• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen OLEH: RAESA EMA SARI BARUS NIM (Halaman 60-111)

Akbar, A. 2013. Penetapan Kadar Kotrimoksazol dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Armin, F., Rusdi., Von Dantes, E. 2012. Penggunaan Metode Rasio Absorban Dalam Penetapan Kadar Parasetamol dan Salisilamida Berbentuk Sediaan Campuran. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi. 17 (2): 172-173.

Attia, K. A. S. M., El-Abasawy, N.M., Abdelraool, A.M. 2016. Five Spectrophotometric Methods for Determination of Etilefrine HCl in Binary Mixture with Chlorpheniramine. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Vol 5, Issue 4: 214.

Chaudary, J., Jain, A., dan Saini, V. 2011. Simultaneous Estimation of Multicomponent Formulations UV-Visible Spectroscopy:IRJP 2 (12), 81-83.

Day, R. A., dan Underwood, A. L. 1986. Quantitative Analysis. 5th Edition. New Jersey: Printed in The United States of America. Pages 409-411.

Dinakaran, S.K., Botla, D.N.P., Pothula, A., Kasseti, K., Avasarala, H., Kakaraparthy, R. 2013. Spectrophotometric Method Development and Validation for Valacyclovir Hydrochloride Monohydrate and Ritonavir in Bulk and Tablet Dosage Form Using Absorption Ratio Method.

Malaysian Journal Of Pharmaceutical Sciences. 11 (2): 21-29.

Ditjen POM, RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.Halaman 769-770, 806.

Ditjen POM R. I. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 586, 613

Gandjar, I. G., danRohman, A. 2017. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan ke Enam Belas. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Halaman 228-230,.

Gaurang, B.,Sandip, S., Parmeshwari, M., Shweta, B. 2013. Developed and Validated Q-Absorption Method For the Simultaneous Estimation of Loteprednol Etabonate and Moxifloxacin HCl in the Pharmaceutical Dosage Form. International Journal of Pharmaceutical Research and Development, Vol 5 (03): 108-113.

Harmita. 2004. Petunjuk pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya.

Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol 1 (3): 117-135.

Irianto, H. 1987. Studi Perbandingan Penetapan Kadar Teofilin dan Fenobarbital dalam Campuran dengan Metode Spektrofotometri Berdasarkan Cara Kurva Diferensial Perbedaan Pelarut dan Cara Perbandingan Serapan.

Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Airlangga. Surabaya. Halaman 8-11.

Khanage, S.G., Mohite, P.B., Jadhav, S. 2013. Development and Validation of UV-Visible Spectrophotometric Method for Simultaneous Determination of Eperisone and Paracetamol in Solid Dosage Form. Advanced Pharmaceutical Buletin. 3 (2): 447.

Modak, V.G., Tajane, D.D., Ingale, K.D., Battewar, A.S., Choudari, V.P., Kuchekar, B.S. 2010. Spectrophotometric Determination of Drotaverine and Aceclofenac in Combined Tablet Dosage Form by Ratio Derivative Spectroscopy and Area Under Curve (AUC) Spectrophotometric Methods.

International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, Vol 3, Issue 1: 114.

Moffat, A. C., Osselton, M. D., dan Widdop, B. 2011. Clarke’s Analysis of Drug And Poisons. Fourth Edition. London: Pharmaceutical Press. Electronic version. Halaman 2082,2200.

Muchlisyam dan Pardede, T. R. 2017. Spektrofotometri dan Analisis Multikomponen Obat. Medan: USU Press. Halaman 7, 8, 13, 19-21, 26,98-100.

Munson, J.W. (1984). Pharmaceutical Analysis. Modern Methods.Part B.Penerjemah:Harjana dan Soemadi. (1991). Analisis Farmasi. Metode Modern. Parwa B. Surabaya: Airlangga University Press. Halaman 334.

Pallavi, P., Sagar, W., Praveen, C. 2013. Q Absorbance Ratio and Area Under Curve Method Spectrophotometric Method for the Simultaneous Estimation of Ketoprofen, Methyl Paraben and Propyl Paraben in their Formulated Gel Form. Der Pharmacia Lettre, 5 (6): 1-2.

Pandey, G., dan Brameshwar, M. 2013. A New Analytical Q-Absorbance Ratio Method Development and Validation for Simultaneous Estimation of Lamivudine and Isoniazid. Research Article: ISRN Spectroscopy. Vol 2013: 1-2

Patel, N.V., dan Prajapati, A. M. 2012. Q-Absorbance Ratio Spectrophotometric Method for the Simultaneous Estimation of Ciprofloxacin and Metronidazol in their Combined Dosage Form. Journal of Pharmaceutical Sciences and Bioscientific Research (JPSBR). Volume 2, Issue 3: 118-122.

Setiawan, R. 2017. Penetapan Kadar Simultan Sulfametoksazol dan Trimetoprim secara Spektrofotometri Ultraviolet dengan Metode Mean Centering Of Ratio Spectra (MCR). Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Prasad, U.V., Bab, S.M., Ramu, B.K. 2012. Development of New Visible Spectrophotometric Methods for Quantitative Determination of Almotriptan Malate as an Active Pharmaceutical Ingredient in Formulations. Internatonal Journal of Drug Development & Research.

Vol. 4, Issue 2: 369-370.

Ramesh, S., Raihan, A., Supriya, R., Sheetal, D. 2012. Spectrophotometric Methods For Simultaneous Estimation of Atorvastatin and Niacin in Tablet Dosage Form. International Journal Of Pharmacy And Sciences, 3 (5): 364-367.

Rohman, A., Silawati, D., Sudjadi., Riyanto, S. 2105. Simultaneous Determination of Sulfamethoxazole and Trimetoprim using UV Spectroscopy in Combination with Multivariate Calibration. Journal of Medical Sciences., 15 (4) : 178-179.

Satiadarma, K., Mulja, M., Tjahjono, D.H., Kartasasmita, R.E. (2004). Asas Pengembangan Prosedur Analisis. Edisi Pertama. Surabaya: Airlangga University Press. Halaman 46-47, 86-88, 90-91.

Singh, G., Kumar, D., Sharma, D., Singh, M., Kaur, S. 2012. Q-Absorbance Ratio Spectrophotometric Method for the Simultaneous Estimation of Prednisolone and 5-Amino Salisylic Acid in Tablet Dosage Form. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 02 (06): 222-226.

Sravanthi, K., Sirisha, K., Kumawaswamy, D. 2017. Simultaneous Estimation of Metoprolol Succinate And Hidrochlorthiazide in Bulk and Tablet Form by

Using UV Spectroscopy. International Journal of Pharmacy and Technology, Vol 9, Issue 2: 30211.

USP XXII NF XVII. 1990. The United States Pharmacopeia The National Formulary. United States Pharmacopeial Convention, Inc. Halaman 1737.

Lampiran 1. Contoh Perhitungan % Transmitan dan Kesalahan Fotometrik Sulfametoksazol dalam metanol:aquades (1:1)

Absorbansi = 0,433

% Transmitan = antilog (2-A) = antilog (2-0,433) = 36,897

Transmitan = 0,36897

Maka kesalahan fotometrik Sulfametoksazol dalam metanol:aquades (1:1) adalah

dc

c = 0,4343 T ( log T)dt dc

c = 0,4343

0,36897 ( log 0,36897)x 1 = 2,7194 %

Selisih persen kesalahan fotometrik Sulfametoksazol dalam metanol:aquades (1:1) dengan persen kesalahan terkecil adalah

= 2,7194 % - 2,7185 %

= 0,00097 %

Lampiran 2. Spektrum Serapan Baku Sulfametoksazol Pada Berbagai Konsentrasi

Gambar 1. Spektrum serapan sulfametoksazol pada konsentrasi 3,3 μg/mL

Gambar 2. Spektrum serapan sulfametoksazol pada konsentrasi 4,7 μg/mL

Gambar 3. Spektrum serapan sulfametoksazol pada konsentrasi 6,1 μg/mL

Gambar 4. Spektrum serapan sulfametoksazol pada konsentrasi 7,5 μg/mL

Gambar 5. Spektrum serapan sulfametoksazol pada konsentrasi 8,9 μg/mL

Gambar 6. Tumpang Tindih Spektrum Baku Sulfametoksazol ( 3,3 μg/mL, 4,7 μg/mL, 6,1 μg/mL, 7,5 μg/mL, 8,9 μg/mL )

Lampiran 3. Spektrum Serapan Baku Trimetoprim Pada Berbagai Konsentrasi

Gambar 7. Spektrum Serapan Trimetoprim Pada Konsentrasi 9,2 μg/mL

Gambar 8. Spektrum Serapan Trimetoprim Pada Konsentrasi 13,2 μg/mL

Gambar 9. Spektrum Serapan Trimetoprim Pada Konsentrasi 17,2 μg/mL

Gambar 10. Spektrum Serapan Trimetoprim Pada Konsentrasi 21,2 μg/mL

Gambar 11. Spektrum Serapan Trimetoprim Pada Konsentrasi 25,2 μg/mL

Gambar 12. Tumpang Tindih Spektrum Baku Trimetoprim ( 9,2 μg/mL, 13,2 μg/mL, 17,3 μg/mL, 21,2 μg/mL, 25,2 μg/mL )

Baku Sulfametoksazol Lampiran 4. Bagan Alir Prosedur Penelitian

a. Bagan Alir Pembuatan Larutan Induk Baku (LIB) Dan Serapan Maksimum Sulfametoksazol Secara Kuantitatif

Ditimbang seksama 25 mg

Dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL

Dilarutkan dan dicukupkan dengan pelarut metanol : air (1:1)sampai garis tanda

Dipipet 5 mL

Dimasukkan kedalam labu tentukur 25 mL

Dilarutkan dan dicukupkan dengan pelarut metanol : air (1:1)sampai garis tanda

Dipipet 0,61 mL

Dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL

Dicukupkan dengan pelarut metanol : air (1:1)sampai garis tanda

Lampiran 4. (Lanjutan)

b. Bagan Alir Pembuatan Larutan Induk Baku (LIB) Dan Serapan Maksimum Trimetoprim Secara Kuantitatif

Ditimbang seksama 25 mg Dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL

Dilarutkan dan dicukupkan dengan pelarut metanol : air (1:1)sampai garis tanda

Dipipet 5 mL

Dimasukkan kedalam labu tentukur 25 mL

Dilarutkan dan dicukupkan dengan pelarut metanol : air (1:1)sampai garis tanda

Dipipet 1,72 mL

Dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL

Diukur serapan pada gelombang 200-400 nm Baku Trimetoprim

LIB I Trimetoprim (500µg/mL)

LIB II Trimetoprim (100µg/mL)

Trimetoprim (100µg/mL)

Panjang gelombang maksimum (λ) Trimetoprim = 288 nm

Lampiran 4. (Lanjutan)

c. Bagan Alir Pembuatan Dan Pengukuran Serapan Larutan Standar Sulfametoksazol

Dipipet masing-masing sebanyak 0,33 mL; 0,47 mL;

0,61 mL; 0,75

mL; 0,89 mL

Dimasukkan masing-masing ke dalam labu tentukur 10 mL

Dilarutkan dan dicukupkan dengan pelarut metanol : air (1:1) sampai garis tanda

Diukur serapan pada panjang gelombang 258nm

LIB II Sulfametoksazol (100 µg/mL)

Larutan standar Sulfametoksazol (3,3 µg/mL; 4,7 µg/mL; 6,1 µg/mL; 7,5µg/mL; 8,9 µg/mL

Spektrum Serapan Sulfametoksazol

Lampiran 4. (Lanjutan)

d. Bagan Alir Pembuatan Dan Pengukuran Serapan Larutan Standar Trimetoprim

Dipipet masing-masing sebanyak 0,92mL;1,32 mL;

1,73 mL; 2,12 mL; 2,52 mL Dimasukkan masing-masing ke dalam labu tentukur 10 mL

Dicukupkan dengan pelarut metanol : air (1:1) sampai garis tanda

sampai garis batas

Diukur serapan pada panjang gelombang 258 nm

LIB II Trimetoprim (100µg/mL)

Larutan standar Trimetoprim 9,2 µg/mL; 13,2 µg/mL;

17,2 µg/mL; 21,15 µg/mL; 25,1 µg/mL

Spektrum Serapan Trimetoprim

Lampiran 4. (Lanjutan)

e. Bagan Alir Pembuatan LarutanBaku Campuran Sulfametoksazol Dan Trimetoprim

dimasukkan kedalam labu dimasukkan kedalam

tentukur 10 mL labu tentukur 10 mL

dilarutkan dan dicukupkan dilarutkan dan

dengan pelarut dicukupkan dengan

pelarut

dipipet 0,61 mL dipipet 1,72 mL

dicampur kedua larutan kedalam labu tentukur 10 mL

dicukupkan dengan pelarut

dipipet 1 mL

dimasukkan kedalam labu tentukur 10 mL dan dicukupkan dengan pelarut

diukur serapan pada panjang gelombang 200-400 nm

Larutan Sulfametoksazol

(1000 µg/mL) Larutan Trimetoprim

(1000 µg/mL)

Sulfametoksazol = 10 mg Trimetoprim = 10 mg

Lampiran 4. (Lanjutan)

f. Bagan Alir Penentuan Kadar Sulfametoksazol Dan Trimetoprim Dalam Sediaan Suspensi

Dipipet 0,62 ml sampel setara dengan 25 mg Sulfametoksazol (dilakukan 6 kali pengulangan)

Dimasukkan kedalam labu tentukur 50 ml Dilarutkan dan dicukupkan dengan pelarut sampai garis tanda

Dihomogenkan dengan sonikator selama 15 menit

Dipipet 5 ml

Dimasukkan kedalam labu tentukur 25 ml Dicukupkan dengan pelarut

Dipipet 0,61 ml dimasukkan kedalam labu tentukur 10 ml

Ditambahkan LIB II Trimetoprim 1,6 ml Dicukupkan dengan pelarut

Ditambahkan NH4OH sampai PH 10

Diukur serapan pada 200-400 nm

Dihitung konsentrasinya masing-masing secara rasio absorbansi

Lampiran 4. (Lanjutan)

g. Bagan Alir Penentuan Kadar Sulfametoksazol dan Trimetoprim Dalam Sediaan Suspensi S

Dipipet 0,62 ml sampel setara dengan 25 mg Sulfametoksazol (dilakukan 6 kali pengulangan)

Dimasukkan kedalam labu tentukur 50 ml Dilarutkan dan dicukupkan dengan pelarut sampai garis tanda

Dihomogenkan dengan sonikator selama 15 menit

Dipipet 5 ml

Dimasukkan kedalam labu tentukur 25 ml Dicukupkan dengan pelarut

Dipipet 0,61 ml dimasukkan kedalam labu tentukur 10 ml

Ditambahkan LIB II Trimetoprim 1,6 ml Dicukupkan dengan pelarut

Ditambahkan NH4OH sampai PH 10

Diukur serapan pada 200-400 nm

Dihitung konsentrasinya masing-masing secara rasio absorbansi

Lampiran 4. (Lanjutan)

h. Bagan Alir Prosedur Penelitian Secara Keseluruhan Pembuatan larutan induk baku (LIB)

Sulfametoksazol dan Trimetoprim

Penetapan Kadar sampel

Pengujian Validasi metode Pengukuran spektrum serapan maksimum Sulfametoksazol dan Trimetoprim

Pengukuran spektrum serapan sampel (suspensi)

Pengukuran spektrum serapan campuran baku maksimum Sulfametoksazol dan Trimetoprim

Di plot hasil dengan serapan kalibrasi sehingga di peroleh persamaan

iperoleh hasil λ maksimum masing-masing. Spektrum di tumpang tindihkan

Pembuatan kurva kalibrasi masing-masing Sulfametoksazol pada panjang gelombang 258 nm dan Trimetoprim pada panjang gelombang 288 nm

Setelah di tumpang tindihkan untuk memperoleh titik isoabsorptif

Dicari nilai Rasio Absorbansi menurut persamaan matematis

Lampiran 5. Perhitungan Penentuan Konsentrasi Serapan Baku Sulfametoksazol dan Trimetoprim Berdasarkan Hukum Lambert-Beer

a) Perhitungan Penentuan Konsentrasi Serapan Baku Sulfametoksazol i. A = 0,233

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,233 = 704 (1) c C = 0,000330 g/100 mL C = 3,3µg/mL

ii. A = 0,333

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,333 = 704 (1) c C = 0,000473 g/100 mL C = 4,73µg/mL

iii. A = 0,433

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,433 = 704 (1) c C = 0,000615 g/100 mL C = 6,15 μg/mL

iv. A = 0,533

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,533 = 704 (1) c C = 0,000757 g/100 mL C = 7,57 µg/mL

Lampiran 5. (Lanjutan) v. A = 0,633

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,633 = 673 (1) c C = 0,000899 g/100 mL C = 8,99µg/mL

b) Perhitungan Penentuan Konsentrasi Serapan Baku Trimetoprim i. A = 0,233

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,233 = 250(1) c

C = 0,000924 g/100 mL C = 9,24µg/mL

ii. A = 0,333

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,333 = 250 (1) c C = 0,001321 g/100 mL C = 13,21µg/mL

iii. A = 0,433

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,433 = 250 (1) c C = 0,001718 g/100 mL C = 17,18 μg/mL

iv. A = 0,533

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,533 = 250 (1) c C = 0,002115 g/100 mL C = 21,15 µg/mL v. A = 0,633

A = A11.b.c (g/100 mL) 0,633 = 250 (1) c C = 0,002511 g/100 mL C = 25,11µg/mL

Lampiran 6. Data Kalibrasi Baku Sulfametoksazol, Persamaan Regresi dan Koefisien Korelasi

No Konsentrasi (µg/ml) (X) Absorbansi pada λ maksimum

Perhitungan persamaan garis regresi :

∑ ∑ ∑

Lampiran 6. (Lanjutan)

Perhitungan Koefisien Korelasi(⥾) :

∑ ∑ ∑

√[ ∑ ∑ ][ ∑ ∑ ]

√[ ][ ]

⥾ =

= 0,99975

Maka, koefisien korelasi dari data kalibrasi serapan Sulfametoksazol pada titik isoabsorptif 249 nm adalah 0,99975.

Lampiran 7. Data Kalibrasi Baku Trimetoprim, Persamaan Regresi dan Koefisien Korelasi

No Konsentrasi (g/ml) (X) Absorbansi pada λ

Perhitungan persamaan garis regresi :

∑ ∑ ∑

Lampiran 7. (Lanjutan)

Perhitungan Koefisien Korelasi(⥾) :

∑ ∑ ∑

√[ ∑ ∑ ][ ∑ ∑ ]

√[ ][ ]

⥾ =

= 0,9995

Maka, koefisien korelasi dari data kalibrasi serapan Trimetoprim pada titik isoabsorptif 249 nm adalah 0,9995.

Lampiran 8. Perhitungan Kadar Teoritis Sulfametoksazol Dan Trimetorim Dalam Sediaan Suspensi

Tiap 5 ml mengandung : Sulfametoksazol... 200 mg Trimetoprim...40 mg

Dipipet analit setara dengan 25 mg Sulfametoksazol, maka volume analit yang dipipet adalah :

=

,

maka x = 0,625 mL.

Sampel yang dipipet adalah 0,625 ml sehingga mengandung:

Sulfametoksazol = 25 mg Trimetoprim = 5 mg

Dilarutkan dengan pelarut metanol:air (1:1) dengan kuantitatif ke dalam labu tentukur 50 ml sampai garis tanda. Dihomogenkan dengan sonikator 15 menit.

Larutan tersebut disaring, 10 mL filtrat pertama dibuang dan filtrat selanjutnya ditampung.

Konsentrasi Sulfametoksazol = 1000 = 500

Konsentrasi Trimetoprim = 1000 = 100

Kemudian dipipet 2 ml dan dimasukkan kedalam labu 10 ml dan diencerkan dengan pelarut hingga garis tanda.

Konsentrasi Sulfametoksazol =

= 100 Konsentrasi Trimetoprim =

= 20

Kemudian dipipet lagi 0,61 ml kedalam labu tentukur 10 ml, lalu ditambahkan 1,6 ml LIB II trimetoprim (metode adisi standar) lalu diencerkan dengan pelarut sampai garis tanda.

Konsentrasi sulfametoksazol =

= 6,1

Konsentrasi Trimetoprim =

= 1,22

Konsentrasi Trimetoprim yang akan diadisikan (metode adisi standar):

Konsentrasi Trimetoprim = 17,2 – 1,22

= 15,98

Volume larutan LIB II Trimetoprim yang dipipet untuk mengadisi :

V1 x C1 = V1 x C1

V1 x 100 = 10 ml x 15,98

V1 = 1,598 ml

Volume yang dipipet 1,6 ml

1,6 x 100 = 10 ml x C2

C2 = 16 µg/ml

Konsentrasi larutan trimetoprim yang diukur = 1,22 + 16

= 17,22

Lampiran 9.Contoh perhitungan konsentrasi dengan menggunakan metode Rasio Absorbansi dari Sulfametoksazol dan Trimetoprim dalam suspensi K dan S

Perhitungan metode rasio absorbansi dapat dihitung dengan persamaan matematis :

- A1 = Absorbansi larutan sampel pada isoabsorptive point 1. Penentuan Absorptivitas

- Sulfametoksazol pada 258 nm

A = a.b.c, maka = = = 0,0709 (ax2) - Sulfametoksazol pada 249 nm

A = a.b.c, maka = = = 0,0629 (ax1)

 Qm =

Lampiran 10. Data Kadar Sulfametoksazole Dan Trimetoprim Dalam Sediaan Contoh perhitungan pada pengulangan pertama

Kadar Sulfametoksazol =

= 99,08 % Kadar Trimetoprim =

= 97,74 %

Lampiran 11.Data Kadar Sulfametoksazole Dan Trimetoprim Dalam Sediaan Contoh perhitungan pada pengulangan pertama

Kadar Sulfametoksazol =

= 99,49%

Kadar Trimetoprim =

= 96,16%

Lampiran 12. Perhitungan Kadar Sulfametoksazol dan Trimetoprim Secara

t hitung 4 =

|

| |

|

= (Diterima) t hitung 5 =

|

| |

|

= (Diterima) t hitung 6 =

|

| |

|

= (Diterima)

Dari hasil perhitungan diatas diperoleh bahwa semua data berada pada rentang -t

tabel ≤ t hitung ≤ t tabel. Maka, semua data tersebut diterima.

Kadar Sulfametoksazol dalam suspensi K adalah :

 = (

̅ ± t

tabel

x

) %

= (99,40±4,0321 x

)

% Kadar = (97,25±0,33) %

 Kadar Trimetoprim

t hitung 5 =

|

√ ⁄

| |

⁄√

|

= (Diterima) t hitung 6 =

|

√ ⁄

| |

⁄√

|

= (Diterima) Dari hasil perhitungan diatas diperoleh bahwa semua data berada pada rentang -t

tabel ≤ t hitung ≤ t tabel. Maka, semua data tersebut diterima.

Kadar Trimetoprim dalam suspensi K adalah :

 = ( ̅ ± ttabel x

) %

= (98,426± 4,0321 x

) % Kadar = (97,02± 1,13) %

Lampiran 13.Perhitungan Kadar Sulfametoksazol dan Trimetoprim Secara

t hitung 4 =

|

| |

|

= (Diterima) t hitung 5 =

|

| |

|

= (Diterima) t hitung 6 =

|

| |

|

= (Diterima)

Dari hasil perhitungan diatas diperoleh bahwa semua data berada pada rentang -t

tabel ≤ t hitung ≤ t tabel. Maka, semua data tersebut diterima.

Kadar Sulfametoksazol dalam suspensi S adalah :

 = (

̅ ± t

tabel

x

) %

= (99,6386± 4,0321 x

) % Kadar = (99,64± 0,28) %

 Kadar Trimetoprim

t hitung 5 =

|

| |

|

= (Diterima) t hitung 6 =

|

√ ⁄

| |

⁄√

|

= (Diterima) Dari hasil perhitungan diatas diperoleh bahwa semua data berada pada rentang -t

tabel ≤ t hitung ≤ t tabel. Maka, semua data tersebut diterima.

Kadar Trimetoprim dalam suspensi S adalah :

 = ( ̅ ± ttabel x

) %

= (96,8022± 4,0321 x

) % Kadar = (96,80 ± 0,74) %

Lampiran 14. Contoh Perhitungan Persentase Perolehan Kembali (% recovery) Sampel yang digunakan adalah Suspensi K

Tiap 5 mL suspensi mengandung:

Sulfametoksazol 200 mg Trimetoprim 40 mg

Berat kesetaraan sampel pada penetapan kadar = 25 mg Perolehan 80 %

Sulfametoksazol = 25 mg = 20 mg

Analit Sulfametoksazol = 20 mg = 14 mg Sampel yang dipipet = 5 mL = 0,35 mL

Baku Sulfametoksazol 30% yang ditambahkan = = 20 mg = 6 mg Analit Trimetoprim = 40 mg = 2,8 mg

Baku Trimetoprim 30% yang ditambahkan = x 40 mg x = 1,2 mg Perolehan 100 %

Sulfametoksazol = 25 mg = 25 mg

Analit Sulfametoksazol = 25 mg = 17,5 mg Sampel yang dipipet = 5 mL = 0,4375 mL

Baku Sulfametoksazol 30% yang ditambahkan = = 25 mg = 7,5 mg Analit Trimetoprim = 40 mg = 3,5 mg

Baku Trimetoprim 30% yang ditambahkan = x 40 mg x = 1,5 mg

Perolehan 120 %

Sulfametoksazol = 25 mg = 30 mg

Analit Sulfametoksazol = 30 mg = 21 mg Sampel yang dipipet = 5 mL = 0,525 mL

Baku Sulfametoksazol 30% yang ditambahkan = = 30 mg = 9 mg Analit Trimetoprim = 40 mg = 4,2 mg

Baku Trimetoprim 30% yang ditambahkan = x 40 mg x = 1,8 mg

Persentase perolehan kembali:% Recovery = x 100%

Keterangan:

CF = Konsentrasi sampel setelah penambahan bahan baku CA = Konsentrasi sampel sebelum penambahan bahan baku CA*= Jumlah baku yang ditambahkan (dikali pemurnian baku)

Lampiran 15. Data Hasil Persen Perolehan Kembali Sulfametoksazol pada Suspensi S dengan Metode Penambahan Baku (Standart Addition Method)

Standard Deviation (SD) 1,1706

Relative Standard Deviation (RSD) 1,17 Contoh perhitungan :

Rentang Spesifik Sulfametoksazol 80%-1 Faktor pengenceran = = 81,9673

Diperoleh konsentrasi sebelum penambahan baku dalam labu akhir adalah 3,3091µg/ml, maka bobotnya adalah:

Bobot dalam labu awal = 3,3091µg/ml x 81,9673 x 50 ml = 13,5621mg

Diperoleh konsentrasi setelah penambahan baku dalam labu akhir adalah 4,7722µg/ml, maka bobotnya adalah:

Bobot dalam labu awal = 4,7722µg/ml x 81,9673 x 50 ml = 19,5585mg

% Recovery = x 100 %

=

x 100 %= 99,05%

Lampiran 16. Perhitungan Kadar Perolehan Kembali Sulfametoksazol secara Statistik

No Kadar Perolehan Kembali (%) ( x - ̅ ( x - ̅ 2

1 99,05 -0,84 0,7056

2 98,33 -1,56 2,4336

3 98,95 -0,94 0,8836

4 99,69 -0,20 0,0400

5 100,05 0,16 0,0256

6 100,18 0,29 0,0841

7 100,95 1,06 1,1236

8 102,25 2,36 5,5696

9 99,58 -0,31 0,0961

̅ = 99,89 ∑ ̅ 2=

10,9618

Statistik pada taraf SD = √∑( – ̅) = √ = √ 1,1706 RSD =

= 00% = 1,17%

Lampiran 17. Perhitungan Simpangan Baku, Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantitasi (LOQ) Sulfametoksazol

No X Y Yi (Y-Yi) (Y-Yi)2

1 0,0 0,000 -0,0032 0,0032 0,00001062

2 3,3 0,197 0,2057 0,0088 0,00007677

3 4,7 0,297 0,2944 0,0026 0,00000656

4 6,1 0,385 0,3831 0,0019 0,00000356

5 7,5 0,474 0,4717 0,0022 0,00000488

6 8,9 0,559 0,5604 0,0015 0,00000215

∑= 0,0001046

5,1.10-3

0,2664 μg/mL

0,8071 μg/mL

Lampiran 18. Data Hasil Persen Perolehan Kembali Trimetoprim pada Sediaan Suspensi S dengan Metode Penambahan Baku (Standart Addition Method)

Rata- rata % recovery 101,28

Standard Deviation (SD) 0,9900

Relative Standard Deviation (RSD) 0,98%

Contoh perhitungan : Rentang Spesifik 80%-1

Faktor Pengenceran= 10 mL x25 mL = 29,0698 1,72 mL 5 mL

Diperoleh konsentrasi Trimetoprim sebelum penambahan baku dalam labu akhir adalah 14,4359µg/ mL, maka bobotnya adalah:

Bobot dalam labu awal = 14,4359µg/ mL x 29,0698 x 50 mL = 20,9824 mg

Diperoleh konsentrasi Trimetoprim setelah penambahan baku dalam labu akhir adalah 15,3419 µg/ mL, maka bobotnya adalah:

Bobot dalam labu awal = 15,3419µg/ mL x 29,0698 x 50 mL = 22,2993 mg

% Recovery = x 100 %=

x 100 %

= 102,04%

Lampiran 19. Perhitungan Kadar Perolehan Kembali Trimetoprim secara Statistik No Kadar Perolehan Kembali (%) ( x - ̅ ( x - ̅ 2

1 102,08 0,80 0,6400

2 100,22 -1,06 1,1236

3 101,56 0,28 0,0784

4 100,88 -0,40 0,1600

5 99,70 -1,58 2,4964

6 102,64 1,36 1,8496

7 101,33 0,05 0,0025

8 102,38 1,10 1,2100

9 100,75 0,53 0,2809

̅ = 101,28 ∑ ̅ 2=

7,8414

Statistik pada taraf SD = √∑( – ̅) = √ = √ 0,9900 RSD =

= 00% = 0,98%

Lampiran 20. Perhitungan Simpangan Baku, Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantitasi (LOQ) Trimetoprim

No X Y Yi (Y-Yi) (Y-Yi)2

1 0,0 0,000 0,00065 - 0,00065 0,0000004225

2 9,2 0,210 0,20977 0,000224 0,0000000505

3 13,2 0,313 0,30069 0,012300 0,0001513097

4 17,2 0,400 0,39162 0,008376 0,0000701707

5 21,2 0,487 0,48254 0,004452 0,0000198274

6 25,2 0,569 0,57347 0,004471 0,0000199916

∑= 0,00026177

8,09.10-3

1,1744 μg/mL

3,5588 μg/mL

Lampiran 21. Gambar Suspensi Kotrimoksazol dan Sanprima

Gambar 13. Suspensi Kotrimoksazol

Gambar 14. Suspensi Sanprima

Lampiran 22. Gambar Alat-alat

Gambar 15. Spektrofotometer UV-Visible (Shimadzu UV 1800)

Gambar 16. Neraca analitik (Boeco Germany)

Gambar 17. Sonikator (Branson 1510)

Lampiran 23. Daftar Nilai Distribusi t

Lampiran 24. Sertifikat Pengujian Sulfametoksazol

Lampiran 25. Sertifikat pengujian Trimetoprim

Dalam dokumen OLEH: RAESA EMA SARI BARUS NIM (Halaman 60-111)

Dokumen terkait