• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. [Kemenperin] Kementrian Perindustrian. 2013. Ini 5 Negara Produsen Karet Terbesar Di Dunia [internet]. [diunduh 2014 Feb 24]. Tersedia pada: http://agro.kemenperin.go.id/1567-Ini-5-Negara-Produsen-Karet-Terbesar-Di-Dunia.

2. [Ditjenbun] Direktorat Jendral Perkebunan. 2012. Statistik Perkebunan: Karet. Jakarta (ID): Ditjenbun.

3. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun 1987-2012. Jakarta (ID): BPS.

4. Tribawati, Restu Yulia. 2009. Depolimerasi Lateks Karet Alam Secara Kimia Menggunakan Senyawa Hidrogen Peroksida-Natrium Nitrit-Asam Askorbat [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

5. Juniarti, Diah. 2008. Teknologi Pencangkokan Akrilat Pada Karet Alam Menggunakan Inisiator Hidrogen Peroksida [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

6. Iman, Chairil M. 2006. Kopolimer Karet Alam-Stirena Irradiasi sebagai Aditif Minyak Lumas: Peningkatan Indeks Viskositas [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

7. Iskandar, Sudrajat, Isti Marliyanti, Made Sumardi K. 2001. Studi Kopolimerasi Stirena ke dalam Film Karet Alam (Pengaruh Dosis Radiasi dan Kadar Monomer). Dalam: Risalah Pertemuan Ilmiah dan Pengembangan Aplikasi

Isotop dan Radiasi. Puslitbang Radiasi dan Isotop, BATAN.

8. Che Man, S.H, Hashim, S.A, and Akil, Md, H. 2006. Preparation and characterization of stryrene-methyl methacrylate in deproteinized natural rubber latex. Dalam: VIth National Symposium on Polymeric Materials, 13-14 December 2006. Subang Jaya, Malaysia.

9. Onyeji, Lawrence Ibe, Aboje, A.Audu. 2011. The Effect of Additive on the

Viscosity Index of Lubricating Oil (Engine Oil). Chemical Engineering

Department, Federal University of Technology, Nigeria. IJEST. Vol. 3(3). 10. Machinery Lubrication. 2012. The Critical Role of Additives in Lubrication

[internet] [diakses 2014 jul 7]. Tersedia pada: http://www.machinerylubrication.com/Read/28980/additives-lubrication-role.

11. Pertamina. 2012. Lube Base Oil. Jakarta (ID): Pertamina. 12. SK Dirjen Migas No. 85K/34/DDJM/1998

13. Fessenden, R. J, J. S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 1. Terjemahan. Jakarta (ID): Erlangga.

14. Sondari, Dewi, Agus H, M Ghozali. 2010. Preliminary Study of Emulsion Copolymerization of Styrene on Natural Rubber Latex. Seminar Nasional Sains

dan Teknologi; 2010; Tangerang, Indonesia. Tangerang (ID): Dewi Sondari.

15. Pelita, Redy. 2004. Sintesis dan Karakterisasi Aditif Pelumas Otomotif dari Kopolimerasi Lateks Karet Alam-Styrene [tesis]. Depok (ID): Universitas Indonesia.

16. Simmons, Gregory F. 2011. Synthetic Lubricant and Polymer Composites for Large Full Film Journal Bearings. Department of Engineering Science and Mathematics, Lulea University of Technology.

17. Visnawath D, Tushar KG, Dashika HLP, Nidamarty VKD, Kalipatnapu YR.

Viscosity of Liquid: Theory, Estimation, Experiment and Data. Netherland:

Springer.

18. Permatasari, Prita. 2010. Perancangan Temperature Control System pada Internal Flow Fluida Viscous (Studi Kasus di Perusahaan Kecap dan Saus PT. Lombok Gandaria) [skripsi]. Surakarta (ID): Universitas Sebelas Maret.

19. Said, E.G, Nelly R, Linda F. Pengaruh Hidrogenasi Karet dalam Fasa Lateks pada Karet Alam Hevea Brasiliensis. Departemen Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor (ID). J. Tek. Ind. Pert. Vol. 14(3), 80-86.

20. Nuryantini, A.Y, Mikrajuddin A, Khairurrijal. 2009. Pembuatan Jaring Serat Komposit PET/TiO2 Menggunakan Teknik Ekstruksi Rotasi. Kelompok Keahlian Fisika Material Elektronik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung (ID). J. Nano Sainstek.

21. Ivan, G. 1993. Dynamic vulcanization an accessible way to thermoplastic elastomers. Iranian Journal of Polymer Science & Technology 2 (1) : 3 – 11

22. Pertamina. Pertamina Lubricants. Jakarta (ID): Pertamina. Tersedia pada: http://pelumas.pertamina.com/Files/product_pcmo.asp

23. Karanuyake, L dkk. 1998. Magnesium Content in Natural Rubber Latex. Bulletin of Rubber Research Institute of Sri Lanka 37: 36-39.

Lampiran 1 Penelitian pendahuluan

Gambar 5 Spektrum FTIR lateks karet alam (A), polistirena (B), dan kopolimer 95:5 (C).

Gambar 6 Gumpalan pada reaksi kopolimerisasi 75:25.

Lampiran 2 Tahap persiapan reaksi kopolimerasi cangkok karet alam dan stirena

Perhitungan kadar zat uap

Gelas piala dipanaskan selama 1 jam dalam oven 105°C untuk membersihkan dari sisa-sisa kotoran yang menempel. Kemudian gelas piala ditimbang sebagai bobot kosong. Setelah ditimbang, sebanyak 20 g stirena ditambahkan sebagai bobot sampel. Sampel kemudian di oven 105°C selama 3 jam dengan ditutup alumunium foil. Bobot setelah 3 jam sebagai bobot akhir.

%kadar zat uap = [bobot sampel− bobot akhir−bobot kosong ]

bobot sampel x 100 07 Lateks pekat 0 0 0 Poly(styrene) 0 0 0 0 Kopolimer 95:5 0 0 0 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 000 Wavenumbers (cm-1)

A

B

C

C-H

C-H

C-H

C=C

C=C

C-H

C-H

Contoh perhitungan: Sampel Bobot

Kosong (g)

Bobot Sampel (g)

Pengamatan Jam ke-(g) Bobot Akhir (%) 1 2 3 A 62.128 20.0476 81.3368 79.7012 79.2153 14.77% B 61.8937 20.0109 80.8567 80.2481 78.9851 14.59% Rata-rata 14.68% Bobot sampel = 20.0476 g Bobot kosong = 62.1280 g Bobot akhir = 79.2153 g

%kadar zat uap = [20.0476− 79.2153−62.1280 ]

20.0476 x 100 = 14.77%

Sehingga, didapat kadar stirena, 100% - 14.77% = 85.23% Perhitungan kadar karet kering

Lateks ditimbang sebanyak 5 g dan ditambahkan 5 ml aseton, kemudian diaduk sampai menggumpal. Gumpalan tersebut kemudian digiling dengan menggunakan mesin Hammer Mill. Setelah menjadi krep, dimasukkan ke dalam oven 100°C sampai kering dan tidak terdapat bintik putih.

%kadar karet kering =bobot sampel akhir

bobot sampel awal x 100%

Sampel Bobot Kosong (g) Bobot Sampel Awal (g) Bobot Sampel Akhir (g) Kadar Karet Kering (%) A 62.1565 5.0192 2.9062 57.90% B 44.8438 5.043 2.9911 59.31% Rata-rata 58.60% Contoh perhitungan:

Bobot sampel awal = 5.0192 g Bobot sampel akhir = 2.9062 g

%kadar karet kering =2.9062

Perhitungan perbandingan bahan

Perbandingan Awal Akhir

Lateks 85 (50 g) 85 (29.3 g) Stirena 15 (8.8235 g) 15 (10.3417 g) Contoh perhitungan (85:15):

Lateks

Bobot lateks x %kadar karet kering = 50 g x 58.6% = 29.3 g Stirena

(100/85.32) x 8.8235 = 10.3417 g

Perhitungan pembuatan surfaktan SDS

Kelarutan SDS 150 g/1000 ml, dibuat dalam 300 ml akuades dan dibutuhkan SDS sebanyak 45 g sehingga konsentrasinya menjadi 15%. Kemudian SDS dibuat 2% dari total bobot.

Total bobot = bobot karet + bobot stirena Contoh perhitungan (85:15):

Total bobot = 29.3 g + 10.3417 g = 39.6417 g g SDS =%SDS yang digunakan

%SDS mula−mula x total bobot g SDS = 2

100x 100

15 x 39.6417 = 5.2856 g

Perhitungan pembuatan inisiator APS

Kelarutan APS 80 g/1000 ml, dibuat dalam 300 ml akuades dan dibutuhkan APS sebanyak 24 g sehingga konsentrasinya menjadi 8%. Kemudian APS dibuat 1% dari total bobot.

Total bobot = bobot karet + bobot stirena Contoh perhitungan (85:15):

Total bobot = 29.3 g + 10.3417 g = 39.6417 g g APS =%APS yang digunakan

%APS mula−mula x total bobot g SDS = 1

100x 100

Perhitungan pengenceran lateks

Lateks diencerkan menjadi 15%, dengan menggunakan perbandingan volum didapat:

1�1 = �2�2

50 x 58.6/100 = �2 x 15/100 �2 = 195.3333

Sehingga perlu ditambahkan akuades sebanyak 195.3333 – 50 = 145.3333 ml. Lampiran 3 Penentuan efisiensi cangkok

Efisiensi cangkok = bobot monomer tercangkok

bobot monomer terpolimerisasi x 100% Efisiensi cangkok =(A−B)

A x 100% Keterangan:

A = bobot monomer yang digunakan dalam reaksi polimerisasi (g) B = bobot monomer yang tidak bereaksi (g)

B = bobot total lateks + stirena (g) - bobot krep kering (g) Contoh perhitungan:

A = 10.3417 g

B = 39.6417 g – 35.1414 g = 4.5003 g

Contoh perhitungan:

1. Untuk base oil dengan indeks viskositas ≤100 Viskositas kinematik 40°C = 34.71 cSt Viskositas kinematik 100°C = 11.57 cSt

Karena viskositas kinematik pada suhu 100°C kurang dari atau sama dengan 70 mm2/s (cSt), maka lihat tabel indeks viskositas.

Dari tabel indeks viskositas dengan metode interpolasi didapat nilai L = 189.56 dan H = 102.41.

IV = [(L – U)/ (L – H)] x 100

IV = [(189.56 – 34.71)/ (189.56 – 102.41)] x 100 IV = (154.85/ 87.15) x 100

IV = 177.68

2. Untuk base oil dengan indeks viskositas > 100 Viskositas kinematik 40°C = 157.31 cSt Viskositas kinematik 100°C = 28.09 cSt

Karena viskositas kinematik pada suhu 100°C kurang dari atau sama dengan 70 mm2/s (cSt), maka lihat tabel indeks viskositas.

Dari tabel indeks viskositas dengan metode interpolasi didapat nilai H = 382.4.

N = (log 382.4 – log 157.31)/ log 28.09 N = 0.2663

IV = [((antilog 0.2663) – 1)/ 0.00715] + 100 IV = 218.36

Lampiran 5 Penentuan kadar abu

Sampel Bobot Kosong (g) Bobot Sampel (g) Bobot Akhir (g) %Kadar Abu Rataan A1 32.487 1.0324 32.4871 0.0096862 0.00979 30.8242 1.0104 30.8243 0.0098971 A2 32.5566 1.0184 32.5568 0.0196386 0.01477 30.1276 1.0100 30.1277 0.0099010 A3 32.4869 1.0310 32.4871 0.0193986 0.01468 32.5567 1.0046 32.5568 0.0099542 B1 30.1276 1.0274 30.1277 0.0097333 0.00986 32.487 1.0014 32.4871 0.0099860 B2 32.5566 1.0171 32.5567 0.0098319 0.0096 30.8248 1.0664 30.8249 0.0093773 B3 30.1284 1.0547 30.1285 0.0094814 0.00965 32.5567 1.0183 32.5568 0.0098203

Perumusan kadar abu:

Kadar abu, % = [(C – A)/ B)] x 100 dimana,

A : bobot cawan porselin kosong, g B : bobot sampel, g

C : bobot cawan berisi abu, g Contoh perhitungan:

A = 32.4870 g B = 1.0324 g C = 32.4871 g

Lampiran 6 Penentuan densitas Sampel Volum Piknometer (ml) Bobot Sampel (g) Densitas (g/ml) Rataan (g/ml) A1 49.9948 43.0602 0.8613 0.8611 49.9903 43.0350 0.8609 A2 49.9634 43.0710 0.8621 0.8620 49.9429 43.0511 0.8620 A3 49.9471 43.0802 0.8625 0.8627 49.9168 43.0729 0.8628 B1 49.9135 44.4094 0.8897 0.8892 49.9775 44.4159 0.8887 B2 49.9402 44.3312 0.8879 0.8873 49.9316 44.2900 0.8870 B3 49.9169 44.2583 0.8866 0.8866 49.9394 44.2749 0.8866 Keterangan: A1 = HVI-60 + aditif 1% A2 = HVI-60 + aditif 3% A3 = HVI-60 + aditif 5% B1 = HVI-650 + aditif 1% B2 = HVI-650 + aditif 3% B3 = HVI-650 + aditif 5% Contoh perhitungan: Densitas = massa/ volum

Densitas = 43.0602/ 49.9948 = 0.8613 g/ml Lampiran 7 Penentuan kadar logam Mg

Konsentrasi (ppm) Absorbansi 0.08 0.1836 0.2 0.3347 0.4 0.6116 0.6 0.836 0.8 1.0407 Keterangan: A1 = HVI-60 + aditif 1% A2 = HVI-60 + aditif 3% A3 = HVI-60 + aditif 5% B1 = HVI-650 + aditif 1% B2 = HVI-650 + aditif 3% B3 = HVI-650 + aditif 5%

Lampiran 8 Gambar hasil penelitian

Gambar 7 HVI-650. Gambar 8 HVI-60.

(a) (b) (c)

(d) (e) (f)

Gambar 10 Minyak lumas (a) HVI-60 + aditif 1%, (b) HVI-60 + aditif 3%, (c) HVI-60 + aditif 5%, (d) HVI-650 + aditif 1%, (e) HVI-650 + aditif 3%, (f) HVI-650 + aditif 5%.

Gambar 11 Penentuan densitas.

Gambar 12 Penentuan spektrum FTIR.

Lampiran 9 Diagram alir penelitian

Persiapan

Pembuatan kopolimer cangkok karet alam dan stirena

Pembuatan aditif (krep) hasil kopolimerasi cangkok

karet alam dan stirena

Pemisahan Homopolimer

Penentuan Efisiensi Cangkok

Pembuatan Minyak Lumas Baru 1. Pembuatan aditif induk

2. Pencampuran aditif induk dengan minyak lumas 1%, 3%, dan 5%

Karakterisasi

1. Penentuan viskositas kinematik 2. Penentuan indeks viskositas 3. Penentuan kadar abu

4. Penentuan densitas

5. Penentuan kadar logam Mg 6. Penentuan pH

Dokumen terkait