1. Prof. R. Subekti, SH. Arbitrase Perdagangan.
Cetakan Pertama, September 1981, Bina Cipta Bandung. 2. Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama.
Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional. Alumni, 1985, Bandung.
3. Prof. Mr. Dr. Sudargo Gautama. Indonesia dan Arbitrase Internasional. Alumni, 1986, Bandung.
4. Prof. Zainal Asikin Kusumah Atmadja, SH.
Konvensi/Ratifikasi dan Eksekusi Putusan Arbitrase. Makalah disampaikan dalam Simposium Sehari di Jakarta,
16 Nopember 1988.
5. Frank Elkouri dan Edna Elkouri. How Arbitration Works.
Washington DC, 1974.
6. Bunga Rampai Eksekusi Putusan Arbitrase Asing, Jilid I—IV. Diterbitkan Tim Pengkajian dan Penelitian Hukum Mahkamah Agung Republik Indonesia, 1988.
LAMPIRAN
PERATURAN HUKUM ACARA PERDATA
(Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering, disingkat R.V.) BUKU KETIGA
ANEKA ACARA BAB PERTAMA
Putusan wasit Bagian pertama
Persetujuan perwasitan dan pengangkatan para wasit
Pasal 615
1. Adalah diperkenankan kepada siapa saja, yang terlibat dalam suatu sengketa yang mengenai hak-hak yang berada dalam ke kuasaannya untuk melepaskannya, untuk menyerahkan pemu tusan sengketa tersebut kepada seorang atau beberapa orang wasit.
2. Semua orang yang dengan kekuasaan hakim telah diangkat da lam sesuatu tugas-jabatan, atau yang berdasarkan ketentuan- ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Perdata atau Kitab Undang-undang Hukum Dagang, untuk mengadakan suatu per damaian atau menjual barang, memerlukan kuasa dari hakim, tidak diperkenankan dalam jabatan tersebut menyerahkan pe mutusan sengketa-sengketa kepada wasit, tanpa telah menda pat kuasa seperti itu.
3. Bahkan adalah diperkenankan mengikatkan diri satu sama lain, untuk menyerahkan sengketa-sengketa yang mungkin timbul di kemudian hari, kepada pemutusan seorang atau beberapa orang wasit.
Pasal 616
Tidaklah diperkenankan, atas ancaman kebatalan, untuk mengada kan suatu persetujuan perwasitan mengenai penghibahan atau peng- hibah-wasiatan nafkah; mengenai perceraian atau perpisahan dari meja dan tempat tidur antara suami dan isteri; mengenai keduduk an hukum seseorang, ataupun mengenai lain-lain sengketa tentang mana oleh ketentuan-ketentuan undang-undang tidak diperboleh kan mengadakan suatu perdamaian.
Pasal 617
1. Dengan kekecualian sebagaimana termuat dalam ketentuan pa sal 34, maka siapa saja yang diperbolehkan menjadi seorang jurukuasa, juga diperbolehkan untuk diangkat sebagai seorang
wasit.
2. Dari ketentuan ini dikecualikan wanita dan anak yang belum dewasa.
(Pasal 34 Peraturan Hukum Acara Perdata melarang para hakim para jaksa dan para panitera Pengadilan untuk menjadi juru kuasa dan wasit).
Pasal 618
1. Persetujuan perwasitan harus diadakan secara tertulis dan di tandatangani oleh kedua pihak; jika para pihak tidak mampu menandatangani, maka persetujuan harus dibuat di muka se orang notaris.
2. Persetujuan harus memuat masalah yang menjadi sengketa ■ nama-nama dan tempat-tempat tinggal para pihak, dan juga
nama nama serta tempat-tempat tinggal wasit atau para wasit, yang selalu harus dalam jumlah ganjil.
3. Semua atas ancaman kebatalan. Pasal 619
Apabila, dalam hal seperti yang diterangkan dalam ayat ketiga dari pasal 615, pada waktunya sengketa timbul, para pihak tidak men capai sepakat tentang hal memilih wasitnya, maka atas permohon an pihak yang paling berkepentingan, wasit atau para wasit itu akan diangkat oleh hakim yang sedianya berwenang memeriksa sengketa nya seandainya tidak ada persetujuan perwasitan.
Pasal 620
1. Persetujuan perwasitan harus menentukan jangka waktu da lam mana sengketa yang diajukan untuk diputusi oleh wasit, harus sudah diputus; dan dalam hal tidak telah ditetapkan jang ka waktu seperti itu, maka kuasa yang diberikan kepada wasit atau para wasit, akan berlaku untuk enam bulan terhitung mulai hari para wasit telah menerima baik pengangkatan mereka.
2. Selama jangka waktu tersebut, kekuasaan para wasit tidak boleh ditarik kembali kecuali atas kesepakatan bulat para pihak.
Pasal 621
1. Para wasit yang tidak diangkat oleh hakim, tidak dapat dila wan kecuali atas alasan-alasan yang timbul setelah pengangkat an mereka.
2. Para wasit yang diangkat oleh hakim, apabila para pihak baik secara tegas atau secara diam-diam telah menyetujui pengang katan mereka, tidak dapat dilawan atas alasan yang timbul se telah itu.
3. Alasan-alasan untuk melawan seorang wasit adalah sama dengan alasan-alasan yang dapat dipakai untuk melawan seorang hakim; benar-tidaknya alasan-alasan tersebut akan selekasnya diperiksa dan diputusi oleh hakim yang disebutkan dalam pasal 619.
Pasal 622
1. Penerimaan penugasan para wasit itu harus dilakukan secara ter tulis.
2. Penerimaan tersebut dapat ditulis pada surat pengangkatan me reka.
Pasal 623
Para wasit yang telah menerima baik pengangkatan mereka, tidak diperkenankan mengundurkan diri dari tugas mereka, kecuali atas alasan-alasan yang disetujui oleh hakim yang disebutkan dalam pa sal 619. Mereka dapat dihukum untuk mengganti kerugian kepada para pihak, apabila mereka, tanpa sesuatu alasan yang dapat diterima, tidak memberikan keputusan mereka dalam jangka waktu yang telah ditetapkan untuk itu.
Bagian kedua
Pemeriksaan di muka para wasit Pasal 624
Pemeriksaan akan dilakukan dengan cara dan dalam jangka waktu sebagaimana ditetapkan dalam persetujuan perwasitan, atau apa bila tentang itu tidak telah ditetapkan sesuatu, menurut cara sebagai mana ditetapkan oleh para wasit.
Pasal 625
Setelah jangka waktu itu berakhir, maka para wasit hanya akan me mutus berdasarkan keterangan-keterangan tertulis serta surat-surat yang telah diajukan kepada mereka.
Pasal 626
Apabila tidak satu pun dari para pihak telah mengajukan sesuatu surat, maka atas permintaan para pihak, para wasit dapat menetap kan suatu jangka waktu baru atau menyatakan bahwa tugas mereka telah berakhir.
Pasal 627
Semua perintah-perintah untuk mengadakan tindakan-tindakan se mentara yang dikeluarkan oleh para wasit dan tiap pengaturan yang dibuat berkenan dengan soal-soal acara, harus dilaksanakan tanpa formalitas-formalitas lebih lanjut, sejak perintah atau pengaturan itu diberitahukan kepada para pihak.
Pasal 628
1. Apabila perlu diadakan pemeriksaan kehakiman tentang ke aslian atau kepalsuan surat-surat, atau apabila secara tiba-tiba timbul suatu perselisihan mengenai suatu peristiwa yang ber sifat pidana, maka para wasit akan mempersilakan para pihak untuk menempuh jalan hukum kepada pengadilan biasa.
2. Dalam hal yang demikian, jangka waktu-jangka waktu akan mu lai beijalan lagi mulai pada hari putusan pengadilan yang di berikan tentang insiden tersebut, memperoleh kekuatan hu kum yang tetap.
Pasal 629
1. Ketentuan ayat-ayat dari pasal yang lalu berlaku juga, dalam hal para wasit telah memberikan putusan mengenai suatu in siden atau dalam hal mereka memberikan suatu putusan sela. 2. Dalam hal yang terakhir, mereka bahkan diperkenankan un tuk memperpanjang jangka waktu yang telah ditetapkan ber hubungan dengan putusan akhir yang akan mereka berikan.
Pasal 630
1. Apabila para wasit telah memerintahkan didengarnya saksi- saksi, tetapi saksi-saksi ini tidak menghadap secara sukarela atau menolak mengangkat sumpah atau memberikan keterangan, maka pihak yang berkepentingan harus mengajukan permo honan kepada Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukum nya perintah pendengaran saksi-saksi tersebut telah dikeluar kan, dengan permohonan supaya pengadilan itu mengangkat seorang hakim yang diberikan tugas khusus untuk melakukan pendengaran saksi-saksi tersebut dengan cara yang lazim berlaku dalam perkara-perkara biasa di muka pengadilan.
Bagian ketiga Putusan wasit
Pasal 631
Para wasit harus memutus menurut peraturan-peraturan hukum ke cuali persetujuan perwasitan telah memberikan kekuasaan kepada mereka untuk memutus menurut kebijaksanaan (ex aequo et bono).
Pasal 632 1. Putusan wasit harus memuat:
nama-nama dan tempat-tempat tinggal para pihak;
suatu kesimpulan tentang pendirian mereka masing-masing alas an-alasan (pertimbangan) serta amarnya putusan.
2. Putusan itu harus diberikan tanggal, dengan menyebutkan tem pat di mana ia diambil dan harus ditandatangani oleh semua wasit.
Apabila bagian terkecil para wasit menolak menandatangani, maka hal ini harus disebutkan oleh para wasit lainnya dan putusan akan mempunyai kekuatan hukum yang sama seperti.jika ia ditanda tangani oleh semua wasit.
Pasal 633
Pasal 634
1. Dalam waktu empat belas hari sekedar mengenai Jawa dan Ma dura, dan jika mungkin dalam waktu tiga bulan sekedar menge nai tempat-tempat lainnya, terhitung mulai hari diambilnya putusan, maka asli dari putusan itu oleh salah seorang wasit atau oleh seorang jurukuasa yang khusus dikuasakan oleh para wasit atau salah seorang mereka, harus disimpankan kepada kantor Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya putus an itu telah diambilnya.
2. Akte penyimpanan tersebut harus ditulis pada bagian bawah atau bagian samping dari asli putusan yang disimpankan, dan harus ditandatangani oleh panitera dan orang yang melakukan penyimpanan tersebut.
3. Panitera pengadilan harus membuat akte penyimpanan terse but;
tiada biaya untuk akte itu maupun biaya-biaya lain dapat di minta dari para wasit, karena para pihak sendirilah yang me nanggung biaya-biaya itu.
Pasal 635
Para wasit diwajibkan, selain putusan mereka, menyimpankan pula asli surat pengangkatan mereka atau salinan resmi dari surat itu, pada kantor panitera.
Pasal 636
Putusan wasit dari macam apa pun juga, tidak dapat dibantah. Pasal 637
Putusan wasit harus dijalankan dengan suatu perintah dari ketua Pe ngadilan Negeri yang disebutkan dalam pasal 634, yang dikeluar kan dalam bentuk seperti yang diuraikan dalam pasal 435. Perin tah itu dituliskan di atas asli surat putusan wasit dan akan dibuat salinan apabila ia dikeluarkan.
Apabila wasit-wasit ditugaskan memutusi dalam tingkat banding suatu perkara yang dalam tingkat pertama telah diperiksa oleh sebuah pe ngadilan biasa, maka putusan wasit harus disimpankan di kantor pa nitera dari pengadilan yang sedianya memeriksa perkara itu dalam tingkat banding, sedangkan perintah pelaksanaan juga akan dike luarkan oleh ketua pengadilan tersebut.
Pasal 639
Putusan wasit yang memuat perintah pelaksanaan yang diberikan oleh ketua dari Pengadilan Negeri yang berwenang, harus dijalan kan menurut cara yang biasa berlaku bagi suatu pelaksanaan putus an pengadilan.
Pasal 638
Pasal 640
Pengadilan yang ketuanya telah mengeluarkan perintah pelaksana an, harus memeriksa semua sengketa berhubungan dengan pelak sanaan putusan wasit tersebut.
Bagian keempat
Upaya-upaya terhadap putusan-putusan wasit Pasal 641
1. Menurut ketentuan pasal 163 ’’Reglement.op de Rechter lijke Organisatie en het Beleid der Justitien (R.O), diperkenankan banding kepada Hooggerechtshof terhadap putusan-putusan wasit yang pokok perselisihannya mempunyai nilai lebih dari 500 rupiah, kecuali para pihak secara tegas melepaskan hak mereka untuk naik banding.
2. Ketentuan-ketentuan sebagaimana termuat dalam bab keenam dari Buku Pertama Kitab Undang-undang ini berlaku untuk banding tersebut.
(menurut pasal 15 Undang-undang Mahkamah Agung (Undang undang No. 1 tahun 1950), Mahkamah Agung memutus dalam tingkat banding terhadap putusan-putusan wasit yang menge nai nilai harga Rp. 2 5 .0 0 0 ,- atau lebih).
Tiada kasasi maupun peninjauan kembali dapat diajukan terhadap suatu putusan wasit, biarpun para pihak telah memperjanjikan hal yang demikian dalam persetujuan mereka.
Pasal 642
Pasal 643
Apabila putusan wasit itu tidak dapat dimintakan banding, maka ia dapat dilawan sebagai batal, dalam hal-hal yang berikut:
1. apabila putusan itu telah diberikan melewati batas-batas per setujuan;
2. apabila putusan itu diberikan berdasarkan suatu persetujuan yang adalah batal atau telah lewat waktunya;
3. apabila putusan itu telah diberikan oleh sejumlah wasit yang tidak berwenang memutus tanpa hadirnya wasit-wasit yang lain nya;
4. apabila telah diputus tentang hal-hal yang tidak telah dituntut atau putusan telah mengabulkan lebih daripada yang dituntut; 5. apabila putusan wasit itu mengandung keputusan-keputusan
yang satu sama lain bertentangan;
6. apabila para wasit telah melelaikan untuk memberikan keputus- an tentang satu atau beberapa hal yang menurut persetujuan telah diajukan kepada mereka untuk diputus;
7. apabila para wasit telah melanggar formalitas-formalitas hu kum acara yang harus diturut atas ancaman kebatalan; tetapi ini hanya berlaku apabila menurut ketentuan-ketentuan yang tegas dimuat dalam persetujuan para wasit diwajibkan mengi kuti hukum acara biasa yang berlaku di muka pengadilan;
8. apabila telah diberikan keputusan berdasarkan surat-surat yang setelah keputusan itu diberikan, diakui sebagai palsu atau telah dinyatakan sebagai palsu;
9. apabila setelah putusan diberikan, surat-surat yang menentu kan, yang dulu disembunyikan oleh para pihak, diketemukan lagi;
10. apabila putusan didasarkan pada kecurangan atau itikad jahat, yang dilakukan selama berjalannya pemeriksaan, yang kemu dian diketahui.
Pasal 644
1. Tuntutan untuk pembatalan putusan wasit tidak akan diterima, kecuali diajukan di dalam jangka waktu enam bulan terhitung semenjak putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak sendiri di tempat tinggal mereka.
2. Namun demikian, dalam h'al-hal yang disebutkan dalam sub 8, 9 dan 10, jangka waktu enam bulan itu tidak akan berjalan selainnya sesudahnya kepalsuan, kecurangan atau itikad yang tidak baik itu telah diketahui; dengan syarat bahwa dalam semua peristiwa itu hanyalah bukti-bukti tertulis saja yang dapat di terima mengenai tanggal diketahuinya peristiwa-peristiwa ter sebut.
Pasal 645
Tuntutan pembatalan putusan wasit dilakukan dengan panggilan yang berisikan perlawanan terhadap perintah pelaksanaan putusan tersebut.
. Pasal 646
1. Tuntutan tersebut harus diajukan kepada Pengadilan Negeri yang ketuanya telah mengeluarkan perintah pelaksanaan pu tusan wasit tersebut.
2. Pengadilan Negeri akan memutus tentang tuntutan tersebut dan para pihak, apabila ada alasan, dapat menggunakan upaya upaya yang sama terhadap putusan itu, sebagaimana yang oleh undang-undang disediakan terhadap putusan-putusan pengadil an biasa.
Pasal 647
Apabila para wasit, dalam tingkat terakhir, telah memerintahkan penyanderaan terhadap pihak yang dikalahkan, sedang pihak ini ber pendapat bahwa ketentuan-ketentuan undang-undang dalam hal ter sebut tidak memperkenankan penyanderaan, maka dapatlah ia me ngajukan tuntutan kepada pengadilan sebagaimana disebutkan da lam pasal yang lalu, agar supaya bagian dari putusan tersebut dibatal kan, di dalam jangka waktu dan dengan cara sebagai mana diurai kan dalam pasal-pasal 644 dan 645, dan demikian itu kendati ditulis nya ketentuan-ketentuan yang sebaliknya yang mungkin dipeijanji- kan dalam persetujuan perwasitannya.
Bagian kelima
Berakhirnya acara-acara perwasitan
Pasal 648
1. Meninggalnya salah satu pihak tidaklah menghentikan akibat- akibat suatu persetujuan perwasitari maupun akibat-akibat suatu • klausula perwasitan sebagaimana disebutkan dalam ayat ter akhir dari pasal 651; juga kekuasaan yang telah diberikan ke pada para wasit tidak akan dianggap sebagai ditarik kembali. 2. Namun terhadap para akhliwaris, jangkawaktu-jangkawaktu
sebagaimana ditetapkan dalam persetujuan perwasitan, akan ditangguhkan, menunggu berakhirnya jangkawaktu yang di berikan kepada mereka untuk membuat pencatatan tentang harta peninggalan dan untuk berpikir.
Pasal 649
Kekuasaan yang diberikan kepada para wasit berakhir pada saat me reka telah memberikan putusan mereka..
Pasal 650 Kekuasaan tersebut berakhir pula:
1. dengan lewatnya jangka waktu sebagaimana ditetapkan dalam persetujuan perwasitan atau sebagaimana diperpanjang selama pemeriksaan;
2. dengan lewatnya waktu enam bulan sejak tanggal mereka me nerima baik tugas mereka, apabila tidak telah ditentukan suatu jangka waktu yang lain;
3. dengan ditariknya kembali penguasaan kepada para wasit, di lakukan dengan kesepakatan bulat oleh para pihak.
Pasal 651
1. Kekuasaan yang diberikan kepada para wasit juga berakhir de ngan meninggalnya mereka, dengan diterimanya perlawanan yang diajukan terhadap mereka atau dengan dipecatnya salah satu atau beberapa wasit.
2. Namun demikian, kecuali apabila diperjanjikan lain, hakim se bagaimana yang disebutkan dalam pasal 619, atas permintaan para pihak atau salah satu dari mereka, dalam hal yang demi kian akan mengangkat wasit-wasit baru dengan tugas melanjut kan pemeriksaan berdasarkan surat-surat yang terakhir.
THE 1958 NEW YORK CONVENTION
on the recognition and enforcement of foreign arbitral awards
The Convention on the Recognition and Enforcement o f Foreign Arbitral Awards was signed at the United Nations Conference on International Commercial Arbitration held in New York in June 1958. The complete text o f the Convention is given below for informat ion. Attention is however particularly drawn to Articles I to VII, which contain the essential substance of the Convention. The re maining articles are primarily concerned with procedural matters.
Article 1
1. This Convention shall apply to the recognition and enforcement of arbitral awards made in the territory of a State other than the State where the recognition and enforcement of such awards are sought, and arising out of differences between persons, whet her physical or legal. It shall also apply to arbitral awards not considered as domestic awards in the State where their recog nition and enforcement are sought.
2. The term ’’arbitral awards” shall include not only awards made by arbitrators appointed for each case but also those made by permanent arbitral bodies to which the parties have submitted. 3. When signing, ratifying or acceding to this Convention, or notif ying extension under Article X hereof, any State may on the basis o f reciprocity declare that it will apply the Convention to the recognition and enforcement o f awards made only in the territory o f another Contracting State. It may also declare that it will apply the Convention only to differences arising out of legal relationships, whether contractual or not, which are considered as commercial under the national law of the State making such declaration.
Article II
1. Each Contracting State shall recognize an agreement in writing under which the parties undertake to submit to arbitration all or any differences which have arisen or which may arise between them in respect o f a defined legal relationship, whether contrac tual or not, concerning a subject matter capable o f settlement of arbitration.
2. The term ’’agreement in writing” shall, include an arbitral clause in a contract or an arbitration agreement, signed by the parties or contained in an exchange o f letters or telegrams.
3. The court of a Contracting State, when seized of an action in a m atter in recpect of which the parties have made an agreement within the meaning o f this article, shall, at the request o f one of the parties, refer the parties to arbitration, unless it finds that the said agreement is null and void, inoperative or incapable o f being performed.
Article III
Each Contracting State shall recognize arbitral awards as binding and enforce them in accordance with the rules of procedure of the territory where the award is relied upon, under the conditions laid down in the following articles. There shall not be imposed substantially more onerous conditions or higher fees or charges on the recognition or enforcement o f arbitral awards to which this Convention applies than are imposed on the recognition or enforcement o f domestic arbitral awards.
Article IV
1. To obtain the recognition and enforcement mentioned in the preceding article, th e , party applying for recognition and en forcement shall, at the time o f the application, supply:
a. the duly authenticated original award or a duly certified copy thereof;
b. the original agreement referred to in Article II or a duly cer tified copy thereof.
2. If the said award or agreement is not made in an official language o f the country in which the award is relied upon, the party apply
ing for recognition and enforcement o f the award shall produce a translation of these documents into such language. The t r a n s i tion shall be certified by an official or sworn translator or by a diplomatic or consular-agent.
Article V
1. Recognition and enforcement of the award may be refused, at the request of the party against whom it is invoked, only if that party furnishes to the competent authority where the recognition and enforcement is sought, proof that:
a. the parties to the agreement referred to in Article II were, under the law applicable to them, under some incapacity, or the said agreement is not valid under the law to which the parties have subjected it or, failing any indication thereon, under the law of the country where the award was made; or b. the party against whom the award is invoked was not given
proper notice o f the appointment of the arbitrator or of the arbitration proceedings or was otherwise unable to present his case; or
c. the award deals with a difference not contemplated by or not falling within the terms of the submission to arbitration, or it contains decisions on matters beyond the scope of the submission to arbitration, provided that, if the decision on matters submitted to arbitration can be separated from those no t so submitted, that part of the award which contains de cisions on matters submitted to arbitration may be recogn ized and enforced: or
d. the composition of the arbitral authority or the arbitral pro