i
LAPORAN HASIL PENELITIAN
TUGAS MATA KULIAH METODE PENELITIAN KUALITATIF
“SISTEM PELESTARIAN BUDAYA SELAMETAN MASYARAKAT JAWA”
(Fokus Kajian Dusun Gemulo, Kota Batu, Jawa Timur)
Disusun Oleh:
1. Himmatuz Zakiyah 201610310311191
2. Nanda Safia 201610310311146
3. Risky Avinaya Putii 201610310311179 4. Viko Febii Aiianto 201610310311197
SOSIOLOGI
ii
DAFTAR ISI
Covei – I Dafati Isi – II
Kata Pengantai – III A. Pendahuluan
a. Latai Belakang – 4
b. Peitanyaan Penelitian – 5 B. Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan – 6 b. Manfaat – 6 C. Penjelasan Konsep
a. Sistem – 6
b. Pelestaiian Budaya – 7 c. Selametan – 9
d. Masyaiakat Jawa – 10
e. Dusun Gemulo, Kota Batu, Jawa Timui – 11 D. Metode Penelitian
a. Jenis Penelitian – 12 b. Smapling – 12
c. Teknik Pengumpulan Data – 13 d. Teknik Analisa Data – 13
E. Pembahasan
a. Selametan di Dusun Gemulo – 14
b. Sistem Pelestaiian yang Diteiapkan – 25 F. Penutup
a. Kesimpulan – 29 b. Saian – 31
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugerah dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat beisyukui kaiena dapat menyelesaikan makalah yang menjadi tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif dengan judul “SISTEM PELESTARIAN BUDAYA SELAMETAN MASYARAKAT JAWA (Fokus Kajian Dusun Gemulo, Kota Batu, Jawa Timur)”
Disamping itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanla laporan penelitian ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya dapat kami perbaiki. Karena kami sadar, makalah yang kami buat ini masih banyak terdapat kekurangannya.
Malang, 5 Januari 2018
A. PENDAHULUAN a. Latar Belakang
Peikembangan teknologi di eia globalisasi teius mempengaiuhi bahkan mempeicepat aius peiubahan sosial. Daii tiadisional ke modein, daii kovesional ke seiba online, dan masih banyak lagi. Seiing dijumpai juga dampak daii peiubahan sosial teisebut juga memepengaiuhi kebudayaan masyaiakat. Masyaiakat yang beipoios matiealis akan cendeiung mengalami peiubahan dalam hal nilai-nilai sosial masyaiakat. Sepeiti apatis, konsumtif dan lain sebagainya. )fokus tentang globalisasi yang meiambah keseluiuh aspek kehidupan)
Eia Globalisai sudah membuat masyaiakat indonesia haius beisiap-siap meneiima kenyataan masuknya pengaiuh luai teihadap seluiuh aspek kehidupan banngsa. Salah satunya adalah kebudayaan. Bagi bangsa indonesia kebudayaan adalah salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beiagam, teimasuk adat istiadatnya. Globalisasi dalam kebudayaan dapat beikembang dengan cepat, hal ini tentunya di pengaiuhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam mempeioleh akses komunikasi dan infoimasi namun hal ini justiu menjadi bumeiang teisendiii dan menjadi suatu masalah yang paling kiusial.
Peigeseian daii segi budaya masyaiakat juga tidak luput daii aius globalisasi. Banyak tiadisi masyaiakat Jawa khususnya yang mulai ditinggalkan kaiena beibagai alasan. Mulai daii tiadisi iuwat desa, pengajian, bahkan selametan sudah mulai ditinggalkan bahkan dilupakan.
dipungkiii juga bahwa budaya tiadisional yang ada saat ini adalah budaya modein yang menggesei budaya tiadisional zaman dulu, dan budaya modein teisebut digesei lagi dengan budaya baiu sehingga kedudukannya menjadi budaya tiadisional, bukan lagi buudaya modein.
Begitupun dengan budaya jawa, yang awalnya dipengaiuhi dengan kepeicayaan animisme dan dinamisme, beialih ke hindu budha, kemudian beialkultuiasi dengan nilai-nilai jawa yang dibawa oleh pedagang ke bumi nusantaia, dan yang sekaiang dikenal menjadi islam kejawen. Daii situ bisa dilihat bahwa sangat panjang sebuah budaya bisa diamini oleh seluiuh masyaiakat, bnayak aspek yang mempengaiuhi. Budya yang lama bisa disatukan dengan budaya bau atau benai-benai ditinggalkan.
Dusun Gemulo yang teiletak di kota Batu, juga tidak luput daii aius globalisasi. Pembangunan yang digencaikan pemeiintah untuk menaiik wisatawan membuat sebagian masyaiakat kota Batu beiinteiaksi daii beibagai budaya baiu. Sepeiti tempat wisata buatan, vila, hotel, dan banyak lahan yang dijadikan objek sebagai penaiik minat wisatawan lainnya bahkan pemeiintah juga memanfaatkan sumbei aii.
Tiadisi yang diselenggaiakan dan dilestaiikan masyaiakat dusun Gemulo menimbulkan beibagai macam iasa penasaian. Teiutama tiadisi selametan, bagaimana masyaiakat tetap melestaiikan budaya teisebut? Apa yang membuat masyaiakat tetap iutin melaksanakan tiadisi selametan teisebut, Atau bagaimana sistem yang diteiapkan masyaiakat untuk teius membumikan budaya selametan teisebut?
Hal teisebutlah yang melatai belakangi kami untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sistem pelestaiian budaya selametan masyaiakat Jawa di dusun Gemulo
b. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana sistem pelestaiian budaya selametan masyaiakat Jawa di dusun Gemulo?
B. TUJUAN DAN MANFAAT a. Tujuan
Tujuan daii dilakukannya penelitian ini adalah yang peitama untuk menyelesaikan tantangan tugas mata kuliah metode penelitian kualitatif. Selain itu yang paling utama adalah untuk mengetahui sistem pelestaiian budaya selametan masyaiakat dusun Gemulo sebagai gambaian secaia umum masyaiakat Jawa.
b. Manfaat
pelestaiian budaya selametan masyaiakat Jawa di dusun Gemulo
C. PENJELASAN KONSEP a. Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani
(sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau
energi untuk mencapai suatu tujuan. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara di mana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara tersebut.
Kata "sistem" banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.
Jadi yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri
komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pelestarian terdiri dari pe.les.ta.ri.an
Nomina (kata benda)
(1) proses, cara, perbuatan melestarikan;
(2) perlindungan dari kemusnahan atau kerusakan; pengawetan; konservasi: pelestarian sumber-sumber alam;
(3) pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya1
Sedangkan Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan, dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang
saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati, dan didokumentasikan.
Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur, dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Maka dapat dismpulkan bahwa pelestarian budaya adalah upaya untuk perlindungan dari kemusnahan atau kerusakan budaya atau budi dan akal manusia. Budaya tersebut terwujud dalam gagasan, tindakan dan karya.
c. Selametan
Slamatan adalah upacara sedekah makanan dan do’a bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman untuk ahli keluarga yang menyelenggarakan (Purwadi, 2005: 22). Purwadi juga menyatakan bahwa upacara selamatan termasuk kegiatan batiniah yang bertujuan untuk mendapatkan ridho dari Tuhan. Kegiatan selametan menjadi tradisi hampir seluruh kehidupan di pedusunan Jawa. Ada bahkan yang meyakini bahwa slametan adalah syarat spiritual yang wajib dan jika dilanggar akan mendapatkan ketidakberkahan atau kecelakaan (Purwadi, 2007: 92).
merasa telah diselamatkan oleh Tuhanya atau mengharapkan keselamatan dari Tuhan yang diyakininya (Herusatoto dalam Sutiyono, 2013: 49)
Tradisi siklus hidup manusia adalah bentuk ritual Jawa yang disebut selametan dalam rangka memuliakan peristiwa penting kehidupan orang Jawa, mulai dari peristiwa kelahiran, supitan, tetesan, mantenan, sampai kematian. Secara umu juga bisa diketahui macam - macam tradisi slametan untuk alam, tradisi ini merupakan bentuk ritual khusus yang dilakukan masyarakat agraris, guna melestarikan kehidupan tanaman padi (Sutiyono, 2013: 48).
Adapun menurut kamus besar bahasa Indonesia, Sistem atau sistim merupakan sekelompok dari pendapat peristiwa, kepercayaan dan sebagainya yang disusun dan diatur baik-baik; cara, metode yang teratur untuk melakukan sesuatu.
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat dirinci bahwa macam-macam slametan dalam tradisi masyarakat Jawa dapat dilihat berdasarkan tiga aspek penting yaitu tradisi slametan siklus hidup manusia, tradisi slametan ziarah, dan tradisi slametan alam.
d. Masyarakat Jawa
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok
orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), di mana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.3
Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dan merupakan terluas ke-13 di dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar hampir 160 juta, pulau ini berpenduduk terbanyak di dunia dan merupakan salah satu tempat terpadat di dunia. Meskipun hanya menempati urutan terluas ke-5, Pulau Jawa dihuni oleh 60% penduduk Indonesia, Angka ini turun jika di bandingkan sensus penduduk tahun 1905 yang mencapai 80,6% dari seluruh penduduk indonesia penurunan penduduk di pulau jawa secara persentase di akibatkan perpindahan penduduk (transmigrasi) dari pulau Jawa ke seluruh Indonesia. Ibu kota Indonesia, Jakarta, terletak di Jawa bagian barat laut (tepatnya di ujung paling barat Jalur Pantura).
Jawa adalah pulau yang relatif muda dan sebagian besar terbentuk dari aktivitas vulkanik. Deretan gunung-gunung berapi membentuk jajaran yang terbentang dari timur hingga barat pulau ini, dengan dataran endapan aluvial sungai di bagian utara.
Banyak kisah sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini. Dahulu, Jawa adalah pusat beberapa kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, pemerintahan kolonial Hindia Belanda, serta pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pulau ini berdampak besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia. Sebagian besar penduduknya bertutur dalam tiga bahasa utama. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari 100 juta penduduk Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di pulau Jawa. Sebagian besar penduduk adalah bilingual, yang berbahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun kedua. Dua bahasa penting lainnya adalah bahasa Sunda dan bahasa Betawi. Sebagian besar penduduk Pulau Jawa beragama Islam namun tetap terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta budaya di pulau ini.4
Masyarakat jawa ialah sekelompok orang yang membentuk sebuah
sistem semi dan bertempat tinggal di pulau Jawa.
e. Dusun Gemulo, Kota Batu, Jawa Timur
Dusun Gemulo teiletak di desa Bulu Keito, kecamatan Bumi Aji, kota Batu, Jawa Timui. Dusun Gemulu iata-iata dapat ditempuh tiga puluh dua menit daii Univeisitas Muhammadiyah Malang, dengan mengendaiai mobil. Dusun teisebutlah yang menjadi titik lokasi dalam fokus kajian penelitian yang dilakukan.5
Sepeiti yang diketahui, sebagian besai atau hampii keseluiuhannya meiupakan pengannut agama Islam, bisa dilihat dengan bangunan-bangunan mushola atau masjid dan bila melintasi dusun Gemulo, maka akan teilihat bunga hias didepan iumah penduduk di sepanjang jalan. Hal teisebut bukan meiukan sesuatu yang mengheiankan, mengingat sebagian besai masyaiakat desa beipiofesi sebagai petani buang dan petani buah (buah apel atau jeiuk).6
Sebagai petani bunga atau petani buah memang meiupakan mayoiitas pekeitjaan masyaiakat dusun Gemulo, tetapi tidak semua masyaiakat beikeija demikian, ada juga bebeiapa toko makanan dan lain sebagainya sebagai sumbei pendapatan atau mata pencahaiian masyaiakat dusun Gemulo.7
D. METODE PENELITIAN a. Jenis Penelitian
Kami menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk melakukan penelitian kali ini karena dirasa sangat pas untuk enggali informasi yang diperlukan.
Jenis penelititian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya
5 Sumbei google map dan pembuktian oleh peneliti
bersifat kualitatif . metode kualitattif lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan (verstehen). Metode kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif penelitian sendiri. (purnomo. 2009: 78)
Adapun menurut pendapat lain, metode penelitian kualitattif dinamakan sebagai metode baru karena popularitasnya belum lama. Dinamakan metode postpostivistik karen aberlandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini disebut juga sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih berifat seni (kurang terpola), dan disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interprestasi terhadap data yang ditemukan dilapangan (Sugyono. 2015: 7-8)
b. Sampling
Untuk menentukan sampling penelitian, kami menggunakan sampling purposive, karena dirasa sangat cocok untuk emndukung pengumpulan data yang kami lakukan.
sampling purposive adalah teknik pengambilan sampel dimana peneliti terlebih dahulu menetapkan kriteria-kriteria tentang karakteristik sampel yang akan diteiti, sesuai dengan tema penelitiannya. Misalnya peneliti akan melakukan penelitian tentang pengaruh kegiatan ekstra kurikuler terhadap indeks prestasi mahasiswa, maka sampel dalam penelitian ini tentunya para mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler.8
c. Teknik Pengumpulan Data
Kami melukan pengumpulan data dengan menggunakan trianggulasi, yaitu menggabungkan anatar beberapa teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada9. Kami mengabungkan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi.
Kami menggunakan teknik wawancara semiterstruktur (semistructure interview). Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept interview. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara dimintai pendapat dan ide-idenya. (sugiyono. 2015: 233)
Selain wawancara, kami juga melakukan obsevasi terhadap apa yang kami teliti. Observasi yang kami lakukan adalah observasi partisipatif. Dimana kami terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh subjek penelitian sambl melakukan pengamatan. (sugiyono. 2015: 227)
Selanjutnya kami juga melakukan pengumpulan data dengan cara dokumentasi berupa foto dan rekaman suara saat berlangsungnya wawancara atau kegiatan penelitian lainnya, yang kami rasa sangat membantu dalam menguraikan apa yang kami lakukan.
d. Teknik Analisa Data
Proses analisa data secara keseluruhan melibatkan usaha memaknai data yang berupa teks atau gambar. Untuk itu peneliti perlu mempersiapkan data tersebut untuk dianalisis. Creswell (2013: 273). Sedangkan menurut Ghony dan Almashur (2012: 209) menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif terdapat tiga model analisis data, yaitu (1) model perbandingan tetap; (2) model analisis data Spradley; (3) model analisis data menurut Miles dan Huberman.10
Dala hal ini kami menggunakan model analisis data Spradley. Spradley mengatakan bahwa analisa dalam jenis penelitian apapun, adalah merupakan cara berfikir. Hal itu berkaitan dengan cara pengujian secara sitematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian, hubungan antar bagian, dan hubungannya dengan keseluruhan (sugiyono, 2014: 244)
Tahapan penelitian menurut pradley dalam (sugiyono, 2014: 254) adalah; (1) memilih situasi sosial (place, actor, activity); (2) melaksanakan observasi partisipan; (3) mencatat hasil observasi dan wawancara; (4)
10 Juinal ilmiah (etheses.uin-malang.ac.id/2247/7/11520076_Bab_3.pdf)
melakukan observasi deskriptif; (5) melakukan analisa domain; (6) melakukan observasi terfokus; (7) melaksanakan analisis taksonomi; (7) melaksanakn analisis taksonomi; (8) melakukan observasi terseleksi; (9) melakukan analisis komponesial; (10) melakukan anlisis tema; (11) temuan budaya; (12) menulis laporan penelitian kualitatif.
E. PEMBAHASAN
a. Selametan di Dusun Gemulo
Produk seni budaya pra-islam di nusantara dapat dibedakkan dalam kategori kurun waktu, yakni seni budaya yang berasal dari masa prasejarah, masa kontak dengan tradisi besar hindu, dan seni budaya etnik lokal yang masih ada sampai sekarang, yang diasumsikan berakar jauh ke masa lalu.
Dari kurun pra-sejarah, kehidupn seni budaya ditandai oleh pendirian monuman-monuman seremonial baik berukuran kecil, sedang,besar yakni berupa peninggalan yang dibuat susuna batu. Sarah satu rekayasa arsitektur yang dianggap berasal dari tradisi mengalit atau pra-sejarah adlah pendirian bangunan yang umum disebut dengan teras berundak (teras pyramide). (Muarif, H. 1998: 253)
Sebagai seorang manusia harus dibiarkan dengan bebas bereskperimen dengan kebebasan hati nuraninya sendiri: kebebasan untuk menerima atau menolak sesuatu – baik dan buruk, benar dan salah – dengan kesediaan menanggung resikonya sendiri, juga baik dan buruk, bahagia dan snegsara (Majid, N. 2000: 48) begitu pula kebebasan dalam berdudaya, manusia bebas dalam bereksperimen dalam menciptakan tradisi kebudayaan tersebut.
selametan bumi atau selametan untuk alam, sebagai tanda syukui atas iezeki dan peimohonan atas keselamatan dan dibeii iezeki yang melimpah. Selametan teisebut juga biasa disebut dengan suioan. Suioan sendiii menjadi acaia atau tiadisi tahunan yang selalu ada dan dimeiiahkan oleh seluiuh waiga masyaiakat Bulu Keito.11
Di era globalisasi dan arus modernisasi yang terus melaju, tidak menutup kemungkinan bila tradisi lokal juga semakin terpinggirkan oleh budaya modern yang dibawa seiring berjalannya waktu. Suatu budaya yang terkenal (populer) pada sebuah kelompok masyarakat adalah budaya yang diketahui banyak orang, disukai kebanyakan orang, dan mudah dipahami. Akan tetapi dipahami yang dimaksud, kebanyakan dari masyarakat hanya memahami bagian luarnya saja, bukan memahami dari arti dan maksud hakikat budaya yang sesungguhnya. 12
Namun yang harus diingat bila mengkaji eksistensi budaya ditengah perkembangan zaman adalah dengan mengkaji perkembangan agama Islam di tanah Jawa tidak dapat dipisahkan dari pengaruh kebudayaan Jawa yang ada didalam kehidupan masyarakat, karena dengan perpaduan antara kedua kebudayaan tersebut agama Islam sampai saat ini masih mampu eksis dan membentuk suatu kekuatan yang sangat besar dan kuat.13 Prof. A. Hasjmi membuat analisa bahwa perkembangan Islam di Jawa didukung kuat oleh keberadaan kerajaan Islam pertama di Aceh, yaitu Perlak. Hasjmi mendasarkan pada kitab-kitan kuno tulisan ulama Melayu, di antaranya Hikayat Putri Nurul A’la14
Purwadi juga menyatakan bahwa upacara selamatan termasuk kegiatan batiniah yang bertujuan untuk mendapatkan ridho dari Tuhan. Kegiatan selametan menjadi tradisi hampir seluruh kehidupan di pedusunan Jawa. Ada bahkan yang meyakini bahwa slametan adalah
11 Sumbei daii wawancaia dengan Pak RT dusun gemulo ( pak ngatiian ) pada 30 oktobei 2017
12 “Tiadisi” juinal seni dan budaya. Vol 1, No. 1, Novembei 2010
13 Dalam Juinal Ilmiah Pendidikan Sejaiah IKIP Veteian Semaiang halaman 48
14 A. Hasjmi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Kumpulan
syarat spiritual yang wajib dan jika dilanggar akan mendapatkan ketidakberkahan atau kecelakaan (Purwadi, 2007: 92).
Herusatoto juga menyatakan bahwa, selametan merupakan aksi simbolis orang Jawa untuk memuji dan mendapatkan keselamatan. Oleh karena digunakan untuk mencari keselamatan, maka setiap orang Jawa yang telah mengadakan upacara selamatan, dirinya merasa tentram karena merasa telah diselamatkan oleh Tuhanya atau mengharapkan keselamatan dari Tuhan yang diyakininya (Herusatoto dalam Sutiyono, 2013: 49)
Menuiut Webbei, salah satu jalan menuju keselamata adalah melewati aktivitas-aktivitas iitual dan upacaia-upacaia pemujaan muini, entah di penyebab ieligius maupun dipeiilaku sehaii-haii. Ritualisme muini sepeiti itu tidak beda daiimagis teikait efek bagi peiilaku hidup (Webbei, dalam Sosiologi Agama. 2012: 371)
Bulan suio dipeicaya sebagai bulan gaib bagi masyaiakat dusun gemulo dan desa bulu keito, kaiena sudah menjadi adat istiadat atau tuiun temuiun daii nenek moyang yang mewaiiskan nilai atau mengkonstiuk bahwa bulan suio adalah bulan gaib yang haius dilaksanakan selametan ke sumbei aii dan dipeiingati dengan cainaval dan tayuban.15
Disini muncul keyakinan pada Tuhan tiansenden, yaitu sesuatu yang maha kuasa ketibang makhluk- makhluknya, tujuan pengudusan metodis tidak bisa lagi menjadi deifkasi-diii (kaiena tuhan yang tiansenden itulah yang diidentifkasi), selain mejadi penumpukan kualitaskualitas ieligius yang diminta tuhan daii manusia. Tujuan ini diadaptasi menjadi sekedai instiumennya, atau diinspiiasikan secaia sepeiitual olehnya (Webbei, dalam Sosiologi Agama. 2012: 382)
Menuiut keteiangan ketua iukun waiga,16 mulai daii iw
satu sampai empat mengikuti kegiatan teisebut. Selametan desa dimulai daii tahlilan di masing-masing it, nisa di mushola, masjid di malam haii. Dipagi haii dilanjutkan dengan ke punden di setiap iw.
Masyaiakat desa menganggap punden hanya sebagai saiana mengingat jasa bedah kiawang dan mendoakan tokoh bedah kiawang kepada Tuhan yang saiana meminta iestu. Masyaiakat desa juga membawa peisembahan sebagai peimohonan iestu, jenis peisembahan untuk sesajen punden bisa pisang, kue-kue, nasi, lauk, dan lain-lain.17 oleh masyaiakat. Selametan yang di laksanakan di
punden juga sebagai bentuk latensi atau sosialisasi nilai budaya kepada geneiasi peneius dusun teisebut.
Kesamaan pandangan spiritualantara ajaran Agama Islam dan kebudayaan jawa nampaknya menjadi sesuatu yang sangat penting pada penyebaran agama Islam di Jawa, masyarakat Jawa tradisional yang hidup pada masa lalu telah mempunyai pemikiran tentang adanya energi yang besar yang terdapat pada alama semesta, sehingga pada kehidupan zaman dahulu dikenal dengan Animisme dan Dinamisme, Animisme merupakan suatu kepercayaan masyarakat yang berhubungan dengan Roh atau makhluk halus yang hidup berdampingan dengan manusia masyarakat Jawa pada masa lalu mempercayai bahwa dalam menjalani kehidupan didunia ini manusia tidak beijalan sendiiian, namun meanusia juga beidampingan dengan makhlu halus atau Roh, kepeicayaan masyaiakat Jawa saat itu adalah mempeicayai adanya Roh nenek moyang atau leluhui yang teius mengawasi meieka dan menjaga meieka daii bahaya yang ada di alam ssemesta. Masyaiakat saat itu
16 “Gaiis bawah” adalah tanda bahwa data didapat daii lapangan
17 Sumbei daii wawancaia dengan Pak RW dusun gemulo (pak piayid) pada 30
juga memepeicayai bahwa Roh yang hidup beidampingan dengan meieka18
Tayuban juga meiupakan seiangkaian daii tiadisi selametan desa di dusun Gemulo. Tayuban sendiii dijelaskan dalam The History Of Java, dalam bukunya Raffles menunjukkan bahwa Tayuban yang meiupakan taii hibuian piibadi bagi piia yang sangat di gemaii baik oleh kalangan jelata maupun oleh paia piiyai. Tayuban yang telah ada di Indonesia sebagai saiana hibuian masyaiakat Jawa yang telah ada sejak abad 19 teisbut juga menjadi pilihan masyaiakat dusun gemulo dalam mempeiingati selametan desa ditengah eia globalisasi saat ini.19
Tayuban dipilih sebagai acaia hibuian yang iutin tayuban maka akan teijadi hal-hal yang tidak diinginkan, sepeiti hasil panen yang menuiun atau teinak yang mati atau sakit.20
Bila melihat penggambaian unsui ekstinsik pada novel ahmad tohaii yang mengangkat kehidupan seoiang ionggeng tayub, dikatakan bila penaii atau ionggeng pada acaia tayuban juga beipeian selain sebagai penghibui seni taii di atas pentas, tetapi juga sebagai wanita penghibui laki-laki yang menyawei.
Bila dikaitkan dengan penaii di acaia tayuban dusun Gemulo, maka hanya akan didapati penaii (ionggeng) hanya beifungsi sebagai penghibui dipentas saja, tetapi
paia menonton masih bisa ikut menaii dipanggung dan membeiikan saweian, tidak beilanjut diluai pentas.
Pemain tayub sendiii bukan meiupakan waiga asli dusun Gelumo, atau disewa daii luai daeiah. Penaii dan penyawei yang menaii diatas panggung dipeicaya haius menggunakan sampui atau selendang. Konsumsi dalam acaia tayuban, sumbangan daii semua waiga dan untuk sesembahan, itu daii swadaya masyaiakat. Selain acaia satu suio, tayuban juga bisa dipentaskan dibeibagai acaia lain, sepeiti iesepsi peinikahan. Acaia biasa beijalan daii jam dua siang sampai sepuluh malam. setelah itu akan dilajut dengan acaia kainaval seluiuh desa besoknya.21
Setelah diadakan tayuban, maka sudah menjadi tiadisi bila dilakukan cainaval yang diikuti oleh masyaiakat desa. Kainaval yang diadakan di desa Bulu Keito dengan kepada tema nasionalis. Tiadisional dan nasionalis kaiena masyaiakat membawakan tampilan beiupa pakaian adat tidak hanya daii jawa tapi juga daii seluiuh daeiah Indonesia lainnya. Kemudian dikatakan modeien juga kaiena alat teknis yang digunakan dalam kainaval teisebut hampii keseluiuhannya adalah alat modein, sepeiti sound sitem, mobil, iiasan, dan masih banyak lagi.
Menuiut keteiangan ketua RW,22 kegiatan kainaval
sudah hampii sepuluh tahun lebih tidak diselenggaiakan,
hanya kainval yang diikuti oleh masing-masing RW, yang hanya aiak-aiakan dan kesenian desa yang ditampilkan setelah memohon iestu daii punden. Jadi ketika suioan, hanya diadakan selametan saja. Tetapi kepala desa yang baiu mengeluaikan kebijakan untuk mengadakan acaia kainaval seientak satu desa sebagai mempeiingati selametan desa atau suioan.
Namun menuiut waiga yang beipaitisipasi,23
kesuksesan daii kegiatan suioan mulai daii selametan, selametan di punden, di sumbei aii, dan kainaval yang diikuti oleh seluiuh waiga desa Bulu Keito juga tidak luput daii peiatuian bila tidak mengikuti kegiatan teisebut maka akan mendapat sanksi beiupa denda sebesai lima iatus iibu. Peiatuian atau fakta sosial yang disepakati beisama dan kemudia diteiapkan oleh seluiuh waiga desa Bulu Keito dan diawasi panitia penyelenggaia (kaiang taiuna) sebagai eksekutoi daii pelanggaian menjadi salah satu stiategi teicapainya goal ataidment atau tujuan beisama.
Sehingga dapat diketahui bahwa iangkaian acaia selametan desa atau suioan adalah,
Bagan 1: Tahlilan pada malam haii
Selametan desa atau suroan yang di lakukan di desa Bulu Kerto dimulai dengan acara selametan atau tahlilan pada malam hari (di hari yang telah disepakati), dan dilaksanakan di mushola atau masjid disetiap dusunnya. Seperti di dusun gemulo, selametan dilakukan di rumah kelawa RW stempat. Untuk tahlilan pada malam hari, kami tidak mendapat data penilitian secara langsung, tetapi dari beberapa teman kelas A yang datang kesana dan mengabadikan momen tersebut. Dapat dilihat pada gambar tersebut, tahlilan hannya dihadiri oleh kaum laki-laki di salah satu rumah warga. Makanan dan minuman (bakso, gorengan dan kopi) juga dihidangkan setelah pembacaan doa-doa tahlilan.
Tabel i
selametan desa (SUROAN)
TAHLILAN (di mushola/masjid
dusun)
ke PUNDEN untuk beisyukui dan mendoakan
tokoh bedah kaiawang
TAYUBAN (hibuian masyaiakat
desa) KARNAVAL
Kemuadian dilanjutkan pada pagi harinya dengan selametan ke punden. Selametan kepundeng merupakan bentuk bersyukur dan mendoakan tokoh bedah karawang.24 Untuk selametan di punden pada pagi hari, kami tidak mendapat data penilitian secara langsung, tetapi dari beberapa teman kelas A yang datan kesana dan mengabadikan momen tersebut, ditambah juga dengan data hasil wawancara. Dapat dilihat pada gambar tersebut, masyarakat dengan swadaya membawa makanan ke punden. Untuk selametan di pundeng tersebut, juga bisa dilihat bahwa hanya didatangi oleh kaum laki-laki masyarakat desa. Maka bisa dikatakan bahwa sistem patriarki masih sangat kental, dimana laki-laki berperan dalam ranah publik dan perempuan di wilayah domestik.
Makanan yang dibawa tersebut kemudian ditata dengan rapih mengelilingi pohon yang dianggap keramat dan punden. Setelah itu, mereka memanjajtkan doa-doa, harapan, dan rasa nyukur serta trimakasih kepada Tuhan dan tokoh babat kerawang
24 Sumbei daii hasil wawancaia dengan ketua RW (pak piayid) pada 30
Bagan 2 selametan ke punden dan pohon kiamat
Bagan 3 Tayuban
Saat pagi hari diadakan selametan di punden, maka pada malam hari dilanjutkan lagi dengan mengadakan acara hiburan tayuban. Kami datang ke lokasi tayuban sekitar jam lima sore menjelang magrib. Tayuban diselenggaran di balai desa bulukerto.
Setiba dilokasi, suasana sudah ramai oleh penduduk desa, terutama laki-laki atau bapak-bapak. Bapak-bapak tersebut merupakan warga desa atau tamu undangan. Mereka menggerombol dengan duduk di meja-meja yang telah disediakan. Memakan suguhan dan minuman yang telah disediakan. Makan dan minuman yang disediakan merupakan patungan warga yang mesuk kedalam kas desa. Ada juga minuman keras yang disuguhkan disana (bir bintang)
Malam haii setelah dilaksnakan tayuban, maka ke-esokan haii dilanjutkan dengan acaia kainaval. Kainaval sendiii sebagai bentuk mempeiingati acaia suioan.
Kami rombongan jurusan sosiologi berangkat dari kampus iii universitas muhammadiyah Malang pukul tujuh pagi kelokasi karnaval. Turut berpartisipasi, menjadi bagian dari peserta karnaval tersebut. Memakai kostum dan membawa artribut yang telah ditentukan sesuai koodinasi dari perwakilan jurusan dan pihak desa.
Semua berjalan lancar sesuai arahan. Tetapi ditengah kegiatan, hujan mengguyur dan membubarkan beberapa barisan karnaval.
Antusiasme masyarakat desa tersebut bisa dikatakan tinggi karena walaupun dilanda hujan, tetapi warga tetap setia menonton dan beberapa baridan karnaval yang terdiri dari masyarakat desa setempat terus berjalan dibawah guyuran hujan.
Jadi di dusun gemulo dan dusun lain itu beisama-sama melakukan selametan, susunanya acaia itu adalah waiga beikumpul membawa makanan beisama sama-sama. Sajen lalu di kiiim ke punden untuk melakukan iitual. Setelah daii punden waiga empat RW itu beijalan beisama-sama beikumbul di HIPAM, di hipam itu meieka melakukan iitual lagi, di dalam sajen teidapat “ayam panggang (pitek walik), mie, tempe, tahu, telui dan dupa” selanjutnya sajen itu di di iitualkan sama bapak ngadiman
selaku juiu kunci bacakan doa-doa menggunakan bahasa Jawa dan Aiab. Setelah selesai sajen di taiuh di bawah pohon yang di anggap keiamat. Jadi dalam slametan ini ada penggabungan budaya antaia Islam dan Hindu. Slametan ini dilakukan di bulan Ruwah dan Suio.25
Nama
Kegiatan Waktu Tempat
25 Data didapat daii wawancaia dengan kepala dusun (pak kandai) pada 12
Beisih-Beisih
Tayuban Siang sampaiMalam Balai Desa
b. Sistem Pelestarian yang Diterapkan
Semua acaia yang menjadi bagian daii selametan desa atau suioan, tidak lepas daii peiencanaan dan keijasama yang teijalin antaia masyaiakat, pihak desa, panitia penyelenggaia, dan pihak sponsoi.26
Panitia penyelenggaia yang meiencanakan semua konsep dan menjalankan semua kegiatan meiupakan pemuda-pemudi kaiangtaiuna. Kaiangtaiuna yang menjadi panitia meiupakan kaiangtaiuna yang digilii setiap dusun peitahunnya.27 Adapun yang menjadi salah satu penyebab
masyaiakat antusias dengan selametan suioan ialah kaiena peneiapan peiatuian yang disepakati beisama.
26 Sumbei daii hasil awancaia dengan ketua RW (pak piayid) pada 30 oktobei
2017
27 Sumbei daii hasil awancaia dengan ketua RW (pak piayid) pada 30 oktobei
Ketentuan teisebut ialah wajib mengikuti minimal dua oiang anggota dalam KK (kaitu keluaiga) dan bila tidak ikut seita dalam acaia teisebut maka akan diteiapkan denda sebesai lima iatus iibu pei-kaitu keluaiga.28
Mengingat masyaiakat dusun Gemulo meiupakan masyaiakat desa yang menjalin inteiaksi cendeiung lebih oiganik, maka tidak heian seiing dijumpai bentuk-bentuk kegiatan yang swadaya, namun tidak menutub kemungkinan yang teijadi pada selametan desa atau suioan meiupakan bentuk inteiaksi mekanik, timana sudah teibentuk stiuktui dan alui kegiatan yang sitematis dengan melibatkan semua masyaiakat dusun Gemulo.
Bentuk inteiaksi yang lebih cendeiung mekanis dengan fondasi yang oiganik, membuat semua iangkaian kegiatan yang disusun secaia sistematis dapat beijalan dengan lancai kaiena sifat-sifat daii oiganik yang muini yang didasaikan pada tempat tinggal yang beidekatan.
Panitia penyelenggaia atau kaiangtaiuna yang mendapat giliian sebagai panitia tidak seita meita meiencanakan acaia teisebut sendiiian, tetapi canpui tangan daii semua tokoh yang dituakan juga ikut dalam diskusi meiencakan acaia selametan desa atau suioan teisebut. Solidaiitas yang kuat teisebutlah menjadikan selametan desa teius ada disamping konstiuksi nilai beifkii masyaiakat yang menganggap bulan suio sebagai bulan gaib, sehingga haius atau wajib untuk diselenggaiakan selametan desa.29
Diketahui bahwa latency dari teori fungsional struktural talcott parsonn dapat dipahami bahwa keberadaan sebuah sistem sosial harus
28 Sumbei daii hasil wawancaia dengan waiga masyaiakat dusun Gemulo
yang menjadi paitisipan dalam acaia selametan desa atau suioan
29 Sumbei daii hasil wawancaia dengan kepala iukun waiga dusun Gemulo
terus memelihara atau melestariakan. Pelestarian dalam Kamus Bahasa Indonesia berasal dari kata lestari, yang artinya adalah tetap selama-lamanya tidak berubah. Kemudian dalam penggunaan bahasa Indonesia, penggunaan awalan pe- dan akhiran–an artinya digunakan untuk menggambarkan sebuah proses atau upaya (kata kerja). (Endarmoko, 2006)
Hal tersebut juga berkaitan bahwa Perkembangan agama Islam dan kebudayaan Jawa tidak terlepas dari pemikiran - pemikiran yang sangat tradisional dan sederhana, pemikiran yang dimiliki masyarakat jawa telah menjadi anugrah yang sangat berharga bagi perkembang kehidupan masyarakat Jawa itu sendiri.30
Diketahui menurut Niels Mulder bahwa “Bagi sebagian besar orang Jawa, mistisme dan praktik-praktik magis-magis selalu menjadi bagian arus dasar terkuat – jika bukan inti – kebudayaan mereka” (Mulder, 1980:1)31 mistisme yang dilakukan masyarakat dusun Gemulo juga merupakan bagian dari dasar dari kebudayaan mereka, yang diwariskan dan terus dikonstruksikan nilai berfikirnya dari generasi ke generasi.
Budaya selametan desa atau suioan dapat teisistem untuk teius dilestaiikan kaiena teidapat konstiuksi beifkii masyaiakat yang menghasilkan nilai-nilai sosial dan teius dituiunkan dii geneiasi ke geneiasi sehingga teiinteinalisasi dan menciptakan sebuah pioduk budaya, yaitu selametan desa atau suioan.
Individu yang telah menginteinalisasi nilai atau konstiuksi beifkii masyaiakat, akan menjadi “Mesin Penggeiak” sehingga selametan desa atau suioan dapat beijalan dan tetap lestaii. Mesin penggeiak teisebut pula yang menuiunkan nilai-nilai sosial atau konstiuki beifkii masyaiakt ke geneiasi selanjutnya.
Pelestaiian daii geneiasi ke geneiasi selanjutnya meiupakan wujud daii pendidikan nilai sejak dini yang
30Juinal Ilmiah Pendidikan Sejaiah IKIP Veteian Semaiang, halaman 51
ditanamkan oiang tua didalam ianah iumah tangga. Sepeiti yang diungkapkan oleh tallcot parsons dalam pemikiiannya tentang funsional stiuktiuktuial, dimana anak sebagai pewaiis yang peitama teihadap nilai-nilai yang diwaiiskan oleh oiang tua, teiutama ibu.32
Daii mesin pengeiak masyaiakat teisebut dapat diketahui pola sistem pelestaiian selametan desa atau suioan sebagai beiikut,
32 Mateii kuliah teoii sosiologi modein, pak hayat.
NILAI sosial
KONSTRUK BERFIKIR
masyaiakat
TETUA Desa
(nenek moyang)
Selametan Desa
(SUROAN)
MESIN PENGGERAK
MASYARAKAT
desa
MEWARISKAN
Diketahui bahwa nenek moyang atau yang melakukan bedah kiawang pada desa Bulu Keito lebih tepatnya dusun Gemulo, telah menanamkan nilai atau konstiuksi beifkii masyaiakat bahwa bulan suio adalah bulan ghoib atau bulan yang haius diadakan selametan, bila tidak maka akan teijadi hal buiuk yang melanda waiga desa, dan bila dilaksanakan maka akan menambah hal-hal baik pada waiga pula, kaiena dianggap sebagai bentuk syukui.
Setelah pemahaman teisebut teikonstiuk, maka teijadi peneiapan nilai-nilai yang dianut oleh keseluiuhan individu yang beiada dalam bagian daii anggota masyaiakat. Kemudia masyaiakat desa akan mewaiiskan nilai atau konstiuksi beifkii tensebut kepada geneiasi peneiusnya. Masyaiakat desa yang menghayati nilai teisbut, kemudia menjadi mesin penggerak yang teius meneiapkan dan menggeiakkan seluiuh waiga masyaiakat untuk teius melestaiikan nilai-nilai budaya suioan teisebut.
Mesin penggeiak sebagai pewaiis kebudayaan dan yang selanjutnya mengemban tugas untuk mewaiiskan kepada geneiasi selanjutnya tidak teilepas daii unsui kedisplinan.
Kedisiplinan itu beiaiti bahwa disiplin menyangkut masalah tingkat iasa ikut punya (sense of belonging) dan iasa ikut seita (sense of paiticipation) masyaiakat. (Majid, N. 2000: 61)
F. PENUTUP
a. Kesimpulan
sedekah makanan dan do’a bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman untuk ahli keluarga yang menyelenggarakan (Purwadi, 2005: 22). Selametan teisebut juga biasa disebut dengan suioan. Suioan sendiii menjadi acaia atau tiadisi tahunan yang selalu ada dan dimeiiahkan oleh seluiuh waiga masyaiakat Bulu Keito
Selametan desa dimulai daii tahlilan di masing-masing it, bisa di mushola, masjid di malam haii. Dipagi haii dilanjutkan dengan ke punden di setiap iw. Masyaiakat desa menganggap punden hanya sebagai saiana mengingat jasa bedah kiawang dan mendoakan tokoh bedah kiawang kepada Tuhan yang saiana meminta iestu. Masyaiakat desa juga membawa peisembahan sebagai peimohonan iestu, jenis peisembahan untuk sesajen punden bisa pisang, kue-kue, nasi, lauk, dan lain-lain.33
oleh masyaiakat. Selametan yang di laksanakan di punden juga sebagai bentuk latensi atau sosialisasi nilai budaya kepada geneiasi peneius dusun teisebut. Bulan suio dipeicaya sebagai bulan gaib bagi masyaiakat dusun gemulo dan desa bulu keito, kaiena sudah menjadi adat istiadat atau tuiun temuiun daii nenek moyang yang mewaiiskan nilai atau mengkonstiuk bahwa bulan suio adalah bulan gaib yang haius dilaksanakan selametan ke sumbei aii dan dipeiingati dengan cainaval dan tayuban.
Diketahui bahwa nenek moyang atau yang melakukan bedah kiawang pada desa Bulu Keito lebih tepatnya dusun Gemulo, telah menanamkan nilai atau konstiuksi beifkii masyaiakat bahwa bulan suio adalah bulan ghoib atau bulan yang haius diadakan selametan, bila tidak maka akan teijadi hal buiuk yang melanda waiga desa, dan bila dilaksanakan maka akan menambah hal-hal baik pada
waiga pula, kaiena dianggap sebagai bentuk syukui. Setelah pemahaman teisebut teikonstiuk, maka teijadi peneiapan nilai-nilai yang dianut oleh keseluiuhan individu yang beiada dalam bagian daii anggota masyaiakat.Kemudia masyaiakat desa akan mewaiiskan nilai atau konstiuksi beifkii tensebut kepada geneiasi peneiusnya. Masyaiakat desa yang menghayati nilai teisbut, kemudia menjadi mesin penggeiak yang teius meneiapkan dan menggeiakkan seluiuh waiga masyaiakat untuk teius melestaiikan nilai-nilai budaya suioan teisebut. Jika sitem satu kesatuan peneiapan teisebut teius diteiapkan, maka sudah jelas bisa dikatakan budaya selametan desa atau suioan akan teius lestaii.
b. Saran
1. kegiatan slametan yang ada dusun gemulo harus lebih di beritahukan kepada masyarakat yang lain terkhusus dimasyarakat sekitar daerah batu sehingga masyarakat batu mengetahui jika ada kegiatan slametan ini karena kegiatan slametan ini juga merupakan bagian dari kebudayaan masyarkat jawa yang perlu dilestarikan
2. perlunya dibuat artikel atau majalah mengenai kebudayaan slameten didusun gemulo sehingga generasi-generasi sekarang bisa lebih memahami tentang kegiatan slametan tersebut dan agar juga generasi muda didusun gemulo bisa memahami kebudayaan slametan yang ada dan pembaca mengetahui lebih dalam soal slametan dusun gemulo
G. DAFTAR PUSTAKA
Seriady, Purnomo. Metode Penelitian Sosial. Jakarta. 2009. Jakarta: PT Bumi Aksara
Majid, N. Masyarakat Religius, membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. 2000. Jakarta: Paramadina
Ambary, Hasan. Menemukan Peradaban, jejak arkeologis historis Islam Indonesia. 1998. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu
http://digilib.unila.ac.id/10426/15/BAB%20II.pdf rabu 1
November 2017/19:41
pranowo, bambang. Memahami Islam Jawa. 2011. Jakarta: Pustaka Alfabet dan LaKIP
Mulkhan, abdul. Etika Teologi Petani dalam Jurnal Penelitian dan Informasi Keagamaan. 2000. Jakarta: Badan Litbang Agama
O’dea, Thomas F. Sosiologi Agama, Suatu Pengenalan Awal. 2009. Jakarta: Rajawali
http://digilib.uinsby.ac.id/2225/4/Bab%203.pdf jum’at 3 November 2017/15:20
ichard Grathoff. Kesesuaianantara Alfred Schutzdan Talcott Parsons:TeoriAksiSosial. 2000. Jakarta: kencana
https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem
http://kbbi.kata.web.id/pelestarian/
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
Anwar, desi. 2000. kamus lengkap BAHASA INDONESIA. Surabaya: Amelia
Hasjmi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Kumpulan Prasaran pada Seminar di Aceh, Cetakan Kedua, 1989. Bandung: PT. Al Ma’arif
Nurhayati. “PROSES PENYEBARAN NILAI-NILAI ISLAM DALAM TRADISI MASYARAKAT JAWA”. 2010. Jember: Yayasan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah Kencong – diakses pada 5 januari 2018 Hermawan, Jati. “ PENGARUH AGAMA ISLAM TERHADAP
KEBUDAYAAN DAN TRADISI JAWA DI KECAMATAN SINGOROJO KABUPATEN KENDAL”. 2014. Semarang: Pendidikan Sejarah IKIP Veteran – diakses pada 5 januari 2018
H. LAMPIRAN
a. Tanskrip wawancara
Pak RT ( pak ngatiian )
1. Bagaimana acaia suioan di desa ini ?
Kalau kemaiin ada kainaval sebelum kainaval ada slametan it 6 & 7 jadi satu.
2. Sejak kapan acaia suiuan ini beijalan ?
Sudah lama mulai daii nenek moyang dulu sudah ada acaia suioan tiap tahun.
3. Apakah ada sesuatu yang dihaiuskan saat kainaval ? Tidak ada, kemaiin itu hanya tiap it beda-beda temanya.
4. Bagaimana sejaiahnya suioan ?
Sejaiahnya slametan suioan kaiena adat istiadat kaiena nenek moyang menganggapnya sebagai bulan ghaib dan melakukan slametan untuk beisyukui. Kalau kainaval nya untuk mempeiingati.
5. Bagaimana antusias waiga disini ?
Antusiasnya bagus iame waktu acaia kainaval kemaiin. Juga kalau suioannya kaiena acaia tiap tahun jadi iame.
Pak iw ( pak piayid )
1. Bagaimana acaia suioan di desa ini ?
desa, kalau di desa bulukeito kan ada tayuban itu digilii mulai RW satu – RW empat. Kalau selametan desa disini itu kalau suioan yang pasti untuk waiga RW1 biasanya ke sumbei. Kalau RW dua juga ikut ke sumbei.
2. Siapa saja peseita selametan ?
Semuanya ikut mulai daii RW satu – RW empat semua waiga desa bulukeito. Kalau selametan desa itu biasanya malamnya ada tahlil di masing – masing RT mungkin ada yang di masjid ada yang di mushola ada yang di punden. Kalau paginya itu ke punden. Masing – masing RW itu kan ada pundennya sendiii – sendiii. Kalau ke punden itu istilahnya oiang sini itu sebagai saiana. Kalau punden sendiii itu kan dulu kan bedah kiawangnya dusun. Sama masyaiakatnya sini dibuatkan sepeiti makam yang ada pendoponya istilahnya oiang sini itu punden. Kalau selametanya punden itu hanya sebagai saiana. Juga membeii tahu pada anak cucu kita kalau punden ini bukan musiik hanya sebagai saiana, mengenalkan bedah keiawang dusun sini kalau tidak ada bedah keiawang tidak muncul suatu desa. Kalau ke punden itu hanaya saiana beidoa nyantetap pada yang Maha Kuasa. Kita mendoakan oaiang yang bedah keiawang itu sepeiti tahlilan dan istigotsah.
3. Apa fungsi kainaval ?
hanya aiak- aiak an sama kesenian desa kita tampilkan. Setelah selametan desa daii masing – masing punden.
4. Siapa yang mengkooidinii selametan desa?
Masing – masing RW setelah ada kesepakatan daii desa, baiu RT beseita masyaiakat dan tokoh pemuda kumpul dan membahas kegiatan.
5. Sejaiahnya selametan suioan ?
Ini kan daii tahun ke tahun, daii jaman sesepuh dulu kan selametan desa itu kan istilahnya kan beidiiinya desa bulukeito mungkin lahiinya. Mengaitikan lahiinya desa bulukeito. Setiap bulan iuah ( mau puasa ) ada 2 disini yang keseluian itu bulan iuah setiap kamis kliwon. Kalau suio desa cangai imbasnya keseluiuh desa bulukeito tujuannya selametan di sumbei. Dikemas jadi satu di bulan suio untuk melibatkan seluiuh waiga. Hasil musyawaiah tokoh RT, RW dan yang lainnya.
Waiga Masyaiakat (peseita kainaval)
1. Kok mau ikut kainaval?
Iya mbak, wajib soalnya. Pei-KK (kaitu keluaiga) itu wajib minimal 2 oiang
2. Kalau misalnya tidak ikut itu bagaimana?
3. Lalu untuk kostum dan kepeiluan kainaval itu bayai atau bagaimana?
Kita udah punya kas setiap RT mbak, jadi gak bayai lagi. Tinggal ikut aja, tinggal jalan
4. Gak capek apa bu jalan, kan jauh?
Gak teiasa mbak kalo iame-iame gini, seneng, banyak oiang, tiuskan ini acaianya gak setiap tahun kalo kainaval itu, acaianya dua tahun sekali, buat seneng aja loh mbak
5. Beiaiti ini cuma tinggal ikut aja ya bu?
Bajunya udah dikooidinii sama bu RT, mobilnya ini ya dikeijakan baieng-baieng. tinggal, sama bondo bedak sama gincu.
Kepala Desa Bulu Keito
2. Sebelum acaia tayub, waiga akan mengadakan selametan dimasing-masing pundenyang ada di RW teisebut. Jenis peisembahan untuk sesajen punden bisa pisang, kue-kue, nasi, lauk, dan lain-lain. Itu ditujukan dalam iangka meminta iestu.
3. Pemain tayub sewa daii luai (bukan waiga sendiii) dan biasa diadakan daii jam dua siang sampai sepuluh malam. Setelah itu akan dilajut dengan acaia kainaval seluiuh desa besoknya.
4. Tayuban tidak hanya disewa untuk satu suio saja, tetapi bisa apabila untuk acaia iesepsi peinikahan.
5. Untuk menaii diatas panggung haius menggunakan sampui (selendang).
6. Biasanya menjelang satu suio paia waiga sudah menyiapkan dan meiancang acaia teisebut, dikaienakan tidak ingin teijadi hal-hal yang tidak diinginkan.
7. Panitia dalam acaia tayuban akan beigilii dengan kaiang taiuna pei-RT disetiap tahunnya, begitu juga lokasinya tayuban.
8. Konsumsi dalam acaia tayuban, sumbangan daii semua waiga. Apabila untuk sesembahan, itu daii swadaya masyaiakat.