Adrim M. 1993. Metodelogi penelitian ikan-ikan karang dalam materi kursus pelatihan metodelogi penetuan kondiasi terumbu karang. Pusat penelitian dan pengembangn oseanologi. LIPI. Jakarta.
Aziz KA, Mennofatria B, Yonvitner, Uni W & Rita R. 2005. Analisis tangkapan persatuan upaya (TPSU) sumberdaya ikan di Kepulauan Seribu. Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta. Jakarta.
Bagenal T. 1978. Methods for assessment of fish production in freshwater. Third edition. Blackwell Scientific Publications. Oxford. 365 p.
Beverton RJH & Holt SJ. 1957. On the dynamics of exploited fish population. Her Majesty’s Statinery Office. London, USA.
Busacker GP, Adelman IR, & Goolish EM. 1990. Growth. p.363-382 in Schreck, C. B and P. B. Moyle (editor), Methods for Fish Biology. American Fisheries Society, Maryland. USA.
Djamali A & Hasan M. 1998. Sumberdaya ikan konsumsi perairan karang. LIPI. Oseanologi. 1(12): 195-200.
Effendie MI. 1979. Metode biologi perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 112 hlm. Effendie MI. 2002. Biologi perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta. 163
hlm.
Ezzat AA, Elham AW, & Faiza AB. 1996. Studi histologi gonad redspot emperor Lethrinus lentjan (Lacapede), (Famili Lethrinidae) di Perairan Jeddah, Laut Merah. Mar Enveriotment. 7(10): 215-232.
[FAO] Food and Agriculture Organization. 2001. FAO spesies identification guide for fishery purposes, the lining marine resources of the western cetral pacific, Volume 5. Synop. 3004-3006.
Gulland JA. 1983. Fish stock assessment: a manual of basic methods, volume 1. John Wiley & Sons, inc. New York, USA.
Hamzah MS & DK Sumardhiharga. 1993. Pengaruh periode umur bulan terhadap hasil tangkapan ikan umpan dengan jaring redi di Teluk Ambon bagian dalam. Puslitbang Oseanografi LIPI Ambon. III(3) : 49-53.
Kuiter RH. 1992. Tropical reef-fishes of the western Pasific Indonesian and adjacent waters. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 314 hal.
Lahoo AV. 2008. Komposisi spesies dan kelimpahan komunitas ikan di perairan intertidal Likupang, Sulawesi Utara. Pasifik Jurnal 1(3): 299-305.
Manik N. 2009. Hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan laying (Decapterus russelli) dari perairan sekitar Teluk Likupan Sulawesi Utara. Oesanologi dan Limnologi Indonesia 35(1): 65-74.
Marsoali MK. 2001. Model pemanfaatan sumberdaya perikanan karang berkelanjutan di kawasan pulau-pulau kecil. Studi kasus perikanan lencam (Lethrinus lentjan, Lacepede 1802) sistem tradisional di kawasan terumbu karang Kepulauan Guraici, Kabupaten Maluku Utara, Propinsi Maluku Utara [disertasi]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Motlagh SAT, Vahabnezhad A, Seyfabadi SJ, Ghodrati SM and Hakimelahi M. 2009. Growth, mortality and spawning season of the spangled emperor (Lethrinus nebulos Forsskal, 1775) in coastal waters of Hormozgan Province in the Persian Gulf and Oman Sea. Iranian Journal of Fisheries Sciences. 9(1): 161-172.
Napitupulu DL, NH Siti, & N Cahyo. 2003. Sosio economic assessment : in the use of reef resources by local community and other direct stakeholder. Yayasan Terumbu Karang Indonesia. Jakarta.
Norau S. Analisis optimisasi pemanfaatan sumberdaya ikan lencam (Lethrinus lentjan) di kawasan terumbu karang Kepulauan Guraici, Kabupaten Halmahera Selatan [tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nybakken JW. 1997. Marine biology: An ecological approach, 4th ed.Addison-Wesley Educational Publisher Inc. Menlo Park, California, USA. 165-166 p. Pauly D. 1984. Fish population dynamics in tropical waters: A Manual for Use with
Programmable Calculators. ICLARM. Manila. 325 p.
Pauly D. 1998. Tropical fishes: patterns and propensities. Jurnal of Fish Biology 53(7): 1-17.
Reubens J. 2008. Habitat dan Makanan dari Lethrinus lentjan, Siganus fuscescens, dan Siganus guttatus di perairan tropis estuari, Teluk Pujada, Philiphina [tesis]. Marine Biologi, Universitas Gent, Philiphina. Philiphina. 31 hlm.
Setiawandi S. 2011. Kajian populasi cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessosiana) di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun Kepulauan Seribu, Jakarta Utara [skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Setyono DED. 1996. Studi pembesaran ikan lencam (Lethrinus miniatus dan L. semicintus ) di dalam kurungan jaring terapung di Perairan Kei Kecil, Maluku Tenggara. Puslitbang Oseanografi LIPI Guru-Guru, Poka, Ambon. 1 (11): 67-78.
Sparre P & Venema SC. 1999. Introduksi pengkajian stok ikan tropis buku-i manual (Edisi Terjemahan). Kerjasama Organisasi Pangan, Perserikatan
Bangsa-Bangsa dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. 438 hlm.
Sudirman & Mallawa A. 2004. Teknik penangkapan ikan. Rineka Cipta. Jakarta. 168 hlm.
Subari W & Barus HR. 1989. Alat penangkapan ikan dan udang laut di Indonesia. Jurnal Perikanan Laut 50(5): 172-174
[Terangi] Terumbu Karang Indonesia. 2011. Panduan dasar untuk pengenalan ikan karang secara visual. Indonesia. Indoneisa Coral Reef Foundation.[terhubung berkala]. http://terangi.or.id/publication/pdf/pandikan.pdf [20 Februari 2011].
[Terangi] Terumbu Karang Indonesia. 2011. Laporan pengamatan jangka panjang terumbu karang Kepulauan Seribu 2005-2009. The David and Lucile Packard Foundation. Jakarta.
Toor HS. 1986. Biology and fishery of the pig-face bream, Lethrinus lentjan Lacepede, II maturation and spawning. Central Marine Fisheries Research Institute, Mandapam Camp. 1(3): 582-598.
Walpole RE. 1995. Pengantar Statitika. [Terjemahkan dari Introduction to statistic]. Sumantri B (penerjemah). Edisi ketiga. PT Gramedia. Jakarta. 515 hlm.
Wassef E.A. 1991. Studi pertumbuhan komperatif Lethrinus lentjan, Lacepede 1802 dan Lethrinus mahsena, Forsskal 1775 (Famili Lethrinidae) di Laut Merah. Fish Res. 11(1): 75-92.
Widodo J & Suadi. 2006. Pengelolaan sumberdaya perikanan laut. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 252 hlm.
Wijaksana A. 2008. Pengukuran karakteristik akustik sumberdaya perikanan di laguna gugusan Pulau Pari Kepulauan Seribu. Departemen Ilmu Teknologi dan Kelautan [skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
www.kepulauanseribu.net. Gambaran umum Kepulauan Seribu.[terhubung berkala].http://www.kepulauanseribu.net./Gambaran umum Kepulauan Seribu.htm [16 Maret 2011].
Lampiran 1. Alat dan bahan yang digunakan
Penggaris 30 cm Timbangan Pancing
Jangka sorong 150 cm Bubu Jaring
Lampiran 2. Famili Lethrinidae
Lethrinus lentjan (Drapapa) Lethrinus harak (Tambak tanda)
Lethrinus erythropterus (Ponto-ponto) Lethrinus ornatus (Tambak benang)
Lethrinus obseletus Lethrinus sp. (Sumpak)
Lampiran 3. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan family Sampling ke- TOTAL 1 2 3 4 5 6 Lethrinidae 25 16 4 96 49 41 231 Nemipteridae 3 98 2 23 5 2 133 Apogonidae 1 108 4 113 Scaridae 8 29 20 3 60 Labridae 4 8 2 27 3 4 48 Pomacentridae 1 12 10 14 2 1 40 Serranidae 3 5 2 24 2 36 Siganidae 2 9 20 31 Portunidae 10 16 4 30 Holocentridae 11 2 13 Gerreidae 1 8 1 10 Monacanthidae 2 3 4 9 Caesionidae 8 8 Chaetodontidae 8 8 Lutjanidae 8 8 Mullidae 1 0 0 4 1 0 6 Belonidae 0 3 0 2 0 0 5 47
Lampiran 4. Komposisi tangkapan famili Lethrinidae pada setiap pengamatan Sampling ke- 1 2 3 4 5 6 Lethrinidae 25 16 4 96 49 41 Total Famili 49 196 30 368 70 76 Komposisi (%) 51 8 13 26 70 54
Lampiran 5. Uji Chi-square alat tangkap ikan dengan waktu tangkapan
H0 : Pancing = Bubu = Jaring isang H1 : Pancing ≠ Bubu ≠ Jaring insang
Thitung < Ttabel : Terima H0 Thitung > Ttabel : Tolak H0
Berdasarkan waktu pengamatan
Pengamatan Alat Tangkap Frekuensi
(oi)
Frekuensi harapan (ei)
Pancing Bubu Jaring insang
1 1 18 6 25 12.5 2 9 3 4 16 8 4 52 19 35 106 53 5 21 15 13 49 24.5 6 23 12 6 41 20.5 X2hitung = ∑ ( ) X2hitung
Pancing Bubu Jaring insang
1 10.58 2.42 3.38 2 0.13 3.13 2 4 0.02 21.81 6.11 5 0.5 3.68 5.40 6 0.30 3.52 10.26 Total 11.53 34.56 27.15 X2tabel = X2v=(8) = 15,07
Kesimpulan : Alat tangkap pancing berbeda nyata dengan bubu dan jaring. Alat tangkap pancing lebih efektif untuk menangkap ikan famili Lethrinidae
Lampiran 6. Hubungan Panjang dan Berat
Hipotesis
H0 : b=3 pola pertumbuhan isometrik H1 : b≠3 pola pertumbuhan allometrik
Thitung < Ttabel : Terima H0 Thitung > Ttabel : Tolak H0
ℎ = | − 3|
ℎ = |3,342 − 3|
0,141 = 2,42
Ttabel = Tinv(0,05; (173-1) = 0,6759Thitung > Ttabel Allometrik
W = 2x10-5L3,342 R² = 0,93 N = 173 0 100 200 300 400 0 50 100 150 200 250 300 Ber at (g ram ) Panjang (mm)
Lampiran 7. Faktor kondisi
Selang kelas Rataan STDEV
100 - 117 1.03 0.89 118 - 135 0.77 0.51 136 - 153 0.82 0.66 154 - 171 0.99 0.76 172 - 189 1.03 0.84 190 - 207 0.67 0.61 208 - 225 0.31 0.02 226 - 243 0.33 0.04 244 - 261 - - 262 - 279 0.38 0.06
Lampiran 8. Mesh size pada Jaring insang
Panjang (mm) Berat (gr) Tinggi Badan (mm)
158 50 43 164 56 47 196 98 58 199 106 59 240 190 68 115 16 31 127 26 32 131 30 37 145 38 40 147 42 39 154 46 43 154 48 45 Persamaan : Y = 1,325x – 154,5 Permisalan : Jika x = 273 Y = 0,856 (180) – 154,5 = 79,188 mm 7,9 cm 3,1 inchi mesh size nya adalah 3
Jika ingin memperoleh ukuran lebih dari 300 mm (Ukuran pertama kali matang Gonad) (Toor 1986)
Maka :
Y = 0,856 ( 300) – 154,5
= 127,98 mm 12,8 cm 5 inchi
Jadi mesh size jaring insang lebih dari 5
y = 0,856 x - 154,5 R² = 0,954 0 50 100 150 200 0 50 100 150 200 250 300 B o b o t (g ram ) Panjang (mm) 1 inchi = 2,54 cm