• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen lapkir bioindustri tanaman ternak 2016 (Halaman 61-65)

Ariati, 2006.Kebijakan pengenmbangan bioenergi. Makalah disampaikan pada seminar Bioenergi: prospek bisnis dan peluang investasi. Jakarta, 6 desember 2006.Direktorat Energi terbarukan dan konservasi energi. Departemen energi dan sumberdaya mineral, Jakarta

Adijaya., I . Nyoman dan I .M.R. Yasa. 2013. Hubungan Konsumsi Pakan dengan Potensi Limbah pada Sapi Bali untuk Pupuk Organik Padat dan Cair. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Bali.

Ali, M.H., Yusuf, M., Syamsu, A.J. Prospek Pengembangan Peternakan Berkelanjutan Melalui Sistem I ntegrasi Tanaman-Ternak Model Zero Waste di Sulawesi Selatan.

Badan Litbang Pertanian. 2002. Panduan Teknis Sistem I ntegrasi Padi-Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bnegkulu. 2012. Provinsi Bengkulu Dalam Angka. Bengkulu.

[ BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2004. Standar Nasional I ndonesia Kopi Bubuk(SNI 01-3542-2004).http: / / websisni.bsn.go.id/ index.php?/ sni_main/ sni/ unduh/ 7670.[ Diunduh Tgl 5 Oktober 2015] .

Basri, E., Pujiharti, Y., dan Silalahi, M. 2010. Peranan Ternak Sapi dalam Sistem Usahatani Tanaman Padi Sawah di Tulang Bawang. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung.

Haryanto, Budi. 2009. I novasi Teknologi Pakan Ternak dalam Sistem I ntegrasi Tanaman-Ternak Bebas Limbah Mendukung Upaya Peningkatan Produksi Daging. Pengembangan I novasi Pertanian 2 (3), 2009: 163 – 176.

Hidayati, Y.A, dkk. 2010. Pengaruh Campuran Feses Sapi Potong dan Feses Kuda Pada Proses Pengomposan Terhadap Kualitas Kompos. Jurnal I lmiah I lmu-I lmu Peternakan Mei 2010, Vol. XI I I , No.6.

I sroi. 2012. Pengomposan Limbah Padat Organik. Land to Farmers I ncome: A Case in Gunung Kidul Regency, I ndonesia. Pelita Perkebunan, 9(3), 97 – 104. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan I ndonesia. Bogor

Kaharudin dan Mayang, F.S. 2010. Petunjuk Praktis Manajemn Umum Limbah Ternak Untuk Kompos dan Biogas. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat. Mataram.

Kementerian Pertanian, 2013. Pertanian Bioindustri Berkelanjutan: solusi Pembangunan I ndonesia masa depan. Jakarta.

Parwati, I .A., I .N Suyasa, I .W. Sunanjaya, L.G. Budiari dan N. Sriyani. 2008. Prima Tani LKDTI B di Kabupaten Bangli. (Laporan Akhir). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Denpasar.

Priyanti., A. dan A. Djajanegara. 2002. Pengembangan Usaha Sapi Potong Pola I ntegrasi (Development of Cattle Beef Production Towards I ntegrated Farming Systems). Lokakarya Nasional Sapi Potong.

Raghuramulu dan Naidu. 2009. The Ochratoxin-A Contamination in Coffeean its in Food Safety I ssues.

Rao, S. N. S., 1994, Mikroorganisme Tanah Dan Pertumbuhan Tanaman, Edisi Kedua,UI -Press, Jakarta.

Rathinavelu dan Graziosi. 2005. Potential Alternative uses of Coffe Wwastes and by Products, I CS-UNI DO, Science Park. Department of Biology University of Trieste. I taly.

Rentha, T. 2007. I dentifikasi Perilaku, Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah I rigasi Teknis Sebelum dan Sesudah Kenaikan Harga Pupuk di Desa Bedilan Kecamatan Belitang OKU Timur (Skripsi S1). Universitas Sriwijaya. Palembang.

Safuan. L. O dan B. Andi. 2012 Pengaruh Bahan Organik Dan Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Melon (cucumis melol.) Jurnal Agroteknos 2 (2) : 69

Salla, M.H. 2009.

I nfluence of genotype, location and processing methods

on the quality of coffee (coffea arabica L.).

Thesis. School of Graduate Studies Hawassa University, Hawassa. Ethiopia.

Setiawati. W, dkk ., 2001.Petunjuk Teknis Budidaya Sayuran. Balitsa

Simanungkalit, R. D. M., D. A. Suriadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini, dan W. Hartatik, 2006,Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati: Organik Fertilizer And Biofertilizer.Balai Penelitian dan Pengembangan Lahan Pertanian, Bogor. Sunarharum, W.B., Williams, D. J., Smyth, H. E. 2014. Review: Complexity of

coffee flavor: A compositional and sensory perspective. Food Research I nternational 62; 315–325. doi.org/ 10.1016/ j.foodres.2014.02.030

Soetanto Abdullah. 2013. Pengelolaan Nutrisi Tanaman Terpadu di Perkebunan Kopi. Review Penelitian Kopi dan Kakao. Vol. 1 No. 1 : 39-49.

Suriadikarta (2006), D.A. Hartatik dan G. Syamsidi,2003. Penerapan pengelolaan hara terpadu pada lahan sawah irigasi.Dalam prosiding seminar Nasional PERHI MPI . Biotrop, 9-10 September 2003

Tonbesi, Trimeldus T, N.Ngadiyono dan Sumadi. 2009. Estimaji Potensi dan Kinerja Sapi Bali di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Buletin Peternakan vo. 33(1) : 30 – 39, Februari 2009

Widyotomo Sukirno. 2013. Potensi dan Teknologi Diversifikasi Limbah Kopi Menjadi Produk Bermutu dan Bernilai Tambah. Review Penelitian Kopi dan Kakao. Vol. 1 No. 1 : 63-80.

Yusianto dan S. Mulato. 2002.

Pengolahan dan Komposisi Kimia Biji Kopi:

Pengaruhnya terhadap Cita Rasa Seduhan

. Materi Pelatihan Uji Cita Rasa Kopi. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao I ndonesia, Jember.

Zubir, Z. Batubara dan A. Yusri. 2010. Peluang peningkatan kinerja usaha sapi bibit dengan pakan komplet berbasis limbah jagung. Prosiding : Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2010. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.

Zainuddin, D. & T. Murtisari (1995). Penggunaan limbah agro-industri buah kopi (kulit buah kopi) dalam ransum ayam pedaging (Broiler).Pros. Pertemuan I I miah Komunikasi dan Penyaluran Hasil Penelitian. Semarang. Sub Balai Penelitian Klepu, Puslitbang Petemakan, Badan Litbang Pertanian, p. 71-78.

ANALI SI S RI SI KO

Analisis risiko diperlukan untuk mengetahui berbagai risiko yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan pengkajian. Dengan mengenal resiko, penyebab, dan dampaknya maka akan dapat disusun strategi ataupun cara penanganan resiko baik secara antisipatif maupun responsif (Tabel 20 dan 21).

Tabel 20. Daftar risiko dan dampak pengkajian model sistem pertanian bioindustri berbasis integrasi padi-sapi spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu Tahun 2016.

NO. RI SI KO PENYEBAB DAMPAK

1. I novasi tidak dapat berkembang di kawasan

Petani sulit meninggalkan kebiasaan lama

Produktivitas usaha tidak dapat

ditingkatkan 2. Penguatan kelembagaan

tidak dapat dilaksanakan

-Kurangnya jumlah SDM kelompok yang kompeten -Kurangnya pengetahuan

kelompok mengenai kelembagaan

Model kelembagaan pengkajian tidak dapat terbentuk

3. Model sistem pertanian bioindustri integrasi tanaman-ternak tidak direplikasi oleh pemerintah daerah

- Ketidak serasian dengan program di Daerah - Keterbatasan anggaran di

Pemda

Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya beli masyarakat hanya terjadi pada kawasan pengkajian

Tabel 21. Daftar penanganan risiko pengkajian model sistem pertanian bioindustri berbasis integrasi padi-sapi spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu Tahun 2016.

NO. RESI KO PENYEBAB PENANGANAN

1. I novasi tidak dapat berkembang di kawasan Petani sulit meninggalkan kebiasaan lama Peningkatan jumlah frekuensi pelatihan, keterlibatan demplot, 2. Penguatan kelembagaan tidak dapat dilaksanakan -Kurangnya jumlah SDM kelompok yang kompeten -Kurangnya pengetahuan kelompok mengenai kelembagaan

Peningkatan peran dan perilaku kelompok dalam kelembagaan melalui sosialisasi, anjangsana kelompok

3. Model sistem pertanian bioindustri integrasi tanaman-ternak tidak direplikasi oleh pemerintah daerah - Ketidak serasian dengan program di Daerah - Keterbatasan anggaran di Pemda - Koordinasi dengan Bupati/ Pemerintah Daerah lebih intens - Peningkatan frekuensi

sosialisasi model dan apresiasi

Dalam dokumen lapkir bioindustri tanaman ternak 2016 (Halaman 61-65)