Baehaki, S.E. 2009. Strategi Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Padi Dalam Perspektif Praktek Pertanian Yang Baik (Good Agricultural Practices).
Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1), 2009: 65-78.
Balasubramaniam V., Rajendra, R., Ravi, V dan Las, I. 2006. Integrated Crop Management (ICM): Field Evaluation and Lesson Learn. In Rice Industry, Culture, and Environment. ICCR. ICFORD, IAARD. Jakarta.
BB Padi. 2009. Peningkatan Produksi Padi Melalui Pelaksanaan IP Padi 400. Pedum IP.Padi 400. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian.
BPS Provinsi Bengkulu. 2009. Provinsi Bengkulu dalam Angka. Badann Pusat Statistik Provinsi Bengkulu.
Damardjati, J.S. 2006. Learning form Indonesia Experiences in Achieve Rice Self Sufficientcy. In Rice Industry, Culture, and Enviroment. ICCR, ICFORD, IAARD.
Jakarta.
Departemen Pertanian. 2003. Kebijakan dan Strategi Nasional Perlindungan Tanaman dan Kesehatan Hewan. Departemen Pertanian, Jakarta. 140 hlm.
Dirjen Tanaman Pangan. 2008. Pedoman Umum: Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai melalui pelaksanaan SL-PTT. Dirjen Tanaman Pangan. 72 p.
Fagi, A.M., I. Las, M. Syam, A.K. Makarim dan A. Hasanuddin. 2002. Penelitian padi menuju revolusi hijau lestari. Balitpa, Sukamandi. 68. hlm.
Las, I., A.K. Makarim, H.M. Toha, A. Gani, H. Pane, dan S. Abdulrachman. 2003.
Panduan Teknis Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian, Jakarta. 30 hlm.
Pirngadi, K., O. Syahromi, dan T.S. Kadir. 2002a. Model pengelolaan tanaman padi pada lahan sawah beririgasi. J. Agrivigor 2 (2): 84-96.
Pirngadi, K., A. Guswara, K. Permadi, dan H. Pane. 2002b. Pengaruh persiapan lahan dan pemupukan terhadap hasil padi walik jerami pada sawah tadah hujan. hlm.
217-224. Dalam J. Soejitno, Hermanto, dan Sunihardi (Ed.). Sistem Produksi Pertanian Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Pirngadi, K. 2009. Peran Bahan Organik Dalam Peningkatan Produksi Padi Berkelanjutan Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1), 2009: 48-64.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2006. Sistem Produksi Padi Hemat Input. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 28, No. 2.
Sembiring, H. dan Abdulrahman, H. 2008. Filosofi dan Dinamika Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah. BB Penelitian Padi Sawah. Sukamandi.
Simatupang, P. 2001. Anatomi Masalah Produksi Beras Nasional dan Upaya
Mengatasinya. Prosiding Perspektif Pembangunan Pertanian dan Kehutanan Tahun 2001 Ke Depan. Buku I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Balitbangtan. hlm 119-146.
Wahid, A. S. 2003. Peningkatan Efisiensi Pupuk Nitrogen Pada Padi Sawah Dengan Metode Bagan Warna Daun. Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003.
Zaini, Z., I. Las, Suwarno, B. Haryanto, Suntoro, dan E.E. Ananto. 2003. Pedoman Umum Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu 2003.
Departemen Pertanian, Jakarta. 25 hlm.
Zaini, Z. and I. Las. 2004. Development of integrated crop and resources management options for higher yield and profit in rice farming in Indonesia. p.252-257. Proc.
Training on Agricultural Technology Tranfer and Training. APEC, Bandung-Indonesia, 18-22 July 2004.
Lampiran 1. Rangkaian foto-foto Kegiatan pengkajian IP padi 400 di Desa Rimbo Kedui, Kabupaten Seluma
Gambar 2. Keragaan pertanamanpadi tanam ke-4 di desa Rimbo Kedui Kab.
Seluma (kegiatan lanjutan 2009).
Gambar 1. Panen padi tanam ke-3 di desa Rimbo Kedui Kab. Seluma (kegiatan lanjutan 2009).
Gambar 6. Pertanaman padi
menjelang panen ke-2 di Desa Rimbo Kedui Kab. Seluma.
Gambar 5. Serangan hama putih pada pertanaman padi sawah ke-1 di desa Rimbo Kedui Kab. Seluma.
Gambar 5. Pemberian pupuk dasari desa Rimbo Kedui Kab. Seluma.
Gambar 3. Serangan penyakit tungro di Kab. Seluma.
Lampiran 2. Rangkaian foto-foto Kegiatan pengkajian IP padi 400 di Kabupaten Bengkulu Utara
Gambar 2. Pengumpulan bahan kompos tanam di desa Talang Pasak Kab. Bengkulu Utara
Bengkulu . Gambar 1. Penyemaian benih padi
varietas Inpari I tanam ke-1 di desa Talang Pasak Kab. Bengkulu Utara
Gambar 3. Pembuatan kompos untuk pertanaman ke-1 di desa Salam Harjo Kab. Bengkulu Utara
Gambar 4. Keragaan pertanaman ke-1 padi sawah di desa Salam Harjo Kab. Bengkulu Utara
Gambar 6. Pertanaman padi sawah menjelang panen ke-2 di Desa Talang Pasak Kab. Bengkulu Utara Gambar 5. Pertanaman ke-2 padi
sawah di Desa Salam Harjo Kab.
Bengkulu Utara
Lampiran 3. Diskripsi varietas padi sawah Tahun 2006 sampai 2009 (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi).
VARIETAS CIHERANG Nomor seleksi : S3383-1D-PN-41-3-1
Asal persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/3* IR19661-131-3-1-3//4*IR64
Golongan : Cere
Umur tanaman : 116 -125 hari
Bentuk tanaman : Tegak
Tinggi tanaman : 107 -115 cm
Anakan produktif : 14-17 batang
Warna kaki : Hijau
Warna batang : Hijau
Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Muka daun : Kasar pada sebelah bawah
Posisi daun : Tegak
Daun bendera : Tegak
Bentuk gabah : panjang ramping
Warna gabah : Kuning bersih
Ketahanan terhadap Hama : Tahan wereng coklat biotipe 2, dan agak tahan biotipe 3
Ketahanan terhadap Penyakit : Tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III dan IV
Anjuran tanam : Baik ditanam pada lahan sawah irigasi dataran rendah sampai 500 meter diatas permukaan laut
Pemulia : Tarjat T, Z. A. Simanullang, E. Sumadi dan Aan A. Draradjat
Dilepas tahun : 2000
VARIETAS CIGEULIS Nomor seleksi : S3429-4D-PN-1-1-2
Asal persilangan : Ciliwung/Cikapundung/IR64
Golongan : Cere
Umur tanaman : 115 -125 hari
Bentuk tanaman : Tegak
Tinggi tanaman : 100 -110 cm
Anakan produktif : 14-16 batang
Warna kaki : Hijau
Warna batang : Hijau
Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Muka daun : Agak kasar
Posisi daun : Tegak
Daun bendera : Tegak
Bentuk gabah : panjang ramping
Warna gabah : Kuning bersih
Ketahanan terhadap Hama : Tahan wereng coklat biotipe 2, dan rentan biotipe 3
Ketahanan terhadap Penyakit : Tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV,
Anjuran tanam : Baik ditanam pada musim hujan dan kemarau, cocok ditanam pada lokasi di bawah 600 meter di atas permukaan laut
Pemulia : Z.A. Simanullang, Aan A. Daradjat, dan N.
Yunani
Tim Peneliti : B. Suprihatno, M.D. Muntono, Ismail B.P., Atito., Baehaki S.E., Triny S. Kadir dan W. S.
Ardjasa
Teknisi : Toyib S. M., Edi Suwandi M. K., M. Suherman dan Sail Hanafi
Institusi Pengusul : BALITPA dan BPTP Lampung
Dilepas tahun : 2002
VARIETAS MEKONGGA
Nomor seleksi : S4663-5D-KN-5-3-3 Asal persilangan : A2790/2*/IR64
Golongan : Cere
Umur tanaman : 116 -125 hari
Bentuk tanaman : Tegak
Tinggi tanaman : 91 – 106 cm Anakan produktif : 13-16 batang
Warna kaki : Hijau
Warna batang : Hijau
Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Muka daun : Agak kasar
Posisi daun : Tegak
Daun bendera : Tegak
Bentuk gabah : Ramping panjang
Warna gabah : Kuning bersih
Ketahanan terhadap Hama : Agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 2, dan biotipe 3
Ketahanan terhadap Penyakit : Agak tahan terhadap hawar daun bakteri strain IV
Anjuran tanam : Baik ditanam di lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 meter di atas
prmukaan laut
Pemulia : Z.A. Simanullang, Idris Hadade, Aan A.
Daradjat, dan Sahardi
Tim Peneliti : B. Suprihatno, Y. Samaullah, Atito DS., Ismail B.P., Triny S. Kadir, dan A. Rifki
Teknisi : M. Suherman, Abd. Rauf Sery, Uan D., S.Toyib S. M., Edi S. MK., M. Sailan, Sail Hanafi, Z.
Arifin, Suryono, Didi dan Neneng S.
Institusi Pengusuul : BALITPA dan BPTP Sultra
Dilepas tahun : 2004
VARIETAS SILUGONGGO Nomor seleksi : IR39357-71-1-1-2-2
Asal persilangan :
Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna Warna helai daun : Hijau
Muka daun : Bagian atas kasar, bawah permukaan daun halus
Ketahanan terhadap Hama : Tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2
Ketahanan terhadap Penyakit : Tahan penyakit blas, tidak tahan hawar daun bakteri
Anjuran tanam : Dapat dikembangkan sebagai padi sawah atau gogo. Beradaptasi baik untuk lingkungan tumbuh rawan kekeringan. Dapat tumbuh baik pada tanah regosol, mideteran dengan kahat Kalium dan Fosfat. Cocok di tanam pada daerah di bawah 500 m di atas permukaan laut
Pemulia : Ismail BP., B Suripto, ZA. Simanullang, Y.
Samaullah, Atito DS., Hadis S., E. Sumadi, Aan A. Daradjat, Poniman, Taryat T.
Tim Peneliti : D. Suardi, Rasyid M., A. Ichwan, H. Toha, M.
Amir, H. Pane dan Irsal L.
Dilepas tahun : 2001
VARIETAS DODOKAN Nomor seleksi : Ir28128-45-3-3-2
Asal persilangan : IR36/IR10154-2-3-3-3-//IR9129-209-2-2-2-1
Golongan : Cere
Umur tanaman : 100 -105 hari
Bentuk tanaman : Tegak
Tinggi tanaman : 80 -95 cm
Anakan produktif : sedang
Warna kaki : Hijau
Warna batang : Hijau
Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Muka daun : Kasar
Posisi daun : Miring
Daun bendera : Miring
Bentuk gabah : Ramping
Warna gabah : Warna Jerami
Kerontokan : Sedang
Kerebahan : Tahan hingga sedang
Rasa nasi : enak
Kadar amilosa : 23 %
Bobot 1000 butir : 23,3 gr
Potensi hasil : 5,1 t/ha
Ketahanan terhadap Hama : Cukup tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2 Ketahanan terhadap Penyakit : Cukup tahan terhadap blas (Pyricularia oryzae)
Dilepas tahun : 1987
VARIETAS INPARI 1
Nomor seleksi : BP23f-PN-11
Asal persilangan : IR64/IBB-7//IR64
Golongan : Cere Indica
Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Ketahanan terhadap Hama : Tahan tehadap Wereng Batang Coklat biotipe 2, agak tahan trhadap Wereng Batang Coklat biotipe 3
Ketahanan terhadap Penyakit : Tahan Hawar Daun Bakteri strain III, IV dan VIII
Keterangan : Baik ditanam pada lahan sawah dataran rendah sampai ketinggian ± 500 m dpl Pemulia : Bambang Kustianto, Supartopo, Soewito Tj.,
Buang Abdullah, Sularjo, Aris Hair mansis, Heni Safitri dan Suwarno
Peneliti : Atito D., Anggiani., Santoso, Arifin K., Endang S
Teknisi : Sail Hanafi, Sudarmo, Suryono, Panca Hadi Siwi
Pengusul : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Alasan Utama dilepas : Lebih tahan BLB, perbaikan dari IR64 atas BLB
Dilepas tahun : 2008
VARIETAS INPARI 7 LANRANG Nomor seleksi : RUTTST96B-15-1-2-2-2-1 Asal persilangan : S3054-2D-12-2/Utri Merah-2
Golongan : Cere
Bentuk Gabah : Panjang (P=7,06 mm; L=2,20 mm; P/L=3,21)
Warnah Gabah : Kuning bersih
Ketahanan terhadap Hama : Agak Tahan terhadap Wereng Batang Coklat biotipe 1, 2, dan 3
Ketahanan terhadap Penyakit : Agak tahan Hawar Daun Bakteri ras III dan agak rentan ras IV dan VIII ; serta rentan terhadap penyakit virus tungro inokulum no.
073 dan 031, agak tahan penyakit virus tungro inokulum no. 013
Anjuran Tanam : Cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl Instansi Pengusul : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Loka
Penelitian Tanaman Tungro, Lanrang dan BPTP Sulawesi Selatan
Pemulia : Aan Andang Daradjat, Nafisah dan Bambang Suprihatno.
Peneliti : I Nyoman Widiarta, Jumanto, Burhanuddin, A.
Yasin Said, Sahardi, Ahmad Muliadi, R. Heru Praptana, Baehaki SE, Triny SK, Prihadi Wibowo, Cucu Gunarsih, Ali Imron, Idris H.
Teknisi : Thoyib S. Ma`ruf, Maman Suherman, Meru, Uan Sudjanang, Sukanda, Suwarsa, Dede Munawar, Abd. Rauf Serry dan Abd Hanid.
Dilepas tahun : 2009
Lampiran 4. Paket Teknologi Budidaya Padi Menuju IP 400
Paket Teknologi Budidaya Padi Menuju IP 400
Pelaksanaan peningkatan IP padi menggunakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Aspek-aspek yang dperlu diperhatikan adalah pengaturan jadwal tanam, pergiliran varietas, pengolahan lahan, persemaian, pembuatan kompos, tanam, pemupukan, pengairan, penyiangan, pengendalian hama penyakit, panen dan pasca panen.
1. Pengaturan jadwal tanam dan pergiliran varietas
Jadwal tanam disusun untuk 4 musim tanam agar pengaturan waktu atau tenaga kerja dapat dilakukan dengan optimal. Perlu dihindari penggunaan tenaga kerja yang banyak pada saat bulan puasa atau setelah lebaran karena pada umumnya tenaga kerja tidak tersedia dan bili ada maka biayanya lebih mahal. Pengaturan jadwal tanam disesuaikan dengan varietas benih padi yang digunakan, genjah atau super genjah.
Varietas padi yang ditanam pada MT II dan MT IV harus berumur sangat genjah (90-104 hari). Varietas padi yang berumur genjah (>105-124 hari) seperti Inpari 7, Ciherang, Cigeulis dan Mekongga dapat ditanam pada MT I dan MT III. Varietas padi berumur sangat genjah yang tersedia antara lain Silugonggo, Dodokan, Inpari 1 . Pergiliran varietas sangat diperlukan pada penerapan pola tanam padi-padi-padi-padi untuk mencegah ledakan hama dan penyakit tertentu dan juga menyesuaikan kapan produksi tertinggi didapat. Pada awal MT I harus dipilih varietas padi yang tahan wereng dan tahan beberapa penyakit. Untuk pertanaman MT III dan MT IV perlu dicari varietas yang berumur sangat genjah dan relatif tahan kekeringan. Pemilihan varietas perlu juga memperhatikan keberadaan hama dan penyakit yang endemik. Pada daerah endemik tungro sebaiknya ditanam varietas Inpari 7, 8, 9 atau 13.
2. Pengolahan Lahan
Jerami dikumpulkan segera setelah panen untuk dicacah dan dibuat kompos.
Untuk mempercepat proses dekomposisi digunakan dekomposer/aktivator (Stardec, EM-4, Dextro dan lainnya. Cara pengolahan tanah pada pola IP Padi 400 hampir sama
dengan pengolahan tanah yang sudah biasa dilakukan. Perbedaannya adalah pengolahan tanah IP Padi 400 disiapkan 7 -14 hari setelah panen.
Cara pengolahan tanah adalah: 1) tanah ditraktor untuk membalik tanah; 2) diratakan dan sedikit digenangi kira-kira setinggi 1 cm dan 3) lahan siap ditanami .
3. Persemaian
Pada IP Padi 400 benih disemai 7 hari sebelum panen. Bila tidak tersedia lahan khusus untuk persemaian, maka dapat dilakukan tanam segera setelah panen. Jika memungkinkan, persemaian dibuat di luar lahan dilahan sawah, parit dipinggir jalan atau lahan kering yang diberikan bahan organik seperti kompos atau pupuk kandang.
Cara pembuatan persemaian diluar lahan sawah adalah: 1) persemaian dibuat di areal pertanaman padi 7 hari sebelum panen; 2) lahan yang digunakan seluas 5% dari luas rencana penanaman padi berikutnya; 3) lahan diolah sederhana dan 4) diberi pupuk urea, SP18, dan KCl dengan takaran masing-masing 40 g/m2 serta 5) benih diberi insektisida dan fungisida bila diperlukan. Cara pembuatan persemaian dalam kotak (dapog) belum memungkinkan untuk dilaksanakan karena sulit untuk diterapkan oleh petani.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat persemaian adalah: 1) gunakan benih yang bersih, dan berlabel; 2) jumlah benih 15-25 kg/ha; 3) masukkan benih ke dalam ember yang berisi larutan garam/ZA dan buang benih yang mengapung (seleksi benih awal); 4) pilih lokasi yang terbaik agar mudah diairi/lokasi tidak ternaungi;
5) luas persemaian kira-kira 4% dari luas pertanaman (400 m2 untuk 1 ha pertanaman);
6) lebar persemaian 1,0 - 1,2 m dan panjangnya sesuai petakan antara 10-20 m; 7) tambahkan sekam padi yang sudah lapuk atau bahan organik atau campuran keduanya sebanyak 2 kg/m2 untuk memudahkan pencabutan bibit; 8)t taburkan benih yang telah direndam dan dikering anginkan secara merata di bedang persemaian; 9) untuk tanah yang kurang subur persemaian diberikan 20-40 gr Urea tau NPK / m2 dan 10) cabut bibit dengan posisi miring.
4. Pembuatan kompos
Aktivator yang dapat digunakan untuk mempercepat proses pengomposan antara lain stardec, trichoderma, EM-4, Dextro dan mikro organisme lokal (MOL). Dalam
pelaksanaan IP padi 400, kompos dapat dibuat langsung setelah panen. Untuk mempercepat waktu pengomposan maka dapat ditambahkan aktivator 2 x dosis dan ditambahkan pupuk kandang 1-2 karung/ton bahan organik dan tambahkan urea secukupnya.
Cara pembuatan kompos jerami: 1) jerami segar dibasahi hingga lembab atau direndam selama 1 malam; 2) jerami tersebut ditebarkan setebal 30 cm lalu ditaburi pupuk kandang, kapur, dan dekomposer secara merata; 3) dipercikkan airyang telah diberi urea untuk mejaga kelembabannya; 4) setelah itu tumpukkan kembali lapisan kedua dan taburkan kembali bahan bahan lainnya serta dipercikkan air hinggalembab;
5) demikian seterusnya hingga jerami habis; 6) tinggi tumpukan jerami sebaiknya kurang dari 1,5 m agar lebih mudah dalam proses pembalikan; 7) tutup tumpukan dengan plastik agar terlindung dengan hujan dan panas, atau diletakkan ditempat yang terlindung; 8) lakukan pembalikan tumpukan setiap minggu; 9) kelembaban jerami dijaga agar kadar airnya 60 – 80 % dengan cara memercikan/menyiram air (kalau jeraminya diremas air tidak menetes); 10) kompos siap digunakan setelah 2 minggu;
11) untuk mempercepat waktu pengomposan ( < 2 minggu) tambahkan aktivator menjadi 2 x lipat, tambahkan pupuk kandang 100 kg/ton jerami serta tambahkan urea 1-2 kg/ton jerami.
5. Tanam
Bibit yang ditanam 1-3 batang per lubang berumur 15-21 hari. Jika lokasi persawahan merupakan daerah endemis keong mas, bibit bisa ditanam lebih tua (< 30 hari). Jarak tanam disesuaikan dengan varietas dan kesuburan tanah (20x20 cm, 22,5-22,5 cm atau 20x25 cm). Sistem tanam yang dianjurkan adalah tanam pindah jajar legowo 4 : 1. Penggunaan caplak diperlukan agar legowo yang dibuat dapat teratur.
6. Pemupukan
Untuk mengetahui kandungan unsur hara lahan sawah, terlebih dahulu diambil sampel tanah dari masing-masing lokasi pada kedalaman 20 cm secara komposit dan dianalisis unsur hara dan tingkat kemasamannya di laboratorium tanah atau menggunakan PUTS. Sampel tanah diambil secara periodik pada awal kegiatan dan setelah panen untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah. Untuk memperoleh
rekomendasi pemupukan yang spesifik lokasi, diperlukan alat bantu yaitu Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Sebagai pupuk dasar perlu diberi 50-75 kg/ha urea pada musim hasil rendah, 75-100 kg/ha urea pada musim hasil tinggi atau 100 kg/ha pada padi hibrida dan padi tipe baru.
Cara pemupukan Phosfor (P) dan Kalium (K) adalah : 1) Pupuk P (SP-36) dengan dosis 75-100 kg/ha diberikan pada saat pemupukan dasar atau bersamaan dengan pemupukan pertama N (urea) pada 7-10 HST; 2) Pupuk K dengan takaran 50 kg KCl/ha, 50% diberikan bersamaan dengan pemupukan urea pertama dan sisanya diberikan pada saat primordia; 3) Jika SP-36 tidak ada atau harganya mahal, maka dapat diganti dengan pemberian pupuk NPK (15:15:15). Pemberian dilakukan 2 kali yaitu sebagai pupuk dasar dan yang kedua umur 42-45 HST dengan dosis sesuai hasil analisis tanah.
7. Pengairan Berselang
Jika memungkinkan, pengaturan air dilakukan secara berselang (pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian). Cara pemberian air adalah : 1) tanam bibit dalam kondisi sawah macak-macak; 2) secara berangsung-angsur tanah diairi 2-5 cm sampai tanaman berumur 10 hari; 3) biarkan sawah mengering sendiri, tanpa diairi (biasanya 5-6 hari); 4) setelah permukaan tanah agak kering sampai retak selama 1 hari, sawah kembali diairi setinggi 5 cm; 5) biarkan sawah mengering,tanpa diairi (5-6 hari) lalu diairi setinggi 5 cm; 6) ulangi hal di atas sampai tanaman masuk stadia pembungaan dan 7) sejak fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan terus diairi setinggi 5 cm, kemudian lahan dikeringkan. Jika pertanaman terserang kepinding tanah atau penyakit tungro maka lahan sawah jangan dikeringkan.
8. Penyiangan
Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mencabut gulma dengan tangan, alat gosrok/landak atau menggunakan herbisida. Penyiangan dilaksanakan sebanyak 2 (dua) kali dan dilakukan sebelum pemberian pupuk.
9. Pengendalian hama penyakit
Pengamatan perkembangan hama penyakit perlu dilakukan sedini mungkin, pengamatan harus dilakukan secara intensif. Pengendalian hama penyakit perlu memperhatikan aspek-aspek berikut; 1) penggunaan varietas tahan hama dan penyakit;
2) tanam tanaman yang sehat; 3) pengaturan pola tanam dan pergiliran tanaman; 4) menjaga kebersihan lahan; 5) waktu tanam tepat; 6) melakukan pemupukan yang tepat; 7) mengelola tanah dan pengairan dengan baik; 8) jika diperlukan tanam tanaman perangkap untuk pengendalian tikus; 9) melakukan pengamatan berkala di lapangan; 10) memanfaatkan musuh alami; 11) mengendalikan HPT secara mekanik;
12) mengendalikan HPT secara fisik dan 13) menggunakan pestisida seperlunya.
10. Panen dan Pasca Panen
Penanganan panen dan pasca panen padi meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu penentuan saat panen, pemanenan, penumpukan sementara di lahan sawah, pengumpulan padi di tempat perontokan, penundaan perontokan, perontokan, pengangkutan gabah ke rumah petani, pengeringan gabah, pengemasan dan penyimpanan gabah, penggilingan, pengemasan dan penyimpanan beras.
Penentuan saat panen merupakan tahap awal dari kegiatan penanganan pasca panen padi. Ketidaktepatan dalam penentuan saat panen dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi dan mutu gabah/beras yang rendah. Penentuan saat panen dapat dilakukan berdasarkan pengamatan visual dan pengamatan teoritis.
Pengamatan visual dilakukan dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan lahan sawah. Berdasarkan kenampakan visual, umur panen optimal padi dicapai apabila 90 sampai 95 % butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan menghasilkan gabah berkualitas baik sehingga menghasilkan rendemen giling yang tinggi.
Pengamatan teoritis dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi dan mengukur kadar air dengan moisture tester. Berdasarkan deskripsi varietas padi, umur panen padi yang tepat adalah 30 sampai 35 hari setelah berbunga merata. Berdasarkan kadar air, umur panen optimum dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22 – 23 % pada musim kemarau, dan antara 24 – 26 % pada musim penghujan.
Pemanenan padi harus dilakukan pada umur panen yang tepat, menggunakan alat dan mesin panen yang memenuhi persyaratan teknis, kesehatan, ekonomi dan ergonomis, serta menerapkan sistem panen yang tepat. Ketidaktepatan dalam melakukan pemanenan padi dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi dan mutu hasil yang rendah. Pada tahap ini, kehilangan hasil dapat mencapai 9,52 % apabila pemanen padi dilakukan secara tidak tepat.
Pemanenan padi harus dilakukan pada umur panen yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) 90 – 95 % gabah dari malai tampak kuning; 2) malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga merata dan 3) kadar air gabah 22 – 26 % yang diukur dengan moisture tester.
Pemanenan padi harus menggunakan alat dan mesin yang memenuhi persyaratan teknis, kesehatan dan ekonomis. Alat dan mesin yang digunakan untuk memanen padi harus sesuai dengan jenis varietas padi yang akan dipanen. Pada saat ini, alat dan mesin untuk memanen padi telah berkembang mengikuti berkembangnya varietas baru yang dihasilkan.