DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman 1. Suhu dan kelembaban di seluruh 15 titik pengamatan ... 106 2. Dominansi spesies serangga penyerbuk di tiap-tiap habitat ... 106 3. Regresi hubungan jarak dari tepi hutan dengan jumlah spesies serangga
penyerbuk ... 108 4. Regresi hubungan jarak dari tepi hutan dengan kelimpahan serangga
penyerbuk ... 109 5. Regresi hubungan jumlah mekar bunga dengan jumlah spesies serangga
penyerbuk ... 110 6. Regresi hubungan jumlah mekar bunga dengan kelimpahan serangga
penyerbuk ... 111 7. Pengaruh suhu udara terhadap jumlah spesies serangga penyerbuk ... 112 8. Regresi hubungan suhu udara terhadap kelimpahan serangga penyerbuk113 9. Regresi hubungan kelembaban udara terhadap jumlah spesies serangga
penyerbuk. ... 114 10. Regresi hubungan kelembaban udara terhadap kelimpahan serangga
penyerbuk ... 115 11. Fungsi spesies-spesies dari ordo Hymenoptera dalam komunitas... 116 12. Fungsi spesies-spesies dari ordo Diptera dalam komunitas ... 117 13. Matriks indeks ketidaksamaan (dissimilarity) ... 118 14. Fungsi spesies dari ordo-ordo Coleoptera, Dermaptera, Hemiptera,
Homoptera, Lepidoptera, dan Orthoptera dalam komunitas ... 119 15. Pola fluktuasi indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan pada jarak
yang beragam dari tepi hutan... 120 16. Pola fluktuasi indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan pada jarak
yang beragam dari tepi hutan... 121 17. Hubungan pengaruh faktor jarak hutan dan jumlah mekar bunga terhadap
keanekaragaman spesies seranggga penyerbuk ... 122 18. Perbandingan komposisi fungsi spesies serangga pengunjung di tiap-tiap
19. Perbandingan komposisi fungsi spesies serangga pengunjung di tiap-tiap habitat ... 123 20. Foto-foto spesimen serangga penyerbuk ... 124
I. PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Sedikitnya terdapat 66% dari 1500 spesies tanaman budidaya di dunia ini dipolinasi oleh binatang (Roubik 1995 dalam Kremen et al. 2002) diantaranya adalah berbagai jenis serangga, burung-burung penghisap madu, dan kelelawar (Meffe 1998; Ghazoul 2005). Diantara ketiga kelompok penyerbuk tersebut, serangga merupakan kelompok yang paling banyak berperan sebagai agen penyerbuk.
Serangga memiliki potensi besar untuk dipelajari karena jumlah angka tertinggi dari semua spesies binatang di dunia ini diwakili oleh filum Arthropoda, yaitu sekitar 84% dari keseluruhan spesies binatang di dunia (Groombridge 1992), dan 56% dari semua spesies bintang yang telah dikenal secara global di dunia ini merupakan golongan kelas serangga (MacDonald 2003). Keanekaragaman spesies dari seluruh grup taksonomi meningkat dengan signifikan dari daerah kutub ke daerah khatulistiwa (Groombridge 1992; Steven 1989). Dengan demikian, Indonesia sebagai negara tropis diperkirakan menyimpan keanekaragaman serangga yang sangat tinggi, termasuk diantaranya adalah serangga penyerbuk.
Sebagian besar habitat alami di Indonesia berupa hutan yang memiliki banyak manfaat bagi kesejahteraan umat manusia, terutama fungsi hutan sebagai penyedia jasa lingkungan (Kremen et al. 2002; Daily 1997), terlebih lagi sebagian besar masyarakat di Indonesia masih sangat tergantung dari hutan. Salah satu jasa lingkungan yang disediakan oleh hutan alam yang penting namun kurang mendapat perhatian adalah jasa penyerbukan bagi tanaman pertanian dan perkebunan (Klein et al. 2003).
Namun dengan terus meningkatnya pemanfaatan sumberdaya alam yang tak lestari mengancam keanekaragaman hayati sebagai imbas dari kerusakan, fragmentasi, dan isolasi ekosistem alami (Kruess & Tscharntke 2000; Stefan- Dewenter & Tscharntke 1999; Kruess & Tscharntke 1994). Hal tersebut erat kaitannya dengan pernyataan Schowalter (2000) bahwa kondisi lingkungan seperti kesehatan ekosistem, kualitas air dan udara, kebakaran hutan, serta perubahan iklim memberi pengaruh pada serangga.
Serangga memiliki keanekaragaman yang lebih tinggi pada lokasi yang dekat dengan hutan daripada lokasi yang lebih jauh dari hutan (Klein et al. 2003). Penggunaan herbisida dan pestisida juga berpengaruh negatif pada kelimpahan serangga (Kremen et al. 2002). Isu menurunnya keberadaan binatang penyerbuk di habitat alaminya, pernah dideklarasikan dalam Fifth Conference of Parties to the Convention on Biological Diversity pada tahun 2000 (Ghazoul 2005), semakin menarik perhatian dunia akan fungsi ekosistem hutan sebagai penyedia jasa penyerbuk bagi intensifikasi pertanian.
Lahan bekas hutan sebagai ekosistem yang telah termodifikasi dan terkonversi menjadi lahan pertanian seperti yang terdapat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan tempat yang tepat untuk mempelajari pengaruh jarak hutan terhadap komunitas serangga penyerbuk. Lokasi penelitian ini dianggap mewakili kondisi di sebagian besar pinggiran kawasan hutan di Indonesia yang umumnya berupa lahan pertanian tradisional, yang salah satu hasil komoditasnya adalah sayuran caisin (Brassica rapa L.).
Dalam penelitian ini, caisin menjadi model tanaman yang tepat untuk menarik serangga penyerbuk karena memiliki bunga berwarna kuning terang, penghasil nektar, dan serbuksari yang lengket sehingga peran serangga sebagai agen penyerbuk sangat penting. Warna hijau kekuning-kuningan dengan panjang gelombang antara 5330 – 5350 Å merupakan warna yang sangat efektif untuk memikat jenis-jenis lebah (Sunjaya 1970). Dengan menempatkan titik-titik pengamatan yang semakin menjauhi tepi hutan pada hari yang bersamaan, maka akan dapat terlihat perubahan komposisi jenis serangga peyerbuk seiring bertambahnya jarak dari hutan.
1. 2 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini untuk:
1. Mengidentifikasi dan mengelompokan fungsi-fungsi ekologis dari bermacam spesies serangga pengunjung bunga caisin.
2. Menganalisa komposisi dan struktur komunitas serangga penyerbuk di tiap- tiap jarak yang beragam dari tepi hutan dengan menggunakan pendekatan indeks-indeks keanekaragaman.
3. Menganalisa penyebaran serangga penyerbuk dan kemiripan struktur komunitas di antara beragam tipe habitat dan jarak dari tepi hutan.
4. Membuktikan besar-kecilnya pengaruh jarak dari tepi hutan terhadap komposisi dan struktur komunitas serangga penyerbuk.
1. 3 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan pentingnya keberadaan hutan sebagai penyedia jasa penyerbuk yang memberi manfaat pada pertanian masyarakat di sekitar hutan. Selain itu, dengan mengetahui spesies-spesis serangga yang paling berperan dalam penyerbukan, dapat dijadikan rekomendasi dalam menentukan prioritas bila diperlukan upaya konservasi spesies.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Binatang Penyerbuk Merupakan Agen dari Jasa Lingkungan
Istilah jasa ekosistem atau jasa ekologi didefinisikan secara luas sebagai kondisi dan proses-proses dalam ekosistem dan spesies yang merupakan bagian didalamnya dapat membantu kelestarian dan memenuhi kebutuhan manusia. (Daily 1997), Kearns et al. (1998) menyatakan bahwa manusia bergantung pada binatang penyerbuk secara langsung maupun tak langsung untuk tiap sepertiga makanan yang kita makan. Dengan peran yang sangat berharga bagi menusia sehingga banyak penilaian potensi bintang penyerbuk dilakukan dengan pendekatan ilmu ekonomi yang dipadukan dengan ilmu ekologi (Kevan & Phillips 2001).
Serangga memegang peran yang sangat penting dalam menjaga dan melindungi fungsi ekosistem, serta memberi banyak jasa melalui bermacam- macam mekanisme seperti mendekomposisi serasah dedauan, penyerbukan, menahan pertumbuhan tumbuhan, dan sebagai mangsa dari pemangsa (Hamond & Miller 1998; Black et al. 2001) sebagai tambahan, serangga juga memberikan indikator ekologi (Basset et al. 2004) dan baik dipakai untuk memonitor efek dari perubahan lansekap dan perubahan penggunaan lahan, kerusakan habitat, isolasi habitat, dan modifikasi habitat, dengan didasarkan pada kelimpahannya, kekayaan jenis, dan kehadiran serangga tersebut (Groombridge 1992)
Kremen et al. (2002) menemukan bahwa keanekaragaman adalah hal penting bagi kelestarian jasa tersebut, karena variasi pada komposisi komunitas dari tahun ke tahun. Degradasi yang berkelanjutan pada lanskap pertanian alami akan menghancurkan jasa “gratis ini”. Perhatian telah ditingkatkan pada penyerbuk invertebrata tanaman liar dan perkebunan yang menurun sebagai akibat dari praktek pertanian moderen, degradasi habitat, masuknya haman dan penyakit. (Ghazaol 2005).
Meskipun hilangnya beberapa jenis serangga penyerbuk tidak mempengaruhi pada hasil pertanian dengan tanaman yang penyerbukannya dibantu oleh angin dan dapat melakukan penyerbukan sendiri atau self-pollinated
(Ghazoul 2005). Namun di daerah tropis, serangga merupakan agen penyerbuk utama di berbagai dan beragam jenis tanaman (Bawa 1990).
Penyerbukan memerlukan dua pihak yaitu tumbuhan yang diserbuk dan binatang yang menyerbuk, yang mana hubungan tersebut terjalin berkat suatu proses yang disebut koevolusi (Adisoemarto 1994; Buchori & Sartiami 1994) yaitu proses perkembangan yang menghasilkan sifat baru yang terjadi pada dua jenis atau dua kombinasi antara tumbuhan, hewan, dan jasad renik. Serangga berkunjung ke bunga bukan untuk menyerbuk, karena sebagian besar serangga melakukan kunjungan ke bunga untuk mencari nektar (Adisoemarto 1994) dan juga nutrisi lain seperti polen (Potts et al. 2004), sehingga kefisienan penyerbukan juga tergantung pada desain bunga (Adisoemarto 1994; Boulter et al. 2005)
2. 2 Pengaruh Jarak Hutan Terhadap Keanekaragaman Serangga
Klein et al. (2003) menemukan bahwa di daerah tropis, jarak terdekat dengan hutan diketahui memberi dampak kepada keragaman penyerbuk. Keanekaragaman serangga penyerbuk di dalam hutan akan memperngaruhi keanekaragaman serangga penyerbuk di ekosistem pinggir hutan, yang berkaitan dengan aktifitas foraging. Hal ini seperti yang dilaporkan oleh Steffan-Duwenter et al. (2002), bahwa Bumble bees sebagai penyerbuk tanaman sawi (mustrad) dan radish mempunyai keanekaragaman yang semakin menurun dengan meningkatnya jarak dari habitat alami.
Semakin tinggi keanekaragaman serangga penyerbuk maka semakin besar pula jasa penyerbukan yang dapat diberikan dari ekosistem tersebut. (Kremen et al. 2002). Jumlah spesies lebah sosial berkurang seiring dengan jarak dari hutan, dimana jumlah jenis lebah sosial meningkat seiring dengan intensitas cahaya (sedikit naungan) dan tempat dengan kuantitas bunga mekar yang lebih besar. Selain itu, kepadatan yang lebih tinggi juga ditemukan pada lebah sosial yang berada lebih dekat dengan hutan daripada yang lebih besar jaraknya dari hutan, hal ini diperkirakan karena hutan memberikan tempat bersarang yang sehat untuk coloni lebah (Klein et al. 2003)
Namun dalam kontrasnya, beberapa lebah soliter ditemukan membangun sarang diluar lebatnya hutan, lebih memilih sedikit naungan, dan sedikit humus seperti yang ditawarkan oleh area terbuka kepada banyak spesies yang bersarang
di tanah (Klein et al. 2003). Naungan juga mempengaruhi populasi hama bagi serangga, pengaruh dari penyakit, dan alang-alang (Perfecto et al. 1996). Intensitas cahaya sering dikorelasikan dengan jumlah tanaman berbunga, sehingga kebanyakan lebah soliter lebih manyukai habitat terbuka (Klein et al. 2003).
2. 3 Fragmentasi Habitat dan Teori Island Biogeography
Teori island biogeography merupakan sebuah model yang menawarkan prediksi tentang jumlah spesies yang ditemui pada suatu pulau (MacArthur & Wilson 1967). Teori tersebut menyatakan bahwa pulau-pulau yang dekat dengan daratan utama cenderung memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi dari pulau- pulau yang terletak jauh dari daratan utama. Kedekatan pulau dengan daratan utama menularkan tingkat imigrasi secara besar-besaran. Selanjutnya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan utama akan menerima kolonis lebih banyak dengan lompatan yang menyebar dari pada pulau-pulau yang lebih jauh dari daratan utama. Berdasarkan hipotesis ini, pulau-pulau yang disituasikan lebih jauh dari daratan utama cenderung memiliki kekayaan jenis yang lebih rendah.
Pada habitat teresterial, hipotesis islands biogeography diadaptasi kedalam konsep pulau-pulau ekologi, dimana habitat alami merupakan sumber (source) bagi banyak spesies kemudian lahan pertanian yang disituasikan di tepi sumber tersebut merupakan kolam (sink). Modifikasi dari hipotesis islands biogeography memberikan dasar untuk memprediksi efek pada komunitas jenis akibat meningkatnya isolasi habitat alami yang berlokasi diantara lansekap pertanian. Klein et al. (2002) menyatakan dalam 5 tahun terakhir, beberapa penelitian tentang efek isolasi terhadap spesies serangga telah dilakukan di berbagai lansekap tropis. Secara umum, agroekosistem menyebabkan mosaik lansekap yang kompleks dan terdiri dari banyak habitat pertanian pangan maupun perkebunan non-pangan (Sahari 2004). Isolasi agroekosistem dari habitat alami memberi dampak pada kekayaan jenis dan struktur komunitas. Klein et al. (2003) melaporkan bahwa jumlah lebah sosial mengalami penurunan secara signifikan seiring jaraknya dari hutan terdekat. Pada sebuah percobaan tentang isolasi terhadap dua tanaman tahunan yang tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri, Steffan-Dewenter & Tscharntke (1999) menemukan bahwa pembuahan menurun dengan seiring meningkatnya jarak dari habitat alami yang tersisa.
Fragmentasi dan kerusakan habitat bisa jadi penyebab yang mengganggu interaksi tanaman dengan penyerbuk (Steffan-Dewenter et al. 2002). Praktik pertanian dapat menyebabkan hilangnya atau punahnya suatu jenis, berkurangnya habitat alami, dan meningkatnya fragmentasi dan isolasi habitat (Rosenzweig 1995). Kerusakan dan fragmentasi habitat merupakan penyebab utama menurunnya keanekaragaman hayati (Quinn & Harrison 1998). Fragmentasi habitat tidak hanya berpengaruh terhadap kekayaan jenis penyerbuk, tetapi juga berpengaruh terhadap perilaku foraging dan ukuran tubuh (Rathcke & Jules 1993). Kerusakan habitat yang cepat juga menjadi penyebab kepunahan beberapa jenis serangga terutama bagi beberapa grup Hymenoptera yang sensitive terhadap gagngguan lingkungan (Sahari 2004)
2. 4 Struktur Komunitas, habitat, dan Keragaman Serangga
Sebuah komunitas tersusun atas segala organisme yang terdapat pada suatu tempat (Schowalter 2000), tiga pendekatan umun untuk mendeskripsikan struktur komunitas dapat diketahui dari; keanekaragaman spesies, interaksi spesies, dan organisasi fungsional. Setiap pendekatan memberikan informasi yang berguna, dan dalam pemilihan sebagian besar merupakan pencerminan dari tujuannya dan pertimbangan praktikal.
Keragaman jenis tidak hanya berarti kekayaan atau banyaknya jenis, tetapi juga kemerataan dari kelimpahan individu tiap jenis (Odum 1971). Krebs (1978) menambahkan bahwa konsep ukuran keragaman (diversity) dibedakan atas tiga ukuran yang dikenal secara umun yaitu kekayaan jenis (species richness), heterogenitas (heterogenity), dan kemerataan (evenness). Pada tingkat yang sederhana, keanekaragaman hayati didefinisikan sebagai jumlah spesies yang ditemukan pada suatu komunitas, suatu ukuran yang disebut kekayaan spesies (Primack et al. 1998).
Keanekaragaman spesies merupakan inti dari tema ekologi.
Keanekaragaman dapat terwakilkan dengan beberapa cara (Magurran 1983). Keterwakilan yang paling sederhana ialah sebuah katalog spesies, atau jumlah total spesies (species richness), sebuah ukuran yang dapat mengindikasikan variasi spesies dalam suatu komunitas (α diversity). Keanekaragaman spesies biasanya muncul ke puncak pertengahan tingkat gangguan (the intermediate
disturbance hypothesis) dikarenakan suatu kombinasi kecukupan sumberdaya dan tidak cukupnya waktu untuk persaingan keluar (Connell 1978; Huston 1979 dalam Schowalter 2000). Variasi spesies di suatu komunitas tidak sama dengan kelimpahan. Biasanya, sedikit spesies adalah berlimpah, dan banyak spesies hanya terwakili oleh satu atau sedikit individu (Magurran 1988; Stiling 1996 dalam Schowalter 2000).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman dalam komunitas alamiah menurut Campbell (2004) adalah:
1. ketersedian energi; peningkatan radiasi matahari di daerah tropis meingkatkan aktivitas fotosintesis tumbuhan, yang menyediakan peningkatan dasar sumberdaya untuk organisme lain dan dengan demikian kemampuannya lebih besar untuk mendukung spesies.
2. Heterogenitas habitat; dibandingkan dengan daerah lain, daerah tropis seringkali mengalami ganguan yang lebih bersifat lokal (seperti pohon tumbang, angin ribut, dan banjir), dan memiliki ketidak seragaman lingkungan yang lebih besar, memungkinkan keanekaragaman yang lebih besar pada spesies tumbuhan untuk membentuk dasar sumberdaya bagi komunitas hewan yang sangat beranekaragam.
3. Spesialisasi relung; iklim tropis yang memungkinkan banyak organisme untuk mengalami spesialisasi terhadap kisaran sumberdaya yang lebih sempit. Relung yang lebih kecil akan mengalami persaingan dan memungkinkan tingkat pembagian sumberdaya yang lebih baik diantara spesies-spesies, yang selanjutnya akan menggalang keanekaragaman spesies yang besar.
4. Interaksi populasi; keanekaragaman dalam satu pengertian adalah memperbanyak diri sendiri karena interaksi populasi yang kompleks mengalami koevolusi, interaksi pemangsa-mangsa, dan interakasi simbiotik dihasilkan dalam komunitas yang beranekaragam untuk mencegah agar suatu populasi tidak menjadi dominan
Kelimpahan adalah jumlah organisme per unti area (kapadatan absolut) atau sebagai kapadatan relatif, yaitu kepadatan dari satu populasi terhadap populasi lainnya. Kelimpahan relatif adalah perbandingan kelimpahan individu tiap jenis terhadap kelimpahan
seluruh individu dalam satu komunitas (Krebs 1978). Sedangkan menurut Odum (1971) menyatakan bahwa kelimpahan adalah istilah umum yang sering digunakan untuk suatu populasi satwa dalam hal jumlah yang sebenarnya dan kecenderungan untuk naik dan turunnya populasi atau keduanya.
Secara sederhana, Odum (1971) menyatakan bahwa habitat merupakan suatu tempat dimana organisme dapat ditemukan. Habitat adalah kawasan yang terdiri dari bebeapa kawasan baik fisk maupun biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangbiaknya satwaliar. Satwaliar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya (Alikodra 2002). Komponen fisik dan biotik habitat membentuk sistem yang dapat mengendalikan kehidupan satwaliar. Suatu habitat merupakan hasil interaksi dari sejumlah komponen. Secara terperinci, komponen fisik terdiri dari air, udara, iklim, topografi, tanah, dan ruang, sedangkan komponen biotik terdiri dari vegetasi mikro dan makro fauna serta manusia (Alikodra 2002). Habitat terdiri dari beberapa habitat mikro yang seringkali sangar besar pengaruhnya terhadap satwa karena adanya variasi iklim mikro. Untuk jenis-jenis serangga, iklim mikro erat kaitannya dengan aktivitas foraging atau mencari pakan. Bailey (1984) menyatakan
bahwa kelengkapan habitat terdiri dari berbagai macam termasuk makanan, perlindungan, dan faktor lain yang diperlukan oleh suatu spesies untuk bertahan hidup dan melangsungkan reproduksinya secara berhasil. Hal ini menunjukan bahwa habitat merupakan hasil interaksi antara berbagai komponen seperti fisik yang terdiri dari tanah, air, topografi, dan iklim serta komponen biologis yang mencakup tumbuhan, satwaliar, dan manusia.
2. 5 Bio-ekologi Serangga
Serangga dimasukkan ke dalam kelas Hexapoda (Insecta / Serangga), Sub- filum Mandibulata, filum Arthropoda (Sunjaya 1970). Tubuhnya terdiri dari kepala, toraks, dan abdomen. Pada kepala terdapat sepasang antena yang ukurannya bervariasi, alat mulutnya memiliki berbagai bentuk yang disesuaikan dengan macam makanannya, diantaranya mempunyai bentuk mulut yang berfungsi untuk menggigit dan mengunyah, menghisap, menusuk dan menghisap, serta menjilat. (Kahono et al. Tanpa tahun).
Ciri utama serangga adalah pada bagian kepalanya memilki sepasang sungut, sepasang mandibel (istilah untuk rahang-rahang yang berpasangan, tidak beruas, terletak tepat dibelakang labrum), sepasang maksila (istilah untuk struktur yang berpasangan terletak di belakang mandibel, beruas, dan masing2 maksila mengandung organ seperti perasa), sebuah hipofaring (istilah untuk lidah pendek yang terletak diatas labium diantara maksilae, tempat bermuara kelenjar-kelenjar air liur), sebuah labium (istilah untuk bibir atas).
Kemudian pada bagian memiliki tiga pasang tungkai, dengan satu pasang pada masing-masing ruas toraks. Pada bagian abdomennya dicirikan dengan liang kelamin pada bagian posterior abdomen, tidak ada embelan-embelan lokomotor pada abdomen dewasa. Bila ada embelan-embelan terletak pada ujung abdomen dan terdiri dari sepasang sersus, sebuah epiprok, dan sepasang paraprok (sersus merupakan istilah untuk satu dari sepasang embel-embelan pada ujung posterior abdomen, epiprok merupakan sebuah juluran / embelan yang terletak di atas dubur dan kelihatan timbul dari ruas abdomen ke-sepuluh yang sebenarnya merupakan bagian dorsal ruas abdomen yang ke-sebelas, dan paraprok merupakan istilah untuk satu dari sepasang gelambir yang berbatasan dengan dubur di sebelah lateroventral).
Beberapa jenis serangga hidup di tanah (teresterial) dan ada pula yang hidup di air (akuatik) untuk seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya (Schowalter 2000). Kebanyakan serangga aktif pada siang hari (diurnal), namun tidak sedikit yang aktif pada malam hari (nokturnal). Serangga tergolong sebagai binatang berdarah dingin atau poikilothermal, oleh karena itu suhu badannya tidak tetap, naik turun mengikuti suhu lingkungannya. Suhu optimum serangga darat adalah sekitar 26˚C dengan kisaran suhu maksimalnya adalah 48 – 50 ˚C, sedangkan titik-titik estivasi berada disekitar 38 – 50˚C (Sunjaya 1970). Istilah suhu dalam ekologi pada hakekatnya adalah produk faktor suhu dan waktu karena sebagian besar jenis serangga hidup pada lingkungan di dekat dan dibawah permukaan tanah, maka suhu muka tanah dan suhu diatas permukaan tanah menjadi tolak ukur dalam mempelajari serangga (Sunjaya 1970). Dari segi makanannya, serangga digolongkan ke berbagai macam golongan diantaranya fitofag, predator, skavanger, dan juga parasit. Evans (1984) manyatakan bahwa
50% dari hampir keseluruhan serangga ialah herbivora yang kemudian dibagi dalam 3 tahap tingkatan konsumen / heterotropik yaitu:
1. konsumen utama / primer;
a. Fitofagus = pemakan tanam-tanaman
2. konsumen tingkat lebih tinggi / sekunder dan tersier;
a. Predator = seekor hewan yang menyerang dan memakan hewan lainnya. Biasanya hewan yang lebih kecil atau kurang kuat dari dirinya. Korban biasanya dibunuh atau dimakan seluruhnya. Banyak individu korban dimakan oleh masing-masing pemangsa b. Parasitoid = hewan yang hidup di dalam atau diatas dari hewan
hidup lainnya, dengan jangka yg relatif lama, makan semua atau makan jaring-jaringan ringannya dan kemudian membunuhnya. c. Parasit = seekor hewan yang hidup di dalam atau diatas dari hewan
hidup lainnya, makan jaring-jaringan induk semangnya 3. pengurai;
a. Skavenger = seekor hewan yang makan tumbuh-tumbuhan atau hewan yang mati, atau material-material yang membusuk atau limbah-limbah hewan.
b. Saprofagus = makan material tumbuh-tumbuhan atau hewan sedang membusuk, seperti bangkai, tinja, kayu gelondongan yang mati, dsb.
Sunjaya (1970) menerangkan bahwa setiap jenis serangga memiliki keterbatasan yang berbeda dalam membedakan warna, seperti lebah madu hanya dapat melihat 4 golongan warna berdasarkan panjang gelombang cahaya yaitu; 6500 – 5000 Å (warna merah, kuning, dan hijau); 5000 – 4800 Å (biru kehijau- hijauan); 4800 – 4000 Å (biru dan ungu); 4000 – 3100 Å (ultra viollet). Ditambahkan pula bahwa warna hijau kekuning-kuningan dengan panjang gelombang antara 5330 – 5350 Å adalah warna yang sangat efektif untuk menarik jenis-jenis lebah, karena warna kuning dan biru dapat memantulkan kembali sinar ultra violet dengan kuat, sedangkan kebanyakan warna putih menyerap cahaya ultra voilet dari matahari, sehingga warna putih sering dianggap tidak terlihat.
Kelas hexapoda (serangga) terdiri dari berbagai ordo diantaranya adalah Coleoptera, Dermaptera, Hemiptera, Lepidoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Diantara ordo-ordo tersebut, terdapat 3 ordo yang berperan penting dalam proses penyerbukan yaitu; Lepidoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Ordo coleoptera adalah ordo yang terbesar dari serangga-serangga dan mengandung kira2 40% dari jenis terkenal dalam hexapoda. Salah satu sifat coleoptera adalah struktur sayap-sayapnya, memiliki 4 sayap dengan sepasang sayap depan (elytra / elytron = tunggal) yang menebal seperti kulit, keras, atau rapuh. Bila dalam keadaan istirahat, sayap belakang terlipat dibawah sayap depan yang bertindak sebagai selubung / pelindung. Bagian-bagian mulut dalam ordo ini sebagai tipe mulut pengunyah, dan mandibel sangat bagus dan berkembang, dan dipakai untuk menggilas biji atau meremukan kayu. Binatang dari ordo coleoptera yang paling umum dikenal adalah kumbang. Kumbang mengalami metamorfosis sempurna, banyak diantaranya yang memakan tumbuhan (memakan bagian-bagian bunga) dan zat organik yg membusuk (Borror et al. 1996).
Ordo Dermaptera atau yang biasa disebut dengan cocopet merupakan serangga yang memanjang, meramping, agak gepeng, dan memiliki sersi (sersus)