Depkes RI. 1996. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Direktorat Gizi departemen Kesehatan RI. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Difa F. 2011. Kandungan gingerol dan shogaol, intensitas kepedasan dan penerimaan panelis terhadap oleoresin jahe gajah, jahe emprit, dan jahe merah [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Direja D. 1996. Mempelajari Pengaruh Penambahan Karboksimetilselulosa terhadap Karakteristik Edible Film dari Bungkil Kedelai [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Fardiaz S.1992. Mikrobiologi pangan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gaman PM dan KB Sherington. 1992. Ilmu Paangan: Pengantar Ilmu Pangan
Nutrisi dan Mikrobiologi. G. Murdijati, Penerjemah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Terjemahan dari: The Science of Food, An Introduction to Food Science, Nutrition and Microbiology.
Han JH. 2000. Antimicrobial food packaging. Food Technology 54(3):56-65.
Haryanto B dan Pangloli P. 1993. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Yogyakarta:
Kanisius. .
Heru K. 1996. Pengaruh penambahan carboxymethilcelullose dan sorbitol
terhadap karakteristik fisik edible film dari ekstrak protein bungkil kedelai [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Krochta JM. 1992. Control of mass transfer in foods with edible coatings and films. Advances in food Engineering. Boca Raton : CRC Press.
Krochta JM dan DeMulder J. 1997. Edible and biodegradable polymer films: Challenges and opportunities. Food Technology 51(2): p. 61-74.
McHugh TH dan Krochta JM. 1994. Permeability Properties of Edible Films. USA: Technomic Publ Co. Inc., Lancaster.
Peckham GC. 1969. Foundation of Food Preparation 2nded. London: The Mac
Milla Co., Callier Mac Millan Ltd.
Sudarmadji S. 1982. Bahan – Bahan Pemanis. Yogyakarta: Agritech,
Suhardjo MK dan Clara. 1987. Prinsip-prinsip Ilmu Gizi. Bogor: PAU Pangan
dan Gizi IPB.
Sutrisno K. 1995. Jahe dan Hasil Olahannya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Weber CJ. 2002. Production and applications of biobased packaging materials for
the food industry. Food Additives and Contaminants 19: p. 172-177.
Whistler RL dan Daniel JR. 1990. Functions of Polysaccharides in Foods. Di dalam: Branen AL, Davidson PM, Salminen S, editor. Food Additives. New York: Marcel Dekker, Inc.
Winarno F G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Yudi B. 1997. Aplikasi edible film dari tapioka sebagai bahan pengemas dengan
menentukan umur simpan bumbu mie Instant menggunakan metode
21 Lampiran 1. Prosedur analisa
1. Kadar Air (SNI 3451:2011)
Kadar air dihitung berdasarkan bobot yang hilang selama pemanasan dalam oven pada suhu (130 ± 3)°C. Prosedur kerjanya adalah sebagai berikut cawan dipanaskan dalam oven pada suhu (130 ± 3)°C selama kurang lebih satu jam dan dinginkan dalam desikator selama 20-30 menit, kemudian timbang dengan neraca analitik. Sebanyak 2-5 g contoh dimasukkan ke dalam cawan dan timbang. Cawan yang berisi contoh tersebut dipanaskan di dalam oven setelah suhu oven (130 ± 3)°C selama satu jam. Pindahkan cawan ke dalam desikator dan dinginkan selama 20-30 menit sehingga suhunya sama dengan suhu ruang, kemudian timbang. Hitung kadar air dalam contoh.
Kadar air A B C x %
Keterangan :
A = wadah + contoh sebelum dikeringkan (g) B = wadah + contoh setelah dikeringkan (g) C = bobot contoh (g)
2. Kadar Abu (SNI 3451:2011)
Cawan dipanaskan dalam tanur pada suhu (550 ± 5)°C selama satu jam dan didinginkan dalam desikator sehingga suhunya sama dengan suhu ruang kemudian ditimbang dengan neraca analitik. Contoh sebanyak 3-5 g dimasukkan ke dalam cawan dan ditimbang. Cawan yang berisi contoh tersebut ditempatkan dalam tanur pada suhu (550 ± 5)°C sampai terbentuk abu berwarna putih dan diperoleh bobot tetap. Cawan dipindahkan ke dalam desikator sehingga suhunya sama dengan suhu ruang kemudian ditimbang dan dihitung kadar abu dalam contoh.
Kadar abu A B C x %
Keterangan :
A = cawan + contoh kering (g) B = cawan kosong (g)
C = bobot contoh (g)
3. Kadar Protein (AOAC 1995)
Sebanyak 0.1 g contoh dimasukkan ke dalam labu kjeldahl lalu ditambahkan 2.5 ml H2SO4 pekat, dan 1 g katalis. Larutan didestruksi hingga menghasilkan larutan jernih kemudian didinginkan. Larutan hasil destruksi dipindahkan ke alat destilasi dan ditambahkan 15 ml NaOH 50%. Labu erlenmeyer yang berisi 25 ml larutan asam borat 2% dan 2-3 tetes indikator mengsel (campuran metil merah 0.02% dalam alkohol dan metil biru 0.02% dalam alkohol (2:1) diletakkan dibawah kondensor. Ujung batang tabung kondensor harus terendam dalam larutan asam borat. Destilasi dilakukan sampai volume larutan dalam erlenmeyer mencapai 2 kali volume awal. Larutan yang berada dalam erlenmeyer dititrasi dengan H2SO4 0.02 N hingga diperoleh perubahan warna dari hijau menjadi ungu. Setelah itu dilakukan juga penetapan blanko.
22
Kadar Protein Kasar a b x N x x .W x %
Keterangan :
a = ml H2SO4 untuk titrasi blanko b = ml H2SO4 untuk titrasi contoh N = normalitas H2SO4
W = bobot contoh (mg)
4. Kadar Lemak (AOAC 1995)
Sebanyak 2 g contoh bebas air diekstraksi dengan pelarut organik heksan dalam alat soxlet selama 6 jam. Contoh hasil ekstraksi diuapkan dengan cara diangin-anginkan dan dikeringkan dalam oven bersuhu 105°C. Contoh didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap.
Kadar Lemak bobot contoh x bobot lemak %
5. Kadar Karbohidrat (by difference)
Kadar karbohidrat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Kadar karbohidrat % A B C D
Keterangan :
A = kadar abu C = kadar lemak
B = kadar protein D = kadar air
6. Ketebalan
Produk edible film strip herbal dengan ukuran 20x30 cm2 diukur
ketebalanya pada lima titik. Ketebalan diukur menggunakan alat thickness gauge.
7. Daya Larut
Edible film strip herbal dipotong dengan ukuran 2x3 cm2, selanjutnya potongan produk ini diukur ketebalannya menggunakan alat thickness gauge. Dari hasil pengukuran tersebut dihitung volume produk. Selanjutnya, produk dihitung lama waktu sampai seluruhnya larut di dalam mulut oleh seorang panelis terhadap sembilan formulasi produk. Daya larut merupakan lama waktu larut per satuan volume.
8. Uji Organoleptik (Soekarto 1985)
Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji hedonik, dimana pengujian dilakukan terhadap aroma, kelarutan dalam mulut, rasa, tekstur, dan warna edible film strip herbal. Skala hedonik yang digunakan adalah 1= sangat tidak suka, 2= tidak suka, 3= agak tidak suka, 4= netral, 5= agak suka, 6= suka, 7= sangat suka. Panelis yang digunakan adalah panelis semi terlatih sebanyak 30 orang. Data dianalisis dengan melihat perolehan nilai rataan skala terhadap produk edible film strip herbal.
23 Lampiran 2. Hasil analisis karakteristik edible film strip herbal
a. Kadar air (%)
Sumber Keragaman df JK KT F hitung F tabel
A 2 0.18 0.09 0.05 5.12
B 2 38.68 19.34 11.42 * 5.12
AB 4 8.10 2.02 1.20 3.63
Eror 9 15.24 1.69
Total koreksi 17 62.20
*) signifikan pada taraf 5%
Uji Duncan
b. Ketebalan (mm)
Sumber Keragaman df JK KT F hitung F tabel
A 2 9.10x104 4.50x104 1.42 4.26 B 2 4.60x104 2.30x104 0.71 4.26 AB 4 13.50x104 3.40x104 1.05 3.63 Error 9 28.80x104 3.20x104 TotalKoreksi 17 55.90x104 c. Daya larut (s/mm3)
Sumber Keragaman df JK KT F hitung F tabel
A 2 4.37 2.19 6.73 * 0.02
B 2 0.32 0.16 0.49 0.61
AB 4 1.56 0.39 1.20 0.36
Error 9 2.92 0.32
Total koreksi 17 9.18 0.16
*) Signifikan pada taraf 5%
Uji Duncan Formula B2 B1 B3 notasi Rataan 13.64 13.33 10.37 B2 13.64 0.00 a B1 13.33 0.31 0.00 a B3 10.39 3.25 2.94 0.00 b Formula A1 A2 A3 Notasi Rataan 3.95 3.15 2.76 A1 3.95 0.00 a A2 3.15 0.79 0.00 b A3 2.76 1.18 0.39 0.00 b
24
Lampiran 3. Hasil uji penerimaan panelis / organoleptik edible film strip herbal
a. Aroma
Uji Keragaman ( ANOVA )
Sumber Keragaman db JK JKR Fhitung Ft (5%)
Contoh 8 22.16 2.77 2.87* 1.94
Panelis 29 110.65
Error 232 224.28 0.97
Total 269 357.10
*) Signifikan pada taraf 5%
Uji Duncan
Kode
Rata-rata
A2B1 A2B2 A2B3 A1B1 A1B3 A3B1 A3B3 A3B2 A1B2
Notasi 4.27 4.30 4.50 4.60 4.70 4.87 4.93 4.97 5.13 a A2B1 4.27 0.00 a A2B2 4.30 0.03 0.00 b a A2B3 4.50 0.23 0.20 0.00 c ab A1B1 4.60 0.33 0.30 0.10 0.00 abc A1B3 4.70 0.43 0.40 0.20 0.10 0.00 abc A3B1 4.87 0.60 0.57 0.37 0.27 0.17 0.00 bc A3B3 4.93 0.66 0.63 0.43 0.33 0.23 0.06 0.00 bc A3B2 4.97 0.70 0.67 0.47 0.37 0.27 0.10 0.04 0.00 bc A1B2 5.13 0.86 0.83 0.63 0.53 0.43 0.26 0.20 0.16 0.00 c Kode formulasi dengan huruf notasi berbeda menunjukan perbedaan nyata pada taraf uji 5% (Duncan’s Multiple Range Test).
b. Kelarutan
Uji Keragaman ( ANOVA )
Sumber Keragaman db JK JKR Fhitung Ft (5%)
Contoh 8 31.72 3.96 3.58* 1.94
Panelis 29 168.46
Error 232 257.17 1.11
Total 269 457.35
25 Uji Duncan
Kode Rata-rata A3B3 A3B2 A2B3 A1B3 A2B2 A1B2 A1B1 A2B1 A3B1 Notasi
2.60 3.00 3.10 3.13 3.27 3.27 3.40 3.47 5.13 a A3B3 2.60 0.00 b a A3B2 3.00 0.40 0.00 ab A2B3 3.10 0.50 0.10 0.00 ab A1B3 3.13 0.53 0.13 0.03 0.00 ab A2B2 3.27 0.67 0.27 0.17 0.14 0.00 b A1B2 3.27 0.67 0.27 0.17 0.14 0.00 0.00 c b A1B1 3.40 0.80 0.40 0.30 0.27 0.13 0.13 0.00 bc A2B1 3.47 0.87 0.47 0.37 0.34 0.20 0.20 0.07 0.00 bc A3B1 3.93 1.33 0.93 0.83 0.80 0.66 0.66 0.53 0.46 0.00 c
Kode formulasi dengan huruf notasi berbeda menunjukan perbedaan nyata pada taraf uji 5% (Duncan’s Multiple Range Test).
c. Rasa
Uji Keragaman ( ANOVA )
Sumber Keragaman db JK JKR Fhitung Ft (5%)
Contoh 8 58.47 7.31 5.23* 1.94
Panelis 29 198.80
Error 232 324.20 1.40
Total 269 581.47
*) Signifikan pada taraf 5%
Uji Duncan
Kode formulasi dengan huruf notasi berbeda menunjukan perbedaan nyata pada taraf uji 5% (Duncan’s Multiple Range Test).
Kode Rata-rata A2B1 A3B3 A2B3 A1B3 A2B2 A3B2 A1B2 A1B1 A3B1 Notasi
2.93 3.40 3.60 3.77 3.87 4.07 4.13 4.23 5.13 a A2B1 2.93 0.00 b a A3B3 3.40 0.47 0.00 c ab A2B3 3.60 0.67 0.20 0.00 bc A1B3 3.77 0.84 0.37 0.17 0.00 bc A2B2 3.87 0.94 0.47 0.27 0.10 0.00 d bc A3B2 4.07 1.14 0.67 0.47 0.30 0.20 0.00 cd A1B2 4.13 1.20 0.73 0.53 0.36 0.26 0.06 0.00 cd A1B1 4.23 1.30 0.83 0.63 0.46 0.36 0.16 0.10 0.00 cd A3B1 4.60 1.67 1.20 1.00 0.83 0.73 0.53 0.47 0.37 0.00 d
26
d. Tekstur
Uji Keragaman ( ANOVA )
Sumber Keragaman db JK JKR Fhitung Ft (5%)
Contoh 8 11.05 1.38 1.13 1.94
Panelis 29 118.96
Error 232 283.17 1.22
Total 269
e. Warna
Uji Keragaman ( ANOVA )
Sumber Keragaman db JK JKR Fhitung Ft (5%)
Contoh 8 12.20 1.52 1.49 1.94
Panelis 29 119.94
Error 232 238.02 1.03
27
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Samarinda pada tanggal 3 September 1992 dari ayah Bambang Eko Prasetyo dan ibu Esti Rahayu dengan adik Farrah Virginia dan Safirra Tista. Pada tahun 1995 penulis memulai pendidikan di TK Patra III Jakarta Timur dan melanjutkan pendidikan di SD CBM Dewi Sartika Sukabumi dari tahun 1998 sampai tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Sukabumi dan lulus tahun 2006. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Bogor pada tahun 2009, penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Mahasiswa IPB (USMI) pada Fakultas Teknologi Pertanian, Departemen Teknologi Industri Pertanian.
Penulis pernah menjadi asisten mata kuliah pati, gula, dan sukrokimia pada tahun 2012-2013 dan asisten mata kuliah teknologi pengemasan, distribusi, dan transportasi pada tahun 2013. Selain itu, penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan, diantaranya Sekertaris dalam acara IPB’s Dedication for Education
(IDEA) dan sebagai anggota divisi Humas pada acara International Scholarship Education Expo (ISEE)tahun 2011. Penulis melaksanakan Praktik Lapangan pada bulan Juli - Agustus 2012 pada Divisi Klinik Agribisnis dan Agrowisata PT Kusumasatria Agrobio Taniperkasa Batu, Jawa Timur. Judul yang dikerjakan dalam praktik lapang tersebut adalah “Mempelajari Manajemen Kualitas Apel (Malus sylvertris mill) di PT Kusumasatria Agrobio Taniperkasa”.