a. Estimasi dan asumsi akuntansi yang
penting (lanjutan)
a. Critical accounting estimates and assumptions (continued)
Imbalan pascakerja Post-employment benefits
Nilai kini liabilitas imbalan pascakerja tergantung pada beberapa faktor yang ditentukan dengan dasar aktuarial berdasarkan beberapa asumsi. Asumsi yang digunakan untuk menentukan biaya (penghasilan) pensiun neto mencakup tingkat diskonto. Perubahan asumsi ini akan mempengaruhi nilai tercatat imbalan pascakerja.
The present value of the post-employment benefits obligations depends on a number of factors that are determined on an actuarial basis using a number of assumptions. The assumptions used in determining the net cost (income) for pensions include the discount rate. Any changes in these assumptions will impact the carrying amount of post-employment benefits obligations.
Grup menentukan tingkat diskonto yang sesuai pada akhir periode pelaporan, yakni tingkat suku bunga yang harus digunakan untuk menentukan nilai kini arus kas keluar masa depan estimasian yang diharapkan untuk menyelesaikan liabilitas. Dalam menentukan tingkat suku bunga yang sesuai, Grup mempertimbangkan tingkat suku bunga obligasi pemerintah yang didenominasikan dalam mata uang dimana imbalan akan dibayar dan memiliki jangka waktu yang serupa dengan jangka waktu liabilitas terkait.
The Group determines the appropriate discount rate at the end of each reporting period. This is the interest rate that should be used to determine the present value of estimated future cash outflows expected to be required to settle the obligations. In determining the appropriate discount rate, the Group considers the interest
rates of government bonds that are
denominated in the currency in which the benefits will be paid and that have terms to maturity approximating the terms of the related post-employment benefit obligation.
Asumsi utama liabilitas imbalan pascakerja lainnya sebagian ditentukan berdasarkan kondisi pasar saat ini.
Other key assumptions for post-employment benefit obligations are based in part on current market conditions.
Estimasi liabilitas restorasi aset Estimated liabilities for assets restoration
Grup menempatkan Base Transceiver Stations
(“BTS”) di tanah, atap bangunan, dan tempat lainnya dengan berbagai macam kontrak sewa. Dalam mengestimasi liabilitas restorasi aset, Grup telah menentukan asumsi-asumsi seperti tanggal pembongkaran, biaya pemindahan peralatan jaringan dan memulihkan lokasi, tingkat diskonto dan tingkat inflasi.
The Group locates Base Transceiver Stations (“BTS”) on land, rooftops and other premises under various types of rental contracts. In estimating liabilities for assets restoration, the Group has made a range of assumptions such as dismantlement dates, cost of removing network equipment and remediating the sites, discount rate and inflation rate.
Perubahan asumsi ini akan mempengaruhi nilai tercatat estimasi liabilitas restorasi aset (lihat Catatan 15a) dan aset tetap yang bersangkutan.
Any changes in these assumptions will impact the carrying amount of estimated liabilities for assets restoration (see Note 15a) and the corresponding fixed assets.
a. Estimasi dan asumsi akuntansi yang penting (lanjutan)
a. Critical accounting estimates and assumptions (continued)
Estimasi beban lisensi terkait hak
penggunaan frekuensi ijin stasiun radio
Estimated license fees in relation to the use of radio frequency spectrum
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.7/2009, Grup diharuskan untuk membayar BHP spektrum frekuensi radio yang terdiri dari BHP untuk ISR dan BHP untuk IPSFR. Penetapan tarif BHP ISR berbeda-beda tergantung pada zona, segmentasi frekuensi dan perangkat yang digunakan.
According to the Government Regulation No.7/2009, the Group is required to pay fees for the use of radio frequency spectrum comprising fees on radio station license (“ISR”) and fees on radio frequency spectrum license (“IPSFR”). The determination of ISR fees differs depending
on zone, frequency segmentation and
equipment used.
Tahapan pemanfaatan ISR meliputi proses pengajuan ijin penggunaan frekuensi radio kepada Departemen Komunikasi dan Informatika, perolehan ijin dan pembayaran beban ISR sesuai dengan tagihan yang diterbitkan. Dalam pelaksanaannya, proses yang dilalui memerlukan jangka waktu yang cukup lama.
The utilisation of radio station license
comprised of application for license to use radio frequency to Department of Communication and Information, obtainment of license and payment of ISR fees in accordance with the billings issued. In practice, the processes require considerable time.
Grup secara periodik melakukan penelaahan terhadap besaran beban yang masih harus dibayar dengan melakukan estimasi terhadap besaran tarif yang berlaku dikalikan dengan jumlah links yang digunakan. Tarif aktual dapat berbeda dengan estimasi tersebut. Pada tanggal 30 September 2014 dan 31 Desember 2013, estimasi beban lisensi yang masih harus dibayar (lihat Catatan 12) telah disesuaikan dengan hasil penelaahan terakhir.
The Group periodically reviews the accrued expenses by estimating the applicable tariff multiply with the number of links used. The actual tariff could differ from those estimates. As at 30 September 2014 and 31 December 2013, the estimated license fee accruals (see Note 12) have been adjusted with the results of the latest review.
Penghentian sewa
Provisi penghentian sewa berkaitan dengan penghentian sewa oleh AXIS. Berdasarkan hasil penelaahan atas penggunaan sewa menara di masa depan, AXIS telah menandatangani perjanjian penghentian dini untuk sewa menara tertentu. Untuk sewa menara tersisa yang tidak terpakai, dimana kesepakatan masih dalam negosiasi, AXIS telah mencatat provisi untuk penghentian sewa berdasarkan perjanjian sewa.
Lease termination
Provision lease termination related to AXIS’ terminated leases. Based on the review of the future use of the tower leases, AXIS entered into the early termination agreements of certain tower leases. For the remaining unused tower leases which agreements are still under negotiation, AXIS has charged a provision for lease termination in accordance with the rental agreements.
36. ESTIMASI DAN PERTIMBANGAN AKUNTANSI YANG PENTING (lanjutan)
36. CRITICAL ACCOUNTING ESTIMATES AND JUDGEMENTS (continued)
b. Pertimbangan penting dalam penentuan kebijakan akuntansi
b. Critical judgments in applying the accounting policies
Pengakuan dan pengukuran aset
takberwujud
Recognition and measurement of intangible assets
Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia tidak memberikan panduan secara jelas dan eksplisit mengenai apakah komitmen untuk membayar biaya tahunan selama sepuluh tahun sebagai akibat dari diperolehnya ijin pita spektrum 3G merupakan suatu kewajiban dan apakah biaya tahunan selama sepuluh tahun (Biaya Hak Penggunaan atau BHP) dianggap sebagai bagian dari harga perolehan ijin.
The Indonesian Financial Accounting Standards do not provide clear and explicit guidance on whether the commitment to pay annual fees over ten years as a consequence of obtaining the 3G spectrum license is a liability and whether the ten-year annual fees (Biaya Hak Penggunaan or BHP) are to be considered as part of the acquisition costs of the license.
Manajemen menilai bahwa kelanjutan pembayaran biaya tahunan tidak diperlukan lagi jika Grup memutuskan untuk tidak menggunakan ijin tersebut lagi. Manajemen menganggap pembayaran biaya tahunan sebagai biaya penggunaan berdasarkan interpretasi manajemen terhadap keadaan ijin dan konfirmasi tertulis dari Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Oleh karena itu, biaya tahunan tersebut tidak dianggap sebagai bagian dari harga perolehan (lihat Catatan 9) dalam mendapatkan ijin tersebut.
Management assesses that continuation of payment of annual fees will no longer be required if the Group no longer uses the license. Management considers the annual payment as a usage fee based on its own interpretation of the license conditions and written confirmation from the Directorate General of Post and Telecommunications. These annual fees are therefore not considered as part of the acquisition cost (see Note 9) for obtaining the license.
Jika di masa yang akan datang, peraturan dan kondisi sehubungan dengan pembayaran biaya tahunan berubah, dimana pembayaran terhadap sisa biaya-biaya tahunan tersebut tidak dapat dihindari jika Grup menyerahkan ijin tersebut, Perseroan akan mengakui nilai wajar biaya tahunan sebagai aset takberwujud dan kewajiban yang terkait sebesar nilai kini dari sisa biaya-biaya tahunan pada saat terjadinya perubahan tersebut.
If in future, the regulations and conditions with regard to payment of the annual fees are changed with the consequence that payment of remaining outstanding annual fees cannot be avoided upon the Group returning the license, the Company will recognise the fair value of annual fees as an intangible asset and the corresponding liability at the present value of the remaining annual fees at that point in time.
Pada tanggal 26 September 2013, Perseroan menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat PT AXIS Telekom Indonesia (“AXIS”) dengan Saudi Telecom Company (“STC”) dan Teleglobal Investment B.V (“Teleglobal”). Berdasarkan perjanjian tersebut, Teleglobal akan menjual saham dan Perseroan akan membeli saham Teleglobal di AXIS dengan kondisi tertentu. Kondisi - kondisi tersebut, mencakup (1) alokasi spektrum tertentu oleh regulator, (2) persetujuan dari regulator dan pemegang saham Perseroan, (3) membayar USD 100 untuk kepemilikan saham, dan (4) mengambil alih kewajiban keuangan AXIS sebesar USD 865 juta dan persyaratan tertentu lainnya yang tertera dalam perjanjian.
On 26 September 2013, the Company signed a
Conditional Sale Purchase Agreement of
PT AXIS Telekom Indonesia (“AXIS”) with Saudi Telecom Company (“STC”) and Teleglobal Investment B.V. (“Teleglobal”). Under the agreement, Teleglobal shall sell and the Company shall purchase Teleglobal’s share ownership in AXIS under certain conditions. The conditions, include (1) allocation of certain spectrum by the regulator, (2) approval from the regulator and the shareholders of the Company, (3) pay USD 100 for the share ownership, and (4) assume AXIS’ financial indebtedness of USD 865 million and certain other requirements set out in the agreement.
Pada tanggal 19 Maret 2014, Perseroan telah mengakuisisi 95% saham AXIS, sebuah perusahaan yang melakukan kegiatan dalam usaha penyelenggaraan jasa telekomunikasi setelah semua kondisi dalam perjanjian jual dan beli telah terpenuhi. Perseroan juga mendapatkan hak untuk mengakuisisi 5% saham AXIS yang tersisa, yang telah dieksekusi pada bulan April 2014. Total harga perolehan untuk akuisisi adalah USD 100 setara dengan Rp 1. Setelah akuisisi, AXIS melakukan penggabungan usaha dengan Perseroan pada tanggal 8 April 2014 untuk memenuhi kondisi yang diharuskan oleh regulator terkait dengan akuisisi ini (lihat Catatan 2).
As at 19 March 2014, the Company acquired 95% shares of AXIS, a company which provides telecommunications services after all the conditions in the sale and purchase agreement have been fulfilled. The Company was also granted a right to acquire the remaining 5% of the shares of AXIS, which was then exercised in April 2014. The total consideration for the acquisition was USD 100 equivalent to Rp 1. Subsequent to the acquisition, AXIS merged with the Company on 8 April 2014 to fulfill the pre-conditions required by the regulator for this acquisition (refer to Note 2).
Transaksi material berupa akuisisi dan penggabungan usaha di atas telah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham berdasarkan Risalah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sebagaimana dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 13 tanggal 5 Februari 2014 dihadapan Aryanti Artisari, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta.
The above material transaction in form of acquisition and merger has been approved by General Meeting of Shareholders based on the Minutes of Extraordinary General Meeting of Shareholders under Deed No. 13 dated 5 February 2014, which was overseen by Aryanti Artisari, S.H., M.Kn, Notary in Jakarta.
Dengan akuisisi dan penggabungan usaha ini, Perseroan berharap dapat mengukuhkan posisinya sebagai operator terkuat nomor dua di industri telekomunikasi dan penambahan spektrum Perseroan terutama di frekwensi 1.800 MHz akan berg una untuk meningkatkan kualitas layanan yang lebih baik kepada pelanggan, dan diharapkan kinerja bisnis dan pangsa pasar Perseroan di industri akan semakin meningkat di masa mendatang.
With this acquisition and merger, the Company expects to strengthen its position as the second strongest operator in telecommunications industry and the increase of the Company’s spectrum on 1,800 MHz will improve service quality to
subscribers, and expectedly increase the
Company’s business performance and market share in the industry in the future.