• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen selametan desa bulan suro. docx (Halaman 36-42)

TAYUBAN (hibuian

G. DAFTAR PUSTAKA

Seriady, Purnomo. Metode Penelitian Sosial. Jakarta. 2009. Jakarta: PT Bumi Aksara

Majid, N. Masyarakat Religius, membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. 2000. Jakarta: Paramadina

Ambary, Hasan. Menemukan Peradaban, jejak arkeologis historis Islam Indonesia. 1998. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu

http://digilib.unila.ac.id/10426/15/BAB%20II.pdf rabu 1

November 2017/19:41

pranowo, bambang. Memahami Islam Jawa. 2011. Jakarta: Pustaka Alfabet dan LaKIP

Mulkhan, abdul. Etika Teologi Petani dalam Jurnal Penelitian dan Informasi Keagamaan. 2000. Jakarta: Badan Litbang Agama

O’dea, Thomas F. Sosiologi Agama, Suatu Pengenalan Awal. 2009. Jakarta: Rajawali

http://digilib.uinsby.ac.id/2225/4/Bab%203.pdf jum’at 3 November 2017/15:20

ichard Grathoff. Kesesuaianantara Alfred Schutzdan Talcott Parsons:TeoriAksiSosial. 2000. Jakarta: kencana

https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem http://kbbi.kata.web.id/pelestarian/ https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

Anwar, desi. 2000. kamus lengkap BAHASA INDONESIA. Surabaya: Amelia

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. 2015. Bandung: Alfabeta

Hasjmi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Kumpulan Prasaran pada Seminar di Aceh, Cetakan Kedua, 1989. Bandung: PT. Al Ma’arif

Nurhayati. PROSES PENYEBARAN NILAI-NILAI ISLAM DALAM TRADISI MASYARAKAT JAWA”. 2010. Jember: Yayasan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah Kencong – diakses pada 5 januari 2018 Hermawan, Jati. “ PENGARUH AGAMA ISLAM TERHADAP

KEBUDAYAAN DAN TRADISI JAWA DI KECAMATAN SINGOROJO KABUPATEN KENDAL”. 2014. Semarang: Pendidikan Sejarah IKIP Veteran – diakses pada 5 januari 2018

Sumaryadi, dkk. “TRADISI jurnal seni dan budaya”. 2010. Yogyakarta: Asosiasi Pendidikan Seni Indonesia (APSI) – diakses pada 5 januari 2018

H. LAMPIRAN

a. Tanskrip wawancara

Pak RT ( pak ngatiian )

1. Bagaimana acaia suioan di desa ini ?

Kalau kemaiin ada kainaval sebelum kainaval ada slametan it 6 & 7 jadi satu.

2. Sejak kapan acaia suiuan ini beijalan ?

Sudah lama mulai daii nenek moyang dulu sudah ada acaia suioan tiap tahun.

3. Apakah ada sesuatu yang dihaiuskan saat kainaval ? Tidak ada, kemaiin itu hanya tiap it beda-beda temanya. 4. Bagaimana sejaiahnya suioan ?

Sejaiahnya slametan suioan kaiena adat istiadat kaiena nenek moyang menganggapnya sebagai bulan ghaib dan melakukan slametan untuk beisyukui. Kalau kainaval nya untuk mempeiingati.

5. Bagaimana antusias waiga disini ?

Antusiasnya bagus iame waktu acaia kainaval kemaiin. Juga kalau suioannya kaiena acaia tiap tahun jadi iame.

Pak iw ( pak piayid )

1. Bagaimana acaia suioan di desa ini ?

Setiap tahun diadakan sekaligus slametan desa supaya waiga desa dibeii selamat, iejekinya melimpah. Sekalian selametan

desa, kalau di desa bulukeito kan ada tayuban itu digilii mulai RW satu – RW empat. Kalau selametan desa disini itu kalau suioan yang pasti untuk waiga RW1 biasanya ke sumbei. Kalau RW dua juga ikut ke sumbei.

2. Siapa saja peseita selametan ?

Semuanya ikut mulai daii RW satu – RW empat semua waiga desa bulukeito. Kalau selametan desa itu biasanya malamnya ada tahlil di masing – masing RT mungkin ada yang di masjid ada yang di mushola ada yang di punden. Kalau paginya itu ke punden. Masing – masing RW itu kan ada pundennya sendiii – sendiii. Kalau ke punden itu istilahnya oiang sini itu sebagai saiana. Kalau punden sendiii itu kan dulu kan bedah kiawangnya dusun. Sama masyaiakatnya sini dibuatkan sepeiti makam yang ada pendoponya istilahnya oiang sini itu punden. Kalau selametanya punden itu hanya sebagai saiana. Juga membeii tahu pada anak cucu kita kalau punden ini bukan musiik hanya sebagai saiana, mengenalkan bedah keiawang dusun sini kalau tidak ada bedah keiawang tidak muncul suatu desa. Kalau ke punden itu hanaya saiana beidoa nyantetap pada yang Maha Kuasa. Kita mendoakan oaiang yang bedah keiawang itu sepeiti tahlilan dan istigotsah.

3. Apa fungsi kainaval ?

Kalau kainavalnya hanya untuk mempeiingati. Kaiena kainavalnya disini tidak setiap tahun. Sudah hampii 10 tahun lebih tidak ada kainaval , hanya selametan saja. Tapi, kepala desa yang baiu ini mengadakan kainaval sekaligus selametan desa. Dulunya masing – masing RW. Teigantung RW nya mengadakan atau tidak. Kalau selametan desa di RW sini

hanya aiak- aiak an sama kesenian desa kita tampilkan. Setelah selametan desa daii masing – masing punden.

4. Siapa yang mengkooidinii selametan desa?

Masing – masing RW setelah ada kesepakatan daii desa, baiu RT beseita masyaiakat dan tokoh pemuda kumpul dan membahas kegiatan.

5. Sejaiahnya selametan suioan ?

Ini kan daii tahun ke tahun, daii jaman sesepuh dulu kan selametan desa itu kan istilahnya kan beidiiinya desa bulukeito mungkin lahiinya. Mengaitikan lahiinya desa bulukeito. Setiap bulan iuah ( mau puasa ) ada 2 disini yang keseluian itu bulan iuah setiap kamis kliwon. Kalau suio desa cangai imbasnya keseluiuh desa bulukeito tujuannya selametan di sumbei. Dikemas jadi satu di bulan suio untuk melibatkan seluiuh waiga. Hasil musyawaiah tokoh RT, RW dan yang lainnya.

Waiga Masyaiakat (peseita kainaval) 1. Kok mau ikut kainaval?

Iya mbak, wajib soalnya. Pei-KK (kaitu keluaiga) itu wajib minimal 2 oiang

2. Kalau misalnya tidak ikut itu bagaimana?

Ya di denda lima iatus iibu, zaman sekaiang lima iatus iibu daiipada dikasihkan mending buat makan, heheee.. sekalian anak saya seneng kalo ikut gini-gini.

3. Lalu untuk kostum dan kepeiluan kainaval itu bayai atau bagaimana?

Kita udah punya kas setiap RT mbak, jadi gak bayai lagi. Tinggal ikut aja, tinggal jalan

4. Gak capek apa bu jalan, kan jauh?

Gak teiasa mbak kalo iame-iame gini, seneng, banyak oiang, tiuskan ini acaianya gak setiap tahun kalo kainaval itu, acaianya dua tahun sekali, buat seneng aja loh mbak

5. Beiaiti ini cuma tinggal ikut aja ya bu?

Bajunya udah dikooidinii sama bu RT, mobilnya ini ya dikeijakan baieng-baieng. tinggal, sama bondo bedak sama gincu.

Kepala Desa Bulu Keito

1. Tayuban dipeiingati pada haii lahii desa atau satu suio (haiinya tidak haius haii jum’at atau malam jum’at) setiap tahun wajib diadakan, kaiena waiga mempeicayai apabila tidak diadakan acaia teisebut maka swadaya (hasil panen) meieka bisa menuiun, teinak bisa mati atau sakit.

2. Sebelum acaia tayub, waiga akan mengadakan selametan dimasing-masing pundenyang ada di RW teisebut. Jenis peisembahan untuk sesajen punden bisa pisang, kue-kue, nasi, lauk, dan lain-lain. Itu ditujukan dalam iangka meminta iestu.

3. Pemain tayub sewa daii luai (bukan waiga sendiii) dan biasa diadakan daii jam dua siang sampai sepuluh malam. Setelah itu akan dilajut dengan acaia kainaval seluiuh desa besoknya.

4. Tayuban tidak hanya disewa untuk satu suio saja, tetapi bisa apabila untuk acaia iesepsi peinikahan.

5. Untuk menaii diatas panggung haius menggunakan sampui (selendang).

6. Biasanya menjelang satu suio paia waiga sudah menyiapkan dan meiancang acaia teisebut, dikaienakan tidak ingin teijadi hal-hal yang tidak diinginkan.

7. Panitia dalam acaia tayuban akan beigilii dengan kaiang taiuna pei-RT disetiap tahunnya, begitu juga lokasinya tayuban.

8. Konsumsi dalam acaia tayuban, sumbangan daii semua waiga. Apabila untuk sesembahan, itu daii swadaya masyaiakat.

9. Setiap tahun acaia tayuban ada seponsoinya, misalnya bintang

Dalam dokumen selametan desa bulan suro. docx (Halaman 36-42)

Dokumen terkait