No. Hal.
1. Kebutuhan Gizi Ayam Kampung (%) ... 7 2. Kebutuhan Pakan Ayam Kampung (gram) ... 8 3. Kandungan Zat Nutrisi Ampas Sagu (%) ... 10 4. Kandungan Nutrisi Bungkil Kelapa (%) ... 11 5. Kandungan Nutrisi Tepung Ikan (%) ... 11 6. Kandungan Nutrisi Bungkil Kedelai (%) ... 12 7. Kandungan Nutrisi Jagung (%) ... 12 8. Tabel Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 33
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal.
1. Rataan Bobot Potong Ayam Kampung (gram) ... 40
2. Analisis Sidik Ragam Bobot Potong Ayam Kampung ... 40
3. Rataan Bobot Karkas Ayam Kampung (gram) ... 40
4. Analisis Sidik Ragam Bobot Karkas Ayam Kampung ... 40
5. Rataan Persentase Karkas Ayam Kampung (%) ... 41
6. Analisis Sidik Ragam Persentase Karkas Ayam Kampung ... 41
7. Rataan Bobot Non Karkas (kepala) Ayam Kampung (gram) ... 41
8. Analisis Sidik Ragam Bobot Non Karkas (kepala) Ayam Kampung ... 41
9. Rataan Bobot Non Karkas (organ dalam) Ayam Kampung (gram) ... 42
10. Analisis Sidik Ragam Bobot Non Karkas (organ dalam) Ayam Kampung ... 42
11. Rataan Bobot Non Karkas (kaki) Ayam Kampung (gram) ... 42
12. Analisis Sidik Ragam Bobot Non Karkas (kaki) Ayam Kampung ... 42
13. Rataan Bobot Non Karkas (darah) Ayam Kampung (gram) ... 43
14. Analisis Sidik Ragam Bobot Non Karkas (darah) Ayam Kampung ... 43
15. Rataan Bobot Non Karkas (bulu) Ayam Kampung (gram) ... 43
16. Analisis Sidik Ragam Bobot Non Karkas (bulu) Ayam Kampung ... 43
17. Konsumsi Ransum Selama Penelitian (gram/ekor/hari) ... 44
18. Rataan Konsumsi Ransum Selama Penelitian (gram/ekor/hari) ... 44
19. Analisis Sidik Ragam Konsumsi Ransum Selama Penelitian ... 44
20. Perambahan Bobot Badan Selama Penelitian (gram/ekor/hari) ... 45
21. Rataan Perambahan Bobot Badan Selama Penelitian (gram/ekor/hari) ... 45
22. Analisis Sidik Ragam PBB Selama Peneliian ... 45
23. Pembuatan Ampas Sagu Fermentasi ... 46
24. Kandungan Nutrisi Masing-masing Bahan Pakan ... 47
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, banyak hewan dan jenis tumbuhan yang hidup dan berkembang dengan baik, seperti ayam kampung. Ayam kampung merupakan ayam lokal yang tersebar di wilayah Indonesia, variasi ayam kampung sangat beragam seperti ayam kedu, ayam sentul, ayam banten, ayam sumatera dan sebagainya. Penamaan ayam kampung bermacam-macam sesuai dengan daerah masing-masing. Ayam-ayam tersebut adalah hasil domestikasi dari ayam hutan liar yang banyak tersebar, mengalami seleksi dan selanjutnya dijinakkan oleh manusia.
Ayam kampung merupakan ayam lokal di Indonesia yang kehidupannya sudah lekat dengan masyarakat, ayam kampung juga dikenal dengan sebutan ayam buras (bukan ras), atau ayam sayur. Ayam kampung mempunyai banyak kegunaan dan manfaat untuk menunjang kehidupan manusia. Dagingnya dapat dikonsumsi dan diterima oleh semua golongan masyarakat sebagai makanan memiliki nilai gizi yang relatif tinggi dengan citarasa yang khas dan merupakan makanan yang telah lama dikenal oleh masyarakat.
Pada saat ini usaha ayam kampung memiliki prospek cukup besar untuk dikembangkan. Ayam kampung memiliki kelebihan seperti kecepatan daya adaptasi terhadap lingkungan, pemeliharaan yang mudah, ketahanan terhadap penyakit yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam ras dan lebih murah jika ditinjau dari segi permodalan (Murtidjo, 1998).
Ditinjau dari aspek produksi, Arinto dan Winarno (1995) melaporkan bahwa usaha pembesaran ayam buras untuk tujuan produksi daging lebih menguntungkan dibanding dengan usaha produksi telur saja.
Karkas merupakan bagian tubuh yang sangat menentukan dalam produksi ayam pedaging. Produksi karkas berhubungan erat dengan bobot badan dan besarnya karkas ayam pedaging cukup bervariasi. Perbedaan ini disebabkan oleh ukuran tubuh, tingkat kegemukan dan tingkat perdagingan yang melekat pada dada (Jull, 1979). Besarnya persentase karkas dari bobot hidup sekitar 65-75% (Rasyaf, 1999).
Peningkatan produksi daging ayam kampung dapat dilakukan dengan cara manajemen yang baik terutama pakan, pakan yang diberikan harus memiliki nilai gizi yang tinggi dan dapat dicerna oleh ayam kampung. Pakan merupakan faktor yang penting dan sangat mempengaruhi tinggi rendahnya produksi ayam kampung. Dalam usaha peternakan yang paling menentukan adalah faktor pakan, karena biaya pakan dalam usaha peternakan sebesar 60-70% dari seluruh biaya produksi (Rasyaf, 1992).
Kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dibidang peternakan membuka wawasan untuk memanfaatkan hasil samping limbah dari perkebunan menjadi pakan ternak yang bermutu serta ekonomis dan tidak bersifat kompetitif dengan bahan makanan untuk manusia (Anggorodi, 1990). Untuk itu dilakukan alternatif pemanfaatan ampas sagu sebagai pakan ternak.
Ampas sagu merupakan limbah padat hasil produksi pertanian pengolahan pati sagu yang tersedia cukup banyak sepanjang tahun, murah dan mudah didapat. Dalam pengolahan sagu didapat 18,5% pati sagu dan 81,5% ampas sagu
(Kiat, 2006). Ampas sagu mempunyai prospek yang sangat baik, jika mendapat perlakuan yang tepat. Limbah pemrosesan pohon sagu, khususnya ampas sagu saat ini belum dimanfaatkan secara optimal karena memiliki kandungan protein yang rendah dan kandungan serat kasar yang tinggi.
Ampas sagu berpotensi cukup besar sebagai pakan sumber energi dengan kandungan BETN 77,12%, tetapi kandungan protein kasar yang rendah yaitu 2,70% dan kandungan zat makanan lainnya adalah lemak kasar 0,97%, serat kasar 16,56%, dan abu 4,65% (Ningrum, 2004). Salah satu cara untuk meningkatkan kandungan gizi dari ampas sagu adalah melalui cara fermentasi.
Fermentasi pada prinsipnya adalah mengaktifkan pertumbuhan dan metabolisme dari mikroorganisme yang dibutuhkan sehingga membentuk produk baru yang berbeda dengan bahan bakunya (Winarno et al., 1980). Fermentasi yang akan dilakukan adalah menggunakan mikroba seperti starbio.
Ampas sagu yang difermentasi dapat meningkatkan kandungan gizi ampas sagu tersebut, salah satunya protein. Protein merupakan materi penyusun dasar dari semua jaringan tubuh yang dibentuk, misalnya otot-otot, sel darah untuk pertumbuhan dan perkembangan. Pemberian protein ternak harus dilakukan dengan berkesinambungan melalui ransum untuk pertumbuhan, pergantian sel dan produk lainnya. Jika protein yang diberikan tidak cukup maka akan menyebabkan pertumbuhan dari ternak tidak normal (Santoso, 1986).
Meningkatnya kandungan protein dalam karkas, dan meningkatnya deposisi protein yang merupakan indikasi dari proses pemanfaatan protein pakan. Deposisi protein yang bernilai positif, berarti ternak tersebut memanfaatkan
(Maynard dan Loosli, 1969). Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan limbah pertanian seperti ampas sagu dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak, serta dapat membantu peternak ayam buras dalam hal pakan.
Atas dasar pemikiran inilah penulis tertarik untuk meneliti tentang “Pemanfaatan Ampas Sagu Fermentasi dan Non Fermentasi dalam Ransum
terhadap Karkas Ayam Kampung (Gallus domesticus) Umur 12 Minggu”.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh pemberian ampas sagu fermentasi dan non
fermentasi dalam ransum terhadap karkas ayam kampung (Gallus domesticus) pada umur 12 minggu.
Hipotesis Penelitian
Pemanfaatan ampas sagu non fermentasi sebagai pakan ternak memberi pengaruh positif terhadap karkas, persentase karkas, dan bobot non karkas ayam kampung (Gallus domesticus) umur 12 minggu.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peneliti atau masyarakat peternak dalam pengembangan usaha peternakan, instansi terkait mengenai pemanfaatan ampas sagu fermentasi dan non fermentasi dalam ransum terhadap karkas ayam kampung (Gallus domesticus) umur 12 minggu dan memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana di Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.