Aslim B, Saglam N, Beyatli Y. 2002. Determination of some properties of
Bacillus isolated from soil. Turk J Biol
bakteri dapat dilakukan melalui hambatan terhadap pembentukkan dinding sel target, menghambat pembentukkan asam nukleat atau menghambat pembentukkan protein, dan berupa pembentukkan pori-pori pada membaran sel target sehingga permeabilitas membran sel terganggu (Williams et al.
1996).
Mekanisme kerja bakteriosin diketahui bergantung pada konsentrasi bakteriosin, kemampuan ionisasi, suhu, pH, dan fase pertumbuhan sel target (Hurst 1981). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada inkubasi 48 jam dengan metode
double layer aktivitas penghambatan isolat
Bacillus sp. LTW 4 dan LTC 8 mengalami penurunan yang ditunjukkan dengan semakin menyempitnya zona hambat. Hal ini karena inkubasi yang dilakukan lebih dari waktu optimum produksi senyawa antimikrob dalam media. Dajani dan Wannamaker (1969) melaporkan inkubasi yang terlalu lama menyebabkan aktivitas bakteriosin menurun,
hal ini kemungkinan disebabkan
diproduksinya inaktivator atau enzim pencernaan dan adanya reabsobsi terhadap senyawa antimikrob yang diproduksi sel. Menurut Jo et al. (1996) jika waktu inkubasi diperpanjang maka aktivitas bakteriosin menurun hal ini karena terbebasnya protease dari sel autolisis, karena bakteriosin merupakan molekul proteaneus sehingga mudah terdegradasi. Aktivitas penghambatan pada metode double layer tersebut berbeda dengan hasil uji kompetisi isolat tersebut dalam kultur campuran yang aktivitasnya mengalami peningkatan pada inkubasi 48 jam. Perbedaan aktivitas tersebut dapat disebabkan oleh adanya perbedaan konsentrasi senyawa antimikrob yang dihasilkan.
Bakteriosin dapat dihasilkan oleh bakteri Gram positif maupun bakteri Gram negatif (Jack et al. 1995). Sebagian besar bakteriosin dihasilkan oleh bakteri Gram positif terutama yang paling banyak diteliti ialah dari genus
Bacillus. Beberapa jenis bakteriosin yang dihasilkan oleh Bacillus yang telah diidentifikasi diantaranya ialah coagulin yang dihasilkan oleh B. coagulans I4 yang diisolasi dari feses hewan (Hyronimus et al. 1998). Bizani et al. (1995) melaporkan jenis bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri tanah
B. cereus strain 8A yaitu cerein 8A. Selain itu, terdapat jenis bakteriosin yang telah diaplikasikan di industri yaitu bacillocin 490 yang dihasilkan oleh bakteri termofilik B. liceniformis (Martirani et al. 2002).
Aktivitas bakteriosin dinyatakan hanya menghambat spesies spesifik tapi beberapa bakteriosin telah dibuktikan memiliki aktivitas spektrum penghambatan yang luas sehingga dapat diaplikasikan secara luas di industri (Jack et al. 1995). Beberapa bakteriosin telah digunakan sebagai pengawet makanan dan terapeutik. Salah satu bakteriosin yang telah dikembangakan sebagai pengawet makanan ialah nisin yang telah dinyatakan tergolong
dalam kelompok GRAS (Generally
Recogenized As Safe) oleh FAO dan WHO (Joerger 2003).
Isolat Bacillus sp. LTC 8 terbukti memiliki penghambatan yang luas. Hal ini
berdasarkan hasil uji aktivitas
penghambatannya terhadap bakteri indikator
V. harveyi, E. coli dan S. aureus, dengan menggunakan metode cross-streak, uji kompetisi dalam kultur campuran dan metode
double layer. Oleh karena itu, isolat Bacillus
sp. LTC 8 berpotensi untuk diaplikasikan di industri.
SIMPULAN
Dari 6 isolat Bacillus sp. hasil isolasi dari tambak udang yang memiliki aktivitas antimikrob yang paling baik ialah isolat
Bacillus sp. LTC 8. Berdasarkan hasil uji aktivitas dengan metode double layer, metode
cross-streak dan uji kompetisi, isolat tersebut dapat menghambat V. harveyi, E. coli dan S. aureus dan memiliki penghambatan paling baik terhadap S. aureus. Aktivitas senyawa antimikrob isolat Bacillus sp. LTW 4 dan LTC 8 dihasilkan pada fase eksponensial pertumbuhannya.
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melakukan karakterisasi antimikrob terhadap pH dan suhu optimum, pemurnian dan penentuan bobot molekul zat antimikrob dari isolat Bacillus sp. LTC 8, sehingga dapat diketahui jenis senyawa antimikrobnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aslim B, Saglam N, Beyatli Y. 2002. Determination of some properties of
Bacillus isolated from soil. Turk J Biol
bakteri dapat dilakukan melalui hambatan terhadap pembentukkan dinding sel target, menghambat pembentukkan asam nukleat atau menghambat pembentukkan protein, dan berupa pembentukkan pori-pori pada membaran sel target sehingga permeabilitas membran sel terganggu (Williams et al.
1996).
Mekanisme kerja bakteriosin diketahui bergantung pada konsentrasi bakteriosin, kemampuan ionisasi, suhu, pH, dan fase pertumbuhan sel target (Hurst 1981). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada inkubasi 48 jam dengan metode
double layer aktivitas penghambatan isolat
Bacillus sp. LTW 4 dan LTC 8 mengalami penurunan yang ditunjukkan dengan semakin menyempitnya zona hambat. Hal ini karena inkubasi yang dilakukan lebih dari waktu optimum produksi senyawa antimikrob dalam media. Dajani dan Wannamaker (1969) melaporkan inkubasi yang terlalu lama menyebabkan aktivitas bakteriosin menurun,
hal ini kemungkinan disebabkan
diproduksinya inaktivator atau enzim pencernaan dan adanya reabsobsi terhadap senyawa antimikrob yang diproduksi sel. Menurut Jo et al. (1996) jika waktu inkubasi diperpanjang maka aktivitas bakteriosin menurun hal ini karena terbebasnya protease dari sel autolisis, karena bakteriosin merupakan molekul proteaneus sehingga mudah terdegradasi. Aktivitas penghambatan pada metode double layer tersebut berbeda dengan hasil uji kompetisi isolat tersebut dalam kultur campuran yang aktivitasnya mengalami peningkatan pada inkubasi 48 jam. Perbedaan aktivitas tersebut dapat disebabkan oleh adanya perbedaan konsentrasi senyawa antimikrob yang dihasilkan.
Bakteriosin dapat dihasilkan oleh bakteri Gram positif maupun bakteri Gram negatif (Jack et al. 1995). Sebagian besar bakteriosin dihasilkan oleh bakteri Gram positif terutama yang paling banyak diteliti ialah dari genus
Bacillus. Beberapa jenis bakteriosin yang dihasilkan oleh Bacillus yang telah diidentifikasi diantaranya ialah coagulin yang dihasilkan oleh B. coagulans I4 yang diisolasi dari feses hewan (Hyronimus et al. 1998). Bizani et al. (1995) melaporkan jenis bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri tanah
B. cereus strain 8A yaitu cerein 8A. Selain itu, terdapat jenis bakteriosin yang telah diaplikasikan di industri yaitu bacillocin 490 yang dihasilkan oleh bakteri termofilik B. liceniformis (Martirani et al. 2002).
Aktivitas bakteriosin dinyatakan hanya menghambat spesies spesifik tapi beberapa bakteriosin telah dibuktikan memiliki aktivitas spektrum penghambatan yang luas sehingga dapat diaplikasikan secara luas di industri (Jack et al. 1995). Beberapa bakteriosin telah digunakan sebagai pengawet makanan dan terapeutik. Salah satu bakteriosin yang telah dikembangakan sebagai pengawet makanan ialah nisin yang telah dinyatakan tergolong
dalam kelompok GRAS (Generally
Recogenized As Safe) oleh FAO dan WHO (Joerger 2003).
Isolat Bacillus sp. LTC 8 terbukti memiliki penghambatan yang luas. Hal ini
berdasarkan hasil uji aktivitas
penghambatannya terhadap bakteri indikator
V. harveyi, E. coli dan S. aureus, dengan menggunakan metode cross-streak, uji kompetisi dalam kultur campuran dan metode
double layer. Oleh karena itu, isolat Bacillus
sp. LTC 8 berpotensi untuk diaplikasikan di industri.
SIMPULAN
Dari 6 isolat Bacillus sp. hasil isolasi dari tambak udang yang memiliki aktivitas antimikrob yang paling baik ialah isolat
Bacillus sp. LTC 8. Berdasarkan hasil uji aktivitas dengan metode double layer, metode
cross-streak dan uji kompetisi, isolat tersebut dapat menghambat V. harveyi, E. coli dan S. aureus dan memiliki penghambatan paling baik terhadap S. aureus. Aktivitas senyawa antimikrob isolat Bacillus sp. LTW 4 dan LTC 8 dihasilkan pada fase eksponensial pertumbuhannya.
SARAN
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melakukan karakterisasi antimikrob terhadap pH dan suhu optimum, pemurnian dan penentuan bobot molekul zat antimikrob dari isolat Bacillus sp. LTC 8, sehingga dapat diketahui jenis senyawa antimikrobnya.
DAFTAR PUSTAKA
Aslim B, Saglam N, Beyatli Y. 2002. Determination of some properties of
Bacillus isolated from soil. Turk J Biol
Bizani D, Motta AS, Morrissy JA, Terra RM,
Souto AA, Brandelli A. 1995.
Antibacterial activity of cerein 8A, a bacteriocin-like peptide produced by
Bacillus cereus. Microbiol Rev 59 (2): 171-200.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 1992.
Standar nasional Indonesia produk perikanan: SNI 01-2728-1992 udang segar. Jakarta: BSN.
Chytanya R, Karunasagar I, Karunasagar I. 2002. Inhibition of shirmp phatogenic vibrios by a marine Pseudomonas I-2 strain. Aquaculture 208: 1-10.
Dajani AS, Wannamaker LW. 1969.
Demonstration of bactericidal substance against beta-hemolytic streptococci in supernatant fluids of stapylococcal cultures. J Bacteriol 97: 985-991.
Djazuli N. 2002. Penanganan dan pengolahan produk perikanan budidaya dalam mengahadapi pasar global: peluang dan tantangan. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
Feliatra, Efendi I, Suryadi E. 2004. Isolasi dan identifikasi bakteri probiotik dari ikan kerapu macan (Ephinephelus fuscogatus) dalam upaya efisiensi pakan ikan. J Natur Indones 6 (2): 75-80.
Holt JG, Krieg NR, Sneath PHA, Staley JT, Williams ST. 1994. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Ed ke-9. Philadelphia: Lipponicott Williams & Wilkins.
Hurst A. 1981. Nisin advances. J Appl Microbiol 27: 85-123.
Hyronimus B, Marrec CL, Urdaci MC. 1998. Coagulin, a bacteriocin-like inhibitory substance produce by Bacillus coagulans
I4. J Appl Microbiol 85: 42-50.
Isnansetyo A. 2005. Bakteri antagonis sebagai probiotik untuk pengendalian hayati pada aquakultur. J Perikan 7 (1): 1-10.
Jack RW, Tagg JR, Ray B. 1995. Bacteriocins of Gram-positive bacteria. Bacteriol Rev
59: 171-200.
Jo YB, Kyung MB, Sung-Koo K, Hong-ki J. 1996. Evaluation at optimum conditions for bacteriocin production from
Lactobacillus sp. JB-42 isolated from kimichi. J Microbiol Biotechnol 6: 63-67.
Joerger RD. 2003. Alternative to antibiotics: bacteriocins, antimicrobial peptides and bacteriophages. Poultry Sci 85: 640-675. Katz E, Demain AL. 1977. Peptide antibiotics
of Bacillus: chemistry, biogenesis and
possible function. Bacteriol Rev 41: 449-474.
Klaenhammer TR.1993. Bacteriocins of lactic acid bacteria. FEMS Microbiol Rev 12: 39-86.
Lisboa MP, Bonatto D, Bizani D, Henriques JAP, Brandelli A. 2006. Characterization of a baktriosin-like substance produced by Bacillus amyloliquefaciens islolated from the Brazillian atlantic forest. Intern Micobiol 9: 111-118.
Martirani L, Varcamonti M, Naclerio G, Felice M de. 2002. Purification and partial characterization of bacillocin 490, a novel bacteriocin produced by a thermophilic strain of Bacillus licheniformis. Microbiol Cell Factories 1: 1-5.
Moriarty DJW. 1999. Disesase control in shrimp aquaculture with probiotic bacteria. Di dalam: Bell CR, Brylinsky M, Johnson GP, editor. Microbial Biosystem: New Frontiers. Proceeding of the 8 th International Symposium on Microbial Ecology. Canada.
Muliani, Suwanto A, Hala Y. 2003. Isolasi dan karakterisasi bakteri asal laut Sulawesi untuk biokontrol penyakit vibriosis pada larva udang windu (Penaeus monodon Fab.). Hayati 10 (1): 6-11.
Rengpiapat S, Phianphak W, Piyatira titivorakul S, Menaveta P. 1998. Effects of a probiotic bacterium on black tiger shirmp Penaeus monodon survival and growth. Aquaculture 167: 301-313. Sudirman LI. 1997. Potensi keragaman hayati
mikroorganisme dalam menghasilkan senyawa antimikroba. Kumpulan Abstrak Konas 7 Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia; Denpasar, 8-10 Desember 1997.
Torkar KG, Matijasic BB. 2003. Partial characterisation of bacteriocins produced by Bacillus cereus isolat from milk and milk products. Food Technol 41 (2): 121-129.
Verschuere L, Geert R, Patrick S,Willy V. 2000. Probiotic bacteria as biological control agents in aquaculture [ulas balik].
J Microbiol and Mol Biol 64 (4): 655-671.
Williams RAD, Lambert PA, Singleton P. 1996. Antimicrobial Drug Action. UK: Scientific Publisher Ltd.
Lampiran 1 Aktivitas penghambatan isolat Bacillus sp. LTW 4 terhadap bakteri indikator (data menunjukkan rataan ± SE)
% Penghambatan
Inkubasi 24 jam Inkubasi 48 jam
Rasio
inokulum V. harveyi E. coli S. aureus V. harveyi E. coli S. aureus
1:1 20.74 ± 0.12 94.39 ± 0.09 57.56 ± 0.06 24.18 ± 1.98 99.72 ± 0.28 98.80 ± 0.16
1:2 38.43 ± 1.86 94.70 ± 1.32 66.56 ± 0.93 60.59 ± 0.46 99.74 ± 0.26 99.12 ± 0.09
1:4 40.63 ± 1.83 95.59 ± 1.29 68.11 ± 0.91 73.39 ± 0.45 99.83 ± 0.17 99.20 ± 0.09
1:10 64.85 ± 0.82 98.33 ± 0.58 81.59 ± 0.41 81.89 ± 1.83 100 ± 0 100 ± 0
Lampiran 2 Aktivitas penghambatan isolat Bacillus sp. LTC 8 terhadap bakteri indikator (data menunjukkan rataan ± SE)
% Penghambatan
Inkubasi 24 jam Inkubasi 48 jam
Rasio
inokulum V. harveyi E. coli S. aureus V. harveyi E. coli S. aureus
1:1 12.51 ± 1.24 71.92 ± 0.02 100 ± 0 17.57 ± 0.21 90.20 ± 0.26 100 ± 0
1:2 21.27 ± 1.27 80.73 ± 1.78 100 ± 0 21.78 ± 0.67 92.30 ± 1.56 100 ± 0
1:4 25.88 ± 0.88 87.86 ± 0.14 100 ± 0 36.15 ± 0.59 92.76 ± 1.09 100 ± 0
1:10 51.68 ± 0.43 88.59 ± 0.02 100 ± 0 56.44 ± 1.34 94.89 ± 1.76 100 ± 0
Lampiran 3 Aktivitas antimikrob sel Bacillus sp. LTW 4 terhadap S. aureus (data menunjukkan rataan ± SE)
Jam ke- Jumlah sel (106) Zona hambat (mm)
6 0.47 0 ± 0 12 6.67 0 ± 0 18 16.02 0 ± 0 24 17.27 0 ± 0 30 21.09 2.5 ± 0.75 36 33.81 16.5 ± 1.75 42 39.16 15 ± 0 48 39.16 0.5 ± 0.25
Lampiran 4 Aktivitas antimikrob sel dan supernatan Bacillus sp. LTW 4 terhadap S. aureus (data menunjukkan rataan ± SE)
Zona hambat (mm)
Jam ke- Jumlah sel (106) Sel Supernatan
6 1.33 3 ± 0 18 ± 1 12 1.7 11.5 ± 0.5 18.5 ± 1.5 18 2.61 15.25 ± 1.25 16 ± 2 24 3.37 12.5 ± 1.5 0.75 ± 0.75 30 3.47 7.5 ± 1.5 1 ± 0 36 5.14 5 ± 0 0 ± 0 42 6.08 1 ± 1 0 ± 0 48 6.72 0 ± 0 0 ± 0