DI PERAIRAN BERAU, KALIMANTAN TIMUR
DAFTAR ISI Halaman
DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ... PENDAHULUAN ... Latar Belakang ...…….. Perumusan Masalah ……….. Tujuan Penelitian ...……... Manfaat Penelitian ... TINJAUAN PUSTAKA ... Kopepoda ... Peranan Kopepoda ………... Distribusi Kopepoda ... Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan Kopepoda... Suhu ... Salinitas ... Arus ...
METODE PENELITIAN ... Lokasi dan Waktu Penelitian ... Pengambilan Sampel di Lapangan...
Parameter suhu, salinitas dan arus ... Sampel Kopepoda ... Analisis Sampel di Laboratorium ... Analisis Data ... Kelimpahan Kopepoda ………... Dominansi Jenis ………... Keanekaragaman Jenis ...………... Keseragaman Jenis ...
HASIL DAN PEMBAHASAN... Kondisi Lingkungan ………... Suhu ………... Salinitas ………... Arus ………... Komposisi dan Kelimpahan Jenis Kopepoda...………... Dominansi, Keanekaragaman dan Keseragaman Jenis Kopepoda…….... Deskripsi Jenis Kopepoda ...
KESIMPULAN DAN SARAN... Kesimpulan ………... vi vii viii 1 1 2 3 3 4 4 6 8 9 9 9 10 11 11 11 11 11 13 15 15 15 16 16 17 17 17 18 19 20 24 25 46 46
Saran .………... DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN ... 46 47 50
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Singkatan (abbreviation) bagian morfologi kopepoda ... 2 Jenis kopepoda di perairan Berau beserta habitat ... 3 Nilai dominansi, keanekaragaman dan keseragaman jenis ...
14 20 24
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Perkembangan kopepoda ………...………..
2 Skema hubungan filogenetik kopepoda..…….……….
3 Peta lokasi penelitian di perairan Berau ...………..…… 4 Morfologi dan pembagian ruas tubuh pada kopepoda betina …...……. 5 Sebaran horizontal suhu di perairan Berau... 6 Sebaran horisontal salinitas di perairan Berau ... 7 Sebaran horisontal arah dan kecepatan arus pada saat pasang di Berau .. 8 Komposisi kopepoda di perairan Berau ... 9 Kelimpahan jenis kopepoda di perairan Berau …..………..
5 6 12 13 17 18 19 22 23
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Komposisi jenis kopepoda berdasarkan ordo .……….. 2 Kelimpahan jenis kopepoda di perairan Berau, Kalimantan Timur….…. 3 Foto jenis kopepoda di perairan Berau, Kalimantan Timur..……… 4 Deskripsi jenis kopepoda (Mulyadi 2003; 2004) ...
50 51 53 56
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kopepoda merupakan mikrokrustasea holoplanktonik yang menghuni berbagai tipe perairan dan membentuk berbagai tipe kehidupan. Ditinjau dari segi ekologis kopepoda memiliki peranan yang sangat penting artinya bagi ekosistem laut dan mendominasi komunitas zooplankton di lautan dengan persentase berkisar antara 50-80% (Wickstead 1976). Kopepoda sering pula dijuluki sebagai insect of the sea karena keanekaragaman dan kelimpahannya yang tinggi sama seperti serangga pada ekosistem darat. Akan tetapi perhatian dan penelitian kopepoda di dunia masih sangat terbatas. Humes (1994) menyatakan bahwa jumlah kopepoda yang telah dikenal umum di dunia baru mencapai 11.500 jenis yang terbagi dalam 200 famili dan 1650 genera yang menghuni berbagai tipe perairan tawar, payau dan laut.
Kajian biosistematika kopepoda di wilayah perairan Indonesia masih sangat minim. Kontribusi pengetahuan mengenai kopepoda laut Indonesia umumnya berasal dari laporan ekspedisi besar yang dilakukan pada satu abad lalu terutama di perairan timur, seperti Ekspedisi Challenger (1872-1876), Siboga (1899-1900), dan Snellius I (1929-1930). Laporan penelitian kopepoda laut Indonesia paling penting hingga saat ini dilaporkan oleh Scott (1909) dari sampel yang diperoleh dalam Ekspedisi Siboga. Sayangnya Scott (1909) tidak menyediakan deskripsi ataupun ilustrasi dari sebagian besar jenis yang disebutkan. Catatan mengenai variabilitas dalam jenis dan kelompok jenis tidak disinggung, dan beberapa jenis diantaranya diragukan akurasinya. Kelangkaan data kopepoda laut Indonesia ini memerlukan suatu kajian biosistematika kopepoda yang akurat untuk menambah koleksi data keanekaragaman jenis kopepoda laut di Indonesia lengkap dengan deskripsi ataupun ilustrasi jenisnya.
Propinsi Kalimantan Timur memiliki wilayah perairan yang luas dan strategis dari segi lalulintas pelayaran karena merupakan bagian dari Selat Makassar. Salah satu kabupaten di propinsi ini yang 70% daerahnya merupakan lingkungan perairan adalah Berau. Di wilayah ini bermuara tiga sungai besar dan beberapa sungai kecil lainnya, sehingga dapat dikategorikan sebagai perairan
estuaria. Perairan ini merupakan campuran antara massa air sungai dengan air laut sekitarnya. Lokasi percampuran air di perairan ini tidak tetap, tergantung kepada banyaknya air tawar yang masuk ke laut dan juga arus pasang surut yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pola distribusi kopepoda. Seperti telah diketahui bahwa kecenderungan pola distribusi kopepoda sebagai penyusun utama komunitas zooplankton tampaknya sangat terkait dengan pola pasang surut, aliran arus dan suplai air tawar dari beberapa sungai di daerah tersebut.
Perumusan Masalah
Dalam periode sebelum tahun 1960, penelitian plankton di Indonesia lebih dititikberatkan pada studi biosistematika. Karya ilmiah yang terbit umumnya ditulis oleh para peneliti asing berdasarkan sampel dari hasil ekspedisi besar di kawasan perairan Indonesia. Perkembangan biosistematika plankton dalam hal ini kopepoda dari ahli Indonesia sendiri dapat dikatakan sangat minim, dan sampai saat ini baru ada satu orang ahli taksonomi kopepoda di Indonesia. Hal ini tentu tidak sebanding dengan luas wilayah perairan Indonesia.
Ditinjau dari segi ekologis kopepoda memiliki peranan yang sangat penting artinya bagi ekosistem laut dan mendominasi komunitas zooplankton di lautan. Akan tetapi perhatian dan penelitian kopepoda di perairan Indonesia masih sangat terbatas. Data mengenai komposisi jenis kopepoda yang ada di perairan Indonesia yang dilengkapi dengan ilustrasi dan deskripsi jenis yang ditemukan masih sangat minim. Komposisi dan kelimpahan jenis kopepoda di suatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan kimia. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi adalah arus. Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) yang menghubungkan antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia melalui poros utama di Selat Makassar sekiranya memberikan dampak pada komposisi jenis kopepoda di perairan Berau, Kalimantan Timur. Kespesifikan habitat di perairan Berau ini akan berkaitan dengan spesifitas jenis kopepoda yang ada (endemik). Dari permasalahan ini maka perlu kiranya dilakukan suatu kajian mengenai komposisi jenis kopepoda yang dilengkapi dengan deskripsi jenis yang ditemukan.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi kopepoda yang meliputi kelimpahan, dominansi, keanekaragaman, dan keseragaman di perairan Berau, Kalimantan Timur serta menyediakan ilustrasi dan deskripsi jenis yang ditemukan secara akurat.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dan panduan dalam mendeskripsikan jenis-jenis kopepoda yang ditemukan di perairan estuaria Indonesia, dan kaitannya dalam memprediksi kesuburan perairan.
Kopepoda
Zooplankton terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan mulai dari filum Protozoa (hewan bersel tunggal) sampai ke filum Chordata (hewan bertulang belakang). Tetapi ditinjau dari aspek ekologi, hanya satu golongan zooplankton yang sangat penting dan mendominasi perairan laut yaitu subklas kopepoda yang termasuk dalam filum Arthropoda.
Kopepoda merupakan krustacea holoplanktonik, berukuran relatif kecil, yang mendominasi komunitas zooplankton di perairan laut dan samudera. Nama kopepoda sendiri berasal dari bahasa Yunani cope dan podos yang masing-masing berarti dayung dan kaki, sehingga secara keseluruhan kopepoda dapat berarti kaki dayung. Hal itu sesuai dengan morfologi kopepoda yang mempunyai kaki-kaki kuat yang dapat dipergunakan sebagai alat berenang dengan kecepatan tinggi.
Kopepoda merajai komunitas zooplankton di laut baik dalam jumlah jenis maupun kelimpahannya yang sangat tinggi. Selain itu karena ukurannya yang kecil tetapi sangat dominan di laut maka kopepoda sering dijuluki sebagai insect of the sea.
Kopepoda mempunyai kulit atau kerangka luar yang keras, terdiri dari bahan chitin. Oleh sebab itu kopepoda melakukan molting dalam fase-fase perkembangannya. Secara umum tubuhnya mempunyai dua pasang antena; yaitu antenula yang berukuran relatif panjang dan antena yang berukuran kecil. Kopepoda mempunyai 5 pasang kaki renang sedangkan kaki ke-6 pada umumnya mereduksi. Tubuhnya beruas-ruas yang terdiri dari kepala (chepalon), dada (thorax), dan abdomen (urosome). Secara umum bentuk kepala dan dada oval atau lonjong. Di belakangnya bersambung bagian ekor yang sebenarnya merupakan perut (abdomen) yang pendek dan sempit dengan ujung yang bercabang. Antenula panjang dan biasanya terbentang ke samping yang dihiasi dengan seta dan aestetask di sepanjang permukaan anterior. Kopepoda jantan pada umumnya mempunyai ukuran tubuh lebih kecil dari betinanya. Kaki ke-5 yang jantan mempunyai bentuk khas yang berfungsi untuk memegang betinanya pada saat kopulasi. Kopepoda, seperti kebanyakan krustacea lainnya memulai hidupnya dari
larva yang disebut nauplius. Larvanya kecil sekali dengan tiga pasang bakal antenula, antena, dan mandibel. Pasangan apendiks pertama tidak bercabang, sedangkan kedua pasang lainnya bercabang. Bentuk badannya bulat telur dengan bagian belakang meruncing. Setitik berkas mata tunggal menghiasi bagian badan agak ke pinggir depan. Setelah berganti kulit (molting) beberapa kali, nauplius berkembang menjadi metanauplius yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda bakal maxillula dan maxilla serta beberapa bakal kaki renang pada dada. Setelah metanauplius berkembang menjadi fase kopepodit maka bentuknya sudah mirip dengan induknya tetapi berukuran sangat kecil dan jumlah ruas tubuhnya belum sempurna (Gambar 1).
Gambar 1 Perkembangan kopepoda.
Menurut Milne (1840) kopepoda merupakan takson yang terpisah dalam Krustasea. Setelah itu berkembanglah berbagai skema klasifikasi untuk kopepoda dan sekarang ini dikenal 10 ordo kopepoda, yaitu Platycopioida, Calanoida, Harpacticoida, Monstrilloida, Mormonilloida, Misophrioida, Gelyelloida, Cyclopoida, Siphonostomatoida dan Poecillostomatoida. Pada Gambar 2 secara
umum digambarkan analisis filogeni yang telah dilakukan oleh Ho (1990) dalam Huys dan Boxshall (1991).
Gambar 2 Skema hubungan filogenetik kopepoda (Huys dan Boxshall 1991).
Peranan Kopepoda
Kopepoda sangat penting artinya bagi ekosistem laut karena merupakan herbivora primer. Kopepoda mendominasi komunitas zooplankton di lautan dengan persentase sebesar 70-90% dan berperan penting sebagai mata rantai antara produsen primer (fitoplankton) dengan para karnivora kecil dan besar (Nybakken 1992). Persentase yang besar ini akan berpengaruh nyata terhadap keberadaan fitoplankton sebagai produsen primer di perairan terutama kepadatannya. Hal itu terjadi karena sebagian besar fitoplankton yang ada di perairan dimakan oleh kopepoda dengan cara memanfaatkan gerakan kaki renang dan appendiks pada mulutnya yang menghasilkan pusaran air dan arus yang akan membawa partikel makanan ke saringan maxilla untuk kemudian diteruskan ke mulut untuk ditelan dan dicerna. Hal ini menyebabkan kopepoda mendapat julukan sebagai pelahap terbesar tumbuhan di dunia ini (the biggest grazer in the world) jika dilihat dari total seluruh biomassa kopepoda di bumi ini. Selanjutnya dalam kaitannya dengan produksi primer suatu perairan, Mare & Hart dalam
Barnes (1963) menyatakan bahwa bagian terbesar dari produksi primer di suatu perairan berada dalam tubuh kopepoda, bukan pada sel-sel fitoplankton. Energi yang tersimpan itu kemudian akan ditransfer ke ikan kecil, dan selanjutnya sampai ke tingkat trofik yang lebih tinggi. Selain itu sebagai akhir dari proses pencernaan makanannya, kopepoda akan mengeluarkan feses yang jumlahnya sangat banyak dalam bentuk butiran-butiran kecil yang disebut faecal pellet. Seiring dengan kegiatan memakan fitoplankton di permukaan perairan, maka akan terus terbentuk pula faecal pellet yang kemudian akan turun dan tenggelam ke dasar perairan. Faecal pellet yang turun ke dasar itu akan menjadi sumber makanan atau bahan organik bagi berbagai biota yang hidup di laut dalam. Dengan demikian kopepoda juga memegang peran penting dalam alir energi dan daur hara di laut dalam (Nontji 2006).
Kehadiran kopepoda sebagai sumber pakan bagi semua anak ikan dan ikan pelagik dalam ekosistem laut yang melimpah sering dikaitkan dengan indikasi kesuburan suatu perairan. Dari hasil penelitian pada berbagai jenis ikan di seluruh dunia, terbukti banyak jenis ikan pelagis dan larvanya memanfaaatkan plankton sebagai makanannya. Dari seluruh produksi ikan di dunia, 74% merupakan ikan pelagis dan berdasarkan jenis makanannya ternyata 63% adalah ikan pemakan plankton, 24 % ikan predator dan 8 % yang hidup di dasar (demersal) (Martinsen 1966). Jadi jelas ikan pemakan plankton lebih banyak daripada ikan pemangsa lainnya. Pentingnya plankton sebagai pakan ikan dapat dibuktikan di perairan Inggris, dimana penangkapan ikan mackerel mencapai puncaknya pada setiap bulan Mei yang bertepatan dengan puncak melimpahnya kopepoda. Korelasi positif antara hasil tangkapan ikan hering dengan banyaknya kopepoda juga dapat dibuktikan dalam penelitian (Lucas 1956). Dari berbagai penelitian itu dapat disimpulkan bahwa bila di perairan tertentu banyak terdapat plankton maka diharapkan ikan pemakan plankton akan banyak pula. Karena dalam kondisi normal, bergerombolnya biota laut hampir selalu berkaitan erat dengan banyaknya pangan (Tham 1953).
Di Indonesia beberapa pakar telah meneliti isi lambung beberapa jenis ikan seperti lemuru (Sardinella longiceps) di Selat Bali. Di dalam lambung ikan itu selalu didapatkan plankton dengan dominasi kopepoda yang mencapai sekitar
85-95% (Soerjodinoto 1960). Makanan utama ikan teri di Teluk Jakarta juga berupa zooplankton terutama kopepoda dan jenis krustasea lainnya (Burhanuddin dkk. 1975). Sedangkan ikan tembang (Sardinella fimbriata) memakan plankton dengan preferensi kopepoda (Hutomo & Martosewojo 1975). Di perairan Maluku, ikan umpan untuk cakalang, juga memangsa zooplankton dengan unsur utama kopepoda dan larva dekapoda (Sutomo dan Arinardi 1978).
Beberapa jenis kopepoda juga dapat digunakan sebagai indikator biologi dari suatu kondisi lingkungan seperti upwelling. Arinardi, dkk. (1997) menemukan populasi yang melimpah dari Calanoides philippinensis dan Rhincalanus nasutus di permukaan perairan pada saat terjadi upwelling di Laut Banda. Kehadiran kedua jenis kopepoda laut dalam ini menunjukkan bahwa di perairan tersebut sedang terjadi pengadukan air yang disebabkan oleh terjadinya upwelling pada perairan tersebut.
Distribusi Kopepoda
Keberadaan dan sebaran biota laut termasuk kopepoda merupakan hasil dari kejadian yang teratur dan terus menerus yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan tunggal maupun ganda yang menata bentuk sebaran, kelulusan hidup dan kepadatannya. Populasi kopepoda di berbagai habitat akuatik mempunyai nilai kelimpahan dan komposisi yang bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan yang erat kaitannya dengan perubahan musim. Faktor fisik-kimia seperti suhu, intensitas cahaya, salinitas, pH dan zat cemaran di suatu perairan memegang peranan penting dalam menentukan kelimpahan jenis plankton. Sedangkan faktor biotik seperti tersedianya pakan, banyaknya predator dan adanya pesaing dapat mempengaruhi komposisi spesies (Arinardi, dkk. 1997). Demikian pula pernyataan Smith (1971) dan Parson & Takashi (1973) bahwa distribusi plankton di laut ditentukan oleh berbagai faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, salinitas, suhu, kecerahan, zat hara, arus, gelombang, musim, siklus reproduksi dan predator.
Di laut, kopepoda sebagai hewan pelagik dapat hidup di berbagai kolom air; ada yang hidup di dekat dasar perairan (benthopelagik/hyperbenthik); hidup di dasar perairan atau dalam sedimen (benthik); ataupun hidup berasosiasi dengan
hewan lainnya. Kopepoda yang hidup di setiap lapisan perairan laut merupakan perenang aktif, dan dapat bermigrasi baik secara horizontal maupun vertikal. Migrasi vertikal berkaitan erat dengan penyebaran kopepoda dalam kolom air. Migrasi vertikal kopepoda bersifat harian (diurnal migration) dimana pada siang hari kopepoda bergerak menuju dasar perairan dan naik kembali ke permukaan pada malam hari akibat intensitas cahaya matahari dan ketersediaan makanan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Kopepoda Suhu
Suhu sangat berperan dalam mengendalikan kondisi organisme perairan. Setiap organisme akuatik memiliki toleransi kisaran suhu tertentu untuk pertumbuhannya. Nybakken (1992) menyatakan bahwa suhu adalah faktor penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Suhu air mempengaruhi keberadaan zooplankton secara fisiologis dan ekologis. Secara fisiologis perbedaan suhu perairan sangat berpengaruh pada fekunditas, lama hidup dan ukuran dewasa zooplankton. Secara ekologis perubahan suhu menyebabkan perbedaan komposisi dan kelimpahan zooplankton di perairan dangkal (Kennish 1990). Kopepoda pada umumnya akan berkembang dengan baik pada suhu sekitar 25oC atau lebih (Riley 1967).
Beberapa spesies kopepoda terdistribusi secara horizontal berdasarkan kemampuan penyesuaian diri pada perubahan suhu, misalnya Cosmocalanus darwinii, Copilia mirabilis, dan Candacia pachydactyla yang biasa ditemukan di perairan tropis dan dapat menjadi indikator arus hangat (Zhong 1989).
Salinitas
Pola penyebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan pola aliran sungai. Daerah estuari yang merupakan daerah pertemuan antara air tawar dan air laut mempunyai struktur salinitas yang kompleks (Nontji 2006). Pada daerah estuari faktor salinitas merupakan pembatas penyebaran zooplankton.
Kennish (1990) menyatakan bahwa perubahan salinitas yang dapat ditolerir oleh holoplankton dan meroplankton tergantung pada jenis dan stadia daur
hidupnya. Salinitas diduga mempengaruhi struktur dan fungsi fisiologis organisme perairan melalui perubahan tekanan osmosis, proporsi relatif bahan pelarut, koefisien absorbsi dan kejenuhan larutan, kerapatan dan viskositas, perubahan penyerapan sinar, pengantar suara dan daya hantar listrik. Hal ini akan mengubah komposisi jenis pada situasi ekologi saat itu.
Plankton euryhaline dapat mentolerir kisaran salinitas yang luas, sebaliknya plankton stenohaline hanya dapat mentolerir kisaran salinitas yang sempit (Odum 1994). Perbedaan toleransi organisme terhadap salinitas dipengaruhi oleh umur, stadia daur hidup dan jenis kelamin (Kinne 1963). Riley (1967) menyatakan bahwa Acartia tonsa, Eurytemora hirundoides, E. Affinis dan Pseudodiaptomus coronatus merupakan jenis Calanoida yang dominan di perairan estuaria dengan salinitas 18-30 psu. Sedangkan Zhong (1989) menyatakan ada beberapa spesies kopepoda yang terdistribusi secara horizontal berdasarkan kemampuan penyesuaian diri pada perubahan salinitas seperti Pleuromamma abdominalis yang merupakan spesies pada perairan oseanik sedangkan Labidocera euchaeta biasa hidup di perairan neritik terutama pada pantai berkadar salinitas rendah, demikian pula dengan Eurytemora affini yang ditemukan di perairan estuaria dengan salinitas yang sangat rendah.
Arus
Odum (1994) menyatakan bahwa arus dalam air tidak hanya mempengaruhi konsentrasi sebagian besar gas-gas dan hara tetapi juga bertindak secara langsung sebagai faktor pembatas. Arus merupakan salah satu parameter fisika yang mempengaruhi penyebaran zooplankton di laut (Wickstead 1965). Nontji (1993) menyatakan bahwa arus yang terjadi di perairan pantai dan teluk lebih banyak dipengaruhi oleh pasang surut dan aliran sungai.
Arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanya dapat diamati di perairan pantai terutama pada selat-selat yang sempit dengan kisaran pasang surut yang tinggi. Di laut terbuka, arah dan kekuatan arus di lapisan permukaan sangat ditentukan oleh angin (Nontji 1993).
Sampel kopepoda dikoleksi dengan menggunakan conical plankton net ukuran mata jaring 300 µm, diameter mulut jaring 0,45 m dan panjang 1,8 m. Pada mulut jaring plankton dipasang flowmeter TSK untuk mengukur volume air tersaring. Pengukuran volume air tersaring dihitung dengan rumus:
Sampel Kopepoda
Pengukuran suhu dan salinitas dilakukan dengan menggunakan CTD. Arah dan kecepatan arus diukur menggunakan Direct Reading Currentmeter RCM-2. Pola sebaran suhu, salinitas dan arus digambar dengan bantuan Surfer-8.
Parameter suhu, salinitas dan arus Pengambilan Sampel di Lapangan
Penelitian dilakukan di wilayah pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September 2005 di 10 lokasi (Gambar 3). Lokasi 1, 2, dan 3 merupakan muara dari Sungai Kasei, Garura dan Pantai. Lokasi 4 , 5 dan 10 merupakan perpanjangan dari lokasi 3 ke arah lepas pantai dengan jarak antar lokasi sekitar 1o, demikian pula lokasi 6 dan 9 yang merupakan perpanjangan dari lokasi 2, serta lokasi 7 dan 8 perpanjangan dari lokasi 1.
Lokasi dan Waktu Penelitian
p: panjang kolom air (m) yang ditempuh untuk satu rotasi a: luas mulut jaring
R: jumlah rotasi baling-baling flowmeter V: volume air tersaring (m3)
yang tersaring dikoleksi dalam botol plastik berukuran 250 cc dan diberi pengawet formalin pekat hingga konsentrasi solusi formalin/air laut menjadi 4%.
Analisis Sampel di Laboratorium
Sampel kopepoda yang sudah diperoleh kemudian dibawa ke laboratorium untuk disortir atau dipisahkan dari organisme planktonik lainnya kemudian diidentifikasi sampai tingkat jenis di bawah mikroskop compound Nikon. Pembuatan gambar/ilustrasi dari setiap jenis secara detil, dilakukan dengan cara meletakkan spesimen pada slide glass yang telah dibubuhi campuran gliserin dan akuades dengan perbandingan 1:1 yang diberi pewarna methyl blue, kemudian diamati di bawah mikroskop.
Gambar 4 Morfologi dan pembagian ruas tubuh pada kopepoda betina secara ventral (Giesbrecht & Schmeil, 1898).
Singkatan (abbreviation) dalam teks yang digunakan untuk menggambarkan bagian morfologi kopepoda tercantum dalam Tabel 1.
Tabel 1 Singkatan (abbreviation) bagian morfologi kopepoda
Singkatan Singkatan
A1 Antenula B2 basis
A2 Antena Re eksopod
Ms1-Ms5 metasomal somites 1-5 Ri endopod
P1-P5 pereiopod 1-5 Si inner spine
Ur1-Ur5 urosomal somites 1-5 S2 outer spine
CR caudal rami St terminal spine
B1 coxa
Selain singkatan diatas, ada beberapa istilah teknis yang masih digunakan
agar tidak menimbulkan kerancuan, antara lain:
• prosome/cephalothorax: kesatuan kepala dan ruas dada
• urosome/abdomen: bagian belakang tubuh
• grasping organ: alat pemegang
• prehensile: antena yang bentuknya seperti alat pemegang dan bergerigi
• geniculate: menggembung
• anterior: bagian depan
• posterior: ujung belakang
• posteromedial: ujung belakang bagian tengah
• posterolateral: ujung belakang bagian tepi
• posterodorsal: ujung belakang bagian punggung
• lateral: samping/tepi
• ventral: bawah
• dorsal: punggung
• uniramous: tidak bercabang
• biramous: bercabang dua
• distal: ujung
• proximal: pangkal.
Terminologi yang dipakai dalam penelitian ini terutama mengacu pada Giesbrecht (1982) dan Sars (1903) dengan beberapa modifikasi yaitu:
¾ Tubuh kopepoda terdiri dari dua bagian : prosome dan urosome.
¾ Prosome terdiri dari kepala dan lima ruas metasome (Ms).
¾ Urosome : pada jantan umumnya memiliki lima ruas, dan pada betina bervariasi antara dua sampai lima ruas
¾ Kepala dan Ms1 seringkali menyatu; Ms4 dan Ms5 pada beberapa kasus juga menyatu.
¾ A1 umumnya terdiri dari 25 ruas. Pada kopepoda jantan, A1 bagian kanan seringkali termodifikasi menjadi alat pemegang (grasping organ).
¾ A2 dan P1-P4 biramous (bercabang dua).
¾ P5 sering termodifikasi, pada betina P5 mereduksi atau sama sekali absen, sedangkan pada jantan P5 termodifikasi menjadi alat pemegang pada saat kopulasi.
Analisis Data Kelimpahan Jenis
Data kelimpahan jenis kopepoda dalam individu/m3 diperoleh dengan cara membagi seluruh jumlah individu yang diperoleh dengan volume air tersaring (m3) sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :
n N = V
Dimana N = kelimpahan kopepoda n = jumlah individu kopepoda
V = volume air tersaring
Dominansi Jenis
Dominansi jenis kopepoda dihitung menggunakan indeks dominansi Simpson (Magurran, 1988) dengan persamaan:
D = ∑ (ni(ni-1)/N(N-1))
Dengan D = indeks dominansi
N = jumlah total individu yang terkumpul
Keanekaragaman Jenis
Penghitungan keanekaragaman jenis dilakukan berdasarkan rumus