• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 8.1 Tata letak pabrik ... VIII-6 Gambar 9.1 Struktur organisasi perusahaan... IX-12 Gambar LA.1 Neraca Massa pada Vakum Pan 01 ... LA-2 Gambar LA.2 Neraca Massa pada Centrifugal 01 ... LA-3 Gambar LA.3 Neraca Massa pada Vakum Pan 02 ... LA-4 Gambar LA.4 Neraca Massa pada Centrifugal 02 ... LA-5 Gambar LA.5 Neraca Massa pada Mixer 01 ... LA-6 Gambar LA.6 Neraca Massa pada Mixer 02 ... LA-8 Gambar LA.7 Neraca Massa pada Vakum Pan 03 ... LA-9 Gambar LA.8 Neraca Massa pada Centrifugal 03 ... LA-10 Gambar LB.1 Neraca Energi pada Vakum Pan 01 ... LA-1 Gambar LB.2 Neraca Energi pada Vakum Pan02 ... LA-3 Gambar LB.3 Neraca Energi pada Vakum Pan 03 ... LA-4 Gambar LB.4 Neraca Energi pada Kondenser 01 ... LA-6 Gambar LE.1 Grafik Break Efen Point ... LE-22

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Beda Tebal Tempurung dari Berbagai Tipe Kelapa Sawit ... II-2 Tabel 2.2. Sifat-sifat minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit ... II-8 Tabel 2.3. Komposisi Asam Lemak ... II-9 Tabel 3.1. Neraca Massa pada Filter Press ... III-1 Tabel 3.2. Neraca Massa pada Tangki Kristalisasi ... III-1 Tabel 3.3. Neraca Massa pada Heat Exchanger ... III-2 Tabel 3.4. Neraca Massa pada Bak Penampungan ... III-2 Tabel 4.1. Neraca Panas pada Tangki RBDPO ... IV-1 Tabel 4.2. Neraca Panas pada Heat Exchanger ... IV-1 Tabel 4.3. Neraca Panas pada Tangki Kristalisasi ... IV-2 Tabel 4.4. Neraca Panas pada Bak Penampung ... IV-2 Tabel 7.1. Mutu Air Sumur Bor Besitang ... VII-4 Tabel 8.1. Perincian Luas Tanah Pabrik ... VIII-4 Tabel 9.1. Jumlah Tenaga Kerja Beserta Tingkat Pendidikannya ... IX-9 Tabel LA.1 Komposisi asam lemak bebas minyak sawit ... LA-1 Tabel LA.2 Neraca massa Pada Filter Press ... LA-3 Tabel LA.3 Neraca Neraca Masa Pada Tangki Kristalisasi ... LA-4 Tabel LA.4 Neraca Neraca Masa Pada Heat Exchanger ... LA-4 Tabel LA.5 Neraca Neraca Masa Pada Bak Penampung ... LA-5 Tabel LB.1 Harga cp Setiap Gugusan ... LB-1 Tabel LB.2 Neraca Panas Masuk Pada Tangki RBDPO... LB-2 Tabel LB.3 Neraca Panas Keluar Dari Tangki RBDPO ... LB-3 Tabel LB.4 Neraca Panas Masuk Pada Heat Exchanger... LB-4 Tabel LB.5 Neraca Panas Keluar Dari Heat Exchanger ... LB-5 Tabel LB.6 Neraca Panas Tahap I Pada Tangki Kristalisasi ... LB-6 Tabel LB.7 Neraca Panas Tahap II Pada Tangki Kristalisasi ... LB-7 Tabel LB.8 eraca Panas Masuk Pada Bak Penampung ... LB-8 Tabel LB.9 eraca Panas Keluar Dari Bak Penampung ... LB-9

Tabel LC.1 Densitas bahan dalam tangki molase ... LC-1 Tabel LC.2 Densitas bahan dalam reactor ... LC-3 Tabel LC.3 Densitas bahan dalam tangki penampung fermentasi ... LC-12 Tabel LC.4 Densitas filtrat pada filter press I ... LC-16 Tabel LC.5 Densitas cake pada filter press I... LC-17 Tabel LC.6 Densitas filtrat pada filter press II ... LC-18 Tabel LC.7 Densitas cake pada filter press II ... LC-18 Tabel LC.8 Komposisi bahan pada alur Vd ... LC-29 Tabel LC.9 Komposisi bahan pada alur Lb ... LC-29 Tabel LC.10 Deskripsi Kondensor ... LC-34 Tabel LC.11 Komposisi Distilat ... LC-39 Tabel LC.12 Deskripsi Reboiler ... LC-47 Tabel LC.13 Deskripsi Heater... LC-55 Tabel LD.1 Perhitungan Entalpi dalam Penentuan Tinggi Menara Pendingin LD-17 Tabel LE.1 Perincian harga bangunan ... LE-2 Tabel LE.2 Data Indeks Harga Chemical Engeneering (CE) ... LE-3 Tabel LE.3 Perkiraan Harga Peralatan Proses ... LE-6 Tabel LE.4 Perkiraan Harga Peralatan Utilitas ... LE-7 Tabel LE.5 Biaya Sarana Transportasi... LE-9 Tabel LE.6 Perincian Gaji Pegawai ... LE-13 Tabel LE.7 Perincian Biaya Kas ... LE-14 Tabel LE.8 Perincian Modal Kerja ... LE-15 Tabel LE.9 Perkiraan Biaya Depresiasi ... LE-17 Tabel LE.10 Nilai Perhitungan IRR ... LE-23

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Penampang Buah Kelapa Sawit ... II-2 Gambar 6.1. Instrumen pada Heat Exchanger ... VI-4 Gambar 6.2. Instrumentasi Pada Tangki ... VI-4 Gambar 6.3. Instrumentasi Pada Pompa ... VI-4 Gambar 6.4. Instrumentasi Pada Chiller ... VI-5 Gambar 8.1. Tata Letak Pabrik Pembuatan Olein dan Stearin ... VIII-5 Gambar 9.1. Struktur Organisasi ... IX-9 Gambar LA.1Diagram Alir Pembuatan Olein dan Stearin ... LA-1 Gambar LC.1Ukuran Tangki ... LC-2

Gambar LD.1Grafik Entalpi dan Temperatur Cairan pada

Cooling Tower (CT) ... LD-26 Gambar LD.2Kurva Hy terhadap 1/(Hy*-Hy) ... LD-27 Gambar LD.3Siklus Refrigerasi ... LD-28

INTISARI

Pra Rancangan Pembuatan Molases Pada Pabrik Gula direncanakan beroperasi dengan kapasitas 6000 ton/hari dan diharapkan dapat dikembangkan menjadi komoditi ekspor.

Lokasi pabrik direncanakan di Kawasan Industri Medan II Kotamadya Medan Provinsi Sumatera Utara dan luas tanah yang dibutuhkan 11.050 m2

Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam pengoperasian pabrik berjumlah 104 orang dengan bentuk organisasi Perseroan Terbatas ( PT ). Struktur organisasi berupa sistem organisasi garis dan staf yang dipimpin oleh seorang direktur. Hasil analisa ekonomi terhadap Pra Rancangan Pabrik Pembuatan Molases Pada Pabrik Gula ini adalah sebagai berikut :

.

- Total Modal Investasi : Rp. 3.621.550.003.000,-

- Hasil Penjualan : Rp. 2.936.530.258.000,-

- Total Biaya Produksi : Rp. 2.789.249.365.000,-

- Profit Margin (PM) : 5,15 %

- Break Event Point (BEP) : 15,47 %

- Return Of Investment (ROI) : 3.51 %

- Pay Out Time (POT) : 2.86 tahun

- Internal Rate of Return (IRR) : 26,58 %

Dari hasil analisis ekonomi dapat disimpulkan bahwa Pra Rancangan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gula mempunyai posisi penting dalam tata gizi masyarakat Indonesia, karena gula merupakan sumber kalori yang efektif dan sekaligus memberikan rasa manis yang sangat diperlukan manusia. Konsumsi gula tidak hanya dalam bentuk gula sentrifugal (gula pasir), tetapi juga gula non sentrifugal (gula merah, gula kelapa, gula aren dan sebagainya) yang diproduksi secara tradisional. Fungsi gula sebagai sumber rasa manis akhir – akhir ini banyak digantikan bahan pemanis buatan seperti siklamat, sakarin, aspartam dan sebagainya.

Kebanyakan orang kurang menyadari bahwa penggunaan bahan pemanis tak berkalori seperti pemanis buatan itu mengurangi jumlah kalori yang diserap tubuh. Sebagai gugus kimia yang terdiri dari unsur C (karbon), H (hidrogen) dan O (oksigen) gula memiliki kadar kalori yang cukup tinggi yaitu sekitar 3950 kalori per gram gula. Kadar kalori gula hampir sama dengan kadar kalori zat tepung 4180 kalori per gram. ( Prabowo, 1992 )

Meskipun gula merupakan bahan pangan yang penting dalam tata gizi masyarakat, tetapi kebanyakan orang baru mampu mengkomsumsi gula dalam jumlah yang hanya memberikan sumbangan 5,5 % terhadap penyediaan kalori secara keseluruhan. Dengan makin meningkatnya pendapatan masyarakat, diharapkan komsumsi gula meningkat pula sehingga dapat memberikan konstribusi dalam perbaikan gizi penduduk.

Pengolahan tebu menjadi gula dilakukan dengan proses yang pertama yaitu tebu dimasukkan ke unit stasiun penggilingan dengan lima kali proses penggilingan dan air tebu yang dihasilkan dari stasiun penggilingan itulah yang disebut dengan nira. Kemudian nira dialirkan ke unit stasiun penguapan (evaporator) yang gunanya untuk menghasilkan nira yang lebih kental, setelah itu dipompakan pada unit stasiun masakan / pengkristalan dan dilanjutkan pada unit stasiun putaran / sentrifugal yang dimana dalam proses ini barulah terpisah antara kristal gula dengan molases.

Dari proses tersebut di atas, dihasilkan produk utama berupa kristal gula putih yang di pasar dikenal dengan sebutan SHS (Superieure Hoofd Suiker) atau Plantation White Sugar. Kadang – kadang dihasilkan pula gula dengan mutu yang lebih rendah, misalnya HS (Hoofd Suiker) yang dewasa ini umumnya tidak dipasarkan. Selain gula kristal, pengolahan tebu menjadi gula menghasilkan pula tetes (molases) yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kecap dan bahan baku pabrik alkohol / spiritus serta Mono Sodium Glutamat (MSG) di dalam negeri ataupun di ekspor. Dari tabel di bawah ini dapat dilihat bahwa permintaan molases setiap tahunnya semakin meningkat di seluruh dunia.

Tabel 1.1. Kebutuhan Molases di seluruh Dunia

Tahun Kebutuhan (Ton) Produksi (Ton)

1989 74.400 428.200 1990 697.300 269.500 1991 626.700 121.900 1992 860.700 371.700 1993 910.000 277.800 1994 1.048.000 434.594 1995 1.100.000 514.470 1996 1.200.000 670.000 (Sumber: Hugot, 1986) 1.2 Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada Pra Rancangan Pembuatan Molases Pada Pabrik Gula ini adalah untuk mengetahui bagaimana terbentuknya proses pembuatan molases pada stasiun kristalisasi (masakan) dan stasiun putaran pada pabrik gula.

1.3 Tujuan Perancangan Pabrik

Sebagai ilmu keteknikan, Teknologi Kimia Industri membidangi perancangan (design) konstruksi, operasi peralatan, serta proses pengolahan bahan mentah dan bahan pendukung menjadi produk yang berdaya guna untuk bahan baku bagi proses berikutnya, maupun digunakan langsung untuk kebutuhan masyarakat. Tujuan

rancangan unit utilitas ini adalah untuk mengaplikasikan ilmu Teknologi Kimia Industri yang meliputi neraca massa, neraca energi, operasi teknik kimia, dan bagian ilmu Teknologi Kimia Industri lainnya yang penyajiannya disajikan pada Pra Rancangan Pembuatan Molases Pada Pabrik Gula. Bahan baku yang digunakan pada kapasitas tebu sebesar 6000 ton/hari.

1.4 Manfaat Rancangan

Manfaat dari Pra Rancangan Molases Pada Pabrik Gula dalam tugas akhir ini adalah memaparkan bagaimana pembentukan Molases pada pabrik gula berdasarkan : Perhitungan neraca massa dan neraca energi,penentuan spesifikasi peralatan yang diperlukan untuk proses produksi maupun proses pendukung produksi, penentuan instrumentasi dan keselamatan kerja yang dibutuhkan, penentuan kulitas,penentuan menajemen organisasi perusahaan yang diperlukan demi kelancaran produksi,penentuan estimasi ekonomi dan pembiayaan.

BAB II

Dokumen terkait