• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca Konflik

Dalam dokumen Laporan Akhir EKPD Provinsi Maluku 2011 (Halaman 91-105)

BAB II. HASIL EVALUASI TERHADAP CAPAIAN PRIORITAS NASIONAL 2010

J. Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca Konflik

Dalam menganalisis tentang evaluasi kinerja pembangunan daerah yang berkaitan dengan prioritas nasional daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca konflik terdapat ltiga indikator yang menjadi bagian dari analisis tersebut. Indikator-indikator tersebut adalah indeks Gini, jumlah kabupaten tertinggal dan kemiskinan. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pencapaian indikator yang dimaksud dan penyampaian rekomendasi

1. Indikator 1.1. Indeks Gini

Indeks Gini umumnya dipakai untuk mengukur tingkat kesenjangan antar wilayah, dan dalam laporan ini adalah kesenjangan yang terjadi antara wilayah maju dan wilayah tertinggal terutama di pulau terluar dan daerah perbatasan. Data Indeks Gini disajikan pada Tabel 31 berikut ini.

Tabel 31. Indeks Gini Tahun Provinsi 2005 0.30 2006 0.30 2007 0.30 2008 0.31 2009 0.31 2010 0.33 2011 0.33

Berdasarkan data pada Tabel 31 dapat dibuat grafik Indeks Gini yang ditunjukkan dengan Gambar 32 berikut ini.

Gambar 32. Grafik Indeks Gini

Trend terjadinya kesenjangan antar wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan terutama perdesaan di pulau-pulau terluar dan perbatasan sejak tahun 2005 adalah sebesar 0,30 angka yang sama pada tahun 2006 dan 2007. Indeks Gini merangkak naik menjadi 0,31 pada tahun 2008 dan 2009 dan selanjutnya naik menjadi 0,33 berturut-turut pada tahun 2010 dan 2011. Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan antar wilayah makin melebar sebesar 0,03 sejak tahun 2005 sampai dengan 2011. Kondisi ini tentunya tidak dapat

dipungkiri karena memang perhatian pemerintah Maluku untuk melakukan pembangunan di wilayah tersebut masih sangat rendah. Alokasi anggaran untuk membangun infrastruktur dasar seperti listrik perdesaan, prasarana transportasi jalan, jembatan, komunikasi, belum nampak secara nyata.

Sampai saat ini perhubungan dan transportasi untuk mencapai wilayah perdesaan di pulau-pulau terluar dan perbatasan masih sangat minim. Transportasi udara misalnya hanya tiga kali seminggu menggunakan penerbangan perintis dengan pesawat kecil dengan kapasitas tempat duduk yang sangat sedikit. Belum ada pelabuhan untuk berlabuhnya kapal penumpang PELNI dan pelayaran ke pulau-pulau terluar dan perbatasan hanya sebulan sekali. Dengan adanya pemekaran Daerah Kabupaten baru Maluku Barat Daya dari kabupaten induknya Maluku Tenggara Barat, maka diharapkan akan dapat menggerakkan pembangunan oleh pemerintah karena rentang kendali makin dekat.

1.2. Jumlah Kabupaten Tertinggal

Jumlah dan persentase kabupaten tertinggal di Maluku disajikan pada Tabel 32 berikut ini.

Tabel 32. Jumlah dan persentase kabupaten tertinggal Tahun Jumlah & Persentase Kabupaten Tertinggal

2005 (6) 66.60 2006 (6) 66.60 2007 (6) 66.60 2008 (6) 66.60 2009 (6) 66.60 2010 (8) 72.70 2011 (8) 72.70

Berdasarkan data pada Tabel 32 dapat dibuat grafik persentase kabupaten tertinggal yang ditunjukkan dengan Gambar 33 berikut ini.

Gambar 33. Grafik Persentase Kabupaten Tertinggal

Pemekaran wilayah Propinsi Maluku menjadi dua provinsi pada tahun 1997, yaitu Provinsi Maluku sebagai provinsi induk dan Provinsi Maluku Utara, bersamaan dengan pemekaran wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat dari kabupaten induknya Maluku Tenggara, dan Kabupaten Buru dari kabupaten Maluku Tengah, menyebabkan Provinsi Maluku memiliki lima daerah kabupaten. Selanjutnya pada tahun 2001, upaya pemerintah untuk memperpendek rentang kendali dalam pembangunan, maka terjadi pula pemekaran wilayah kabupaten yakni Kota Tual dan Kabupaten Kepulauan Aru dari kabupaten induknya Maluku Tenggara, dan Kabupaten Seram Bagian Barat dan Seram Bagian Timur dari kabupaten induknya Kabupaten Maluku Tengah.

Pemekaran wilayah tidak serentak menyebabkan naiknya kesejahteraan penduduk, baik di wilayah kabupaten pemekaran maupun kabupaten indunya yang sebelumnya belum berkembang pembangunannya. Dengan demikian seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 32 dan Gambar 33, tercatat bahwa sejak tahun 2005 sampai dengan dengan tahun 2009 daerah kabupaten tertinggal adalah sebesar 66,66 persen atau enam kabupaten dari sembilan kabupaten/kota yang ada di Provinsi Maluku. Kondisi semakin parah lagi pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2011, dimana terjadinya wilayah pemekaran kabupaten baru, yang secara nyata menaikkan jumlah dan persentase kabupaten tertinggal yaitu delapan kabupaten dari sebelas kabupaten/kota yang ada di Provinsi Maluku. Ketertinggalan dalam

pembangunan adalah belum terbangunnya berbagai infrastruktur dasar air bersih, listrik, pendidikan, kesehatan yang diperlukan untuk menaikkan tingkat kesejahteraan penduduk secara minimal, juga minimnya sarana transportasi, komunikasi dan juga infrastruktur ekonomi yang diperlukan untuk mendukung pembangunan perekonomian di kabupaten-kabupaten baru hasil pemekaran.

1.3. Kemiskinan

Data persentase kemiskinan daerah tertinggal dapat disajikan pada Tabel 28 berikut ini.

Tabel 33. Persentase kemiskinan daerah tertinggal Tahun Persentase Kemiskinan

daerah tertinggal 2005 41.50 2006 39.51 2007 37.02 2008 35.56 2009 33.50 2010 31.49 2011 30.04

Berdasarkan data pada Tabel 33 dapat dibuat grafik persentase kemiskinan daerah tertinggal yang ditunjukkan dengan Gambar 34 berikut ini.

Gambar 34. Grafik Persentase kemiskinan daerah tertinggal

Persentase penduduk miskin seperti yang disajikan pada Tabel 33 dan Gambar 34, merupakan persentase kemiskinan penduduk yang berada di wilayah perdesaan di pulau-pulau terluar dan perbatasan. Terjadinya kerusuhan sosial pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2005, menyebabkan perhatian pemerintah Provinsi Maluku nyaris belum ditujukan ke wilayah terluar yakni pulau-pulau terluar di perbatasan. Perhatian pemerintah baru terjadi setelah berbagai masalah perbatasan secara nasional menjadi isu penting pada tahun 2006 dan 2007, yaitu dengan Negara Malaysia, sehingga seluruh Daerah Provinsi diminta untuk memperhatikan pembangunan di wilayah perbatasan yaitu pulau-pulau terluar di perbatasan. Hal yang sama terjadi di Maluku, dimana perhatian pemerintah provinsi baru dimulai pada tahun 2009, dengan menempatkan pos-pos keamanan dan pertahanan di pulau-pulau terluar. Walaupun demikian gerak pembangunan di daerah perbatasan terutama di pulau-pulau terluar belum nyata dilihat dari alokasi anggaran pembangunan yang masih sangat minim, yakni tidak mencukupi dua milyar per tahun.

2. Analisis Pencapaian Indikator

Pemerintah Daerah Provinsi Maluku belum menetapkan target dalam membangun pulau-pulau terluar terutama di wilayah perbatasan. Hal ini disebabkan terutama oleh minimnya ketersediaan anggaran pembangunan Daerah Maluku. Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus bagi Daerah Maluku sangat kecil dibandingkan dengan daerah provinsi

lain di wilayah kontinental. Dasar perhitungan anggaran pemerintah pusat kepada daerah berdasarkan luas teritorial daratan sangat merugikan Provinsi Maluku yang 93 persen wilayahnya terdiri dari lautan, dimana luas lautan tidak menjadi dasar perhitungan alokasi anggaran. Hal inilah yang memicu Pemerintah Daerah Provinsi Maluku untuk memperjuangkan Provinsi Kepulauan dengan perlakuan khusus bersama-sama dengan enam provinsi kepulauan lainnya di Indonesia. Secara garis besar dapat ditunjukkan dengan menggunakan Gambar 35 berikut ini.

Gambar 35. Grafik Analisis Pencapaian Daerah Tertinggal

3. Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan data, bahasan dan hasil analisis tingkat capaian dapat disimpulkan bahwa kesenjangan antar wilayah kota dan desa di perbatasan dan pulau-pulau terluar masih cukup tinggi terutama dalam penyediaan infrastruktur dasar, transportasi, komunikasi, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan; persentase kabupaten tertinggal di Maluku lebih dari lima puluh persen yang menunjukkan sebagian besar kabupaten masih belum berkembang baik; dan persentase kemiskinan desa di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar terdepan masih cukup tinggi (33%), dibandingkan di perkotaan (23%). Berdasarkan simpulan dan analisis di atas direkomendasikan sebagai berikut:

a. Pemerintah Provinsi Maluku perlu mendesain perencanaan khusus dalam pembangunan wilayah perbatasan terluar dan terdepan dengan fokus program prioritas;

b. Mendorong kabupaten pemekaran yang berada di wilayah perbatasan terluar dan terdepan untuk meningkatkan kinerja anggaran dan perhatian khusus dalam pembangunan wilayah tersebut;

c. Prioritas program perlu dilakukan kusus dalam rencana pengendalian kemiskinan di wilayah perbatasan, terluar dan terdepan, sehingga tidak terjadi kesenjangan yang lebih besar antar desa tertinggal dan perkotaan.

K. Kebudayaan, Kreatifitas, Inovasi dan Teknologi

Dalam menganalisis tentang evaluasi kinerja pembangunan daerah yang berkaitan dengan prioritas nasional kebudayaan, kreatifitas, inovasi dan teknologi terdapat empat indikator yang menjadi bagian dari analisis tersebut. Indikator-indikator tersebut adalah jumlah paten (HAKI), jumlah dosen peneliti PTN/PTS, jumlah perpustakaan, dan jumlah hasil riset dari lembaga riset. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pencapaian indikator yang dimaksud dan penyampaian rekomendasi

1. Indikator

1.1. Jumlah paten (HAKI)

Secara institusional, pada saat ini telah ada Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual yang tugas dan fungsi utamanya adalah menyelenggarakan administrasi hak cipta paten, merek, desain industri, dan desain tata letak sirkuit terpadu. Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (semula disebut Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek) dibentuk pada tahun 1998. Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual yang baik sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari dunia industri dan perdagangan, maupun dari institusi yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan.

Data jumlah paten di Provinsi Maluku belum terdata dengan baik, selain memang jumlah paten yang diperoleh di Provinsi Maluku yang masih sangat langkah dan rendah. Sedangkan untuk Univeritas Pattimura sampai saat ini baru terdapat 1 dosen peneliti yang memperoleh paten atas penelitiannya pada tahun 2007. Penelitian ini berkaitan dengan turunan minyak atsiri dari Pala Banda. Hak.

1.2. Jumlah dosen peneliti PTN/PTS

Data jumlah dosen peneliti PTN/PTS sampai saat ini tidak memiliki system basis data yang baik sehingga untuk mendapatkan data yang akurat mengalami kesulitan sehingga data yang digunakan pada indikator ini adalah data jumlah dosen peneliti pada Universitas Pattimura. Data jumlah dosen peneliti dapat diperlihatkan pada Tabel 34 berikut ini.

Tabel 34. Jumlah Dosen Peneliti

Tahun Jumlah Dosen Peneliti

2008 139

2009 215

2010 88

2011 90

Berdasarkan data pada Tabel 34 dapat dibuat grafik jumlah dosen peneliti yang ditunjukkan dengan Gambar 36 berikut ini.

Gambar 36. Grafik Jumlah Dosen Peneliti  

Berdasarkan grafik pada Gambar 36 terlihat bahwa jumlah dosen peneliti pada Universitas Pattimura mengalami fluktuasi. Pada tahun 2009 mengalami kenaikan yang

cukup signifikan dan kemudian mengalami penurunan yang juga cukup signifikan di tahun 2010. Selanjutnya pada tahun 2011 mengalami kenaikan yang tidak signifikan.

 

1.3. Jumlah perpustakaan

Berdasarkan data yang diperoleh dari perpustakaan umum provinsi Maluku di Kota Ambon, jumlah perpustakaan umum yang ada di kabupaten/kota di provinsi Maluku sebanyak 11 perpustakaan, namun 3 diantaranya yaitu perpustakan umum di kabupaten Kepulauan Aru, kabupaten Buru Selatan dan Kota Tual belum memiliki struktur kelembagaan dalam operasional perpustakaan tersebut. Sedangkan jumlah perpustakaan desa yang terdata di perpustakaan Kota Ambon, sebanyak 44 buah yang terdiri dari 23 buah pada 23 desa di Kabupaten Maluku Tengah dan 21 buah pada 21 desa di Kota Ambon.

1.4. Jumlah hasil riset dari lembaga riset

Hasil riset dari beberapa lembaga riset di Provinsi Maluku belum terdata dengan baik khususnya oleh SKPD terkait sehingga data yang digunakan untuk indikator ini adalah data hasil hasil riset pada Universitas Pattimura Ambon, Selanjutnya data jumlah hasil riset di Universitas Pattimura dapat diperlihatkan dengan Tabel 35 berikut ini.

Tabel 35. Jumlah Hasil Riset

Tahun Jumlah Hasil Riset

2008 61

2009 71

2010 27

2011 28

Berdasarkan data pada Tabel 35 dapat dibuat grafik jumlah hasil riset yang ditunjukkan dengan Gambar 36 berikut ini.

Gambar 36. Grafik Jumlah Hasil Riset

Berdasarkan data pada Tabel 35 dan grafik Gambar 36 terlihat bahwa jumlah hasil riset di Universitas Pattimura mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2010 dan mengalami kenaikan yang tidak signifikan pada tahun 2011. Adapun jenis penelitian yang dominan diserap oleh dosen Unpatti selama tahun 2008 adalah penelitian Dosen Muda dan Kajian Wanita, sedangkan pada tahun 2009 adalah penelitian Stranas/Prioritas Nasional dan Hibah Bersaing. Dari 13 jenis penelitian yang tersedia, terdapat 6 jenis penelitian yang belum dimanfaatkan oleh dosen Unpatti yaitu Hibah Disertasi Doktor, Hibah Pasca, Hibah Kompetensi, Kerjasama Internasional, Rapid dan Riset Unggulan Nasional.

2. Analisis Pencapaian Indikator

Analisis Pencapaian Jumlah paten (HAKI)

Kurang terdatanya jumlah paten yang terdapat di Provinsi Maluku disebabkan karena kurang dilakukan sosialisasi secara intensif oleh pemerintah daerah dan SKPD terkait dalam rangka lebih meningkatkan pelayanan dan kemudahan bagi masyarakat berkaitan dengan pengajuan permohonan hak kekayaan intelektual yang mana dapat dilakukan di Kantor-kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Selanjutnya, Kantor-Kantor-kantor Wilayah akan menyampaikan permohonan tersebut kepada Direktorat Jenderal HaKI untuk diproses lebih lanjut. Terlebih, pada saat ini, dengan bantuan World Bank sedang dilaksanakan penyempurnaan sistem otomasi di Direktorat Jenderal HaKI yang diharapkan

dapat lebih menunjang proses administrasi dimaksud. Tidak sebagaimana bidang kekayaan intelektual lain yang administrasinya dikelola oleh Direktorat Jenderal HaKI, bidang varietas tanaman ditangani oleh Departemen Pertanian. Keterlibatan berbagai pihak secara terkoordinasi dan intensif sangat diperlukan untuk menjamin terlaksananya sistem hak kekayaan intelektual yang diharapkan termasuk lembaga-lebaga riset baik di lingkungan kampus maupun di luar lingkungan kampus. Pada sisi lain, pemerintah daerah Maluku perlu secara bertahap dan berkesinambungan telah diupayakan sosialisasi mengenai peran hak kekayaan intelektual di berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari seperti : kegiatan perindustrian dan perdagangan, investasi, kegiatan penelitian dan pengembangan, dan sebagainya. Berbagai lapisan masyarakat pun telah dilibatkan dalam kegiatan ini. Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 189 Tahun 1998, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia cq. Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual telah ditugasi melakukan koordinasi dengan semua instansi Pemerintah yang berkompeten mengenai segala kegiatan dan permasalahan di bidang hak kekayaan intelektual.

Analisis Pencapaian Jumlah dosen peneliti PTN/PTS

Bila dikaitkan antara dosen Unpatti yang terlibat dalam penelitian selama tahun 2008-2011 dengan jumlah seluruh dosen Unpatti sebanyak 1.108, maka dapat dikatakan bahwa minat meneliti dosen Unpatti tergolong rendah. Salah satu penyebabnya karena kurang mampu bersaing dalam memperebutkan hibah-hibah penelitian di tingkat nasional.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperlukan beberapa rekomendasi kebijakan sebagai solusi pemecahan masalah dalam menindak lanjuti pengelolaan penelitian di Unpatti dan di Maluku pada umumnya, yang mengarah pada : penataan struktur kelembagaan, sistem dan mekanisme organisasi, manajemen kerjasama penelitian sehingga pada tataran operasional dapat menjalin kewenangan, sekaligus memberdayakan semua unit fungsional terkait dengan program penelitian; merumuskan fungsi keterkaitan fungsional antar unit kerja untuk menumbuhkan kerjasama penelitian yang sinergis antar unit di Unpatti; mengembangkan penelitian mono-disiplin di unit laboratorium dan jurusan/ program studi, multi-disiplin dan interdisiplin di pusat-pusat penelitian/kajian atau fakultas; merumuskan kembali payung penelitian Unpatti dengan memperhatikan kelayakan pengembangan unit-unit fungsional secara proporsional, serta kelayakan SDM dan ragam bidang ilmu sebagai basis utama penelitian.

Analisis Pencapaian Jumlah perpustakaan

Upaya pengembangan perpustakaan ke depan hendaknya mengacu pada peraturan perundangan yang sudah ditetapkan dan perlu didukung kreativitas dan ide cemerlang dari kepala perpustakaan daerah dalam mengantarkan perpustakaan daerah ke arah kemajuan perpustakaan, karena salah satu kunci kemajuan perpustakaan daerah adalah motivasi dan dedikasi tinggi serta peran aktif kepala perpustakaan. Adapun permasalahan pengembangan perpustakaan daerah Terbatasnya tenaga administrasi maupun tenaga fungsional sehingga terjadi perangkapan tugas dalam pelaksanaan kegiatan; Fungsi perpustakaan dan arsip belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, pada hal kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang mengglobal sangat diperlukan pada setiap strata kemasyarakatan; koleksi berbagai jenis perpustakaan masih terbatas sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat; Belum terbentuknya budaya baca; devenifikasi layanan perpustakaan belum dapat memiliki kebutuhan dan harapan pemustaka; layanan perpustakaan belum menjangkau ke seluruh wilayah pedesaan, daerah terpencil; tidak tersedianya data yang akurat dalam pengambilan kebijakan dan perencanaan; lemahnya koordinasi, monitoring, evaluasi, pembinaan dan pelaporan. Dalam mengatasi permasalahan pengembangan minat baca dan perpustakaan ini harus di pecahkannya akar masalah yang ada saat ini yaitu sistem kelembagaan perpustakaan yang belum kuat, intervensi anggaran terbatas, terbatasnya infrastruktur dan prasarana perpustakaan, budaya membaca yang belum menguat di masyarakat. Terkait dengan kebijakan pengembangan perpustakaan pemerintah daerah Provinsi Maluku perlu meningkatkan keadilan antar kawasan sebagai upaya untuk mengurangi kesenjangan/ketimpangan pembangunan di bidang pendidikan dalam skala ruang lingkup gugus pulau melalui pemerataan dan perluasan akses masyarakat terhadap pelayanan perpustakaan; peningkatan produktivitas, efektifitas dan efisiensifitas layanan perpustakaan dalam rangka meningkatkan budaya baca masyarakat; mengupayakan pemerataan dan perluasan layanan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi melalui perpustakaan keliling desa; peningkatan kualitas dan profesionalisme sumberdaya manusia pustakawan dan arsiparis; Penyediaan dan pembaharuan data dan informasi manajemen; Pemantapan sarana dan prasarana perpustakaan. Dengan demikian arah kebijakan pembangunan perpustakaan daerah Maluku ke depan antara lain; tersedianya jaringan website yang dapat memberikan akses Informasi secara luas, membangun perpustakaan elektronik dengan menyiapkan ruang audio visual dan fasilitas penunjang, Tersedianya tenaga-tenaga pustakawan yang menguasai Teknologi..

Analisis Pencapaian Jumlah hasil riset dari lembaga riset

Sistem pendataan yang belum maksimal mengenai jumlah hasil riset dari lembaga riset sehingga menyebabkan jumlah hasil riset termasuk Universitas Pattimura tidak dapat diketahui secara pasti. Untuk itu dalam laporan ini hanya digunakan hasil riset dari Universitas Pattimura. Di Universitas Pattimura terlihat bahwa jumlah hasil riset juga mengalami penurunan dan perkembangannya menuju ke arah yang kurang sehat. Penyebab menurunnya hasil riset karena hibah-hibah penelitian yang dikompetisikan di tingkat nasional mengalami peningkatan dan pengetatan dalam penilaian sehingga banyak dosen peneliti yang usulannya tidak diterima untuk dibiayai.

Parameter dan indikator untuk menilai keberhasilan suatu lembaga riset perlu dibuat dengan pendekatan manajemen riset dan ditetapkan dengan peraturan sehingga akan menjadi saringan dan arena kompetisi yang adil bagi lembaga-lembaga riset yang ada untuk tetap bertahan atau bergabung dengan lembaga riset lainnya atau hilang begitu saja karena tidak adanya dana yang diberikan oleh pihak manapun berkaitan dengan rendahnya mutu lembaga riset tersebut. Disarankan setiap lembaga riset dapat membentuk suatu tim evaluasi guna mengevaluasi kinerja organisasi risetnya saat ini dengan menggunakan parameter dan indikator yang telah ada dan mencoba membandingkannya dengan lembaga-lembaga riset yang ada di departemen lainnya. Sistem evaluasi terhadap kinerja lembaga penelitian hingga kini belum ada petunjuk elaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) nya yang dibuat oleh instansi terkait sehingga kinerja dari lembaga-lembaga riset nasional sulit diketahui perkembangannya dari tahun ke tahun, apakah suatu lembaga riset sudah berubah dari lembaga riset yang biasa menjadi lembaga riset yang tangguh dalam hitungan waktu tertentu. Sistem kelembagaan, perangkat lunak dan perangkat keras dari suatu lembaga riset perlu menjadi prioritas kegiatan saat ini dalam mengantisipasi reposisi dan peran lembaga riset pada saat otonomi daerah berjalan dengan mengacu kepada kebutuhan dan permasalahan yang timbul didaerah dimana lembaga riset tersebut berada.

3. Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan hasil analisis maka dapat dikemukakan rekomendasi kebijakan sebagai berikut:

a. Perlu dilakukan sosialisasi secara intensif oleh pemerintah daerah dan SKPD terkait dalam rangka lebih meningkatkan pelayanan dan kemudahan bagi masyarakat berkaitan dengan pengajuan permohonan hak kekayaan intelektual

b. penataan struktur kelembagaan, sistem dan mekanisme organisasi, manajemen kerjasama penelitian sehingga pada tataran operasional dapat menjalin kewenangan, sekaligus memberdayakan semua unit fungsional terkait dengan program penelitian; merumuskan fungsi keterkaitan fungsional antar unit kerja untuk menumbuhkan kerjasama penelitian yang sinergis

c. Meningkatkan keadilan antar kawasan sebagai upaya untuk mengurangi kesenjangan/ketimpangan pembangunan di bidang pendidikan dalam skala ruang lingkup gugus pulau melalui pemerataan dan perluasan akses masyarakat terhadap pelayanan perpustakaan; peningkatan produktivitas, efektifitas dan efisiensifitas layanan perpustakaan

d. Setiap lembaga riset perlu membentuk suatu tim evaluasi guna mengevaluasi kinerja organisasi risetnya saat ini dengan menggunakan parameter dan indikator yang telah ada dan mencoba membandingkannya dengan lembaga-lembaga riset yang ada di departemen lainnya.

Dalam dokumen Laporan Akhir EKPD Provinsi Maluku 2011 (Halaman 91-105)