• Tidak ada hasil yang ditemukan

IWS : Ikatan Warga Saniang Baka IWATAR : Ikatan Warga Atar

IKPBT : Ikatan Keluarga Pitalah Bungo Tanjung KBTD : Keluarga Besar Tanah Datar

IKK : Ikatan Keluarga Kacang

IKBY : Ikatan Keluarga Pasaman Barat Yogyakarta IKBMY : Ikatan Keluarga Besar Minang Yogyakarta IKPS : Ikatan Keluarga Pesisir Selatan

IKMGK : Ikatan Keluarga Minang Gunung Kidul IKISM : Ikatan Keluarga Istri Seniman Minang PKDP : Perkumpulan Keluarga Daerah Pariaman PNS : Pegawai Negeri Sipil

xxii GLOSARIUM

awak : aku dalam Bahasa Indonesia, Awak dalam kehidupan sehari-hari berhubungan dengan identitas, awak merupakan penanda (signified) untuk membedakan aku (sebagai identitas individu maupun kelompok) dengan yang lain (urang), awak

juga berhubungan dengan kepunyaan dan ruang lingkup kedudukan diri, contoh suku awak

alim-ulama : selain penghulu dan cadiak pandai, yang juga diperhatikan di dalam struktur kepemimpinan kelompok di Minangkabau adalah alim ulama. Sama statusnya dengan penghulu maupun cadiak pandai, namun alim ulama lebih kepada bidang keagamaan. Oleh karenanya di Minangkabau peran dari ketiga itu (penghulu, cadiak pandai, dan alim ulama) disebut sebagai tigo tungku sajarangan atau sebagai tiga pilar dalam sebuah kelompok.

autopoesis : kata yang dikemukakan oleh Varella dan Maturana, pengertiannya adalah berdasarkan kepada prinsip dari alam ini yang “hidup”. Alam semesta bukanlah benda mati tetapi hidup yang mampu mempertankan hidupnya sendiri, di dalam dinamika kehidupan perubahan-perubahan merupakan cara organisme hidup menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Karena sistem keseimbangan yang hidup di dalam segala sistem hidup.

alienasi : keterasingan, di dalam konsepsi Karl Marx pengertian ini mengindikasikan sikap asing dengan diri sendiri karena pekerjaan yang berulang-ulang yang dilakukan oleh industri.

bijo : (blue print) atau cetak biru realitas diri.

bujang : bujang adalah laki-laki yang belum menikah, biasanya seorang bujang juga disebut pada fase remaja, namun juga ada ungkapan kepada seorang

xxiii

laki-laki yang belum menikah namun sudah dewasa juga disebut sebagai bujang.

cadiak pandai : cadiak pandai adalah orang yang dipercaya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak. Di dalam status politis, cadiak pandai sama dengan

penghulu tetapi lebih di bidang pengetahuan dan di dalam rapat-rapat adat dia diprioritaskan untuk pemberi pertimbangan dalam bidang pengetahuan.

darek : sebagai pusat kebudayaan masyarakat Minangkabau, yang terdiri dari tiga Luhak, yaitu

luhak Agam, luhak Tanah Data dan luhak 50 Koto.

fluktuatif : sifat yang berubah-rubah, tak dapat diprediksi dan dipastikan.

galanggang : semacam arena untuk silat, namun kata ini juga sering digunakan untuk kebutuhan metafora. Pengertiannya menekankan adanya pertarungan dan perjuangan di dalamnya. Seperti gelanggang pacuan kuda, juga seperti kata galanggang gadang

(gelanggang besar)

gadang :secara harfiah gadang berarti besar.

interpretatif : sikap dan aktivitas menafsirkan sesuatu.

kampuang : kampuang pengertiannya hampir sama dengan kampung, dimana bagi masyarakat Minangkabau yang namanya kampung adalah nagari masing-masing.

kurenah : perilaku dan kelakuan seseorang.

kooperatif : suatu sistem kenegaraan yang memiliki basis kekeluargaan, namun juga dikembangkan kepada sistem ekonomi dan sosial. Ini juga diterapkan oleh Bung Hatta di dalam sistem koperasi, karena merasa lebih cocok dan tepat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang basisnya adalah gotong royong.

lapau : tempat atau warung yang di dalamnya banyak aktivitas duduk dan bermain domino. Tempat ini

xxiv

sangat diminati oleh sebagian besar remaja Minangkabau. Namun di dalam kebudayaan Minangkabau, para remaja diharapkan dapat bergabung di sini untuk mampu beradaptasi dengan orang-orang di lingkungannya. Karena lapau adalah tempat aktualisasi dan sumber informasi bagi sebagian besar masyarakat di dalam sebuah kampung atau nagari.

liminal : istilah Turner maupun Van Gennep menjelaskan bahwa liminal adalah sebuah fase, yaitu waktu ambang, transisi atau diantara. Kata liminal diambil dari istilah limen dalam bahasa latin yang berarti ambang.

manjadi : menjadi atau proses menuju sesuatu, selalu dalam proses menjadi, sebuah kata kerja (verb) bukan kata benda.

ma-rantau : merupakan aktivitas pergi ke rantau.

malawan dunia urang : suatu sikap hidup masyarakat Minangkabau untuk menyaingi orang lain. Sikap ini adalah perilaku dalam berkompetisi tanpa menyakiti orang lain. Artinya seseorang dijadikan sebagai motivasi untuk bergerak dan berjalan.

mangaji : aktivitas belajar Alquran di Surau.

maukua bayang-bayang : konsepsi mengenai pentingnya untuk mengukur diri, mengukur bayangan diri supaya tahu siapa dan kemampuan diri.

nagari : jika diandaikan nagari seperti pembagian desa, namun karena masyarakat Minangkabau bersifat desentralisasi, maka nagari bersifat otonom. Nagari

merupakan kelompok terbesar yang di dalamnya terdapat, beberapa suku, disetiap nagari memiliki sistem ekonomi, politik, dan sosial sendiri. Oleh sebab itu para budayawan baik dalam maupun luar negeri menyebut keberadaan nagari-nagari itu seperti Negara-negara kecil, karena sifatnya yang otonom tersebut.

xxv

Pasisia : berarti Pesisir, yaitu wilayah di pinggir pantai Sumatra.

part time : paruh waktu.

parewa : pengertiannya ada yang menyebut sebagai “pendekar” yaitu seseorang yang sudah memiliki sistem kebertahanan diri melalui silat. Namun pengertian luas adalah sekelompok remaja yang yang sudah diberi tanggung jawab untuk menjaga dan membela nagarinya.

paga nagari : remaja-remaja yang bertanggung jawab sebagai pelindung dan penjaga kelompoknya dari gangguan-gangguan baik luar maupun dalam kelompok.

pamaleh : perilaku malas, atau seseorang yang tidak mau bekerja atau belajar.

panopticon : konsepsi Foucault mengenai kecenderungan pendisiplinan di dalam kebudayaan modern, yang disebutnya strategi pengawasan untuk mengoreksi dan memperbaiki tubuh seseorang.

Pedati : Pedati merupakan alat transportasi tradisional yang digunakan oleh binatang, seperti kuda maupun kerbau. Biasanya yang menggunakan kuda adalah pedati untuk kebutuhan penumpang, sementara yang menggunakan kerbau adalah pedati untuk mengangkut barang atau beban.

penghulu : penghulu merupakan jabatan tertinggi di dalam sebuah kelompok, maka setiap kelompok memiliki penghulunya. Baik kelompok suku sampai pada kelompok nagari.

pulang basamo : pulang basamo pengertiannya adalah pulang dengan bersama-sama, biasanya aktivitas ini di lakukan oleh para perantau pada saat menyambut lebaran.

raso jo pareso : suatu basis hukum dan aturan di Minangkabau, dimana raso adalah wilayah rasa dan pareso adalah pikiran (logika). Setiap perilaku dan sikap kepada orang lain diharapkan memiliki basis dengan cara merasa dan memikirkan supaya orang lain tidak tersinggung atau sakit hati.

xxvi

rantau : rantau memiliki dua pemahaman bagi masyarakat Minangkabau. Pertama pemahaman rantau yang pengertiannya daerah yang berada di luar nagari. Kedua pengertian pembagian wilayah, yaitu daerah yang berada di luar pusat Minangkabau (Luhak), maka dibedakan menjadi wilayah darek (daratan yang menjadi pusat budaya Minangkabau), dan daerah rantau persebaran masyarakat ke wilayah lainnya.

rantau cino : merantau yang tidak pulang lagi ke kampung halamannya.

rezim of light : pemahaman dari Gilles Deleuze dalam memperkuat konsepsi dari Foucault mengenai

panopticon, yaitu pengawasan dimungkinkan dengan keberadaan cahaya, sebagai pengawasan bagi seseorang atau kelompok.

representasi :menurut Stuart Hall (1997), representasi adalah salah satu praktik penting yang memproduksi kebudayaan. Representasi merupakan proses dari „representing‟. Representasi juga bisa diartikan sebagai proses perubahan konsep-konsep ideologi yang abstrak dalam bentuk-bentuk kongkrit. Disni bahasa memegang peran penting, dimana Bahasa juga merupakan system representasi, bahasa (symbol, tanda, lisan maupun gambar) dapat mengungkapkan pikiran, konsep dan ide-ide tentang realitas. Dengan mengamati kata, symbol maupun gambar yang merepresentasikan suatu realitas, maka akan terlihat jelas nilai-nilai yang di berikan kepada realitas tersebut. Jadi dapat di simpulkan bahwa representasi urang di dalam tesis ini adalah suatu konsep yang digunakan untuk mewakili kriteria manusia “ideal” dalam paradigma masyarakat Minangkabau yang diwakili dengan system penandaan berupa bahasa (lisan) urang.

sistemik : sistemik merupakan kata lawan dari analitik, dimana pengertiannya lebih kepada cara berpikir. Penekanan pemikiran sistemik kepada sifatnya yang holistik dan menyeluruh, dimana bagian menentukan keseluruhan dan keseluruhan menentukan bagian.

xxvii

sang liyan : liyan atau sang liyan diartikan sebagai lain, seperti kata the others, namun pengertian kata ini juga mengimplikasikan bahwa identitas dan konstitusi diri juga dibangun dari kamu atau hadirnya liyan yang bukan aku. Maka pengertian liyan tidak hanya memiliki pengertian lain, tetapi implikasinya kepada terbangunnya persepsi, keadaan bawah sadar sampai pada identitas diri dalam tradisi psikoanalisis.

takah urang : seperti orang lain, urang yang hanya meniru orang lain dan seolah-olah seperti orang lain

tungku tigo sajarangan : pilar dari struktur kepemimpinan adat di Minangkabau yang terdiri dari penghulu, cadiak pandai dan alim ulama. Dimana masing-masing pemimpin itu memiliki perannya masing-masing.

urang : dalam tatanan bahasa Minangkabau bermakna ganda, yaitu urang sebagai orang, merujuk kepada kata ganti orang ketiga tunggal misalnya orang lain, Ani, Budi, atau Badu. Dan urang dalam arti kriteria manusia “ideal” dalam konstruksi nilai masyarakat Minangkabau, dalam pemaknaan ini, kata urang

tidak berdiri sendiri, biasanya didahului dengan kata

manjadi dan digabung manjadi urang

urang sabana urang : konsep ini ditafsir sebagai core value dari filsafat Minangkabau tentang manusia. Orang yang sebenarnya orang Minangkabau adalah „orang yang baik‟, „orang yang tahu‟, dan memiliki „kearifan akal budi‟ sesuai dengan alur dan patut, tidak meninggalkan adat dan melupakan agama (adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah-alam takambang jadi guru).

1

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Manusia (subjek) sebagai pribadi tidak hanya dirumuskan sebagai suatu kesatuan individu tanpa sekaligus menghubungkannya dengan lingkungan sekitarnya. Barker mengemukakan bahwa sebagai subjek, yaitu sebagai pribadi, manusia terikat kepada proses sosial yang menciptakan subjek “untuk” diri dan orang lain (Barker, 2013:173). Pemahaman mengenai manusia ini merupakan hasil dari penafsiran manusia mengenai realitas lingkungannya, baik alam dan juga sosial. Namun tidak hanya itu saja, penafsiran juga melibatkan di dalamnya aspek-aspek kedirian (diri/ tubuh) manusia itu sendiri, artinya melibatkan juga aspek-aspek pengalaman ketubuhan masing-masing manusia beserta potensi-potensi yang mereka miliki. Oleh karenanya penafsiran suatu kebudayaan atas peran-peran perempuan dan laki-laki dapat saja berbeda, hal itu dikarenakan perbedaan yang diperoleh dari pengalaman masing-masing.

Penafsiran atas manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar statis dan tetap, konsepsi manusia di dalam suatu kebudayaan selalu berubah yang selalu dipengaruhi oleh paradigma yang sering kali juga berubah-rubah. Di zaman modern misalnya, di ranah Minangkabau sendiri sedikit banyaknya konsepsi mengenai manusia mulai

2

berubah yang akhirnya juga merubah dan membentuk makna baru mengenai manusia itu sendiri. Sekarang konsepsi mengenai manusia selalu diarahkan kepada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang menentukan wujud dan bentuk manusia ideal di dalam kebudayaan Minangkabau. Hal itu dikarenakan manusia selalu dimaknai dari hasilnya dan harga dirinya di dalam kehidupan sosial. Oleh karenanya seseorang yang mendapatkan pekerjaan, misalnya dokter, pegawai negri sipil (dosen, guru, polisi), pengusaha sukses dan seterusnya memperoleh kedudukan yang dihormati di dalam kehidupan sosial. Konsep ini mengandaikan manusia sebagai produk yang dapat saja dibentuk oleh sesuatu dari luar dirinya, seperti “tanah liat” yang dapat dibentuk sesuai wacana yang berkembang. Seakan-akan proses hidup itu sendiri hanya merujuk kepada satu titik saja, yaitu pekerjaan, yang juga mempengaruhi konsepsi mengenai pendidikan, kehidupan dan kebahagiaan. Ironisnya sistem wacana tersebut selalu merujuk kepada suatu kepentingan-kepentingan yang beroperasi di belakangnya seperti ekonomi dan politik. Hal ini juga memperlihatkan kecenderungan materialitas di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau sekarang yang mengandaikan manusia hanya materi belaka yang ukuran kesuksesan pun diukur lewat pencapaian-pencapaian material: gelar, mobil, rumah, pekerjaan yang layak seperti dokter dan pegawai negeri sipil (PNS). Seakan-akan manusia yang tidak memiliki kemampuan mencapai hal tersebut disebut miskin, tidak berguna, tidak mampu, kehilangan harga diri dan sederatan nilai-nilai lainnya.

Jika ditelusuri lebih jauh ke dalam kebudayaan Minangkabau itu sendiri, tidak dijelaskan secara spesifik pekerjaan seperti apa yang menentukan manusia ideal atau

3

urang1, tetapi lebih kepada proses manjadi, penemuan, dan pencarian akan hakikat hidup masing-masing individu. Karena di dalam paradigma masyarakat Minangkabau setiap manusia memiliki bijo (blue print) atau cetak biru realitas dirinya, dan tugas manusia itu untuk mencari, merumuskan dan menemukan siapa dirinya. Tidak ada sistem hirarki mengenai pekerjaan ideal karena setiap manusia memiliki potensinya masing-masing dan unik, seperti sidik jari yang tidak sama, tetapi inheren dan unik disetiap manusia itu sendiri. Singkatnya, perumusan mengenai hakikat manusia di dalam paradigma masyarakat Minangkabau juga melibatkan pertanyaan mengenai manusia itu sendiri secara ontologi dan eksistensi, untuk apa manusia ada, karena manusia ada dikarenakan keberadaannya dikehendaki oleh realitas dan juga Tuhannya. Manusia itu “ada” karena eksistensinya (keberadaannya) dikehendaki oleh realitas dan tidak ada yang tidak berguna, karena keberadaan masing-masing individu itu unik dan berimplikasi bagi keseimbangan kosmologis masyarakat Minangkabau. Paradigma masyarakat Minangkabau mengenai kriteria urang dipersonifikasi dengan istilah “baringin di tangah padang” (pohon beringin di tengah padang), yang dijelaskan oleh Mulyadi Putra sebagai berikut:

________________

1

Urang dalam tatanan bahasa minangkabau bermakna ganda, yaitu urang sebagai orang lain (the other) merujuk kepada kata ganti orang ketiga tunggal, misalnya: Ani, Budi atau Badu. Dan urang dalam arti kriteria orang yang “ideal” dalam konstruksi nilai masyarakat Minangkabau, dalam pemaknaan ini, kata urang tidak berdiri sendiri, biasanya didahului dengan kata manjadi dan digabung manjadi urang atau dalam bahasa Indonesia adalah menjadi orang, merupakan dua komponen kata yang berbeda maksud dan penekanannya, manjadi dimaksudkan lebih pada kriteria proses. Maka manjadi urang adalah sebuah kriteria proses yang harus dilalui oleh seseorang supaya nantinya dapat masuk pada kriteria nilai urang ideal di dalam kebudayaan Minangkabau.

4

“Kayu beringin di tengah padang berurat cukam ke tanah, „penuh‟ bumi karena rumpunnya. Kena gempa tidak akan tercerabut, kena badai tidaklah oleng, melainkan sebatas goyang lantaran diterpa angin lalu. Artinya, teguh dengan pendirian, istiqamah dengan tauhid, berprinsip, tegar dan kokoh. Kayu beringin berpucuk cewang ke langit, tingginya menggapai awan lalu, pedoman musafir lalu. Daunnya yang rimbun tempat berteduh, tempat berlindung kehujanan, jika panas ganti payung panji. Uratnya tempat bersila, batangnya yang besar tempat sandaran, dahannya yang rampak tempat bergantung.

Artinya, menjadi panutan di tengah masyarakat, cerdik tempat orang bertanya, kaya tempat orang bertenggang, jago tempat orang mengadu. Setitik katanya dilautkan, gerak diberi jadi contoh dalam masyarakat. Sungguhpun beringin tinggi menjulang, tetapi tingginya menawungi yang di bawah. Walaupun besarnya merimbun, besar menenggang dengan yang kecil. Itu lah sifat yang dipakai. Dalam ungkapan kekinian, peduli dengan lingkungan (Putra, 2013: 114)”.

Artinya kontribusi seseorang tidak dilihat dari hal-hal yang ada di luar diri seseorang, tetapi dilihat dari proyeksi dan potensi seseorang untuk dapat berkontribusi, membangun, mengembangkan, dan mensejahterakan kedudukan kelompoknya. Kontribusi tersebut dapat berbentuk apa saja atau dari kemampuan individu tersebut, maupun menjadi seperti yang dijelaskan Heidegger, bahwa orang atau manusia tidak ditentukan oleh kualitas, esensi, atau “untuk apa”nya seseorang tersebut, tetapi dilihat dari kemungkinan seseorang itu untuk ada (Heidegger, 1949:29). Jadi urang dipandang dari “menjadi apa” bukan “untuk apa” nya seseorang tersebut. Hal ini, ditentukan oleh penemuan, penelusuran, dan pencarian jati diri seseorang tersebut dalam menemukan dirinya dan dapat dikontribusikan ke dalam kehidupan masyarakat.

5

Urang dalam paradigma masyarakat Minangkabau dipandang dari kontribusi dan proyeksi dari potensi-potensi masing-masing individu untuk dapat membangun kelompoknya, yang nantinya dapat berkontribusi melalui instansi-instansi adat seperti: jadi penghulu (tokoh adat), cadiak pandai (orang yang bertanggung jawab dalam bidang pengetahuan), alim ulama (orang yang bertanggung jawab dalam bidang keagamaan), hulu balang (keamanan), bundo kanduang (ibu suku) dan mungkin di sektor-sektor lain seperti seorang pengusaha yang membangun kampungnya melalui pembangunan sekolah, jalan, mesjid dan sebagainya. Hal ini juga ditegaskan oleh Navis dengan membagi kriteria urang dalam beberapa golongan atau kategori yang diistilahkan dengan “orang yang sebenarnya orang(orang yang sempurna sebagai manusia) sebagai berikut:

“1. Orang kebilangan (orang ternama atau terkemuka), orang kuat dan orang tahu yang masing-masing terdiri dari empat jenis. Orang kebilangan adalah orang yang terkemuka dalam masyarakatnya. Mereka itu adalah seperti berikut: (1) Orang tua, yaitu orang yang jadi pemimpin atau dituakan dalam lingkungan dan tugasnya (professional dan fungsional). Ia mempunyai persyaratan : berakal agar dapat mencari penyelesaian permasalahan yang timbul, berilmu agar dapat memecahkan permasalahan dengan tepat, mampu (berkecukupan) agar kehidupan tidak tergantung kepada orang lain, pemurah agar dapat membantu kesulitan orang lain, jaga (waspada) agar selalu bersikap hati-hati, sabar agar tidak dikendalikan emosi, adil agar tidak pilih kasih dalam menghadapi orang lain, dan bijaksana agar dapat selalu mengambil tindakan yang tepat sehingga resiko menjadi sangat kecil. (2) Orang pandai atau cendekiawan, yaitu orang yang berilmu agar ia dapat memberikan petunjuk apa yang benar, gigih agar tidak mudah terobang-ambing pendiriannya, pendiam agar ia tidak digunakan orang yang tidak tepat, sokah agar sikapnya selalu memancarkan optimisme. (3) Orang bagak (berani) mempunyai persyaratan: bersih agar tidak menimbulkan rasa ketakutan dan kecurigaan, ramah agar orang merasa terlindung, sehat jasmani

6

dan rohani agar tidak mudah dikalahkan, lapang agar tidak mudah naik darah atau pemarah. (4) Orang kaya mempunyai persyaratan rendah hati dalam pergaulan agar hidup tidak menimbulkan rasa iri orang lain, pemurah agar dapat membantu kesulitan orang lain, hemat agar tidak mendorong orang lain hidup berlebih-lebihan, beriman agar tidak tergoda menggunakan harta sehingga tidak merugikan orang lain.

2. Orang kuat ialah orang yang dipandang mampu memberikan perlindungan kepada orang lain tanpa merisaukan risiko yang akan dipikulnya karena perbuatannya itu. Ada empat hal pula yang menjadi ciri orang kuat itu. (1) Kuat membela kebenaran, meski ia akan berhadapan dengan pendapat umum yang akan menyalahkannya. (2) Kuat melakukan kebajikan, meski ia tidak akan mendapatkan apa-apa sebagai imbalan. (3) Kuat menyelesaikan persengketaan yang terjadi sampai tuntas meski ia akan menghadang bahaya. (4) Kuat memberi maaf kepada orang meski orang itu telah mencelakakan kehidupannya.

3. Orang tahu ada empat penilaian tentang yang dikatakan sebagai orang yang mengetahui itu, yakni: (1) Orang yang tahu memimpin orang lain dan tahu memimpin dirinya sendiri, itulah orang yang terpuji; (2) Orang yang tahu memimpin dirinya tetapi tidak tahu memimpin orang lain itulah orang yang tidak mencari pujian; (3) Orang yang tahu memimpin orang lain tetapi tidak tahu memimpin dirinya sendiri itulah orang yang haus akan pujian; (4) Orang yang tidak tahu memimpin dirinya juga tidak tahu memimpin orang lain itulah orang yang tidak terpuji (Navis, 1984 : 96-97)”.

Representasi manusia ideal yang dikemukakan oleh Navis mendekati kriteria urang

yang dikemukakan di dalam falsafah Minangkabau yang tertuang dalam konsep

baringin di tangah padang. Kriteria ini hanya dapat terbentuk jika telah melewati proses (manjadi urang).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Hajizar (Budayawan Minangkabau) pada tanggal 1 Juli 2012, mengemukakan bahwa, manjadi urang merupakan suatu penemuan jati diri yang harus dilewati melalui fase merantau, jika belum merantau berarti belum manjadi urang. Merantau berarti mengumpulkan pengalaman yang

7

diperoleh individu dari lingkungannya (rantau), yang nantinya menjadi acuan individu dalam menentukan minat dan potensi masing-masing. Seperti ada yang hobi berdagang, bertani, mendalami ilmu agama, pengetahuan, dan sebagainya. Semuanya didapat dari proses manjadi urang yang dilalui oleh individu.

Manjadi urang berarti mampu menetapkan apa yang menjadi minat (potensi) di dalam dirinya sendiri. Kemampuan pengalaman serta pengetahuan yang dia peroleh tersebut nantinya dapat digunakan dan dipakai untuk mengajarkan kemenakan, anak dan saudara-saudaranya. Secara prinsip pergi merantau bukan saja sebuah medan atau tempat yang “diwajibkan” oleh masyarakat Minangkabau, tetapi lebih daripada itu marantau juga memiliki tujuan untuk mengembangkan, menemukan dan mencari pemahaman soal “diri” atau kemungkinan-kemungkinan potensi yang dimiliki oleh seseorang di dalam dirinya yang nantinya dapat dikontribusikan dan diproyeksikan. Marantau adalah sebuah perjalanan kehidupan, pencarian jati diri dan belajar hidup. Oleh karena itu, daerah rantaudalam paradigma masyarakat Minangkabau diistilahkan sebagai “galanggang gadang” yaitu tempat pertaruhan hidup dengan realitas yang sama sekali berbeda dari pada di kampung. Kata “galanggang” berarti tempat atau ruang yang biasa digunakan untuk menyebutkan lokasi pertarungan silat, sementara gadang adalah ruang lingkup atau wilayah yang berbeda dari kampung sendiri.

Merantau tidak hanya sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh orang Minangkabau, namun merupakan ranah tempat pergulatan pemikiran dan pembelajaran untuk mengenali diri dan lingkungan serta memahami makna

8

kehidupan itu sendiri. Pergulatan dan kegigihan masyarakat Minangkabau dalam beradaptasi dengan daerah rantau menjadi point interest peneliti dalam mengerjakan

Dokumen terkait