• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Kantor Urusan Agama (KUA) Sidorejo Salatiga

4. Daftar Karyawan KUA Kecamatan Sidorejo Salatiga

Jumlah Pegawai KUA Kecamatan Sidorejo Salatiga Tahun 2016 sebanyak 7 orang pegawai, terdiri dari 4 orang Pegawai laki-laki dan 3 orang pegawai perempuan. Adapun rincian pegawai KUA adalah sebagai berikut:

a. Sirojudin, SH.I jabatan Kepala, dengan tugas sebagai penanggung jawab pelaksanaan tugas dan fungsi KUA

b. Agung Sudarianto Jabatan Pengelola Administrasi

c. Asa Abdurridho Safriyanta Jabatan Sebagai Penghulu Muda d. Anda Masruroh jabatan Sebagai Pegawai Ketatausahaan dan

Rumah Tangga

e. Dra. Sukarmi Jabatan Sebagai Pegawai Penyuluh Agama f. Munawaroh S.Ag Jabatan Sebagai Pegawai Penyuluh Agama. g. Murtadho S.Ag Jabatan Sebagai Pegawai Penyuluh Agama. B. Latar Belakang Dikeluarkannya Peraturan Dirjen Bimas Islam

N0. DJ. 11/491 Tahun 2009 Tentang Kursus Calon Pengantin. Salah satu tugas dari KUA tingkat kecamatan yaitu mengadakan kursus calon pengantin yang biasanya disebut dengan SUSCATIN. Tugas tersebut tentu harus mempunyai dasar hukum agar mempunyai kekuatan hukum yang pasti. Maka penulis mengupas sedikit tentang latar belakang dikeluarkannya peraturan tentang kursus calon pengantin. Berikut ini latar belakang dikeluarkannya Peraturan Dirjen

56

Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 Tentang Kursus Calon Pengantin:

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang cukup tinggi, salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya angka perceraian adalah pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi informasi. Perkembangan budaya dan peradaban yang sangat cepat sejak era industralisasi turut mengubah pola relasi suami dan istri juga orang tua dan anak-anak. Manusia berkembang menjadi semakin individualis, tidak lagi mempedulikan keadaan dan kepentingan orang lain. Dalam ungkapan Gabriel Marcel, manusia menjadikan manusia lain sebagai obyek kepentingan. Hubungan antara seseorang dan orang lain didasarkan atas nilai dan kepentingan (Hadiwijono, Harun, 1983: 174).

Tuntutan ekonomi dan kebutuhan hidup telah memaksa para orang tua modern untuk bekerja keras siang dan malam, akibatnya mereka tak lagi punya waktu bagi pasangan dan anak-anak. Arlie Hochschild menggambarkan keadaan itu dengan: When work becomes home and home becomes work (ketika tempat kerja menjadi rumah dan rumah menjadi tempat kerja) (Hochschild, Arlie, 35: 2004).

Semua fenomena itu memberikan andil besar terhadap keguncangan dan keretakan keluarga. Perubahan dan perkembangan budaya yang sangat cepat itu berkontribusi besar terhadap meningkatnya perceraian, karena dizaman sekarang mewujudkan keluarga yang Sakinah,

57

Mawaddah, Wa Rahmah dan keluarga yang bahagia lahir dan batin sebagaimana ditegaskan dalam UU NO. 1 Tahun 1974, menjadi tantangan yang sangat besar dibutuhkan kerja keras dan persiapan yang benar-benar matang sebelum seseorang memasuki dan membangun bahtera rumah tangga dan salah satu aspek yang penting untuk dipersiapkan adalah kematangan psikologis dan pengetahuan yang memadai tentang rumah tangga. Ibarat seseorang yang berlayar, pengetahuan ekonomi, dan kesiapan mental merupakan bekal, kompas dan peta yang dibutuhkan untuk melayari samudera. Tanpa itu semua, bahtera yang berlayar besar kemungkinan akan tenggelam dan terombang-ambing oleh samudera (Madjid, nurcholish, 2000: 72).

Untuk itulah pemerintah mencanangkan program penataran Kursus Calon Pengantin (SUSCATIN). Tidak hanya di Indonesia, program serupa juga dijalankan di negeri jiran Malaysia dan menurut pejabat setempat, program itu sangat efektif dalam menekan angka perceraian dari 32% menjadi hanya 7%. Bahkan, harian Ashraq al- Awsat, mengemukakan bahwa pemerintah Arab Saudi juga mulai Tahun 2014 menggelar SUSCATIN untuk menekan angka perceraian yang sangat tinggi disana (http. //internasinonal, kompas.com. 2014).

Dasar hukum pelaksanaan program SUSCATIN adalah Keputusan Menteri Agama No. 85 Tahun 1961 tentang BP4, KMA No. 30 Tahun 1999 tentang pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah dan Keputusan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Tahun 1999 No. D/71 tentang

58

petunjuk Pelaksanaan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah. Satu dekade kemudian, Dirjen Bimas Islam menerbitkan Peraturan baru mengenai SUSCATIN yaitu Perdirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009. Kemudian pada Tahun yang sama, BP4 mengadakan musyawarah Nasional yang ke-14 yang mana diantaranya adalah mengamanatkan bahwa setiap CATIN wajib mengikuti kursus tersebut (http.//internasinonal, kompas.com. 2014).

Sudah lebih dari setengah abad sejak terbitnya KMA tentang BP4 dan lebih dari satu dekade sejak pencanangan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah, angka perceraian di Indonesia masih tinggi, bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan ada banyak faktor yang menjadi penyebab perceraian dan salah satunya adalah ketidaksiapan pasangan suami dan istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga (Eridani, AD, dkk. 2013: 12).

Menteri Agama RI Lukman Syaifuddin, menyatakan, “ Seiring dengan

perkembangan teknologi informasi dan pertumbuhan akselerasi masyarakat maka riset dan penelitian harus didasarkan atas kebutuhan

masyarakat”. Dalam kesempatan lain Menteri Agama mengungkapkan bahwa kajian dan penelitian mesti terus dilakukan untuk memperbaiki kinerja dan pelayanan Kementerian Agama kepada masyarakat, seperti halnya SUSCATIN sebagai salah satu program penting yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas keluarga-keluarga di Indonesia dan menekan tingginya angka perceraian, semestinya juga dirancang dan

59

disusun berdasarkan kebutuhan dan perkembangan masyarakat sehingga program pendidikan Pra-Nikah bisa berjalan efektif dan mencapai hasil yang maksimal. Sebab setiap masa memiliki tantangan dan masalahnya sendiri yang berbeda dari masa-masa sebelumnya maka, untuk menghadapi permasalahan keluarga di era modern, dibutuhkan bekal dan solusi yang sesuai dengan masanya (http.//internasinonal, kompas.com. 2014).

Hal itu dapat ditilik dari hasil penelitian Mark Cammak, guru besar dari Soutwestern School Of Law-Los Angeles, USA. Berdasarkan temuan Mark Cammack, pada Tahun 1950-an angka perceraian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tergolong yang paling tinggi di dunia. Pada decade itu, dari 100 perkawinan, 50 diantaranya berakhir dengan perceraian. Pada Tahun 2009 perceraian mencapai 250 ribu. Tampak terjadi kenaikan dibanding Tahun 2008 yang berada dalam kirasan 200 ribu kasus. Ironinya 70% perceraian atau cerai gugat diajukan oleh pihak istri. (http://www.Badilag.Net/index.Php/pengaduan/315-berita-kegiatan-melonjaknya angka perceraian).

Dirjen Bimas Islam, Prof.Dr.Nasaruddin Umar, mengungkapkan bahwa Indonesia berada di peringkat tertinggi dalam hal perceraian dibandingkan negara Islam di negara lainnya. Dalam lima Tahun terakhir kasus perceraian meningkat lebih dari 40%. Jika pada lima tahun lalu angka perceraian masih dibawah 100 ribu pertahun, maka kini mencapai sekitar 200 ribu. Sekitar dua juta pasangan menikah setiap Tahun, di sisi

60

lain sekitar 200 ribu pasanagan juga bercerai setiap tahun. Angka perceraian 10% dari angka pernikahan ini besar sekali (Muhammad, Husein, 2016: 205).

Nasaruddin selanjutnya menyatakan bahwa ada sejumlah alasan mengapa perceraian harus terjadi. Ada 13 kriteria yang menjadi alasan perceraian antara lain: ketidakcocokan, kekerasan dalam rumah tangga, poligami, masalah ekonomi, nikah dibawah tangan (nikah sirri), salah satu menjadi TKI, jarak usia yang terlalu jauh, bahkan karena perbedaan pandangan politik (Eridani, AD, dkk, 2013: 2).

Hal yang menarik dari pemaparan Nasaruddin adalah bahwa 70% dari perceraian tersebut justru diajukan oleh pihak perempuan (istri) melalui apa yang disebut gugat cerai atau khulu’, sementara 30% diajukan oleh pihak laki-laki (Farida, Anik, 2007: vii).

Pernyataan Nasaruddin di atas tampaknya sejalan dengan data perkara cerai talak, cerai gugat, dan perkara lainnya yang diterima oleh

Yurisdiksi Mahkamah Syar‟iyyah Propinsi/Pengadilan Tinggi Agama

diseluruh Indonesia pada Tahun 2010 diperoleh jumlah angka perceraian sebesar 284.379 kasus. Dari kasus ini sebanyak 94. 099 (23,33%) adalah kasus cerai talak (perceraian yang dilakukan oleh inisiatif suami/laki-laki) dan 190. 280 (59,32%) merupakan kasus cerai gugat (perceraian yangdilakukanatasinisiatifistri/perempuan)

61

(http://edukasi.kompasiana.com2011.Penyebabterjadinyaperceraian tertinggi di Indonesia 397865. Html).

Alasan terjadinya perceraian itu juga sangat beragam. Diantaranya adalah poligami (1.389 kasus), kawin paksa (2.185 kasus), penelantaran karena alasan ekonomi (67. 891 kasus), tidak ada tanggung jawab (78.407 kasus), kawin dibawah umur (550 kasus), menyakiti jasmani (2.191 kasus), menyakiti mental (560 kasus). Berbagai alasan ini memiliki dimensi yang sangat kuat dalam konteks Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dan kasus perceraian berdimensi KDRT ini akan menjadi lebih tinggi manakala kita memasukkan beberapa alasan lain yang tidak eksplisit seperti adanya gangguan pihak ketiga (20.199 kasus) dan tidak ada keharmonisan (91. 841 kasus) (Muhammad, Husein, 206: 2016).

Meskipun alasan tidak ada keharmonisan menjadi angka terbesar dalam kasus perceraian, namun kasus angka perceraian yang datang dari pihak istri (perempuan) tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya beragam bentuk KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) (Eridani, AD, dkk., 2013: 1).

Ada sejumlah analisis mengapa gugat cerai semakin banyak terjadi. Beberapa diantaranya adalah menigkatnya pemahaman perempuan tentang hak-hak dasarnya, terutama tentang kesetaraan. Kedua semakin berkembangnya tingkat kemandirian ekonomi perempuan, terutama

62

akibat pendidikan perempuan yang semakin tinggi. Ketiga ingin melepaskan diri dari kekerasan baik fisik maupun psikis. Hampir semua kasus gugat cerai sesungguhnya merupakan langkah terakhir dan pilihan paling pahit yang harus ditempuh perempuan sebagai cara melepaskan diri dari berbagai kekerasan yang terus mengurungnya setiap detik. Alasan ini merupakan hal yang paling banyak ditemukan (Sufyan, Ummu, 20: 2007).

Meningkatnya angka perceraian mendorong diterbitkannya peraturan tentang SUSCATIN ini. Pemerintah dalam hal ini yang diwakili oleh Dirjen Bimas Islam mengeluarkan peraturan tentang SUSCATIN dalam rangka meminimalisir tingginya angka perselisihan, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga. Salah satu penyebabnya yaitu rendahnya pengetahuan dan pemahaman Calon Pengantin tentang kehidupan rumah tangga serta untuk mewujudkan kehidupan keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah.

C. Penerapan Peraturan Dirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 tentang SUSCATIN di KUA Kecamatan Sidorejo Salatiga.

KUA merupakan pelaksana teknis Direktorat urusan agama Islam Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Islam yang berada di tingkat Kecamatan. KUA berada dalam garis komando Dirjen Bimas Islam dalam teori hukum dan institusi dibawah harus mengikuti institusi yang lebih tinggi atau teori herarki yang disebut teori herarki adalah Peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan yang lebih rendah.

63

Beberapa pertanyaan yang penulis ajukan kepada Kepala KUA Kecamatan Sidorejo Salatiga Bapak Sirojudin beserta pegawai KUA Kecamatan Sidorejo Salatiga mengenai penerapan peraturan Dirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 Tentang SUSCATIN.

1. Bagaimana Penerapan Peraturan Dirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 Tentang SUSCATIN di KUA Kecamatan Sidorejo Salatiga?

Bapak Sirojudi selaku kepala KUA Kecamatan Sidorejo Salatiga menjawab:

“Bahwa SUSCATIN di KUA Sidorejo Salatiga dilaksanakan secara

kondisional artinya Calon Pengantin yang datang ke KUA untuk daftar nikah dan telah memenuhi berkas-berkas prosedur untuk menikah maka Catin di berikan bimbingan oleh penghulu maupun kepala KUA yang mana materi tersebut mengenai seputar kehidupan rumah tangga yang akan dibinanya kedepannya”.

2. Apakah dalam pelaksanaan Peraturan Dirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 Tentang SUSCATIN dijelaskan bahwa yang berhak menyelenggarakan SUSCATIN adalah badan pemerintah yang telah mendapatkan akreditasi

Bapak Sirojudin selaku kepala KUA Sidorejo salatiga menjawab: Pelaksanaan SUSCATIN dari pihak KUA itu tahapannya adalah setelah pemeriksaan, dan kita (KUA) memanfaatkan waktu 10 hari setelah pemeriksaan kemudian untuk kursus dan prakteknya adalah sesaat setelah pemeriksaan data selesai dan tidak ada halangan untuk menikah berarti dia (CATIN) secara administrasi lolos untuk menikah, baru kemudian dari pihak KUA kasih kursus/pembinaan materi-materi tentang bimbimgan nikah, itulah proses-proses tentang SUSCATIN.

64

3. Dalam peraturan Dirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 Tentang SUSCATIN disebutkan bahwa kriteria Calon Pengantin adalah laki-laki muslim dan perempuan muslimah yang akan menjalani kehidupan rumah tangga dalam suatu ikatan pernikahan. Menurut bapak apakah kriteria Calon Pengantin telah sesuai dengan peraturan yang ada?

Bapak Sirojudin selaku kepala KUA Sidorejo menjawab:

“Peraturan Dirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 tentang Kursus Calon Pengantin (SUSCATIN) adalah kursus yang dilakukan oleh KUA dan BP4 sebetulnya atau bisa dua-duanya akan tetapi kalau BP4 belum ada di KUA maka, KUA bisa menganbil peran dan sasarannya adalah Calon Pengantin (CATIN) artinya Calon Pengantin (CATIN) itu kriteriannya adalah orang yang sudah mendaftar dan telah mengajukan permohonan kehendak nikah yaitu Calon Pengantin”.

4. Metode apa yang digunakan dalam pemberian bekal kepada Calon Pengantin apakah sudah sesuai dengan peraturan yang ada?

Bapak Sirojudin menjawab:

Mengenai metode yang kita laksanakan pada saat pemeriksaan nikah yaitu kita memakai waktu jeda selama 10 hari untuk CATIN setelah pemeriksaan, kemudian metode yang kita pakai adalah menggunakan metode khusus untuk menyampaikannya yaitu dengan cara nasehat-nasehat kepada CATIN sendiri”.

5. Materi-materi apa yang disampaikan dalam pembinaan Calon Pengantin?

Berikut hasil wawancara dengan penghulu KUA Sidorejo Salatiga Bapak Asa Abdurridha:

“Materi-materi yang saya sampaikan dalam penyampaian Penasihatan kepada CATIN adalah materi yang saya buat sendiri artinya materi

65

yang kita buat bukanlah seperti halnya seperti materi-materi yang

tecantum dalam peraturan yang ada”.

6. Siapa yang mengisi materi-materi Kursus Calon Pengantin di KUA Sidorejo Salatiga?

Berikut hasil wawancara dengan kepala KUA Kecamatan Siorejo Salatiga Bapak Sirojudin:

“Bahwa yang mengisi materi penasihatan kepada CATIN adalah bisa

langsung oleh kepala KUA, Penghulu, maupun penyuluh agama KUA

Sidorejo Salatiga sendiri”.

7. Mengenai sertifikat/tanda lulus dalam pasal 6 dijelaskan bahwa CATIN yang telah mengikuti kursus akan diberikan sertifikat apakah KUA Sidorejo Salatiga telah memberikan sertifikat tersebut?

Berikut wawancara dengan Ibu Anda Masruroh selaku Pegawai Ketatausahaan dan rumah tangga:

“Jadi mengenai sertifikat/tanda lulus kursus calon pengantin sebenarnya ada 2 aturan yaitu Kursus Calon Pengantin dan Kursus Pra Nikah yang mana SUSCATIN adalah sasarannya CATIN yang telah mendaftar untuk menikah kemudian sasaran yang untuk Pra Nikah sasarannya adalah semua remaja usia-usia nikah yaitu usia 16 Tahun lebih untuk wanita dan 19 Tahun untuk laki-laki dan semua remaja itu tadi diharapakan untuk mengikuti kursus tersebut dan ketika sudah ikut nantinya akan mendapatkan sertifikat dan sertifikat itu nanti digunakan sebagai syarat untuk mendaftar nikah, proyeksi kedepan memang begitu tapi pada pelaksanaannya kita belum memberikan sertifikat/tanda lulus kepada CATIN terkait dengan kebijakan anggaran, jadi ya, kalau sertifikatnya kita (KUA) buat asal-asalan juga terkesan tidak menghargai yang diberi dan lembaga, dan kalau kita (KUA) memberikan cetak yang lebih baik ya itu tadi dukungan anggrannya yang belum ada. Ya pernah kita kasih tapi juga tidak

66

D. Hambatan-hambatan yang dialami KUA Sidorejo Salatiga dalam Penerapan Peraturan Dirjen Bimas Islam NO. DJ. II/491 Tahun 2009 Tentang SUSCATIN?

Dalam melaksanakan Peraturan Dirjen Bimas Islam No. DJ. II/491 Tahun 2009 Tentang SUSCATIN di KUA Sidorejo Salatiga terdapat beberapa hambatan sebagaimana hasil wawancara dengan kepala KUA Sidorejo Salatiga Bapak Sirojudin SH.i:

“Hambatan secara umum ada kendala yang sifatnya struktur dari kelembagaan kita sendiri artinya bahwa kebijakan anggaran di lembaga kita terkait dengan diadakannya kursus itu memang belum maksimal, yang kedua, yaitu mengenai sosio kultur masyarakat ada yang dari dalam maupun dari luar. Kalau dari dalam SDM saya pikir sudah cukup, yang hanya kebijakan dari anggaran, karena anggaran untuk kegiatan itu sangat minim sehingga kita tidak bisa melaksanakannya secara masal dengan mengundang beberapa pasang kemudian kasih materi yang mana kita datangkan pemateri-pemateri dari bidangnya misalnya dari bidang kesehatan kita panggilkan yang dari bidang kesehatan itu kan kalau mengadakan sendiri butuh anggaran. Sementara kebijakan anggarannya tidak ada sehingga mau tidak mau ya kita lakukan dengan yang tidak harus dengan menggunakan anggaran yaitu dengan memanfaatkan jeda waktu 10 hari itu. Yang secara umum kendala sosio kulturnya ya kondisi masyarakat kita pertama yaitu mengenai pendidikan, bahwa pendidikan CATIN (Calon Pengantin) kita itukan variatif tidak semuanya sarjana, tidak semuanya lulus SMA, jadi mulai yang tidak lulus sekolah sampai dengan pasca sarjana, maka varian-varian pendidukan ini juga kan yang mempengaruhi ketertarikan mereka terhadap kegiatan SUSCATIN ini sendiri, barang kali yang mungkin pendidikannya sedang-sedang, SMA itu mungkin masih minat tapi yang dibawah SMA atau tidak lulus-lulus sama sekali mereka semangtnya kurang, karena mungkin ketidakpahaman mereka, tapi yang S1 atau S2 semangtnya juga kurang, tapi mungkin saking pahamnya sehingga merasa tidak butuh lagi itukan satu kendala. Yang kedua mengenai varian umur, umur calon pengantin itu kan juga berbeda-beda yang memang tetap usia diatas 16 untuk perempuan dan diatas 19 bagi laki-laki, tetapi pada kenyatannya ada yang masih sangat muda 20an, ada yang 30an keatas, ada yang 40 keatas, dan ada yang bahkan agak tua, hal ini kan juga yang mempengaruhi semangat mereka dalam mengikuti kursus tersebut, selain umur kemudain

67

kesibukan masyarakat terutama pekerjaan mereka kadang kedatangan mereka ke KUA itu kan menyempatkan waktu artinya menggunakan sisa-siasa waktu mereka kalaupun mereka menyempatkan waktunya pun sangat terbatas sehingga bahasa lainnya ya kesibukan masyarakat dalam mengikuti kursus tersebut yang juga menjadi kendala.

68

BAB IV

Dokumen terkait