DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………. i
Daftar Isi ………. iii
BAB I. PENDAHULUAN ……….. 1
A. Latar Belakang ………... 1
B. Tujuan dan Sasaran ……….. 2
C. Keluaran ……….. 3
BAB II. HASIL EVALUASI TERHADAP CAPAIAN PRIORITAS NASIONAL 2010 DAN 2011 ………... 4 A. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola ………. 4
B. Pendidikan ……….. 12
C. Kesehatan ……….. 24
D. Penanggulangan Kemiskinan ……….. 33
E. Ketahanan Pangan ………... 39
F. Infrastruktur ………. 51
G. Iklim Investasi dan Iklim Usaha ……….. 60
H. Energi ………. 70
I. Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana ……….. 73
J. Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca Konflik ………. 86
K. Kebudayaan, Kreativitas, Inovasi dan Teknologi ………. 93
L. Kesejahteraan Rakyat ……….. 100
M. Politik, Hukum, dan Keamanan ………. 108
N. Perekonomian ……… 115
BAB III. RELEVANSI ISU STRATEGIS, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN ………. 125
BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ……….. 142
A. Kesimpulan ………. 142
B. Rekomendasi ……….. 144
LAMPIRAN
Tabel indikator dan data tahun 2009, 2010 dan 2011 145
Kata Pengantar
Sebagai tindak lanjut dari kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dengan 33 Universitas Negeri di Indonesia yang diawali dengan penandatanganan Nota kesepahaman pada hari Kamis Tanggal Dua Belas bulan Mei tahun Dua Ribu Sebelas, maka Universitas Pattimura sebagai perguruan tinggi negeri yang berada di Provinsi Maluku dipercayakan melakukan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) di Provinsi Maluku. Penyelenggaraan EKPD di Indonesia ini telah berlangsung selama empat tahun. Pada tahun 2011 ini kegiatan difokuskan pada tiga hal yaitu tingkat pencapaian target kinerja RPJMN pada tahun 2010 dan 2011 di Provinsi Maluku; relevansi isu strategis, sasaran, arah kebijakan, dan strategi pengembangan dalam RPJMN 2010-2014 dengan kondisi Provinsi Maluku; dan evaluasi tematik di Provinsi Maluku.
Dalam rangka pelaksanaan tugas ini maka sebagai langkah awal Tim EKPD melakukan persiapan dengan melakukan diskusi merancang jadwal kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan pengamatan, pengumpulan data dan informasi berdasarkan sasaran RPJMN, pelaksanaan analisis dan penilaian terhadap capaian sasaran pembangunan daerah, dan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dengan SKPD terkait termasuk instansi terkait dan kegiatan lain yang disesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Direktorat Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) seperti yang tertuang dalam panduan EKPD 2011. Selain itu, Tim EKPD Provinsi Maluku juga melakukan pendekatan dengan Pemerintah Provinsi Maluku dalam hal ini Sekertaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku, dan sosialisasi kepada Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Maluku dan staf.
Kinerja pembangunan daerah diukur dari indikator-indikator kinerja yang telah dtetapkan. Indikator yang telah ditetapkan ini digunakan sebagai basis dalam melakukan evaluasi kinerja pembangunan oleh tim EKPD Provinsi Maluku. Indikator kinerja adalah uraian ringkas yang menggambarkan tentang suatu kinerja yang diukur dalam pelaksanaan suatu kebijakan terhadap tujuannya. Indikator merupakan ukuran kuantitatif dan kualitatif, dalam perumusan indikator yang harus memenuhi asumsi keterukuran.
Indikator EKPD 2011 berdasarkan tujuan dan sasaran pembangunan daerah adalah berupa indikator dampak (impact) yang pencapaiannya didukung melalui pencapaian indikator hasil (outcome). Suatu parameter harus memenuhi lima kaidah yaitu: Specific, yakni dapat diidentifikasi dengan jelas; Measurable, jelas dan dapat diukur dengan skala penilaian tertentu yang disepakati, dapat berupa pengukuran kuantitas, kualitas dan biaya; Attainable, dapat dicapai; Relevant, mencerminkan keterkaitan secara langsung dan logis antara target output dalam rangka mencapai target impact yang ditetapkan; serta antara target outcome dalam rangka mencapai target impact yang ditetapkan dan Timely, yakni tepat waktu.
Semoga laporan akhir pelaksanaan EKPD Provinsi Maluku ini dapat menggambarkan seluruh kondisi riil pembangunan daerah di Provinsi Maluku.
Ambon, 2 Desember 2011 Rektor Universitas Pattimura
Prof. Dr. H. B. Tetelepta, M.Pd
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Evaluasi
Pembangunan daerah di Provinsi Maluku merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pada hakekatnya pembangunan daerah di Provinsi Maluku adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mewujudkan masa depan daerah yang lebih baik dan kesejahteraan bagi semua masyarakat.
Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 32 tahun 2004 yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan secara luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan di daerah masing-masing dan UU No. 25 tahun 2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan 5 (lima) tujuan pelaksanaan sistem perencanaan pembangunan nasional yaitu : (1) untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan; (2) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar daerah, antar ruang, antara waktu, dan antar fungsi pemerintah, serta antara pusat dan daerah; (3) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; (4) mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan (5) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Pelaksanaan evaluasi kinerja pembangunan daerah akan mengacu pada RPJMN 2010-2014, dengan fokus utama untuk mengetahui: (1) tingkat pencapaian target kinerja RPJMN pada tahun 2010 dan 2011 di Provinsi Maluku; (2) relevansi isu strategis, sasaran, arah kebijakan, dan strategi pengembangan dalam RPJMN 2010-2014 dengan kondisi Provinsi Maluku; dan (3) evaluasi tematik di Provinsi Maluku. Pelaksanaan evaluasi RPJMN 2010-2014 dilakukan secara eksternal dengan harapan agar seluruh proses evaluasi tersebut beserta rekomendasinya berlangsung dalam proses yang lebih independen. Adapun kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh suatu organisasi dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan.
Evaluasi harus dilakukan secara sistematis dan komprehensif sehingga dapat mengidentifikasi sampai sejauh mana tingkat pencapaian sasaran, tujuan, dan kinerja pembangunan daerah terhadap target-target yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi dari Tim EKPD Provinsi Maluku 2011 diharapkan dapat memberikan umpan balik pada perencanaan pembangunan daerah untuk perbaikan kualitas perencanaan di Provinsi Maluku. Adapun evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran
(output), dan hasil (outcome) terhadap recana dan standar. Selain itu, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pembangunan daerah Provinsi Maluku.
B. Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan sasaran kegiatan evaluasi kinerja pembangunan daerah secara terperinci dapat diberikan spesifik sebagai berikut.
Tujuan kegiatan ini adalah:
• Untuk melengkapi baseline data 2009 dan mengetahui tingkat pencapaian prioritas nasional 2010 dan 2011 berdasarkan RPJMN 2010-2014 di Provinsi Maluku
• Untuk mengetahui relevansi isu strategis, sasaran, arah kebijakan dan strategi pengembangan dalam RPJMN 2010-2014 dengan kondisi daerah Provinsi Maluku • Untuk mengetahui masalah spesifik melalui evaluasi tematik di Provinsi Maluku Sasaran dari kegiatan ini antara lain:
• Tersedianya baseline data 2009 dan hasil evaluasi terhadap capaian prioritas nasional 2010 dan 2011 berdasarkan RPJMN 2010-2014 di Provinsi Maluku
• Tersedianya informasi dasar untuk merumuskan kebijakan terutama yang berupa langkah penanganan segera, baik oleh pemerintah maupun pemerintah daerah Provinsi Maluku
• Tersedianya hasil evaluasi yang menunjukkan kesesuaian dan atau ketidaksesuaian antara isu strategis, sasaran, arah kebijakan, dan strategi pengembangan dalam RPJMN 2010-2014 dengan kondisi daerah Provinsi Maluku
• Tersedianya informasi dasar untuk melakukan revisi RPJMN oleh pemerintah dan revisi RPJMD oleh pemerintah Provinsi Maluku
• Tersedianya hasil evaluasi terhadap masalah spesifik melalui evaluasi tematik di daerah Provinsi Maluku
• Tersedianya informasi dasar bagi pemerintah maupun pemerintah daerah dalam merumuskan langkah kebijakan mengatasi masalah spesifik melalui evaluasi tematik di daerah Provinsi Maluku.
C. Keluaran
Keluaran yang diharapkan dapat diperoleh dari kegiatan ini adalah sebagai berikut: • Dokumen data dasar evaluasi dan dokumen hasil evaluasi terhadap capaian prioritas
nasional 2010 dan 2011 berdasarkan RPJMN 2010-2014 di Provinsi Maluku
• Dokumen hasil evaluasi relevansi terhadap isu strategis, sasaran, arah kebijakan, dan strategi pengembangan dalam RPJMN 2010-2014 dengan kondisi Provinsi Maluku • Dokumen hasil evaluasi terhadap masalah spesifik melalui evaluasi tematik di
BAB II HASIL EVALUASI TERHADAP CAPAIAN PRIORITAS NASIONAL 2010 DAN 2011
A. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola
Dalam menganalisis tentang evaluasi kinerja pembangunan daerah yang berkaitan dengan prioritas nasional reformasi birokrasi dan tata kelola terdapat lima indikator yang menjadi bagian dari analisis tersebut. Indikator-indikator tersebut adalah persentasi kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentasi kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap, persentasi kabupaten/kota yang memiliki pelaporan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), persentase kabupaten/kota yang telah memiliki e-procurement, dan persentase kabupaten/kota yang telah memiliki peraturan daerah transparansi. Kemudian dianalisis pencapaian indikator dan rekomendasi kebijakan.
1. Indikator
1.1. Persentase kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan
Persentase kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Persentase Jumlah Kasus Korupsi Yang Tertangani Tahun Provinsi 2004 ‐ 2005 ‐ 2006 ‐ 2007 30 2008 19.05 2009 19.05 2010 34 s/d Juni 2011 28
Selanjutnya data pada Tabel 1 dapat ditunjukkan grafiknya dengan menggunakan Gambar 1 berikut ini.
Gambar 1. Grafik Jumlah Kasus Korupsi yang Tertangani
Berdasarkan Tabel 1 dan Gambar 1 menunjukan bahwa kinerja Kejati dalam penanganan kasus korupsi di Provinsi Maluku dalam tahun 2010 dan bulan Mei 2011 telah mengalami peningkatan dalam penanganan dan penyelesaiannya. Hal ini didasarkan pada hasil identifikasi data dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Maluku. Sesuai hasil identifikasi data dari Kejati Provinsi Maluku ternyata ditemukan bahwa sesuai hasil pelaporan masyarakat serta temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dilaporkan kepada Kejati Provinsi Maluku pada tahun 2010 dan bulan Mei 2011 terdapat 129 perkara kasus korupsi yang masuk dari kabupaten/kota di Provinsi Maluku. Jumlah kasus korupsi tersebut merupakan laporan dari masyarakat dan hasil temuan BPK yang dilaporkan langsung ke Kejati Provinsi Maluku. Dari sejumlah kasus korupsi tersebut ternyata 46 kasus yang telah dapat diselesaikan dengan baik oleh Kejati Provinsi Maluku. Hal ini berarti terjadi peningkatan dalam penanganan dan penyelesaian kasus korupsi yang ada. Peningkatan dalam penanganan dan penyelesaian kasus korupsi ini juga tidak terlepas dari adanya kebijakan pimpinan Kejati Provinsi Maluku untuk secepatnya melakukan penanganan dan penyelesaian kasus korupsi. Apa yang telah dicapai oleh Kejati Provinsi Maluku saat ini bukanlah sesuatu hal yang dapat dibanggakan karena terbukti dari laporan kasus koprupsi yang masuk ternyata masih sebagian besar kasus korupsi yang juga belum diselesaikan. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang turut mempengaruhi kinerja Kejati
Provinsi Maluku. Faktor-faktor tersebut seperti, keterlambatan realisasi laporan dari Kejati pada kabupaten/kota serta alokasi anggaran yang terbatas untuk menangani secara langsung beberapa kasus korupsi pada beberapa kabupaten/kota yang memiliki rentang kendali atau jarak yang cukup jauh sehingga membutuhkan biaya untuk penyelesaiannya. Demikian maka upaya peningkatan kinerja Kejati Provinsi Maluku juga sangat dipengaruhi oleh ketersediaan anggaran yang menjadi kebutuhan untuk terlaksananya pembangunan daerah.
1.2. Persentase kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap
Data persentase kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut.
Tabel 2. Persentase kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap.
Tahun Provinsi 2004 10 2005 10 2006 10 2007 20 2008 20 2009 20 2010 - 2011 -
Data persentase kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap belum lengkap karena belum tersedia data tahun 2010 hingga tahun 2011. Selanjutnya data pada Tabel 2 dapat ditunjukkan grafiknya dengan menggunakan Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Grafik Persentase kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap
Berdasarkan uraian Tabel 2 dan Gambar 2 menunjukan bahwa kinerja pembangunan daerah di Provinsi Maluku dalam melakukan sistem pelayanan satu atap pada tahun 2010 dan tahun 2011 tidak dapat dianalisis. Hal ini disebakan oleh adanya sistem perangkat organisasi yang dimiliki oleh masing-masing kab/kota. Sesuai hasil identifikasi yang dilakukan oleh Tim EKPD pada kantor Gubernur Maluku ternyata data yang dibutuhakn untuk menganaisis evaluasi kinerja pembangunan daerah tentang Perda pelayanan satu atap pada kab/kota di Provinsi Maluku tidak dapat diperoleh. Hal ini sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Staf Biro Hukum pada kantor Gubenur Provinsi Maluku. Alasan yang diperoleh tentang kebutuhan akan informasi tersebut bahwa pada setiap kabupaten/kota telah melakukan sistem perangkat organisasinya tersendiri sehingga penanganan terhadap pelayanan satu atap langsung dilakukan pada tiap-tiap kabupaten/kota.
1.3. Persentase kabupaten/kota yang memiliki pelaporan Wajar Tanpa Pengecualiaan (WTP) Dalam upaya untuk menganalisis kinerja pembangunan daerah di Provinsi Maluku, khususnya tentang pelaporan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tahun 2010 dan 2011 belum dapat dianalisis pencapaiannya oleh tim. Hal ini disebabkan oleh masalah yang dihadapi oleh BPK RI untuk mengaudit laporan keuangan pada setiap kabupaten/kota di Provinsi
Maluku pada umumnya sama yaitu adanya kelemahan sistem pengendalian interen dan pembatasan lingkup pemerikasaan pada setiap kabupaten/kota di Provinsi Maluku sehingga BPK RI tidak dapat menerapkan prosedur pemeriksaan untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan serta lingkup pemeriksaan BPK RI tidak cukup untuk memungkinkan menyatakan pendapat.
1.4. Persentase kab/kota yang telah memiliki e-procurement
Target kinerja pembangunan daerah di Provinsi Maluku, khususnya tentang pengadaan barang dan jasa (e-procurement) pada tahun 2010 sampai sekarang tidak dapat dianalisis capaiannya oleh Tim EKPD. Hal ini disebabkan oleh belum tersedianya website pada masing-masing kab/kota sehingga data tersebut juga tidak diperoleh pada kantor Gubernur Maluku. Hal ini sesuai dengan hasil identifikasi yang dilakukan oleh Tim pada bagian inspektorat kantor Gubernur Provinsi Maluku. Informasi ini diperoleh dari salah seorang staf pada bagian inspektorat pada kantor Gubernur Provinsi Maluku.
1.5. Persentase kabupaten/kota yang telah memiliki Perda Transparansi
Dalam upaya untuk menganalisis kinerja pembangunan daerah di Provinsi Maluku yang memiliki Perda transparansi pada tahun 2010 dan tahun 2011 ternyata tidak dapat dilakukan analisisnya oleh Tim EKPD. Hal ini karena setiap kab/kota telah melakukan sistem penanganannya sendiri. Sesuai hasil identifikasi yang dilakukan oleh Tim EKPD pada kantor Gubernur Maluku ternyata data yang dibutuhkan untuk menganalisis evaluasi kinerja pembangunan daerah tentang Perda transparansi kab/kota di Provinsi Maluku tidak dapat diperoleh. Hal ini sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Staf Biro Hukum pada kantor Gubenur Provinsi Maluku. Alasan yang diperoleh tentang kebutuhan akan informasi tersebut bahwa pada setiap kab/kota telah melakukan sistem penanganannya sendiri.
2. Analisis Pencapaian Indikator
Analisis capaian kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan
Sesuai informasi yang disampaikan oleh Kejaksaan Tinggi Maluku, diketahui bahwa berbagai kasus korupsi yang ditangani, berasal dari hasil pelaporan masyarakat dan temuan BPK baik dalam tahun 2010 maupun 2011. Dalam tahun 2010, kasus atau perkara yang masuk berjumlah 36, sementara yang berhasil diselesaikan sebanyak 34 (94,44%).
Sedangkan sampai dengan bulan Juni tahun 2011, kasus yang masuk adalah sebanyak 56, dan yang sudah diselesaikan baru sebanyak 28 (50,0%).
Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tampak bahwa tingkat penyelesaian kasus dalam tahun 2010 lebih tinggi, karena ternyata selain laporan BPK, masyarakat pun cukup proaktif melaporkan dan mengawasi, terutama di tingkat Kejati Provinsi Maluku dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Ambon. Sementara pada tingkat Kejari dan Cabjari lainnya, jumlah kasus yang diselesaikan relatif sedikit, di antaranya ada yang bahkan tidak tertangani baik karena kekurangan bukti-bukti ataupun dialihkan ke tingkat Kejati. Kondisi yang sama juga dialami pada tahun 2011, di mana laporan terbanyak ditangani oleh Kejati Maluku dan Kejari Kota Ambon. Kondisi ini menunjukkan bahwa khususnya masyarakat di ibukota (Kota Ambon) telah memiliki cukup kesadaran yang tinggi baik untuk melaporkan maupun mengawasi proses hukum di lembaga penegak hukum. Kendala lain yang masih dirasakan dalam rangka penanganan kasus korupsi adalah keterlambatan realisasi laporan dari Kejati pada kab/kota serta alokasi anggaran yang terbatas untuk menangani secara langsung beberapa kasus korupsi pada beberapa kabupaten/kota yang memiliki rentang kendali atau jarak yang cukup jauh sehingga membutuhkan biaya untuk penyelesaiannya.
Analisis capaian kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap
Berdasarkan uraian tabel 2 menunjukan bahwa kinerja pembangunan daerah di Provinsi Maluku dalam melakukan sistem pelayanan satu atap pada tahun 2010 dan tahun 2011, masih menunjukkan kondisi yang sama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh paling tidak 2 kondisi, yaitu (1) kapasitas sumberdaya aparatur pemerintah daerah dan lembaga DPRD dalam memahami kepentingan daerahnya masing-masing dan kebutuhan untuk membangun sinkronisasi sistem yang berujung pada efisiensi dan efektivitas pelayanan publik; dan (2) ego sektoral masing-masing SKPD yang masih mewarnai dinamika pembangunan di setiap daerah. Dalam konteks kepentingan pembangunan Provinsi Maluku yang mendasarkan diri pada pendekatan Gugus Pulau-Laut Pulau, maka kurangnya kreativitas untuk membangun sistem yang terintegrasi di dalam suatu daerah, ditenggarai bisa berdampak kurang menguntungkan bagi hubungan kerjasama antar daerah dalam lingkup Provinsi Maluku. Artinya, jika di dalam suatu kabupaten/kota saja belum sepenuhnya mampu mendinamisasi pembangunan secara sinergis melalui pengadaan peraturan satu atap, bagaimana dengan hubungan antar gugus pulau yang didalamnya terdapat satu atau lebih kabupaten/kota. Sebetulnya sejak tahun 2009 yang lalu, telah ada
upaya-upaya untuk mendudukkan dua kabupaten/kota yang berada dalam satu gugus pulau untuk membicarakan hal-hal tertentu terkait dengan pembangunan di kedua wilayah. Namun hingga kini ternyata realisasi kerjasamanya tidak pernah terlihat, dan berbagai peraturan satu atap yang diharapkan bisa memfasilitasi dinamika pembangunan baik di dalam wilayah yang bersangkutan maupun antar wilayah, belum terbentuk.
Analisis capaian kabupaten/kota yang memiliki pelaporan Wajar Tanpa Pengecualiaan (WTP)
Dalam upaya untuk menganalisis kinerja pembangunan daerah di Provinsi Maluku, khususnya tentang pelaporan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tahun 2010 dan 2011 belum dapat dianalisis. Hal ini disebabkan oleh masalah yang dihadapi oleh BPK RI untuk mengaudit laporan keuangan pada setiap kabupaten/kota di Provinsi Maluku pada umumnya sama yaitu adanya kelemahan sistem pengendalian internal dan pembatasan lingkup pemerikasaan pada setiap kabupaten/kota di Provinsi Maluku sehingga BPK RI tidak dapat menerapkan prosedur pemeriksaan untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas kewajaran laporan keuangan serta lingkup pemeriksaan BPK RI tidak cukup untuk memungkinkan menyatakan pendapat. Dengan demikian maka pelaporan Wajar Tanpa Pengecualian yang menjadi salah satu indikator untuk Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah di Provinsi Maluku tidak dapat dianalisis persentase capaianya oleh tim.
Analisis capaian kabupaten/kota yang telah memiliki e-procurement
Target kinerja pembangunan daerah di Provinsi Maluku, khususnya tentang pengadaan barang dan jasa (e-procurement) pada tahun 2010 sampai sekarang tidak dapat dianalisis capaiannya. Hal ini disebabkan belum tersedianya website pada masing-masing kabupaten/kota, dan juga pada tingkatkantor pemerintah Gubernur Maluku. Kondisi demikian, terutama disebabkan selain terbatasnya sumberdaya manusia yang dapat mendisain dan khususnya mengoperasikan mekanisme dimaksud, juga karena kekurang-pedulian pemerintah daerah masing-masing untuk memfasilitasi terbentuknya suatu sistem yang transparan dan akuntabel bagi kepentingan layanan publik. Apabila mekanisme manajemen pembangunan dalam konteks di atas tidak segera diadakan, maka kondisi tersebut akan semakin membuka ruang dan peluang bagi kemungkinan penyelewengan dan atau kolusi, korupsi dan nepotisme, serta kurang membantu untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas layanan publik yang inklusif dan demokratis.
Analisis capaian kabupaten/kota yang telah memiliki Perda Transparansi
Peraturan daerah tentang transparansi merupakan hal yang penting untuk memfasilitasi manajemen pembangunan daerah yang inklusif dan akuntabel. Namun sampai saat ini, tidak dijumpai satupun peraturan daerah dalam lingkup provinsi Maluku yang mengakomodasi kepentingan dimaksud. Kondisi demikian tentu akan berdampak pada interaksi lembaga pemerintahan daerah dengan publik, di mana kemungkinan penyelewengan kekuasaan dapat saja terjadi sebagai akibat tidak tersedianya landasan hukum. Selain itu, tidak tersedianya peraturan daerah dimaksud, menyebabkan standar-standar atau indikator-indikator tentang transparansi tidak juga tersedia, sehingga membuka ruang bagi setiap orang untuk mendefinisikan apa yang dimaksudkan dengan transparansi menurut kemauan dan kepentingan setiap orang.
3. Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disampaikan beberapa hal sebagai rekomendasi kebijakan sebagai berikut.
a. Penanganan dan penyelesaian kasus korupsi masih perlu untuk dilakukan secara lebih baik. Berdasarkan hal tersebut maka selain kebijakan pimpinan untuk menyelesaikan segala kasus korupsi yang telah diterima, perlu juga untuk menyediakan anggaran khusus untuk menangani berbagai kasus korupsi yang ada pada kabupaten/kota yang jaraknya cukup jauh dari wilayah Provinsi Maluku.
b. Dalam upaya meningkatkan kinerja pembangunan daerah maka perlu untuk mendorong peningkatan koordinasi dan sinkronisasi lintas institusi pemerintahan, termasuk memperdalam pemahaman dari substansi berpemerintahan yang berbasis pada otonomi daerah dan desentralisasi terutama pada tingkat kabupaten/kota. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengakselerasi pengembangan Peraturan Daerah Pelayanan Satu Atap yang memungkinkan masyarakat dapat memperoleh pelayanan secara cepat, tepat dan murah.
B. Pendidikan
Dalam menganalisis tentang evaluasi kinerja pembangunan daerah yang berkaitan dengan prioritas nasional pendidikan terdapat empat indikator yang menjadi bagian dari analisis tersebut. Indikator-indikator tersebut adalah rata-rata lama sekolah, angka partisipasi murni, angka partisipasi kasar, dan angka melek aksara 15 tahun ke atas. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pencapaian indicator yang dimaksud dan penyampaian rekomendasi.
1. Indikator
1.1. Rata-rata Lama Sekolah
Berdasarkan identifikasi data rata-rata lama bersekolah usia 15 tahun ke atas Provinsi Maluku sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 3 yang merupakan hasil identifikasi dari data BPS Provinsi Maluku.
Tabel 3. Lama Waktu Bersekolah Tahun Lama Waktu
Bersekolah 2006 8.60 2007 8.60 2008 8.60 2009 8.63 2010 8.75
Selanjutnya data pada Tabel 3 dapat ditunjukkan dengan menggunakan grafik pada Gambar 3 berikut ini.
Gambar 3. Grafik Rata-Rata Lama Bersekolah
Berdasarkan Tabel 3 dan Gambar 3 terlihat bahwa rata-rata lama bersekolah mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir, yaitu pada tahun 2009 dan tahun 2010 masing-masing dari 8,60 tahun 2008 menjadi 8,63 tahun 2009 dan 8,75 pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa capaian indikator rata-rata lama bersekolah 15 tahun ke atas di Provinsi Maluku sudah menunjukkan ada perbaikan walaupun belum mencapai 100 persen tetapi masih lebih tinggi dari capaian nasional.
1.2. Angka Partisipasi Murni (SD/MI)
Berdasarkan identifikasi data Angka Partisipasi Murni untuk Provinsi Maluku sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 sebagaimana diperlihatkan dengan Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Angka Partisipasi Murni SD/MI Tahun Provinsi 2004 93,46 2005 92,93 2006 92,4 2007 94,37 2008 95,48 2009 97,03 2010 95,00
Sumber data: Dikpora dan BPS Provinsi Maluku
Selanjutnya data pada Tabel 4 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 4 berikut ini.
Gambar 4. Grafik Indikator APM SD/MI Provinsi Maluku
Berdasarkan Tabel 4 dan Gambar 4 terlihat bahwa angka capaian APM Provinsi Maluku mengalami penurunan dari 93,46 persen tahun 2004 menjadi 92,4 persen pada tahun 2006 atau menunjukan tren penurunan sebesar 0,53 persen setiap tahun sampai tahun 2006, sebaliknya telah mengalami peningkatan dari 92,4 persen tahun 2006 menjadi 95,00 persen tahun 2010 atau mengalami peningkatan sebesar 1,11-1,97 % (data Tabel 4). Berdasarkan data tersebut bahwa penurunan APM SD/MI masing-masing 0,53 persen dari tahun 2004 – 2006 disebabkan karena jumlah anak usia 7-12 tahun yang sedang bersekolah pada jenjang SD/MI mengalami penurunan sebesar 0,53 persen setiap tahun (2004 – 2006). Penurunan tersebut disebabkan oleh pengaruh dari dampak kerusuhan Maluku dimana kondisii
keamanan masih belum stabil. Banyak anak yang eksodus keluar daerah Maluku mengikuti orang tua atau banyak pula anak usia tersebut yang belum disekolahkan oleh orang tua mereka karena tidak kondusifnya keamanan saat itu. Setelah tahun 2006 seiring dengan membaiknya kondisi keamanan di Provinsi Maluku dan banyaknya lembaga-lembaga swadaya (NGO) dalam maupun luar negeri turut berpartisipasi merestorasi pembangunan pasca kerusuhan, sehingga berdampak kepada kenaikan APM SD/MI yang cukup tinggi yaitu antara 1,11 – 1,97 persen. Namun tahun 2010 APM SD/MI kembali terkoreksi sebesar 1,97 persen yaitu dari 97,03 menjadi 95,00 persen. Hal ini terjadi karena ada koreksi dalam perhitungan angka capaian.
1.3. Angka Partisipasi Kasar (SD/MI)
Berdasarkan data hasil identifikasi Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk Provinsi Maluku sejak tahun 2004 sampai dengan 2010 ditunjukkan pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Angka Partisipasi Kasar SD/MI
Tahun Angka Partisipasi Kasar (APK) 2004 97,4 2005 106,8 2006 109,9 2007 116,36 2008 114,35 2009 112,58 2010 98,49
Sumber data: Dinas Dikpora & BPS ProMal
Selanjutnya data pada Tabel 5 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 5 berikut ini.
Gambar 5. Grafik APK SD/MI Provinsi Maluku
Berdasarkan Gambar 5 dan Tabel 5 terlihat bahwa data angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI tahun 2009 telah mencapai 112,58 persen, secara signifikan lebih tinggi dibandingan dengan capaian APM tahun yang sama yang baru mencapai 97,03 persen. Hal itu menunjukkan banyaknya siswa yang berusia di bawah tujuh tahun (undergrate) dan di atas 12 tahun (overage). Hal ini dimungkinkan karena pasca kerusuhan Maluku ada usaha dari berbagai pihak untuk mengatasi problem-problem pembangunan pendidikan di Maluku sehingga mendorong banyak anak yang berada dibawah usia 7 tahun telah bersekolah SD/MI maka jumlahnya terus meningkat terutama di kota Ambon dan kota-kota kabupaten di Maluku. Di samping itu, adanya anak-anak usia di atas 12 tahun yang masih bersekolah di SD/MI, hal ini disebabkan oleh dua kemungkinan. Pertama, anak-anak itu masuk SD/MI di atas usia tujuh tahun, dan kedua, adanya anak-anak yang mengulang kelas, sehingga mereka baru dapat menyelesaikan SD/MI pada usia di atas 12 tahun.
Di lain pihak grafik pada Gambar 5 memperlihatkan ada penurunan APK SD/MI pada dua tahun terakhir (2008 dan 2010), hal ini disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu dimana lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang selama masa pasca kerusuhan melakukan advokasi kepada masyarakat telah mengakhiri kegiatannya, dan adanya gelombang krisis ekonomi yang melanda negeri ini sehingga menyebabkan banyak anak yang dropout terutama yang mengulang kelas.
1.4. Angka melek aksara 15 tahun ke atas
Berdasarkan hasil identifikasi data angka melek aksara 15 tahun ke atas untuk Provinsi Maluku sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2010, ditunjukkan dengan Tabel 6 berikut ini.
Tabel 6. Angka Melek Aksara >15 Tahun
Tahun Angka Melek Aksara > 15 Tahun 2004 91,00 2005 91,50 2006 91,70 2007 92,00 2008 98,12 2009 98,69 2010 98,14
Sumber data: Dinas Dikpora dan BPS Provinsi Maluku
Selanjutnya data pada Tabel 6 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 6 berikut ini.
Gambar 6. Grafik angka melek aksara > 15 tahun
Berdasarkan Tabel 6 dan Gambar 6 terlihat bahwa angka melek aksara 15 tahun ke atas mengalami kenaikan yang cukup berarti dari tahun 2004 hingga tahun 2010. Hal ini
Rata-rata lama bersekolah Provinsi Maluku; target tahun 2010 untuk Maluku adalah 9,91 % dan Nasional adalah 9,00%, capaian tahun 2010 adalah 8,75 %. Hal ini disebabkan adanya pengaruh faktor-faktor: kondisi keterisolasian geografis, kultur masyarakat yang merasa cukup jika sudah mampu membaca dan menulis, kemiskinan, dan keamanan.
menunjukkan bahwa capaian indikator angka melek huruf 15 tahun ke atas di Provinsi Maluku tergolong tinggi walaupun belum mencapai 100 persen dan masih lebih tinggi dari capaian nasional. Angka melek huruf di Provinsi Maluku terlihat makin membaik karena cenderung naik setiap tahun dari tahun 2004 sampai tahun 2009, namun pada tahun 2010 sedikit mengalami penurunan tetapi sudah lebih tinggi dari angka target yang ditetapkan. Seperti yang terlihat Tabel 6, angka melek huruf naik tajam dari tahun 2008 sampai tahun 2009, mencapai 98,69%, turun pada tahun 2010 menjadi 98,14.
2. Analisis Pencapaian Indikator
Analisis Capaian Rata-Rata Lama Bersekolah
Rata-rata lama bersekolah usia 15 tahun ke atas yang dicapai untuk Provinsi Maluku berdasarkan identifikasi data BPS Provinsi Maluku tahun 2010 adalah 8,75 persen (Tabel 3). Berdasarkan target indikator capaian untuk rata-rata lama bersekolah usia 15 tahun ke atas yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013, bahwa target untuk tahun 2010 adalah 9,91 persen, sedangkan yang ditetapkan dalam RPJMN adalah 9,00 persen. Memperhatikan capaian kinerja rata-rata lama bersekolah dalam 5 tahun terakhir terlihat ada peningkatan namun angka capaian tahun 2010 ini masih lebih rendah 1,16 persen dari angka target yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013 dan 0,25 dari target RPJMN 2010 - 2014.
Dilihat dari trend angka capaian dalam lima tahun ini menunjukan kenaikan terutama dalam dua tahun terakhir yaitu tahun 2008 ke tahun 2009, dan tahun 2009 ke tahun 2010, kenaikan tersebut terdorong oleh perbaikan terhadap faktor-faktor internal maupun eksternal meliputi, adanya program wajib belajar 12 tahun di Provinsi Maluku yang diberlakukan sejak tahun 2008, pemberian beasiswa untuk siswa miskin, kondisi sosial kemasyarakatan dan keamanan yang semakin baik. Trend kenaikan angka capaian rata-rata lama bersekolah ini sejalan dengan kenaikan pada capaian angka partisipasi murni SD dari 94,39 pada tahun 2009 menjadi 94,89 tahun 2010, angka partisipasi kasar SD dari 112,58 pada tahun 2009 menjadi 112,95 pada tahun 2010 maupun angka melek aksara 15 tahun ke atas dari 94,14 pada tahun 2009 menjadi 99,48 pada tahun 2010.
Angka partisipasi murni (APM) SD/MI Provinsi Maluku; target tahun 2010 adalah 96,82 %, capaian tahun 2010 adalah 95,00 %. Hal itu berarti bahwa masih ada 5% anak usia 7-12 tahun yang tidak bersekolah, diantaranya 22,8% (10.407 anak) yang tidak atau belum pernah bersekolah, sisanya tidak bersekolah lagi. Paling sedikit ada lima alasan mengapa mereka tidak bersekolah lagi: 1) kemisikinan (tekanan ekonomi keluarga), 2) keterisolasian geografis, 3) kurangnya bangunan sekolah, 4) lemahnya manajemen pengelolaan dan penyaluran dana BOS, dan 5) masih banyak pungutan diluar biaya resmi.
Walaupun telah memperlihatkan adanya trend yang meningkat namun demikian, sesungguhnya angka capaian rata-rata lama bersekolah tahun 2010 masih lebih rendah 1,16 % dari target yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Maluku tahun 2008-2013. Walaupun secara kuantitatif jumlah sarana dan prasarana pendidikan seperti gedung sekolah terutama SD sudah terdapat pada semua desa di Maluku, kendala geografis kepulauan yang sulit untuk dijangkau, maka anak yang telah menamatkan sekolah pada jenjang SD tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMP dan/atau ke jenjang SMA, karena di pulaunya tidak dibangun SMP atau SMA sebab jumlah rombongan belajar yang sedikit, sedangkan akses ke sekolah SMP atau SMA jauh dan harus menyeberang ke pulau lain sehingga mereka sebagian besar tidak dapat bersekolah lagi. Kondisi yang demikian mempengaruhi animo anak-anak usia sekolah pada desa-desa di pulau terpencil untuk bersekolah. Di lain pihak masyarakat melihat bahwa dengan kondisi keterisolasian yang demikian membentuk opini, “yang penting sudah mengenal huruf atau sudah tahu membaca dan menulis”, karena pendidikan yang tinggi akan tidak bermanfaat bagi mereka, dan tidak dapat dipakai untuk mendapat pekerjaan di desanya. Pekerjaan yang menjadi mata pencaharian utama mereka adalah petani dan nelayan tradisional,sehingga tidak memerlukan ketrampilan tertentu atau syarat pendidikan tertentu. Kultur masyarakat perdesaan yang hidup dalam kondisi terisolasi antar pulau demikian yang menyebabkan masih sulitnya pencapaian target rata-rata lama bersekolah yang ditetapkan, disamping faktor tingkat kemiskinan yang masih tinggi, penyalahgunaan dana BOS, dan kondisi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif.
Analisis Capaian APM SD/MI Tahun 2010
Angka partisipasi murni (APM) SD/MI untuk pencapaian Provinsi Maluku berdasarkan identifikasi data BPS dan dinas DIKPORA Provinsi Maluku tahun 2010 adalah 95,00 persen. Berdasarkan target indikator capaian untuk angka partisipasi murni (APM) SD/MI yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013, bahwa target untuk tahun 2010 adalah 96,82 persen. Memperhatikan capaian kinerja
partisipasi murni (APM) SD/MI dalam tahun 2010 terlihat ada pencapaian yang lebih rendah dibanding dengan target yang ditetapkan dalam RPJMD, bahkan lebih rendah dari pencapaian pada awal pelaksanaan RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013.
Data APM SD/MI tahun 2004 – 2006 menunjukan adanya penurunan, itu disebabkan karena jumlah anak usia 7 -12 tahun yang sedang bersekolah pada jenjang SD/MI mengalami penurunan sebesar 0,53 persen setiap tahun (2004 – 2006). Penurunan tersebut disebabkan oleh pengaruh dari dampak kerusuhan Maluku dimana kondisi keamanan masih belum stabil. Banyak anak yang eksodus keluar daerah Maluku mengikuti orang tua atau banyak pula anak usia tersebut yang belum disekolahkan oleh orang tua mereka karena tidak kondusifnya keamanan saat itu. Setelah tahun 2006 seiring dengan membaiknya kondisi keamanan di Maluku dan banyaknya lembaga-lembaga swadaya (NGO) dalam maupun luar negeri turut berpartisipasi merestorasi pembangunan pasca kerusuhan, sehingga berdampak kepada kenaikan APM SD/MI yang cukup tinggi yaitu antara 1,11 – 1,97 persen.
Kondisi perbaikan APM SD/MI ini juga dipengaruhi antara lain oleh perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan komitmen alokasi anggaran pendapatan dan belanja daerah sebesar 20 persen untuk pendidikan sesuai dengan amanat UUD 1945 perubahan.
Angka capaian APM 95 % pada tahun 2010 dibandingkan dengan capaian tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 2.03% atau ada 4.225 anak yang berhenti bersekolah atau belum bersekolah. Faktor-faktor penyebabnya akan diterangkan bersamaan dengan asumsi selisih APM yang belum dicapai sampai dengan tahun 2010. Memang jika diperhatikan bahwa angka capaian 95 % sebenarnya merupakan angka yang cukup tinggi, namun jika disimak dan dianalisis dengan seksama dari selisih antara yang telah dicapai dengan yang seharusnya maka dapat dikatakan bahwa sesungguhnya masih ada 5% anak yang belum bersekolah atau tidak bersekolah lagi. Angka 5% merupakan angka yang masih cukup besar dan masih memprihatinkan jika melihat bahwa jumlah anak usia 7 – 12 tahun pada tahun 2010 mencapai 246.019 orang (BPS Maluku 2011), maka dipastikan ada anak yang masih belum menikmati pendidikan pada tingkat SD/Mi ada sekitar 12.300 orang. Belum menikmati pendidikan dapat terjadi karena pada usia tersebut ada yang belum pernah bersekolah dan atau sudah tidak bersekolah lagi. Dari jumlah tersebut (12.300), yang belum pernah bersekolah ada 2.375 anak atau 19,30 %, sisanya 80,70 % atau sekitar 9.225 anak adalah yang masuk dalam kategori tidak bersekolah lagi atau putus sekolah. Indikator menurunnya APM SD/MI di Provinsi Maluku mengindikasikan ada penurunan tingkat
Angka partisipasi kasar (APK) SD/MI Provinsi Maluku; target tahun 2010 adalah 116,32 %, capaian tahun 2010 adalah 98,49 %. Penurunan Angka capaian yang jauh dari target berkorelasi dengan penurunan indicator lain seperti APM, rata-rata lama bersekolah, angka melek aksara, dan kemiskinan. Tidakterlihat upaya yang sistematis untuk meningkatkan APK maupun APM. Beberapa alas an turunnya APK antara lain adanya disparitas mutu layanan dan sarana dan prasarana pendidikan, kemampuan menajemen personalia, hambatan geografi, moral hazard dari penyeleng-gara pendidikan, serta tingkat kemiskinan yang masih cukup tinggi
partisipasi atau aksesibilitas anak Maluku terhadap pendidikan turun.
Ada beberapa faktor yang menjadi alasan mengapa mereka tidak bersekolah lagi antara lain adalah : 1) kemiskinan yaitu adanya tekanan ekonomi keluarga, dimana anak terpaksa tidak kesekolah karena harus membantu orang tua memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga; 2) keterisolasian geografis dimana wilayah Maluku 90 % merupakan wilayah lautan sedangkan daratannya berlembah dan berbukit menyebabkan kondusivitas proses pembelajaran yang rendah dan aksesibilitas terhadap informasi juga menjadi rendah serta menyebabkan pengeluaran terhadap komponen biaya pendidikan menjadi lebih tinggi; 3) kurangnya bangunan sekolah dimana jumlah sekolah dasar (SD) dimana sampai dengan tahun 2010 tercatat ada 1.652 sekolah, namun bangunan yang tersedia hanya 1.474 buah; 4) lemahnya manajemen penyaluran dan pengelolaan dana BOS dimana banyak dana tersebut yang salah sasaran bahkan cenderung salah digunakan dan ini merupakan suatu anomali; 5) masih banyaknya pungutan kepada siswa diluar pungutan resmi sehingga satuan biaya pengeluaran untuk pendidikan menjadi besar menyebabkan ada orang tua yang tidak mampu menanggung tekanan beban biaya tersebut sehingga anaknya terpaksa harus berhenti bersekolah.
Di lain pihak dengan indikator APM ini dapat memberikan petunjuk bahwa selain aksesibilitas anak Maluku terhadap pendidikan menurun, terdapat juga kesenjangan dan ketidakmerataan anak di Maluku dalam menikmati pendidikan yang berkualitas. Pemerintah Provinsi Maluku ternyata belum mampu memenuhi program wajib enam tahun apalagi wajib belajar Sembilan tahun.
Analisis Capaian APK SD/MI Tahun 2010
Target kinerja pencapaian angka patisipasi kasar (APK) SD/MI Provinsi Maluku tahun 2010 yang ditetapkan dalam RPJMD tahun 2008 – 2013 adalah sebesar 116,32 %, dan berdasarkan hasil identifikasi data dari BPS dan Dinas DIKPORA Provinsi Maluku tahun 2010 adalah sebesar 98,49 %. Mempehatikan capaian kinerja
APK 2010 menunjukan adanya penurunan yang cukp tajam dibandingkan dengan capaian pada tahun 2009,(Gambar 5), bahkan jauh lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam RPJMD 2008 – 2013 Provinsi Maluku.
Memperhatikan data capaian APK SD/MI tahun 2004 – 2007 menunjukan adanya trend peningkatan yang bagus, hal itu dapat dimaklumi karena kondisi saat itu dimana semua perhatian masyarakat maupun pemerintah bahkan dunia internasional ditujukan ke Maluku sehubungan dengan upaya membangkitkan kembali rasa percaya diri masyarakat pasca kerusuhan sehingga ada banyaknya anak yang berusia di bawah tujuh tahun (undergrate) dan di atas 12 tahun (overage) yang bersekolah pada jenjang SD/MI. Saat itu banyak anak yang terpaksa meninggalkan kelasnya sehingga banyak yang harus mengulang kelas sehingga mereka telah overage untuk jenjang itu. APK yang tinggi saat itu karena semua elemen dan institusi baik nasional maupun internasional memusatkan perbantuannya untuk Maluku, namun lain halnya setelah itu.
Memperhatikan grafik 10, ada hal menarik yang diperlihatkan yaitu adanya trend penurunan angka capaian partisipasi kasar (APK) pada jenjang SD/MI yang mulai terjadi tahun 2008 dan terus sampai tahun 2010. Penurunan ini justru dimulai bersamaan dengan dimulainya pelaksanaan RPJMD Maluku 2008-2013. Sebagaimana diketahui bahwa APK merupakan ukuran yang menggambarkan upaya pemerataan dan perluasan akses pendidikan sehingga dapat dibilang dengan membaca angka ini maka pertanyaan apakah telah terjadi kemerataan atau kesenjangan dalam akses pendidikan oleh masyarakat pada suatu wilayah dapat dijawab. Fakta yang menunjukkan penurunan ini berkorelasi dengan indikator-indikator lain seperti rata-rata lama bersekolah yang masih rendah, APM yang juga turun dan masih dibawah target, angka melek aksara yang turun, dan tingkat kemiskinan yang masih cukup tinggi (± 23%).
Upaya pemerataan dan perluasan akses pendidikan di Maluku nampaknya masih mengalami kemunduran karena tidak terlihat upaya-upaya yang sistematis untuk mempertahankan APK maupun APM. Adanya disparitas mutu layanan dan sarana pendidikan yang besar diantara kabupaten dan kota di Maluku, kualitas manajemen personalia yang rendah (banyak orang yang “the wrong man on the right place”, karena punya hubungan baik dengan pejabat dikabupaten/kota), kemampuan manajemen personalia dalam perencanaan dan pengumpulan informasi serta komunikasi yang rendah di kabupaten dan kota di Maluku, hambatan geografis yang menyebabkan kesenjangan dalam mengakses pendidikan, adanya moral hazard diantara penyelenggara proyek-proyek pendidikan
Angka melek aksara 15 tahun ke atas Provinsi Maluku; target tahun 2010 adalah 97,89 %, capaian tahun 2010 adalah 98,14 %. Hal ini disebabkan makin banyak anak usia SD/Mi yang bersekolah dan menamatkan studinya.
sehingga banyak proyek yang salah sasaran misalnya dalam penyaluran dana BOS atau proyek lainnya, dan tingkat kemiskinan masyarakat yang masih cukup tinggi. Semuanya ini merupakan akumulasi dari kemunduran dalam pencapaian relevansi dan aksesibilitas pendidikan di Maluku yang berdampak pada penurunan APK dan indikator lainnya.
Analisis Capaian Angka Melek Aksara 15 Tahun Ke Atas
Target kinerja pencapaian angka melek aksara 15 tahun ke atas Provinsi Maluku tahun 2010 yang ditetapkan dalam RPJMD tahun 2008 – 2013 adalah sebesar 97,89%. Berdasarkan hasil identifikasi data dari BPS dan Dinas DIKPORA Provinsi Maluku tahun 2010 bahwa angka melek huruf 15 tahun ke atas adalah sebesar 98,14 %. Mempehatikan capaian kinerja APK 2010 menunjukan adanya sedikit penurunan dibandingkan dengan capaian pada tahun 2009, tetapi sudah melampaui dari target yang ditetapkan dalam RPJMD 2008 – 2013 Provinsi Maluku.Hal ini menunjukkan bahwa capaian indikator angka melek aksara 15 tahun ke atas di Provinsi Maluku tergolong tinggi walaupun belum mencapai 100 persen dan masih lebih tinggi dari capaian nasional.
Faktor penting penyebab naiknya angka melek aksara di Provinsi Maluku adalah makin banyaknya anak-anak usia SD/MI yang bersekolah dan menamatkan studi. Hal ini terlihat dari angka APM SD/MI yang naik dan Angka Putus Sekolah yang menurun.
3. Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan hasil capaian indikator maka dapat disimpulkan bahwa kinerja di bidang pembangunan pendidikan sudah relevan dengan kebijakan prioritas pembangunan bidang ini secara nasional. Efektifitas pembangunan juga sudah menunjukan perbaikan namun ada indikator yang belum mencapai target baik provinsi maupun nasional. Dengan demikian direkomendasikan sebagai berikut:
a. Perlu dilakukan peningkatan perhatian kebijakan pembangunan di bidang pendidikan oleh Pemerintah Daerah Maluku yang diarahkan ke pedesaan dan daerah pesisir yang terisolir;
b. Diperlukan perencanaan dan penentuan program-program pengembangan kualitas sumberdaya manusia yang diarahkan ke sejumlah pulau (daerah) yang masih terisolir
yang menyebabkan sebagian penduduk belum mendapat pelayanan dasar yang memadai terutama pendidikan dan kesehatan;
c. Mendorong berkembangnya sektor-sektor riel yang mendorong meningkatnya IPM maluku sampai ke daerah terpencil dan terisolasi.
C. Kesehatan
Dalam menganalisis tentang evaluasi kinerja pembangunan daerah yang berkaitan dengan prioritas nasional kesehatan terdapat empat indikator yang menjadi bagian dari analisis tersebut. Indikator-indikator tersebut adalah angka kematian bayi, angka harapan hidup, persentase penduduk ber-kb (contraceptive prevalence rate), dan laju pertumbuhan penduduk. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pencapaian indicator yang dimaksud dan penyampaian rekomendasi
1. Indikator
1.1. Angka Kematian Bayi
Berdasarkan identifikasi data angka kematian bayi Provinsi Maluku sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 7 yang merupakan hasil identifikasi dari laporan program Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.
Tabel 7. Capaian indikator Angka Kematian Bayi Tahun Angka Kematian Bayi (AKB) 2004 48 2005 48 2006 49,5 2007 49 2008 10 2009 9 2010 13.3
Sumber data: Dinas Kesehatan Maluku
Selanjutnya data pada Tabel 7 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 7 berikut ini.
Gambar 7. Grafik Angka Kematian Bayi
Berdasarkan Gambar 7 dan Tabel 7 di atas terlihat bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Maluku pada tiga tahun terakhir rata-rata sangat baik, namun terjadi peningkatan lagi pada tahun 2010 yaitu 13,3 per seribu kelahiran hidup dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Semakin tinggi angka kematian bayi mengindikasikan adanya kegagalan pelaksanaan program bidang kesehatan. AKB Maluku pada awal pelaksanaan RPJMN adalah sebesar 48 orang per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan grafik pada Gambar 7 menunjukkan terjadinya penurunan AKB sejalan dengan makin membaiknya asupan gizi masyarakat yang bergerak naik secara perlahan, sehingga berakibat kepada menurunnya angka gizi buruk penduduk.
1.2. Angka Harapan Hidup
Data identifikasi usia harapan hidup (UHH) Provinsi Maluku tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 8 merupakan hasil identifikasi dari laporan program dinas kesehatan Provinsi Maluku.
Tabel 8. Data Usia Harapan Hidup (UHH) Tahun Usia Harapan Hidup (UHH) 2004 66,2 2005 66,2 2006 66,6 2007 67,5 2008 67,7 2009 67,20 2010 67,40
Sumber data: Dinas Kesehatan & BPS Maluku
Selanjutnya data pada Tabel 8 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 8 berikut ini.
Gambar 8. Grafik Usia Harapan Hidup
Umur harapan hidup merupakan indikasi keberhasilan pembangunan bidang kesehatan. Semakin baik tingkat kesehatan masyarakat maka umur harapan hidup akan semakin tinggi. Umur harapan hidup penduduk Maluku pada awal RPJMN adalah 66,2 tahun. Angka ini mengalami peningkatan selama lima tahun pelaksanaan RPJMN di Maluku sehingga pada tahun 2010 umur harapan hidup penduduk Maluku telah mencapai 67,40 tahun mengalami kenaikan 0,2 tahun (Gambar 8 dan Tabel 8). Angka ini lebih rendah
dibandingkan dengan tahun 2007 dan 2008, dan juga masih lebih rendah dari umur harapan hidup nasional.
1.3. Persentase penduduk ber-KB (contraceptive prevalence rate)
Data identifikasi persentase penduduk ber KB (contraceptive prevalence rate) Provinsi Maluku tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 9 merupakan hasil identifikasi dari laporan program BKKBN Provinsi Maluku.
Tabel 9. Persentase Penduduk Ber-KB Tahun Persen Penduduk Ber‐KB 2004 39 2005 39,78 2006 63,69 2007 67,35 2008 79,00 2009 79,00 2010 34.1
Sumber data: BKKB Provinsi Maluku
Selanjutnya data pada Tabel 9 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 9 berikut ini.
Gambar ... Grafik Persentasi Penduduk ber-KB Gambar 9. Persentase penduduk ber-KB
Berdasarkan Gambar 9 dan Tabel 9 terlihat bahwa capaian indikator persentase penduduk ber-KB di Provinsi Maluku dari 2004 – 2009 menunjukan peningkatan dari tahun ke tahun di atas capaian nasional. Peningkatan angka capaian dari tahun 2004 ke 2009 mencapai 40 %, suatu angka capaian yang spektakuler. Berdasarkan target RPJMN 2004 – 2009 angka kesertaan penduduk ber-KB adalah 67,5 persen dan target untuk 2015 adalah 71 persen. Kedua target secara nasional telah terlampaui di Provinsi Maluku. Namun kenyataan data yang ditunjukkan pada tahun 2010, ada koreksi yang luar biasa dari hasil SDKI 2007 menjadi 34,1 persen sehingga membuat grafik turun curam.
1.4. Laju pertumbuhan penduduk
Data identifikasi laju pertumbuhan penduduk (LPP) Provinsi Maluku tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 sebagaimana ditunjukkan pada tabel 10 merupakan hasil identifikasi dari data BPS dan laporan program BKKBN Provinsi Maluku.
Tabel 10. Data Persentase LPP Tahun Persen LPP 2004 2,55 2005 2,55 2006 2,59 2007 1,44 2008 2,44 2009 1,8 2010 2,78
Sumber data: BKKBN Provinsi Maluku
Selanjutnya data pada Tabel 10 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 10 berikut ini.
Angka kematian bayi Provinsi Maluku; target tahun 2010 adalah 45 per 1000 kelahiran hidup, capaian tahun 2010 adalah 13,3 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini disebabkan adanya peningkatan pelayanan kesehatan penduduk miskin dan layanan kesehatan ibu hamil dan melahirkan.
Gambar 10. Grafik Persentasi LPP Provinsi Maluku
Berdasarkan Gambar 10 dan Tabel 10 terlihat pada periode tahun 2004 – 2010 laju pertumbuhan penduduk Maluku bertumbuh sebesar rata-rata 2,31 %. Laju Pertumbuhan penduduk Provinsi Maluku selama kurun waktu 2000 – 2010 atau selama sepuluh tahun terakhir sebesar 2,90 % (BPS Provinsi Maluku). Memperhatikan grafik laju pertumbuhan terlihat pertumbuhan penduduk tahunan mengalami fluktuasi mulai tahun 2006 sampai dengan 2010 Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi ini dipengaruhi oleh kembalinya penduduk yang sebelumnya mengungsi ke provinsi lain akibat konflik sosial dan juga adanya pemekaran daerah kabupaten/kota. Laju pertumbuhan penduduk juga merupakan indikator utama untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program keluarga berencana dalam analisis ini. Pelaksanaan program pembangunan bidang keluarga berencana dapat dikatakan berhasil apabila laju pertumbuhan penduduk mengalami penurunan.
2. Analisis Pencapaian Indikator Analisis Capaian AKB tahun 2010.
Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup untuk Provinsi Maluku berdasarkan identifikasi data laporan program dari dinas kesehatan Provinsi Maluku, diketahui bahwa capaian indikator angka kematian bayi tahun 2010 adalah 13,3 per 1000 kelahiran hidup (Tabel 7). Berdasarkan target indikator capaian untuk AKB yang
Angka usia harapan hidup Provinsi Maluku; target tahun 2010 adalah 68,5 tahun, capaian tahun 2010 adalah 67,4 tahun. Hal ini sebabkan adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan perbaikan kesejahteraan masyakat.
ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013, bahwa target untuk tahun 2010 adalah 45 per 1000 kelahiran hidup. Memperhatikan capaian kinerja angka kematian bayi Provinsi Maluku sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2010 memperlihatkan keberhasilan yang luarbiasa yaitu turun dari 48 per 1000 KH pada tahun 2004 menjadi 13,3 per 1000 KH pada tahun 2010. Hasil capaian kinerja ini telah jauh melampuai target kinerja penurunan AKB Provinsi Maluku yang ditetapkan sampai dengan tahun 2013 yang merupakan tahun terakhir masa RPJMD 2008 – 2013, yaitu sebesar 42 per 1000 KH. Capaian kinerja ini bahkan telah jauh melampaui target pencapaian nasional yaitu 35 per 1000 KH maupun target MDG’s yaitu 25 per 1000 KH.
Penurunan AKB ini mengindikasikan ada keberhasilan yang ditunjukkan dengan adanya keberhasilan pencapaian sasaran-saran program pembangunan bidang kesehatan, sebagaimana yang tertuang dalam RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013, misalnya program peningkatan pelayanan kesehatan penduduk miskin di Puskemas jaringannya sehingga memungkinkan tersedia layanan kesehatan yang memadai bagi ibu hamil dan melahirkan.
Berdasarkan grafik pada Gambar 7 menunjukkan terjadinya penurunan AKB sejalan dengan makin membaiknya asupan gizi masyarakat yang bergerak naik secara perlahan, sehingga berakibat kepada menurunnya angka prevalensi gizi buruk penduduk.
Analisis Capaian UHH Tahun 2010
Angka usia harapan hidup ber-dasarkan identifikasi data laporan program dinas kesehatan dan BPS Provinsi Maluku, ditahui bahwa capaian indikator angka usia harapan hidup tahun 2010 adalah 67,40 tahun (Tabel 8). Berdasarkan target indikator capaian untuk UHH yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013, bahwa target untuk tahun 2010 adalah 68,5 tahun. Memperhatikan capaian kinerja angka usia harapan hidup Provinsi Maluku sejak tahun 2010 memperlihatkan pencapaian masih dibawah target provinsi tapi telah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 0,2 tahun.
Kondisi capaian demikian mengindikasikan bahwa pelaksanaan program pembangunan kesehatan di provinsi Maluku telah berjalan dengan baik, berbagai program bidang kesehatan yang telah dilaksanakan antara lain seperti program obat dan perbekalan kesehatan, program upaya kesehatan masyarakat, program promosi kesehatan dan
Angka persentase penduduk berKB (CPR) Provinsi Maluku; tidak ada target yang ditetapkan dalam RPJMD Maluku, sedang target yang ditetapkan secara nasional sampai dengan tahun 2014 adalah 65 %, capaian tahun 2010 untuk Provinsi Maluku adalah 34,1%, terendah dari seluruh provinsi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena program pembangunan keluarga berencana belum berjalan dengan baik dan tidak mendapat prioritas.
pemberdayaan masyarakat, program perbaikan gizi masyarakat, program pengembangan lingkungan sehat, dan program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. Di lain pihak terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi gizi buruk dan penurunan tingkat kemiskinan.
Analisis Capaian CPR Tahun 2010
Persentase Penduduk ber-KB (Contraceptive Prevalence Rate/ CPR) adalah perbandingan antara pasangan usia subur (PUS) yang menggunakan atau memakai alat kontrasepsi dengan seluruh pasangan usia subur. Berdasarkan identifikasi data dari laporan BKKBN Propinsi Maluku tahun 2010 didasarkan pada data SDKI 2007 bahwa angka capaian persentase penduduk ber KB Provinsi Maluku adalah sebesar 34,1%. Sedangkan berdasarkan target yang ditetapkan secara nasional sampai dengan 2014 angka capaian persentase penduduk ber KB adalah sebesar 65%, hal ini menunjukan bahwa capaian Maluku masih jauh dibawah target nasional dan terendah dari seluruh provinsi di Indonesia.
Kondisi tersebut menununjukan bahwa pelaksanaan program pembangunan keluarga berencana di Provinsi Maluku belum berjalan dengan baik, ini terbukti dari tidak dimaksukkannya program keluarga berencana sebagai prioritas dalam RPJMD 2008 – 2013 Provinsi Maluku, sehingga kesadaran pasangan usia subur (PUS) untuk memakai alat kontrasepsi atau mengikuti program KB masih sangat rendah yaitu hanya 34,1% terendah di Indonesia, perhatian pemerintah daerah lebih banyak diarahkan pada program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keamanan pasca kerusuhan. Memperhatikan capaian persentase penduduk berKB (CPR) Provinsi Maluku sampai dengan bulan Agustus 2011 maka target kenaikan CPR 1,1% yang ditetapkan secara nasional setiap tahun akan sulit dicapai.
Memperhatikan data pada table dan grafik diatas, bahwa capaian indicator kinerja persentase penduduk berKB pada tahun 2006 – 2009 yang menunjukkan angka pencapaian yang sangat tinggi dan sudah melampaui target nasional. Angka-angka tersebut merupakan
Angka laju pertumbuhan penduduk Provinsi Maluku; target tahun 2010 adalah 1,78 % , capaian tahun 2010 adalah 2,78%. Hal ini sebabkan PUS yang berKB rendah, ditunjukan dengan angka CPR yang hanya 34,1%, kembalinya pengungsi dan pemekaran daerah.
laporan kegiatan program dari kabupaten/kota se Maluku. Angka tersebut menunjukan bias yang sangat tinggi dibandingan dengan hasil SDKI. Diduga kabupaten/kota hanya memperhatikan dan mengejar target pencapian anggaran tanpa mengevaluasi capaian program yang riel di lapangan dan cenderung memanupulasi hasil capaian (laporan asal bapak senang). Terlihat jelas lemahnya kemampuan manajemen dan sistem pengelolaan data dan informasi tidak konsisten.
Analisis Capaian Persentase Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) 2010
Data persentase laju pertumbuhan penduduk (LPP) berdasarkan identifikasi data BKKBN Provinsi Maluku tahun 2010 diketahui bahwa capaian indikator angka laju pertumbuhan penduduk tahun 2010 adalah 2,78 % (Tabel 10). Berdasarkan target indikator capaian untuk UHH yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Maluku 2008 – 2013, target untuk tahun 2010 adalah 1,78 %. Memperhatikan capaian kinerja laju pertumbuhan penduduk Provinsi Maluku sejak tahun 2010 memperlihatkan pencapaian lebih tinggi sebesar 1% dibandingankan dengan target yang ditetapkan provinsi, dengan kata lain kinerja bidang kependudukan dan keluarga berencana masih rendah dan harus mendapat prioritas.
Sedangkan berdasarkan data BPS Laju Pertumbuhan penduduk Provinsi Maluku selama kurun waktu 2000 – 2010 atau selama sepuluh tahun terakhir sebesar 2,78 % (BPS Provinsi Maluku 2010). Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi ini dipengaruhi oleh kembalinya penduduk yang sebelumnya mengungsi ke provinsi lain akibat konflik sosial dan juga adanya pemekaran daerah kabupaten/kota.
Laju pertumbuhan penduduk juga merupakan indikator utama untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program keluarga berencana dalam analisis ini. Pelaksanaan program pembangunan bidang keluarga berencana dapat dikatakan berhasil apabila laju pertumbuhan penduduk mengalami penurunan. Dari capaian indikator kinerja persentase penduduk berKB terlihat korelasi yang sangat nyata dengan Laju pertumbuhan penduduk Maluku tahun 2010, dimana jumlah PUS yang menggunakan alat kontrasepsi atau yang ikut KB hanya 34,1% sehingga mendorong laju pertumbuhan penduduk dari 1,8 % pada 2009 menjadi 2,78 % pada tahun 2010. Melihat laju pertumbuhan penduduk yang terjadi pada tahun 2009 dan tahun 2010 maka target penurunan laju pertambahan penduduk tahun 2011
yaitu sebesar 1,59 % sulit dicapai, kecuali ada upaya ekstra dalam peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB misalnya melalui pembinaan kesertaan berKB dan peningkatan advokasi kepada stakeholder.
3. Rekomendasi Kebijakan
Capaian Indikator kesehatan belum menunjukkan relevansi yang baik dengan arah pembangunan nasional dan target indikator kinerja yang ditetapkan RPJMN maupun RPJMD Maluku. Atas dasar ini direkomendasikan sebagai berikut:
a. Pemerintah Daerah Provinsi Maluku perlu mengevaluasi dan meningkatkan kinerja yang difokuskan pada pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Puskesmas; pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Rumah Sakit; peningkatan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak serta pemberian imunisasi dasar kepada balita
b. Pemerintah daerah Provinsi Maluku perlu menetapkan fokus kebijakan pembangunan keluarga berencana dalam usaha untuk menurunkan laju pertambahan penduduk dan meningkatkan persentase penduduk berKB melalui program peningkatan kualitas dan jangkauan layananberKB; pebinaan kesertaan PUS berKB; peningkatan advokasi pada stakeholder KB dan peningkatan kemitraan dalam pelaksanaan program KB, serta penyediaan data dan informasi program kependudukan dan KB
D. Penanggulangan Kemiskinan
Dalam menganalisis tentang evaluasi kinerja pembangunan daerah yang berkaitan dengan prioritas nasional penanggulangan kemiskinan terdapat dua indikator yang menjadi bagian dari analisis tersebut. Indikator-indikator tersebut adalah persentasi kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan, persentasi penduduk miskin dan tingkat pengangguran terbuka. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pencapaian indikator yang dimaksud dan penyampaian rekomendasi.
1. Indikator
1.1. Persentase penduduk miskin
Persentase penduduk miskin tahun 2005 sampai dengan 2011 di Provinsi Maluku disajikan pada Tabel 11 berikut ini.
Tabel 11. Persentase Penduduk Miskin
Tahun
Provinsi
2006
33.04
2007
31.14
2008
29.66
2009
28.23
2010
27.74
2011
23.00
Selanjutnya data pada Tabel 11 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 11 berikut ini.
Gambar 11. Persentase Penduduk Miskin Provinsi Maluku
Persentase penduduk miskin merupakan indikator uatama yang menjadi prioritas pembangunan secara nasional, hal ini sejalan dengan tekad pemerintah yang telah meratifikasi program MDGs yang bertujuan menurunkan tingkat kemiskinan penduduk Indonesia mencapai setengahnya pada tahun 2015. Sejalan dengan program pembangunan Maluku yang difokuskan pada penanggulangan kemiskinan maka sampai dengan tahun 2011 nampak kecenderungan penurunan tingkat kemiskinan yang cukup signifikan.
Tabel 11 dan Gambar 11, memperlihatkan tren perkembangan persentase penduduk miskin di Maluku, yang menunjukkan bahwa Provinsi Maluku termasuk daerah yang memiliki
persentase penduduk miskin yang cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Persentase penduduk miskin di Provinsi Maluku pada tahun 2004 sebesar 32,13 % merupakan angka persentase kemiskinan yang sangat signifikan dibandingkan dengan persentase kemiskinan secara nasional yang hanya 16,66% pada tahun yang sama. Kemudian pada tahun 2005 menjadi 32,26 % dibandingkan dengan angka kemiskinan nasional sebesar 15,42% pada tahun 2005. Selanjutnya angka ini naik menjadi 33,04 pada tahun 2006 yakni merupakan angka yang sangat memprihatinkan dibandingkan dengan tingkat persentase kemiskinan nasional. Daerah Maluku termasuk daerah dengan penduduk miskin terbesar persentasenya pada tahun itu. Pada tahun 2007 angka kemiskinan di Maluku turun menjadi 31,14 %, dan pada tahun 2008 turun lagi menjadi 29,66 %, dan turun lagi menjadi 28,23 % pada tahun 2009. Pada tahun 2010 walaupun belum signifikan tetapi sudah terjadi penurunan mencapai 27,74 %, dan selanjutnya pada paruh waktu tahun 2011 yakni pada awal bulan Agustus 2011 angka persentase kemiskinan penduduk di Maluku turun mencapai 23 %.
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa meningkatnya kemiskinan penduduk Maluku, berawal dari terjadinya kerusuhan sosial pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2004, dimana bagian terbesar penduduk menjadi pengungsi, dan kehilangan pekerjaan akibat dari eksodusnya banyak perusahaan besar keluar dari Daerah Maluku. Pemulihan ekonomi yang berjalan lamban setelah pemulihan dari kerusuhan merupakan alasan kuat makin meningkatnya penduduk miskin di daerah ini.
1.2. Tingkat pengangguran terbuka
Tingkat pengangguran terbuka penduduk di Provinsi Maluku disajikan pada Tabel 12 berikut ini.
Tabel 12. Tingkat Pengganguran Terbuka Tahun Provinsi 2005 19.67 2006 13.72 2007 12.20 2008 11.05 2009 10.30 2010 9.97 2011 9.10
Selanjutnya data pada Tabel 12 dapat diperlihatkan secara grafik dengan menggunakan Gambar 12 berikut ini.
Gambar 12. Tingkat Pengangguran Terbuka
Berdasarkan Tabel 12 dan Gambar 12 terlihat bahwa kecenderungan indikator pengangguran terbuka menurun dari tahun ke tahun mulai tahun 2005 sampai dengan kuartal 2 tahun 2011. Tabel 12 dan Gambar 12 memperlihatkan kondisi berkurangnya pengangguran terbuka di Provinsi Maluku. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pengangguran terbuka di Provinsi Maluku berkisar pada angka 11,67 pada tahun 2004, 19,49 % pada tahun 2005 yang kemudian menjadi 11,05 % pada tahun 2008, dan pada tahun
2009 turun menjadi 10,3 %. Angka ini kemudian turun menjadi 9,97 % pada tahun 2010, dan kemudian menjadi 9,10 % pada tahun 2011. Persentase pengangguran ini merupakan angka pengangguran yang terjadi di perkotaan, sedangkan di daerah pedesaan masih berkisar diatas 13 %. Secara riil sebenarnya angka pengangguran di Provinsi Maluku masih cukup tinggi. Secara nasional persentase pengangguran terbuka adalah 9,86 pada tahun 2004 dan berfluktuasi tiap tahun yakni 14,22 pada tahun 2005 kemudian menurun menjadi sebesar 8,46 pada tahun 2008 dan menjadi 7,3 % pada tahun 2009, dan 6,9 % pada tahun 2010. Persentase pengangguran penduduk di Maluku ternyata masih lebih besar dibandingkan dengan rata-rata nasional. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa sektor informal berupa bazar ekonomi yakni usaha mikro dan usaha kecil merupakan sector andalan yang dapat menampung penduduk yang menganggur untuk berusaha dan melanjutkan kehidupannya. Hal ini tentu karena lambannya penyediaan lapangan kerja baru selama periode pemulihan kerusuhan, sehingga sebagian besar penduduk hanya mampu mencukupi kebutuhan makannya saja dan berada dalam kategori penduduk miskin.
2. Analisis Pencapaian Indikator
Pada tahun 2009 Pemerintah Daerah Provinsi Maluku menetapkan target pengurangan kemiskinan penduduk Maluku untuk tahun 2010 adalah sebesar 22,5 %, dalam kenyataan realisasi ini tidak tercapai, dan hanya mencapai 27,74 %, yang berarti masih kurang 5 %. Hal ini disebabkan terutama karena belum fokusnya program penanggulangan kemiskinan pada setiap SKPD yang melaksanakan program secara terpisah-pisah menurut versinya sendiri, juga program-program pemberdayaan masyarakat melalui PNPM yang dilakukan di seluruh kabupaten belum berjalan secara efektif di semua daerah kabupaten. Pada tahun 2010, perhatian pemerintah Daerah Provinsi Maluku untuk mengalokasikan dana penanggulangan kemiskinan sudah cukup signifikan, baik APBD maupun APBN.
Apabila dikaitkan dengan indikator pendukung lain seperti Tingkat Pengangguran Terbuka, Laju Pertumbuhan Ekonomi, dan Nilai Tukar Petani, maka dapat dijelaskan bahwa, terjadinya penurunan angka persentase penduduk miskin di Maluku sangat dipengaruhi oleh berkurangnya tingkat pengangguran penduduk, walaupun lapangan kerja utama masih pada sektor informal. Persentase tingkat pengangguran terbuka menurun dari tahun ke tahun dan pada tahun 2011 mencapai 9,10 %. Walaupun demikian laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku seperti ditunjukkan oleh grafik pada Gambar 13, menunjukkan penurunan dari tahun
ke tahun sehingga dapat merupakan kendala utama belum pulih dan belum berkembangnya perekonomian di Maluku.
Gambar 13. Grafik Hubungan Tingkat Kemiskinan Penduduk dan Faktor Pendukung Lainnya
Selanjutnya faktor pendukung indikator Nilai Tukar Petani memperlihatkan kecenderungan peningkatan dari tahun 2008 sebesar 103,07, kemudian naik menjadi 107,03 pada tahun 2009, dan kembali turun menjadi 105,25 pada tahun 2010, selanjutnya naik lagi menjadi 107,51 pada tahun 2011. Hal ini mengindikasikan bahwa menurunnya persentase tingkat kemiskinan penduduk pedesaan yang mendorong menurunnya tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku. Target penanggulangan kemiskinan di Provinsi Maluku untuk tahun 2011 ditetapkan sebesar 20,05 %, tetapi dalam kenyataan target tersebut tidak dapat tercapai dan masih pada angka 23 % di tahun 2011. Belum tercapainya angka target yang ditetapkan pemerintah provinsi, menurut Kepala Kantor BPS Maluku disebabkan oleh meningkatnya harga barang kebutuhan pokok selama periode tersebut cukup tinggi, sehingga penduduk
yang sebelumnya tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada di sekitar garis kemiskinan menjadi bergeser posisinya menjadi miskin.
Berdasarkan indikator yang dijelaskan di atas, maka upaya Pemerintah Provinsi Maluku untuk menanggulangi kemiskinan harus direncanakan secara fokus dengan mengefektifkan program-program penanggulangan yang lebih fokus dan terarah pada sasaran yang dituju, karena sering sekali terjadi penyimpangan dalam penentuan sasaran masyarakat yang harus menerima bantuan dan pendampingan. Dan yang lebih penting lagi adalah alokasi anggaran yang memadai dan ditujukan kepada penduduk miskin sesuai hasil identifikasi dan observasi yang akurat.
3. Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan analisis ketercapaian indikator kemiskinan, dapat disimpulkan bahwa baik tahun 2010 maupun tahun 2011 target capaian indikator kemiskinan belum terpenuhi; program pengurangan penduduk miskin di Provinsi Maluku tidak dipisahkan dari program pembangunan ekonomi secara umum sehingga dinilai tidak fokus; dan penduduk miskin di perdesaan masih cukup tinggi dibandingkan dengan penduduk perkotaan. Untuk lebih meningkatkan kinerja dalam penanggulangan kemiskinan di Maluku maka direkomendasikan sebagai berikut:
a. Menjadikan penanggulangan kemiskinan sebagai program prioritas yang dilaksanakan oleh semua komponen SKPD, Badan dan Lembaga di Provinsi Maluku
b. Implementasi program penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan metode yang terpadu, sinergis dan saling mendukung antara berbagai komponen.
c. Meningkatkan anggaran untuk percepatan penanggulangan kemiskinan terutama di perdesaan
E. Ketahanan Pangan
Dalam menganalisis tentang evaluasi kinerja pembangunan daerah yang berkaitan dengan prioritas nasional ketahanan pangan terdapat empat indikator yang menjadi bagian dari analisis tersebut. Indikator-indikator tersebut adalah PDRB sector pertanian, nilai tukar petani, produksi padi, dan jumlah penyuluh pertanian. Kemudian dilanjutkan dengan analisis pencapaian indicator yang dimaksud dan penyampaian rekomendasi