variabel earnings response coefficient yang digunakan dalam penelitian ini. Sehingga untuk data tahun 2009 tidak dimasukkan dalam analisis statistik karena hanya untuk melengkapi data tahun 2010. Tabel 4.1 di bawah ini menyajikan tahapan seleksi sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Tabel 4.1
Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria
Jumlah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2010-2013 142
Jumlah perusahaan non consumer goods (104)
Perusahaan consumer goods yang delisting selama tahun 2010-2013 (24)
Jumlah perusahaan sampel 14
Tahun pengamatan 4
Jumlah sampel total selama periode pengamatan 56 Sumber: Annual report perusahaan yang diolah
Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2010-2013 berjumlah 142 perusahaan. Dari 142 perusahaan manufaktur sebanyak 104 perusahaan merupakan perusahaan
yang bergerak di bidang consumer goods, dan 24 perusahaan diantaranya mengalami delisting atau keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga pada akhirnya total perusahaan consumer goods yang bisa digunakan sebagai sampel adalah sebanyak 14 perusahaan. Sedangkan total pengamatan yang dijadikan sampel penelitian ini adalah 56 pengamatan.
2. Deskripsi Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Sampel dipilih bagi perusahaan yang menyajikan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Tabel 4.2 Sampel Penelitian
NO KODE EMITEN
1 ADES Akasha Wira International Tbk 2 CEKA Wilmar Cahaya Indonesia Tbk.
3 DLTA Delta Djakarta Tbk.
4 SKLT Sekar Laut Tbk.
5 ULTJ Ultrajaya Milk Indsstry & Tradig Co. Tbk.
6 HMSP Handjaya Mandala Sampoerna Tbk 7 RMBA Bentoel International Investama Tbk
8 INAF Indofarma Tbk.
9 KAEF Kimia Farma Tbk.
10 KLBF Kalbe Farma Tbk.
11 UNVR Unilever Indonesia Tbk.
12 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk.
13 KICI Kedaung Indah Can Tbk.
14 LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk.
JUMLAH 14
AKUMULASI 56
Sumber: Data diolah
B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model regresi linear berganda. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai pengaruh variabel independen (konservatisme, komposisi dewan komisaris, komite audit, dan kualitas audit) terhadap variabel dependen yaitu Earnings Response Coefficient.
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif diperoleh sebanyak 56 data observasi yang berasal dari perkalian periode penelitian (4 tahun; dari tahun 2010 sampai tahun 2013) dengan jumlah perusahaan sampel (14 perusahaan).
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
KNSV 56 .36 46.63 6.1093 10.38905
KOM 56 .25 .80 .4146 .13043
DKOMA 56 .00 1.00 .9821 .13363
DKUA 56 .00 1.00 .4286 .49935
ERC 56 -17.30 5.00 -.5088 3.66141
Valid N (listwise) 56
Sumber: data sekunder yang diolah
Tabel 4.3 menunjukkan statistik deskriptif masing-masing variabel penelitian. Berdasarkan tabel 4.3, hasil analisis menggunakan statistik deskriptif terhadap konservatisme akuntansi (KNSV) menunjukkan nilai minimum sebesar 0,36 dan nilai maksimum sebesar 46,63 dengan rata-rata sebesar 6,1093 dan standar deviasi 10,38905. Hasil analisis dengan
menggunakan statistik deskriptif terhadap komposisi dewan komisaris independen (KOM) menunjukkan nilai minimum sebesar 0,25 dan nilai maksimum sebesar 0,80 dengan standar deviasi sebesar 0,13043. Hasil analisis menggunakan statistik deskriptif terhadap komite audit (DKOMA) menunjukkan nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1 dengan standar deviasi sebesar 0,13363. Hasil analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap kualitas audit menunjukkan nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1 dengan standar deviasi sebesar 0,49935. Hasil analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap earnings response coefficient (ERC) menunjukkan nilai minimum sebesar -17,30 dan nilai maksimum sebesar 5,00 dan rata-rata sebesar -0,5088 dengan standar deviasi sebesar 3,66141, untuk variabel komite audit dan kualitas audit menggunakan variabel dummy, oleh karena itu angka yang muncul hanya berupa 0 atau 1.
2. Hasil Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan dengan menggunakan analisis regresi terhadap variabel independen dan variabel dependen. Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui kelayakan penggunaan model regresi dalam penelitian ini. Uji asumsi klasik pada penelitian ini terdiri atas uji multikolinearitas, uji autokorelas, dan uji heterokedastisitas.
Variabel independen yang digunakan adalah konservatisme akuntansi, komposisi dewan komisaris, komite audit dan kualitas audit sedangkan
variabel dependen yang digunakan adalah earnings response coefficient. Uji asumsi klasik telah dilakukan dan hasilnya adalah sebagai berikut:
a) Hasil Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Model regresi yang baik ada model yang tidak mengandung multikolinearitas (Ghozali, 2013:105). Uji multikolinearitas dapat dilihat dari besaran nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil uji multikolinearitas.
Tabel 4.4
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 12.215 4.604
KNSV .010 .081 .022 .340 2.937
KOM -20.517 5.664 -.582 .443 2.257
DKOMA -3.215 3.760 -.093 .958 1.044
DKUA -2.474 1.234 -.268 .637 1.570
Sumber: Data sekunder yang diolah
Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa hasil uji multikolonieritas menunjukkan nilai tolerance tiap variabel adalah KNSV 0,340; KOM 0,443; DKUA 0,637; DKOMA 0,958. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah multikolonieritas dalam model regresi yang digunakan.
b) Hasil Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi menunjukkan hasil yang dapat mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dalam analisis regresi. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin-Watson.
Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan hasil uji autokorelasi.
Tabel 4.5
1 .646a .418 .372 3.64683 1.963
a. Predictors: (Constant), DKUA, KOM, DKOMA, KNSV b. Dependent Variable: ERC
Berdasarkan tabel 4.5 diatas, dengan n= 56 dan k= 4, dapat diketahui nilai batas atas dan batas bawah dari nilai durbin-watson dengan nilai du adalah 1,724 dan nilai 4-du adalah 2,037 dan nilai dw berdasarkan tabel adalah 1,963 sehingga du < dw < 4-du atau 1,724 < 1,963 < 2,037 maka dapat disimpulkan bahwa data tidak memiliki masalah autokorelasi.
c) Hasil Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas digunakan untuk menguji apakah sebuah model regeresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas bisa dilakukan dengan uji glejser. Adapun hasil uji glejser dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.6
1 (Constant) -.468 3.050 -.154 .879
KNSV -.037 .054 -.163 -.690 .493
KOM .964 3.752 .053 .257 .798
DKOMA 2.736 2.491 .154 1.099 .277
DKUA .417 .817 .088 .510 .612
Dependent variable: AbsUt
Sumber: Data sekunder yang diolah
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa tidak terdapat satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen. Terlihat dari nilai probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan 0,05 (Ghozali, 2013:143). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala heterokedastisitas pada model persamaan regresi sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi earnings response coefficient.
3. Hasil Uji Koefisien Determinasi
Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengukur kemampuan variabel independen, yaitu konservatisme, komposisi dewan komisaris, komite audit , dan kualitas audit dalam menjelaskan variabel dependen, yaitu earnings response coefficient. Adapun hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 4.7
1 .646a .418 .372 3.64683 1.963
a. Predictors: (Constant), DKUA, KOM, DKOMA, KNSV b. Dependent Variable: ERC
Sumber: Output SPSS
Hasil uji koefisien determinasi pada tabel 4.7 menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,372 nilai ini menunjukkan bahwa variabel dependen yaitu earnings response coefficient dapat dijelaskan sebesar 37,2% oleh variabel independen yaitu, konservatisme, komposisi dewan komisaris, komite audit , dan kualitas audit. Sedangkan sisanya 62.8%
(100%-37,2%) dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak disertakan dalam model penelitian kali ini, seperti struktur modal (Wilijayanti, 2011) dan ukuran kantor akuntan publik (Riyatno, 2007)
4. Hasil Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model analisis regresi berganda, yaitu melalui uji statistik t, dan uji statistik F.
a) Hasil Uji Statistik t
Uji statistik t digunakan untuk mengatahui apakah dalam suatu model regresi ada atau tidaknya pengaruh dari masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji
ERC = 12.125+0.10 KNSV – 20.517 KOM – 3.215 DKOMA – 2.474 DKUA pada tingkat signifikansi 0,05. Jika probabilitas t lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima dan menolak Ho, sedangkan jika nilai probabilitas t lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima dan menolak Ha.
Berikut disajikan hasil uji statistik t yang dilakukan:
Tabel 4.8
1 (Constant) 12.215 4.604 2.653 .011
KNSV .010 .081 .022 .118 .906
KOM -20.517 5.664 -.582 -3.622 .001
DKOMA -3.215 3.760 -.093 -.855 .397
DKUA -2.474 1.234 -.268 -2.005 .050
Dependent variable: ERC Sumber: Output SPSS
Berdasarkan tabel 4.8, maka diperoleh model persamaan regresi sebagai berikut:
Tabel 4.8 juga menunjukkan hasil uji statistik t antara variabel independen dengan variabel dependen, sebagai berikut:
Hasil uji hipotesis 1: Pengaruh konservatisme akuntansi terhadap earnings response coefficient.
Tabel 4.8 menunjukkan hasil bahwa variabel konservatisme (KNSV) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,906. Tingkat signifikansi tersebut lebih dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa konservatisme akuntansi tidak berpengaruh terhadap earnings response coefficient.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif maupun tidak, tidak akan mempengaruhi besaran earnings response coefficient dengan kata lain bahwa para investor tidak merespon saham yang ada dengan melihat apakah suatu perusahaan menerapkan akuntansi yang konservatif ataupun tidak, hal ini dapat disebabkan mungkin saja para investor tidak memahami betul apa itu akuntansi yang konservatif, sehingga mereka hanya memutuskan untuk membeli suatu saham perusahaan berdasarkan faktor-faktor lain. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Seswanto (2012) yang menyatakan bahwa konservatisme tidak berpengaruh terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan persistensi laba dalam penelitiannya. Selain itu hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Assegaf (2008) dalam Andreas (2012) yang menunjukkan bahwa konservatisme tidak signifikan terhadap earnings response coefficient.
Hasil uji hipotesis 2: Pengaruh komposisi dewan komisaris terhadap earnings response coefficient.
Tabel 4.8 menunjukkan komposisi dewan komisaris independen memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,001. Tingkat signifikansi tersebut jauh lebih kecil dari 0,05 yang berarti H2 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa komposisi dewan komisaris independen berpengaruh secara signifikan terhadap earnings response coefficient.
Berpengaruhnya variabel komposisi dewan komisaris independen berkaitan dengan semakin gencarnya pemerintah dalam menerapkan peraturan berkaitan dengan good corporate governance, sehingga investor yang hendak membeli saham suatu persusahaan semakin gencar pula untuk memperhatikan secara seksama apakah suatu perusahaan sudah menerapkan mekanisme coporate governance yang telah diatur baik oleh BAPEPAM maupun KNKG. Komposisi dewan komisaris independen merupakan salah satu dari poin-poin yang ada dalam penerapan mekanisme corporate governance yang baik, semakin banyak dewan komisaris independen maka investor makin tertarik untuk membeli saham suatu perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Febiani (2012) yang mengatakan bahwa komposisi dewan komisaris independen berpengaruh terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan earnings response coefficient dan penelitian Siallagan dan Machfoedz (2006) yang menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh terhadap kualitas laba.