Albrigo, L. G dan R. D Carter. (1977). Structure of Citrus Fruit in Reaction to Processing di dalam S. Nagy, P. E. Shaw, dan M. K. Veldhuis (eds). Citrus Science and Technology Volume I. The AVI Publishing Company Inc.
West Point, Connecticut. Halaman 33,73
Bariqina ,E dan Zahida, I. (2001). Perawatan dan Penataan Rambut. Yogyakarta:
Adicita Karya Nusa. Halaman 7-8, 10-12.
Biobelemonye, N., Ogba, M.O., Bassey, N.L. (2016). Dandruff Aetiology and The Effects of Edible Lipids on The Growth of Isolates. European Journal of Pharmaceutical and Medical Research. 3(9): 71
BPOM RI.(2009). Antiketombe. Naturakos. 11(4): 2-4
Budiman, A., Faulina, M., Yuliana, A., dan Khoirunisa, A. (2015). Uji Aktifitas Sediaan Gel Shampo Minyak Atsiri Buah Lemon (Citrus limonBurm).International Journal Pharmaceutical Science and Technology. 2(2): 68-74.
Cadin, C. (1998). Isolated dandruff. Editor: Baran dan Maichbach. Dalam Textbook Of Cosmetic Dermatology. Edisi Kedua. London: Martin Dunit.
Halaman 193-200.
Depkes RI. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 9, 33, 659, 748.
Depkes RI. (1985). Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 285-286.
Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Departeman Kesehatan RI. Halaman 112, 413, 595, 891-899.
Depkes RI. (2020). Farmakope Indonesia. Edisi Keenam. Jakarta: Departeman Kesehatan RI. Halaman 48,1232
Devkatte, A.N., Zore, G. B., Karuppayil, S.M. Potential of plant oils as inhibitors of Candida albicans growth. FEMS Yeast Research 5 (2005) 867–873
.
Difco Laboratories. (1977). Difco Manual of Dehydrated Culture Media and Reagents for Microbiology and Clinical Laboratory Procedures. Edisi Kesembilan. Detroit Michigan: Difco Laboratories. Halaman 32, 64.
Exerowa, D., dan Kruglyakov, P.M. (1998). Foam and Foam Films: Theory, Experiment, Application. Netherlands: Elsevier. Halaman 494.
Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan I. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama dan PAU Pangan dan Gizi. Halaman 239-249.
Farizal dan Widyastuti. (2014).Formulasi Gel Minyak Nilam dan Uji Daya Hambatnya Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Scientia.4(2):
60-65.
Gualdani, R., Cavalluzzi, M.M., Lentini, G., Habtemariam, S.(2016). The chemistry and pharmacology of citrus limonoids. Molecules 2016, 21,
Gunawan, D. dan Mulyani, S. (2010). Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jilid I.
Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya. Halaman 107-122
Gutierrez, J.A., Rossana Chan, Tanveer S. Batth.(2013). Metabolic engineering of Escherichia coli for limonene and perillyl alcohol production. Department of Chemical & Biomolecular Engineering, University of California, Berkeley, CA 94720, USA.
Hargono D., Farouq, Sutarno S. & Ratih T (eds). (1986). Sediaan Galenik. Jakarta : Departemen Kesehatan RI., pp: 570-572.
Harahap, F.E. (2015). Uji Aktivitas Ekstrak Rimpang Lengkuas Merah (Alpinia galanga l. Willd) Terhadap Jamur Pityrosporum Ovale dalam Sediaan Sampo Anti Ketombe. Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Halaman 44.
Jawetz, E. (1996) . Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit EGC Buku Kedokteran. Halalaman 3, 611-616.
Kartiningsih, Faizatun, dan Liliyana. (2008). Formulasi Sediaan Sampo EkstrakBunga Chamomile dengan Hidroksi Propil Metil Selulosa sebagaiPengental. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 6(1): 15-22.
Ketaren,S. (1985). Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Penerbit Balai Pustaka. Halaman 184
Khan, S.A., dan Badi, K.A. ( 2014). Formulation, Evaluation and Comparison of The Herbal Shampoo with The Commercial Shampoos. Beni-Suef University Journal of Basic and Applied Sciences. 3(1): 301-305.
Lay, B. W., dan Hastowo, S. (1992). Mikrobiologi. Bogor: Penerbit Institut Pertanian Bogor. Halaman 79.
Lubis,dkk.(2019). Formulasi dan Karakterisasi Sampo Minyak Almond Untuk Rambut Kering. Medan: Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah.
Halaman 625.
Lutony, T.L, dan Rahmayanti, Y. (2000). Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya. Halaman 1-3, 32-51, 113.
Mahataranti, N., Astuti, Y.I., dan Aariningdhiani, B. (2012). Formulasi Shampo Antiketombe Ekstrak Etanol Seledri ( Apium graveolens L) dan Aktivitasnya terhadap Jamur Pityrosporum ovale. Jurnal Farmasi. 9(2):
132
Martin, A., Swarbrick,J., dan Kamarata,A. (1993). Farmasi Fisik: Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik. Edisi ketiga. Penerjemah: Yoshita.
Jakarta: UI Press.Halaman 107
Michael, J., Pelczar, J.R., Chan, E.C.S. (1986). Dasar-dasar Mikrobiologi.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Halaman 189-191
Mitsui, T. (1997). New Cosmetic Science. Netherlands: Elsevier. Halaman 406.
Molanda,dkk. (2017). Formulasi Sediaan Sampo Antiketombe Ekstrak Daun Pacar Air ( impatiens balsamina L.) dan Uji Aktivitasnya Terhadap Jamur Candida albicans ATTC 10231 Secara In Vitro. Pharmacon. 6(4):106 Putro, S. (1998). Agar Awet Muda. Ungaran: PT. Trubus Agriwidya. Halaman 12.
Prabajati, R., Iwan, H., dan Hening,T.H. (2017). Effect of Citrus Limon Essential Oil (Citrus Limon L)on Cytomorphometric Changes of Candida Albicans.
Surabaya: Dental Journal.
Pratiwi, S.T. (2008). Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 105-117.
Ramadhani, Hayatunnufus, dan Yuliana. (2012) . Pengaruh Pemanfaatan Jeruk Nipis Terhadap Penyembuhan Ketombe Kering di Kulit Kepala. Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang. Halaman 2.
Ramesh, P. S., Anil, T., dan Sanjay, S. (2013). Formulation Development and Evaluation of Herbal Antidandruff Shampoo. International Journal of Research in Cosmetic Science. 3(2): 25-33.
Rieger, M.M. 2000. Harry’s Cosmetology 8th ed. New York: Chemical Publishing Co.Inc. Halaman 431-432, 446-448.
Rowe, R.C., Sheskey, P.J., dan Quinn, M.E. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipient. Edisi Keenam. Italy: Pharmaceutical Press.
Halaman 283.
Sayuti, N.A. (2015). Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Ketapang Cina (Cassia alata L.). Surakarta: Jurnal Kefarmasian Indonesia.
Halaman 75-76.
Snehal, W., Nitin. K., dan Vaibhav, B. (2014). Preparation & Evaluation Of Antidandruff Polyherbal Powder Shampoo. Pharmacophore Journal. 5(1):
77-84
Silva, A.C.O., Santana, E.F., Saraiva, A.M., Countinho, F.N., Castro, R.H.A., Pisciottano, M.N.C., Amorim, E.L.C., dan Albuquerque, U.P. (2013).
Which Approach Is More Effective in the Selection of Plants with Antimicrobial Activity.Journal of Hindawi Publishing Corporation.
Brazil: Cidade Universitaria. Halaman 3.
Siswandono. (1998). Prinsip-prinsip Rancangan Obat. Surabaya: Airlangga University Press. Halaman 38-41
Smart,A.(2010).Perawatan Modern untuk Kecantikan Wanita. Jogjakarta: Katalog Dalam Terbitan. Halaman 88.
Tranggono, R. I dan Latifah, F. (2007) . Pengantar Kosmetologi. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama. Halaman 68-71
Wasitaatmaja, Syarif. M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI Press. Halaman 109
Lampiran 1. Gambar sertifikat analisis minyak atsiri lemon
Lampiran 2. Bagan pengujian aktivitas antijamur
Diambil dengan jarum ose ditanam pada media agar miring Potato Dextrose Agar diinkubasi pada suhu 25oC
Diambil jarum ose steril
Disuspensikan kedalam 10 ml NaCl 0.9%
Disamakan kekeruhannya dengan standart Mc Farland
Diukur diameter zona hambat
Diinkubasi pada suhu 25oC selama 48 jam Dimasukkan pencadang kertas
yang sudah dicelupkan dalam larutan uji keatas media
Dihomogenkan, dibiarkan memadat Ditambahkan 15 ml media
Dimasukkan 1 ml inoculum kedalam cawan petri
Jamur pityrosporum ovale
Inokulum
Media uji
Media uji
Hasil
Jamur pityrosporum ovale
Lampiran 3. Perhitungan konsentrasi minyak atsiri lemon yang digunakan 1. 300 mg/ml ad 10 ml DMSO
= 300 mg/ml × 10 ml
= 3000 mg
= 3 g ad 10 ml
2. 275 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 275 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,91 ml ad 1 ml
3. 250 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 250 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,83 ml ad 1 ml
4. 225 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 225 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,75 ml ad 1 ml
5. 200 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 200 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,67 ml ad 1 ml
6. 175 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 175 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,58 ml ad 1 ml
1. 150 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 150 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,5 ml ad 1 ml
2. 125 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 125 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,41 ml ad 1 ml
3. 100 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 100 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,3 ml ad 1 ml
4. 75 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 75 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,25 ml ad 1 ml
5. 50 mg/ml ad 1 ml dari konsentrasi 300
= 50 mg/ml × 1 ml
= × 1 ml
= 0,167 ml ad 1 ml
Lampiran 4. Gambar daya hambat minyak atsiri lemon terhadap jamur Pityrosporum ovale
Keterangan :
50 : konsentrasi 50 mg/ml 150 : konsentrasi 150 mg/ml 75 : konsentrasi 75 mg/ml 175 : konsentrasi 175 mg/ml 100 : konsentrasi 100 mg/ml 200 : konsentrasi 200 mg/ml 125 : konsentrasi 125 mg/ml 0 : Dimetil sulfoksida
75 100
50 0
150
125 175
200
Lampiran 4. ( lanjutan )
Keterangan :
225 : konsentrasi 225 mg/ml 250 : konsentrasi 250 mg/ml 275 : konsentrasi 275 mg/ml 300 : konsentrasi 300 mg/ml
225
250
275 300
Lampiran 5. Data pengukuran daya hambat minyak atsiri lemon terhadap jamur pityrosporum ovale
No Konsentrasi Diameter Daerah Hambatan (mm)
1 ( mg/ml ) D1 D2 D3 D*
2 300 23,6 24 26,1 24,56
3 275 22,5 21,7 24,3 22.83
4 250 19,9 20,9 23,3 21,36
5 225 18,3 20,4 22,7 20,46
6 200 13,2 14,2 14,7 14,03
7 175 12,9 13 13,2 13,03
8 150 10,9 11 11,1 11
9 125 10,5 10,8 10,9 10,73
10 100 - - - -
11 75 - - - -
12 50 - - - -
13 0 - - - -
Keterangan :
D1 : Diameter perlakuan ke-1 D3 : Diameter perlakuan ke-3 D2 : Diameter perlakuan ke-2 D* : Diameter rata-rata
Lampiran 6. Berat rambut kotor dan berat rambut kotor
Formula Berat rambut kotor Berat rambut bersih
Rambut 1 (g)
Rambut 2 (g)
Rambut 3 (g)
Rambut 1 (g)
Rambut 2 (g)
Rambut 3 (g)
12,5 % 8 8,3 8,7 4,7 5,1 5,2
15 % 9 9,4 9,8 4,7 5 5,3
17,5 % 10,4 10,7 10,9 4,8 5 5,2
Lampiran 7. perhitungan uji daya pembersih dari minyak atsiri lemon Persentase kotoran yang dibersihkan:
1. Konsentrasi 12,5 %
=
× 100 %
= 33 %
2. Konsentrasi 15 %
= × 100 %
= 33,3 %
3. Konsentrasi 17,5 %
=
× 100 %
= 33,5 %
Lampiran 8. Gambar daya hambat gel antiketombe sampo minyak atsiri lemon terhadap jamur pityrosporum ovale
Keterangan :
12,5% : Formula dengan konsentrasi minyak atsiri 12,5 % 15% : Formula dengan konsentrasi minyak atsiri 15 % 17,5% : Formula dengan konsentrasi minyak atsiri 17,5 % Blanko : Formula sampo tanpa minyak atsri lemon
12,5%
17,5%
15%
Blanko
Lampiran 9. Data pengujian daya hambat gel sampo antiketombe minyak atsiri lemon terhadap jamur pityrosporum ovale
No Konsentrasi ( % )
Diameter Daerah Hambat ( mm )
D1 D2 D3 D*
12,5 25 25,5 25,6 25,36
15 26,2 26,5 26,9 26,53
17,5 27,2 27,7 28,3 27,73
Blanko 13,2 13,9 14,1 13,73
Keterangan :
D1 :Diameter perlakuan ke-1 D2 :Diameter perlakuan ke-2 D3 :Diameter perlakuan ke-3 D* :Diameter rata-rata
Lampiran 10. Bagan formulasi gel sampo antiketombe minyak atsiri lemon
Hidroksi Propil Metil
Massa gel Ditimba ng
Gel sampo Antiketombe Minyak Atsiri Lemon
Campuran A
Ditambahkan air panas
Ditambahkan larutan propilen glikol, propil paraben,
metilparaben Ditambah propilen glikol
Diaduk homogen
Dilarutkan dengan aquadest
Natrium Lauril Sulfat
Campuran B
Gel sampo
Ditambah minyak atsiri lemon Dicukupkan dengan akuadest
Lampiran 11. Gambar sediaan gel antiketombe sampo minyak atsiri lemon hari ke-1
Lampiran 12. Gambar hasil uji stabilitas fisik sediaan minyak atsiri lemon hari ke-28
Lampiran 13. Gambar hasil uji stabilitas fisik sediaan minyak atsiri lemon bulan ke-2
Lampiran 14. Gambar hasil uji stabilitas fisik sediaan minyak atsiri lemon bulan ke-3
Keterangan :
12,5 % : Formula dengan konsentrasi minyak atsiri 12,5 % 15 % : Formula dengan konsentrasi minyak atsiri 15 % 17,5 % : Formula dengan konsentrasi minyak atsiri 17,5 %