DAFTAR PUSTAKA
Amrullah IK. 2003. Nutrisi Ayam Petelur. Lembaga Satu Gunungbudi Kompleks IPB Baranangsiang Bogor.
Anggorodi R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: Gramedia.
Anggorodi R. 1985. Kemajuan Mutakhir Dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Anonim 2005. Overview of Photosynthesis. http:/www.biologycorner.com.
Arafah 1994. Ketersediaan Hayati -karoten dan Interaksinya dengan Mineral Besi (Fe) Pada bayam (Amaranthus hybridus L.). Tesis . Bogor: Program Pascasarjana, Institurt Pertanian Bogor.
Cannas A 2001. Tannins. Animal Science at Cornell University. http//www: Ansci.edu/plants/toxygents/tannin.
Etches RJ. 1996. Reproduction in Poultry. Wallingford : CAB International. Flora SD, Bagnasco M, Vainio H. 1999. Modulation of Genotoxic and Related
Effects by Carotenoids and Vitamin A in Experimental Models: Mechanistic Issues. Review Mutagenesis. 14: 153-172.
Frandson RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Ed.4. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ganong WF. 1995. Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. Jakarta: EGG Penerbit Buku Kedokteran.
Hagerman AE. 2002. Tannin Chemestry. http/www: [email protected].
Hardjosworo PS. 1989. Respon Biologik Itik Tegal terhadap Pakan Pertumbuhan dengan Berbagai Kadar Protein. Disertasi .Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Hardjosworo PS. 1990. Usaha-Usaha Peningkatan Manfaat Itik Tegal Untuk Produksi Telur. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Di dalam :
Pengembangan Ternak Itik di Jawa Tengah. Prosiding Temu Unggas, Sub
Sektor Peternakan.
Hardjosworo PS et al. 2001. Perkembangan Teknologi Peternakan Unggas Air di Indonesia. Di Dalam : Pengembangan Agribisnis Unggas Air sebagai
Peluang Usaha Baru. Prosiding Lokakarya Unggas Air; Bogor: Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor, Balai Penelitian Ternak Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Hlm 22-41.
Hartadi H, Reksohadiprodjo S, Tillman AD. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk
Indonesia. Cetakan ke empat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hassan IAG, Elzubeir EA, El Tinay AH. 2003. Growth and Apparent Absorption of Minerals in Broiler Chicks Fed Diets with Low or High Tannin Contents. J.
Tropical Animal Health and Production. 35: 189-196.
Husaini. 1982. Penggunaan Garam Fortifikasi untuk Menanggulangi Masalah Kurang Vitamin A. Disertasi . Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Johnson EI dan Peniston QP. 1982. Chemistry and Biochemistry of Marine Food
Product. Connecticut: The AVI Publishing Company.
Laksmiwati NM. 1997. Pemanfaatan Daun Kaliandra dan Daun Lamtoro Sebagai Sumber Protein Dalam Pakan Itik Lokal. Thesis . Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Marganof. 2003. Potensi Limbah Udang Sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal, Kadmium, dan Tembaga) di Perairan. http://www:Marganof @yahoo.com.
Mc Donald P, Edwards RA and Green Halgh JFD. 1988. Animal Nutrition. 4th Edition. London, New York: Longman. Ltd.
Mirwandhono E , Siregar Z. 2004. Pemanfaatan Hidrolisat Tepung Kepala Udang dan Limbah Kelapa Sawit yang Difermentasi dengan Aspergillus Niger,
Rhizophus Oligosporus dan Thricoderma Viridae dalam Ransum Ayam
Pedaging. © 2004 Digitized by USU Digital Library http://www: Geogle.com/Kepala Udang 8 April 2006 .
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodmell VW. 1996. Biokimia Harper. Edisi-24. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
Narsum. 1983. Budidaya Tanaman Pakan dalam Ekosistem Hutan jati. Disertasi]. Bandung: Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran Bandung.
[NRC] National Research Council. 1994. Nutrient Requerements of Poultry. 9th Revised Ed. Washington,D.C: National academy Press.
Nesheim MC. Austic RE, Card LE. 1979. Poultry Production. Edisi ke 12. Phildelphia : Lea & Febiger.
Oke OL, Talabi and Umoch IB. 1978. The Possible Use of Chitin and Chitosan as Animal Feed. J. Food Sci and Technology. 1 : 327 332.
Palmer B, Macqueen, Gutteridge RC. 2006. Calliandra calothyrsus-a Multipurpose Tree Legume for Humid Location. http://Geogle.com/Callindra calothyrsus
Piliang WG. 2001. Nutrisi Vitamin. Vol 1. Bogor: PT. Penerbit Institut Pertanian Bogor.
Prasetiyo KW. 2004. Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang Sebagai Bahan Pengawet Kayu ramah Lingkungan. http://Geogle.com/Cangkang Udang 8 April 2006 .
Prawirokusumo S. 1991. Biokimia Nutrisi (Vitamin). Edisi pertama. Yogyakarta BPFE.
Purba M. 2003. Pola Rontok Bulu Itik Betina Alabio (Anas platyrynchos borneo) dan Mojosari (Anas javanicus) serta Pengaruhnya terhadap Lemak darah (Trigliserida), Produksi dan Kualitas Telur. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Purwanegara SM. 1988. Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kaliandra (Calliandra
calothyrsus) dan Bentuk Fisik Ransum terhadap Pertumbuhan Kelinci Lepas
Sapih. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Rahardjo YC. 1985. Nilai Gizi Cangkang Udang dan Pemanfaatannya Untuk Itik. Di
dalam: Prosiding Seminar Peternakan dan Forum Peternak Unggas dan Aneka Ternak. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Hlm 97-109.
Reed JD. 1995. Nutritional Toxicology of Tannins and Related Polyphenols in Forage Legumes. J.Anim Sci. 73:1516-1528.
Report of an Ad Hoc Panel of the Advisory Committee on Technology Innovation Board on Science and Technology for International Development Office of International Affairs National Research Council. 1983. Calliandra a
Versatile Small Tree for the Humid Tropics. Washington, D.C: National
Academy Press.
Robinson T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi ke-6. Bandung: Penerbit ITB.
Roesdiyanto, Mugiyono S, Tugiyanti E. 2001. Upaya Penyediaan DOD Pedaging Entik Melalui Persilangan Entok >< Itik Dengan Teknologi Inseminasi Buatan. Fakultas Peternakan Unsoed. Pengembangan Agribisnis Unggas Air
Sebagai Peluang Usaha Baru. Di dalam: Prosiding Lokakarya Unggas Air.
Hlm 87-93.
Simpson KL, Chichester CO. 1980. Carotenoid in Relation to Vitamin A. Proceedings of Join WHO-IVACG Meeting on Vitamin A Deficiency and Xerophthalmia. Okt 13 17. Jakarta.
Soebarinoto. 1986. Evaluasi Beberapa Hijauan Leguminosa Pohon sebagai Sumber Protein untuk Ternak. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Soedjai ARH. 1974. Beternak Itik Seri Indonesia Membangun. Bandung: Penerbit. NV. Masa Baru.
Srigandono B. 1986. Ilmu Unggas Air. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Stadelman WJ and Cotterill OJ. 1984. Egg Science and Technology. Fourth Edition. USA: Food Product Press An Imprint of The Haworth Press, Inc. Steel RGD dan Torrie J.H. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suatu
Pendekatan Biometrik. Alih Bahasa Bambang Sumantri. Jakarta: PT. Gramedia.
Stewart J, Mulawarman, Roshetko JM dan Powell MH. 2001. Produksi dan Pemanfaatan Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Pedoman Lapang.
Sturkie PD. 1976. Reproduction in the Female and Egg Formation.In : P.D. Sturkie. Ed. Avian Physiology. Third ed. New York: Springer Verlag. Subiharta, Prasetyo LH, Rahardjo YC, Prawirodigdo S. 2001. Program Village
Breeding Pada Itik Tegal Untuk Peningkatan Produksi Telur: Seleksi Itik Tegal Generasi Pertama dan Kedua. Di Dalam : Pengembangan Agribisnis
Unggas Air sebagai Peluang Usaha Baru. Prosiding Lokakarya Unggas Air;
Bogor: Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Balai Penelitian Ternak Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Hal 79-86.
Sudibya. 1998. Manipulasi Kadar Kolesterol dan Asam Lemak Omega-3 Telur ayam Melalui Penggunaan Kepala Udang dan Minyak Ikan Lemuru. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Supadmo. 1997. Pengaruh Sumber Khitin dan Prekursor karnitin Serta Minyak Ikan Lemuru Terhadap Kadar Lemak dan Kolesterol Serta Asam Lemak Omega-3 Ayam Broiler. [Disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Syamsuhaidi. 1997. Penggunaan Duckweed (family lemnaceae) Sebagai pakan Serat Sumber Protein Dalam ransum Ayam Pedaging. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Syahrir S dan Fattah AL. 2000. Studi Laju Pengurangan Tanin Dalam Segmen Pencernaan Ternak Kambing Berpakan Kaliandra (Calliandra calothyrsus).
Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makasar. 1: 1-5.
Tanabe Y, Hetzel DJS, Kizaki T and Gunawan B. 1984. Boichemical studies on phylogenetic relationship of Indonesian and other Asian duck breed. Helsinki, Finland: Proc. XVII Worldss poultry congresss and exhibition. hlm.
180-183.
Thurnham DI, Smith E, Flora PS. 1988. Concurrent Liquid-Chromatographic Assay of Retinol, -Tocopherol, -Cryptoxanthin in Plasma, with Tocopherol Acetate as Internal Standard. Journal Clinical Chemistry, 34: 377-381. Tim Peneliti PAU Pangan dan Gizi-IPB. 1993. Studi Dampak Intervensi Sayuran
Sumber Vitamin A Terhadap Status Vitamin A dan Perilaku Konsumsi Sayuran Sumber Vitamin A. Laporan Penelitian. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.
Wahju J. 1985. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. P.O. Box 14. Bulaksumur.
Wiryawan KG. 1999. Upaya Pengurangan Kadar Tanin Dalam daun Kaliandra (Calliandra calothyrsus) Dengan Menggunakan Larutan Kapur Tohor dan Uji Kecernaannya Secara In Vitro. Media Peternakan. Jurnal Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi Peternakan. 22: 52-59.
.
Wulandari Z. 2002. Sifat Organoleptik, Sifat Fisikokimia dan Total Mikroba Telur Itik Asin Hasil Penggaraman Dengan Tekanan. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Lampiran 1 Pembuatan Preparat Histopatologi
Pembuatan preparat histopatologi pada organ dalam (hati, ginjal, pankreas, ovari dan oviduk) dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
a. Fiksasi
Sediaan masing-masing organ dalam yang telah direndam (diawetkan) dalam larutan Buffer Netral Formalin (BNF) 10% kemudian disayat dengan ketebalan kira-kira 3 mm, dimasukkan kedalam tissue-cassete, dan siap untuk proses dehidrasi secara otomatis.
b. Dehidrasi
Sediaan masing-masing organ dalam dalam tissue-cassete dimasukkan kedalam keranjang Carrier yang kemudian dipasang pada tissue processor yang berturut-turut pada alkohol 70%, 80%,90%,95%, kemudian dimasukkan ke dalam alkohol absolut I dan absolut II. Lalu dilakukan proses penjernihan (clearing), yaitu dengan cara memasukkan sediaan dibersihkan ke dalam xylol I dan xylol II.
c. Perendaman (embedding), parafinasi dan pencetakan (blocking)
Sediaan ayam dalam tissue-cassete setelah lepas dari larutan xylol II, segera dicelupkan atau direndam dalam larutan parafin cair (suhu 580 600C) selama masing-masing 1 jam. Kemudian pada saat proses pencetakan sebaiknya dilakukan dekat sumber panas. Sediaan dimasukkan ke dalam cetakan yang sudah berisi parafin cair setengah dari tinggi dinding cetakan dan kemudian setelah bagian dasar mulai membeku lalu ditambahkan lagi dengan parafin cair sampai penuh. Sediaan tersebut diatur letaknya.
d. Pemotongan (sectioning)
Pemotongan dilakukan dengan menggunakan mikrotom putar dengan ketebalan kira-kira 5 m. Hasil irisan yang berbentuk pita diapungkan diatas permukaan air hangat (400C) baru kemudian dipilih irisan yang baik dan diletakkan diatas gelas obyek yang telah diolesi dengan Ewit (campuran albumin dan gliserin).
Kemudian gelas objek disimpan dalam inkubator selama 2 jam dengan temperatur 560C agar irisan lebih melekat pada gelas objek dan preparat siap diwarnai.
e. Pewarnaan HE (Hematoxylin Eosin)
Sebelum dilakukan pewarnaan, terlebih dahulu dilakukan proses deparafinasi (penghilangan parafin) dan proses rehidrasi (penambahan air). Hal ini dilakukan agar zat warna dapat terserap dengan sempurna.
Deparafinasi dilakukan dengan cara : sediaan dimasukkan berturut-turut ke dalam xylol II dan xylol I masing-masing selama 2 menit. Setiap kali dilakukan pemindahan, daerah sekitar sediaan diusap dengan kertas tissue tanpa menyentuh jaringan. Rehidrasi dilakukan dengan cara : sediaan dimasukkan berturut-turut ke dalam alkohol absolut II dan alkohol absolut I masing-masing selama 2 menit, kemudian ke dalam alkohol 95%, alkohol 90%, dan alkohol 90% masing-masing selama 1 menit.
Setelah proses rehidrasi, sediaan dibilas didalam air mengalir selama 1 menit lalu dimasukkan ke dalam pewarna Mayer,s Haematoxylin selama 1 menit. Setelah itu dimasukkan ke dalam Larutan Lithium Carbonate selama 15-13 detik dan kemudian dibilas di dalam air mengalir. Selanjutnya sediaan dimasukkan ke dalam pewarna Eosin selama 2-3 detik, lalu dibilas kembali dengan air mengalir. Setelah pewarnaan selesai, dilakukan proses dehidrasi dengan memasukkan sediaan ke dalam alkohol bertingkat yaitu alkohol 80%, 90% dan 95 % sebanyak 10 celupan, lalu ke dalam alkohol absolut I sebayak 10 celupan dan alkohol absolut II selama 2 menit. Setelah itu preparat dikeringkan diudara terbuka dan kemudian diteteskan perekat yaitu permount lalu ditutup dengan cover glass dan diberi label. Setelah preparat kering, dapat dilakukan pengamatan di bawah mikroskop.
Lampiran2 Pengembangan Metoda Analisa Retinol dengan HPLC (Thurnham 1988)
1. Sampel preparasi
Campurkan secara cepat 0.25 mL plasma atau serum dengan 0.25 mL dari 10 mmol/L reagent SDS, pencampuran dilanjutkan selama 1 menit setelah ditambahkan 0.5 mL ethanol yang engandung 40 µmol tocopherol acetate per liter, terakhir ditambahkan 1 mL n-heptane yang mengandung 0.5 gram BHT per liter, campuran di vortex selama 2.5 menit dan centrifuge (2500 x g, 10 menit,200C) untuk memisahkan phase. Pindahkan 0.7 mL supernatant heptane, uapkan pada kondisi nitrogen pada suhu 400C, dan residu dicampurkan ke dalam 0.25 mL phase mobile. Untuk sampel yang sedikit campurkan 0.1 mL dengan 0.1 mL SDS, 0.2 mL ethanol dan 1 mL heptane. Kemudian pindahkan 0.7 mL heptane, diuapkan dan dicampurkan ke 0.1 mL phase mobile untuk pengukuran. 2. Proteks sampel dan standar dari cahaya
Sampel diproteksi dengan cara mengekstraksinya dalam kondisi cahaya alami tapi tidak terpapar oleh cahaya matahari dan cahaya fluorescent secara terus menerus. Ekstrak akhirnya ditempatkan di dalam vial yang berwarna gelap yang mengandung 0.3 mL poli ethilene. Standar disimpan pada suhu -200C, dalam pengerjaannya standar juga sama dengan sampel. Semua standar diproteksi cahaya langsung matahari dan disimpan pada 40C bila sedang tidak digunakan. 3. Pengukuran
Siapkan standar seperti pada Tabel 14 dan disimpan pada suhu -200C. Standar harus dikalibrasi setiap minggu. Untuk penyesuaian dengan peralatan standar kerja disiapkan di dalam pelarut yang cocok dengan konsentrasi tertentu seperti pada Tabel 14. Luas area pada chromatographi untuk setiap standar merupakan perbandingan dengan total area seluruhnya. Dalam penggunaan licopene harus dalam bentu segar, sensitifitas alat dicek setiap hari dengan mencampurkan standar kerja seperti pada Tabel 14, kemudian mengukur luas panasnya di chromatography. Biasanya 0.5 mL larutan diuapkan dan dicampurkan ke dalam 0.25 mL phase mobile dan diukur standar deviasinya.
4. Pengecekan recovery
Recovery diukur dengan memodifikasi cara yang di atas. Ethanol sebanyak 0.5 mL yang mengandung standar internal (kira-kira 40µmol/L) dipipet ke 18 tabung
yang mengandung sampel dan 0.2 mL standar kerja yang telah diuapkan dan dikeringkan. Setelah pencampuran 5 mL serum dengan 5 mL dari 10 mL mol/L reagent SDS, lalu di tambahkan 0.5 mL campuran tersebut ke 18 tabung tadi. Kemudian tambahkan 1 ml heptane yang mengandung BHT dan divortex selama 2.5 menit, 0.7 mL estrak heptane dari setiap tabung diambil lalu diuapkan dan dibuat dalam kelompok A,B dan C. Kelompok A mengandung 0.25 mL phase mobile. Grup B dan C juga mengandung jumlah phase yang sama. Kemudian retinol, tocopherol, dan tocopherol acetate yang terdapat pada 18 ekstrak tersebut diukur dengan menggunakan metode kalibrasi standar eksternal (Tabel 15). 5. Ketelitian percobaan
Untuk menentukan koefisien variasi interbatch 0.5 mL dari plasma yang telah expayer dari sampel transfusi darah dimasukkan ke dalam 5 mL tabung plastik pada suhu -200C. Sebelum digunakan sampel di thawing dulu agar tidak ada yang membeku. Koefisien variasi intrabatch diperoleh dari pengukuran tunggal ekstrak dari 20 cairan dari sampel plasma yang sama.
Tabel 14 Callibrating the assay
Analyte Absorptivity, A.mol-1L-1 (at ,nm) Stock standard conc (and solvent)a
Dilution of working standards For calibration To adjust for purityb Retinol 52.48 (325) 25 mg/100 mL (ethanol) 1:50 (ethanol) 1:500 - Tocopherol 3.26 (292) 1 g/100 mL (heptane) 1:100 (ethanol)c 1:1000 -carotene 145.5 (446) 1 mg/10 mL (hexane) 1:100 (hexane) 1:500 -carotene 136.91 (452) 5 mg/25 mL (hexane) 1:100 (hexane) 1:500 Lycopene 186:3 (474) 1 mg/10 mL (chloroform) 1:11 (hexane)c 10:50 -Cryptoxanthine 136.0 (451) 0.5 mg/10 mL (hexane) 1:20 (hexane) 2:500 Tocopherol acetate (284) 1 g/100 mL (heptane) 1:100d (ethanol)c 2:500e Ket : an = Pelarut hexane dan heptane mengandung 500 mg BHT per liter
b stok pelarut diuapkan dan residu diencerkan dalam phase mobile. Standar
kerja digunakan individu untuk menaksir kemurnian dan langsung pada konsentrasi standar kerja sebelum mengkalkulasikan faktor respon atau mencampur standar
kerja terhadap sensitifitas monitor setiap hari
c Stok pelarut dipindahkan dengan menguapkan di bawah nitrogen sebelum diencerkan
Tabel 15 Analytical recovery of retinol, -tocopherol and tocopherol acetatea
Concn, µmol/Lb
Retinol -Tocopherol Tocopherol acetate
Mean SD Mean SD Mean SD
A:serum + working standard 2.81 0.18 37.14 0.64 109.62 3.81
B:serum only 1.45 0.08 17.52 0.83 52.39 1.69
C:serum reconstituted with working standard
3.39 0.13 44.75 1.09 135.25 2.94
%recoveryc 70.10 72.05 69.07
Ket : an = enam ekstraksi masing-masing sebagai gambaran dalam cara kerja, dengan meningkatkan sampel/SDS mixtute pada ethanol, dan untuk grup A
tergabung pada campuran standar kerja retinol, -tocopherol acetate menjadi ethanol b = mengkonversikan menjadi mg/L, multiply retinol x 0.292, -tocopherol x 0.4307, dan carotenes x 0.5369
Lampiran 3 Analisis Ragam Konsumsi Ransum, Efisiensi Ransum dan Produksi Telur
Tabel 16 Analisis ragam konsumsi ransum Sumber
Keragaman
db Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah
F Hitung P>F Perlakuan 2 319910 159955 1.01 0.3784 Sisa 27 4285975 158740
Total 29 4605885
Tabel 17 Analisis ragam efisiensi ransum Sumber
Keragaman
db Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung P>F Perlakuan 2 0.01357 0.00679 0.25 0.7856 Sisa 14 0.38705 0.02765 Total 16
Tabel 18 Pengaruh pemberian daun kaliandra dan kepala udang terhadap produksi telur itik selama 3 minggu dari 30 ekor itik
No Itik Persentase produksi telur (%)
R0.1 - R0.2 - R0.3 - R0.4 - R0.5 60.00 R0.6 53.30 R0.7 6.70 R0.8 66.70 R0.9 - R0.10 - R1.1 - R1.2 - R1.3 - R1.4 63.30 R1.5 56.70 R1.6 6.70 R1.7 - R1.8 6.70 R1.9 60.00 R1.10 33.30 R2.1 56.70 R2.2 - R2.3 16.70 R2.4 - R2.5 46.70 R2.6 6.70 R2.7 66.70 R2.8 3.30 R2.9 3.30 R2.10 63.30
Ket : Sampel pemeriksaan itik untuk perlakuan R0 adalah itik no 1 sampai 10; R1 itik nomor 1 sampai 10; R2 itik nomor 1 sampai 10
Lampiran 4 Khromatogram Retinol Serum Itik dengan HPLC a) Retinol Serum Itik Perlakuan R0 A (Ransum Basal)
b) Retinol Serum Itik Perlakuan R0 B (Ransum Basal)
c) Retinol Serum Itik Perlakuan R1 A (RB + 6% kaliandra + 3% kepala udang)
d). Retinol Serum Itik Perlakuan R1B (RB + 6% kaliandra + 3% kepala udang)
e) Retinol Serum Itik Perlakuan R2 A (RB + 6% kaliandra + 6% kepala udang)
f) Retinol Serum Itik Perlakuan R2 B (RB + 6% kaliandra + 6% kepala udang)
This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie.com. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.