• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA :

Dalam dokumen Arang Kaya Manfaat Ramah Lingkungan (Halaman 44-51)

Service (PES) di Indonesia

DAFTAR PUSTAKA :

Iskandar, Rifki.2006. Prospek Lerak Tanaman Industri Pengganti Sabun. Jakarta: Pustaka Baru Press

Gunawan, Dadit dan Sri Mulyani. 2004. Ilmu obat Alam (Farmakognosi) Jilid I. Jakarta : Penebar Swadaya

Fatmawati, Lerak. 2014. Efektivitas Buah Lerak (Sapindus Rarak DC) sebagai Bahan Pembersih

Logam Perak, Perunggu, dan Besi. Surabaya : Balai Pelestarian Budaya Jawa Timur.

Hart, H. dan L. Craine. 2003. Kimia Organik. Edisi II. Penerbit Erlangga. Jakarta

Widowati, L. 2003. Sapindus rarak DC. In: Lemmens RHMJ. Bunyapraphastsara, N. (Eds). Plant Resources of South-East Asia. Medicinal and Poisonous Plants. Prosea Foundation. Bogor. Sungkar S. 2000. Skabies. Jakarta: Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia.

Boediardja S. 2003. Skabies pada Bayi dan Anak. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

I Wayan Sudarma : Bekerja dan Berdarma

Oleh : Ryke L.S. Siswari

Seperti juga di daerah lain, jumlah penyuluh Kehutanan PNS di Kabupaten Karangasem masih jauh dari mencukupi. Untuk 8 kecamatan yang meliputi 78 kelurahan, Kabupaten Karangasem hanya memiliki 17 orang penyuluh kehutanan PNS. Para penyuluh tersebut berada pada KPH Bali Timur yang meliputi Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Bangli. Dengan kondisi yang demikian, kehadiran penyuluh kehutanan swadaya masyarakat atau PKSM sebagai mitra penyuluh kehutanan PNS menjadi sangat penting. PKSM dapat membantu mengisi kekosongan yang tidak bisa dijangkau oleh PK PNS bahkan kadang-kadang malah menjadi andalan dalam kegiatan penyuluhan.

Salah satu PKSM yang sangat aktif di Kabupaten Krangasem adalah I Wayan Sudarma. Kiprahnya dalam penyuluhan dan pembangunan kehutanan secara umum mengantarkannya sebagai PKSM terbaik II nasional pada Lomba Wana Lestari tahun 2017.

Dari Kaki Gunung Agung Yang Sejuk dan Berkabut

Wayan, begitu ia biasa dipanggil, lahir dan besar di Desa Menanga, Rendang, Karangasem. Desa yang terletak di kaki Gunung Agung ini sebenarnya merupakan tanah perbukitan yang subur. Namun sangat banyak lahan terlantar dan terbengkalai yang tidak dimanfaatkan. Masyarakat hanya mengandalkan hidup dari padi gogo yang ditanam di ladang dan di panen satu kali setahun.

Wayan sering berpikir untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong tersebut guna menambah penghasilan keluarganya. Namun sebagai anak petani yang serba kekurangan dan hanya menamatkan pendidikan tingkat SLTP, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana memulainya. Sempat menjadi supir mobil jenazah dan bergabung dengan kelompok peternak ayam ternyata tidak memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.

Beruntung Wayan luwes dalam bergaul dan aktif dalam kegiatan masyarakat di desanya. Hal ini mengantarnya berkenalan dengan penyuluh pertanian yang kemudian mengajarkannya untuk bertani sayuran. Dari pertemanan dengan penyuluh pertanian ini kemudian ia bertemu dengan Made Suastana, seorang penyuluh kehutanan. Made Suastanalah yang mengajarinya bahwa untuk bisa berhasil dalam bertani diperlukan air dan kondisi lingkungan yang terjaga kelestariannya. Bersama-sama mereka mulai mengajak masyarakat desa Menanga untuk tidak sekedar bertanam sayuran tapi juga melakukan konservasi tanah melalui penanaman pohon, penanaman bambu dan enau pada tebing-tebing serta pembuatan terasering. Sejak saat itulah sebenarnya Wayan sudah melakukan kegiatannya sebagai PKSM.

Wayan juga mulai membentuk kelompok tani dengan kegiatan bertani sayuran serta mengembangkan hutan rakyat dengan tanaman albizia dan kajimas. Kelompok Taninya sempat memperoleh dana Kebun Bibit Rakyat (KBR) pada 2010. Pada tahun itu juga, Made yang melihat potensi dan kesungguhan Wayan dalam mengembangkan kelompok dan kegiatan fisik di desa Menanga, merekomendasikannya sebagai peserta yang mewakili Kabupaten Karangasem untuk mengikuti pelatihan budidaya lebah madu Apis cerana di Soe, NTT.

Maju Bersama Madu

Selesai pelatihan, Wayan mulai mengembangkan budidaya lebah madu di kelompoknya. Sayangnya kelompok tidak terlalu antusias melaksanakannya. Pada saat yang sama juga terjadi konflik yang menyebabkan perpecahan dalam kelompok. Wayan bertekad untuk memulai kelompok baru yang harus lebih sukses dari kelompok sebelumnya. Dari sinilah terbentuk Kelompok Tani Hutan Satya Loka Parama Sidhi yang diketuainya. Ia ingin kelompok ini nantinya tidak hanya bertani sayuran, membangun dan mengembangkan hutan rakyat tetapi juga memiliki usaha lain untuk meningkatkan kesejahterannya.

Budidaya lebah Trigona oleh Kelompok Tani Hutan Binaan I Wayan Sudarma (dokumentasi pribadi)

Wayanpun memulainya dengan diri sendiri. Selain membudidayakan Apis cerana, ia menemukan bahwa di Menanga juga terdapat lebah dari jenis Trigona yang hasil madunya dikenal dengan madu kala. Madu kala ini banyak dicari pembeli dan belum ada yang membudidayakannya. Harga madu kala juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan madu Apis cerana. Wayan mencoba-coba sendiri membudidayakan lebah trigona ini berbekal ilmu yang pernah diperoleh digabungkan dengan pengalaman dan upaya mencari informasi dari berbagai pihak.

Ketekunannya membuahkan hasil. Dengan harga jual yang mencapai Rp 250.000 – Rp 400.000 rupiah per botol berukuran 350 ml, anggota kelompok dan masyarakat mulai mengikuti langkahnya. Saat ini KTH Satya Loka Parama Sidhi telah memiliki 1200 stup lebah Trigona. Bila digabungkan dengan milik kelompok lain dan masyarakat sekitar yang dibina Wayan, jumlah stup lebah Trigona telah mencapai lebih dari 5000 dengan produksi lebih dari 200 botol per tahun. Untuk kestabilan harga, pemasaran madu Trigona Desa Menanga dilakukan melalui KTH Satya Loka Purnama Sidhi. Dari setiap botol yang terjual, kelompok memperoleh keuntungan Rp 5.000.

Keberhasilan Wayan membudidayakan lebah trigona mengantarnya memperoleh penghargaan Sipakara Nugaraha 2014 dari Bappeda Bali untuk Kreativitas dan

Inovasi Tehnologi Masyarakat dalam Penyepihan Lebah Trigona. Saat ini Wayan juga merupakan instruktur tetap untuk pelatihan-pelatihan bididaya lebah trigona yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Bali.

Hutan Rakyat Berkembang, Rejekipun Datang

Selain madu, KTH Satya Loka Purnama Sidhi tetap mengembangkan hutan rakyat. Saat ini hutan rakyat di Menanga telah mencapai 233 ha dari jenis albiziaa, kajimas, mahoni, gmelina dan jabon. Kelompok maupun masyarakat binaan Wayan telah memiliki pasar tetap yaitu industri pengolahan kayu di Jawa yang membeli langsung di lokasi.

Hutan Rakyat di Desa Menanga (dokumentasi : I Wayan Sudarma)

Di bawah tegakan juga dikembangan tanaman kunyit dan jahe, yang oleh Kelompok Wanita Tani binaan diolah menjadi minuman kesehatan dan dipasarkan dalam kemasan botol.

Selain kunyit dan jahe, kelompok mengembangkan tanaman nilam yang mencapai luasan 10 ha. Pada 2012 kelompok memperoleh bantuan mesin penyulingan nilam dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Karangasem. Saat ini kelompok rata-rata memproduksi 40- 50 kg minyak nilam yang di suplai ke industri kosmetik di Bangli secara rutin. Harga minyak nilam mencapai Rp 800.000 per kg.

Berkembangnya hutan rakyat dan berbagai ussaha semakin memantapkan kelompok ini dan mengundang datangnya berbagai fasilitasi. Diantaraya adalah bantuan

ternak sapi. Dari peternakan sapi, Wayan beserta kelompoknya mengolah limbah peternakannya menjadi pupuk organik. Usaha pupuk ini berkembang dengan pesat hingga akhirnya menampung juga limbah peternakan masyarakat sekitar sebagai bahan baku. KTH Satya Loka Parama Sidhi bahkan dipercaya untuk mensuplai kebutuhan pupuk bersubsidi bagi Provinsi Bali dengan omzet 350 ton per tahun. Harga jual pupuk untuk pemerintah provinsi mencapai Rp 1000/kg, sedangkan bila dijual kepada rekanan harganya mencapai Rp 1.200/kg

Wayan juga melihat bahwa desa Menanga memiliki potensi untuk budidaya bunga Marigold di pekarangan masyarakat. Kebutuhan Marigold sebagai bagian dari perangkat upacara di Bali memang sangat tinggi. Saat ini Desa Menanga mampu memproduksi lebih dari 50 ton bunga Marigold per bulan dengan harga sekitar Rp 30.000 per kg. Bunga tersebut diproduksi untuk memenuhi kebutuhan kabupaten Karangasem, Klungkung dan Kota Denpasar.

Bekerja dan Berdarma

Bekerja dan berdarma menjadi motto Wayan dalam menjalani kehidupan. Bekerja adalah kewajiban yang harus dilakukan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Di saat yang bersamaan Wayan juga ingin selalu bisa berdarma atau memberikan kebaikan dan manfaat bagi sesama.

Sebagai PKSM, Wayan telah melakukan keduanya. Ia berharap dan terus berusaha untuk dapat melaksanakan motto kehidupannya tersebut. Itu sebabnya Wayan tidak sebatas berkarya pada kegiatan fisik saja. Ia membantu menumbuhkan dan membina kelompok-kelompok tani di Menanga dengan kegiatan serupa serta mengkader masyaraat untuk menularkan ilmu melalui penyuluhan sebagaimana yang dilakukannya. Saat ini Wayan membina 5 Kelompok Tani Hutan dan 1 Kelompok Tani Wanita, serta menumbuhkan 5 PKSM lain di Kecamatan Rendang.

Budidaya bunga marigold di pekarangan (dokumentasi :I Wayan Sudarma)

Wayan juga tak henti meningkatkan kapasitas dirinya. Setelah menelesaikan Paket C, saat ini ia sedang menempuh kuliah semester 5 di STKIP Agama Hindu di Amlapura. Ia tak berhenti dengan peningkatan kapasitas dirinya sendiri tetapi juga berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat Menanga khususnya dan Kecamatan Rendang umumnya. Untuk itulah Wayan aktif dalam berbagai organisasi masyarakat dan organisasi profesi seperti Pengurus Badan Pelestarian Hutan Desa Menanga, Pengurus Karang Lanjut Usia, Ketua Gapoktan Menanga, Sekretaris Koperasi Yowana Satya Kerti, Komite Pada Pusat Kegiatan belajar Masyarakat (PKBM) Yowana Sastra dan anggota IPKINDO.

Menurut Wayan, aktif berkegiatan di berbagai organisasi tersebut merupakan salah satu kunci kesuksesan dalam melakukan kegiatannya sebagai PKSM. Dari berbagai organisasi tersebut Wayan dapat berkomunikasi dan bertukar pengalaman dengan pengurus maupun anggota lainnya untuk lebih meningkatkan pengetahuannya. Kunci sukses lainnya adalah membangun jejaring kerja dengan berbagai pihak. Mulai dari pemerintahan desa, kecamatan hingga instansi pemerintah kabupaten serta para pengusaha. Dukungan instansi pembina dan penyuluh kehutanan pendamping merupakan kunci berikutnya dalam melaksanakan kegiatannya sebagai PKSM maupun sebagai ketua kelompok.

Khusus untuk PKBM Yowana Sastra, Wayan juga berperan sebagai instruktur pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan lembaga ini. PKBM Yowana Sastra yang merupakan tempat belajar mandiri bagi masyarakat tidak hanya menggelar pelatihan-pelatihan teknis seperti perlebahan, pembibitan dan pembuatan barang-barang kerajinan tetapi juga mengenai kelembagaan kelompok, bahasa Inggris dan bahasa Jepang, juga kejar Paket A, Paket B dan Paket C. Lembaga ini telah mengantar masyarakat Menanga meningkatkan keterampilan dan pendidikannya.

Dari aspek ekologi, sosial maupun ekonomi, Wayan telah melakukan darmanya. Kegiatan yang dilakukannya tidak saja memperbaiki lingkungan tetapi juga meningkatkan kapasitas dan pendapatan masyarakat desanya. Prestasi sebagai PKSM terbaik kedua tingkat nasional pada Lomba Wana Lestari 2017 bukanlah merupakan tujuan utamanya. Baginya, yang terpenting adalah terus berkarya agar hutan dan lingkungan desa Menanga terjaga kelestariannya dan masyarakatnya menjadi lebih sejahtera

Dalam dokumen Arang Kaya Manfaat Ramah Lingkungan (Halaman 44-51)

Dokumen terkait