HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Tipe Ekosistem
5.2.1 Wilayah jelajah
5.2.1.2 Daerah inti
Hasil penghitungan luas daerah inti dugaan dengan menggunakan aplikasi
software Arc View 3.3 menunjukkan nilai yang berbeda. Masing-masing
kelompok memiliki luas daerah inti seperti yang tertera pada Tabel 7. Tabel 7 Luas daerah inti dugaan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil
No. Kelompok monyet ekor panjang Luas (ha)
1. Kelompok kandang 3 0,81
2. Kelompok kandang 5 2,31
3. Kelompok kandang 8 3,50
Rata-rata 2,21
Tidak semua wilayah jelajah monyet ekor panjang merupakan daerah inti (core area), ini dapat diketahui dari intensitas penggunaan habitat oleh monyet ekor panjang itu sendiri. Daerah inti merupakan bagian dari wilayah jelajah monyet ekor panjang yang digunakan dengan frekuensi yang lebih atau digunakan secara intensif. Menurut Napier dan Napier (1985), daerah inti adalah daerah dimana aktivitas sosial sering dilakukan. Indikasi untuk membatasi daerah inti adalah dengan mengikuti dan mencatat titik-titik koordinat terluar dari keseluruhan titik-titik koordinat yang merupakan tempat yang digunakan oleh monyet ekor panjang dengan frekuensi yang lebih atau digunakan secara intensif seplama penjelajahannya.
Faktor yang menyebabkan perbedaan luas ketiga daerah inti di atas adalah faktor-faktor yang juga menyebabkan perbedaan luas wilayah jelajah ketiga kelompok tersebut. Namun, yang menjadi ciri utama dari daerah inti masing-masing kelompok adalah faktor penggunaan daerah tersebut dengan frekuensi yang tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya yang termasuk dalam wilayah jelajahnya. Hal ini dapat diketahui berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, yaitu dengan mencatat lamanya waktu yang digunakan oleh masing-masing kelompok monyet pada masing-masing daerah intinya dalam melakukan aktivitas hariannya selama penjelajahan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama lima hari berturut-turut, setiap harinya rata-rata waktu yang digunakan oleh masing-masing kelompok berbeda-beda dalam melakukan aktivitas hariannya di daerah inti, pada kelompok kandang 3 dapat diketahui selama 7 jam 25 menit (29,51%), pada daerah inti kelompok kandang 5 selama 6 jam 33 menit (27,29 %), dan pada daerah inti kelompok kandang 8 selama 6 jam 16 menit (23,89 %).
Adapun bentuk daerah inti masing-masing wilayah jelajah kelompok monyet ekor panjang dapat dilihat pada gambar berikut ini.
(a)
(b)
(c)
Gambar 14 Peta daerah inti dugaan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil. Ket: (a) kelompok kandang 3; (b) kelompok kandang 5 dan (c) kelompok kandang 8.
5.2.1.3 Teritori
Hasil penghitungan luas teritori dugaan dengan menggunakan aplikasi
software Arc View 3.3 menunjukkan nilai yang berbeda. Masing-masing
kelompok memiliki luas teritori seperti yang tertera pada Tabel 8. Tabel 8 Luas teritori dugaan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil
No. Kelompok monyet ekor panjang Luas (ha)
1. Kelompok kandang 3 0,13
2. Kelompok kandang 5 0,15
3. Kelompok kandang 8 0,15
Rata-rata 0,14
Teritori merupakan bagian dari wilayah jelajah yang dipertahankan dari pengganggu. Teritori juga merupakan bagian dari wilayah jelajah yang di dalamnya terletak pohon yang selalu digunakan oleh monyet untuk tidur pada waktu tidurnya. Pada masing-masing teritori kelompok yang diamati, tidak dijumpainya aktivitas perkelahian antar kelompok. Dalam menentukkan teritori dan batasnya, tidak hanya dengan melihat adanya perkelahian saja, tetapi juga dapat dilihat dari tanda yang ditinggali oleh kelompok tersebut, seperti feses dan bau urine yang telah kelompok tersebut keluarkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Delany (1982) dan Whitten (1982) diacu dalam Alikodra (2002) yang menyatakan bahwa beberapa spesies mempunyai tempat yang khas dan selalu dipertahankan dengan aktif (teritori), misalnya tempat tidur pada primata. Alikodra (2002) juga menambahkan bahwa batas-batas teritori dikenali dengan jelas oleh pemilknya, biasanya ditandai dengan urine, feses dan sekresi lainnya. Adapun bentuk teritori masing-masing wilayah jelajah kelompok monyet ekor panjang dapat dilihat pada Gambar 15.
(a)
(b)
(c)
Gambar 15 Peta teritori dugaan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil. Ket: (a) kelompok kandang 3; (b) kelompok kandang 5 dan (c) kelompok kandang 8.
Pada masing-masing teritori tersebut dijumpai jenis-jenis pohon tidur yang berbeda, yaitu jenis ki ara (Ficus glomerata), merbau (Intsia bijuga) dan kondang (Ficus variegata). Jenis-jenis tersebut dipilih monyet ekor panjang dikarenakan memiliki kriteria seperti tajuk lebar dan rindang, percabangan yang banyak dan relatif datar, serta tersedianya buah pada jenis tersebut. Gambar berikut ini merupakan gambar pohon tidur yang dimanfaatkan oleh masing-masing kelompok monyet ekor panjang yang diamati.
(a) (b)
(c)
Gambar 16 Pohon tidur monyet ekor panjang. Ket: (a) ki ara; (b) merbau dan (c) kondang.
5.2.2 Ukuran kelompok monyet ekor panjang
Monyet ekor panjang yang terdapat di Penangkaran Semi Alami Pulau Tinjil tersebar menjadi beberapa kelompok. Jumlah kelompok monyet ekor panjang yang ditemukan selama observasi lapang sebanyak 7 kelompok, yaitu kelompok kandang 1, kelompok kandang 2, kelompok kandang 3, kelompok kandang 5, kelompok kandang 8, kelompok kandang 9 dan kelompok kandang 12. Iskandar et
al. (2009) menambahkan bahwa kelompok monyet ekor panjang di Pulau Tinjil
terdapat sebanyak 29 kelompok. Kelompok-kelompok tersebut dapat dijumpai pada setiap jalur transek yang ada. Jalur transek yang terdapat di Pulau Tinjil berjumlah 12 jalur, dengan 9 jalur arah utara ke selatan pulau dan 3 jalur yang arah timur ke barat pulau.
Kelompok monyet ekor panjang yang diamati yaitu kelompok kandang 3, kelompok kandang 5 dan kelompok kandang 8. Ukuran masing-masing kelompok monyet ekor panjang yang ditemukan selama pengamatan bervariasi antara 27-37 individu per kelompok dengan komposisi umur mulai dari anak sampai dewasa. Dugaan kelas umur masing-masing individu tiap kelompok monyet ekor panjang dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Estimasi ukuran kelompok monyet ekor panjang di Pulau Tinjil No. Nama Kelompok
Jumlah Individu
Total
Dewasa Muda Anak
♂ ♀ ♂ ♀ ♂ ♀ 1. Kelompok kandang 3 5 12 4 2 13 1 37 2. Kelompok kandang 5 5 9 3 4 6 0 27 3. Kelompok kandang 8 6 14 3 3 8 0 34 Total 16 35 10 9 27 1 98 Ket: ♂ = jantan ♀ = betina
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa tidak ada kelompok monyet ekor panjang yang memiliki komposisi umur yang lengkap (jantan dewasa, betina dewasa, jantan remaja, betina remaja, jantan anak dan betina anak). Rata-rata ukuran kelompok adalah 32,7 individu/kelompok. Nisbah kelamin (sex ratio) monyet ekor panjang dewasa di Pulau Tinjil yaitu 16 jantan dewasa untuk 35 betina dewasa, atau sama dengan 1 jantan dewasa untuk 2,2 betina dewasa. Menurut Wheatley (1980) diacu dalam Soehartono dan Mardiastuti (2003), nisbah kelamin rata-rata monyet ekor panjang adalah 1 jantan dewasa untuk 3,3 betina
dewasa. Informasi lain yang juga dapat diketahui adalah pada usia remaja dan anak, jumlah monyet betina sangat sedikit dan tidak seimbang jika dibandingkan dengan jantan. Hal tersebut dapat mempengaruhi kelangsungan hidup populasi monyet ekor panjang karena nisbah kelaminnya yang tidak sesuai dengan ekologi populasi monyet ekor panjang di habitat alaminya. Kelangsungan populasi tersebut dapat ditanggulangi dengan cara melakukan pemanenan terhadap juvenil atau anakan jantan pada ketiga kelompok tersebut atau dengan melakukan introduksi sejumlah monyet ekor panjang betina dalam berbagai struktur umur pada setiap kelompok kandang.