• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen MODUL ADVOKASI SOSIAL (Halaman 39-44)

Republik Indonesia. Undang-­­undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. Jakarta.

Bateman, N. 2000. Advocacy skills for health and social care profesionals. Jessica Kingsley Publishers.

Fahrudin, Adi. 2010. Advokasi Pekerjaan Sosial. STKS Bandung.

Kementerian Sosial. 2018. Mendorong Anggaran yang Memihak Pelayanan Satu pintu Penanggulangan Kemiskinan. Dirjen

Lester & Schneider, 2009. Advokasi Pekerjaan Sosial. Kerangka Baru Untuk Bertindak. Pustaka Societa. Jakarta.

London, M. 2009. Understanding Social Advocacy. An Integrative model of motivation, strategy, and persistence in support of coorporate social responsibility and social enterpreneurship. Journal of Management Development, Vol 29 No.3. USA

Modul Pelatihan Pendamping program Keluarga Harapan. Kementerian sosial: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial. Jakarta

Suradi. 2011. Advokasi Sosial Dalam Pemberdayaan Fakir Miskin. Informasi Vol 16 No.02. Jakarta

Zulyadi, T. 2014. Advokasi Sosial. Jurnal Al-­­Bayan, Vol. 21, No.30, Juli-­­ Desember. Aceh

Biodata Penulis

Mujiastuti adalah seorang Widyaiswara Kementerian Sosial RI kelahiran Jakarta 11 November 1983. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan pada Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan program studi Pendidkan Bahasa Inggris di tahun 2007. Tahun 2017 ia mulai melanjutkan Pendidikan Pascasarjana (S2) Program studi Pekerjaan Sosial di Flinders University, Australia, dengan melalui jalur beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) dan berhasil menyelesaikan studinya di tahun 2018 dengan gelar Master of Social Work (MSW).

Dari tahun 2008 ia bertugas di Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Regional I Sumatera dan memulai kariernya sebagai widyaiswara sejak tahun 2014. Di tahun 2015, ia berpindah tugas sebagai Widyaiswara di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (Pusdiklat) Kementerian Sosial RI yang bertempat di Jakarta. Beberapa Diklat dan TOT yang di fasilitasi yaitu; TOT dan Diklat Family Development Session, Diklat Peksos dan Konselor Adiksi Napza, TOT Manajemen Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL), Diklat Pekerja Sosial yang Menangani Perempuan Korban Tindak Kekerasan, Diklat Peksos yang menangani anak korban tindak kekerasan, Diklat Peksos Pendamping Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), Diklat Sistem Perlindungan Anak (SPA, UNICEF).

Kecintaannya pada dunia penulisan, pengajaran dan pekerjaan sosial menghantarkan ia menghasilkan beberapa modul pelatihan di bidang pekerjaan sosial. Modul Dasar Pendamping Sosial ini merupakan salah satu modul pembelajaran yang telah disusun setelah beberapa modul lain seperti; Modul Manajemen SLRT (Pusdiklat Kesos, 2019), Modul Family Development Session (FDS) P2K2 PKH sesi Perlindungan Anak (Pusdiklat Kesos kerjasama dengan UNICEF, 2013), Modul FDS P2K2 PKH sesi Kesejahteraan Sosial (Pusdiklat kesos, 2016), Modul Manajemen Institusi Penerima Wajib Lapor (Pusdiklat Kesos, 2015) dan Modul Pekerja Sosial NAPZA (Pusdiklat Kesos kerjasama dengan Universitas Atmajaya, 2016),

Sebagai widyaisawara yang sejak 2014 telah berkecimpung di dunia kediklatan, mujiastuti telah mengikuti berbagai macam pelatihan baik dalam dan luar negeri seperti; TOT Sistem Layanan Rujukan Terpadu (2019), TOT Pendamping Program Keluarga Harapan (2016), TOT Sistem Perlindungan Anak (2016), TOT Konselor Adiksi (2016), MOT Family Development Session Program Keluarga Harapan (2014), TOT Pekerja Sosial Pendamping Perempuan yang Mengalami Kekerasan (2013), TOT Pendamping Sosial bagi TKSM (2013). Beberapa pelatihan juga diikuti di luar negeri seperti Child Save Environments Awareness Training (2017, South Australia) dan Training on the Universal Prevention Curriculum for Substance Use, Series 1: Curriculum 5 (Colombo Plan, Thailand, 2015). Mujiastuti juga sudah mendapatkan sertifikat sebagai trainer (sertifikasi kompetensi trainer) dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Dalam bidang kesejahteraan sosial dan advokasi sosial, di tahun 2015, Mujiastuti juga mewakili Kementerian Sosial sebagai peserta Rountable Discussion with ASEAN Sectoral Bodies di Manila, Filipina untuk mengadvokasi program-­­program untuk pemenuhan hak-­­hak anak di tingkat ASEAN. Di tahun 2015 ia juga berhasil lulus ujian International Certified Addiction Professional yang diselenggarakan oleh Colombo Plan dan terpilih sebagai salah satu konselor adiksi yang telah tersertifikasi secara internasional.

LAMPIRAN

Lampiran Kasus

Kasus I

Pengakuan Anak yang Berkonflik dengan Hukum, Suara Sunyi dari Balik jeruji

Sudah hampir 3 tahun Yadi menghuni Rutan Kebonwaru. Ia merupakan warga Ciwidey dengan postur tubuh kurus dan berkulit hitam. Ia divonis selama lima tahun dan saat divonis umurnya 12 tahun. Ia divonis dengan tuduhan memperkosa anak tetangga yang berusia 10 tahun. Ia juga dituduh mencabuli adik korbannya yang berusia 4.5 tahun.

Yadi mengaku hasrat seksualnya tak terbendung karena terlalu sering diajak oleh tetangganya menonton film porno. Menurut pengakuannya, anak tetangganya itu tidak menolak, dan aksi itu dilakukannya dua kali. Ia selalu memberi uang Rp.1.000,00. Tapi ia mengatakan bahwa ia tidak pernah melakukan dengan adiknya. Setelah orang tua Putri mengetahui kejadian itu, Yadi digelandang ke kantor polisi. Dia menghadapi tuduhan perkosaan dengan kekerasan, terhadap dua anak kecil. Karena sempat tidak mau mengaku, Yadi mengaku organ vitalnya dijepit oleh petugas. Ia juga mengaku sempat ditetesi lilin panas. Dia kemudian dimasukkan ke dalam sel. Petugas juga mengambil sapu dan gagang sapu dipukulkan. Yadi juga mengatakan bahwa pada waktu siding ia ditanya oleh hakim kenapa keterangannya beda dengan Berita Acara dan menyampaikan bahwa BAP itu terpaksa ditandatangani karena merasa tidak kuat lagi.

Kisah II

JAMBI -­­ Komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Gurun Tuo, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun merupakan salah satu etalase Komunitas Adat terpencil (KAT) yang diresmikan Kementerian Sosial RI.

SAD di Desa Gurun Tuo dipilih menjadi etalase KAT karena di sana tepah tersedia lahan dan perumahan untuk SAD. Lahan disediakan oleh masyarakat setempat bekerja sama dengan Pemkab Sarolangun. Kemudian juga ada CSR dari SKK Migas untuk memberi bantuan air bersih dan kehidupan ekonomi seperti ternak lele, ternak ayamk arab, dan kambing.

“Mereka tidak hanya diberi rumah, namun juga penghidupan agar tidak melangun lagi. Rumah SAD sudah dibangun sejak 2017 lalu dan sudah dihuni,” katanya.

Akan tetapi dari 1.885 KK SAD yang seharusnya mendapatkan PKH, baru 155 KK yang sudah menerimanya. Sebab, baru 155 KK tersebut yang sudah terdaftar pada basis data terpadu di Kementerian Sosial RI.

“Yang lainnya belum terdaftar karena belum punya KTP. Untuk mendapatkan PKH itu, mereka harus terdaftar dulu dalam basis data, tentunya dengan mengantongi KTP. Bantuan pangan non tunai mereka juga belum bisa dapat karena belum punya KTP itu,” katanya.

Sumber: diadaptasi dari

https://www.jambi-­­ independent.co.id/read/2019/09/30/43354/sad-­­desa-­­gurun-­­tuo-­­ bakal-­­jadi-­­etalase-­­ kat

Lampiran PowerPoint

TUJUAN PEMBELAJARAN

Dalam dokumen MODUL ADVOKASI SOSIAL (Halaman 39-44)

Dokumen terkait