• Tidak ada hasil yang ditemukan

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2006 Hak cipta dilindung

DAFTAR PUSTAKA

Halaman 1. Data populasi dan sampel penelitian... 33

2. Jumlah penduduk Kota Bogor per kecamatan menurut jenis

kelamin tahun 2006 ... 42

3. Distribusi aspek-aspek karakteristik individu masyarakat Aceh di

Bogor... 49 4. Distribusi aspek-aspek lingkungan masyarakat Aceh di Bogor... 53

5. Distribusi aspek-aspek proses komunikasi masyarakat Aceh di

Bogor mengenai pengelolaan dampak tsunami... 55

6. Distribusi aspek-aspek keefektivan komunikasi masyarakat Aceh

di Bogor mengenai pengelolaan dampak tsunami ... 57

7. Korelasi antara karakteristik individu (X1) dan proses komunikasi

(Y1) ... 59 8. Korelasi antara lingkungan (X2) dan proses komunikasi (Y1)... 63

9. Korelasi antara lingkungan (X2) dan keefektivan komunikasi

(Y2) ... 67

10.Korelasi antara proses komunikasi (Y1) dan keefektivan

komunikasi (Y2) ... 68

11.Distribusi frekuensi partisipasi masyarakat Aceh di Bogor dalam

pengelolaan dampak tsunami berdasarkan hubungan keluarga

dengan korban ... 72

12.Distribusi frekuensi partisipasi masyarakat Aceh di Bogor dalam

pengelolaan dampak tsunami berdasarkan tahapan partisipasi

Halaman 1. Tahapan Partisipasi menurut Uphoff, et al. (1979)... 19 2. Siklus Penangulangan Bencana... 23

3. Kerangka Pemikiran Keefektivan Komunikasi Masyarakat Aceh

Halaman 1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 87

2. Koefisien korelasi Rank Spearman antara karakteristik individu

(X1) dan proses komunikasi (Y1) ... 89

3. Koefisien korelasi Rank Spearman antara lingkungan (X2) dan

proses komunikasi (Y1) ... 90

4. Koefisien korelasi Rank Spearman antara karakteristik individu

(X1) dan lingkungan (X2)... 91

5. Koefisien korelasi Rank Spearman antara lingkungan (X2) dan

keefektivankomunikasi (Y2)... 92

6. Koefisien korelasi Rank Spearman antara proses komunikasi (Y1)

dan keefektivankomunikasi (Y2) ... 93 7. Kuesioner Penelitian ... 94

Latar Belakang

Di penghujung tahun 2004, tepatnya 26 Desember 2004, terjadi gempa berkekuatan 8,9 pada skala Richter di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD, yang selanjutnya disebut “Aceh”) diiringi oleh gelombang tsunami yang sangat dahsyat (BMG, 2005a). Kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di belahan bumi manapun. Gelombang tsunami yang dahsyat tersebut telah mengakibatkan hilangnya ratusan ribu nyawa manusia. Selain itu, bencana tersebut juga telah menimbulkan kerugian harta benda dan kerusakan alam yang tidak terhitung nilainya.

Terjadinya gempa telah meruntuhkan bangunan-bangunan seperti pusat perbelanjaan, hotel-hotel, kantor-kantor, dan bangunan lainnya. Berselang beberapa menit setelah gempa, menyusul tsunami yang sangat dahsyat menerjang hampir seluruh pantai Aceh dan pulau-pulau yang ada di Lautan Hindia. Kerusakan terparah terjadi di sepanjang pantai barat Aceh yang meliputi Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, dan Aceh Besar. Sementara itu, kerusakan yang agak ringan terjadi pada sebagian pantai utara Aceh yang meliputi Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur (Anonimous, 2005).

Peristiwa gempa dan gelombang tsunami yang teramat dahsyat tersebut telah mengundang perhatian semua orang dari seluruh dunia. Media massa dari seluruh dunia, yang meliputi surat kabar dan televisi, secara gencar berburu

berita dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia (Oemarmadi, 2005;

Rahman, 2005). Peran media massa ini telah mampu menggugah perhatian dunia untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang tertimpa musibah. Besarnya perhatian dunia terhadap peristiwa gempa dan gelombang tsunami tersebut beralasan karena peristiwa tersebut telah meninggalkan dampak yang akan dapat dilihat dan dikenang manusia sepanjang masa, terutama masyarakat Aceh.

Peristiwa gempa dan gelombang tsunami yang menimpa Aceh tidak akan pernah habis diceritakan, tidak akan pernah membosankan untuk dibahas, serta

tidak akan pernah diketahui secara pasti apakah akan terjadi lagi ataupun tidak. Kalau peristiwa itu akan berulang lagi, teknologi yang ada saat ini tidak mampu meramalkan kapan terjadi. Manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa Allah SWT maha mengetahui segalanya dan hanya Dia yang mampu mengendalikan seluruh alam dan isinya. Manusia diwajibkan untuk dapat membaca alam, yaitu mempelajari gejala alam yang diamati dan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan gejala alam tersebut.

Sampai saat ini keadaan di Aceh belum pulih seperti sediakala. Masih banyak masyarakat Aceh menempati tenda-tenda darurat karena belum mempunyai biaya untuk mendirikan rumah. Situasi ini sangat memilukan, dan perlu penanganan secepatnya. Pemerintah Indonesia sampai saat ini terus berusaha membanguan Aceh kembali. Badan Pertanahan Nasional (BPN) terus berusaha mendata tanah penduduk yang tidak diketahui batasnya lagi, bahkan pemerintah menemui kesulitan mendata tanah-tanah penduduk tersebut karena pemiliknya sudah meninggal dunia. Bantuan dari para ahli waris tentunya akan mendukung suksesnya pendataan tanah tersebut.

Dampak peristiwa tsunami di Aceh memerlukan penanganan secara serius dan terencana. Peran serta semua pihak diperlukan secara proaktif untuk memulihkan kondisi Aceh, baik secara materi maupun psikologi. Berbagai kalangan telah memberikan bantuan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Namun demikian, peran serta masyarakat Aceh sangat diharapkan karena mereka memiliki hak dan tanggung jawab dalam menentukan arah pembangunan Aceh ke depan.

Warga Aceh yang ada di perantauan merupakan suatu komunitas yang sangat diharapkan kepedulian dan sumbangsihnya dalam pengelolaan dampak tsunami di Aceh. Peran serta warga Aceh dapat dioptimalkan dengan adanya suatu komunikasi yang efektif, yang merupakan salah satu faktor penentu kebersamaan. Besarnya peranan komunikasi dalam menangani masalah di Aceh perlu mendapat perhatian semua pihak. Keefektivan komunikasi masyarakat Aceh yang ada di perantauan pasca tsunami perlu diketahui untuk memenuhi tuntutan tersebut. Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan keefektivan

komunikasi masyarakat Aceh perlu dikaji secara terperinci. Keefektivan komunikasi masyarakat Aceh yang ada di perantauan perlu diketahui dan dilakukan penelitian terencana, dengan melakukan studi kasus pada masyarakat Aceh di Bogor.

Perumusan Masalah

Keefektivan komunikasi masyarakat Aceh yang berdomisili di Bogor memiliki fungsi strategis untuk mengoptimalkan peran serta mereka dalam pengelolaan dampak tsunami di Aceh. Proses komunikasi yang terjadi pada masyarakat Aceh di Bogor merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keefektivan komunikasi. Selanjutnya proses komunikasi berkaitan dengan faktor-faktor karakteristik individu dan lingkungan.

Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan keefektivan komunikasi masyarakat Aceh di Bogor dalam pengelolaan dampak tsunami, sebagai berikut:

1.Sejauhmana komunikasi yang efektif tentang pengelolaan dampak tsunami

telah terjadi pada masyarakat Aceh di Bogor dan faktor apa saja yang mempengaruhi keefektivan komunikasi?

2.Sejauhmanaproses komunikasi masyarakat Aceh di Bogor dalam pengelolaan

dampak tsunami berkaitan dengan lingkungan?

3.Sejauhmanaproses komunikasi masyarakat Aceh di Bogor dalam pengelolaan

dampak tsunami berkaitan dengan karakteristik individu?

Tujuan Penelitian

Bertitik tolak pada permasalahan yang telah dirumuskan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui sejauhmana telah terjadi komunikasi yang efektif pada

masyarakat Aceh di Bogor dalam pengelolaan dampak tsunami dan faktor apa saja yang mempengaruhi keefektivan komunikasi.

3. Menganalisis sejauhmana proses komunikasi berkaitan dengan karakteristik individu.

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain:

1. Sebagai masukan bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah NAD dalam

mengoptimalkan peran serta masyarakat Aceh di perantauan dalam pengelolaan dampak tsunami di Aceh.

2. Sebagai masukan bagi masyarakat Aceh secara keseluruhan untuk

meningkatkan kepedulian dan partisipasi mereka dalam pengelolaan dampak tsunami di Aceh.

Pengertian Komunikasi

Rogers dan Kincaid (1982) menyatakan bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana partisipan membuat berbagai informasi satu sama lain

dalam upaya mencapai saling pengertian. Sementara itu Banlund dalam Devito

(1989) berpendapat bahwa komunikasi adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan, pengolahan pesan yang terjadi dalam diri seseorang dan atau diantara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu. Cara yang tepat untuk menerangkan komunikasi dengan menjawab pertanyaan: (1) siapa pemberi berita, (2) dengan siapa ia berbicara, (3) apa yang dikatakan, (4) prosedur atau saluran apa yang dipakai, dan (5) apa akibat dari penyampaian

informasi itu (Laswell dalam Effendy, 1988). Komunikasi adalah proses

transaksional yaitu suatu proses yang komponen-komponennya saling terkait dan para partisipan beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan atau keseluruhan (Watlawick et.aldalam Devito, 1989).

Tujuan komunikasi bersifat informatif dan persuasif (Effendy, 2000). Jadi

tujuan komunikasi adalah memberitahu (information) atau mengubah sikap

(attitude), pendapat (opinion), atau perilaku (behavior). Secara paradigmatis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media. Komunikasi berlangsung apabila diantara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna tentang suatu hal yang dikomunikasikan. Tujuan komunikasi lebih dari sebuah upaya mempengaruhi, komunikasi merupakan upaya untuk

berhubungan dengan (to communicate with). Oleh karena itu, pencapaian

pengertian bersama untuk menaksir dan mendefinisikan realitas menjadi sangat penting, karena keberhasilan berbagai upaya manusia tergantung pada ada tidaknya pengertian bersama tersebut.

Motivasi penduduk dalam komunikasi pembangunan merupakan salah satu syarat terpenting yang harus diketahui untuk dimanfaatkan dan dikaitkan

dengan ide pembangunan. Di lain pihak, fakta menunjukkan bahwa mengubah pola pikir, ide-ide, dan kebiasaan yang sudah ada di masyarakat bukanlah hal yang mudah dilakukan. Upaya pengumpulan informasi dan penelitian awal sangat diperlukan untuk mengetahui dan mengkaji kondisi nyata yang ada di lingkungan masyarakat yang akan dijadikan sasaran, tentang posisi dari segala sesuatu mengenai dirinya, kehendaknya, potensi lingkungannya dan lain-lain.

Dengan mengetahui posisi sasaran, maka selanjutnya merealisasikan tujuan yang diinginkan yaitu berupa perubahan sosial di lingkungan masyarakat. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis dalam menyiasatinya. Langkah dalam menyiasati perubahan kondisi masyarakat ke arah perubahan yang diharapkan. Komunikasi dalam hal ini haruslah dilihat sebagai suatu proses menyeluruh, termasuk pemahaman terhadap khalayak, terhadap kebutuhan- kebutuhannya, serta pembuatan pesan-pesan, penyebaran, penerimaan, umpan balik terhadap pesan dan komunikasi dua arah lainnya.

Proses Komunikasi

Berlo (1960) menyatakan bahwa sebagai sebuah proses, komunikasi secara linier melibatkan empat komponen utama, yaitu: (1) sumber/pengirim pesan atau komunikator (source), (2) pesan (message), (3) saluran (channel),

dan (4) penerima/komunikan (receiver). Di samping keempat elemen tersebut

dalam istilah model unsur-unsur komunikasi Berlo (1960), yang disebut sebagai model S-M-C-R, ada tiga faktor lain yang juga penting dalam proses komunikasi yaitu: (1) akibat/dampak (effect), (2) umpan balik (feed back), dan (3) gangguan (noise).

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa salah satu komponen penting

dalam komunikasi adalah adanya sumber pesan. Sumber atau source (encoder)

disebut juga sebagai pengirim pesan atau komunikator. Agar komunikasi menjadi efektif, seorang komunikator dalam proses berkomunikasi harus menentukan strategi bagaimana cara mempengaruhi komunikannya dan

menganalisis pesan yang diterima sebelum memberi respon (encoding) terhadap

empat faktor yaitu: (1) keterampilan komunikasi (communication skills) secara

lisan dan tulisan, (2) sikap jujur dan bersahabat (attitude), (3) tingkat

pengetahuan yang luas tentang materi yang dikomunikasikan (knowledge), dan

(4) mampu beradaptasi dengan sistem sosial budaya (social and cultural system)

komunikan.

Komunikator harus memiliki keterampilan dalam komunikasi untuk menciptakan suatu proses komunikasi yang baik. Berlo (1960) menyatakan bahwa ada lima keterampilan komunikasi verbal yaitu menulis dan berbicara

(keterampilan meng-encoding), keterampilan membaca, dan

mendengar/menyimak (keterampilan meng-decoding), serta pemikiran atau

pertimbangan (thought or reasoning) merupakan keterampilan yang paling

penting didalam meng-encoding maupun meng-decoding pesan.

Selain keterampilan verbal, komunikator juga harus memiliki sikap yang

mendukung keefektivan komunikasi. Sikap komunikator (attitude) yang

bersahabat, hangat dan jujur sangat mempengaruhi keefektivan komunikasi. Menurut Berlo (1960), sikap komunikator mempengaruhi kebiasaannya berkomunikasi. Berlo mengartikan kata “sikap” dalam arti sempit dengan

menjawab pertanyaan: How do the attitude of the source effect communication?

Selanjutnya Berlo menjabarkan sikap komunikator menjadi tiga sikap yaitu: (1)

sikap terhadap diri sendiri (attitude toward self), yang berkaitan dengan

kepribadian individu dalam berkomunikasi, (2) sikap terhadap materi (pesan)

yang dikomunikasikan (attitude toward subject matter), dan (3) sikap terhadap

komunikan (attitude toward receiver). Apabila seorang komunikator tidak yakin

terhadap subjek/materinya, maka hal ini akan menyulitkan berkomunikasi secara efektif tentang subjek/materi itu. Selain itu, sikap komunikator pada komunikannya berpengaruh terhadap komunikasi diantara mereka. Berlo mengilustrasikan sebagai berikut: Jika pembaca atau pendengar menyadari bahwa apa yang ditulis/dibicarakan sama seperti yang mereka rasakan, maka kritik terhadap pesan yang dibaca/didengar akan sangat minim. Kemungkinan besar pesan yang disampaikan oleh penulis atau pembicara akan diterima oleh komunikan bila pesan itu sesuai dengan kebutuhan.

Tingkat pengetahuan (knowledge) yang luas tentang materi yang dikomunikasikan juga harus dimiliki seorang komunikator agar ”kredibel” di mata khalayaknya. Menurut Aristoteles, seorang komunikator itu kredibel apabila memiliki ethos, pathos dan logos (Cangara, 2000). Ethos ialah kekuatan yang dimiliki pembicara dari karakter pribadinya sehingga ucapan-ucapannya

dapat dipercaya. Pathos adalah kekuatan yang dimiliki pembicara dalam

mengendalikan emosi pendengarnya. Sedangkan Logos ialah kekuatan yang

dimiliki melalui argumentasinya (argumentasi kuat bila ditunjang tingkat pengetahuan yang luas).

McCroskey (1966 dalam Cangara, 2000) memperluas pendapat Aristoteles

dan menyatakan bahwa kredibilitas seorang komunikator dapat bersumber dari

kompetensi (competence), sikap (attitude), tujuan (intension), kepribadian

(personality), dan dinamika (dynamism). Kompetensi ialah penguasaan komunikator terhadap masalah yang dibahas (tingkat pengetahuan terhadap materi yang cukup luas). Sikap menunjukkan pribadi komunikator apakah tegar atau toleran dalam prinsip. Tujuan menunjukkan apakah hal-hal yang disampaikan itu memiliki maksud baik atau tidak. Kepribadian menunjukkan apakah komunikator memiliki pribadi yang hangat dan bersahabat. Sedangkan dinamika menunjukkan apakah hal yang disampaikan itu menarik atau justru membosankan.

Seorang komunikator juga dituntut kemampuannya untuk beradapatasi

dengan sistem sosial budaya (social and cultural system) komunikannya. Berlo

menyatakan bahwa derajat pesan yang dapat diserap oleh penerima dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya adalah sistem sosial budaya penerima. Seorang komunikator karena itu seyogyanya memahami sistem sosial budaya komunikannya.

Komponen lain setelah sumber yang harus ada dalam komunikasi adalah pesan. Pesan adalah sebagian produk fisik aktual (actual physical product) dari komunikator-komunikan (Berlo, 1960). Ketika seseorang berpidato, menulis, menggambar, dan menggerakan anggota tubuh sebagai isyarat, maka isi pidato, tulisan, gambar, dan menggerakkan tangan serta ekspresi wajahnya merupakan

pesan. Selanjutnya, isi pesan merupakan materi pesan yang terseleksi oleh komunikator untuk mengekspresikan tujuan. Isi pesan adalah pernyataan atau pemaknaan yang kita buat, informasi yang kita tampilkan, kesimpulan yang kita

buat, dan pembenaran (judgments) yang kita maksud dalam pesan.

Komponen berikutnya dalam komunikasi adalah saluran komunikasi. Komponen ini merupakan alat untuk menyalurkan pesan dari komunikator ke komunikan. Roger dan Shoemaker (1971) membedakan saluran komunikasi atas dua jenis yaitu (1) saluran media massa, dan (2) saluran interpersonal.

Saluran media massa adalah alat penyampai pesan yang memungkinkan pencapaian komunikan dalam jumlah besar, yang dapat menembus batas waktu dan ruang seperti Radio, TV, Koran dan sebagainya. Saluran interpersonal merupakan saluran komunikasi melalui pertemuan tatap muka antara komunikator dan komunikan. Selanjutnya saluran interpersonal dibedakan atas saluran interpersonal lokalit dan saluran interpersonal kosmopolit. Saluran interpersonal lokalit adalah saluran antar pribadi yang berlangsung sebatas daerah atau sistem sosial itu saja. Saluran interpersonal kosmopolit adalah komunikasi yang berlangsung antara receiver dengan sumber pesan dari luar sistem sosial receiver.

Apabila berpedoman kepada tujuan komunikasi, komunikasi interpersonal lebih tepat digunakan pada tahapan persuasi. Pada komunikasi interpersonal kontak antara komunikator dan komunikan lebih banyak bersifat pribadi. Oleh karena itu saluran interpersonal dapat memainkan peranan penting pada tahap persuasi. Media interpersonal mempunyai efek yang tinggi pada pembentukan dan perubahan sikap, dan mempunyai efek yang rendah pada kognitif. Sedangkan media massa berefek tinggi pada kognitif dan rendah pada

pembentukkan dan perubahan sikap komunikan (audience).

Komponen terakhir dalam proses komunikasi adalah adanya komunikan.

Komunikan biasa disebut juga dengan isitilah penerima pesan, decoder,

khalayak, sasaran, audience dan lain sebagainya. Berhasil tidaknya proses

komunikasi sangat ditentukan oleh komunikan. Komunikan dalam studi komunikasi bisa berupa individu, kelompok dan masyarakat (Cangara, 2000).

Dalam proses komunikasi, ternyata diketahui sumber membentuk pesan

(encoder) dan menyampaikannya melalui saluran (cahnnel), lalu diterima oleh penerima pesan yang menginterpretasikan pesan tersebut. Apabila penerima

punya tanggapan terhadap pesan, maka akan memberikan respons (feed back).

Pihak sumber akan menginterpretasi tanggapan dan selanjutnya melakukan penyampaian pesan berikutnya. Demikianlah seterusnya proses komunikasi tersebut berlangsung secara terus menerus. Terjadinya pergantian peran dalam uraian lain dikatakan bahwa sipenerima (komunikan) kemudian berlaku sebagai pengirim pesan (komunikator) dalam memberikan tanggapannya, yang kemudian akan di respon oleh komunikannya. Proses pergantian peran ini terjadi secara serentak atau bersamaan (simultan) dan berkesinambungan (continuous).

Proses komunikasi lebih jauh dapat dijelaskan dengan pendekatan kerangka pemahaman. Mulyana (2003) mengemukakan bahwa setidaknya terdapat tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi. Ketiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi tersebut yaitu: (1) komunikasi sebagai tindakan satu arah, (2) komunikasi sebagai interaksi, dan (3) komunikasi sebagai transaksi.

Pemahaman ”komunikasi sebagai proses satu arah” disebutkan oleh

Micheal Burgoon, sebagai “definisi berorientasi sumber” (source oriented

definition) yang mengisyaratkan komunikasi sebagai kegiatan yang sengaja dilakukan seseorang untuk meyampaikan rangsangan guna membangkitkan respons orang lain. Konseptualisasi komunikasi sebagai tindakan satu arah ini mengisyaratkan bahwa semua kegiatan komunikasi bersifat persuasif.

Dalam pandangan ”komunikasi sebagai interaksi”, komunikasi disetarakan dengan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi yang arahnya bergantian dan lebih dinamis. Komunikasi ini dianggap sedikit lebih dinamis daripada komunikasi satu arah, meskipun masih membedakan para komunikate sebagai komunikator dan komunikan, artinya masih tetap berorientasi sumber, meskipun kedua peran itu dianggap bergantian. Sehingga proses interaksi yang berlangsung pada dasarnya juga masih bersifat mekanis dan statis.

Dalam konteks ”komunikasi sebagai transaksi”, proses penyandian (encoding) dan penyandian balik (decoding) bersifat spontan dan simultan diantara para komunikate. Semakin banyak orang yang berkomunikasi semakin rumit transaksi komunikasi yang terjadi karena akan terdapat banyak peran, hubungan yang lebih rumit, serta lebih banyak pesan verbal dan non verbal. Kelebihan konseptualisasi komunikasi sebagai transaksi adalah komunikasi tersebut tidak membatasi komunikate pada komunikasi yang disengaja atau respon yang dapat diamati. Komunikasi transaksional dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain baik perilaku verbal maupun perilaku non verbal. Konseptualisasi komunikasi lebih sesuai untuk konteks komunikasi interpersonal karena lebih bersifat dinamis dan para pelaku komunikasi tidak dibedakan antara sumber dan penerima, melainkan semuanya saling berpartisipasi dalam interaksi sebagai partisipan komunikasi.

Ketiga konsep pemahaman komunikasi tersebut sangat dipengaruhi oleh

ketepatan komunikasi (fidelity of communication). Ketepatan komunikasi yang

tinggi menyebabkan para komunikate akan memperoleh apa yang mereka kehendaki dari tujuan berkomunikasinya. Komunikator akan puas karena pesan yang disampaikan dapat diterima dan dilaksanakan komunikan seperti yang dikehendaki, dan komunikanpun akan puas karena pesan yang diterimanya sesuai dengan kebutuhan. Ketepatan komunikasi tersebut merupakan indikator keefektivan komunikasi.

Arah komunikasi

Komunikasi bisa terjadi satu arah atau linier dan dua arah atau interaktif. Arah komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada komunikan. Komunikasi linier biasanya tidak membutuhkan umpan balik, sedangkan komunikasi interaktif adalah komunikasi yang terjadi secara transaksional, yaitu umpan balik terjadi secara spontan dan simultan. Tubbs dan Moss (2001) telah menggambarkan komunikasi dua-orang (diadik). Model komunikasi ini sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi, yaitu yang mengasumsikan kedua peserta komunikasi sebagai pengirim dan sekaligus juga penerima pesan. Proses komunikasinya bersifat timbal balik atau saling

mempengaruhi, juga berlangsung spontan dan serentak. Dia mengasumsikan bahwa komunikasi itu suatu proses yang sinambung, tanpa awal dan tanpa akhir. Ia menunjukkan unsur waktu yang terus berjalan, yang secara implisit menandakan komunikasi sebagai suatu proses dinamis yang yang menimbulkan perubahan-perubahan pada para peserta komunikasi.

Widatri (1995) menyatakan bahwa komunikasi sebagai faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Di dalam organisasi birokrasi lokal, komunikasi pada dasarnya merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik komunikasi dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas.

Komunikasi ke atas adalah informasi yang diminta oleh masyarakat atau informasi yang secara sukarela disampaikan oleh para implementor kepada pihak administrator. Komunikasi ke bawah menurut Katz dan Khan dalam Bryant and White (1982) mencakup lima butir yaitu (1) petunjuk-petunjuk tugas yang spesifik (2) perintah kerja, (3) informasi tentang praktek dan prosedur kerja, (4) umpan balik kepada bawahan mengenai perkerjaannya, dan (5) informasi tentang suatu ciri ideologis untuk menanamkan rasa mengemban misi: indoktrinasi mengenai tujuan-tujuan.

Komunikasi kebawah biasanya merupakan komunikasi satu arah seperti pada poin ke-1, 2, 3, dan 5, yaitu bawahan hanya menerima perintah atau petunjuk-petunjuk kerja tanpa dapat memberikan umpan balik. Sedangkan pada poin ke-4 terlihat adanya komunikasi Interaktif yaitu adanya umpan balik dari atasan terhadap komunikasi bawahannya. Terlihat adanya komunikasi dua arah. Komunikasi yang mencirikan pimpinan yang baik.

Intensitas komunikasi

Harold Lasswell menggambarkan komunikasi dengan menjawab

pertanyaan-pertanyaan: Who Says What In Which Channel To Whom With What

Effect? Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana? (Mulyana, 2003). Sementara intensitas komunikasi adalah frekuensi dari upaya seseorang dalam peningkatan komunikasinya. Atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa intensitas komunikasi adalah kehebatan

frekuensi seseorang dalam berkomunikasi. Intensitas komunikasi berpengaruh pada perilaku seseorang, semakin tinggi intensitas komunikasi, maka semakin tinggi partisipasinya (Soemantri, 1998).

Partisipasi masyarakat sangat ditentukaan oleh karakteristik dan intensitas

komunikasinya (Davis dalam Sastropoetro, 1988). Orang yang berpendidikan

tinggi mempunyai partisipasi yang tinggi di dalam pembangunan, karena dengan berpendidikan tinggi ia mampu menganalisis serta aktif terlibat dalam perencaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan (Muliawati, 1993).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektivan Komunikasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektivan komunikasi yaitu faktor pada komponen komunikasi dan faktor pada komponen komunikator (Effendy, 2000) .

Faktor pada komponen komunikasi

Faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh seorang komunikan dalam menyampaikan suatu pesan yaitu: (1) waktu yang tepat untuk suatu pesan, (2) bahasa yang dipergunakan agar pesan dapat dimengerti, (3) sikap dan nilai yang harus ditampilkan agar efektif, (4) jenis kelompok dimana komunikasi akan

Dokumen terkait