4.2 Analisis dan Interpretasi
4.2.2 Kendala yang Dihadapi Usaha Bisnis Sosial yang Berkelanjutan Bahan Baku dan Peralatan
Salah satu kendala yang dialami Sapu Upcycle adalah dalam hal pasokan bahan baku serta peralatan. Pengusaha Sapu Upcycle harus menciptakan jaringan pemasok khusus, karena bahan baku yang digunakan terbilang unik. Pemilik usaha memiliki standar bahan baku pelengkap tersendiri untuk memenuhi standar pasar internasional. Untuk itu, pengusaha membutuhkan material pendukung seperti buckle, tali, ataupun kancing dengan kualitas terbaik, yang memenuhi standar pasar Eropa. Material-material tersebut masih susah untuk didapatkan di Indonesia. Hal ini seringkali menambah biaya bahan baku. Selain karena harga mahal, biaya untuk mencari bahan baku yang hanya bisa didapatkan di kota-kota tertentu juga cukup besar. Apabila membutuhkan material yang bagus, terkadang kedua pemilik harus mencari hingga ke luar kota, seperti Bali atau Bandung, dimana hal ini membutuhkan banyak biaya di samping terkadang material yang dibutuhkan masih belum dapat ditemukan, karena pilihan yang ada kurang lengkap. Namun, apabila membeli secara online, pemilik tidak dapat memastikan sendiri kualitas dari material tersebut, sehingga terkadang material yang sudah dipesan tidak cocok dan tidak jadi digunakan, sehingga menimbulkan kerugian.
Permasalahan lain yang dihadapi perusahaan dalam proses produksi antara lain ialah kekurangan peralatan dan perlengkapan, baik dari segi kualitas dan kuantitas. Perusahaan ini kesulitan dalam mendapatkan mesin atau peralatan yang dibutuhkan dalam proses produksi.
Saat ini, beberapa mesin yang dimiliki oleh Sapu Upcycle masih belum sesuai dengan kebutuhan ataupun kurang canggih, sehingga untuk keperluan tertentu hanya dikerjakan dengan peralatan seadanya yang tidak sesuai dengan fungsi dan material yang ada. Terkadang karyawan juga terpaksa harus menggunakan peralatan yang sama untuk suatu pekerjaan.
Sebagai contoh, mesin untuk menjahit tali maupun menjahit kain masih menggunakkan mesin yang sama, dan belum menggunakan mesin yg spesifik untuk suatu pekerjaan atau material tertentu. Hal-hal seperti ini dapat membuat pekerjaan menjadi lebih lama ataupun lebih sulit.
Terkadang untuk mengatasi masalah ini, mesin yang ada harus dimodifikasi sendiri agar dapat memenuhi kebutuhan yang ada.
31
Pola Pikir dan Persepsi Masyarakat Terhadap Produk dan Harga Produk
Harga produk Sapu Upcycle terbilang murah bila dibandingkan dengan produk sejenis di pasar luar negeri, namun di Indonesia harga produk yang telah ditetapkan seringkali dirasa mahal, terutama bila dibandingkan dengan produk kerajinan tangan sejenis yang konvensional (bukan produk ramah lingkungan atau produk daur ulang). Hal ini dirasakan oleh narasumber sebagai akibat dari kondisi masyarakat dalam negeri, yang secara umum masih belum mengenal konsep yang diusung oleh perusahaan. Masyarakat yang berkunjung ke pameran yang diikuti Sapu Upcycle misalnya, seringkali memberi masukan bahwa harga produk Sapu Upcycle terlalu mahal, padahal “hanya” terbuat dari material limbah. Dalam hal ini, masyarakat tersebut tidak memahami proses pengerjaan produk dari tahap awal hingga akhir, yang semuanya dikerjakan dengan tangan, sehingga biaya produksi tidak dapat ditekan. Selain itu, awareness atau kesadaran masyarakat terhadap konsep upcycle masih sangat kurang, demikian pula dengan kesadaran mereka akan manfaat produk dan tujuan dari perusahaan untuk memproduksi produk ramah lingkungan. Walaupun begitu, narasumber tidak menganggap bahwa permasalahan utama terletak pada harga produk, karena menurut mereka, selama produk dipasarkan di lokasi yang tepat, konsumen tidak akan mempermasalahkan harga produk yang ditawarkan. Bahkan menurut Ibu Widyarti, beberapa konsumen mengatakan bahwa harga produk masih dapat ditingkatkan lagi. Selain itu, konsumen yang berasal dari Jakarta dan luar Jawa umumnya tidak terlalu mempermasalahkan harga produk yang ditawarkan. Jadi, dapat dikatakan bahwa yang menjadi masalah dalam harga produk yang ditawarkan bukanlah harga produk itu sendiri, melainkan kesadaran masyarakat atau konsumen yang rendah, dan yang masih belum memahami konsep produk dan alasan penetapan harga.
Kondisi ini berbeda dengan di pasar luar negeri Sapu Upcycle. Konsumen di luar negeri terbatas pada orang-orang tertentu yang menyukai konsep yang diusung, dan produk ramah lingkungan Sapu Upcycle. Sebagian besar dari mereka membeli produk Sapu Upcycle lebih sebagai bentuk dukungan terhadap brand ramah lingkungan tersebut, sebagaimana penjelasan berikut:
“Konsumen kami di luar negeri cenderung terbatas pada orang-orang yang suka dengan produk-produk kami, mengerti konsep yang kami bawakan, dan menghargai itu, baru mereka akan membeli. Memang tidak semua orang di luar sana suka dengan produk kami, karena tidak semua orang memahami konsep ramah lingkungan, tapi secara umum mereka lebih paham akan konsep tersebut daripada orang-orang disini. Kebanyakan konsumen di luar
32
negeri yang membeli produk kami karena bersimpati dengan perusahaan kami dan konsep yang kami usung. Mereka cenderung membeli produk-produk kami karena mereka ingin mendukung brand yang ramah lingkungan dan usaha penyelamatan lingkungan, ketimbang membeli karena kebutuhan mereka sendiri.”
(Sumber wawancara dengan Ibu Widyarti, Admin CV. Sapu Upcycle)
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibu Widyarti, walaupun penjualan di luar negeri cukup besar, sebenarnya konsumen Sapu Upcycle di luar negeri juga terbatas pada orang-orang yang memang menyukai produk-produk ramah lingkungan. Orang-orang tersebut memahami konsep yang selama ini diusung oleh Sapu Upcycle, dan mampu menghargai hal tersebut. Hal inilah yang menjadi alasan mereka untuk membeli produk-produk ramah lingkungan Sapu Upcycle. Tujuan mereka untuk membeli produk ramah lingkungan bukan semata-mata karena kebutuhan mereka, namun juga karena kesadaran mereka untuk mendukung usaha/ brand yang ramah lingkungan, dan keinginan mereka untuk berpartisipasi dalam usaha penyelamatan lingkungan. Walaupun begitu, jumlah orang-orang yang memiliki kesadaran lingkungan di luar negeri secara umum masih jauh lebih besar, bila dibandingkan dengan di dalam negeri.
Hal inilah yang berpengaruh pada tingginya penjualan di pasar luar negeri, ketimbang di pasar domestik.
Ketersediaan Tenaga Kerja
Beberapa masalah masih dihadapi perusahaan dalam proses produksinya. Masalah lain yang dihadapi perusahaan dalam proses produksi adalah kuantitas dan kualitas tenaga kerja yang juga menjadi masalah dalam proses bisnis secara umum. Saat ini hanya terdapat 15 orang karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. jumlah ini dirasa masih kurang, terutama untuk tenaga penjahit. Kurangnya jumlah tenaga kerja serta ketiadaan SOP seringkali menyebabkan terjadinya double job, selain itu apabila perusahaan harus mempersiapkan pameran atau mendapat order yang banyak dalam waktu yang terbatas, maka karyawan harus bekerja sedikit lebih lama untuk memenuhi target produksi. Bahkan, kedua pemilik terkadang juga harus turut membantu proses produksi. Selain itu, tidak ada karyawan yang secara khusus mengecek ketersediaan bahan baku, sehingga terkadang saat ada order mendadak dan ternyata bahan baku telah habis, maka pemilik usaha terpaksa harus membeli bahan baku secara mendadak, seperti penjelasan narasumber berikut:
33
“Kendala yang kami hadapi saat ini, adalah kami masih kekurangan jumlah tenaga kerja, khususnya penjahit. Sangat susah mencari penjahit yang sesuai dengan standar dan kualitas yang kami butuhkan. Selain itu kami juga kesulitan mencari peralatan. peralatan seperti mesin-mesin khusus, dan mesin jahit susah didapatkan di Indonesia. Selain itu, material seperti tali atau buckle dengan kualitas bagus di Indonesia susah di cari. Berbeda dengan di luar negeri, dimana untuk mendapatkan material dengan kualitas bagus kita hanya tinggal memilih. Apabila membeli secara online, kami tidak bisa melihat dan memastikan kualitas bahannya. Kami pernah mencoba membeli material secara online, namun ternyata kualitas bahannya kurang memuaskan, sehingga tidak kami gunakan. Sementara jika mencari secara langsung masih susah, dan terkadang kami harus mencari sampai ke luar kota seperti Jogja, Bali atau Bandung, itupun biasanya masih kurang lengkap.”
(Sumber wawancara dengan Ibu Erika Firniawati, pendiri usaha Sapu Upcycle)
Pemilik usaha merasa kesulitan untuk menemukan penjahit di Salatiga, dengan kemampuan dan kualitas yang memenuhi standar yang ditetapkan oleh kedua pemilik.
Kemampuan seorang penjahit yang dibutuhkan bagi perusahaan ini antara lain adalah menjahit dengan rapi dan presisi, serta dapat beradaptasi dengan material limbah, khususnya limbah ban dalam. Saat ini, hanya terdapat 2 orang penjahit yang bekerja di tempat ini. Apabila salah satu diantaranya tidak dapat masuk kerja, atau terdapat pesanan dalam jumlah tertentu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, maka proses produksi menjadi tersendat dan kedua pemilik terkadang harus turun tangan untuk mengerjakan proses penjahitan.
Ketergantungan Terhadap Teknik Promosi Konvensional dan Keterbatasan Dalam Menjalankan Teknik Promosi Non-Konvensional
Sebagai sebuah kewirausahaan sosial, Sapu Upcycle tetap harus melakukan promosi bagi usahanya, agar produk-produk ramah lingkungan yang ditawarkan dapat diterima oleh masyarakat, serta agar tujuan dan konsep yang diusung perusahaan dapat dipahami oleh calon konsumen. Selama ini, teknik promosi yang dijalankan oleh Sapu Upcycle masih bergantung pada teknik konvensional, yaitu dengan mengikuti pameran-pameran di berbagai tempat, serta melalui toko konsinyasi. Namun, hal ini menjadi kekurangan tersendiri, karena pada akhirnya kegiatan promosi tersebut tidak dapat menjangkau masyarakat luas, terutama yang tidak dapat mengunjungi pameran yang diikuti oleh Sapu Upcycle. Selain itu, apabila mengikuti pameran, biaya yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit. Biaya tersebut meliputi biaya pendaftaran
34
pameran atau biaya menyewa booth, akomodasi, dan lain sebagainya. Apabila ternyata pengunjung pameran yang diikuti bukanlah target pasar dari perusahaan, maka penjualan dapat menjadi rendah dan tak memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan, karena biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti pameran itu sendiri sudah cukup besar, seperti penjelasan berikut:
“Pemasaran yang kami lakukan belum diolah dengan benar. Strategi yang kami gunakan masih seputar mengikuti pameran atau berjualan di toko konsinyasi. Sekarang saya memiliki strategi baru, yaitu melakukan digital marketing yang sebenarnya tanpa batas. Dengan memanfaatkan digital marketing, kami bisa menjangkau target pasar kami dimanapun juga, sehingga kami tidak lagi harus mengikuti pameran-pameran dengan ongkos yang besar.
Harapannya adalah kami mendapat pasar yang baru, bahkan lebih besar dari sebelumnya.”
(Sumber wawancara dengan Bapak Sindhu Prasastyo, pendiri usaha Sapu Upcycle)
Mengingat kekurangan dari sistem pemasaran dan promosi yang konvensional, pemilik Sapu Upcycle menyadari akan pentingnya melakukan pemasaran dan penjualan secara online, sebagaimana dapat dilihat dalam pernyataan berikut:
“Saat ini, tren marketing dilakukan secara online, kami tidak bisa terus berjualan dan mempromosikan produk kami sekedar dari pameran ke pameran. Selama ini orang lebih mengenali produk Sapu Upcycle dari pameran. Kami ingin segera menjalankan online marketing.”
(Sumber wawancara dengan Ibu Erika Firniawati, pendiri usaha Sapu Upcycle)
Pemilik Sapu Upcyle telah merencanakan untuk melakukan pemasaran dan penjualan secara online, melalui media sosial untuk mempromosikan produk serta mengedukasi masyarakat mengenai konsep dan tujuan perusahaan, dan melalui marketplace seperti Bukalapak dan Tokopedia untuk melakukan penjualan produk. Tujuan dari hal tersebut adalah agar Sapu Upcycle dapat menjangkau lebih banyak calon konsumen dari berbagai kalangan, tanpa terbatas ruang dan waktu, serta yang paling penting adalah dengan biaya dan resiko yang lebih sedikit dari cara konvensional. Walaupun begitu, rencana ini masih belum belum berjalan dan masih dalam tahap persiapan, karena beberapa keterbatasan, seperti ketiadaan tenaga promosi, belum siapnya materi promosi, hingga keterbatasan modal untuk kegiatan promosi.
Saat ini, Sapu Upcycle belum memiliki karyawan yang secara khusus menangani kegiatan promosi, sehingga untuk kegiatan promosi kedua pemilik memikirkan sendiri strategi apa yang harus dilakukan dengan dibantu admin ataupun karyawan yang lain (terkadang juga dibantu oleh teman atau saudara, maupun mahasiswa ataupun organisasi yang sedang mengerjakan
35
proyek tertentu). Kondisi ini membuat kegiatan promosi dan pemasaran belum dapat berjalan optimal, ditambah kurangnya pemahaman untuk melakukan pemasaran dan penjualan produk secara online. Sementara itu, apabila hendak menyewa tenaga profesional unuk mengelola online marketing, modal yang dimiliki juga belum cukup. Sebenarnya, saat ini Sapu Upcycle telah memiliki sebuah situs web dan media sosial (Facebook dan Instagram). Situs web yang dimiliki digunakan untuk menampilkan informasi-informasi mengenai perusahaan, serta produk-produk yang dijual, namun website dan media sosial yang ada belum dapat dikelola dengan baik, karena ketiadaan tenaga, waktu, dan materi promosi, sehingga tidak ada pembaharuan konten, foto produk, maupun informasi apapun. Akibatnya, tujuan pemasaran dan promosi menjadi kurang maksimal. Bahkan terkadang akun media sosial Sapu Upcycle juga berfungsi sebagaimana akun pribadi pemilik usaha. Kendala lain yang dihadapi ialah perusahaan belum mampu untuk melakukan foto produk secara profesional, sehingga selain tidak dapat memberikan informasi mengenai produk terbaru di laman website maupun media sosial mereka, perusahaan juga kesulitan untuk memenuhi permintaan foto produk dari distributor.
4.3 Diskusi dan Pembahasan