Amyx, Douglas Alan, Penelope F DeJong, Xiaohua Lin, Goutam Chakraborty, dan Joshua Lyle Wiener. 1994. “Influencers of purchase intentions for ecologically safe products:
An explantory study.” AMA Winter Edcucator's Conference Proceedings. Chicago, IL:
American Marketing Association. 341-347.
Austin, James E. 2006. “Three avenues for social entrepreneurship research.” Dalam Social entrepreneurship, 22-33. London: Palgrave Macmillan.
Bogdan, Robert, dan Sari Knopp Biklen. 1997. Qualitative Research For Education. Boston, MA: Allyn & Bacon.
Chatman, Jennifer A., David F. Caldwell, dan Charles A. O'Reilly. 1999. “Managerial personality and performance: a semi-idiographic approach.” Journal of Research in Personality 514-545.
Clifford, Anne, dan Sarah EA Dixon. 2006. “Green works: A model for combining social and ecological entrepreneurship.” Dalam Social entrepreneurship, 214-234. London:
Palgrave Macmillan.
Cohen, B., dan M. Winn. 2007. “Market imperfections, opportunity and sustainable entrepreneurship.” Journal of Bussines Venturing.
Creswell, John W. 1996. “Research design.” Qualitative and Quantitative Approach.
Thousand Oaks: SagePublications. 90-136.
Diekmann, Andreas, dan Axel Franzen. 1996. “Einsicht in ökologische Zusammenhänge und Umweltverhalten.” Umweltproblem Mensch: Humanwissenschaftliche Zugänge zu umweltverantwortlichem Handeln. R. Kaufmann-Hayoz and AD Giulio. Bern, Stuttgart, Vienna, Verlag Paul Haupt.
Dixon, Sarah EA, dan Anne Clifford. 2007. “Ecopreneurship-a new approach to managing the triple bottom line.” Journal of Organizational Change Management 20, no. 3 326-345.
Fernald, Lloyd W., George T. Solomon, and Ayman Tarabishy. 2005. "A new paradigm:
entrepreneurial leadership." Southern business review 1-10.
Freedman, Bill. 1995. Environmental ecology: The ecological effect of pollution, disturbance, and other stresses. San Diego: Academic Press.
Grenier, Paola. 2008. “Social entrepreneurship: agency in globalizing world.” Dalam Social entrepreneurship: new models of sustainable social change, oleh Alex Nicholls, 119-143. Oxford: OUP Oxford.
Gunawan , Arien A, dan Wawan Dhewanto. 2012. “Why eco-friendly family bussines is less popular in Indonesia?” Procedia-Social and Behavioral Sciences 61-68.
Handriana, Tanti. 2016. “Mapping of green buying perception in developing country.”
Mediterranean Journal of Social Sciences 19.
43
Hapsari, Ira Maya. 2014. “Identifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi oeh UKM dan peninjauan kembali regulasi UKM sebagai langkah awal revitalisasi UKM.” Permana.
Isaak, R. 1997. “Globalisation and green entrepreneurship.” Greener Management International 80-90.
Julianto, Pramdia Arhando. 2016. “UKM Didorong Terapkan Bisnis Ramah Lingkungan.”
KOMPAS.com. 06 12. Diakses Mei 20, 2018.
https://ekonomi.kompas.com/read/2016/12/06/151903226/ukm.didorong.terapkan.bis nis.ramah.lingkungan.
Junaedi, M. F. Shellyana. 2005. “Pengaruh kesadaran lingkungan pada niat beli produk hijau:
Studi perilzku konsumen berwawasan lingkungan.” Benrfit: Jurnal Manajemen dan Binis 189-201.
Kirkwood, Jodyanne, dan Sara Walton. 2010. “What Motivates Ecopreneurs to Start Businesses?” International Journal of Entrepreneurial Behavior & Research.
Kollmuss, Anja, dan Julian Agyeman. 2002. “Mind the Gap: Why do people act environmentally and what are the barriers to pro-environmental behavior?”
Environmental education research 8, no. 3 239-260.
Mair, Johanna, Jeffrey Robinson, dan Kai Hockerts. 2006. “Introduction.” Dalam Social Entrepreneurship, 1-13. New York: Palgrave Macmillan.
Moizer, Jonathan, dan Paul Tracey. 2010. “Strategy making in social enterprise: The role of resource allocation and its effects on organizational sustainability.” Systems research and behavioral science 27, no.3 252-266.
Moleong, Lexy J. 1999. Metodologi Penelitian. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
—. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Panjaitan, Togas W. S., dan I Nyoman Sutapa. 2010. “Analysis of green product knowledge, green behavior and green consumers of Indonesian students (Case study for Universities in Surabaya).” IEEE 2268-2272.
Pinchot, G. 1985. Intrapreneuring. New York: Harper and Row.
Rougoor, Carin W, Trip Ger, Ruud B.M. Huirne, dan Jan A. Renkema. 1998. “How to define and study farmers. management capacity: theory and use in agricultural economics.”
Agricultural economics 261-272.
Sabella, Anton R., dan Niveen L. Eid. 2016. “A strategic perspective of social enterprise sustainability.” Journal of General Management 71-89.
Schaltegger, Stefan. 2002. “A Framework for Ecopreneurship: Leading Bioneers and Environmental Managers to Ecopreneurshi.” Greenleaf Publishing.
Setiawan, Eldy, dan Sisca Eka Fitria. 2016. “"Analisis motivasi ecopreneur dalam mewujudkan green economy di wilayah kabupaten Bandung (studi Kasus Bank Sampah Bersinar).".” eProceedings of Management 3, no. 3.
44
Sonya, Clara Vanessa, Astri Ghina, dan Mediany Kriseka Putri. 2016. “Implementasi ecopreneurship untuk keberlanjutan lingkungan (Environment sustainability) (Studi kasus pada Bank Sampah Bersinar, Kabupaten Bandung).” e-Proceeding of Management 3, no. 2.
Stratan, Dumitru. 2017. “Success factors of sustainable social enterprises through circular economy perspective.” Visegrad Journal on Bioeconomy and Sustainable Development 17-23.
Untari, Dhian Tyas. 2013. “Ecopreneurship dalam konsep pembangunan yang berkelanjutan.”
Sustainable Competitive Advantage (SCA).
Upcycle, Sapu. 2017. CONCEPT. Diakses Mei 21, 2018. http://sapu-upcycle.com/metal-drums-2/.
Volery, Thierry. 2002. “Ecopreneurship: Rationale, current issues and futures challenges.”
Radical change in the world: Will SMEs soar or crash 541-533.
Yunus, Muhammad. 2008. “Social business entrepreneurs are the solution.” Dalam Social entrepreneurship: new models of sustainable social changes, oleh Alex Nicholls, 39-44. Oxford: OUP Oxford.
45 LAMPIRAN
Lampiran Hasil Wawancara
Hari/Tanggal : Jumat, 15 Maret 2019
Nama UMKM : Sapu Upcycle
Nama Pemilik/Pengusaha : Sindhu Prasastyo & Erika Firniawati
Alamat Perusahaan : Jl. Kenanga Rt/Rw 05/04 Tetep Gambir, Randuacir, Argomulyo,Salatiga, Jawa Tengah, 50733
Jumlah Total TenagaKerja : 15 Orang
No. Pertanyaan Jawaban
I. Profil Usaha Sapu Upcycle
1. Kapankah Sapu Upcycle didirikan?
2010 (legal standing: 2013)
2. Siapa sajakah pendiri Sapu Upcycle?
Sindhu Prasastyo & Erika Firniawati
3. Produk apa saja yang dihasilkan oleh Sapu Upcycle saat ini dan saat pertama kali berdiri?
Saat pertama kali berdiri, sebagian besar produk yang dihasilkan ialah dompet dan aksesoris (perhiasan), dengan bahan dasar ban bekas. Saat ini Sapu Upcycle memproduksi tas, dompet, dan aksesoris, namun bahan baku yang digunakan sudah lebih beragam, antara lain ban dalam bekas, tenda tentara bekas, hingga circuit board bekas. Saat ini sapu juga tengah mencoba berinovasi dengan membuat furnitur berbahan dasar limbah.
4. Mengapa usaha ini didirikan?
Apa yang menjadi latar belakang untuk mendirikan usaha ini?
Untuk menciptakan produk ramah lingkungan, serta berkontribusi bagi peningkatan ekonomi karyawan dan masyarakat. Latar belakangnya sendiri adalah keresahan pendiri usaha terhadap permasalahan dalam pengolahan limbah, dimana seringkali limbah tidak diolah dengan baik, sehingga hanya menjadi timbunan ataupun dibakar. Hal ini dapat menimbulkan pencemaran yang lebih lanjut. Untuk itu perlu adanya manajemen pengolahan limbah, yang merubah limbah menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual dan nilai guna yang lebih tinggi. Peluang bisnis yang ramah lingkungan dari manajemen pengolahan limbah ini juga cukup menarik untuk dijalani.
5. Bagaimanakah ide untuk mendirikan perusahaan yang berbasis pengolahan limbah ini muncul?
Awalnya bermula dari keterlibatan para pendiri usaha (Sindhu Prasastyo & Erika Firniawati) dalam komunitas TUK (Tanam Untuk Kehidupan). Saat terlibat dalam komunitas ini, pendiri usaha belajar mengenai bagaimana mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna lebih, dan juga memiliki nilai jual. Mulai saat itu pendiri usaha melihat adanya peluang bisnis dalam bidang
46
pengolahan limbah ini, karena bisnis pengolahan limbah masih belum banyak dikerjakan di Indonesia.
Kedua pendiri pun mulai mempraktekan ilmu yang telah mereka pelajari tersebut dengan menggunakan bahan baku ban bekas.
Beberapa waktu kemudian, salah seorang kawan dari Australia mendorong untuk mendirikan perusahaan, serta membantu pemasaran dari produk-produk yang telah diproduksi. Akhirnya Sapu Upcycle didirikan dan mulai berkembang sejak saat itu.
6. Apakah yang menjadi visi & misi dan tujuan utama dari perusahaan ini?
Tujuan utama Sapu Upcycle antara lain:
• Menjadi sebuah usaha yang sustainable baik dari segi ekonomi maupun lingkungan hidup.
• Berkontribusi bagi keberlanjutan lingkungan hidup, dengan mengubah limbah menjadi produk dengan nilai guna dan nilai jual yang lebih tinggi, sehingga dapat mengurangi limbah yang ada sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
• Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
• Mengenalkan konsep upcycle dan peduli lingkungan kepada masyarakat.
• Menjual produk ke luar negeri.
7. Berapa jumlah karyawan Sapu Upcycle saat ini dan saat pertama kali berdiri?
Awalnya karyawan Sapu Upcycle hanya terdiri dari 2 orang, yaitu kedua pendiri, Sindhu Prasastyo & Erika Firniawati. Saat ini Sapu Upcycle memiliki 15 orang karyawan, terdiri dari 12 orang karyawan tetap, dan 3 orang freelancer.
8. Dari manakah konsumen produk-produk Sapu Upcycle umumnya berasal pada masa awal berdirinya usaha ini?
Awalnya konsumen Sapu Upcycle berasal dari teman-teman komunitas lingkungan hidup. Saat itu Sapu Upcycle hanya menjual produk secara retail dalam kegiatan yang diselenggarakan TUK.
Kemudian setelah seorang kawan dari Australia membantu untuk memasarkan produk Sapu Upcycle, produk sapu mulai dijual secara konsinyasi di Yogyakarta dan Bali, serta di beberapa pameran di kota-kota tersebut. Saat itu, konsumen kebanyakan berasal dari turis asing yang berlibur di Yogyakarta dan Bali.
9. Dari manakah konsumen produk-produk Sapu Upcycle saat ini berasal?
• Pengunjung toko dimana Sapu Upcycle melakukan konsinyasi, di Yogyakarta dan Bali. Sebagian besar turis asing yang tengah berlibur di kedua daerah tersebut
• Negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Denmark, Slovenia, Jerman. Selain itu Amerika Serikat, Australia, dan Singapura.
• Pengunjung pameran Inacraft, yang rutin diikuti Sapu Upcycle setiap tahun di Jakarta. Sebagian besar pengunjung domestik.
Narasumber 1