1
Arang
Kaya Manfaat Ramah Lingkungan
Oleh :
Endang Dwi Hastuti Siwi Tri UtamiArang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari‐hari. Arang merupakan salah satu produk yang dihasilkan dari teknologi arang terpadu yang ramah lingkungan. Arang memiliki banyak manfaat, tidak hanya dijadikan bahan bakar saja tapi juga dapat diaplikasikan dalam berbagi bidang pertanian dan peternakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan telah mensosialisasikan teknologi ini sejak tahun 2000‐an, pada berbagai instansi terkait, maupun kelompok‐kelompok masyarakat. Beberapa penyuluh kehutanan telah sukses mengaplikasikan teknologi ini.
Arang Terpadu, Teknologi Terapan Ramah Lingkungan
Arang terpadu merupakan teknologi yang dalam proses dan aplikasinya dilakukan secara terpadu. Arang terpadu adalah teknologi terapan yang ramah lingkungan, karena memanfaatkan berbagai jenis limbah biomassa serta menerapkan teknologi yang rendah emisi.Teknologi arang terpadu selain menghasilkan arang juga arang kompos dan asap cair.
Arang dapat diolah lebih lanjut menjadi briket arang untuk energi Gambar 1 juga dapat diolah lebih lanjut menjadi arang aktif.
2
Briket Arang memiliki beberapa kelebihan antara lain : Bersih dan tidak berdebu; Mengeluarkan sedikit asap; Abu sisa pembakaran kecil; Menghasilkan kalor panas yang tinggi dan konstan; Menyala terus tanpa dikipas; Ramah lingkungan; serta tersedianya bahan baku yang melimpah.
Beberapa penelitian tentang teknologi arang terpadu pernah dilakukan dengan mengunakan :
1 drum bekas yang tutup/sungkupnya disambung dengan bambu sepanjang 4 meter yang berfungsi sebagai pendingin alami Gambar 2 , yang disebut dengan cara konvensional atau tradisional.
Tungku kubah yang terbuat dari batu bata, dilengkapi unit pendingin,
Tungku baja dan tungku sakuraba, masing‐masing dilengkapi dengan unit pendingin air. Tungku arang terpadu 3 in 1 terbuat yang dari bahan stainless stell dengan dual pendingin yang bagian dalam dilapisi dengan bata Gambar 3 . p (foto: gusmailina) Gambar 2.Tungku konvensional/tradisional dengan pendingin bambu, dalam lingkaran putih terdapat botol penampung asap cair
Penggunaan tungku drum yang diberi sungkup bambu lebih sesuai bagi masyarakat karena teknologi ini lebih murah dan mudah diaplikasikan. Namun dari beberapa penelitian penggunaan tungku ini masih ada kelemahanya itu kualitas asap cair yang dihasilkan masih terlihat kotor dan berwarna hitam, sehingga harus dilakukan penyulingan.
3 (foto: gusmailina) Gambar 3.Tungku 3 in 1 (A); Tungku 2 drum dengan pendingin stainless steel (B) (sumber foto: gusmailina) Gambar 4.Tungku kubah kapasitas 3 m3 untuk produksi arang dan asap cair
Asap yang terbentuk dalam proses pembuatan arang, akan mengalami perubahan bentuk menjadi cairan apabila terjadi proses pendinginan. Cairan ini disebut asap cair atau cuka kayu wood vinegar .
Arang Sebagai Pembangun Kesuburan Tanah PKT
Arang atau Biochar merupakan hasil dari pembakaran tidak sempurna sehingga menyisakan unsur hara yang menyuburkan lahan. Jika pembakaran berlangsung sempurna, arang berubah menjadi abu dan melepas karbon.
Arang bukan pupuk tetapi arang dapat membangun kualitas dan kondisi tanah baik secara fisik, kimia dan biologi tanah. Arang memiliki pori pada permukaannya sehingga jika digunakan sebagai campuran media tanam dapat memperbaiki sirkulasi air dan udara di dalam tanah. Arang dapat menyerap dan menyimpan air dan hara, kemudian air dan hara tersebut akan dikeluarkan kembali sesuai kebutuhan. Selain itu arang dapat meningkatkan pH tanah. Kondisi ini bagus untuk perkembangan mikroba tanah yang berfungsi dalam penyediaan unsur hara dalam tanah untuk diserap tanaman. Oleh sebab itu arang disebut sebagai pembangun kesuburan tanah.
4
Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan arang pada media tumbuh dapat mempercepat pertumbuhan tanaman di persemaian maupun di lahan.
Arang Meningkatkan pH dan Aktivitas Mikrorganisme Tanah
Arang bersifat alkali dengan pH diatas 8, sehingga arang digunakan sebagai pengganti kapur atau dolomit yang harganya lebih mahal. Arang dapat memperbaiki sifat kimia, fisik dan biologi tanah sehingga apabila tanaman diberi arang maka pertumbuhan akan meningkat, antara lain tinggi, diameter dan produksi. Pemberian arang pada tanah dapat meningkatkan ph dan aktivitas mikroorganisme tanah.
Arang juga dapat meningkatkan kelembaban dan kesuburan tanah dan dapat bertahan ribuan tahun dalam tanah. Arang juga baik sebagai campuran pakan, maupun untuk meningkatkan higienis, kebersihan dan kesehatan kandang ternak. Arang digunakan sebagai pelapis alas kandang untuk mengurangi bau, selalu hangat dan menyerap berbagai penyakit yang akan menyerang ternak, sehingga ternak menjadi sehat dan lingkungan terjaga kebersihannya.
Pertumbuhan dan produktivitas buahnya akan selalu membutuhkan pupuk sebagai nutrisi dalam jumlah tertentu sehingga ketersediaan pupuk yang memadai harus terjamin. Namun penyediaan pupuk dengan jumlah yang memadai memerlukan biaya yang besar. Disamping itu, pupuk pada umumnya akan banyak tercuci/leaching rata‐ rata 50% sehingga menimbulkan banyak pemborosan yang merugikan.
Aplikasi arang adalah salah satu solusi dengan memanfaatkan limbah biomasa sebagai bahan baku arang, murah dan mudah didapat. Hasil suatu riset menunjukkan bahwa keberadaan arang di dalam tanah tidak akan terpengaruh selama 130 tahun lamanya.
Aplikasi Arang Sudah Ratusan Tahun
Para ilmuwan dunia menemukan unsur arang dalam kandungan tanah hitam di lembah Amazon yang disebut Terra Preta. Diperkirakan merupakan hasil pengelolaan bangsa Amerindian sejak 500 tahun hingga 2.500 tahun silam. Selanjutnya, arang juga terdapat buku kuno di Jepang dengan istilah pupuk‐api fire‐manure sebagai penyubur pertanian pada tahun 1697. Demikian pula di China, tradisi menyuburkan lahan sudah sejak lama dikembangkan melalui pembakaran biomassa. Sejak 1915 penelitian ilmiah peran arang terhadap pertumbuhan bibit padi sudah dikembangkan.
5 Ramah Lingkungan
Arang bersifat karbon negatif sehingga telah menjadi tumpuan keberlanjutan sistem usaha tani dan sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim global di negara maju dan berkembang seperti Indonesia. Selain dapat meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman, penggunaan arang juga dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pertanian.
Di Indonesia, pemanfaatan arang dalam skala luas merupakan hal yang relatif baru. Masih perlu penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya arang untuk keberlanjutan usaha pertanian dalam arti luas. Membuat Arang Secara Sederhana Pembuatan arang secara sederhana sudah banyak dilakukan oleh masyarakat. Cara ini sederhana, mudah dan murah, menggunakan drum bekas minyak tanah atau oli dengan kapasitas 200 liter.
Bahan baku yang digunakan adalah berbagai jenis limbah biomassa antara lain tempurung kelapa, tempurung kemiri, limbah kulit, ranting atau sebetan. Proses pembuatan arang secara sederhana adalah sebagai berikut : Bahan baku dimasukkan kedalam drum, Dibakar dengan pancingan di bagian bawah drum yang telahdilubangi. Jika bahan baku sudah mulai terbakar, yang ditandai dengan kepulan asap tebal, drum ditutup dengan penutup,
Pasang bambu sepanjang 4 meter yang berfungsi sebagai pendingin alami jika pengarangan dilakukan secara konvensional.
Arang terbukti memiliki banyak manfaat dan menjadi solusi berbagai permasalahan terkait dengan peningkatan kualitas kesuburan lahan dan pencemaran lingkungan. Cara pembuatan arang juga sangat sederhana dan bahan bakunya banyak tersedia di sekitar masyarakat, serta tidak membutuhkan modal yang besar. Oleh karenanya, arang diharapkan dapat menjadi salah satu komoditas ramah lingkungan yang bermanfaat dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Informasi ini perlu disebarluaskan dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan kesadarannya terhadap pengelolaan lingkungan yang
6
baik dan berguna, serta menumbuhkan lapangan pekerjaan dan menambah pendapatan keluarga yang berujung pada meningkatnya kesejahteraan keluarga.
*) Dirangkum dari Materi Pertemuan Forum Komunikasi Peneliti, Widyaiswara, Penyuluh dan Guru SKMA tanggal 21 Juli 2016, berjudul “Teknologi Arang Terpadu” oleh Gusmailina, Gustan Pari, Sri Komarayati & Djeni Hendra
1
Keterampilan Yang Dibutuhkan Pemimpin Untuk
Menghadapai Perubahan
Oleh : Junaidin, S.Hut, MA.
Widyaiswara Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar
Abstrack
Middle level managers have several characteristics which differ from top level managers such as
limited power resource such as communication, network and authority to determine the way of
the organizational work. In order to deal with new objections and tasks in public organization,
there are four skills of middle level managers which important to deal with this issue: give clear
instruction and command, resolve conflicts between the subordinates, encourage employers to
improve their skills and set transparent reward and punishment system.
Keyword: middle level manager, new tasks, instruction, motivation, reward
1. Pendahuluan
Perubahan zaman merupakan suatu keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap
organisasi. Sebagai organisasi yang relatif baru, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) yang dibentuk dari peleburan dua Kementerian yakni Kementerian Kehutanan dan
Kementerian Lingkungan Hidup dihadapkan pada persoalan perubahan tugas dan fokus prioritas.
Walaupun telah dilakukan reorganisasi dalam rangka mengatasi perubahan tujuan organisasi,
salah satu persoalan penting yang perlu mendapat perhatian adalah mengoptimalkan kemampuan
kepemimpinan untuk bekerja dengan tujuan dan fokus prioritas yang baru.
Dengan dilakukannya reorganisasi KLHK berimplikasi pada terbentuknya
organisasi-organisasi baru hasil peleburan dari unit-unit kerja dari dua kementerian. Sebagai akibatnya,
unit-unit kerja tersebut akan memiliki tugas dan tanggung jawab baru, sebagai contoh Direkotrat
Jenderal Perubahan Iklim yang merupakan hasil peleburan antara Badan Penanggulangan Emisi
dari Deforestasi dan Degradasi Lahan (BPREDD+) Kementerian Kehutanan dengan Dewan
Nasional Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup.
2
Untuk dapat menjawab tantangan tugas dan fokus prioritas yang baru kemampuan
pimpinan sangat dibutuhkan terutama untuk menterjemahkan tujuan dan sasaran organisasi dari
level makro ke tingkat operasional. Pada tingkat makro tujuan dan sasaran organisasi masih
dalam bentuk yang sangat umum, oleh karena itu dibutuhkan penjabaran ke level operasional
yang lebih mudah diimplementasikan (Rainey, 2010). Dalam hal ini, peran pimpinan level
mengengah menjadi penting untuk mengartikulasikan tujuan makro organisasi ke dalam
langkah-langkah operasional praktis (Wooldridge, Schmid, & Floyd, 2008).
Tulisan ini bertujuan untuk membahas keterampilan-keterampilan apa saja yang
dibutuhkan oleh pimpinan level menengah untuk menghadapi tugas dan prioritas baru dari unit
kerjanya. Untuk mencapai tujuan penulisan, rumusan masalah dari tulisan ini diformulasikan
sebagai berikut “keterampilan apa yang dibutuhkan oleh manejer level menengah di KLHK
untuk dapat mengantisipasi tujuan dan prioritas baru di unit kerjanya?”. Untuk memudahkan
pembaca memahami tulisan ini, bagian-bagian tulisan akan disusun secara sistematis. Setelah
bagian pendahuluan akan dilanjutkan dengan kajian pustaka tentang peran pemimpin untuk
menghadapi tantangan baru dan peran pimpinan level menengah dalam organisasi pemerintah.
Setelah itu, karakkteristik-karakteristik pimpinan level menengah dalam menghadapi tugas dan
prioritas baru akan dijabarkan.
2. Kepemimpinan untuk menghadapai tantangan baru
Pemimpin (leader) merupakan istilah dengan banyak pengertian. Pemimpin didefenisikan
sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk mendorong dan menggerakan orang lain
untuk mencapai tujuan tertentu (Rainey, 2010). Alban-Metcalfe et al., (2007) mendefenisikan
seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki kualitas untuk mengarahkan, memotivasi dan
menggerakan pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Beinecke (2009), untuk menghadapi situasi yang serba tidak pasti, seorang
pemimpin tidak saja harus mempersiapkan dirinya untuk beradaptasi dengan kondisi yang penuh
ketidakpastian namun juga harus meningkatkan kapasitasnya untuk memotivasi bawahannya
untuk beradptasi terhadap situasi yang dinamis. Terdapat lima kemampuan yang harus dimiliki
oleh pemimpin pada organisasi publik untuk dapat menghadapi yang dinamis yaitu (1)
kemampuan intrapersonal, seperti kemampuan mengelola kecerdasan emosional dan spiritual,
daya tahan dan etika (2) kemampuan interpersonal, seperti keterampilan komunikasi, manajemen
3
konflik dan negosiasi (3) kemampuan transaksional, seperti keterampilan manajemen sumber
daya manusia (4) kemampuan transformasional, seperti keterampilan mengarahkan, menangani
situasi kompleks dan pengaturan tujuan organisasi, dan, (5) pengetahuan terhadap kebijakan dan
program organisasi.
3. Peran manajer level menengah dalam organisasi pemerintah
Pimpinan pada level menengah memiliki peran yang berbeda dengan pimpinan pada level
atas karena pimpinan level menengah memiliki keterbatasan sumberdaya kekuasaan, jaringan
komunikasi dan otoritas untuk menentukan jalannya organisasi (Gatenby, Rees, Truss, Alfes, &
Soane, 2014). Namun, secara umum, pimpinan level menengah berfungsi untuk menterjemahkan
strategi dari pimpinan diatasnya kedalam langkah-langkah operasional yang dapat berupa (1)
merumuskan taktik dan mengelola anggaran untuk pencapaian tujuan, (2) mengevaluasi kinerja
bawahannya, dan (3) melakukan revisi tindakan ketika hasil kegiatan berada dibawah target yang
diharapkan (Floyd & Wooldridge, 1994). Lassen, Waehrens, & Boer (2009) menjabarkan peran
penting pimpinan level menegah dalam hirarki organisasi publik yakni untuk menyeimbangkan
rencana dan kegiatan organisasi, melakukan integrasi teknologi, dan melakukan pembahasan
gagasan-gagasan baru untuk diimplementasikan dalam kegiatan organisasi.
Dalam organisasi publik, pimpinan level menengah berperan penting untuk
meningkatkan kinerja organisasi pada tingkat pekerjaan operasional dan pelaksanaan kegiatan
teknis (Floyd & Wooldridge, 1997). Dalam konteks pemerintahan lokal, pimpinan level
menengah memberikan efek yang signifikan untuk menjaga keberlanjutan pelaksanaan
program-program karena pimpinan level menengah memilik keterampilan teknis khusus sehingga mereka
dapat lebih mudah untuk berinteraksi dan berfokus untuk berhubungan dengan masyarakat
(Wang, Van Wart, & Lebredo, 2014).
4. Kepemimpinan level menengah dan tantangan perubahan
Dalam kasus Kementerian LHK peran pemimpin level menengah berperan penting untuk
menyelaraskan tujuan, strategi dan kebijakan baru dari organisasi diatasnya dan menterjemahkan
dalam kegiatan-kegiatan operasional dan teknis. Selain itu, para manejer level menengah harus
mengusahakan agar pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional teknis tersebut terlaksana dengan
baik. Oleh karena itu, dibutuhkan karakteristik kepemimpinan yang mengkombinasikan antara
4
gaya kepemimpinan transaksional dan transformasional. Seorang pemimpin yang bertipe
transaksional adalah seseorang yang kuat dalam perencanaan dan manajemen organisasi,
efisiensi kerja, kompetensi kerja dan sistematisasi pekerjaan. Sementara itu, pemimpin dengan
tipe transformasional adalah pemimpin yang berfokus pada kekuatan membangun hubungan
personal, kerjasama, komunikasi, kerativitas, motivasi bawahan dan menjunjung tinggi
kejujuran, integritas dan rendah hati (Beinecke, 2009).
Oleh karena itu, terdapat empat keterampilan pemimpin level menengah untuk
menghadapi tantangan perubahan yaitu: (1) keterampilan untuk memberikan perintah dan
intruksi yang jelas, (2) keterampilan membuat sistem penghargaan dan hukuman yang transparan
(3) keterampilan manajemen konflik, dan (4) keterampilan memotivasi bawahannya untuk
meningkatkan kapasitas bawahannya. Keterampilan yang dibutuhkan pemimpin level menengah
digambarkan pada tabel 1.
Tabel 1. Tabel keterampilan pimpinan level menengah untuk menghadapi tantangan baru
Gaya kepemimpinan
Keterampilan Pemimpin level
menengah
Tujuan
Kepemimpinan
transaksional
Memberikan perintah dan
intruksi yang jelas
Menghindari kesalah pahaman
Meningkatkan efisiensi kerja
Membuat sistem penghargaan
dan hukuman yang transparan
Menjaga kinerja bawahan
Kepemimpinan
transformasioanl
Manajemen konflik
Menghindari perpecahan
bawahan
Membangun komitmen
Motivasi bawahan
Meningkatkan sikap kerja
positif bawahan
Pertama, pemimpin level menengah harus dapat memberikan perintah dan instruksi yang
jelas pada bawahannya mengenai pekerjaan yang ditugaskan kepadanya (Heifetz & Laurie,
1997). Kejelasan dalam memberikan perintah dan instruksi sangat dibutuhkan ketika bawahan
harus melakukan pekerjaan yang baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya. Disaat pekerja
5
memiliki keterbatasan informasi mengenai pekerjaan yang akan mereka lakukan, seorang
pemimpin harus dapat mengarahkan bawahannya sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan
efisiensi pekerjaan bawahannya (Bens, 2006).
Kedua, pimpinan level menengah harus memiliki keterampilan untuk membuat sistem
pengahrgaan dan hukuman yang transparan. Pada organisasi level menengah yang berurusan
dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis, keterampilan pemimpin untuk
mengkompromikan pengakuan dan sanksi bagi bawahan merupakan kemampuan penting untuk
meningkatkan kinerja bawahan. Dengan memberikan apresiasi kepada pekerja atas pencapaian
yang dilakukannya akan meningkatkan kepercayaan diri pekerja untuk lebih meningkatkan
kinerjanya. Sementara itu, dengan memberikan teguran dan hukuman bagi bawahan yang
menyalahi aturan akan mengirimkan pesan pada pekerja lain bahwa tidak ada toleransi bagi yang
menyalahi aturan dalam jalannya organisasi (Hornsby, Kuratko, & Zahra, 2002).
Ketiga, keterampilan untuk melakukan manajemen konflik merupakan kemampuan yang
penting untuk dimiliki pimpinan level menengah untuk menghadapi tantangan baru. Ketika
organisasi publik memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dari sebelumnya, akan ada masalah
yang hadir diantara para pekerja. Beberapa pekerja yang sudah nyaman dengan kondisi
pekerjaan yang lama akan menjadi resisten untuk mengubah rutinitasnya mengikuti irama kerja
yang baru. Sementara itu, organisasi dengan tugas dan fungsi yang baru akan memunculkan
pekerja yang akan melihat tugas dan fungsi yang baru ini sebagai peluang untuk menunjukan
kemampuan mereka. Perbedaan persepsi diantara para bawahan ini jika tidak dimediasi dengan
baik akan menimbulkan konflik kepentingan diantara mereka. Oleh karena itu, pimpinan pada
organisasi dengan tugas dan fungsi yang baru harus memilik keterampilan manajemen konflik
yang tidak hanya penting untuk memediasi kepentingan para pekerja namun juga penting untuk
membangun mental pembelajaran kelompok (Heifetz & Laurie, 1997).
Keempat, keterampilan memberikan motivasi kepada bawahan untuk meningkatkan
kemampuan teknisnya juga merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki pimpinan
organisasi level menengah di KLHK untuk menghadapi prioritas pekerjaan baru. Ketika atasan
memberikan motivasi kepada bawahan akan meningkatkan keterampilan kerjanan akan
menumbuhkan sikap kerja positif seperti kepuasan kerja dan komitmen dalam pekerjaan
(Goleman, 2004). Selain itu, dengan memberikan motivasi kepada bawahan akan membuat para
6
bawahan lebih terangsang secara intelektual untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dengan
pendekatan yang berbeda (Bass, Waldman, Avolio, & Bebb, 1987). Oleh karena itu, ketika
pimpinan memberikan motivasi kepada bawahan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan teknisnya akan memudahkan organisasi menghadapi tantangan baru.
5. Kesimpulan
Untuk menghadapi tugas dan fungsi yang baru, pimpinan level menengah pada KLHK
memainkan peran penting untuk menterjemahkan tujuan, strategi dan kebijakan KLHK kedalam
kegiatan-kegiatan operasional. Agar dapat menghadapi tantangan tugas dan fungsi yang baru,
seorang pemimpin level menengah setidaknya harus memiliki empat keterampilan penting yaitu
keterampilan untuk memberikan perintah dan instruksi yang jelas, keterampilan untuk membuat
sistem penghargaan dan hukuman yang transparan, keterampilan manajemen konflik dan
keterampilan memberikan motivasi kepada bawahan untuk meningkatkan keterampilan kerjanya.
6. Rekomendasi
Sebagai tindak lajut tulisan ini, diperlukan kajian empirik untuk membuktikan pengaruh
gaya kepemimpinan pada organisasi level menengah di KLHK terhadap kinerja organisasi dan
kepuasan pekerja.
Daftar Pustaka
Alban-Metcalfe, J., Samele, C., Bradley, M., Mariathasan, J., Alban-Metcalfe, J., Camara, J., …
Straw, R. (2007). The impact of leadership factors in implementing change in complex
health and social care environments: NHS Plan clinical priority for mental health crises
resolution teams.
Bass, B. M., Waldman, D. A., Avolio, B. J., & Bebb, M. (1987). Transformational Leadership
and the Falling Dominoes Effect. Group & Organization Management, 12(1), 73.
http://doi.org/10.1177/105960118701200106
Beinecke, R. H. (2009). Introduction: Leadership for Wicked Problems. Innovation Journal,
14(1),
1–17.
Retrieved
from
http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=buh&AN=37167844&site=ehost-live
Bens, I. (2006). Facilitating to lead!: Leadership strategies for a networked world. John Wiley
& Sons.
Floyd, S. W., & Wooldridge, B. (1994). Dinosaurs or dynamos? Recognizing middle
management’s strategic role. Academy of Management Executive, 8(4), 47–57.
http://doi.org/10.5465/ame.1994.9412071702
7
Floyd, S. W., & Wooldridge, B. (1997). Middle Management Strategic Influence and
Organizational Performance. Journal of Management Studies, 34(May), 22–2380.
http://doi.org/10.1111/1467-6486.00059
Gatenby, M., Rees, C., Truss, K., Alfes, K., & Soane, E. (2014). Managing change, or changing
managers? the role of middle managers in UK public service reform. Public Management
Review, 17(8), 1124–1145. http://doi.org/10.1080/14719037.2014.895028
Goleman, D. (2004). What makes a leader? Harvard Business Review, 82(1), 82–91.
Heifetz, R. A., & Laurie, D. L. (1997). The work of leadership. Harvard Business Review, 75,
124–134.
Hornsby, J. S., Kuratko, D. F., & Zahra, S. A. (2002). Middle managers’ perception of the
internal environment for corporate entrepreneurship: assessing a measurement scale.
Journal of Business Venturing, 17(3), 253–273.
Lassen, A. H., Waehrens, B. V., & Boer, H. (2009). Re-orienting the Corporate Entrepreneurial
Journey: Exploring the Role of Middle Management. Creativity and Innovation
Management, 18(1), 16–23. http://doi.org/10.1111/j.1467-8691.2009.00508.x
Rainey, H. (2010). Understanding and Managing Public Organizations (4th ed.). San Fransisco:
Jossey-Bass. Retrieved from https://books.google.com/books?id=_-APAQAAMAAJ
Wang, X., Van Wart, M., & Lebredo, N. (2014). Sustainability Leadership in a Local
Government Context. Public Performance & Management Review, 37(3), 339–364.
http://doi.org/10.2753/PMR1530-9576370301
Wooldridge, B., Schmid, T., & Floyd, S. W. (2008). The Middle Management Perspective on
Strategy Process: Contributions, Synthesis, and Future Research. Journal of Management
(Vol. 34). SAGE Publications. http://doi.org/10.1177/0149206308324326
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKARAN
BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rotschildi)
Oleh:
Sri Harteti1 dan Kusumoantono2
1Widyaiswara Pusat Diklat SDM LHK 2Widyaiswara Balai Diklat LHK Bogor
Abstract
Indonesia has a high level of biodiversity. But now, the degradation of biodiversity in Indonesia keeps happening. Because of that, many plants and wild animals extinct, one of them is Balinese Starling bird (Leucopsarrotschildi). The government already made some policies to solve the population degradation of wild animals, one of it is Policy of Forestry Minister P.19/Menhut-II/2005 I about the Captive Breeding of Plant and Wild Animals. This policy is already done by CV. SA Citeureup BF since December, 2012. The purpose of this study is to analyze the policy’s implementation of Balinese Starling at CV. SA Citeureup BF. This study was done at February, 2017. The data’s collection method is through observation, interview, and literature review. Data’s analysis is done by policy’s analysis and descriptive analysis. This study showed that CV. SA Citeureup BF already did captive breeding activity in a controlled environment. The origins of these birds are legal and there are 19 couples of them. The bird’s marking activity was done through ring’s placementand documented through sertificates. This captive breeding activity is done by proffesionals. The restocking of Balinese Starling to West Bali National Park was done and it is in line with government’s policy P.19/Menhut-II/2005 about the Captive Breeding of Plants and Wild Animals.
Key words: policy’s implementation, captive breeding. Balinese Starling bird
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun saat ini, penurunan keanekaragaman hayati terus terjadi di Indonesia. Akibatnya banyak tumbuhan dan satwa liar yang punah. Oleh karena itu perlu upaya berbagai pihak untuk melestarikan tumbuhan dan satwa liar yang hampir punah tersebut. Salah satu jenis satwa liar yang hampir punah adalah burung jalak Bali (Leucopsar rotschildi). Penyebab utama terancamnya keberadaan burung ini adalah kerusakan hutan yang merupakan habitatnya dan meningkatnya intensitas perburuan terhadap burung tersebut.
Menurut Kemenhut (2008), jalak Bali merupakan satwa endemik Bali (khususnya daerah bagian barat-utara) dan memiliki sebaran terbatas dengan jumlah populasi alami yang sangat kecil. Habitat mengalami penyusutan drastis baik kualitas maupun kuantitas. Ancaman utama terhadap populasi berasal dari perburuan. Jalak Bali dimasukkan kedalam kategori Kritis oleh
International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan terdaftar dalam Apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora
(CITES).
Beberapa kebijakan telah dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi penurunan populasi burung jalak Bali. Kebijakan tersebut diantaranya adalah Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar, Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008 – 2018, dan Rencana Induk (Grand Design) Pelestarian Curik Bali di Taman Nasional Bali Barat 2013 – 2017.
Salah satu kebijakan yang telah diimplementasikan adalah penangkaran jalak Bali. Penangkaran jalak Bali telah dilakukan oleh CV. SA Citeureup BF. CV. SA Citeureup BF sejak bulan Desember 2012 telah melakukan kegiatan penangkaran tersebut. Lokasi penangkaran berada di Bogor, Jawa Barat. Penangkaran tersebut bertujuan untuk meningkatkan ekonomi dan ikut serta dalam kegiatan konservasi. Untuk menilai implementasi penangkaran yang dilakukan CV. SA Citeureup BF, perlu dikaji kesesuaian implementasi kebijakan penangkaran yang dilakukan tersebut dengan peraturan perundangan terkait.
B. Rumusan Masalah
Penangkaran jalak Bali harus dilakukan secara profesional yaitu dengan manajemen yang baik, penguasaan teknik penangkaran yang tepat dan kesediaan sarana dan prasarana yang memadai sehingga mencapai target yang diinginkan yaitu peningkatan populasi. Untuk mendapatkan informasi menyeluruh tentang implementasi penangkaran burung jalak Bali di CV. SA Citeureup BF, perlu dikaji bagaimana kebijakan penangkaran jalak Bali diimplementasikan. Berdasarkan uraian tersebut, maka rumusan masalah dalam kajian ini adalah: “Bagaimana kebijakan penangkaran jalak Bali diimplementasikan?”
C. Tujuan
Kajian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan penangkaran jalak Bali di CV. SA Citeureup BF.
II. METODOLOGI KAJIAN
Kajian ini dilakukan di CV. SA Citeureup BF yang berada di Bogor, Jawa Barat. Kajian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2017.
Alat yang digunakan dalam kajian ini adalah alat tulis, meteran, perekam suara, dan kamera. Instrumen yang digunakan dalam kajian ini adalah panduan wawancara.
Jenis data yang dikumpulkan dalam kajian berupa data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi. Wawancara menggunakan panduan wawancara dengan unit sampel yaitu direktur, komisaris, dan karyawan CV. SA Citeureup BF dan petugas Balai Besar Konservasi SumberDaya Alam Jawa Barat. Jumlah responden sebanyak 8 orang. Kegiatan observasi dilakukan terhadap aktivitas penangkaran jalak Bali yang dilakukan penangkar. Selain itu dilakukan pengumpulan data sekunder melalui studi pustaka. Pustaka dikumpulkan melalui Laporan Rencana Kerja Tahun 2017, laporan bulanan dan peraturan perundangan terkait penangkaran tumbuhan dan satwa liar.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumen peraturan perundang-undangan. Teknik analisis data dilakukan melalui analisis peraturan dan analisis deskriptif. Analisis peraturan perundang-undangan dilakukan terhadap P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar.
III. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKARAN JALAK BALI
Implementasi kebijakan penangkaran Jalak Bali dianalisis dengan peraturan perundangan yaitu P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Hasil analisis peraturan diuraikan di bawah ini:
A. Bentuk Penangkaran
Kegiatan penangkaran yang dilakukan CV. SA Citeureup BF adalah pengembangbiakan satwa. Hal ini sesuai dengan pasal 1 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 bahwa “pengembangbiakan satwa adalah kegiatan penangkaran berupa perbanyak individu melalui cara reproduksi kawin maupun tidak kawin dalam lingkungan buatan dan atau semi alami serta terkontrol dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya”.
Menurut pasal 4 bahwa penangkaran tumbuhan dan satwa liar berbentuk: pengembangbiakan satwa, pembesaran satwa dan perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam kondisi yang terkontrol. Adapun pengembangbiakan satwa terdiri dari: pengembangbiakan satwa dalam lingkungan terkontrol (captive breeding) dan pengembangan populasi berbasis alam (wild based population management). Berdasarkan pasal 4 tersebut
maka bentuk penangkaran burung jalak Bali yang dilakukan CV. SA Citeureup BF adalah pengembangbiakan satwa dalam lingkungan terkontrol (captive breeding).
Pengembangbiakan satwa dalam lingkungan terkontrol merupakan kegiatan memperbanyak individu anakan melalui cara-cara reproduksi dari spesimen induk baik kawin (sexual) maupun tidak kawin (asexual) di dalam lingkungan terkontrol. Lingkungan terkontrol merupakan lingkungan buatan di luar habitat alaminya, yang dikelola untuk tujuan memproduksi jenis-jenis satwa tertentu dengan membuat batas-batas yang jelas untuk mencegah keluar masuknya satwa, telur atau gamet, baik berupa kandang, kolam dan sangkar maupun lingkungan semi alam. Lingkungan terkontrol berupa kandang, kolam dan sangkar.
Syarat lingkungan terkontrol untuk pengembangbiakan satwa adalah:
1) Adanya fasilitas yang berbeda untuk penempatan induk dan keturunannya serta penempatan spesimen yang sakit.
CV. SA Citeureup BF memiliki 4 jenis kandang yaitu kandang inkubator, kandang pembesaran, kandang peraga dan kandang kawin. Namun untuk burung yang sakit belum disediakan kandang khusus. Perlakuan untuk burung yang sakit adalah dilakukan perawatan makan, minum, obat dan vitamin.
Empat jenis kandang yang dimiliki CV. SA Citeureup BF adalah:
a. Anak burung jalak Bali (piyik) yang berumur 7-30 hari ditempatkan di kandang inkubator yang berukuran panjang 50 cm, lebar 90 cm dan tinggi 67 cm (Gambar 1). Suhu pada inkubator berkisar antara 30–31oC. Tujuan penempatan piyik pada
kandang inkubator adalah membesarkan piyik agar bulu badannya tumbuh rapat sehingga mampu hidup di luar kandang inkubator.
Gambar 1. Kandang inkubator
b. Anak burung jalak Bali yang berumur 1-2 bulan ditempatkan di kandang pembesaran yang tidak permanen (Gambar 2). Fungsi kandang pembesaran adalah untuk melatih anak burung agar bisa makan sendiri dan badannya lebih kuat.
Gambar 2. Kandang pembesaran
c. Anak burung jalak Bali yang berumur lebih dari 2 bulan ditempatkan di kandang peraga (Gambar 3). Kandang ini berukuran panjang 2.5 m, lebar1,7 m dan tinggi 2.5 m. Kandang ini berfungsi untuk membesarkan burung agar siap dijual dan dijadikan induk.
Gambar 3. Kandang peraga
d. Induk burung jalak Bali yang berumur 2 tahun ditempatkan di kandang kawin yang dibangun permanen dengan ukuran panjang 3 m, lebar 1 meter dan tinggi 3 meter (Gambar 4). Fungsi kandang tersebut adalah tempat berkembang biak. Jumlah kandang yang tersedia sebanyak 28 unit yang diisi satu pasang burung jalak Bali per kandang.
Gambar 4. Kandang kawin
2) Adanya pembuangan limbah, fasilitas kesehatan, perlindungan dari predator dan penyediaan pakan.
Limbah yang dihasilkan dari kegiatan penangkaran jalak Bali di CV. SA Citeureup BF adalah kotoran burung dan sisa pakan. Limbah ini dikumpulkan dan dibuang ke dalam lubang untuk dijadikan pupuk. Fasilitas kesehatan yang disediakan adalah obat-obatan dan vitamin (Gambar 5).
Gambar 5. Obat-obatan dan vitamin untuk burung jalak Bali
Menurut Mas’ud (2010) bahwa, faktor penting lain yang harus diperhatikan adalah makanan, karena makanan merupakan unsur penting bahkan sebagai faktor pembatas bagi usaha penangkaran. Jenis-jenis makanan burung jalak Bali adalah pisang kepok, pepaya, pur, dan jangkrik (Gambar 6). Untuk induk burung jalak Bali di kandang kawin diberikan 1 buah pisang kepok dan 1 potong pepaya, serta 30-40 ekor jangkrik setiap hari. Sesuai dengan pernyataan Dimitra dkk (2013), Pakan nabati yang diberikan yaitu pisang atau pepaya diberikan setiap hari pada pagi hari setelah kandang dibersihkan.
Untuk piyik diberikan pur yang dicampur dengan air panas. Pemberian makanan kepada piyik dilakukan dengan menyedokkan makanan tersebut ke mulutnya.
Gambar 6. Pakan burung jalak Bali
3) Memberikan kenyamanan, keamanan dan kebersihan lingkungan sesuai dengan kebutuhan spesimen yang ditangkarkan.
Kegiatan membersihkan kandang di . SA Citeureup BF dilakukan setiap hari mulai jam 07.00-11.00 WIB. Kandang kawin disemprot 1 bulan 1 kali dengan obat agar kandang dalam kondisi steril. Tempat minum dan mandi burung jalak Bali yang terbuat dari keramik dilakukan pergantian air setiap pagi hari.
B. Pengadaan dan Legalitas Asal Induk
Asal usul induk burung Jalak Bali CV. SA Citeureup BF adalah pembelian sah dari hasil penangkaran jalak Bali. Jumlah induk awalnya adalah 19 pasang jalak Bali. Dengan demikian asal usul induk burung Jalak Bali CV. SA Citeureup BF sudah sesuai dengan pasal 6 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005. Bunyi peraturan tersebut yaitu “induk satwa untuk keperluan pengembangbiakan dapat diperoleh dari: penangkapan satwa
dari habitat alam; sumber-sumber lain yang sah seperti: hasil penangkaran, luar negeri, rampasan, penyerahan dari masyarakat, temuan, lembaga konservasi”.
C. Pelaksanaan Pengembangbiakan
Pasal 16 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar menyatakan “untuk menjaga kemurnian jenis satwa, pengembangbiakan satwa dilakukan dengan jumlah paling sedikit dua pasang atau bagi jenis-jenis satwa yang poligamus minimal dua ekor jantan”. Hal ini sudah dipenuhi oleh CV. SA Citeureup BF yaitu jumlah induk burung yang digunakan CV. SA Citeureup BF adalah 19 (Sembilan belas) pasang burung jalak Bali.
D. Penandaan dan Sertifikasi
Penandaan pada hasil penangkaran merupakan pemberian tanda bersifat permanen pada bagian tumbuhan dan satwa dengan menggunakan teknik tagging/banding, cap (marking), transponder, pemotongan bagian tubuh, tattoo dan label yang mempunyai kode berupa nomor, huruf atau gabungan nomor dan huruf. Tujuan penandaan adalah untuk membedakan antara induk dengan induk lainnya, antara induk dengan anakan dan antara anakan dengan anakan lainnya serta antara spesimen hasil penangkaran dengan spesimen dari alam.
Pasal 59 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar menyatakan “tanda untuk jenis-jenis burung hidup berbentuk cincin tertutup”. Penandaan dengan cincin ini telah dilakukan oleh CV. SA Citeureup BF. Pemberian tanda ini merupakan kartu identitas bagi status satwa yang dikoleksi. Mengingat pentingnya kepastian status hukum Tumbuhan Satwa Liar, maka kegiatan penandaan menjadi salah satu prioritas bagi Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang di wilayahnya terdapat individu, lembaga konservasi, penangkar, dan pusat penyelamatan satwa (PPS) yang mengoleksi satwa liar. CV. SA Citeureup BF melakukan pemasangan cincin pada piyik berumur 7 hari yang dipasang pada kaki kanannya.
Sertifikasi hasil penangkaran dilaksanakan oleh unit penangkaran dan disahkan oleh Kepala BKSDA. Kegiatan sertifikasi hasil penangkaran adalah: pemeriksaan asal usul, pemeriksaan identitas individu spesimen dan pendokumentasian dalam sertifikat. CV. SA Citeureup BF telah mendokumentasikan kegiatan tersebut dalam bentuk sertifikat (Gambar 7)
Gambar 7. Sertifikat burung jalak Bali
E. Standar Kualifikasi Penangkaran
Standar kualifikasi penangkaran merupakan standar bagi hasil penangkaran yang dinyatakan telah layak untuk dijual. Menurut pasal 64 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar, standar kualifikasi penangkaran ditetapkan berdasarkan pertimbangan:
a. Batas jumlah populasi jenis tumbuhan dan satwa liar hasil penangkaran
Jenis burung yang ditangkarkan CV. SA Citeureup BF adalah jalak Bali yang merupakan jenis satwa yang dilindungi. Berdasarkan data pada tahun 2015 bahwa CV. SA Citeureup BF telah memiliki induk jantan 25 ekor dan induk betina 26 ekor. Pada tahun 2016 produksi jalak Bali adalah F3 sebanyak 39 ekor, F4 sebanyak 50 ekor dan F5 sebanyak 66 ekor (CV. SA Citeureup BF, 2017). Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan reproduksi atau pembiakan jalak Bali di penangkaran terus terjadi setiap tahun.
b. Profesionalisme kegiatan penangkaran
Struktur organisasi CV. SA Citeureup BF yaitu tenaga ahli 1 orang, perawat satwa/keeper 2 orang dan tenaga administrasi 1 orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa CV. SA Citeureup BF telah mempunyai tenaga ahli yang berpengalaman.
Berdasarkan observasi di penangkaran, maka sarana prasarana yang tersedia kandang inkubator, kawin/perkembangbiakan, pembesaran dan pemeliharaan. Legalitas asal induk sudah terpenuhi yaitu berasal dari hasil penangkaran yang telah memiliki izin. Kegiatan penandaan dilakukan dengan pemasangan cincin dan pemberian sertifikat.
c. Tingkat kelangkaan jenis tumbuhan dan satwa yang ditangkarkan
Berdasarkan tingkat kelangkaan maka status perlindungan adalah burung dilindungi yang merupakan satwa endemik di Pulau Bali. Populasi di alam menunjukkan penurunan. Keadaan populasi di penangkaran pada bulan Desember tahun 2016 adalah F3 sebanyak 73 ekor, F4 sebanyak 107 ekor dan F5 sebanyak 130 ekor
F. Pengembalian ke Habitat Alam (Restocking) dan Status Purna Penangkaran
Pasal 71 Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar menyatakan “setiap penangkar yang melakukan penangkaran wajib melakukan pengembalian ke habitat alamnya spesimen tumbuhan dan satwa liar hasil penangkaran dari jenis yang dilindungi yang telah memenuhi standar kualifikasi penangkaran sedikitnya 10% dari hasil penangkaran. Pengembalian tumbuhan dan satwa liar hasil penangkaran dilakukan bila: nilai genetik tinggi, mendekati induk, bibit atau benihnya; populasi di alam rendah; bebas penyakit; tidak cacat fisik; mampu bertahan di alam; habitat pelepasan merupakan daerah penyebaran; habitat pelepasan secara teknis mampu mengakomodasi kehidupan satwa; memperhatikan perilaku satwa”. Saat ini hasil penangkaran Jalak Bali CV. SA Citeureup BF telah dimanfaatkan untuk restocking atau pengembalian ke habitat alaminya yaitu Taman Nasional Bali Barat.
IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa CV. SA Citeureup BF telah melaksanakan kegiatan penangkaran burung jalak Bali yang sesuai dengan peraturan perundangan yaitu P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Bentuk penangkaran yang dilakukan adalah pengembangbiakan satwa dalam lingkungan terkontrol (captive
breeding). Asal usul induk burung jalak Bali legal dari hasil penangkaran dengan jumlah
induk 19 pasang burung. Kegiatan penandaan melalui pemasangan cincin pada piyik telah dilakukan dan didokumentasikan melalui sertifikat. Jumlah populasi burung jalak Bali yang ditangkarkan mengalami peningkatan. Kegiatan penangkaran dilakukan oleh tenaga ahli yang profesional. Kegiatan pengembalian ke habitat alam (restocking) telah dilakukan ke Taman Nasional Bali Barat.
B. Rekomendasi
Rekomendasi dari hasil kajian ini adalah:
1. Perlu menyediakan kandang khusus untuk burung jalak Bali yang sakit.
2. Perlu upaya pendataan populasi burung jalak Bali yang lebih detil yaitu laju kematian, daya tetas telur dan perkembangbiakan induk sehingga bisa ditentukan tingkat keberhasilan penangkaran secara detil.
DAFTAR PUSTAKA
CV. SA Citeureup BF. 2017. Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2017 Penangkaran Burung Jalak Bali (Leucopsar Rothschildi) yang Dilindungi UU Generasi F2 dan Seterusnya Milik CV. SA Citeureup BF. CV. SA Citeureup BF. Bogor.
Dimitra A., Mustofa I., Kusnoto, Legowo,D., Kusumawati D., Setiawan B. 2013. Studi Perilaku Pasangan Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) pada Kandang Breeding di Kebun Binatang Surabaya. Veterinaria Medika. 6(1):61-67.
Kementerian Kehutanan 2005. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Kementerian Kehutanan. Jakarta. Kementerian Kehutanan. 2008. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.57/Menhut-II/2008
tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008 – 2018. Kementerian Kehutanan. Jakarta.
Kementerian Kehutanan. 2012. Rencana Induk (Grand Design) Pelestarian Curik Bali di Taman Nasional Bali Barat 2013 – 2017. Taman Nasional Bali Barat, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan. Jembrana.
Jadi PARALEGAL?
Penyuluh Kehutanan juga bisa....
Oleh : Yumi Angelia
Saat ini “paralegal” sedang menjadi “tren” pembicaraan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pembicaraan tentang paralegal seringkali dikaitkan dengan program Perhutanan Sosial. Apa sebenarnya palalegal dan peranannya dalam Perhutanan Sosial? Mengapa
akhir-akhir ini begitu sering dibicarakan? Siapa saja yang dapat menjadi paralegal?
Target program nasional Perhutanan Sosial 12,7 juta hektar yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi menjadi PR berat
bagi Kementerian Lingkunan Hidup dan Kehutanan. Sampai dengan tahun 2017, dalam kurun waktu dua tahun pencapaian target tersebut baru 4% (510.200 hektar – Kompas, Oktober 2017).
Sedangkan proses pemetaan batas kawasan secara partisipatif telah mencapai 68,20% menurut Koordinator Jaringan Pemetaan Partisipatif tetapi masih menyisakan konflik. Berbagai kendala dan permasalahan dikemukakan, di antaranya masih lemahnya pendampingan di tingkat tapak.
Untuk meningkatkan pendampingan masyarakat dalam Perhutanan Sosial termasuk di antaranya pencegahan dan pendampingan pasca konflik di masyarakat sangat diperlukan peran paralegal.
Paralegal adalah seorang yang bukan
advokat namun memiliki pengetahuan di bidang hukum, dengan pengawasan advokat atau organisasi bantuan hukum berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Paralegal dapat bekerja sendiri di dalam komunitasnya atau bekerja untuk organisasi bantuan hukum atau firma hukum.
Peran Paralegal
Fungsi dan peran paralegal antara lain: (a) memberikan bantuan hukum kepada masyarakat pencari keadilan, (b) melakukan penguatan organisasi masyarakat, (c) melakukan investigasi/ monitoring terhadap suatu kasus, (d) melakukan pendokumentasian hukum (kronologi suatu kasus), (e) pengumpulan bukti-bukti dan pencatatan sejarah kasus, dan (f) melakukan pelaporan-pelaporan.
Dikaitkan dengan konflik tenurial yang sering ditemui dalam program Perhutanan Sosial, peran paralegal antara lain: (a) mendidik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hak-haknya; (b) memberikan informasi hukum yang dapat melindungi mereka; (c) memberikan informasi mengenai skema Perhutanan Sosial yang dapat menjadi salah satu solusi untuk konflik tenurial; (d) memberikan penjelasan bagaimana masyarakat dapat berpartisipasi dalam program Perhutanan Sosial untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Siapa yang dapat menjadi paralegal dan apa syaratnya?
Untuk menjadi paralegal, syarat paling utama adalah mengikuti pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan keparalegalan. Setiap paralegal harus memegang kode etik, antara lain: (a) menjunjung tinggi nilai keadilan, kebenaran dan hak-hak asasi manusia; (b) memiliki rasa percaya diri dan keberanian
untuk menegakkan keadilan dengan berbagai resiko; dan (c) tidak menyalahgunakan peranannya untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
Siapa saja dapat menjadi paralegal, tidak harus seorang sarjana hukum atau mengenyam pendidikan hukum di perguruan tinggi. Misalnya pemimpin komunitas, ketua adat, pemuka agama, tokoh pemuda, mahasiswa, guru, penyuluh dan lainnya asalkan telah memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dasar keparalegalan.
Penyuluh sangat potensial menjadi paralegal
Program Perhutanan Sosial tidak pernah lepas dari permasalahan konflik tenurial. Menurut data dari Direktorat Penanganan Konflik dan Hutan Adat, Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan jumlah pengaduan konflik tenurial kawasan hutan dan hutan adat sampai dengan Mei 2017 sebanyak 220 kasus. Ini baru jumlah yang dilaporkan, masih banyak yang tidak dilaporkan.
Konflik tenurial hutan adalah berbagai bentuk perselisihan atau pertentangan klaim penguasaan pengelolaan, pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan. Dalam melaksanakan tugas pendampingan masyarakat di tingkat tapak, Penyuluh Kehutanan seringkali menemui permasalahan konflik tenurial di tengah-tengah masyarakat. Namun karena
ketidakpahamannya seringkali Penyuluh mengambil sikap menghindar dan bukan mencari solusi.
Penyuluh Kehutanan di seluruh Indonesia saat ini berjumah 3.202 orang yang tersebar ke 34 provinsi, UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta di Pusat Penyuluhan. Penyuluh Kehutanan selama ini hidup bersama dan mendampingi masyarakat sehingga tidak menemui kesulitan dalam berinteraksi dengan masyarakat.
Penyuluh Kehutanan Prov. Kalimantan Barat sedang melakukan peran paralegal: “berdialog dengan KTH
tentang permasalahan konflik tenurial”
Memperhatikan peran paralegal dalam masyarakat sebagaimana diuraikan di atas, beberapa peran paralegal sama dengan tugas pokok Penyuluh Kehutanan yang selama ini telah dilakukan. Penyuluh kehutanan memiliki tugas untuk membentuk dan membina organisasi Kelompok Tani Hutan (KTH) di tingkat tapak. Dengan demikian penyuluh kehutanan sudah memiliki modal untuk berperan sebagai paralegal yaitu mengorganisasikan masyarakat.
Bagaimana Penyuluh Kehutanan dapat menjadi paralegal?
Pertama-tama Penyuluh Kehutanan perlu memiliki sertifikat paralegal sebagai bukti penguasaan pengetahuan dan ketrampilan mengenai keparalegalan. Memang belum banyak pelatihan paralegal diadakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Saat ini Direktorat Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat (PKTHA), Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan yang memfasilitasi kegiatan pelatihan paralegal.
Kedua Penyuluh Kehutanan perlu meningkatkan pemahaman mengenai : (a) kasus hukum perdata/pidana, (b) alur dan proses pemeriksaan hukum, (c) kedudukan hak dan kewajiban terkait pemeriksaan hukum; dan (d) asas hukum yang berlaku baik proses hukum skema litigasi (melalui peradilan) maupun non litigasi.
Penyuluh Kehutanan harus memahami dan menguasai peraturan perundangan terkait permasalahan yang dihadapi masyarakat. Terkait program Perhutanan Sosial, khususnya penanganan konflik tenurial dan hutan adat, Penyuluh Kehutanan wajib memahami: (1) Undang-Undang No.7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, (2) Peraturan MenLHK No. P.32/Menhut-Setjen/2015 tentang Hutan Hak; (3) Peraturan MenLHK No. 84/Menlhk-Setjen/2015 tentang Penanganan Konflik Tenurial di Kawasan Hutan; (4) Peraturan MenLHK No. 83/Menlhk-Setjen/2016 tentang
Perhutanan Sosial; (5) Peraturan Dirjen PSKL Nomor : P.1/PSKL/Set/Kum.1/2/2016 tentang Tata Cara Verifikasi dan Validasi Hutan Hak; (6) Peraturan Dirjen PSKL Nomor : P.4/PSKL/SET/PSL.1/4/2016 tentang Mediasi Penanganan Konflik Tenurial Kawasan Hutan; dan (7) Peraturan Dirjen PSKL Nomor : P.6/PSKL/Set/Kum.1/5/2016 tentang Pedoman Asesmen Konflik Tenurial dan Hutan Adat.
Ketika akan memilih penyelesaian kasus dengan litigasi, perlu diketahui skema litigasi kasus perdata berbeda dengan pidana. Kasus perdata dimulai dengan pendaftaran, pengajuan gugatan, pemeriksaan dan tawaran perdamaian (mediasi), persidangan dan eksekusi. Sedangkan kasus pidana dimulai dengan pelaporan, penyidikan, penuntutan, persidangan, dan eksekusi putusan pengadilan. Penyuluh kehutanan seringkali
memilih skema non litigasi, yaitu
penyelesaian dengan cara kekeluargaan, negosiasi, mediasi dan arbitrasi.
Ketiga menjalin hubungan kerja dengan organisasi dan kelompok lain untuk mendapatkan dukungan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Penyuluh Kehutanan umumnya sudah memiliki jaringan kerja yang cukup luas di masyarakat. Jejaring kerja ini perlu terus dipelihara bahkan diperluas sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan konflik-konflik di masyarakat.
Penyuluh Kehutanan Prov. Sulawesi Utara bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mendampingi masyarakat pengurusan ijin HKm sebagai salah
satu solusi konflik tenurial.
Keempat Penyuluh kehutanan dapat mewakili, mendampingi dan atau memberikan bantuan hukum pada masyarakat dalam penyelesaian kasus di hadapan pemerintah, pengadilan atau forum pengadilan lainnya.
Penyuluh kehutanan dapat membantu masyarakat membuat surat laporan kasus/masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang didampinginya. Tidak ada format baku untuk surat laporan tersebut, tetapi minima harus memuat: (1) nama Pelapor; (2) Jabatan; (3) Waktu kejadian; (4) tempat kejadian; (5) akibat yang ditimbulkan; dan (6) langkah yang diambil.
Dengan kata lain, inti laporan
memuat 5W 1 H (Who, What, When,
Where, Why dan How). Who: siapa pelaku dan siapa yang mengalami kejadian. What : apa yang terjadi secara detail dalam kejadian tersebut. When : kapan waktu terjadinya kejadian. Where: dimana lokai terjadinya kejadian. Why:
kenapa kejadian tersebut terjadi. How: bagaimana kejadian tersebut bisa terjadi.
Kelima penyuluh kehutanan dapat membimbing, memberi nasehat hukum dan melakukan mediasi dalam perselisihan yang terjadi di antara anggota masyarakat. Permasalahan
Percepatan pencapaian target Perhutanan Sosial tidak dapat mengesampingkan dukungan Sumber Daya Manusia (SDM). Peningkatan jumah personil dan kompetensi pendamping di tingkat tapak perlu mendapat perhatian. Keragaman permasalahan di tingkat tapak membutuhkan tenaga pendamping yang handal. Penambahan tenaga pendamping dengan meningkatkan keterlibatan penyuluh kehutanan dan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) perlu mendapat prioritas.
Demikian juga pengadaan tenaga paralegal dari tokoh agama, tokoh masya-
masyarakat, generasi muda di masyarakat dapat menjadi solusi bagi pencegahan dan penanganan konflik dalam kegiatan Perhutanan Sosial.
Perekrutan tenaga pendamping dan tenaga paralegal serta penyelenggaraan pelatihan untuk peningkatan kompetensi SDM dimaksud perlu mendapat alokasi anggaran yang cukup. Hal ini menjadi salah satu titik lemah dalam kegiatan Perhutanan Sosial. Menitikberatkan LSM sebagai pendamping dan paralegal semata akan sulit mengejar ketinggalan pencapaian target untuk 2 tahun ke depan.
Sudah saatnya semua unit kerja di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersatu saling bahu membahu mendukung pencapaian target program nasional. Slogan Forum Perhutanan Sosial Nusantara “Sudah saatnya untuk Rakyat” membutuhkan kepedulian dan komitmen bersama seluruh unsur Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mewujudkannya.
Pelatihan paralegal tanggal 11-13 September 2017 bagi 40 orang Penyuluh Kehutanan di Pusat dan Provinsi difasilitasi Direktorat Penangan Konflik Tenurial dan Hutan Adat, Ditjen PSKL bekerja sama dengan Conflict
1
Penerapan Payment for Environmental
Service (PES) di Indonesia
Oleh
Anna Indria Witasari
Widyaiswara Pusat Diklat SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Abstract
Payment for environment services (PES) is a scheme to provide incentive to manage and to protect environment in order to maintain environmental function, to sell carbon credit, to maintain biodiversity and water service at a national as well as at an international level, and other functions. PES is market-based. Despite the positive outcomes of the implementation of PES scheme in several countries including in Indonesia such as increased forest cover recovery and water conservation, there are also several things need to be taken into account during the implementation. They include: inconsistent and overlapped policies, insecure property rights, non voluntary participation, and issue of sustainability.
Key words: PES, environmental service, incentive, voluntary participation.
Pendahuluan
Ekosistem adalah kombinasi interaksi antara: komponen biologi seperti hewan, tanaman, mikroorganisme, dan sebagainya dengan komponen fisik seperti air, udara, tanah dan sebagainya (Herbert, Vonada, Jenkins, & Bayon, 2010).
Ekosistem menyediakan berbagai manfaat yang meliputi: keaneka ragaman hayati, sumber daya air, mengatur iklim mikro, mengendalikan penyakit, dan lain sebagainya. Karena perannya yang sangat penting untuk mendukung seluruh kehidupan, maka ekosistem harus tetap dipertahankan kualitasnya. Ke semua manfaat tersebut disebut: jasa lingkungan. Herbert, Vonada, Jenkins, & Bayon, (2010) mendefinisikan jasa lingkungan sebagai berbagai kondisi dan proses dimana ekosistem alam dan spesies yang merupakan bagian dari ekosistem mempertahankan dan memenuhi kehidupan manusia. Atau dengan kata lain, manfaat yang diperoleh manusia dari ekosistem.
Manfaat lingkungan yang merupakan manfaat tidak langsung dari hutan antara lain: jasa karbon, transportasi air, konservasi air, perlindungan tanah bagian atas (topsoil), dan perlindungan terhadap banjir. Manfaat tidak langsung tersebut lebih tinggi nilainya daripada
2
nilai ekonomi hutan seperti: hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu (Prasetyo, Soewarno, Purwanto, & Hakim, 2009). Terkait manfaat lingkungan dari keberadaan hutan di Indonesia, manfaat lingkungan tersebut tidak terbatas pada tingkat nasional saja, namun juga pada tingkat internasional. Terutama fungsi hutan sebagai penyedia karbon.
Namun, sejalan dengan perkembangan waktu, hutan alam di Indonesia semakin mengalami kerusakan. Kebakaran hutan yang terjadi beberapa tahun belakangan juga semakin memperburuk kondisi hutan di Indonesia. Pada tahun 2015, hutan yang terbakar adalah seluas 261.060,44 hektar (Anonim, 2016) Demikian pula, kerusakan hutan akibat pembalakan liar. Dengan rusaknya hutan maka manfaat yang dapat diperoleh akan semakin berkurang, baik manfaat langsung seperti hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu.
Upaya yang dilakukan guna merehabilitasi hutan dan mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan antara lain dengan menerapkan skema pembayaran untuk jasa lingkungan (Payment for Environmental Services). Payment for environment services (PES) adalah suatu skema untuk menyediakan insentif baik dalam bentuk uang atau bukan uang bagi pengelola lahan untuk mengelola dan melindungi lingkungan guna mempertahankan fungsi ekosistem yaitu berupa supply karbon, keaneka ragaman hayati dan jasa air di tingkat nasional dan internasional, keindahan alam, perlindungan daerah aliran sungai, dan sebagainya. Skema PES berbasis mekanisme pasar dan bersifat sukarela dalam pengelolaan dan perlindungan lingkungan (Herbert, Vonada, Jenkins, & Bayon, 2010; Montagnini & Finney, 2011).
Seperti halnya di negara-negara lain, skema PES juga semakin populer di Indonesia guna mengatasi masalah lingkungan. Dengan kata lain skema PES digunakan untuk melindungi lingkungan. Pemerintah setempat dan masyarakat tertarik dengan skema PES karena: kegagalan penerapan kebijakan yang sifatnya perintah dan mengendalikan dari Pemerintah Pusat. Dengan desentralisasi yang membuat pemerintah setempat memiliki wewenang mengatur daerahnya sendiri, maka skema PES dianggap suatu alternatif untuk mengelola sumber daya alam. Selain itu, pada skema PES masyarakat diikutsertakan dalam pelaksanaannya (Fauzi & Anna, 2013).
Walau konsep PES semakin populer diterapkan di banyak negara termasuk Indonesia guna melindungi lingkungan, perlu diidentifikasi isu yang ada di tingkat lapangan berdasarkan penerapan PES yang telah dilakukan di beberapa lokasi di Indonesia. Hal ini bertujuan agar penerapan PES dapat mencapai sasaran sesuai yang diharapkan.
3
Lokasi Penerapan PES di Indonesia
Konsep PES pertama kali diperkenalkan pada tahun 2002 di Indonesia dengan beberapa lokasi proyek percontohan seperti di Cidanau (propinsi Banten), Brantas (propinsi Jawa Timur), dan Lombok Barat (propinsi Nusa Tenggara Barat). Selanjutnya, proyek-proyek percontohan juga dilaksanakan di Sumber Jaya (propinsi Lampung), Kuningan-Cirebon (propinsi Jawa Barat), Sungai Wain (propinsi Kalimantan Timur) , dan sebagainya (Fauzi and Anna, 2013).
Beberapa lokasi diinisiasi oleh The World Agroforestry Centre (ICRAF) melalui program Rewarding Upland Poor for Environmental Services (RUPES) (Amalia & Syahril, 2016). Sebagian besar skema PES dilaksanakan di areal pengelolaan hutan dan daerah aliran sungai yang melibatkan berbagai sektor dan berbagai tingkat pengelolaan (Fauzi & Anna, 2013).
Dalam pelaksanaan skema PES di Indonesia, dapat terjadi beberapa instansi terlibat ataupun hanya antara penyedia (seller) dan pengguna (buyer). Pada lokasi PES di Cidanau Banten sebagai contoh, ada beberapa instansi yang berkerjasama (Amalia & Syahril, 2016) yang disebut Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC). Instansi-instansi tersebut adalah: Krakatau Tirta Industri (KTI), Kementerian Pekerjaan Umum, Kelompok Tani Hutan (KTH), LSM Rekonvasi Bhumi, PDAM, dan PLN (Amalia and Syahril, 2016). Selain itu Skema PES di Gunung Rinjani Lombok yang melibatkan: LP3ES yang dilanjutkan WWF dan KONSEPSI (LSM), masyarakat di hulu sungai, masyarakat kota Mataram, PDAM, dan Dinas Kehutanan (Amalia & Syahril, 2016; Fauzi & Anna, 2013; Prasetyo, Soewarno, Purwanto, & Hakim, 2009). Sementara itu, yang langsung antara penyedia dan pengguna PES antara lain: skema PES di Sumber Jaya Lampung antara Pembangkit Listrik Tenaga Air Way Besai dan masyarakat yang tinggal di hulu sungai (Fauzi & Anna, 2013).
Isu-isu Pelaksanaan PES di Tingkat Tapak
Sejak PES diinisiasi di Indonesia tahun 2002 antara lain oleh the World Agroforestry
Centre (ICRAF) melalui program Rewarding Upland Poor for Environmental Services
(RUPES) hingga 2016, beberapa hal yang ditemukan di tingkat tapak adalah: 1. Peraturan dan Fiskal
Menurut Fauzi & Anna (2013), berdasarkan riset yang dilakukan di dua lokasi pelaksanaan PES yaitu: di Sumber Jaya – Lampung dan Gunung Rinjani – Lombok, masalah yang dominan adalah: peraturan dan fiskal selain hak kepemilikan (property right). Skema PES pada umumnya dilaksanakan di areal hutan negara. Terutama di hutan lindung dan
4
konservasi, masalah klasik yang dihadapi adalah adanya peraturan yang tumpang tindih dan kadang bertentangan satu sama lain. Peraturan-peraturan tersebut dikeluarkan oleh berbagai instansi. Peraturan-peraturan tersebut adalah: undang No. 5/1960 tentang Undang-undang Pokok Agraria, Undang-Undang-undang No.41/1999 tentang Kehutanan, Undang-Undang-undang No. 26/2007 tentang Tata Ruang, Undang-undang No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan, undang No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air, Undang-undang No. 32/2004 tentang Otonomi Wilayah., Undang-Undang-undang No. 4/2009 tentang Batubara dan Tambang, Undang-undang No. 17/2003 tentang Pengelolaan Keuangan Negara, Undang-undang No. 28/2009 tentang Pajak Daerah, Undang-undang No. 20/1997 tentang Penghasilan Bukan Pajak, Undang-undang No. 33/2004 tentang Keseimbangan Fiskal antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Undang-undang No. 9/1985 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Peraturan Pemerintah No. 34/2002 tentang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan, Peraturan Pemerintah No. 3/2008 tentang Pemerintahan Kehutanan, Peraturan Pemerintah No. 10/2010 tentang Perubahan Penggunaan Lahan di Areal Hutan, Peraturan Pemerintah No. 42/2009 tentang Pembiayaan Hutan, Peraturan Pemerintah No. 22/1997 tentang Penghasilan Bukan Pajak (Fauzi & Anna, 2013).
Beberapa peraturan tersebut dalam pelaksanaannya kadang kala saling bertentangan. Sebagai contoh: untuk pelaksanaan skema PES yang tidak melibatkan pemerintah, pembayaran antara penjual dan pembeli dapat dilakukan langsung tanpa perlunya dasar aturan. Namun, bila skema PES tersebut semi publik (melibatkan pemerintah) maka akan ada masalah fiskal. Peraturan No. 28/2009, No. 17/2003, dan No. 20/1997 tidak mengakui adanya pendapatan dari jasa lingkungan. Dengan demikian pendapatan dari PES dianggap pendapatan lain. Akibatnya, pendapatan yang diperoleh dari PES disimpan pada Dinas Kehutanan dan dapat digunakan untuk kepentingan lain selain jasa lingkungan (Fauzi & Anna, 2013). Maka, dana tersebut dapat tidak mencapai sasarannya yaitu untuk keperluan jasa lingkungan.
Peraturan lainnya terkait dengan biaya penggunaan air. Undang-undang No. 28/2009 mengijinkan pengenaan biaya air baik di permukaan atau di dalam tanah. Namun, Peraturan Pemerintah No. 34/2002 menyatakan bahwa pemanfaatan air merupakan bentuk jasa lingkungan. Sehingga air yang berada di areal hutan merupakan pendapatan kehutanan. Undang-undang No. 7 tahun 2004 yang menyatakan bahwa air untuk kebutuhan dasar dan pertanian tidak dikenakan biaya. Akibatnya, sangat sulit untuk menetapkan pembayaran untuk penggunaaan air (Fauzi & Anna, 2013). Demikian juga peraturan-peratuan lain yang saling
5
tumpang tindih dan bertentangan. Karenanya, hal ini menyulitkan pelaksanaan PES dan pelaksanaan PES tidak mecapai tujuannya secara optimal.
Terkait peraturan yang saling bertentangan atau tumpang tindih seperti yang dikemukan oleh Fauzi & Anna (2013), pada kenyataannya hal tersebut tidak hanya terjadi pada pelaksanaan program PES saja. Namun juga program-program lainnya. Sebagai contoh: pada program Rehabilitasi Lahan yang dilaksanakan pada tahun 2000 awal (Witasari, 2010) dimana baik Pemerintah Pusat dan Daerah memiliki kebijakan yang berbeda-beda mengenai rehabilitasi hutan Negara. Sehingga petani yang berpartisipasi dalam program Rehabilitasi Lahan tidak mendapatkan kepastian hukum.
Masalah ketidak konsistenan peraturan serta tumpang tindihnya peraturan merupakan masalah klasik yang selalu muncul dalam pelaksanaan suatu program. Hal ini mengakibatkan program-program pemerintah tidak dapat mencapai tujuan secara optimal. Terutama terkait dengan masyarakat karena kebijakan yang tidak konsisten dan tumpang tindah mengurangi kepercayaan masyarakat (Witasari, 2010).
2. Status Kepemilikan Lahan
Lahan hutan di Indonesia sebagian besar berada dalam otoritas negara. Luas hutan negara adalah sebagai berikut: luas daratan hutan: 120.773.441, 71 hektar. Daerah Aliran Sungai dari hulu ke hilir dalam pelaksanaan program PES sebagian besar adalah areal hutan negara. Konsekuensi dari status kepemilikan yang merupakan hutan negara adalah dapat berakibat pada ketidakpastian yang dirasakan oleh masyarakat yang berpartisipasi dalam program tersebut. Hal ini terjadi juga pada program-program lainnya, walaupun program tersebut tidak selalu bermitra dengan negara (Witasari, 2010). Kepemilikan dan pengelolaan sumber daya hutan oleh masyarakat akan meningkatkan jaminan pengelolaan hutan jangka panjang yang berkesinambungan karena masyarakat mendapatkan jaminan akses terhadap sumber daya hutan (Patunru & Haryoko, 2015). Hal ini dikarenakan adanya keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara penjaminan hak kepemilikan, pertumbuhan ekonomi lokal dan perlindungan lingkungan dengan asumsi: pelaku ekonomi mencari keuntungan dan kesejahteraan pribadi serta jaminan hak kepemilikan membuat masyarakat berorientasi pada keuntungan jangka panjang yang berasal dari sumber daya alam. Hal serupa dikemukakan oleh Fauzi & Anna (2013) berdasarkan studi yang dilakukan di Sumberjaya – Lampung bahwa pola kepemilikan menentukan perilaku. Karena kerumitan kepemilikan lahan dan sistim pengelolaan lahan, terjadi ketidakpastian dalam skema PES. Pada kasus di Sumberjaya – Lampung, program Hutan Kemasyarakatan dalam pelaksanaan PES dilaksanakan sebagai