Keterangan : Lokasi penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, A. 2000. Perspektif Otonomi Daerah dan Federasi dalam pembangunan Indonesia di masa depan (makalah semiloka nasional pembangunan wilayah dalam perspektif otonomi daerah dan federasi). Kerjasama PPs IPB dan BPS. Jakarta
Ahmad H Kasman & Oesman H (2000). Damai Yang Terkoyak ; Catatan Kelam Dari Bumi Halmahera. Pustaka Podium.
Agusniar A. 2006. Analisis Dampak Pemekaran Wilayah Terhadap Perekonomian Wilayah Dan Kesejahteraan Masyarakat ; studi kasus di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tesis IPB 2006
Alhadar. S. (2009). Sejarah dan Tradisi syi’ah Ternate. Roeslyblog’s Weblog ; Menuju Maluku Utara yang Damai dan Bersih dari Korupsi.
www.roeslyblog’sworldpress.com.
Basri, F., 2002. Perekonomian Indonesia, Tantangan dan Harapan Bagi Kebangkitan Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta
Bahri Ruray. S. 2007. Menjemput Perubahan ; Sepotong Interupsi Untuk Maluku Utara. Pustaka FOSHAL dan KALAMATA Institute Maluku Utara.
Dharmawan, A. H. 2008. Bahan Kuliah Gerakan Sosial dan Dinamika Masyarakat Pedesaan. Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB DJalil. R. (2009). Konflik Dalam Sejarah Maluku Utara ; sebuah upaya
membangun perdamaian permanen. www. roeslyblog’sworldspress.com Effendi A dan Rustiadi E, 2000. Perspektif Pembangunan Tata Ruang (Spatial)
Wilayah Perdesaan dalam rangka Pembangunan Wilayah dan Perdesaan.
Sekolah pasca sarjana. Institut Pertanian Bogor; Bogor.
Fisher, S, et al. 2000. Mengelola Konflik : Ketrampilan dan strategi untuk bertindak. Jakarta : The British Council
Firmansyah, H. 2004. Studi Konflik Perkebunan Kopi Rakyat Dalam Kawasan Hutan Lindung Di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Tesis IPB 2004
Farida, A. 2010. Pertarungan Gagasan Dan Kekuasaan Dalam Pemekaran Wilayah ( Studi Kasus: Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo di Provinsi Jambi). Tesis IPB 2010 Program Studi Sosiologi Pedesaan.
Husen MR dan Oesman H, 2005. Potret Gelisah Negeri Pinggiran ; Perspektif Kritis Atas Maluku Utara. Pustaka FOSHAL Maluku Utara
Harmantyo D, 2007. Pemekaran Daerah dan Konflik Keruangan ; Kebijakan Otonomi Daerah dan Implementasinya di Indonesia ( MAKARA, SAINS.
Vol.11.No.1,April 2007: 16-22).
Heryawan A. 2009 . Otonomi Daerah Dan Pemekaran Wilayah Tanpa Anarki ; artikel dalam Tepas Ahmad Heryawan blog.com
Ilyas A. Effendi, 2005. Penguatan Kelembagaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Konflik Social Di Keluarahan Margasari Kecamatan Margacinta Kota Bandung. Tesis IPB 2005
Indraprahasta G, S. 2009, Strategi Pengembangan Wilayah di Era Otonomi Daerah (Studi Kasus; Kabupaten Bandung Barat). Tesis IPB 2009
Juanda, B. 2007. Manfaat dan biaya pemekaran daerah serta implikasinya terhadap APBN. Jurnal ekonomi, volume xxv, edisi oktober 2007
_________ 2008, Dampak Pemekaran Terhadap APBN dan Kinerja Perekonomian Daerah. Bahan Kuliah Teori dan Kebijakan Pembangunan, Bogor ; IPB
Malia, R. 2009. Analisis Dampak Pemekaran Wilayah Terhadap Pembangunan Ekonomi Daerah (studi kasus di Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat). Tesis IPB 2009.
Malik, et al. 2003. Menyeimbang Kekuatan, Pilihan Strategi Menyelesaikan Konflik Atas Sumber Daya Alam. Jakarta. Penerbit Yayasan Kemala, 2003
Nurbadri, N (2008) Konflik Batas Wilayah Di Era Otonomi Daerah Dan Upaya Penyelesaiannya (Studi Kasus Konflik Batas Wilayah Antara Kabupaten Tebo Dengan Kabupaten Bungo). Masters thesis, Universitas Diponegoro.
OECD, 1999, Fiscal Desentralization-Benchmarking the Policies of Fiscal Design, Working Document, Prepared for the FDI Meeting 9th
Pruitt, D.G & Rubin J. Z. 2004. Teori Konflik Sosial ; Pustaka Pelajar
March 1999, Paris.
Directorate for financial, fiscal and enterprise affairs, fiscal affairs
Rubin, J. Z et.al. 1994. Social conflict escalation, stalemate and settlement. New York : Mc Graw-Hill, Inc
Rustiadi. E. Et al. 2007. Perencanaan Pengembangan Wilayah. IPB Press
Ratnawati Tri, 2009. Problematika Pemekaran dan Prospek Otonomi Daerah (Pusat Penelitian Politik LIPI).
Syahidussyahar (2007). Konflik Dalam Sejarah Kekuasaan Para Raja Dan Sultan Di Moloku Kie Raha. Roeslyblog’sworldspress.com
Sayori, N. 2009. Analisis Dampak Pemekaran Wilayah Terhadapa Perekonomian Wilayah Kepulauan Dan Pengembangan Pariwisata Bahari ( studi kasus di Kabupaten raja ampat, Provinsi Papua Barat). Tesis IPB 2009.
Shaliza F, 2004. Dinamika Konflik Antar Komunitas Dan Transformasi Modal Sosial (Studi Kasus Konflik antara komunitas nelayan parit III dan melati di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau). Tesis IPB 2004.
Smith, B.C., 1995, Decentralization ; The Territorial Dimension of the State, London, Asia Publishing House.
Sihombing, M, 2006. Dampak Pemekaran Daerah Terhadap Pelayanan Publik Di Kabupaten Humbang Hasundutan. Proceeding workshop nasional penguatan pelaksanaan kebijakan desentratlisasi fiscal di Jakarta 6-7 desember 2006. Departemen keuangan.
Setda Kabupaten Halbar (2007). Halmahera Barat Dalam Angka Setda Kabupaten Halut (2006). Halmahera Utara Dalam Angka.
Tuerah, N. 2006. Analisis Dampak Pemekaran daerah terhadap pelayanan public.
Proceeding workshop nasional penguatan pelaksanaan kebijakan desentratlisasi fiscal di Jakarta 6-7 desember 2006. Departemen keuangan.
Wiradi, G. 2000. Reforma Agraria : Perjalanan yang Belum Berakhir. Yogyakarta
; insist Press, KPA dan Pustaka Pelajar
Lampiran.1. Hasil Kuesioner
No Pertanyaan Jawaban Responden % Keterangan
Ya Tidak Lainnya
1 1 100 Tetapi pemekaran wilayah harus mempertimbangkan
aspirasi masyarakat. Sebab pemekaran bertujuan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
2 2 89,87 10, 13 89,87% menganggap dikonstruksi elite, sementara 10,13% menyatakan tidak dikonstruksi melainkan karena musibah ancaman gunung berapi
3 3 13,51 86,49 13,51% menganggap bahwa telah sesuai, tetapi 86,49% menganggap tidak sesuai, karena sejak awal telah dilakukan penolakan oleh warga enam desa 4 4 83,1 16,89 83,1% mengatakan semata-mata alasan emosional
dan sejarah, tetapi 16,89 mengatakan bahwa telah dikonstruksi oleh Pemda Halbar utk kepentingan penguasaan SDA
5 5 100 Sudah, langkah itu ditempuh Pemda Provinsi Maluku
Utara dengan model mempertemukan kedua Pemda, namun tdk menghasilkan sesuatu yang memadai 6 6 16,89 83,1 16,89% mengatakan dikonstruksi oleh pemda Halbar
dengan alasan penguasaan SDA, tetapi 83,1%
menganggap bhw tidak diintervensi, melainkan secara alamiah
7 7 79,73 20,27 79,73% mengatakan bahwa pelayanan berjalan dengan baik, tetapi 20,27 menganggap bhw tidak berjalan secara baik, karena terjadi ketimpangan dalam pengelolaan wilayah
8 8 79,73 13,51 6,76 79,73% mengatakan bahwa pelayanan dilakukan oleh Halbar, namun 13, 51 mengatakan bahwa pelayanan juga dilakukan oleh Pemda Halut, sementara 6,76% mengatakan tidak tahu
9 9 100 100% mengatakan ada, tetapi 39,86 menyarakan agar
semua pihak kembali patuh pada aturan perundang-undangan dan 60,14% mengatakan kembalikan wilayah enam desa sebagai bagian dari wilayah Jailolo atau dengan solusi alternative menjadi bagian Kota Sofifi
10 10 28,38 64,86 6,76 28,38 %mengatakan memiliki kaitan dengan SDA, tetapi 64,86% mengatakan bahwa karena alasan emosional, sejarah dan aspirasi masyarakat.
Sementara 6,76% mengatakan bahwa tidak tahu 11 11 86,49 13,51 86,49% mengatakan bahwa konflik terjadi pada dua
arah, yakni penolakan warga enam desa ke Kab.
Halut serta Konflik perebuatan wilayah kedua Kabupaten. Sementara 13,51 mengatakan bahwa konflik hanya terjadi pada penolakan warga ke kedua Kabupaten (Halbar & Halut)
12 12 72,97 27,02 72,97 % mengatakan penolakan warga enam desa terjadi sejak digabungkannya wilayah ini menjadi bagian dari Kecamatan Malifut, namun 27,02%
menganggap bahwa perebutan wilayah ini terjadi sejak terbentuknya Kabupaten Halbar dan Kab.
Halut.
Lampiran. 2. Strategi penyelesaian konflik wilayah enam desa
No Strategi Peluang Resiko
1 Jajak Pendapat Masyarakat dapat
menggunakan haknya untuk memilih bergabung dengan kabupaten mana yang diharapkannya, sehingga diketahui pasti keberpihakan masyarakat enam desa ke kedua kabupaten. memilih ke salah satu kabupaten, maka masyarakat yang memilih kabupaten lain harus menerima secara bijak untuk mengikuti jumlah masyarakat yang lebih dominan.
2 Menggabungkan enam desa dengan Kota Sofifi
Dari aspek rentang kendali enam desa lebih dekat dengan Kota Sofifi, selain itu mobilitas masyarakat enam desa dalam melakukan interaksi spatial dengan Kota Ternate, lebih banyak melalui pelabuhan Kota Sofifi.
Tidak ada jaminan kedua kabupaten yang bersengketa untuk mengakhiri polemik enam desa. Bahkan sangat mungkin wilayah enam desa akan di perebutkan oleh tiga pemerintah daerah
3 Kota Mandiri Terpadu Pengendalian pelayanan, baik pemerintahan dan publik dilakukan langsung oleh pemerintah daerah, sehingga konflik wilayah enam desa antara pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Barat dan pemerintah daerah Kabupaten Halmaharea dapat diakhiri
Tidak jelas wilayah enam desa berada dalam wilayah
administrative kabupaten atau kota mana.
4 Judical Review Tuntutan masyarakat enam desa semakin menguat untuk menolak bergabung dengan salah satu kabupaten, serta konflik wilayah enam desa juga sudah menjadi issu krusial
Mengubah beberapa lembaran Negara, terutama PP No.42 tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 1 tahun 2003.
Draft Kuesioner A. Identitas Responden
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Status Perkawinan : ………(Menikah/Belum Menikah)
Alamat : Desa/
Kec/Kab………...
Pendidikan Terakhir :……….. (Tamat/Tidak tamat) Jumlah anggota Keluarga : ………. Orang
a. Anak-anak :……….. Orang
b. Dewasa :……….. Orang
Pekerjaan :
1. Pegawai Negeri 2. Wiraswasta (bidang) 3. Petani
4. Petambak 5. Nelayan
6. Lainnya……….
B. Pertanyaan Responden :
1. Menurut anda apakah pemekaran dan/atau penggabungan wilayah penting?
a. Penting (jelaskan alasan) b. Tidak penting (alasan)
c. Lainnya (alasan)
2. Menurut anda, apakah penggabungan enam desa kekecamatan malifut adalah konstruksi elite ? a. Ya (alasannya)
b. Tidak c. Lainnya…..
3. Menurut anda apakah penggabungan wilayah enam desa ke kecamatan malifut yang ditetapkan melalui PP No.42 Tahun 1999 telah sesuai dengan aspirasi masyarakat dan memenuhi syarat penggabungan wilayah?
a. Sangat Sesuai b. Cukup Sesuai c. Tidak sesuai d. Lainnya…….
4. Apakah penolakan masyarakat enam desa untuk bergabung dengan Kabupaten Halmahera Utara adalah semata-mata karena alasan emosional dan sejarah?
a. Ya b. Tidak c. Lainnya…..
5. Apakah sudah ada langkah yang ditempuh oleh pemerintah untuk menyikapi aksi protes yang dilakukan oleh warga enam desa?
a. Sudah ada (jelaskan apa modelnya, bagaimana hasilnya)
b. Tidak ada c. Lainnya……
6. Menurut anda, apakah aksi penolakan yang dilakukan oleh masyarakat enam desa terdapat intervensi (dikonstruksi) oleh elite tertentu?
a. Ya, ada (jelaskan bentuk intervensinya dan apa alasannya) b. Tidak ada
c. Lainnya ……
7. Menurut anda, bagaimana mekanisme pelayanan pemerintahan yang dilakukan terhadap masyarakat di enam desa dengan kondisi perebutan wilayah dan penolakan yang meningkat seperti ini?
a. Berjalan dengan baik b. Cukup baik
c. Kurang baik d. Lainnya………
8. Menurut bapak, apakah pelayanan pemerintahan atas enam desa selama ini dilakukan oleh Kabupaten Halbar? Padahal realitas menunjukkan bahwa wilayah ini masuk Kabupaten Halut?
a. Ya b. Tidak c. Lainnya….
9. Menurut anda, apakah ada strategi terbaik untuk dapat menyelesaikan persoalan perebutan wilayah antara kedua pemda dan penolakan masyarakat?
a. Ada (Jelaskan apa model dan/atau strateginya) b. Tidak ada
c. Lainnya…….
10. Menurut anda efektifkah model yang digunakan dapat menyelesaikan persoalan tersebut?
a. Sangat efektif ( Jelaskan alasannya) b. Cukup efektif (jelaskan alasannya) c. Tidak efektif (jelaskan alasannya) d. Lainnya…..
11. Berbagai kalangan menduga bahwa perebutan wilayah enam desa yang terjadi antara pemerintah Kabupaten Halmahera Barat dan Kabupaten Halmahera Utara karena adanya sumber daya alam di wilayah tersebut.
Bagaimana menurut bapak apakah hal itu benar?
a. Sangat benar d. Tidak Benar b. Cukup benar e. Lainnya….
c. Kurang benar
12. Menurut bapak, bagaimana sejarah penolakan dan konflik perebutan wilayah ini pertama kali terjadi? apakah sejak dilakukannya penggabungan wilayah enam desa?
a. Ya (Jelaskan sejarahnya)
b. Tidak c. lainnya.