Forests and Governance Programme No. 12/2007
Program Forests and Governance di CIFOR mengkaji cara pengambilan dan pelaksanaan keputusan berkenaan dengan hutan dan masyarakat yang hidupnya bergantung dari hutan.
Tujuannya adalah meningkatkan peran serta dan pemberdayaan kelompok masyarakat yang kurang berdaya, meningkatkan tanggung jawab dan transparansi pembuat keputusan dan kelompok yang lebih berdaya dan mendukung proses-proses yang demokratis dan inklusif yang meningkatkan keterwakilan dan pengambilan keputusan yang adil di antara semua pihak.
Otonomi Daerah Bidang Kehutanan
Implementasi dan Tantangan Kebijakan Perimbangan Keuangan
Subarudi
Subarudi • Haryatno DwiprabowoOtonomi Daerah Bidang Kehutanan • Implementasi dan Tantangan Kebijakan Perimbangan Keuangan
Otonomi Daerah Bidang Kehutanan:
Implementasi dan Tantangan Kebijakan Perimbangan Keuangan
Subarudi
Haryatno Dwiprabowo
© 2007 by Center for International Forestry Research All rights reserved
Foto oleh Deddy Irawan, Gusti Z. Anshari dan Max J. Tokede Center for International Forestry Research
Mailing address: P.O. Box 0113 BOCBD, Bogor 16000, Indonesia Tel.: +62 (251) 622622; Fax: +62 (251) 622100
E-mail: [email protected]
Web site: http://www.cifor.cgiar.org Subarudi
Otonomi daerah bidang kehutanan: implementasi dan tantangan kebijakan perimbangan keuangan/by Subarudi dan Haryatno Dwiprabowo. Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research (CIFOR), 2007.
ISBN: 978-979-14-1223-0 39p.
CABI thesaurus: 1. decentralization 2. forest management 3. forest resources 4. forest taxation 6. income distribution 7. forest policy
I. Title II. Dwiprabowo, Haryatno
Daftar Isi
Daftar Singkatan v
Kata Pengantar vii
Abstrak viii
Pendahuluan 1
Metode dan Lokasi Penelitian 3
Metode Penelitian 3
Lokasi Penelitian 5
Desentralisasi Pengelolaan Hutan: isu dan kebijakan prioritas 7
Desentralisasi: isu dan perubahannya 7
Perimbangan Keuangan Kehutanan: implementasi dan tantangan 10
Mekanisme Pengumpulan DR 13
Pola dan Mekanisme Alokasi dan Distribusi DR 17
Efektifitas Penggunaan DR 22
Dampak Pemanfaatan DAK-DR 25
Penyempurnaan Kebijakan DAK-DR 25
Kesimpulan dan Rekomendasi 30
Kesimpulan 30
Rekomendasi 30
Daftar Pustaka 31
Lampiran 35
Lampiran 1. Alokasi DAK-DR Provinsi Jambi ke Kabupaten dalam tahun 2001-2003 37 Lampiran 2. Alokasi DAK-DR Provinsi Papua ke Kabupaten dalam tahun 2001-2003 38 Lampiran 3. Hasil inventarisasi penyelewengan APBD di era otonomi daerah 39
Gambar
1. Kerangka analisis yang digunakan dalam penelitian ini 4
2. Skema penetapan DR berdasarkan sistem silvikultur. 14
3. Skema tata cara pembayaran DR 14
4. Mekanisme Alokasi DR 18
5. Nilai prioritas kegiatan pembangunan dalam DAS 26
Tabel
1. Alokasi kawasan hutan setiap kabupaten di Provinsi Jambi 5 2. Alokasi kawasan hutan setiap kabupaten di Provinsi Papua 6
3. Luas kawasan hutan di Kabupaten Manokwari dan Bintuni 6
4. Transfer dana ke daerah dalam 6 tahun terakhir (2001-2006) 10 5. Pola distribusi atau alokasi sumber-sumber keuangan dalam era otonomi daerah 11 6. Perbedaan deskripsi tentang DR dari 4 (empat) peraturan perundangan yang berlaku 12
7. Penerimaan DR Dephut dalam 8 tahun terakhir 15
8. Selisih kekurangan kayu bulat industri perkayuan tahun 1997/1998 – 2005 15 9. Realisasi penerimaan DR Provinsi Jambi dan Papua antara 1999/2000 sampai 2003 17 10. Selisih kekurangan kayu bulat dalam industri perkayuan di Jambi tahun 1997/1998 – 2001 17 11. Selisih kekurangan kayu bulat dalam industri perkayuan di Papua tahun 1997/1998 – 2001 17 12. Alokasi dan distribusi dana DR (60%) yang diterima Dephut dalam kurun tujuh tahun 19 13. Permasalahan yang dihadapi Dephut dalam pelaksanaan alokasi/distribusi anggaran 19
14. Perkembangan alokasi DAK-DR Tahun 2001-2003 20
15. Kriteria dan skor dalam alokasi DAK-DR di Provinsi Jambi dan Papua 20 16. Alokasi DAK-DR di Provinsi Jambi dan Papua Tahun 2001 – 2003 21 17. Realisasi dana penerimaan dan pembiayaan Dephut dalam 8 tahun (1998/1999-2005) 22 18. Permasalahan yang dihadapi Dephut dalam upaya meningkatkan efektivitas pemanfaatan
dana yang diterima 23
Daftar Gambar & Tabel
AHP Analytical Hierarchy Process
APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Bangda Pembangunan Daerah
Baplan Badan Planologi
BPDAS Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai BPHTB Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
BPK Bina Produksi Kehutanan
Bujagir Bunga dan Jasa Giro BUMD Badan Usaha Milik Daerah
CIFOR Center for International Forestry Research
DAK Dana Alokasi Khusus
DAS Daerah Aliran Sungai
DAU Dana Alokasi Umum
DBH Dana Bagi Hasil
Dephut Departemen Kehutanan
DIK Daftar Isian Kegiatan
DIP Daftar Isian Proyek
DIPDA Daftar Isian Proyek Daerah Dirjen Direktorat Jenderal
DJA Direktorat Jenderal Anggaran
DOKP Dana Otonomi Khusus dan Perimbangan DPEH Denda Pelanggaran Eksploitasi Hutan DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DR Dana Reboisasi
ESL Ekspor Satwa Liar
Gerhan/GNRHL Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan HHBK Hasil Hutan Bukan Kayu
HP Hutan Produksi
HPT Hutan Produksi Terbatas
HTI Hutan Tanaman Industri
HTR Hutan Tanaman Rakyat
IHPH Iuran Hak Pengusahaan Hutan
IHPHTI Iuran Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri IIUPH Iuran Ijin Usaha Pemanfaatan Hutan
Inpres Instruksi Presiden
ITTO International Tropical Timber Organization IUPHHK Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu IWPL Iuran Wajib Pendidikan dan Pelatihan
Kaltim Kalimantan Timur
KSA Kawasan Suaka Alam
Daftar Singkatan
LHC Laporan Hasil Cruising
NTB Nusa Tenggara Barat
NTT Nusa Tenggara Timur
PAD Pendapatan Asli Daerah
PBB Pajak Bumi dan Bangunan
Pemda Pemerintah Daerah
PKPD Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah
PKPPPD Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah PNBP Penerimaan Negara Bukan Pajak
PP Peraturan Pemerintah
PPh Pajak Penghasilan
PSDH Provisi Sumber Daya Hutan
PUIPA Pungutan Usaha dan Ijin Pariwisata
RHL Rehabilitasi Hutan dan Lahan
RLKT Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah RLPS Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial
SDA Sumber Daya Alam
SDM Sumber Daya Manusia
SE Surat Edaran
SK Surat Keputusan
TPTI Tebang Pilih Tanam Indonesia
UPT Unit Pelaksana Teknis
UU Undang-Undang
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas hidayah dan innayahNya sehingga tulisan berjudul “Otonomi Daerah Bidang Kehutanan: Implementasi dan Tantangan Kebijakan Perimbangan Keuangan” ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Tulisan ini merupakan bagian kerjasama penelitian antara Pusat Penelitian Sosial Budaya Dan Ekonomi Kehutanan, Badan Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) Departemen Kehutanan dengan Center for International Forestry Research (CIFOR) yang didanai oleh Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR).
Penelitian lapangan di Provinsi Papua dan Jambi yang menjadi bahan studi kasus dalam tulisan ini dilaksanakan selama 4 (tiga) bulan dari Bulan Juni sampai dengan Bulan September 2004. Isi tulisan ini telah diperbaharui dengan data dan informasi terkini yang terkait dengan perubahan peraturan dan perundang-undangan di bidang otonomi daerah dan di bidang kehutanan yang membawa dampak perubahan terhadap topik penelitian ini, yaitu perimbangan keuangan pusat dan daerah di sektor kehutanan.
Penyusun menyadari bahwa tulisan ini masih memerlukan penyempurnaan dan pengayaan informasi di sana-sini, oleh karena itu saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca sangat dihargai dan diharapkan. Tak lupa pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dana, sumbangan pemikiran dan bantuan dalam pelaksanaan penelitian ini hingga tersusun laporan akhirnya. Terima kasih kami sampaikan terutama kepada ACIAR sebagai penyandang dana, dan Doris Capistrano, Moira Moeliono, Daju Resosudarmo, Ahmad Darmawan dan Heru Komarudin (CIFOR) yang telah mengkoordinir dan memberikan masukan yang konstruktif terhadap laporan kami. Tidak lupa kami sampaikan juga terima kasih kepada Marthen Kayoi dan Benyamin Halattu (Dinas Kehutanan Provinsi Papua), Gatot Moeryanto, Wahyu Widodo, Erik Mardi Cahyono (Dinas Kehutanan Provinsi Jambi), Slamet Gadas, Agus Sarsito, Fitri Nurfatriani, Elvida YS, Kresno Hindarto, Rufi’e, dan Yuli Rachmawati (Puslisosek), Abdullah Tuhahera, Arief Rachmanto, dan Herman (Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Manokwari). Semoga amal dan budi baik Bapak dan Ibu sekalian mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Bogor, 30 Juni 2007 Penulis
Abstrak
Desentralisasi pengelolaan sumber daya hutan (SDH) di Indonesia pada dasarnya digagas untuk menyelamatkan hutan Indonesia yang semakin rusak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah melalui sistem pemanfaatan hutan yang lestari. Namun pelaksanaan pengelolaan hutan di era otonomi daerah memunculkan banyak persoalan, seperti perebutan kewenangan dan eksploitasi SDH untuk tujuan sesaat (peningkatan PAD) yang berdampak pada semakin luasnya hutan yang rusak, dan tidak jelasnya distribusi manfaat dan finansial dari pemanfaatan hutan. Oleh karena itu kajian perimbangan keuangan pusat dan daerah (PKPD) di sektor kehutanan menjadi penting dan dibutuhkan. Penelitian ini mengkaji berbagai peraturan perundangan terkait dan mengevaluasi pelaksanaannya di daerah serta membuat usulan penyempurnaan dari kebijakan tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penarikan pungutan kehutanan belum berjalan sebagaimana mestinya, yang antara lain ditandai masih banyaknya tunggakan DR dan PSDH oleh perusahaan-perusahaan di bidang kehutanan. Disamping itu, penerimaan dari pungutan tersebut yang dialokasikan ke daerah-daerah dalam bentuk DAK-DR (yang berubah menjadi DBH sejak tahun 2005) belum dilakukan secara adil, transparan dan akuntabel. Pemanfaatan DBH sektor kehutanan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di daerah sangat rawan terhadap penyimpangan, kolusi, dan korupsi sehingga perlu dilakukan perubahan kebijakan agar dapat mempersempit ruang gerak penyimpangan tersebut. Kebijakan yang perlu dirumuskan adalah memperjelas aturan main (peraturan perundangan dan pedoman umum) tentang siapa berbuat apa, dimana dan kapan harus dilaksanakan serta apa tanggung jawabnya dalam pelaksanaan RHL tersebut. Dephut harus tegas dan berani mengembalikan DBH yang diterimanya apabila waktu turunnya anggaran tidak sesuai dengan rencana pelaksanaan RHL (yang dimulai Bulan April). Ini menjadi bukti keseriusan Dephut dalam menyelamatkan dan mengefektifkan pemanfaatan DBH sektor kehutanan untuk pembangunan kehutanan di daerah.
Kata kunci: Desentralisasi kehutanan, dana perimbangan, penerimaan negara bukan pajak
Makna keluarnya UU Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah dinyatakan oleh Ryaas Rasjid, adalah untuk mengembalikan harga diri pemerintah daerah yang seringkali dilecehkan oleh masyarakatnya karena tidak mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk menyelesaikan berbagai masalah dan kasus-kasus konflik serta penciptaan lapangan pekerjaan. Otonomi daerah atau desentralisasi dipandang sebagai salah satu langkah penyelesaian yang tepat untuk mengembalikan harga diri pemerintah daerah di mata masyarakatnya (Kompas, 2000a).
Desentralisasi pengelolaan sumberdaya hutan di Indonesia pada dasarnya digagas untuk menyelamatkan hutan Indonesia yang semakin rusak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah melalui sistem pemanfaatan hutan yang lestari. Akan tetapi dalam pelaksanaannya di lapangan, kebijakan desentralisasi pengelolaan hutan ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan. Kebijakan desentralisasi dinilai beberapa pihak justru menyebabkan kerusakan lingkungan lebih parah, karena pemerintah daerah lebih leluasa melakukan eksploitasi sumberdaya alam, termasuk hutan, untuk meningkatkan pendapatan daerah (Media Indonesia, 2002). Hal ini diperparah dengan banyaknya aturan pemerintah pusat dan daerah yang bertentangan, dan tidak ada kejelasan pembagian kewenangan pemerintah pusat dan daerah dalam pengelolaan sumberdaya hutan (Suara Pembaharuan, 2003).
Masalah mendasar yang muncul adalah adanya beberapa perangkat hukum yang kurang serasi, yaitu UU No. 22/1999, UU No.
25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (PKPPD) dan UU No. 41/1999 tentang Kehutanan. Dephut menganggap bahwa desentralisasi kehutanan
diatur dengan beberapa pembatasan sesuai dengan UU No. 41/1999, sedangkan pemerintah daerah berpegang pada UU No. 22/1999 yang memberikan banyak kewenangan pada daerah, terutama dalam pemberian hak pengusahaan pada hutan produksi.
Pelaksanaan desentralisasi kehutanan juga ditandai dengan terjadinya tarik menarik kepentingan dan kekuasaan atas pengelolaan hutan. Di satu pihak, pemerintah pusat enggan melepaskan kekuasaan yang telah lama dalam genggamannya dan di lain pihak pemerintah daerah berlomba-lomba meraih kekuasaan dan jabatan di daerahnya dengan berbagai macam cara. Hal ini diperparah oleh keterlambatan Dephut mengeluarkan peraturan perundangan yang mengatur kewenangan pengelolaan hutan, yang sudah didahului oleh keluarnya PP No.
25/2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai daerah Otonom (Subarudi, et al, 2002). Namun pada akhirnya pemerintah mengeluarkan PP No. 38 Tahun 2007 sebagai pengganti PP No. 25/2000 yang terkait dengan pembagian urusan pemerintahan antar pemerintah pusat, provinsi dan daerah.
Sudirman et al. (2005) menyatakan bahwa peraturan daerah di bidang kehutanan yang dirumuskan oleh Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, belum mengarah pada tertib pengelolaan hutan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengakuan atas budaya dan kearifan setempat, dan pelibatan masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar hutan.
Samsu et al. (2005) juga menggambarkan kondisi yang serupa di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Di kabupaten tersebut, kebijakan lebih banyak terkait ijin pemanfaatan hutan skala kecil, dan belum menyentuh pengelolaan sumberdaya hutan secara menyeluruh. Di kedua kabupaten, perda kehutanan lebih karena alasan
Pendahuluan
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ternyata menimbulkan berbagai dampak negatif dan bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi.
ITTO (2001) melihat kelemahan desentralisasi kehutanan di Indonesia terletak pada penerapannya yang dilakukan terburu- buru tanpa melalui persiapan yang cukup untuk menjamin peralihan yang mulus. Hal ini sejalan dengan pesan Megawati Soekarnoputri, yang saat itu masih Wakil Presiden, yang menyatakan bahwa pelaksanaan otonomi sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru tetapi harus dilakukan dengan sabar, tenang dan rasional (Kompas, 2000b).
Peringatan tersebut perlu dipahami karena saat itu di beberapa daerah kata
“otonomi” cenderung dipandang sebagai “auto- money” atau kewenangan untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan pendapatan daerah sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan aspek lain. Agar pelaksanaan otonomi berjalan lancar dan sukses, Subarudi (2000) menegaskan perlunya melakukan inventarisasi potensi SDA dan sumberdaya manusia, mencari alternatif pemenuhan PAD, mengkaji ulang sistem perimbangan keuangan pusat dan daerah, dan
mendorong adanya kerjasama antara pemda kabupaten yang disertai sistem pengawasan.
Lebih jauh ITTO (2001) melaporkan bahwa desentralisasi berdampak pada perlunya sumber- sumber penerimaan yang memadai untuk pemerintah pusat dan daerah. Bagi pemerintah daerah, penerimaan dari dana perimbangan melalui Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil (DBH) adalah unsur terpenting di samping PAD. Apabila PAD rendah, maka pemerintah daerah akan sangat bergantung pada dana perimbangan dan dana proyek. Oleh sebab itu, disamping pembagian kewenangan yang jelas, sistem perimbangan keuangan kehutanan antara pemerintah pusat dan daerah yang adil dinilai sebagai salah satu kunci untuk menjamin keberhasilan penerapan desentralisasi kehutanan.
Laporan ini menyajikan hasil telaahan (review) terhadap kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah di bidang kehutanan dan dasar penetapan, tatacara penyaluran (mekanisme distribusi) dan pemanfaatannya dalam sistem pengelolaan sumberdaya hutan.
Pada bagian akhir, diuraikan rekomendasi untuk menyempurnakan kebijakan dimaksud.
Metode Penelitian
Kajian dilakukan melalui tiga kegiatan utama berikut:
• Telaahan (review) terhadap kajian-kajian terdahulu (previous studies) yang terkait dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah di bidang kehutanan dan dampaknya terhadap pengelolaan sumberdaya hutan;
• Telaahan atas peraturan-perundangan yang terkait dengan kebijakan keuangan di tingkat pusat dan daerah dalam pengelolaan sumberdaya hutan;
• Analisis atas hasil-hasil telaahan dan perumusan pilihan kebijakan sebagai masukan dalam perbaikan peraturan perundang-undangan desentralisasi kehutanan, khususnya yang terkait dengan alokasi APBD untuk pembangunan hutan dan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
Telaahan terhadap kajian terdahulu Metoda yang digunakan adalah dengan mengumpulkan dan menganalisis hasil kajian- kajian terdahulu oleh berbagai pihak tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah di bidang kehutanan dan peraturan perundangan tentang kebijakan keuangan di bidang kehutanan untuk tingkat pusat dan daerah. Kajian-kajian tersebut ditelaah untuk mendapatkan informasi mengenai:
• Persamaan dan perbedaan pemahaman instansi pemerintah pusat dan daerah atas kebijakan desentralisasi kehutanan, terutama yang terkait dengan dasar penetapan dan perimbangan keuangan pusat dan daerah dari hasil pengelolaan sumberdaya hutan
• Dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang timbul akibat penerapan kebijakan desentralisasi tersebut.
Untuk menggali pemahaman dan harapan tentang dasar penetapan dan pembagian keuangan, dan merumuskan pilihan kebijakan yang tepat, dilakukan wawancara dan diskusi dengan berbagai pihak di pusat dan daerah.
Sebuah semiloka di bagian akhir tahap penelitian dilakukan untuk membangun kesepahaman dan kesepakatan tentang dasar penetapan dan pembagian keuangan.
Teknik yang digunakan dalam telaahan ini adalah pengumpulan bahan pustaka (literature) dan diskusi antar peneliti atau pakar-pakar di bidang desentralisasi pengelolaan hutan.
Telaahan atas Peraturan Perundangan Perbedaan pemahaman atas peraturan perundangan tentang desentralisasi kehutanan serta benturan (conflict) kepentingan, khususnya “perebutan” kewenangan dan pembagian keuangan, tampaknya menjadi penyebab utama tidak mulusnya pelaksanaan kebijakan desentralisasi kehutanan. Melalui kajian ini, peraturan-perundangan desentralisasi kehutanan yang dikeluarkan oleh lembaga di pusat dan daerah, khususnya peraturan dan perundangan yang terkait dengan pembagian atau perimbangan keuangan, ditelaah lebih lanjut.
Untuk tingkat daerah, telaahan terfokus pada peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah di provinsi dan kabupaten yang terkait dengan kegiatan operasional pengelolaan hutan di daerahnya. Selain pengumpulan bahan peraturan-perundangan, teknik diskusi dan wawancara diterapkan untuk menggali informasi tentang pemahaman aparat pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat di pusat dan daerah (provinsi dan kabupaten) terhadap peraturan-perundangan desentralisasi di bidang kehutanan, termasuk menggali harapan mereka
Metode dan Lokasi Penelitian
Gambar 1. Kerangka analisis yang digunakan dalam penelitian ini Kebijakan Fiskal Kehutanan
DR dan PSDH
Pemanfaatan
Dampak
Kriteria yang diharapkan:
Rehabilitasi hutan
Pembangunan kehutanan nasional dan daerah; dan Kehidupan masyarakat sekitar hutan
Kondisi saat ini, masalah dan kendala
Mekanisme pemungutan dan distribusi
Distribusi/alokasi antara pemerintah pusat
dan daerah
Kebijakan pemerintah
daerah
Pemanfaatan langsung management Pemanfaatan tidak langsung untuk
forest management
Pemanfaatan di luar kehutanan
Kinerja rehabilitasi
hutan
Kinerja pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan kehutanan (termasuk rehabilitasi hutan)
Kinerja kesejahteraan
masyarakat
Kesenjangan Rekomendasi
penyempurnaan kebijakan atas pembagian keuangan dari hasil sumberdaya
hutan dan dampak kebijakan perimbangan keuangan terhadap kondisi keuangan pemerintah saat ini dan masa mendatang.
Di tingkat pusat, diskusi dan wawancara dilakukan dengan aparat di Dephut, Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan, beberapa perusahaan dan asosiasi kehutanan, serta ilmuwan di perguruan tinggi. Di provinsi dan kabupaten, diskusi dan wawancara dilakukan
dengan aparat Bappeda, Dinas Kehutanan, anggota DPRD, perusahaan kehutanan dan lembaga swadaya masyarakat.
Analisis dan Perumusan Kebijakan
Setelah kedua telaahan selesai, analisis dilakukan untuk merumuskan pilihan (options) rekomendasi kebijakan desentralisasi di bidang kehutanan, khususnya kebijakan yang terkait dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah
dari hasil pengelolaan sumberdaya hutan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif untuk masing-masing topik bahasan sebagaimana tergambar dalam Gambar 1.
Analisis hasil telaahan dan perumusan pilihan rekomendasi kebijakan tersebut dilakukan melalui beberapa diskusi internal yang selanjutnya diperkenalkan dan ditawarkan kepada para pihak pemangku kepentingan (stakeholders) di pusat dan daerah melalui serangkaian lokakarya dan semiloka yang diselenggarakan di daerah seperti di Jambi, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Irian Jaya Barat dan di tingkat pusat di Jakarta.
Lokasi Penelitian
Provinsi yang dipilih untuk mewakili daerah dalam kajian ini adalah Jambi dan Irian Jaya Barat. Jambi dipilih untuk mewakili provinsi yang tanpa otonomi khusus, sedangkan Irian Jaya Barat untuk mewakili provinsi dengan otonomi khusus. Pada kedua provinsi tersebut dipilih masing-masing dua kabupaten yang produksi kayunya relatif besar dan yang produksi kayunya relatif sedikit. Produksi kayu suatu kabupaten dapat dicerminkan dengan besarnya luas hutan produksi yang dimilikinya. Kabupaten yang dipilih di provinsi Jambi adalah Tebo dengan luas hutan produksi (HP dan HPT) yang mencapai 88,5 % dari luas kawasan hutan, dan Kerinci yang luasan hutan produksinya hanya 11,7 % dari luas kawasan hutan di kabupaten tersebut (lihat Tabel 1).
Untuk provinsi Papua, dipilih Kabupaten Manokwari dan Bintuni. Kabupaten Bintuni adalah kabupaten pemekaran dari Kabupaten Manokwari. Luas Kabupaten Manokwari sebelum pemekaran tersaji pada Tabel 2. Setelah pemekaran luas hutan dua kabupaten tersebut adalah sebagaimana pada Tabel 3. Karena data luas hutan tidak bisa didapatkan, maka data luas pada Tabel 3 merupakan data perkiraan dari Peta Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Irian Jaya skala 1:250.000 (untuk Kabupaten Manokwari) dan Peta Paduserasi Penataan Ruang Provinsi Irian Jaya (untuk Kabupaten Bintuni).
Pengumpulan bahan pustaka dilakukan di Jakarta dan Bogor, sedangkan pengumpulan peraturan perundangan termasuk surat keputusan, wawancara serta diskusi dilakukan di Jakarta, Bogor, Jambi (Kabupaten Tebo dan Kerinci), dan Irian Jaya (Kabupaten Manokwari dan Bintuni). Semiloka diadakan di Jakarta dengan mengundang para pihak terkait seperti Departemen Keuangan, Dephut (Dirjen BPK, Baplan, Biro Hukum, Biro Perencanaan dan Keuangan, dan Dirjen RLPS), Departemen Dalam Negeri, akademisi, peneliti, LSM dan praktisi kehutanan.
Data dan informasi yang telah dikumpulkan diperbaharui dengan data dan informasi terbaru seiring dengan adanya perubahan peraturan perundangan-undangan di bidang otonomi daerah (UU No. 32/2004, UU No. 33/2004) dan di bidang kehutanan (PP No. 06/2007) yang membawa dampak perubahan terhadap topik penelitian ini, yaitu perimbangan keuangan pusat dan daerah di sektor kehutanan.
Tabel 1. Alokasi kawasan hutan setiap kabupaten di Provinsi Jambi Kabupaten
Kawasan Pelestarian
Alam(ha)
Hutan Lindung
(ha)
Hutan Produksi
(ha)
Hutan Produksi Terbatas
(ha)
Luas Total Kawasan
Hutan (ha) Muara Jambi 33 165,00 26 948,00 20 648,00 59 259,00 140 020,00
Batanghari 55 321,37 - 108 301,60 51 082,00 214 704,97
Tanjabar 132 436,60 19 277,00 55 175,20 - 206 888,80
Tanjatim 12 728,00 16 056,10 182 605,60 41 955,00 253 344,70
Tebo 32 447,00 - 229 807,80 20 007,00 282 261,80
Bungo 34 909,00 13 529,40 98 226,00 - 146 664,40
Sarolangun 10 523,74 54 285,50 98 561,00 76 349,00 239 719,24
Merangin 121 046,00 36 734,00 136 275,00 44 118,00 338 173,00
Kerinci 230 590,00 - 30 489,80 - 261 079,80
Kota Jambi 0,00 - - - 0,00
JUMLAH 663 166,71 166 830,00 960 090,00 292 770,00 2 082 856,71 Sumber: Dinas Kehutanan Provinsi Jambi (2002).
Tabel 2. Alokasi kawasan hutan setiap kabupaten di Provinsi Papua Kabupaten Kawasan
Konservasi (ha)
Hutan Lindung
(ha) Hutan Produksi
Terbatas (ha) Hutan Produksi
(ha) Total Kawasan Hutan (ha)
Jayapura 6 978 1 054 586 1 880 43 250 1 106 694
Biak Numfor 48 808 122 336 30 974 30 987 233 105
Yapen W 121 704 651 420 114 364 306 760 1 194 248
Manokwari 867 863 748 029 451 280 643 000 2 710 172
Sorong 856 977 691 297 168 560 545 214 2 262 048
Fakfak 160 463 376 130 426 689 921 150 1 884 432
Nabire 154 098 708 300 197 794 268 187 1 328 379
Merauke 1 976 115 1 118 042 102 906 5 794 473 8 991 536
Jayawijaya 1 201284 2 940 944 - 174 237 4 316 465
Kota Jayapura 6 978 11 040 1 880 43 250 63 148
Puncak Jaya 470 236 401 954 - 158 000 1 030 190
Mimika 680 460 743 949 82 718 247 426 1 754 553
Paniai 78 557 1 047 252 - 241 264 1 367 073
Kota Sorong - 3 811 - - 3 811
Total 6 630 521 10 619 090 1 579 045 9 417 198 28 245 854
Sumber: BPS Papua (2003)
Tabel 3. Luas kawasan hutan di Kabupaten Manokwari dan Bintuni
Kabupaten Kawasan Konservasi
(ha)
Hutan Lindung (ha)
Hutan Produksi Terbatas
(ha)
Hutan Produksi
(ha)
Hutan Produksi yang dapat Dikonversi
(ha)
Area penggunaan
Lain (ha)
Total Kawasan
Hutan (ha)
Manokwari 558 902 432 268 176 399 57 875 118 062 71 790 1 415 297
Bintuni 180 562 69 125 133 312 444 067 361 000 15 375 1 203 442
Sumber: Peta Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Irian Jaya skala 1:250.000 (untuk Kabupaten Manokwari) dan Peta Paduserasi Penataan Ruang Provinsi Irian Jaya (untuk Kabupaten Bintuni).
Desentralisasi: isu dan perubahannya
Penyelenggaraan otonomi daerah diharapkan memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, terutama dalam mengembangkan kehidupan yang demokratis. Otonomi daerah mendorong upaya pemberdayaan masyarakat, memperkuat kedudukan dan kemampuan pemda, meningkatkan pelayanan umum dan meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan daerah (Maklin, 2000). Hakekat otonomi daerah adalah kebebasan bagi daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan aspirasi dan karakteristik kebutuhan daerah itu sendiri (Misbach, 2003).
Sebenarnya desentralisasi atau otonomi daerah sudah dimulai sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, bahkan sudah jauh saat Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda (Dermawan, 2004). Setelah kemerdekaan, sistem otonomi daerah lebih jauh diatur melalui peraturan perundangan seperti UU No. 22/1948 yang kemudian diperbaharui oleh UU No. 1/1957. Selain itu peraturan perundangan lainnya juga diterbitkan seperti UU No. 18 /1965, UU No. 5/1974, UU No. 22/1999, dan UU No. 32/2004 (Sugandha, 2006).
Prinsip-prinsip pengaturan kewenangan pemerintah antara lain: (i) pada dasarnya semua kewenangan pemerintahan diserahkan kepada daerah, kecuali bidang pertahanan dan keamanan, politik luar negeri, moneter dan fiskal, peradilan, agama serta kewenangan pemerintah lainnya yang secara nasional lebih berdaya guna dan berhasil guna jika diurus oleh pemerintah pusat; (ii) penyerahan kewenangan pemerintah kepada daerah harus disertai dengan pembiayaan, SDM, sarana dan prasarana; dan (iii) pelaksanaan kewenangan pemerintahan yang
telah diserahkan kepada daerah didasarkan pada norma, standar dan prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah (Maklin, 2000).
Beberapa unsur pokok yang perlu dipertimbangkan agar pelaksanaan otonomi daerah lebih efektif, yaitu: (1) kelembagaan yang demokratis, efektif dan efisien, (2) tersedianya sumber daya aparatur daerah yang memadai, (3) kekuatan ekonomi daerah yang dapat digerakkan sebagai sumber PAD, (4) pemberian insentif fiskal dan non fiskal guna mengembangkan potensi daerah, dan (5) pengaturan hubungan keuangan pusat dan daerah yang adil dan proporsional secara riil.
Sebagian berpandangan bahwa ketika UU No. 22/1999 diberlakukan, pemerintah kabupaten/kota cenderung lebih memanfaatkan kewenangan untuk mendorong pembangunan daerah dan eksploitasi sumberdaya demi peningkatan PAD. Dalam beberapa kasus, rambu-rambu aturan seperti UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih, Bebas KKN cenderung diabaikan karena tidak berjalannya pengawasan dari pusat. Ketika kasus penyimpangan oleh pemerintah kabupaten/
kota terjadi, misalnya, kepala daerah provinsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat tidak mampu berbuat apa-apa dan cenderung diremehkan dengan alasan tidak adanya hierarki antar tingkat pemerintahan, yang berakibat tidak adanya pengawasan dari pemerintah di atasnya.
Hal ini yang antara lain memicu tuntutan adanya perubahan UU No. 22/1999 yang direvisi melalui UU No. 32/2004 yang memberikan wewenang kepada Gubernur sebagai pembina dalam pelaksanaan otonomi kabupaten dan kota dalam kedudukannya sebagai wakil pemerintah pusat (Sugandha, 2006).
Dalam konsiderannya, UU No. 32/2004 menyebutkan perlunya efisiensi dan efektivitas
Desentralisasi Pengelolaan Hutan: isu dan
kebijakan prioritas
penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan lebih memperhatikan hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global. Kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. UU No. 22/1999 direvisi karena dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah.
Sebenarnya UU No. 32/2004 masih menggunakan prinsip-prinsip penyelenggaraan otonomi daerah yang tercantum dalam UU No.
22/1999. Namun, kebijakan yang baru lebih diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah, seperti yang tertuang dalam salah satu konsiderannya.
UU No. 32/2004 memberikan kewenangan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk mencabut perda-perda yang tidak sesuai dan bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih atas. Posisi Gubernur yang lebih kuat dari sebelumnya terlihat dari tugas dan wewenang tambahan sebagai pembina dan pengawas pelaksanaan otonomi kabupaten/
kota, selain tentunya menjadi penyelenggaraan urusan pemerintah.
Desentralisasi di bidang Kehutanan
Perubahan kebijakan di sektor kehutanan terjadi dengan direvisinya PP No. 34/2002 menjadi PP No.
6/2007 yang mengatur tata hutan, perencanaan kehutanan dan pemanfaatan hutan. Selain mempertegas kembali kewenangan pemerintah pusat dan daerah dalam pengurusan hutan dan meluasnya opsi keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan melalui berbagai strategi kebijakan, perubahan tersebut berdampak juga terhadap PNBP dari sektor kehutanan, khususnya DR dan mekanisme penarikan serta penyetorannya.
Berdasarkan PP 25/1999, pemerintah pusat, dalam hal ini Dephut, secara garis besar mempunyai kewenangan untuk menetapkan kebijakan yang mendukung pembangunan secara makro, rencana makro kehutanan, dan kriteria dan standar. Dephut juga berwenang mengatur penerapan perjanjian atau persetujuan
internasional yang disahkan atas nama negara di bidang kehutanan dan menyelenggarakan ijin usaha pemanfaatan hasil hutan di hutan produksi dan pengusahaan pariwisata alam yang eksternalitasnya lintas provinsi.
Dephut telah menetapkan visinya untuk periode 2004-2009 yang juga sudah mendapatkan persetujuan DPR yakni ”terwujudnya penyelenggaraan kehutanan untuk menjamin kelestarian hutan dan peningkatan kemakmuran rakyat”. Misi Dephut yang terkait langsung dengan otonomi daerah dan perimbangan keuangan antara lain (i) mewujudkan aparat dan lembaga pemerintahan yang bersih, kuat dan berwibawa serta melayani masyarakat, (ii) membangun kebersamaan pembangunan dan kemitraan yang setara antar pihak terkait (stakeholders), (iii) mengoptimalkan fungsi SDH yang meliputi ekonomi, ekologi dan sosial secara seimbang dan lestari dengan mengedepankan prinsip konservasi di dalam pengelolaan dan pemanfaatan SDA hayati, (iv) mewujudkan kapasitas kelembagaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara proporsional, berkeadilan, berwawasan lingkungan untuk menciptakan ketahanan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat, (v) mewujudkan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab, (vi) meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan selaras dengan semangat otonomi daerah, (vii) menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan, dan (vii) memantapkan koordinasi antara pusat dan daerah.
Dalam rencana kerja untuk periode tahun 2005-2009, Dephut telah menetapkan sasaran prioritas antara lain:
1. Tercapainya desentralisasi pembangunan kehutanan yang didukung oleh stakeholders dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendorong pelestarian sumber daya hutan;
2. Pemberantasan pencurian kayu dan perdagangan kayu ilegal;
3. Penambahan pembangunan hutan tanaman sehingga mencapai seluas 5 juta ha dan rehabilitasi hutan seluas 5 juta ha;
4. Penerapan prinsip pengelolaan hutan lestari antara lain dengan membangun minimal satu unit pengelolaan hutan di setiap provinsi;
5. Revitalisasi dan pengembangan hutan rakyat terutama di luar pulau Jawa;
6. Pengembangan aneka usaha kehutanan non- kayu dan jasa lingkungan secara komersial;
7. Peningkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 3-10% dan pendapatan masyarakat di dalam dan sekitar hutan sebesar 3-4%.
Desentralisasi kehutanan sebagai kebijakan prioritas Dephut mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Jika dalam periode sebelumnya (1999-2003) penguatan desentralisasi menjadi salah satu kebijakan prioritas, maka untuk periode 2004-2009, desentralisasi pengurusan kehutanan menjadi salah satu kebijakan pendukung dari lima kebijakan prioritas kehutanan tahun 2004-2009, yang antara lain mencakup penanganan pencurian kayu dan perdagangan kayu ilegal, revitalisasi sektor kehutanan khususnya industri kehutanan, rehabilitasi dan konservasi sumber daya hutan, pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan dan pemantapan kawasan hutan.
Mencermati visi, misi, sasaran dan kebijakan prioritas Dephut dan perkembangannya yang terkait dengan otonomi daerah, dapat disampaikan empat hal berikut:
1) Sampai saat ini, program kehutanan nasionalnya (national forestry program) belum selesai disusun dan masih dalam proses sosialisasi dan diskusi. Padahal program kehutanan nasional tersebut menjadi pedoman dan acuan bagi pemerintah-
pemerintah daerah dalam melaksanakan desentralisasi pengelolaan hutan.
2) Target desentralisasi, pelimpahan wewenang dan tanggung jawab secara bertahap kepada pemerintah daerah telah ditetapkan dalam PP 34/2002 maupun PP 6/2007. Namun demikian, pedoman, kriteria dan standar penyelenggaraan kehutanan masih belum selesai disusun. Terlambatnya penyusunan pedoman tersebut menghambat penyusunan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis oleh instansi kehutanan di daerah.
3) Sekalipun merupakan cerminan adaptasi terhadap perubahan yang terjadi,, visi dan misi Dephut yang sering berubah-ubah akan berdampak buruk terhadap pemahaman individu di lingkungan kerjanya dan menciptakan suasana yang kontraproduktif terhadap pencapaian visi dan misi itu sendiri.
4) Berubahnya arah kebijakan desentralisasi kehutanan yang sebelumnya merupakan kebijakan prioritas menyisakan pertanyaan tentang sejauh mana komitmen pemerintah pusat terhadap pelaksanaan otonomi pengelolaan sumberdaya hutan. Hal ini mengingat target desentralisasi kehutanan periode sebelumnya (1999-2003) belum sepenuhnya terealisasi dan pembelajaran dari pengalaman tersebut belum dievaluasi.
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (PKPPPD) adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah. Hal ini sejalan dengan kewajiban, pembagian kewenangan, dan tanggung jawab serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut.
Sesuai dengan UU No. 33/2004, prinsip kebijakan perimbangan keuangan adalah bahwa:
(i) PKPPPD merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi pembagian tugas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, (ii) pemberian sumber keuangan negara kepada pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal, dan (iii) PKPPPD merupakan sistem yang menyeluruh mengenai pendanaan dalam pelaksanaan desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas perbantuan.
Desentralisasi fiskal dilakukan dalam bentuk transfer dana ke daerah dalam bentuk dana
Perimbangan Keuangan Kehutanan: implementasi dan tantangan
perimbangan yang terdiri dari: (i) Dana Bagi Hasil (DBH), (ii) Dana Alokasi Umum (DAU), dan (iii) Dana Alokasi Khusus (DAK), juga dilakukan melalui Dana Otonomi Khusus dan Perimbangan (Dirjen PKPD, 2004). Dana transfer tersebut dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung meningkat secara signifikan. Untuk tahun 2006, dana yang ditransfer sebesar Rp. 216,79 triliun dan jumlah ini meningkat sekitar 267% atau hampir 2,7 kali lipat dibandingkan dengan transfer dana tahun 2001 (Rp. 81,05 triliun) sebagaimana tercantum dalam Tabel 4. Peningkatan jumlah transfer dana ini sejalan dengan semakin besarnya kewenangan yang diserahkan kepada daerah.
DBH merupakan hak daerah atas pengelolaan sumber-sumber penerimaan negara yang dihasilkan dari masing-masing daerah, yang besarnya ditentukan atas daerah penghasil (by origin). DBH berasal dari dua sumber, yaitu (i) penerimaan perpajakan yang meliputi PPh, PBB, dan BPHTB, dan (ii) sumber-sumber penerimaan SDA yang dibagihasilkan (minyak bumi, gas alam, pertambangan umum, kehutanan dan perikanan).
DAU merupakan dana pengganti untuk Subsidi Daerah Otonom dan dana pembangunan
Tabel 4. Transfer dana ke daerah dalam 6 tahun terakhir (2001-2006) No. Jenis Transfer
Dana
Jumlah Transfer Dana (dalam triliun rupiah)
2001 2002 2003 2004 2005 2006
1. Dana
Perimbangan 81,05 94,76 109,93 122,87 143,30 216,79
DBH 20,01 24,98 29,92 49,83 59,56 36,37
DAU 60,34 69,15 76,98 82,08 88,74 145,66
DAK 0,70 0,63 3, 02 4,09 4,73 11,57
2 Dana Otsus &
Penyeimbang
- 3,77 9,39
Jumlah (1+2) 81,05 98,53 119,31
Sumber: Dirjen PKPD (2004) dan Kompas (2007).
daerah yang dilaksanakan dengan Instruksi Presiden. Dana ini ditetapkan besarnya sekurang-kurangnya 25 persen dari penerimaan dalam negeri (netto) dalam APBN. Tujuan alokasi DAU adalah untuk mendukung kerangka otonomi pemerintahan di tingkat daerah dan untuk pemerataan kemampuan penyediaan pelayanan publik di antara pemerintah daerah di Indonesia.
DAK dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu untuk membiayai kebutuhan khusus. Kebutuhan khusus tersebut meliputi:
(i) kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan menggunakan perhitungan DAU, (ii) kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional, dan/atau (iii) kebutuhan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan penghijauan oleh daerah penghasil. DAK ditujukan untuk mengisi kesenjangan penyediaan kebutuhan pelayanan dasar sosial yang menjadi kewenangan daerah sehingga secara bertahap keserasian tingkat pelayanan publik di beberapa wilayah dapat tercapai. DAK ini dibedakan atas DAK dana reboisasi (DAK-DR) dan DAK non-dana reboisasi (DAK non DR). Namun UU No. 33/2004 memberlakukan hanya satu DAK dan tidak lagi membedakan DAK berdasarkan DR dan non DR.
DOKP adalah dana otonomi khusus yang dialokasikan kepada Provinsi Papua (UU No.
21/2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua) dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (UU No. 18/2001 tentang otonomi khusus di Aceh). Kedua daerah tersebut diberikan beberapa kewenangan khusus dan sumber pendanaan yang lebih banyak dibandingkan dengan daerah
lainnya dan ditetapkan setara dengan dua persen dari total DAU.
Hal-hal pokok yang tertuang dalam UU No.
25/1999 dan juga UU 33/2004 yang merevisinya tentang perimbangan keuangan meliputi: (i) penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab di daerah secara proporsional yang diwujudkan melalui pengaturan pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah; (ii) sumber pembiayaan pemda dalam rangka PKPD dilaksanakan atas dasar desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas perbantuan; (iii) sumber-sumber penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi berasal dari PAD, dana perimbangan, lain-lain penerimaan yang sah (ketiganya dalam UU 33/2004 dikategorikan sebagai pendapatan daerah) dan pinjaman daerah (dikategorikan sebagai pembiayaan, bersama sumberdana sisa lebih, dana cadangan dan hasil penjualan kekayaan daerah).
PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah (BUMD) dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain. Dana perimbangan berasal dari bagian daerah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, dan penerimaan dari sumber daya alam, atau dalam UU 33/2004 masuk dalam kategori dana bagi hasil; dan dana lokasi umum (DAU) serta dana alokasi khusus (DAK). Tabel 5. menyajikan pola distribusi atau alokasi dari berbagai sumber keuangan.
Tabel 5. Pola distribusi atau alokasi sumber-sumber keuangan dalam era otonomi daerah No. Sumber Penerimaan
Negara
Alokasi Keuangan
Keterangan Pusat (%) Daerah (%)
1. Pajak Bumi dan Bangunan 10 90
Untuk Pusat, No. 1 dan No. 2 dibagi keseluruh kab/kota 2. Bea Perolehan Hak atas
tanah dan bangunan 20 80
3. Sektor Kehutanan (PSDH dan IHPH/IHPHTI), Pertambangan umum dan perikanan
20 80 32% kab. penghasil,
32% kab. lain dlm prop.
16% prop.
4. Hasil Minyak Bumi 84,5 15,5
5. Gas Alam 69,5 30,5 (daerah, setelah dikurangi pajak)
6. DAU (26 % dari pendapatan dalam negeri netto)
- Provinsi dan Kabupaten
Berdasarkan imbangan
kewenangan antara provinsi dan kabupaten
7. DR 60 40 Daerah penghasil/kabupaten
Sumber: UU No. 33/2004
Tabel 6 menunjukkan adanya perbedaan mendasar penetapan tarif DR dan pemanfaatan DR antara peraturan yang satu dengan peraturan lainnya. Sebagai contoh PP No.
34/2002 menetapkan DR berdasarkan Laporan Hasil Cruising (LHC), tetapi PP No. 6/2007 DR menetapkannya berdasarkan Laporan Hasil Produksi (LHP). Tanpa sosialisasi yang cukup, kebijakan tersebut dapat menyebabkan kebingungan aparatur di daerah dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengumpul dan penerima DR. Oleh karena itu Soekotjo et al (2005) menyarankan perlunya definisi DR dalam UU No. 20/1997 dan UU No. 33/2004 direvisi agar lebih jelas, obyektif dan konkret.
Saat ini ada dualisme, di satu sisi DR ditetapkan sebagai penerimaan negara bukan pajak, disisi lain DR dianggap sebagai pajak SDA. Alasannya karena DR adalah dana yang dicadangkan untuk mengganti biaya penyusutan aktiva hutan, dengan demikian dana ini bukan merupakan penerimaan negara dan harus dikembalikan untuk membiayai kegiatan pengembalian posisi hutan yang telah ditebang.
Sebagai aturan pelaksanaan UU No.
33/2004, pemerintah telah menyusun peraturan
pemerintah, diantaranya: (i) PP No. 54/2005 tentang Pinjaman Daerah; (ii) PP No. 55/2005 tentang Dana Perimbangan; (iii) PP No. 56/2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah;
dan (iv) PP No. 57/2005 tentang Hibah Kepada Daerah.
Perubahan besar terjadi dalam pergantian nama dari DAK-DR menjadi DBH SDA kehutanan sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 55/2005.
Dalam PP tersebut DBH didefinisikan sebagai dana yang bersumber dari penerimaan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka prosentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
DBH sektor kehutanan merupakan salah satu bagian dari DBH SDA yang didefinisikan sebagai bagian daerah yang berasal dari penerimaan sumber daya alam kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi.
Perubahan tersebut membawa dampak terhadap alokasi DR yang tidak lagi memiliki rekening khusus DR tetapi sudah merupakan bagian dari DBH, walaupun rasio prosentase pembagian DR masih tetap sama. Sumber-sumber Tabel 6. Perbedaan deskripsi tentang DR dari 4 (empat) peraturan perundangan yang berlaku
Deskripsi
Tentang DR UU
No. 20/1997 PP
No. 35/2002 UU
No. 33/2004 PP.
No. 6/2007 Pengertian DR DR termasuk PNBP Dana yang
dipungut dari pemegang IUPHHK
DR termasuk DBH yang berasal dari SDA sektor kehutanan
Dana yang dipungut dari pemegang IUPHHK
Pengenaan Tarif DR
Memperhatikan dampak terhadap masyarakat dan kegiatan usahanya
Berdasarkan wilayah dan jenis kayu
Berdasarkan LHC untuk silvikultur TPTI
Berdasarkan LHP Tidak berlaku untuk hutan tanaman, hutan adat dan hutan rakyat
Pemanfaatan
DR Kegiatan tertentu
yang berkaitan dengan jenis PNBP oleh instansi bersangkutan
Untuk rehabilitasi hutan dan kegiatan
pendukung lainnya
Untuk reboisasi dan rehabilitasi hutan
Alokasi DR Dikelola dalam
sistem APBN Dikirim melalui rekening pembangunan hutan di daerah
60 % pemerintah pusat dan 40 % daerah penghasil Setelah ada rekomendasic dari Menteri Kehutanan Penyetoran
DR
Wajib disetor ke Kas Negara
pendapatan DBH SDA kehutanan dalam UU No.
33/2004 terdiri dari 9 sumber, lebih banyak jika dibandingkan dengan UU No. 25/1999 yang menyebutkan hanya 5 sumber pendapatan.
PP No. 6/2007 juga menyebutkan 9 sumber pendapatan iuran dan dana pemanfaatan hutan yang merupakan PNBP yang berasal dari SDH, yaitu: (i) IIUPH, (ii) DR, (iii) PSDH, (iv) dana hasil usaha penjualan tegakan, (v) pungutan dari pengusahaan pariwisata alam, penerimaan dari pungutan kunjungan wisata ke kawasan hutan wisata, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata laut, (vi) iuran pengambilan/
penangkapan dan pengangkutan satwa liar dan tumbuhan alam yang tidak dilindungi UU serta jarahan satwa buru, (vii) penerimaan dari denda pelanggaran hasil hutan, (viii) penerimaan dari tumbuhan dan satwa liar, yang dilindungi UU, yang diambil dari alam maupun penangkaran, dan (ix) penerimaan pelayanan dokumen angkutan hasil hutan.
Mekanisme Pengumpulan DR
Mekanisme pengumpulan DR dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (PP No. 6/2007). DR ditetapkan bagi pemegang IUPHHK di hutan alam, hutan desa dan hutan kemasyarakatan. Nilai DR ditetapkan berdasarkan LHP sebagaimana tergambar dalam skema pada Gambar 2. Pengenaan DR tidak berlaku bagi: (i) hasil hutan kayu yang berasal dari hutan tanaman, (ii) hasil hutan yang berasal dari hutan adat yang dimanfaatkan oleh masyarakat hukum adat dan tidak diperdagangkan, (iii) hasil hutan kayu yang langsung dipakai sendiri oleh penduduk setempat dan tidak diperdagangkan, dan (iv) hasil hutan kayu yang berasal dari hutan hak/hutan rakyat.
Tata cara pembayaran DR dari wajib bayar (penyetor) DR kepada kas negara dapat dilihat pada skema di bawah ini. Dalam skema tersebut diberikan juga jangka waktu proses penyelesaian pekerjaan pada setiap tahapan, misalnya H-24 berarti batas waktu 24 hari sebelum waktu penyetoran atau pelunasan tagihan DR dilaksanakan.
Skema ini masih diterapkan di dua provinsi lokasi penelitian (Jambi dan Papua), namun pelaksana dari peraturan tersebut banyak menuai kritik dari pihak-pihak yang terkait, terutama soal pembayaran DR dimuka, dua tahun sebelum penebangan, dan pembayaran didasarkan kepada
LHC. Para pemilik HPH cenderung tidak mau membayar DR di muka, karena apabila realisasi produksi (LHP) lebih kecil dari LHC, kelebihan DR yang telah dibayarkan tidak dikembalikan.
Padahal dalam kenyataannya, volume tebangan yang dipungut perusahaan tidak dijamin akan sama dengan LHC, antara lain karena maraknya illegal logging. Selain itu, mereka juga mengalami krisis keuangan sehingga tidak mampu membayar DR dimuka. Mereka tidak mau membayar DR berdasarkan LHC, tetapi mereka lebih suka membayar berdasarkan LHP, karena dianggap lebih realistis dan adil (Sianturi dan Hakim, 2004).
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa sesuai PP No. 6/2007, DR atas hasil hutan kayu yang berasal dari hutan alam dipungut berdasarkan LHP. DR tidak dikenakan bagi pemegang IUPHHK yang memanen hasil hutan kayu yang berasal dari hutan tanaman.
Namun demikian, jika mereka melakukan “land clearing” untuk membuka lahan baru, maka kayu yang dihasilkannya wajib dikenakan DR.
Peraturan ini juga membawa konsekuensi kepada Dephut untuk menerapkan moratorium dan tidak lagi mengijinkan pembukaan lahan hutan untuk kegiatan usaha HTI atau HTR.
A. Penerimaan DR oleh Departemen Kehutanan
Total penerimaan DR (tidak termasuk bujagir) oleh Dephut dalam periode delapan tahun dari 1998 sampai 2005 berfluktuasi, dari yang terendah Rp. 1.512 miliar (tahun 1999/2000) dan yang tertinggi sebesar Rp. 2.550 miliar (tahun 2005) dengan rata-rata sebesar Rp. 1.953 milyar (Tabel 7).
Kebijakan soft landing yang diterapkan pada tahun 2002 bertujuan untuk mengurangi tingkat penebangan hutan alam agar industri kayu menggunakan kayu dengan lebih efisien dan memacu peningkatan pengembangan hutan tanaman. Dengan kebijakan ini, tingkat produksi kayu dari hutan alam dikurangi secara bertahap dari sekitar 22 juta m3 pada tahun 2001, menjadi 15 juta m3 (2002), 6,98 juta m3 (2003), 5,7 juta m3 (2004) dan 5,4 juta m3 (2005). Namun demikian, seperti yang ditunjukkan Tabel 7, hasil penerimaan DR yang dikaitkan dengan kebijakan pembatasan jatah tebangan tersebut ternyata tidak berkorelasi positif. Seharusnya jumlah setoran/penerimaan DR semakin menurun dengan semakin berkurangnya jumlah jatah kayu
Pemegang IUPHHK
Laporan LHC
ke Bupati Laporan LHP
ke Bupati
Bupati memerintahkan
Dinas untuk Checking
Crossing
Bupati memerintahkan
Dinas untuk Pengukuran dan
Pengujian
Bupati mengesahkan
LHC
Pemegang IUPHHK (Wajib Bayar)
Laporan Pelunasan DR ke Bupati (Copy SPPDR
& SSBP) H-24
H-12
H-6
SPPDR
SSBP
- Provinsi
- DJA - Menkeu
- Menhut Kas Negara SSBP Lunas
Bupati mengesahkan
LHP
Laporan Pelunasan DR ke Bupati (Copy SPPDR
& SSBP)
Gambar 3. Skema tata cara pembayaran DR
Gambar 2. Skema penetapan DR berdasarkan sistem silvikultur.
DR
Hutan Alam
IUPHHK
LHP LHP LHP
Hutan Kemasyarakatan Hutan Desa
yang ditebang. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya penambahan setoran DR dari hasil hutan kayu yang berasal dari kegiatan land clearing pada areal HPHTI. Disamping itu ada juga setoran DR yang berasal dari penebangan hutan skala kecil (HPH 100 ha) dan pengelolaan hutan oleh masyarakat adat (misalnya Kopermas di Papua dan ijin pengelolaan kayu rakyat di Jambi).
Setelah tahun 2005, jatah tebangan tahunan (JPT) mengalami peningkatan secara signifikan dari 5,4 juta m3 (2005) menjadi 8,1 juta m3 (2006) dan 9,1 juta m3 (2007). Alasan peningkatan JPT tersebut masih menjadi perdebatan di antara para birokrat dan ahli/
pengamat bidang kehutanan dan lingkungan (Agroindonesia, 2006)
Tabel 7. Penerimaan DR Dephut dalam 8 tahun terakhir
No. Tahun
Penerimaan Jumlah Penerimaan DR
(x Rp. Miliar) Perubahan*)
(%) Keterangan
1. 1998/1999 1 903
2. 1999/2000 1 512 (-) 20,5
3. 2000 1 867 (+) 23,5
4. 2001 2 258 (+) 20,9
5. 2002 1 908 (-) 15,5 Soft landing diterapkan
6. 2003 1 856 (-) 2,7
7. 2004 2 373 (+) 27,8
8. 2005 2 550 (+) 7,5
Jumlah 16 227
Rata-rata 2 028
Sumber: Dephut (2004; 2006)
Keterangan: *) Perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya
Data Dephut untuk produksi kayu bulat dan produk-produk kayu turunannya dari tahun 1996/1997 sampai 2005 menunjukkan angka kebutuhan kayu riil untuk memproduksi produk- produk kayu seperti kayu lapis, kayu gergajian, veneer, pulp, moulding, dan wood working. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar antara pasokan kayu yang resmi dengan konsumsi kayu bulat yang mencapai angka 0,14 sampai 36 juta m3 kayu bulat dengan rata-rata perbedaannya sebesar 11,84 juta m3/ tahun (Tabel 8).
Dengan menggunakan asumsi bahwa kayu tersebut berkualitas rimba campuran (tarif DR nya adalah US $ 12 atau Rp. 102 000/m3 dengan kurs US$ 1 = Rp. 8500), jumlah kerugian negara akibat selisih penyerapan kayu bulat
Tabel 8. Selisih kekurangan kayu bulat industri perkayuan tahun 1997/1998 – 2005 Tahun produksi Produksi kayu bulat (m3) Kebutuhan riil kayu
bulat hasil konversi (m3)
Selisih produksi dan kebutuhan riil kayu
bulat (m3)
1996/1997 26 069 282 36 281 093 -10 211 811
1997/1998 29 520 322 35 139 960 -5 619 638
1998/1999 19 026 944 34 397 432 -15 370 488
1999/2000 20 619 942 22 796 994 -2 177 052
2000 13 798 240 20 190 798 -6 392 558
2001 10 051 481 10 196 930 -145 449
2002 8 659 968 15 340 920 -6 680 952
2003 11 423 501 36 982 194 -25 558 693
2004 13 548 938 23 893 754 -10 344 816
2005 24 222 638 60 173 842 -35 951 204
Sumber: Dephut (2006; diolah)
tersebut yaitu sekitar Rp. 1,21 triliun setiap tahunnya. Kerugian ini masih relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan kerugian negara akibat penebangan liar dan perdagangan illegal yang mencapai Rp. 30 triliun setiap tahunnya (Republika, 2002).
Dalam kenyataannya, banyak pemegang HPH/IUPHHK masih menunggak pembayaran DR dan PSDH. Total tunggakan DR dan PSDH per Desember 2003 mencapai Rp. 1,28 triliun.
Sampai tahun 2004, pemegang HPH skala besar tercatat sudah melunasi kewajibannya sebesar Rp. 700 miliar 50 % dari total tunggakan. Pada bulan Mei 2004, Dephut telah mengeluarkan Surat Peringatan (SP) III terhadap 7 perusahaan penunggak DR dan PSDH yang total nilai tunggakannya sebesar Rp. 17,39 miliar (Suara Pembaharuan, 2004a). Dalam SP disebutkan bahwa bila peringatan tidak ditanggapi, Dephut harus mencabut ijin HPH-HPH tersebut.
Informasi terakhir yang diperoleh peneliti menunjukkan bahwa Bulan Juni 2005 telah terjadi penunggakan dana DR dan PSDH sebesar Rp. 477,56 milyar dengan perincian tunggakan DR sebesar Rp. 359,61 milyar dan tunggakan PSDH sebesar Rp. 117,95 milyar (Pusat Informasi Kehutanan, 2005).
Dari penelusuran lebih lanjut diketahui ternyata ada 9 provinsi yang menunggak pembayaran tunggakan dana DR dan PSDH, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat. Tiga provinsi terbesar penunggak dana DR dan PSDH adalah Kalimantan Barat (Rp. 187,22 miliar), Kalimantan Timur (Rp. 83,96 miliar) dan Papua (Rp. 80,21 miliar). Para penunggak dana DR dan PSDH ini telah diperingatkan dan kasusnya diserahkan ke pihak kejaksaan yang akan diikuti dengan pencabutan Ijin usahanya.
Dephut telah secara konsisten dengan ancamannya untuk menutup dan mencabut ijin usaha yang mangkir. Dephut telah mencabut IUPHHK PT Artika Optima Inti I yang berlokasi di Papua, dengan jumlah tunggakan dana DR sebesar Rp. 2,9 miliar dan PSDH sebesar Rp.
3,09 miliar; dan PT Bina Mahawana Wisesa di Sulawesi Selatan, dengan jumlah tunggakan dana DR sebesar US$ 67.272,97 dan PSDH sebesar Rp.
38,45 miliar (Pusat Informasi Kehutanan, 2005).
B. Penerimaan DR oleh Daerah
Penerimaan DR dari Provinsi Jambi mengalami
penurunan sejalan dengan berkurangnya produksi kayu bulat dari hutan alam yang dikelola HPH dan menurunnya jumlah HPH yang aktif. Provinsi Jambi telah mengalami pergeseran dari provinsi penghasil kayu bulat dan pemungutan DR yang cukup besar menjadi provinsi yang kurang potensial dalam kurun waktu 7 tahun terakhir.
Hal ini disebabkan kemampuan produksi kayu bulat jauh dibawah kebutuhan industri yang ada di wilayah tersebut. Jambi mengalami penurunan penerimaan DR, dan angka penurunan terbesar terjadi dari tahun 2002 ke 2003 yang mencapai 50%. Sebaliknya Papua mengalami peningkatan penerimaan DR karena hutan produksi alamnya masih cukup potensial dan ditambah lagi dengan maraknya ijin pemanfaatan kayu rakyat melalui koperasi peran serta masyarakat atau Kopermas (Tabel 9).
Hasil perhitungan antara produksi kayu bulat dan kebutuhan kayu bulat riil di Jambi (sebagai hasil konversi kebutuhan kayu bulat atas produk kayu) menunjukkan adanya selisih atau kekurangan kayu bulat yang cukup besar antara 0,6-4,5 juta m3 setiap tahunnya sebagaimana tercantum dalam Tabel 10.
Hasil perhitungan yang sama untuk Provinsi Papua menunjukkan adanya kelebihan bahan baku kayu setiap tahunnya. Selisih atau kekurangan kayu bulat yang cukup besar terjadi di tahun 2000, yaitu sekitar 1,85 juta m3 seperti tercantum dalam Tabel 11.
Permasalahan
Beberapa isu-isu yang terkait dengan mekanisme pengumpulan DR, antara lain: (i) kesulitan dalam memisahkan jumlah DR untuk kayu legal dan illegal, yang ditemukan, dilelang dan hasil lelangnya dikenakan DR, (ii) panjang dan lamanya waktu pengumpulan DR, (iii) banyaknya tunggakan DR karena suku bunga denda yang kecil dan kadangkala bebas bunga, (iv) pembayaran DR dimuka, (v) dasar penentuan DR LHC atau LHP, dan (vi) penahanan DR oleh beberapa kabupaten. Permasalahan lainnya terkait dengan penggunaan sistem informasi 15 digit (untuk memudahkan pelacakan nama perusahaan penyetor, kabupaten dan provinsi penghasil setoran, tanggal dan tahun penyetoran) yang diterapkan oleh Dirjen Bina Produksi Kehutanan.
Sistem tersebut ternyata belum menjadi acuan semua pihak terkait. Padahal apabila sistem tersebut dilaksanakan dengan konsisten akan mempermudah pembagian/alokasi iuran IUPHK,
Tabel 9. Realisasi penerimaan DR Provinsi Jambi dan Papua antara 1999/2000 sampai 2003 Tahun Penerimaan DR Provinsi Jambi Penerimaan DR Provinsi Papua
(x Rp.1000) US $ (x Rp.1000) US $
1999/2000 82 620 089 1 381 249
2000 238 254 9 100 184 5 153 523 74 209 143
2001 24 962 7 426 406 13 821 350 2 461 876
2002 0 9 307 351 15 268 651 2 049 182
2003 222 017 4 608 653 138 191 3 092 479
Rata-rata 161 744 7 610 648 23 400 360 16 638 786
Tabel 10. Selisih kekurangan kayu bulat dalam industri perkayuan di Jambi tahun 1997/1998 – 2001
Tahun produksi Produksi kayu
bulat (m3) Kebutuhan riil kayu bulat
hasil konversi (m3) Selisih produksi dan kebutuhan riil kayu bulat (m3)
1997/1998 753 537 5 263 288 - 4 509 751
1998/1999 482 079 4 989 110 - 4 507 031
1999/2000 1 551 598 1 610 425 - 58 827
2000 724 005 2 860 288 - 2 136 283
2001 2 036 250 3 330 457 - 1 294 207
Sumber: Dishut Jambi (2002; diolah)
Tabel 11. Selisih kekurangan kayu bulat dalam industri perkayuan di Papua tahun 1997/1998 – 2001
Tahun produksi Produksi kayu
bulat (m3) Kebutuhan riil kayu bulat
hasil konversi (m3) Selisih produksi dan kebutuhan riil kayu bulat (m3)
1997/1998 2 716 688 1 507 207 1 209 486
1998/1999 1 500 985 713 722 787 263
1999/2000 1 492 603 711 688 780 915
2000 739 674 2 591 730 1 852 056
2001 522 275 259 405 262 870
Sumber: Dishut Papua (2004; diolah)
PSDH dan DR ke daerah penghasil. Asal kayu dapat dilacak dengan mudah karena sistem ini berisi informasi tentang HPH/IUPHHK, nama provinsi dan kabupaten, tanggal, bulan dan tahun tagihan, serta jumlah pembayaran. Selain itu, pembagian/alokasi Iuran IUPHHK, PSDH dan DR ke daerah penghasil juga akan semakin mudah.
Pola dan Mekanisme Alokasi dan Distribusi DR
Sesuai ketentuan UU No. 33/2004 distribusi/
alokasi DR didasarkan kepada pembagiannya sebesar 60 % untuk pemerintah pusat (dalam hal ini Dephut) dan 40% untuk daerah penghasil
(kabupaten/kota) sesuai dengan SK Menteri Keuangan setelah menerima pertimbangan khusus dari Bappenas, Menteri Dalam Negeri dan Otda, dan Menteri Kehutanan sebagaimana digambarkan dalam skema di bawah ini.
Provinsi Jambi dan Papua masih menggunakan skema tersebut dalam pengalokasian DAK-DR sesuai dengan pedoman umum yang berlaku.
A. DR (60%) Departemen Kehutanan Dana yang diterima Dephut sebagai pembagian 60% DR dan pungutan kehutanan lainnya digunakan untuk membiayai kegiatan rutin dan pembangunan sebagai komplementer bagi sumber dana APBN serta membiayai kegiatan RHL di daerah non penghasil. DR yang diterima
Menhut mengusulkan alokasi DR propinsi dengan pertimbangannya
Mendagri memberi pertimbangan
Menkeu menetapkan alokasi DR tiap propinsi
Kepala Bappenas memberi pertimbangan
Dirjen Anggaran menyampaikan alokasi DR ke Gubernur
Gubernur menetapkan dan menyampaikan alokasi DR untuk tiap Kabupaten/Kota dengan tembusan ke Menkeu dan Menhut
Menhut mengusulkan alokasi DR propinsi dengan pertimbangannya
Alokasi DR dari Gubernur telah diterima oleh kabupaten/kota
Bupati/Walikota mengajukan usulan/proposal rencana kegiatan
ke Gubernur dengan tembusan ke Kanwil DJA dan BPDAS
Gubernur menugaskan Dinas Kehutanan Propinsi untuk membahas proposal bersama-sama dengan Bappeda Propinsi,
Kanwil DJA dan BPDAS, dengan instansi kabupaten/kota yang menangani
urusan kehutanan
Gubernur menyampaikan proposal yang telah menjadi rencana definitif ke Menkeu
c.q. Dirjen Anggaran dengan tembusan ke Menhut c.q. Sekjen, Mendagri c.q.
Dirjen Bina Bangda, Kepala Bappenas c.q.
Deputi Bidang Regional dan Sumber Daya Alam Depkeu bersama Dephut, Depdagri,
serta Bappenas menilai rencana definitif dan Sumber Daya Alam Dirjen Anggaran atas nama Menkeu menetapkan Dana Alokasi (DA)-DR dan menyampaikannya ke Bupati/Walikota
dengan tembusan kepada Gubernur melalui Kanwil DJA
Atas dasar DA-DR, Bupati/Walikota menetapkan DIPDA dan mengirimkan
1 (satu) eksemplar DIPDA ke Kanwil DJA setempat Jika DIPDA sesuai dengan DA-DR, Kepala Kanwil DJA memberitahukan KPKN bahwa DA-DR dapat dicairkan, bila tidak, DIPDA dikembalikan ke
Bupati/Walikota untuk direvisi
Dephut sejak pemberlakuan perimbangan keuangan pusat dan daerah, sektor kehutanan mengalami peningkatan yang relatif kecil.
Pembiayaan atau anggaran yang diterima Dephut dalam kurun waktu tujuh tahun mengalami peningkatan dari sekitar Rp. 1,586 triliun pada
tahun 1998/99 menjadi Rp. 3,293 triliun pada 2004, dengan rata-rata Rp. 1,976 triliun per tahun sebagaimana tercantum dalam Tabel 12.
Tabel 12 menunjukkan bahwa DR dan pungutan kehutanan serta penerimaan lainnya (sebagai PNBP) menyumbang sekitar 76-82% dari Gambar 4. Mekanisme Alokasi DR