• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Pustaka

Dalam dokumen Jurnal mandatory 10 edisi 01 (Halaman 32-40)

Alinasi MAsyarakat Adat Nusantara (AMAN) (1999). Catatan Hasil Kongres Masyarakat Adat Nusantara, Jakarta, Hotel Indonesia, 15 – 22 Maret. Achmad Sodiki (2012). “Konstitusionalitas Masyarakat Adat dalam Konstitusi”.

Makalah disampaikan pada “Simposium Keberadaan Masyarakat Adat sebagai Subyek Hukum”. Diselenggarakan oleh HuMa dan Epistema Institute, Jakarta, 27 – 28 Juni.

Amri Marzali (dalam proses penerbitan). “Klasiikasi Tipologi Komunitas Desa di Indonesia”. Sebuah tulisan yang dipersiapkan untuk sebuah buku yang masih dalam proses penerbitan.”.

Arianto Sangaji (2012). “Masyarakat Adat, Kelas, dan Kuasa Eksklusi”. Dimuat di Harian KOMPAS, Tanggal 21 Juni 2012.

Arimbi Heroepoetri (2012). “Unit Sosial Masyarakat Adat dan Administrasi Eksistensi Masyarakat Adat dan Hak-haknya dalam Negara Indonesia. Sebuah Sumbangan Pikiran”. Makalah disampaikan pada “Simposium Keberadaan Masyarakat Adat sebagai Subyek Hukum”. Diselenggarakan oleh HuMa dan Epistema Institute, di Jakarta, 27 – 28 Juni 2012. Bagir Manan (2002), Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi

Hukum Fakultas Hukum UII, Cetakan II, Yogyakarta.

Bakker, Laurens, & Sandra Moniaga (2010). “he Space Between: Land Claims and the Law of Indonesia”. Asian Journal of Social Science, 38, 187–203. Leiden: Koninklijke Brill NV.

Benny K. Harman et.al. (eds.) (1995). Pluralisme Hukum Pertanahan dan Kumpulan Kasus Pertanahan. Jakarta: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

Bonnie Setiawan, Dianto Bachriadi, dan Erpan Faryadi (eds.) (1997). Reforma Agraria, Perubahan Politik, Sengketa dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI dan Konsorsium Pembaruan Agraria.

Boy Fidro & Noer Fauzi (1995). Pembangunan Berbuah Sengketa, 29 Tulisan Pengalaman Advokasi Tanah. Medan: Wahana Informasi Masyarakat, bekerjasama dengan Yayasan Sintesa, Kisaran; Pos Pelayanan LBH Indonesia, Lampung; Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Pedesaan, Bandung, dan Lembaga Kajian Hak-hak Masyarakat, Yogyakarta.

Denny Indrayana (2007). Amandemen UUD 1945, Antara Mitos dan Pembongkaran. Bandung: Penerbit Mizan

Direktorat Pemerintahan Desa dan Kelurahan, Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Departemen (sekarang Kementerian) Dalam Negeri 2007. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Desa. Emil Ola Kleden (2012). “Urgensi Kejelasan Unit Sosial dalam Pelaksanaan

Prinsip Free, Prior and Informed Concent (FPIC)”. Makalah disampaikan pada “Simposium Keberadaan Masyarakat Adat sebagai Subyek Hukum”. Diselenggarakan oleh HuMa dan Epistema Institute, di Jakarta, 27 – 28 Juni 2012.

H. Soemano, dkk. (eds.) (1980). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dan Proses Kelahirannya. Jakarta: Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia.

Hedar Laudjeng (2012). “Kesatuan Masyarakat Hukum Adat”. Makalah disampaikan pada “Simposium Keberadaan Masyarakat Adat sebagai Subyek Hukum”. Diselenggarakan oleh HuMa dan Epistema Institute, di Jakarta, 27 – 28 Juni 2012.

Ina. E. Slamet (1965). Pokok-pokok Pembangunan Masjarakat Desa. Sebuah Pandangan Anthropologi Budaya. Jakarta: Bharata.

Jemmy J. Pietersz (2010). “Fungsi dan Peran Lembaga Kewang dalam Perlindungan Lingkungan di Maluku”, dalam JURNAL KONSTITUSI, Vol. II Nomor 1, Juni 2010. Ambon: Pusat Kajian Konstitusi, Fakultas

Menimbang-nimbang Mandat Konstitusi Tentang Kedudukan Desa atau disebut dengan Nama Lain

Hukum Universitas Pattimura.

Jimly Asshiddiqqie (2006). Hukum Acara Pengujian Undang-Undang. Jakarta: Konstitusi Press.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (2010). Naskah Konprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Latar-belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan, 1999 – 2002. Buku IV: Kekuasaan Pemerintahan Negara, Jilid 2. Edisi Revisi. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.

Junus Melalatoa (1997). Sistem Budaya Indonesia. Jakarta: Kerjasama Fakultas Ilmu Sosial da Ilmu Politik Universitas Indonesia dan Penerbit Pamator. KARSA (Lingkar Belajar untuk Pembaruan Desa dan Agraria) (2012).

“Menggagas ‘RUU Desa atau disebut dengan nama lain’ yang Menyembuhkan Indonesia: Pandangan dan Usulan Lingkar untuk Pembaruan Desa dan Agraria (KARSA) untuk Penyempurnaan ‘RUU Desa’ yang diajukan oleh Pemerintah Tahun 2012.” Disampaikan pada Rapat Dengar Pendapat Umum yang diselenggarakan Panitia Khusus (Pansus) RUU Desa DPR RI, Jakarta, tanggal 20 Juni 2012.

Komisi Nasional Hak Azazi Manusia, et.al., (2005). “Kesimpulan Seminar Nasional Hubungan Struktural antara Masyarakat Hukum Adat dengan Suku Bangsa, Bangsa, dan Negara dari Prespektif Hak Azazi Manusia”, Jakarta, 3 – 4 Oktober 2005.

Konsorsium Pembaruan Agraria (2011). “TAHUN PERAMPASAN TANAH DAN KEKERASAN TERHADAP RAKYAT”. Laporan Akhir Tahun Konsorsium Pembaruan Agraria Tahun 2011.

Koentjaraningrat (1970). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Kurnia Warman (2010). Hukum Agraria dalam Masyarakat Majemuk. Dinamika Interaksi Hukum Adat dan Hukum Negara di Sumatera Barat. Jakarta: HuMa, van Vollenhoven Institute, dan KITLV – Jakarta.

World Agroforestry Centre - ICRAF, SEA Regional Oice and Perkumpulan untuk Pembaruan Hukum yang Berbasiskan Masyarakat dan Ekologis (HuMa).

Lala M. Kolopaking (2011). “Peningkatan Kapasitas dan Penguatan Struktur Kelembagaan Otonomi Desa”, dalam Arif Satria, Ernan Rustandi, dan Agustina M. Purnomo, eds., Menuju Desa 2030. Bagor: CRESTPENT PRESS, bekerjasama dengan Kantor Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W), Institut Pertanian Bogor.

Lili Romli (2007), Potret Otonomi Daerah dan Wakil Rakyat di Tingkat Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

M. Riza Damanik (t.h.). “Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Terhadap Pembatalan Ketentuan tentang Hak Pengusahaan Pengairan Pesiri (HP – 3)”.

M. Syamsudin (2008). “Beban Masyarakat Adat Menghadapi Hukum Negara”. Dalam JURNAL HUKUM, No. 3 Vol. 15, Juli 2008.

Mansour Fakih (2005). “Tanah sebagai Sumber Krisis Sosial di Masa Mendatang. Sebuah Pengantar”. Dalam Untoro Hariadi & Masruchah (eds.), Tanah, Rakyat, dan Demokrasi. Yogyakarta: Forum LSM – LPSM DIY.

Martua T. Sirait (2012). “Di Mana Kita Sekarang? Pembelajaran tentang Pengakuan Hak-hak Masyarakat Adat di Indonesia”. Makalah disampaikan pada “Simposium Keberadaan Masyarakat Adat sebagai Subyek Hukum”. Diselenggarakan oleh HuMa dan Epistema Institute, Jakarta, 27 – 28 Juni.

Moshedayan Pakpahan dan Sony Bachtiar (1998). Tanah Adat di Daerah- daerah Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Pertanahan Nasional.

Myrna A. Saitri (ed.) (2011). Untuk apa pluralism hukum? Regulasi, Negosiasi dan Perlawanan dalam Konlik Agraria di Indonesia. Jakarta: HuMa, Epsitema Institute, dan Forest People Programme.

Myrna A. Saitri dan Tristam Moelinono (eds.) (2010). Hukum Agraria dan Masyarakat di Indonesia. Studi tentang Tanah, Kekayaan Alam, dan Ruang

Menimbang-nimbang Mandat Konstitusi Tentang Kedudukan Desa atau disebut dengan Nama Lain

di Masa Kolonial dan Desentraliasi. Jakarta: HuMa, van Vollenhoven Institute, dan KITLV, Jakarta.

Noer Fauzi Rachman (2012a). “Memperbaiki Rute Transformasi Kewarganegaraan Masyarakat Adat”. Makalah yang dimaksudkan sebagai Keterangan Ahli kepada Mahkamah Konstitusi dalam sidang pertama gugatan Judicial Review yang diajukan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, tanggal 5 Juni 2012.

--- (2012b). “Masyarakat Adat dan Perjuangan Tanah Airnya”. Dimuat di Harian KOMPAS, Tanggal 11 Juni 2012.

Noer Fauzi (ed.) (1997). Tanah dan Pembangunan. Risalah dari Konferensi INFID ke 10. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

________________(1999). Petani dan Penguasa, Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia. Yogyakarta: Kerjasama INSISTPress, Konsorsium Pembaruan Agraria, dan Pustaka Pelajar.

Noer Fauzi, et.al. (2000). Otonomi Daerah dan Sengketa Tanah. Pergeseran Politik di Bawah Problem Agraria. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.

Philipus M. Hadjon (2004). “Kedudukan Undang-Undang Pemerintahan Daerah Dalam Sistem Pemerintahan”. Makalah disampaikan dalam Seminar Sistem Pemerintahan Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945, diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia R.I. bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Airlangga dan Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Timur, Surabaya, 9-10 Juni.

PIU – BAPPENAS & Program Land Management and Policy Development Project (LMPDP), (2008). Inception Report.

R. Yando Zakaria (2000). Abih Tandeh. Masyarakat Desa di Bawah Rezim Orde Baru. Jakarta: ELSAM.

_____________2004. Merebut Negara. Beberapa Catatan Relektif tentang Upaya- upaya Pengakuan, Pengembalian dan Pemulihan Otonomi Desa. Yogyakarta:

_____________2008. “Beberapa Catatan atas Inception Report Land Management & Policy Development Project/LMPDP – BAPPENAS”. Disampaikan pada kegiatan Focus Group Meeting (FGM) yang dilaksanakan oleh PIU – BAPPENAS, Program Land Management and Policy Development Project (LMPDP), di Jakarta, 21 Februari.

_____________2010. “Apresiasi pada Riset/Disertasi/Buku Hukum Agraria dalam Masyarakat Majemuk (Kurnia Warman, HuMA, VVI, KITLV Jakarta, 2010)”. Bahan presentasi yang disampaikan dalam acara book lauching, Jakarta, 16 Desember.

_____________2010. “Resep de Soto Gugur di Kampung Rawa?”. Diperoleh dari http://ikhtisarstudiagraria.blogspot.com/search?q=de+Soto.

_____________2011, “Masih Solusi Kaum Keledai”. Diperoleh dari sejumlah mailinglist dan http://www.facebook.com/notes/yando-zakaria/masih- solusi-kaum-keledai/10150428963248318.

____________2012 “Catatan Atas JR yang Diajukan AMAN Terhadap UU 41/1999 tentang Kehutanan”. Diperoleh dari mailinglist adalist@ yahoogroups.com dan http://www.facebook.com/notes/yando-zakaria/ catatan-atas-jr-yang-diajukan-aman-terhadap-uu-no-411999-tentang- kehutanan/10150738681718318.

R. Yando Zakaria & Hedar Laudjeng (2012). “Pengakuan dan perlindungan masyarakat adat bisa dengan Undang-Undang tentang Desa. Mari lupakan kulit, bersungguh-sungguhlah dengan substansi”. Diperoleh dari http://www.facebook.com/notes/yando-zakaria/pengakuan-dan- perlindungan-masyarakat-adat-bisa-dengan-undang-undang-tentang- des/10150732219433318.

Robert Endi Jaweng (2011). “Desa Menuntut Tekognisi Negara”, dalam Harian Kompas, Tanggal 10 Desember 2011.

Roberto Mangabeira Unger (1976). Teori-Teori Hukum Kritis, Posisi Hukum dalam Masyarakat Modern,2007, diterjemahkan oleh Dariyatno dan Derta Sri Widowatie. Dari Buku Law and Modern Society : Toward a Criticismof Social heory.

Menimbang-nimbang Mandat Konstitusi Tentang Kedudukan Desa atau disebut dengan Nama Lain

Riacardo Simarmata (2002). “Menyongsong Berakhirnya Abad Masyarakat Adat: Resistensi Pengakuan Bersyarat”. Tidak/belum diterbitkan.

Satjipto Rahardjo (2006). “Hukum Adat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia”, Bahan Bacaan Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

Saldi Isra (2012). “Perubahan PAsal 18 Undang-Undang Dasar 1945 (Otonomi Daerah, Otonomi Desa dan Keberadaan Masyarakat Adat”. Makalah disampaikan pada “Simposium Keberadaan Masyarakat Adat sebagai Subyek Hukum”. Diselenggarakan oleh HuMa dan Epistema Institute, di Jakarta, 27 – 28 Juni 2012.

Sekretariat Negara Republik Indonesia (1995). Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), 28 Mei 1945 – 22 Agustus 1945. Jakarta: Sekretarian Negara Republik Indonesia.

Sutoro Eko & Abdur Rozaki (2005). Prakarsa Desentrasi dan Otonomi Desa. Yogyakarta: IRE Press.

Taliziduhu Ndraha (1999). “Desa MAsa Depan: Garis Depan Demokrasi”, makalah yang disampikan pada ‘Seminar Menggagas Format Perundangan bagi Berlangsungnya Demokrasi dan Penguatan Fungsi Sosial Desa’, diselenggarakan oleh Forum LSM DI Yogykarta, 15 Januari 1999.

Timur Mahardika (2001). Strategi Tiga Kaki. Dari Pintu Otonomi Daerah Mencapai Keadilan Sosial. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.

Untoro Hariadi & Masruchah (eds.) (1995). Tanah, Rakyat, dan Demokrasi. Yogyakarta: Forum LSM – LPSM DIY.

van Vollenhoven Institute dan BAPPENAS (2010). Masa Depan Hak-hak Komunal Atas Tanah: Beberapa Gagasan untuk Pengakuan Hukum. Jakarta: Kerjasama Van Vollenhoven Institute, Universitas Leiden dan BAPPENAS. Yance Arizona (ed.) (2010). Antara Teks dan Konteks.Dinamika Pengakuan

Yance Arizona (2012). “Hak Masyarakat Adat Sebagai Hak Konstitusional”. Makalah disampaikan pada “Simposium Keberadaan Masyarakat Adat sebagai Subyek Hukum” yang diselenggarakan oleh HuMa dan Epistema Institute, di Jakarta, 27 – 28 Juni.

Zulyani Hidayah (1996). Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Penerbit LP3ES.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Dalam dokumen Jurnal mandatory 10 edisi 01 (Halaman 32-40)