Management in Indonesia. Report submitted to ITTO. The Mission Establishment pursuant to Decision 12 (XXIX). Jakarta.
Kompas. 2000a. Pelaksanaan Otonomi Daerah Tidak Dilakukan Terburu-buru. Harian Kompas, tanggal 1 Februari 2000. Jakarta.
Kompas. 2000b. Lebih Jauh Dengan Riyas Rayid..
Harian Kompas, tanggal 20 Agustus 2000.
Jakarta.
Kompas. 2004. Sepuluh Anggota DPRD Kota Cirebon Jadi Terdakwa Kasus Korupsi. Harian Kompas, tanggal 1 Agustus 2004. Jakarta.
Kompas. 2006. Rehabilitasi Hutan: Empat Pejabat Dishut Barito Kuala Jadi Tersangka. Harian Kompas, tanggal 6 Maret 2006. Jakarta.
Kompas. 2007. Hasil Tuaian Pemekaran Tak Secerah Harapan. Harian Kompas, tanggal 10 Maret 2007. Jakarta.
Koran Tempo. 2004. DPRD Kendari Diduga Gelembungkan Anggaran. Koran Tempo, tanggal 29 Juli 2004.
Koran Tempo. 2004a. Kejaksaan Periksa Empat Anggota DPRD Kendari. Koran Tempo, tanggal 31 Juli 2004. Jakarta.
Koran Tempo. 2004b. Sultan Diperiksa Soal Dana Asuransi DPRD. Koran Tempo, tanggal 5 Agustus 2004. Jakarta.
Koran Tempo. 2004c. PKB Tuduh Ada manipulasi Dana Jasa Pungut Rp. 59,5 miliar. Koran Tempo, tanggal 6 Agustus 2004. Jakarta Koran Tempo. 2004d. Puluhan Anggota DPRD
Bermasalah Tetap Dilantik. Koran Tempo, tanggal 7 Agustus 2004. Jakarta.
Koran Tempo. 2004e. 43 Anggota DPRD Kampar Jadi Tersangka. Koran Tempo, tanggal 7 Agustus 2004.
Maklin, A.R. 2000. Desentralisasi Urusan Kehutanan dan Pembangunan Masyarakat dalam Era Otonomi Daerah. Prosiding Seri Lokakarya IV. Desentralisasi Urusan Kehutanan dan Program Kehutanan Nasional.
Jakarta, 19-20 September 2000. Jakarta.
Mediadas. 2006. Menhut MS Kaban: Tanam Sejuta Sengon. Majalah Dwi Mingguan No. Perkenalan, Desember 2006. Yayasan Wanatani dan Lingkungan Hidup Indonesia, Bogor.
Media Indonesia. 2002. Otonomi Daerah Cenderung Merusak Lingkungan. Harian Media Indonesia, tanggal 16 Desember 2002.
Misbach. 2003. Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Sumedang. Harian Pikiran
Rakyat, 12 April 2003. Bandung.
Pikiran Rakyat. 2007. Ketua Dewan Dituntut 4 Tahun: Terbukti Melakukan Korupsi, Merugikan Negara Rp. 3,48 miliar. Harian Pikiran Rakyat, tanggal 26 April 2007.
Bandung.
Pusat Informasi Kehutanan. 2005. Perusahaan Penunggak DR dan PSDH Akan Disoalkan ke Kejaksaan. Majalah Kehutanan Indonesia.
Edisi III Tahun 2005. Dephut, Jakarta.
Republika. 2002. Tanpa Sertifikasi Lestari: Stop Bisnis Hutan! Harian Republika tanggal 4 April 2002.
Saaty, T.L. 1998. Decision Making for Leaders: The Analytical Hierarchy Process for Decision in A Complex World. University of Pittsburgh.
RWS Publication.
Samsu, Suramenggala D.I, Komarudin, H., dan Ngau, Y. 2005. Dampak Desentralisasi Kehutanan terhadap Keuangan Daerah, Masyarakat Setempat dan Penataan Ruang:
Studi Kasus di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Case Study No. 12 b.
CIFOR. Bogor.
Satriyo, H.A., Abidin, A., Kusdaryanto, H.
dan Bulosan, L.A. 2003. Indonesia Rapid Decentralization Appraisal (IRDA). Third Report. The Asia Foundation 2003. Jakarta.
Sianturi, A., dan S. Hakim. 2004. Laporan Hasil Penelitian Kajian Kebijakan Sistem Tata Usaha Kayu. Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Budaya dan Ekonomi Kehutanan dan Forest Liaison Bureau.
Jakarta.
Soekotjo, dkk. 2005. Perubahan Pola Berpikir Pemegang Kebijakan tentang Dana Reboisasi.
Majalah Mingguan Agroindonesia, Volume II, No. 64, 30 Agustus 2005. Jakarta.
Suara Pembaharuan. 2003. Konflik Kewenangan dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah. Harian Suara Pembaharuan, tanggal 9 Januari 2003.
Jakarta.
Suara Pembaharuan. 2004. Pasca 2005, Diusulkan Formula Baru Pemberian DAU. Harian Suara Pembaharuan, tanggal 12 Juli 2004.
Jakarta.
Suara Pembaharuan. 2004a. Pemegang HPH Skala Besar Mulai Lunasi DR-PSDH. Harian Suara Pembaharuan, tanggal 12 Juli 2004.
Jakarta.
Subarudi, Erwidodo dan A. Sianturi. 2002.
Desentralisasi Pengurusan Hutan: Tuntutan atau Tantangan Menuju Pengelolaan Hutan
Lestari. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Budaya dan Ekonomi Kehutanan.
Bogor.
Subarudi. 2000. Pola Penerapan Otonomi di Kalimantan Timur. Harian Manuntung Kalimantan Timur tanggal 22 Agustus 2000.
Samarinda.
Sudirman, Wiliam D. dan Herlina, N. 2005.
Mekanisme Penyusunan Kebijakan Daerah di Bidang Kehutanan. Case Study No. 14b.
CIFOR. Bogor.
Sugandha, D. 2006. Akuntabilitas Versus Arogansi.
Harian Pikiran Rakyat, tanggal 17 April 2006.
Bandung.
LAMPIRAN
Lampir an 1. Alok asi DAK-DR Prov insi Jambi ke Kabupaten dalam tahun 2001- 2003
Kabupaten/kotaDAK-DR 2001DAK-DR 2002DAK-DR 2003JumlahRata-Rata Prop. Jambi(x1000 Rp)%(x1000 Rp)%(x1000 Rp)%(x1000 Rp)%(x1000 Rp)% Batanghari3 212 84019,163 365 00613,101 381 89713,677 959 74315,142 653 24815,14 Tanjabbar3 600 25021,476 216 47724,201 595 18115,7811 411 90821,713 803 96921,71 Tanjabtim1 042 5706,223 513 66113,682 446 06824,207 002 29913,322 334 10013,32 Muaro Jambi1 003 3305,981 364 9225,311 323 26513,093 691 5177,021 230 5067,02 Kota Jambi353 5102,11548 1582,13215 4002,131 117 06814,03372 3562,13 Kerinci650 0473,88885 1723,45348 5983,451 883 8173,58627 9393,58 Bungo705 9004,211 013 5563,95399 1393,952 118 5954,03706 1984,03 Sarolangun1 466 4708,752 162 2528,421 010 92210,004 639 6448,831 546 5488,83 Merangin1 723 12010,282 567 6759,99850 9798,425 141 7749,781 713 9259,78 Tebo3 010 11017,954 054 22415,78536 8435,317 601 17714,462 533 72614,46 Total Jambi16 768 147100,0025 691 103100,0010 108 292100,0052 567 542100,0017 522 514100,00 % terhadap Total DAK-DR2,394,142,182,95 Total DAK-DR700 505 269620 678 856462 826 3591 784 010 484 Sumber: Departemen Keuangan (2004; diolah)Lampir an 2. Alok asi DAK-DR Prov insi P apua ke Kabupaten dalam tahun 2001- 2003
Kabupaten/DAK-DR 2001DAK-DR 2002DAK-DR 2003JumlahRata-Rata Prop. Papua(x1000 RP)%(x1000 RP)%(x1000 RP)%(x1000 RP)%(x1000 RP)% Jayapura8 448 99312,293 864 6749,83858 7733,7413 172 44010,054 390 81310,05 Biak Numfor2 117 4043,082 095 9635,33551 0842,404 764 4513,641 588 1503,64 Yapen W3 887 3245,652 656 9636,761 249 1255,447 793 4125,952 597 8045,95 Manokwari7 314 66910,643 778 9659,611 402 9696,1112 496 6039,544 165 5349,54 Sorong4 874 1547,093 620 8189,213 641 75015,8612 136 7229,264 045 5749,26 Fakfak5 513 5018,022 294 6505,84833 5153,638 641 6666,602 880 5556,60 Nabire2 419 8903,522 150 5045,47755 4463,295 325 8404,061 775 2804,06 Merauke13 330 02319,398 781 22422,346 038 96826,3028 150 21521,489 383 40521,48 Jayawijaya5 637 2458,201 792 0864,561 301 9375,678 731 2686,662 910 4236,66 Kota Jayapura1 753 0452,551 032 3982,63714 1143,113 499 5572,671 166 5192,67 Puncak Jaya2 818 6224,10779 1681,98904 6983,944 502 4883,441 500 8293,44 Mimika1 773 6692,582 020 7325,14734 7793,204 529 1803,461 509 7273,46 Paniai2 956 1164,30876 5642,23851 8853,714 684 5653,581 561 5223,58 Kota Sorong1 099 9501,60935 0022,38711 8173,102 746 7692,10915 5902,10 Prop.Irian Jaya4 812 2827,002 629 6926,692 410 99510,509 852 9697,523 284 3237,52 Total Irja68 756 887100,0039 309 403100,0022 961 855100,00131 028 145100,0043 676 048100,00 % terhadap Total DAK-DR9,826,334,967,34 Total DAK-DR700 505 269620 678 856462 826 3591 784 010 484 Sumber: Departemen Keuangan (2004; diolah)Lampir an 3. Hasil inventarisasi penyelewengan APBD di er a otonomi daer ah
No.Provinsi/kabupatenDugaan penyimpangan penggunaan anggaranKerugian uang negara (Rp)Sumber 1.PadangKorupsi dana APBD10,44 miliarKoran Tempo (2004d) 2.BantenDana tak tersangka digunakan untuk perumahan pribadi10,5 miliar 3.NTBKorupsi APBD24 miliarKoran Tempo, (2004d) 4.SumbawaPenggelembungan dana dan salah penggunaan6,4 miliarKoran Tempo, (2004) 5.Lombok Tengah5,6 miliarKoran Tempo, (2004) 6.Jawa TimurPenggelembungan dana jasa pungut 200459,5 miliarKoran Tempo, (2004c) 7.DI YogyakartaKorupsi dana asuransi DRPD provinsi 20014,0 miliarKoran Tempo, (2004b) 8.Kota Cirebon, Jawa TengahDugaan Korupsi APBD Kota Cirebon Tahun 20010,99 miliarKompas (2004) 9.Kendari, SultengKorupsi APBD Kendari 20031,2 miliarKoran Tempo, (2004) 10.Kampar, RiauDana purnabakti dana APBD1,12 miliarKoran Tempo (2004e) 11.Sukabumi, Jawa Barat Korupsi APBD3,6 miliarPikiran Rakyat, (2007)The Center for International Forestry Research (CIFOR) is a leading international forestry research organisation established in 1993 in response to global concerns about the social, environmental, and economic consequences of forest loss and degradation. CIFOR is dedicated to developing policies and technologies for sustainable use and management of forests, and for enhancing the well-being of people in developing countries who rely on tropical forests for their livelihoods. CIFOR is one of the 15 centres supported by the Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR). With headquarters in Bogor, Indonesia, CIFOR has regional offices in Brazil, Burkina Faso, Cameroon and Zimbabwe, and it works in over 30 other countries around the world.
Donors
CIFOR receives its major funding from governments, international development organizations, private foundations and regional organizations. In 2005, CIFOR received financial support from Australia, Asian Development Bank (ADB), Belgium, Brazil, Canada, China, Centre de coopération internationale en recherche agronomique pour le développement (CIRAD), Cordaid, Conservation International Foundation (CIF), European Commission, Finland, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Ford Foundation, France, German Agency for Technical Cooperation (GTZ), German Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ), Indonesia, International Development Research Centre (IDRC), International Fund for Agricultural Development (IFAD), International Tropical Timber Organization (ITTO), Israel, Italy, The World Conservation Union (IUCN), Japan, Korea, Netherlands, Norway, Netherlands Development Organization, Overseas Development Institute (ODI), Peruvian Secretariat for International Cooperation (RSCI), Philippines, Spain, Sweden, Swedish University of Agricultural Sciences (SLU), Switzerland, Swiss Agency for the Environment, Forests and Landscape, The Overbrook Foundation, The Nature Conservancy (TNC), Tropical Forest Foundation, Tropenbos International, United States, United Kingdom, United Nations Environment Programme (UNEP), World Bank, World Resources Institute (WRI) and World
Forests and Governance Programme No. 12/2007
Program Forests and Governance di CIFOR mengkaji cara pengambilan dan pelaksanaan keputusan berkenaan dengan hutan dan masyarakat yang hidupnya bergantung dari hutan.
Tujuannya adalah meningkatkan peran serta dan pemberdayaan kelompok masyarakat yang kurang berdaya, meningkatkan tanggung jawab dan transparansi pembuat keputusan dan kelompok yang lebih berdaya dan mendukung proses-proses yang demokratis dan inklusif yang meningkatkan keterwakilan dan pengambilan keputusan yang adil di antara semua pihak.