Secara umum, konservasi atau pelesta rian (conservation) diartikan sebagai pengawetan atau perl ind ungan. Dalam hal ini konservasi
dimaksudkan sebagai usaha mema nfaatkan
tanah dan su mberdaya alam secara bijaksana, agar ta nah dan sumberdaya alam tersebut dapat terpeli hara secara baik dan terli ndu ngi sehi ngga da pat dima nfaatkan lebih lama. Ide mengenai konservasi ini timbul karena ada nya kesadaran ba hwa ta nah dan su mberdaya alam di setiap daerah memiliki keta hanan yang terbatas, seda ng tanah dan s u m berdaya alam tersebut merupakan modal dasar bagi kehidupan manusia. Dari titik pandang i n i l a h ide konservasi kemudian berkemba ng menjadi suatu usaha yang d itujukan pada pemeliharaan tanah, h utan, margasatwa, dan situs-situs arkeologi dan sejarah (Subroto, 1995: 1-2).
Generally, conservation means preservation or protection. In the beginning, conservation is related to the utilization of soil, water, plant, animal, and mineral. In this case, conservation means an effort to utilize soil and other resources wisely, in order to keep and protect for a long time. The idea about the conservation is emerged by awareness that soil and other resources in every area have limited endurance, whereas it is the basic need for human life. Then, the idea of conservation is expanded as an effort to keep soil, forest, wild animal, and archaeological or historical sites (Subroto, 1995: 1-2).
Konservasi lingkungan secara luas berhubungan dengan pengkajian A N DAL (Analisis Dampak Lingku nga n ) dan AM DAL (Analisis Masalah Dampak Lingkunga n). Di bidang l i ngkungan ini konservasi diartikan dalam beberapa pengertian, yaitu : (1) Konservasi, adalah u paya pemeliha raan yang bersifat khusus terhadap suatu tempat atau lokasi agar dapat dipertahankan sesuai dengan konsep awalnya. Pemeliharaan di lakukan dengan memperti mba ngkan aspek sejarah, budaya atau nilai-nilai tradisional, fungsi sosial dan ekonomi, ikl im, dan lokasi geografisnya; 2 ) Renovasi, yaitu u paya mengganti bagia n-bagian ged ung tua, baik secara parsia l atau keseluruhan, dengan maksud mengadaptasi bangu nan tersebut untuk tujuan penggunaan baru, atau tetap pada fungsi sebel umnya, atau d ifungsikan dengan konsep modern , atau sesua i dengan kondisi yang ada; (3) Restorasi, adalah u paya mengem balika n suatu tempat ke kondisi sem ula dengan melakukan pem bersihan dan pemasangan kembali bagia n-bagian yang asli atau bagian yang telah hilang; dan (4) Rekonst ru ksi, adalah u paya mengembalikan kondisi suatu tempat yang memungkinkan kel ihatan asli sejauh yang dapat diketa h u i ( Da nisworo, 1997 : 1 8-19).
Actually, environment conservation is related to the study of Environment Impact Analysis and Environment Impact Problem Analysis. By this point of view, conservation means in some understandings: (1) Conservation, is an encouragement effort, specifically in a place or area in order to keep as the original concept of its, in accordance with the historic, cultural or traditional values, economy and social function, climate, and geographic position; (2) Renovation, is an effort to alternate old buildings, both all of the building part or partially, to adapt the building for new purposes, or still with the original function, or make a modern concept function, or to adjust to the condition; (3) Restoration, is an effort to renovate a place back to the original condition by cleaning and reinstalling the original or lost parts; (4) Reconstruction, is an effort to renovate possibly looks like the original as Jong as it is known. (Danisworo, 1997: 18-19}.
Dalam terminologi arkeologi, konservasi mencakup: konservasi (conservation) secara teknis misal nya preservasi,
rehabil itasi, rekonstruksi, dan restorasi. Tugas pokok konservasi a rkeologis adalah maintenance (pemeliharaan),
preservation (pengawetan), restoration ( pemugaran), reconstruction (rekonstru ksi) dan adaptation (penyesuaian). Di sini konservasi tidak lain adalah u paya teknis yang di lakuka n dengan prosedur atau tatakerja yang sistematik agar
benda-benda arkeologi ( benda cagar budaya) baik yang bergera k (movable) maupun yang tidak bergerak (unmovable)
da pat terl indungi dan terpelihara. Konservasi d i lakuka n berbeda-beda sesuai jen is, sifat, dan kerusakan yang dialami, atau ancaman yang d i hadapi sebuah situs atau benda cagar budaya.
From the archaeological term, conservation is included the technical conservation such as preservation, rehabilitation, reconstruction, and restoration. The tasks are maintenance, preservation, restoration, reconstruction, and adaptation. In addition, conservation is a technical effort which is applied by systematic procedures so that the cultural heritage, both movable and unmovable, can be protected and maintained, based on the type, characteristic, and damage or threaten.
Di I ndonesia, permasa lahan pelestaria n warisan budaya masa lampa u ( BCB) telah menjadi perhatian seja k awal abad ke-20 yang dilakukan mela l u i invetarisasi, dokumentasi, dan restorasi dengan maksud menyelamatkan benda-benda sejarah dan purbakala dari kehancuran, hila ng, rusak, atau sebab-sebab lainnya. Pada tahu 1931 Pemerintah Kolonia! Belanda mengelua rkan Monumenten Ordonantie, Stoatblad 238, untuk melindungi benda-benda atau peninggalan sejarah dan purbakala. Seiri ng dengan perkemba ngan waktu, perangkat u ndang-undang peningga lan Belanda tersebut dia ngga p tidak memadai dan tidak sesuai lagi, seh ingga Pemerintah I ndonesia kemudian menggantikannya denga n Undang-Undang Nomor 5 Ta h u n 1992 tenta ng Benda Cagar B udaya. Dengan perangkat h u kum i n i la h pelakasanaan konservasi secara umum d iselengga rakan di Indonesia . Konservasi sebagai bagian d a r i u paya pelestarian terhadap alam dan benda cagar budaya merupakan satu kesatuan yang tak terpisa hkan sebagai upaya mempertahankan warisan bangsa.
In Indonesia, problems of cultural heritage conservation have noticed since 2dh century. Inventory, documentation, and restoration have been carried out to save historical and archaeological objects from destruction, lost, damaging, or other factors. In 1931, the Dutch Government drew up the Monumenten Ordonantie, Staatblad 238, a regulation concerning about protection of historical and archaeological objects. As time goes by, the Government of Indonesia passed the National Law Number 5 of 1992 concerning about Cultural Heritage as the substitute of the Dutch Government's law. By the National Law Number 5 of 1992, conservation is realized as a part of preservation efforts tuward natural and cultural heritages.
Kawasan ka rst Maras Pangkep merupakan kawasan yang kaya akan ti nggala n-ti ngga lan masa prasejarah zaman
mesol itik berupa l u kisan pada dinding gua (rock painting), alat batu, a lat tula ng, kulit kerang dan sisa-sisa makanan
(kjokkenmodinger). Di sisi lain d i kawasan ini j uga berdiri industri-industri yang mengeksplorasi sum berdaya alami marmer dan batugamping sebagai bahan baku semen. Keberadaan ind ustri-industri tersebut memberi si nyal buruk bagi keberadaan gu a-gua prasejarah di kawasan i n i . Selain faktor perambahan ka rst, faktor lain yang bersifat destruktif adalah a ktifitas peledakan dalam proses pengambilan bahan baku semen dan marmer. Untuk mengatisipasi kerusakan atau bahkan kepunahan ti ngga lan prasejarah, maka penting bagi kita untuk segera melakukan upaya-upaya preventif.
Maros-Pangkep is an enrich area of Mesolithic period evidences, such as rock paintings, stone tools, bone tools, and kjokkenmodinger. However, on the other hand, there are some mining activities that apply explosion method to exploit marble and limestone resources. Explosion technical is known badly influential towards the prehistoric caves and evidences. Concerning of this matter, it is very important to save the prehistoric evidences from damage or destruction.
Konsep perl indu ngan yang paling cocok ditera pkan pada situs yang berupa kawasan adalah sistem zonasi. Zonasi meru paka n suatu u paya yang d itujukan untuk melindungi dan sekaligus mengatur peru ntukan lahan, serta merupakan cara atau tek n i k yang kuat dan fleksibel dalam mengontrol pema nfaatan lahan pada masa datang (Ca l i cott, 1989:38). Da lam i l m u a rkeologi zonasi d i a rtikan sebagai upaya menentu kan wilayah situs serta mengatur dan mengenda likan setiap kegiatan d i setiap zona. Di dalamnya termasuk j uga penetapan aturan, rambu-rambu, atau perundangan yang mengatur penggunaan lahan untuk berbagai kegiatan, sehi ngga keaslian situs dan lingkunga n nya d apat di perta hankan dan terh i ndar dari berbagai menga ncam .
The most accurate protection method applied in some archaeological sites is zoning system.
Calicott, 1989:38, described that zoning is a method to protect an area, to arrange land allocation, and to control land utilization in the future. In archeological term, zoning means an effort to arrange and control all activities in an area, including pass regulation or law concerning about land utilization, and prevent an area from threatening factors.
Pada prinsi pnya, zonasi wilayah d itetapkan dengan mengacu pada nilai a rkeologis dan keaslian l i ngkungan masa lalu
yang merupakan satu kesatuan pada masanya . Hal ini d i butuhka n untuk mem perta hankan keaslian situs, baik yang
berhubungan dengan keaslian bahan, bentuk, tataletak dan teknik pengerjaannya. Bentuk, jenis dan luas a real zonasi yang di butuhkan didasarkan pada pertimba ngan-pertimbanga n : (1) aspek sebaran temuan dan konteksnya; (2) aspek lingkungan sebagai pendukung keberadaan situs, baik lingkungan yang memiliki konteks masa lalu, maupun dukungan keserasian dan keselarasan a nta ra situs dan li ngkungan nya pada saat ini; (3) aspek kea manan dan perlindungan situs; dan (4) aspek pema nfaatan situs.
Basically, zoning is determined by archaeological value and originality of the past environment which is related to material, shape, location, and technique of making. Structure, type, and wide of the zoning area is considered based on aspects: (1) distribution and context of evidences; (2) environment as a site existence supporting, both an environment which has past time context, or the accordance and harmony between site and existing environment condition; (3) site security and protection; and (4) site utilization.
Bentuk zonasi yang d iterapkan di kawasan karst Maros-pangkep adalah sistem sel yang secara garis besa r berupa lingkaran yang mengeli li ngi tiap situs gua prasejarah. Hal ini d idasarkan dika renakan lokasi setiap gua yang terpisa h pisah, sementara kawasan ini ada beberapa kepenti ngan yang harus diakomodir. Di sa mping itu, peraturan dan perunda ngan merupakan u rgensi yang sa ngat penting d iteta pkan mengatur setiap kegiatan yang berlangsung di kawasan i n i . Dengan demikian d i harapkan berbagai kepenti ngan pengelolaan dan pema nfaatan kawasan karst Maros Pangkep oleh masyarakat dan stakeholder, baik pemerintah maupun swasta da pat terpenuhi secara proporsional, tan pa terjadi konfl i k sosial maupun politis, serta tidak mengganggu keberadaan situs prasejarah.
The zoning type of Maros-pangkep karst area is cell system which marginally looks like a circle surrounds every prehistoric cave. Cell system is applied based on the location of coves which are separated, while there are some interests that need to be concerned. Moreover, regulation and law are very important to draw up to provide proportionally all of the activities or interests within the site, both by local community and stakeholder, private and state sector, in order to avoid social or politic conflict, and to preserve all of the prehistoric caves and archaeological remains.
Zonasi gua-gua prasejarah di kawasan ka rst Maras Pangkep d ibagi atas tiga zona, ya kni: (1) Zona Inti, d itetapkan berdasarkan batas asli situs dalam a rtian masih terda patnya temua n-temuan a rkeologis d i wilayah ini, baik yang ada di perm ukaan ta nah, maupun dari hasil ekskavasi, atau yang d i la kukan secara arbitrer, yakni batas yang d itentukan oleh
penel iti apabila batas asli situs tidak dapat lagi d itemukan; (2) Zona Penyangga atau bumper area, berfungsi sebagai
zona yang melindungi wilayah i nti situs dari segala ganggu a n . La han pada wilayah penyangga ini d ifungsikan sebagai lahan h ijau untuk memberikan kesejukan dan keindahan l i ngkungan dengan memperhatikan kesesua i a n a ntara setting
situs dan l i ngkungan nya; (3) Zona Pengembangan, diperuntukkan sebagai wi layah pema nfaatan situs bagi masyarakat
u m u m . Wilayah ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan ekonomis dari aspek pariwisata dengan terlebih dahulu membangun fasiltas pendukung yang d i butuhka n .
The zoning area of prehistoric caves in Maros-Pangkep is divided into 3 zone area: (1) Main Zone, determined based on original site border {there are archaeological evidences could be found in this area, both on land surface and result of excavation}, or arbiter site border (a border decided by researchers if the original border cannot be found); (2) Buffer Zone, an area to save the main zone from any disturbance, a greenery area for freshly air condition and marvelous by concerning the appropriate between site setting and environment; (3) Development zone, an area to provide local people carry out activities, especially in economic and tourism service sector, and area for tourism supporting facilities.
Dengan menerapkan sistem zonasi pada wilayah karst M aras Pangkep, diharapkan keberadaan gua-gua prasejarah beserta tinggalan lain d i dalamnya d a pat tetap lestari dan terl indungi dari bahaya kerusaka n . Keberlangsungan hidup seluruh tinggalan alam d a n budaya kawasan karts Maras Pa ngkep sa ngat penting a rti nya untuk kepenti ngan ideologi sebagai identitas dan jatidiri bangsa, kepentingan akademik sebagai sumber i l m u pengetahuan, dan kepentingan ekonomi dalam hubungan nya dengan kepariwisataan.
By applying zoning system in Maros-Pangkep area is expected that the existence of prehistoric caves and archaeological evidences will be protected from damage, because natural and cultural heritage is very important as a nation identity and source of history. In addition, natural and cultural heritage are important as the economic potential which is related to tourism sector.
6