Heritabilitas dapat diduga dengan menggunakan cara perhitungan, antara lain dengan perhitungan varian keturunan, dan dengan perhitungan komponen varian dari analisis varian (Mangundidjojo,2007). Pengertian heritabilitas sangat penting dalam pemuliaan dan seleksi karakter kuantitatif. Efektif atau tidaknya seleksi tanaman yang berdaya hasil tinggi dari sekelompok populasi, tergantung dari:
1. Seberapa jauh keragaman hasil yang disebabkan oleh faktor genetik yang nantinya diwariskan kepada turunannya.
2. Seberapa jauh pula keragaman hasil yang disebabkan oleh lingkungan tumbuh tanaman.
Heritabilitas dapat didefenisikan sebagai bagian keragaman genetik dan karagaman total (keragaman fenotipe). Besarnya heritabilitas suatu karakter kuantitatif dapat diduga melalui suatu desain persilangan dua galur murni.
( 2p) = ( 2g) + ( 2e) ( 2p) = ragam fenotipe ( 2g) = ragam genetik ( 2e) = ragam lingkungan
Besarnya heritabilitas dapat digunakan untuk menduga kemajuan seleksi dalam suatu program pemuliaan
2 2 2 2 1 2 p p e atau 3 2 1 2 2 2 1 2 P P F e e g g p g h 2 2 2 2 2 2
Besarnya heritabilitas dapat digunakan untuk menduga kemajuan seleksi dalam suatu program pemuliaan.
P
G Kh
2
∆G : kemajuan seleksi yang diharapkan
K : suatu konstanta yang ditentukan oleh proporsi (%) h2 : konstanta
p : simpangan baku fenotipe (Makmur, 1988).
Kebanyakan karakter yang telah diwariskan berbeda dalam hal heritabilitas. Sebuah karakter seperti hasil, sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan dan akan memiliki heritabilitas yang rendah. Karakter yang tidak besar dipengaruhi oleh lingkungan biasanya memiliki heritabilitas yang tinggi. Pengaruh ini yang mungkin dipilih sebagai prosedur dalam seleksi yang digunakan oleh pemulia tanaman. Seleksi pada F2 pada persilangan antara tetua homozigot akan sangat tidak efektif untuk karakter yang heritabilitasnya rendah. Seleksi pada F2 akan lebih efektif apabila dibatasi oleh karakter yang memiliki heritabilitas tinggi. Seleksi untuk karakter yang heritabilitasnya rendah bisa dibuat lebih efektif apabila didasari penampilan keturunan F2. Peningkatan hasil dari seleksi bergantung pada efek kombinasi pada heritabilitas, jumlah dan variasi genetik yang diberikan serta intensitas seleksi. Pemakaian estimasi heritabilitas hanya untuk keterangan sampel populasi dan lingkungan di mana populasi telah tumbuh. Estimasi heritabilitas akan tetap tinggi atau tetap rendah ketika estimasi melewati suatu rangkaian populasi, lingkungan dan mungkin juga percobaan dapat dipertimbangkan untuk keseimbangan yang dapat diandalkan. Contoh pada karakter yang heritabilitasnya tinggi melewati interval pada lingkungan adalah ukuran biji pada gandum, data pembungaan, dan data masak biji pada kedelai. Hasil, ketahanan lingkungan, ketahanan suhu dingin dan kandungan secara umum protein memilki estimasi heritabilitas yang rendah. Prinsip yang digunakan untuk estimasi heritabilitas adalah:
Menentukan kepentingan relatif dari efek genetik yang dapat ditrasfer dari tetua ke turunannya,
Menentukan metode seleksi mana yang akan menjadi paling berguna untuk memperbaiki karakter
Memprediksikan peningkatan dari proses seleksi (Polhman and Sleper, 1995).
Persilangan
Secara genetik persilangan yang bukan inbreeding akan meningkatkan heterozigositas sehingga dengan demikian menaikkan keragaman genetik sedangkan inbreding akan meningkatkan homozigositas. Oleh karena itu tujuan utama dari persilangan adalah menggabungkan dua atau lebih sifat yang berbeda kedalam suatu hasil silangan. Selain itu, dapat pula dipakai sebagai alat untuk menghasikan galur baru, atau memanfaatkan heterosis. Beberapa hal yang perlu dipahami adalah daya gabung gen, daya gabung secara sfesifik, resiprok dan heterosis (Hadie dkk, 2008).
Istilah heterosis mula-mula dilontarkan oleh Shull (1914). Shull menyatakan bahwa persilangan antara dua galur inbreed pada F1 yang dihasilkan menunjukkan peningkatan pertumbuhan dan kemampuan berproduksi yang lebih baik. Adanya sifat heterosis menunjukkan bahwa penampilan akan berbeda antara persilangan yang satu dengan yang lainnya. Hal ini tergantung pada sifat masing-masing tetua. Keadaan tersebut dikatakan sebagai kemampuan berkombinasi atau daya gabung. Daya gabung ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Daya gabung umum adalah penampilan rata-rata dari suatu 13
galur inbred yang disilangkan dengan beberapa galur inbred yang lain. Daya gabung khusus adalah penyimpangan penampilan persilangan suatu galur inbred
dengan inbred yang lain terhadap daya gabung umum (Mangoendidjojo, 2007). Persilangan resiprokal (persilangan kebalikan) ialah perkawinan yang merupakan kebalikan dari perkawinan yang semula dilakukan misalnya persilangan antara A sebagai tetua betina disilangkan dengan B sebagai tetua jantan dan sebaliknya B sebagai tetua betina disilangkan dengan A sebagai tetua jantan (Suryo, 2005).
Pada program persilangan, agar didapatkan variabilitas genetik yang tinggi maka bahan-bahan induk yang digunakan dalam program persilangan sedapat mungkin mempunyai sifat-sifat genetik yang jauh berbeda (divergen), tetapi dapat mengadakan kombinasi secara baik, karena hibrida yang akan dibuat persilangan antar galur-galur adalah dari kedua bahan tersebut (Moentono, 1988).
Pada proses silang dalam (selfing) yang dilakukan, keturunannya akan mengalami kemunduran dalam hal ketegaran, berkurangnya ukuran dari standar normal dan berkurangnya tingkat kesuburan reproduksi dibandingkan dengan tanaman tetuanya. Kemunduran sifat-sifat ini sering disebut adanya tekanan silang dalam. Dalam selfing yang apabila berlanjut sampai beberapa generasi akan terjadi fiksasi dalam pengelompokan sifat-sifat yang sesuai dengan komposisi genetiknya dalam kondisi yang homozigot. Kemunduran yang terjadi pada suatu galur inbred sebagai akibat proses selfing dari generasi ke generasi akan mengalami kemajuan genetik pada F1 bila dua galur inbred yang tidak berkerabat disilangkan sesuai dengan teori munculnya heterosis (Mangundidjojo, 2007).
Seleksi berulang timbal balik melibatkan dua populasi yang diperbaiki bersama-sama. Prosedur ini dianjurkan oleh Comstock, Robinson dan Harvey yang berpendapat bahwa efek heterosis ini mungkin disebabkan adanya gen-gen dominan dan sebagian lagi oleh adanya gen over dominan. Populasi yang satu digunakan sebagai tetua penguji untuk yang lain. Jadi apabila ada populasi A dan B, maka populasi A disilang dengan populasi B dan sebaliknya. Seleksi ini diharapkan dapat meningkatkan heterosis antara kedua populasi sehingga hibrida dapat memberikan hasil yang lebih tinggi (Dahlan, 1988).
Dalam proses pewarisan sifat, tidak semua sifat disebabkan oleh gen-gen pada kromosom dalam inti. Beberapa percobaan pewarisan menunjukkan bahwa bahan di luar inti atau organel-organel sitoplasmik juga merupakan pembawa sifat keturunan. Benda-benda di luar inti mungkin merupakan bagian ADN yang terletak dalam mitokondria dari sel-sel tanaman (Crowder, 1997).
Setelah dilakuakan persilangan maka selanjutnya dilakukan pengujian keturunan yang didalamnya dilakukan seleksi, karena suatu sifat tidak murni dipengaruhi oleh genetik tetapi dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. Mangundidjojo (2007) menyatakan dapat diketahui atau dibedakan individu- individu tanaman yang baik secara genetik atau tanaman yang baik karena pengaruh lingkungan yang mendukung. Dari variasi genetik yang muncul dapat diperoleh individu-individu tanaman yang sesuai dengan tujuan seleksi.
Uji Progenitas
Uji progenitas digunakan sebagai suatu sistem evaluasi mengukur karakter terbaik setiap induk yang dapat digunakan pada persilangan selanjutnya
dalam seleksi berulang. Uji keturunan tersebut dengan demikian tidak mempersoalkan asal dari keturunan. Setiap produksi sistem keturunan berguna dalam mengidentifikasi karakter induk yang dapat dipergunakan dalam program pemulian sfesifik (Welsh, 1991).
Galur inbreed disilangkan satu sama lain kemudian dilihat penampilan F1nya. Apabila galur inbreed yang disilangkan dengan berbagai galur inbreed menghasilkan F1 dengan penampilan rata-ratanya baik, maka galur inbreed tersebut dikatakan mempunyai daya gabung umum yang baik. Apabia suatu galur inbreed hanya menampilkan F1 yang baik bila disilanglakan dengan galur inbreed tertentu, maka galur inbreed tersebut mempunyai daya gabung khusus (SpesificCombiningAbility) yang baik (Sunarto, 1997).
Untuk membedakan atau membandingkan dua macam perlakuan (uji beda rata-rata) umumnya dilakukan dengan uji t (t test/ uji progenitas). Pada prinsipnya berbeda nyata atau tidaknya dua macam perlakuan tersebut dapat diketahui dari perbandingan t hitung dan t tabel (daftar) (Sastrosupardi, 2004).
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember 2008 sampai dengan bulan Maret 2009.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah benih hasil persilangan resiprokal jagung yang terdiri dari 6 genotipe yaitu:VA (Arjuna) X VB (Sukmaraga), VC (Harapan) X
VD (Kalingga), VE (Srikandi Kuning) X VF (Bayu), VB (Sukmaraga) X VA
(Arjuna), VD (Kalingga) X VC (Harapan), VF (Bayu) X VE (Srikandi Kuning),
pupuk urea, SP-36, KCl, Dithane M-45, decis 2,5 EC, amplop ukuran besar yang berguna untuk menampung serbuk sari pada saat persilangan dan plastik ukuran ½ kg untuk menutup bunga betina agar tidak diserbuki bunga yang lain dan bahan- bahan lain yang mendukung penelitian ini.
Adapun alat-alat yang digunakan adalah cangkul untuk mengolah lahan, gembor untuk menyiram tanaman, meteran untuk mengukur lahan dan tinggi tanaman, timbangan analitik untuk menimbang bobot biji, kalkulator untuk menghitung data, kuas untuk mengoleskan serbuk sari dan alat tulis untuk mencatat data serta alat-alat lain yang mendukung penelitian ini.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan satu faktor yang terdiri dari 6 jenis hasil persilangan resiprok (genotipe) yaitu:
VA (Arjuna) X VB (Sukmaraga) : VAB
VC (Harapan) X VD (Kalingga) : VCD
VE (Srikandi Kuning) X VF (Bayu) : VEF
VB (Sukmaraga) X VA (Arjuna) : VBA
VD (Kalingga) X VC (Harapan) : VDC
VF (Bayu) X VE (Srikandi Kuning) : VFE
Jumlah ulangan : 4 ulangan
Jumlas plot : 24 plot
Jumlah tanaman perplot : 10 tanaman Jarak tanaman : 25 X 75 cm Jumlah tanaman sampel/plot : 4 tanaman Jumlah tanaman seluruhnya : 240 tanaman
Luas plot : 100 X 150 cm
Model linier yang digunakan untuk rancangan acak kelompok satu faktor adalah :
Y
ij =µ
+ρ
i + ij +ε
ij i = 1,2,3,4 j = 1,2,3,4,5,6Y
ij = adalah nilai pengamatan pada blok ke-i dan perlakuan ke-jµ
= rataan umum
ρ
i = adalah pengaruh pada blok ke-iij = adalah pangaruh perlakuan pada blok ke-i dan perlakuan ke-j
ε
ij = adalah pangaruh error pada blok ke-i dan perlakuan ke-j.Apabila efek perlakuan berbeda nyata pada analisis sidik ragam maka dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) (Steal dan Torrie, 1993).
Dari hasil analisis sidik ragam digunakan untuk mendapatkan nilai kuadrat tengah persilangan (KTp) dan kuadrat tengah error (KTe) yang selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai varian genotipe ( 2g) dan varian fenotipe ( 2p).
Nilai varian genotipe dan fenotipe untuk setiap karakter diduga melalui analisis dari nilai harapan variannya yaitu:
KTp - ( 2e) Varian genetik ( 2g) =
r Varian fenotipe ( 2p) = ( 2g) + ( 2e)
Luas sempitnya variabilitas genetik dan fenotipe suatu karakter ditentukan berdasarkan varian genetik ( 2g), varian fenotipe ( 2p) serta standar deviasi genetik ( 2g) dan standar deviasi fenotipe ( 2p) yang ditentukan dari:
( 2g) = 2 2 2 2 2 2 dbgalat KTe dbgenotif KTp r ( 2p) = 2 2 2 2 dbgenotif KTp r
Dengan kriteria sebagai berikut:
( 2g) > 2( 2g) : variabilitas genetik luas ( 2g) ≤ 2( 2g) : variabilitas genetik sempit
( 2p) > 2( 2p) : variabilitas fenotipeik luas ( 2p) ≤ 2( 2p) : variabilitas fenotipeik sempit.
Nilai heritabilitas dalam arti luas dihitung berdasaskan rumus:
e g g p g h 2 2 2 2 2 2 Dengan kriteria heritabilitas: h2 > 0,5 : tinggi h2 0,2- 0,5 : sedang h2 < 0,2 : rendah. (Stansfield, 1991).
Untuk melihat perbedaan secara statistik dari berbagai karakter tanaman hasil persilangan resiprokal (F1) apakah berbeda dengan tetuanya dan untuk melihat pengaruh maternal maka digunakan uji progenitas pada taraf kepercayaan 5% yang dinyatakan sebagai berikut:
2 1 2 1 Y Y S Y Y t ) 1 ( 2 / ) ( / ) ( 1 2 22 2 2 2 1 2 n n Y Y n Y Y S n S S Y Y 2 2 2 1
(Steel dan Torrie, 1993).
PELAKSANAAN PENELITIAN
Persiapan Lahan
Lahan yang akan digunakan untuk penelitian terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sampah, lalu dilakukan pembuatan plot percobaan berukuran 100cm X 150cm, jarak antar plot 50 cm dan jarak antar blok 75 cm yang berfungsi sebagai drainase. Tanah diolah dengan kedalaman olah ± 20 cm.
Penanaman
Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang tanam pada lahan penelitian. Setiap plot dibuat lubang tanam sebanyak 10 lubang tanam. Setiap lubang tanam ditanami 2 benih perlubang tanam. Kemudian lubang tanam ditutup dengah tanah top soil.
Pemupukan
Pupuk urea diberikan dua kali yaitu pada saat tanam dan pada saat tanaman berumur 3 minggu setelah tanaman (MST) dengan dosis pupuk urea 3,75g/tanaman, pupuk KCl dan TSP diberikan pada saat tanaman 3 MST dengan dosis pupuk KCl 1,87g/tanaman dan TSP1,87 g/tanaman.
Penjarangan
Penjarangan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 MST. Penjarangan dilakukan dengan cara memotong salah satu tanaman sehingga pada setiap lubang tanam hanya terdapat satu tanaman.
Penyungkupan
Penyungkupan dilakukan pada saat alat kelamin jantan (serbuk sari)/ malai dan alat kelamin betina (putik)/tongkol muncul. Penyungkupan dilakukan dengan cara menyungkup alat kelamin jantan dengan amplop yang dapat menampung serbuk sari, dan alat kelamin betina dengan menggunakan plastik transparan dan setelah selesai persilangan dan masa reseptik bunga telah selesai maka sungkup dibuka kembali.
Penyerbukan
Penyerbukan dilakukan dengan cara selfing yaitu bunga jantan menyerbuki bunga betina pada tanaman yang sama, dan persilangan dilakukan setelah bunga jantan dan betina sudah memasuki masa reseptik. Tanaman jagung menyerbuk silang sekitar 95% dan menyerbuk sendiri sekitar 5%, dan nilai inilah yang dimanfaatkan dalam persilangan selfing yang dilakukan. Penyerbukan dilakukan dengan mengumpulkan serbuk sari pada amplop coklat yang telah disediakan dan kemudian serbuk sari tersebut diletakkan pada bunga betina (silk) dan setelah itu silk ditutup kembali dengan plastik transparan dan setelah masa reseptik bunga betina berakhir maka plastik pembungkus dibuka.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari, atau sesuai dengan kondisi lingkungan. Penyiraman dilakukan agar kondisi air pada lahan penelitian tetap berada pada kondisi yang cukup untuk tanaman.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk menghindari persaingan antara gulma dan tanaman. Penyiangan gulma dilakukan secara manual atau menggunakan cangkul.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan insektisida Decis 2,5 EC dengan dosis 0,5 cc/liter air, sedangkan pengendalian penyakit dilakukan dengan penyemprotan fungisida Dithane M-45 dengan dosis 1 cc/liter air.
Panen
Panen dilakukan dengan mengambil tongkol jagung dengan menggunakan tangan. Adapun kriteria panennya adalah rambut tongkol telah berwarna hitam dan bila biji ditekan dengan kuku tidak meninggalkan bekas.
Peubah Amatan
Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi tanaman diukur mulai dari leher akar sampai dengan pucuk daun tertinggi tanaman dengan menggunakan meteran. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 2 MST.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun dihitung dengan menghitung seluruh daun yang telah membuka sempurna. Pengukuran jumlah daun dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 2 MST hingga muncul bunga jantan.
Umur Berbunga Jantan (hari)
Umur berbunga jantan diamati pada saat keluar bunga jantan pada tanaman sampel. Kriteria yang digunakan adalah munculnya daun bendera pembungkus malai.
Umur Berbunga Betina (hari)
Umur berbunga betina diamati pada saat keluar bunga betina pada tanaman sampel yaitu keluarnya silk dari tongkol.
Kelengkungan Daun
Kelengkungan daun merupakan nisbah antara panjang daun dengan jarak antara ujung daun hingga pangkal daun dalam keadaan melengkung yang dinyatakan dengan : a/b
Dimana: a = panjang daun
b= jarak antara ujung daun hingga pangkal daun dalam posisi melengkung
Jumlah Daun di Atas Tongkol
Jumlah daun di atas tongkol dihitung dengan menghitung jumlah daun yang berada diatas tongkol utama.
Umur Panen (hari)
Umur panen dihitung pada saat dilakukannya pemanenan pada setiap tanaman sampel
Jumlah baris per Tongkol (g)
Jumlah baris per tongkol dihitung dari setiap tanaman sampel.
Jumlah Biji per Tongkol (biji)
Jumlah biji pertongkol dihitung pada setiap tanaman sampel.
Berat Biji per Tongkol (g)
Berat biji pertongkol ditimbang setelah biji dipipil dan dikeringkan pada setiap tanaman sampel.
Berat 100 biji (g)
Berat 100 biji ditimbang setelah biji dikeringkan dan dipipil pada setiap tanaman sampel.
Produksi Biji Kering per plot (g)
Produksi biji kering per plot (g) diambil dari seluruh tanaman per plot setelah biji dikeringkan dan dipipil.
Laju Pengisian Biji (g/hari)
Laju pengisian biji dihitung dengan membagi bobot biji tiap tongkol dengan selisih antar umur panen dan umur keluar rambut.
berat biji (g) LPB =
Umur Panen (hari) – Umur Keluar Rambut (hari)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tinggi Tanaman
Hasil analisis secara statistika dengan metode analisis ragam dari tinggi tanaman 2 s/d 7 MST dapat dilihat pada lampiran 1 s/d 22. Hasil analisis ragam tersebut menunjukkan bahwa genotipe berbeda nyata terhadap karakter tinggi tanaman 2 s/d 7 MST. Rataan tinggi tanaman 2 s/d 7 MST dari beberapa genotipe dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan Tinggi Tanaman 2 s/d 7 MST dari Beberapa Genotipe (cm) Tinggi Tanaman Pada Umur (cm)
Genotipe 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST VAB 29.978b 58.753b 97.744b 145.169b 194.388b 230.056b
VBA 35.978ab 70.488ab 112.294ab 164.338ab 208.150ab 242.094ab
VCD 37.985a 74.370a 119.944a 173.381a 218.394a 259.869a
VDC 33.495ab 64.635ab 106.500ab 153.550ab 195.000ab 233.819b
VEF 33.940ab 64.985ab 108.038ab 155.725ab 199.056ab 235.306b
VFE 35.430ab 69.258ab 113.913ab 162.038ab 208.831ab 249.219ab
BNJ 05 6.600 13.425 15.597 21.200 23.480 19.810 Keterangan: Angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama
tidak berbeda nyata menurut uji beda rataan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Tabel 1 menunjukkan bahwa rataan tinggi tanaman 7 MST yang tertinggi terdapat pada genotipe VCD yaitu 259. 869 cm dan yang terendah pada genotipe VAB yaitu 230.056 cm.
Hasil analisis secara statistika dengan menggunakan uji t (uji progenitas) menunjukkan bahwa karakter tinggi tanaman dari populasi F1 berbeda nyata dengan tinggi tanaman dari populasi tetua. Perbandingan tinggi tanaman dari
populasi F1 dengan populasi tetua berdasarkan uji progenitas dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Uji Progenitas Tinggi Tanaman Populasi F1 dengan Populasi Tetua.
Genotipe Rataan t hitung t 05
Tetua (Ỹ1) F1(Ỹ2) VAB 154.020 230.056 19.420 2.131 VBA 191.633 242.094 12.888 VCD 180.933 259.869 20.161 VDC 154.725 233.819 20.201 VEF 174.710 235.306 15.477 VFE 150.377 249.219 25.245
Keterangan: F1 berbeda nyata dengan tetua jika angka-angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t 05 berdasarkan uji t
Hasil analisis secara statistika dengan menggunakan uji t, genotipe F1 pada karakter tinggi tanaman menunjukkan perbedaan yang nyata dengan persilangan resiprokalnya (F1r) berdasarkan uji t pada taraf 5%. Perbandingan tinggi tanaman dari genotipe dengan resiprokalnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Perbandingan Tinggi Tanaman dari Genotipe dengan Resiprokalnya
Genotipe t hit t05
F1 Rataan F1r Rataan
VAB 230.06 VBA 242.09 3.074 2.131
VCD 259.87 VDC 233.82 6.653
VEF 235.31 VFE 249.22 3.553
Keterangan: Genotipe berbeda nyata dengan resiprokalnya jika angka-angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t 05 berdasarkan uji t
Jumlah Daun (helai)
Hasil analisis secara statistika dengan metode analisis ragam dari karakter jumlah daun 2 s/d 7 MST dapat dilihat pada lampiran 26 s/d 46. Hasil analisis ragam tersebut menunjukkan bahwa genotipe berbeda nyata pada karakter jumlah daun 6 dan 7 MST dan tidak berbeda nyata pada 2 s/d 5 MST. 27
Rataan jumlah daun 2 s/d 7 MST dari beberapa genotipe dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Jumlah Daun 2 s/d 7 MST dari Beberapa Genotipe (helai) Jumlah Daun Pada Umur (cm)
Genotipe 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST VAB 3.625 5.438 6.813 9.063 10.375c 14.625b VBA 3.750 5.625 7.125 9.500 11.438a 15.500ab VCD 3.813 5.250 7.063 9.500 11.250abc 14.813ab VDC 3.625 5.313 7.000 9.313 10.750abc 15.250ab VEF 3.750 5.375 7.000 9.750 11.125abc 15.375ab VFE 4.000 5.625 7.188 9.688 11.375ab 15.688a BNJ 05 0.991 1.016
Keterangan: Angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda rataan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Tabel 4. menunjukkan bahwa rataan jumlah daun 7 MST yang tertinggi terdapat pada genotipe VFE yaitu 15.688 cm dan yang terendah pada genotipe
VAB yaitu 14.625 cm.
Hasil analisis secara statistika dengan menggunakan uji t (uji progenitas), menunjukkan bahwa karakter jumlah daun dari populasi F1 tidak berbeda nyata dengan jumlah daun dari populasi tetua. Perbandingan jumlah daun dari populasi F1 dengan populasi tetua berdasarkan uji progenitas dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Uji Progenitas Jumlah Daun Populasi F1 dengan Populasi Tetua.
Genotipe Rataan t hitung t 05
Tetua (Ỹ1) F1(Ỹ2) VAB 8.665 14.625 1.522 2.131 VBA 10.330 15.500 1.320 VCD 9.663 14.813 1.315 VDC 8.413 15.250 1.746 VEF 8.830 15.375 1.672 VFE 8.833 15.688 1.751
Keterangan: F1 berbeda nyata dengan tetua jika angka-angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t 05 berdasarkan uji t.
Hasil analisis secara statistika dengan menggunakan uji t, genotipe F1 pada karakter jumlah daun menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dengan
persilangan resiprokalnya (F1r) berdasarkan uji t pada taraf 5%. Perbandingan jumlah daun dari genotipe dengan resiprokalnya dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Perbandingan Jumlah Daun dari Genotipe dengan Resiprokalnya
Genotipe t hit t05
F1 Rataan F1r Rataan
VAB 14.63 VBA 15.50 -0.223 2.131
VCD 14.81 VDC 15.25 -0.111
VEF 15.38 VFE 15.69 -0.079
Keterangan: Genotipe berbeda nyata dengan resiprokalnya jika angka angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t 05 berdasarkan uji t
Umur Keluar Bunga Jantan (hari)
Hasil analisis secara statistika dengan metode analisis ragam dari karakter umur keluar bunga jantan (hari) dapat dilihat pada lampiran 50. Hasil analisis ragam tersebut menunjukkan bahwa genotipe berbeda nyata terhadap karakter umur keluar bunga jantan. Rataan umur keluar bunga jantan (hari) dari beberapa genotipe dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan Umur Keluar Bunga Jantan dari Beberapa Genotipe (hari) Genotipe Umur Keluar Bunga Jantan (hari)
VAB 47.44a VBA 49.38ab VCD 48.19ab VDC 50.19ab VEF 51.44b VFE 50.69ab BNJ 05 3.361
Keterangan: Angka yang diikuti oleh notasi yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut Uji Beda Rataan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.
Tabel 7 menunjukkan bahwa rataan umur keluar bunga jantan tercepat terdapat pada genotipe VAB yaitu 47.44 hari dan yang terlama terdapat pada
genotipe VEF yaitu 51.44 hari.
Histogram umur keluar bunga jantan dari beberapa genotipe dapat dilihat pada gambar 1. 45 46 47 48 49 50 51 52
VAB VBA VCD VDC VEF VFE Genotipe U m ur K el ua r B u ng a J a nt an ( ha ri )
Gambar 1. Histogram umur keluar bunga jantan dari beberapa genotipe
Hasil analisis secara statistika dengan menggunakan uji t (uji progenitas), menunjukkan bahwa karakter umur keluar bunga jantan dari populasi F1 berbeda nyata dengan umur keluar bunga jantan dari populasi tetua pada genotipe VFE dan
tidak berbeda nyata pada genotipe yang lain. Perbandingan umur keluar bunga jantan dari populasi F1 dengan populasi tetua berdasarkan uji progenitas dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Uji Progenitas Umur Keluar Bunga Jantan Populasi F1 dengan Populasi Tetua.
Genotipe Rataan t hitung t 05
Tetua (Ỹ1) F1(Ỹ2) VAB 54.663 47.438 -1.845 2.131 VBA 55.415 49.375 -1.543 VCD 55.165 48.188 -1.782 VDC 58.078 50.188 -2.015 VEF 56.498 51.438 -1.292 VFE 59.330 50.688 -2.207
Keterangan: F1 berbeda nyata dengan tetua jika angka-angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t 05 berdasarkan uji t.
Hasil analisis secara statistika dengan menggunakan uji t, genotipe F1 pada karakter umur keluar bunga jantan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dengan persilangan resiprokalnya (F1r) berdasarkan uji t pada taraf 5%. Perbandingan umur keluar bunga jantan dari genotipe dengan resiprokalnya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Perbandingan Umur Keluar Bunga Jantan dari Genotipe dengan Resiprokalnya. Genotipe t hit t05 F1 Rataan F1r Rataan VAB 47.44 VBA 49.38 -0.494 2.131 VCD 48.19 VDC 50.19 -0.510 VEF 51.44 VFE 50.69 0.191
Keterangan: Genotipe berbeda nyata dengan resiprokalnya jika angka-angka pada lajur t hitung tidak berada pada daerah penerimaan t 05 berdasarkan