BAB II LANDASAN TEORI
II. D Pengaruh penggunaan Media Pembelajaran
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai (Arsyad, 2004). Kedua unsur ini terlebih dahulu disesuaikan dengan materi yang hendak disampaikan. Keefektifan dan efisiensi dari media yang digunakan menjadi pertimbangan, dengan tetap memiliki tujuan agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang paling mendekati kongkret.
Biologi yang merupakan salah satu mata pelajaran sains dengan objek kajian yang berhubungan dengan kehidupan. Seorang guru sains membutuhkan adanya bantuan media dalam penyampaian materi-materi biologi untuk membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan
rangsangan kegiatan belajar siswa. Penggunaan media pembelajaran juga akan membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran, menyajikan data yang menarik dan terpercaya, serta membantu siswa meningkatkan pemahaman (dalam Arsyad, 2004).
Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantu Dale (1969), mengadakan klasifikasi pengalaman dalam bentuk kerucut di mana yang paling atas (puncak kerucut) merupakan tingkat yang paling abstrak dan pada dasar kerucut adalah tingkat yang paling konkrit, yang kemudian dikenal dengan Dale’s cones of experience (kerucut pengalaman Dale).
Gambar.1. Dale’s cone of experience (kerucut pengalaman Dale)
(Sumber: Diadaptasi dari Prinsip, 2006)
Dale (1950) mengurutkan bahwa pengalaman paling abstrak itu diperoleh melalui pengalaman melalui simbol verbal, diikuti dengan, pengalaman melalui pendengaran seperti melalui radio, pengalaman melalui simbol visual seperti slide, pengalaman melalui visual dan audio seperti menonton film dan tayangan di
observasi, dan pengalaman langsung pada tingkat yang paling konkret. Dale (dalam prinsip, 2006) menambahkan bahwa individu akan cenderung mengingat 10% dari apa yang ia baca, 20% dari apa yang ia dengar, 30% mengingat apa yang ia lihat dan dengar dan 70% dari apa yang ia katakan (dengan adanya partisipasi dalam diskusi atau presentasi) dan 90% dari apa yang ia katakan dan lakukan (melalui pengamatan langsung dan demonstrasi).
Tidak selamanya dalam proses belajar mengajar memungkinkan untuk membawa anak pada pengalaman langsung. Melakukan praktikum membutuhkan waktu, biaya dan persiapan yang lebih banyak, bahkan untuk melihat pameran, atau karyawisata hanya dapat dilakukan beberapa kali. Namun untuk menyiasati agar proses pengalaman tidak berada pada tingkat yang paling abstrak yakni pengalaman melalui simbol verbal, maka guru dapat menggunakan alat bantu yang dapat menampilkan gambar bergerak, hal ini memberikan pengalaman yang lebih konkret daripada metode ceramah, gambar, dan menggunakan radio. Penggunaan video yang merupakan salah satu alat yang dapat menghasilkan tayangan gambar bergerak dengan adanya suara menjadi pilihan alat bantu dalam proses belajar mengajar yang dapat dipergunakan setiap hari. Sebagaimana dikemukakan terdahulu bahwa pemilihan salah satu jenis metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai. Dale (dalam Arsyad, 2004) mengemukakan bahwa penggunaan media audio-visual dapat meningkatkan hasil belajar menjadi karena melibatkan imajinasi, dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
Media video sebagai salah satu jenis dari media pembelajaran dapat menjadikan makna materi yang daiajarkan lebih jelas sehingga dapat lebih dipahami siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik (Sudjana dan Rivai dalam Arsyad, 2004). Mendukung hal tersebut, Dale (dalam Arsyad, 2004) menyatakan bahwa peningkatan hasil belajar terjadi, karena penggunaan media video meningkatkan motivasi belajar siswa dan membuat siswa melibatkan imajinasi dalam proses belajarnya. Dalam pembelajaran biologi, siswa dapat langsung melihat bentuk atau proses materi melalui video yang ditayangkan. Siswa dapat melihat proses transportasi darah dalam tubuh yang telah direkam, dapat melihat kelangsungan ekosistem di Afrika, Asia dan sebagainya. Dengan melihat langsung, siswa mendapat gambaran yang sesungguhnya, dan materi yang disaksikan secara langsung melalui video dapat diingat lebih lama daripada materi yang hanya diterima siswa melalui ceramah (dalam metode, 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh Sperry menunjukkan bahwa perangsangan dengan audio-visual mempengaruhi kerja otak sebelah dan sebelah kanan, sehingga otak berfungsi secara optimal. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa belahan otak sebelah kiri mengatur pikiran yang bersifat verbal, rasional, analitikal dan konseptual. Belahan ini mengontrol bicara. Belahan otak sebelah kanan mengatur pikiran yang besifat visual, emosional, holistik, fisikal, spasial dan kreatif. Belahan ini mengontrol tindakan. Pada suatu saat hanya salah satu belahan yang bersifat dominan; kedua belahan tidak dapat dominan secara serentak. Rangsangan pada salah satu belahan saja secara berkepanjangan akan
menyebabkan ketegangan. Karena itu, sebagai salah satu implikasi dalam pembelajaran adalah kedua belahan otak perlu dirangsang bergantian dengan rangsangan audio dan visual (dalam Miarso, 2004).
Temuan penelitian lain yang mengungkapkan kehandalan media pembelajaran, diantaranya yang dilakukan oleh British Audio-Visual Association
bahwa pengetahuan yang dapat diingat seseorang antara lain bergantung melalui indera apa ia memperoleh pengetahuannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian yang mendapat stimulus secara audio-visual mampu mengingat lebih baik daripada yang mendapat stimulus auditori saja atau visual saja. Sehingga bila dikaitkan dengan proses belajar mengajar, maka sebaiknya penyampaian bahan ajar diberikan baik melalui melalui pendengaran maupun penglihatan sekaligus, bahkan bila memungkinkan dan diperlukan, juga memberi rangsangan melalui indera lain (Hernawan, 2002). Dale (dalam Arsyad, 2004) mengemukakan bahwa penggunaan media audio-visual dapat meningkatkan hasil belajar menjadi karena melibatkan imajinasi, dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
Penggunaan media, baik itu transparansi OHP, fim, video ataupun gambar dalam proses belajar mengajar, perlu diberikan sejumlah pedoman seperti mengkaji apakah tujuan instruksional dapat di capai atau tidak pada akhir kegiatan. Untuk keperluan tersebut kita harus mempunyai alat yang dapat mengukur tingkat keberhasilan atau hasil belajar siswa. Alat pengukur ini dikembangkan sebelum naskah program media ditulis atau sebelum kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan. Alat ini dapat berupa tes, penugasan, ataupun
daftar cek prilaku. Penilaian (evaluasi) ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah media yang anda buat tersebut dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan atau tidak. Sebagaimana bila dalam suatu hipotesis dikatakan bahwa suatu media dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik, maka evaluasi ini berfungsi untuk membuktikan hipotesis tadi (Sadiman,dkk, 1996).
Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan dengan memberikan tes hasil belajar bilogi. Hasil belajar siswa yang mendapat pengajaran oleh guru dengan bantuan media video, dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang hanya mendapat metode pengajaran konvensional yakni metode ceramah.