Badan Koordinasi dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). 2001. Atlas Flora dan
Fauna Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo. hal. 23
Bayu, E. S. 2002. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Jenis Auksin dan Varietas Terhadap Inisiasi Kalus Pada Kultur Embrio Kedelai (Glycine max L. Merr)
Tessis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. hal. 11
BPS. 2003. Statistik Hasil Hutan Indonesia Tahun 1991-1993, Komoditi Kemenyan, Biro Pusat Statistik, Indonesia. hal. 3
Brahmana, H.R., Bangun, N. dan Ginting M. 1981. Penentuan Kadar Asam Sinamat dari Kemenyan Tapanuli (Styrax sumatrana). Laporan Penelitian. Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. hal. 3
Chaturvedi, H.C.; Sharma, A.K.; Sharma, M. dan Prasad, R.N., (1982),
Morphogenesis, micropropagation and germplasm preservation of some economic plants by tissue cultures. In: Plant Tissue Culture, (A.Fugiwara,
eds), Maruzen, Tokyo, Page: 687-688
Elimasni dan Nurwahyuni, I. 2005. Perbanyakan Bibit Kemenyan Sumaterana (Styrax
benzoin Dryander). Laporan Penelitian. Medan: Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. hal. 5-6
Evivi. S., & Ikrarwati 2004.Mikropropagasi Pisang Abaca (Musa Textillis Nee) melalui Teknik Kultur Jaringan. Ilmu Pertanian. 11( 2): hal. 27-34
George, E.T & Sherrington, P.D. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture. Handbook and Directory of commercial laboratories. Exegetics limited. Eastern Press. England. Page: 184
Gunawan, L.W. 1995. Teknik kultur In vitro Dalam Holtikultura. Jakarta: Penebar Swadaya. hal. 43
Harahap, T. 2004. Kultur Pucuk Tanaman Kemenyan Toba (Styrax sumatrana) Pada perlakuan BAP dan Media Secara in vitro. Skripsi. Medan: Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. hal. 3, 24
Hartmann, H.T. dan Kester, D. E. 1983. Plant Propagation Principle and Practices. Fourth Edition. New Jersey: Prentince-Mall, Inc. Englewood Cliffs. Page: 536 Hendaryono, D. P. S. dan Wijayani, A. 1994. Teknik Kultur Jaringan Pengenalan dan
Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetaif Modern. Yogyakarta:
Hutami, S. & Lestari, E. G. 2005. Produksi Bibit Kencur (Kaempferia galanga L.) Melalui Kultur Jaringan. Berita Biologi. 7 (6): hal. 319-328
Hutami, S & Ragapadmi, P. 2003. Perbanyakan Klonal Temu Mangga (Curcuma
mangga) melalui Kultur In Vitro. Buletin Plasma Nutfah. 9(1): hal. 39-44
Imelda, M, & Aida W. 2007. Regenerasi Tunas dari Kultur Tangka i Daun Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) BIODIVERSITAS 9(3): hal. 173-176
Irawati. 2005. Pembentukan Kalus dan Embriogenesis Kultur Pelepah Daun Calladium hibrida. Berita Biologi 7(5): hal. 258
Kardhinata, E. H. 1999. Induksi Kalus Embrio Kedelai Pada Media MS Dengan
Penambahaan NAA dan Air Kelapa. Laporan Penelitian. Medan: Universitas
Sumatera Utara
Katuuk, J.R.P. 1989. Teknik Kultur Jaringan Dalam Mikropogasi Tanaman. Jakarta: Departemen Pandidikan dan Kebudayaan. hal. 65-68, 78, 80
Keese, J. R., Rupert, E. A. dan Carter, G. E. Physiologia Plantarum. An International Journal for Plant Biology. 81(4): hal. 513-520
Kusumo, S. 1990. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Cet-2. Jakarta: Yasaguna. hal. 71 Mariani, Y., 2005. Penggandaan Tunas Krisan Melalui Kultur Jaringan. Ilmu
Pertanian 12(1): hal. 51 - 55
Marlin. 2005. Regenerasi in vitro Planlet Bebas Penyakit Layu Bakteri Pada Beberapa Taraf Konsentrasi BAP dan NAA. Junrnal Ilmu Pertanian Indonesia. 7(1): hal. 9-16
Mastalin Mandiri, 1994. Brosur Zat Pengatur Tumbuh Atonik. Jakarta
Murashige T and Skoog F., 1962. A Revised Medium For Rapid Growth And Bioassays With Tobacco Tissue Cultures. Physiol Plant 15(3): hal. 473-497. Nasir, M. 2002. Bioteknologi: Potensi dan Keberhasilannya dalam Bidang Pertanian.
Cetakan petama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. hal. 33
Nugroho, A & H. Sugito. 2004. Pedoman Pelaksanaan Teknik Kultur Jaringan. Cetakan kelima. Jakarta: Penebar Swadaya. hal. 41
Nurwahyuni, I., 2002. Upaya Perbanyakan Tanaman Kemenyan Sumatrana (Styrax
Benzoin Dryander) Melalui Kultur Pucuk, Laporan Hasil Penelitian, PPD
HEDS - FMIPA USU Medan
Nurwahyuni, I., 2005. Propagation of Benzoin Sumatra (Styrax benzoin Dryander) from young stem tissue. Jurnal Sains Indonesia. 29(3): hal. 110-114
Pandey, S. N. Dan Chandha, A. 1996. Plant Anatomy and Embryology. New Delhi: Vikas Publishing House PVT LTD. hal. 78
Pierik, R.L.M. 1987. In vitro Culture of Higher Plants. Martinus Nijhoff Publisher. Netherland. hlm: 70, 197
Rosmayati. 1993. Penggunaan BA dan NAA Pada Kultur Mata Tunas Gladiolus hybridus Secara Kultur Jaringan. Laporan Penelitian. Medan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. hal. 8
Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi ke-6. Bandung: Institut Teknologi Bandung. hal. 225
Salisbury, F. B. Dan Ross. C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid ke-3. Edisi ke-4 Bandung: Institut Teknologi Bandung. hal. 1, 6
Santoso, U. & F. Nursadi 1995. Kultur Jaringan Tanaman. Malang: UMM Press. Sibuea, P. 2002. Potensi Andaliman Sebagai Antioksidan Alami. http://www.compas.com. Diakses tangga l 13 April 2007
Saptarini, N., Diah P., Endang P. 2001. Membuat Tanaman Cepat Berbuah. Jakarta: Penebar Swadaya. hal. 16
Sastrosupadi, A. 2002. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Edisi Revisi. Yogyakarta: Kansius. hal.102
Siregar, M. 2001. Analisis Kesejahtraan Petani Kemenyan Sebagai Komuditi Unggulan Kabupaten Tapanuli Utara. Tesis. Medan. Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. hal. 41-42, 46
Sudarmadji, 2003. Penggunaan Benzil Amino Purine Pada Pertumbuhan Kalus Kapas Secara in vitro. Buletin Teknik Pertanian 8(1): hal 8-10
Suryowinoto, M. 1996. Pemuliaan Tanaman Secara In vitro. Cetakan pertama. Yogyakarta: Kanisius. hal. 43
Suyadi, A., Purwantoro, A. dan Trisnowati, S. 2003. Penggadaan Tunas Abaca Melalui Kultur Meristem. Ilmu Pertanian 10 (2): hal. 11 – 16
Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Cetakan kedua. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. hal. 328
Triatminingsih. R , 2008. Perbanyakan bibit jeruk Citromelo dan JC (Japanese
Citroen) secara in vitro. Indonesian Agricultural Research Abstracts 25(2):
hal. 103-105
Vasil, I. K. 1985. Cell Culture and Somatic Cell Genetics of Plants. London: Academic Press, Inc. Page: 32
Wetter, L.R. & F. Constabel. 1991. Metode Kultur Jaringan Tanaman. Edisi ke-2. Bandung: Institut Teknik Bandung. hal. 1-3
Widaryanto, MM., Hugeng, S. 2004. Kajian Kelayakan Pemanfaatan Bibit jati Hasil Kultur Jaringan di Kawasan Transmigrasi. http://www.nakertrans.go.id. Diakses tanggal 5 agustus 2005
Widiastuty., D. 2001. Perbaikan Genetik dan Perbanyakan Bibit Secara in vitro Dalam mendukung Perkembangan Anggrek di Indonesia. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pertanian 20(4): hal. 141-152
Winarsih, S. dan Priyono. 2002. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pembentukan dan Pengakaran Tunas Mikro pada Asparagus Secara in vitro.
Badan Penelitian dan Pengembengan Pertanian. 10(1): hal 12-19
Wuryaningsih, S. dan T. Sutater.1993. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh dan Pupuk N terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bunga Krisan Standard Warna Putih.
Jurnal Holtikultura. 1(1): hal 47 -56
Yusnita. 2003. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Cetakan pertama. Jakarta: agromedia Pustaka. hal. 2, 9-10, 59-60
Yusnita, K. Mantja, dan D. Hapsoro. 1996. Pengaruh benziladenin, adenine, dan asam indolasetat terhadap perbanyakan tunas pisang ambon kuning secara in
LAMPIRAN A: DATA PENGAMATAN PERSENTASE KULTUR YANG