• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL Keragaman Kupu-kupu

DAFTAR PUSTAKA

[PPLH IPB – UKF] Pusat Penelitian Lingkungan Hidup - Uni Konservasi Fauna. 2006. Laporan Eksplorasi Flora dan Fauna (Kupu-kupu) di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna. Bogor: PPLH IPB - UKF

[Sub BKSDA JaBar II] Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat II. 1999. Buku Informasi Kawasan Konservasi Propinsi Jawa Barat. Bogor: Sub BKSDA JaBar II.

Ackery PR. 1984. Systematic and faunistic studies on butterflies. Di dalam: Vane-Wright RI, Ackery PR, editor. The Biology of Butterflies. Symposium of the Royal Entomological Society of London (11); London, 23-26 September 1981. London: Academic Pr. hlm 9-21.

menentukan besar kecilnya nilai indeks adalah jumlah spesies (species richness), kelimpahan individu setiap spesies (abundance) dan jumlah total individu. Dengan jumlah spesies relatif sama, tetapi jumlah total individu lebih banyak, maka keragamannya lebih kecil. Hal ini terlihat pada perbedaan keragaman kupu-kupu antara telaga dengan rumah. Jumlah spesies pada kedua lokasi tersebut sama (20 spesies), tetapi jumlah individu di ekosistem telaga lebih sedikit dibandingkan lokasi sekitar rumah, sehingga keragaman di telaga lebih tinggi dari rumah.

Indeks keragaman Shannon-Wiener (H’) secara keseluruhan berkisar antara 1,865-2,198. Hasil perhitungan sebaran keragaman Shannon (E) pada masing-masing lokasi pengamatan berkisar antara 0,623-0,734. Keragaman kupu-kupu tertinggi terdapat di telaga (H’ = 2,198 dan E = 0,734) dan keragaman terendah di rumah (H’ = 1,865 dan E = 0,623). Sebaran keragaman tertinggi berada di sekitar telaga (0,734) yang berarti memiliki penyebaran jenis paling besar. Sementara sebaran keragaman yang terendah berada di sekitar rumah. Semakin kecil nilai E mengindikasikan bahwa penyebaran jenis tidak merata. Penyebaran jenis juga erat kaitannya dengan dominasi, dimana bila nilai E kecil mengindikasikan terjadi dominasi dari jenis-jenis tertentu. Spesies yang mendominasi di sekitar rumah adalah Delias belisama.

Dari hasil perhitungan nilai kemiripan jenis menunjukkan bahwa secara keseluruhan keempat lokasi pengamatan memiliki indeks kemiripan yang hampir sama (0,429-0,475). Nilai indeks kemiripan tertinggi terdapat pada lokasi sekitar telaga dan rumah. Hal ini dapat disebabkan karena terdapatnya beberapa jenis tumbuhan berbunga yang sama antar kedua lokasi tersebut.

Dari faktor fisik yang teramati, kelimpahan spesies dan individu kupu-kupu tertinggi ditemukan pada kisaran suhu 18-25 °C, kelembaban 72-91%, intensitas cahaya 3000-30000 lux. Pada kondisi tersebut kemungkinan merupakan kondisi yang optimum bagi kupu-kupu untuk melakukan aktivitas harian seperti foraging, mencari pasangan serta oviposisi. Menurut Boonvanno et al. (2000) suhu mempengaruhi pertumbuh-an tpertumbuh-anampertumbuh-an pakpertumbuh-an kupu-kupu dewasa sehingga berhubungan dengan jumlah spesies dan individu kupu-kupu.

Secara tidak langsung kelembaban mempengaruhi kualitas tanaman pakan sehingga berpengaruh terhadap penyebaran

kupu-kupu serta kemampuan bertahan hidup kupu-kupu dewasa maupun larva (Blau 1980, diacu dalam Hamer et al. 2003 ).

Keragaman kupu-kupu berhubungan dengan intensitas cahaya, dimana semakin tinggi intensitas cahaya, maka keragaman kupu-kupu akan tinggi (Sparrow et al. 1994, diacu dalam Hamer et al. 2003). Namun pada penelitian ini keragaman kupu-kupu tertinggi hanya ditemukan hingga kisaran 30000 lux.

SIMPULAN

Ditemukan 22 spesies dari 5 famili kupu-kupu di kawasan Telaga Warna Cisarua Bogor. Keragaman kupu-kupu di sekitar telaga, tepi hutan dan rumah lebih tinggi dibandingkan kebun teh. Jenis kupu-kupu yang paling dominan di empat lokasi pengamatan adalah Delias belisama, Ypthima sp., dan Delias crithoe. Jumlah spesies terbanyak (19 spesies) ditemukan pukul 09.31-10.00, namun jumlah individu terbanyak (144 individu) ditemukan pukul 13.00-13.30.Kelimpahan individu kupu-kupu tertinggi ditemukan pada kisaran suhu 18-25 °C, kelembaban 72-91%, intensitas cahaya 3000-30000 lux.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian keragaman kupu-kupu pada bulan yang berbeda serta keberadaan tumbuhan inang dari spesies kupu-kupu sehingga dapat mengetahui status dari kawasan Telaga Warna.

DAFTAR PUSTAKA

[PPLH IPB – UKF] Pusat Penelitian Lingkungan Hidup - Uni Konservasi Fauna. 2006. Laporan Eksplorasi Flora dan Fauna (Kupu-kupu) di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna. Bogor: PPLH IPB - UKF

[Sub BKSDA JaBar II] Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat II. 1999. Buku Informasi Kawasan Konservasi Propinsi Jawa Barat. Bogor: Sub BKSDA JaBar II.

Ackery PR. 1984. Systematic and faunistic studies on butterflies. Di dalam: Vane-Wright RI, Ackery PR, editor. The Biology of Butterflies. Symposium of the Royal Entomological Society of London (11); London, 23-26 September 1981. London: Academic Pr. hlm 9-21.

6

menentukan besar kecilnya nilai indeks adalah jumlah spesies (species richness), kelimpahan individu setiap spesies (abundance) dan jumlah total individu. Dengan jumlah spesies relatif sama, tetapi jumlah total individu lebih banyak, maka keragamannya lebih kecil. Hal ini terlihat pada perbedaan keragaman kupu-kupu antara telaga dengan rumah. Jumlah spesies pada kedua lokasi tersebut sama (20 spesies), tetapi jumlah individu di ekosistem telaga lebih sedikit dibandingkan lokasi sekitar rumah, sehingga keragaman di telaga lebih tinggi dari rumah.

Indeks keragaman Shannon-Wiener (H’) secara keseluruhan berkisar antara 1,865-2,198. Hasil perhitungan sebaran keragaman Shannon (E) pada masing-masing lokasi pengamatan berkisar antara 0,623-0,734. Keragaman kupu-kupu tertinggi terdapat di telaga (H’ = 2,198 dan E = 0,734) dan keragaman terendah di rumah (H’ = 1,865 dan E = 0,623). Sebaran keragaman tertinggi berada di sekitar telaga (0,734) yang berarti memiliki penyebaran jenis paling besar. Sementara sebaran keragaman yang terendah berada di sekitar rumah. Semakin kecil nilai E mengindikasikan bahwa penyebaran jenis tidak merata. Penyebaran jenis juga erat kaitannya dengan dominasi, dimana bila nilai E kecil mengindikasikan terjadi dominasi dari jenis-jenis tertentu. Spesies yang mendominasi di sekitar rumah adalah Delias belisama.

Dari hasil perhitungan nilai kemiripan jenis menunjukkan bahwa secara keseluruhan keempat lokasi pengamatan memiliki indeks kemiripan yang hampir sama (0,429-0,475). Nilai indeks kemiripan tertinggi terdapat pada lokasi sekitar telaga dan rumah. Hal ini dapat disebabkan karena terdapatnya beberapa jenis tumbuhan berbunga yang sama antar kedua lokasi tersebut.

Dari faktor fisik yang teramati, kelimpahan spesies dan individu kupu-kupu tertinggi ditemukan pada kisaran suhu 18-25 °C, kelembaban 72-91%, intensitas cahaya 3000-30000 lux. Pada kondisi tersebut kemungkinan merupakan kondisi yang optimum bagi kupu-kupu untuk melakukan aktivitas harian seperti foraging, mencari pasangan serta oviposisi. Menurut Boonvanno et al. (2000) suhu mempengaruhi pertumbuh-an tpertumbuh-anampertumbuh-an pakpertumbuh-an kupu-kupu dewasa sehingga berhubungan dengan jumlah spesies dan individu kupu-kupu.

Secara tidak langsung kelembaban mempengaruhi kualitas tanaman pakan sehingga berpengaruh terhadap penyebaran

kupu-kupu serta kemampuan bertahan hidup kupu-kupu dewasa maupun larva (Blau 1980, diacu dalam Hamer et al. 2003 ).

Keragaman kupu-kupu berhubungan dengan intensitas cahaya, dimana semakin tinggi intensitas cahaya, maka keragaman kupu-kupu akan tinggi (Sparrow et al. 1994, diacu dalam Hamer et al. 2003). Namun pada penelitian ini keragaman kupu-kupu tertinggi hanya ditemukan hingga kisaran 30000 lux.

SIMPULAN

Ditemukan 22 spesies dari 5 famili kupu-kupu di kawasan Telaga Warna Cisarua Bogor. Keragaman kupu-kupu di sekitar telaga, tepi hutan dan rumah lebih tinggi dibandingkan kebun teh. Jenis kupu-kupu yang paling dominan di empat lokasi pengamatan adalah Delias belisama, Ypthima sp., dan Delias crithoe. Jumlah spesies terbanyak (19 spesies) ditemukan pukul 09.31-10.00, namun jumlah individu terbanyak (144 individu) ditemukan pukul 13.00-13.30.Kelimpahan individu kupu-kupu tertinggi ditemukan pada kisaran suhu 18-25 °C, kelembaban 72-91%, intensitas cahaya 3000-30000 lux.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian keragaman kupu-kupu pada bulan yang berbeda serta keberadaan tumbuhan inang dari spesies kupu-kupu sehingga dapat mengetahui status dari kawasan Telaga Warna.

DAFTAR PUSTAKA

[PPLH IPB – UKF] Pusat Penelitian Lingkungan Hidup - Uni Konservasi Fauna. 2006. Laporan Eksplorasi Flora dan Fauna (Kupu-kupu) di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Telaga Warna. Bogor: PPLH IPB - UKF

[Sub BKSDA JaBar II] Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat II. 1999. Buku Informasi Kawasan Konservasi Propinsi Jawa Barat. Bogor: Sub BKSDA JaBar II.

Ackery PR. 1984. Systematic and faunistic studies on butterflies. Di dalam: Vane-Wright RI, Ackery PR, editor. The Biology of Butterflies. Symposium of the Royal Entomological Society of London (11); London, 23-26 September 1981. London: Academic Pr. hlm 9-21.

Amir M, Noerdjito WA, Kahono S. 2003. Kupu (Lepidoptera). Di dalam: Amir M, Kahono S, editor. Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Bagian Barat. Bogor: BCP-JICA. Hlm 123-140. Aoki T, Yamaguchi S, Uemura Y. 1982.

Butterflies of the South East Asian Islands. Volume ke-3, Satyridae, Libytheidae. Tsukada E, editor. Tokyo: Plapac Co., Ltd.

Boonvanno K, Watanasit S, Permkam S. 2000. Butterfly diversity at Ton Nga-Chang wildlife sanctuary, Songkhla Province, Southern Thailand. Sci Asia 26:105-110.

Borror DJ, Triplehorn CA, Johnson NF. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Partosoedjono S, Brotowidjoyo MD, penerjemah; Yogyakarta. UGM Pr. Terjemahan dari: An Introduction to the Study of Insects.

Hamer KC, Hill JK, Benedick S, Mustaffa N, Sherratt TN, Maryati M, Chey VK. 2003. Ecology of butterflies in natural and selectively logged forests of northern Borneo: the importance of habitat heterogeneity. J Appl Ecol 40: 150–162. Holloway JD, Bradley JD, Carter DJ. 1987.

Lepidoptera. Di dalam: Betts CR, editor. Guide to Insects of Importance to Man. London: CAB International Institute of Entomology.

Kalshoven LGE. 1981. Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van der, penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.

Kurniawan Y. 2000. Keragaman ordo lepidoptera (insecta) di Gunung Kendeng dan Gunung Botol, Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas MIPA, Institut Pertanian Bogor.

McPheron LJ, Broce AB. 1996. Environmental components of puparation, site selection by the stable fly (diptera:muscidae). Environ Entomol 25: 624-632.

Morishita K. 1981. Butterflies of the South East Asian Islands. Volume ke-2, Pieridae, Danaidae. Tsukada E, editor. Tokyo: Plapac Co., Ltd.

Peggie D, Amir M. 2006. Practical Guide to the Butterflies of Bogor Botanic Garden – Panduan Praktis Kupu-kupu di Kebun Raya Bogor. Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI Cibinong dan Nagao Natural Environment Foundation. Tokyo.

Preston-Mafham R, Preston-Mafham K. 1999. Butterflies of the World. New York: Blandford.

Ross HH, Ross CA, Ross JRP. 1982. A Textbook of Entomology. New York: John Wiley & Sons.

Sastrodiharjo S, Soesilohadi RCH, Purwatiningsih, Putra RE. 2000. Ruang lingkup dan perkembangan biologi penyerbukan, ulasan tentang serangga penyerbuk. Di dalam: Prosiding Simposium Keanekaragaman Hayati Artropoda. Cipayung, 16-18 Oktober 2000.hlm 25-32.

Seki Y, Takanami Y, Maruyama K. 1991. Butterflies of Borneo. Volume ke-2, Lycaenidae and Hesperiidae. Otsuka K, editor. Tokyo: Tobishima Corp.

Suantara IN. 2000. Keragaman kupu-kupu (Lepidoptera) di Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Tsukada E, Nishiyama Y. 1982. Butterflies of the South East Asian Islands. Volume ke-1, Papilionidae. Tsukada E, editor. Tokyo: Plapac Co., Ltd.

Tsukada E. 1985. Butterflies of the South East

Asian Islands. Volume ke-4,

Nymphalidae (I). Tsukada E, editor. Tokyo: Plapac Co., Ltd.

Tsukada E. 1991. Butterflies of the South East

Asian Islands. Volume ke-5,

Nymphalidae (II). Tsukada E, editor. Tokyo: Plapac Co., Ltd.

Yamamoto N, Yokoyama J, Kawata M. 2007. Relative resources abundance explains butterfly biodiversity in island communities. PNAS 104: 10524-10529.

Lampiran 1 Peta lokasi pengamatan Sumber: http://www.pbase.com/archiaston/telaga_warna

Rumah

Dokumen terkait