BAB III : PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP TINDAK
A. Kasus Posisi
2. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dibuat atau disusun dalam bentuk dakwaan alternatif sebagai berikut:
Dakawaan:
Kesatu : Melanggar Pasal 340 KUH Pidana.
Atau
Kedua : Melanggar 338 KUH Pidana.
Atau
Ketiga : Melanggar Pasal 351 ayat (3) KUH Pidana.
Atau
Keempat : Melanggar Pasal 44 ayat (3) UUPKDRT.
Dalam penyusunan dakwaan tersebut, tampak bahwa JPU tidak profesional dalam menyusun surat dakwaannya. Dikatakan tidak profesional karena pada dakwaan alternatif yang dibuatnya tersebut, Pasal 44 ayat (3) UUPKDRT ditempatkan pada dakwaan paling terakhir yakni pada dakwaan keempat, sedangkan dalam tuntutan JPU tersebut bermaksud hendak mengenakan Pasal 44 ayat (3) UUPKDRT ini kepada terdakwa Sefriansyah Nasution.
Seharusnya Pasal 44 ayat (3) UUPKDRT ini ditempatkan pada dakwaan pertama sebagai alternatif pertama yang diyakininya untuk menjerat pelaku. Ada kesan bahwa JPU tidak profesional menyusun dakwaannya, pada satu sisi JPU yakin dalam tuntutannya pada dakwaan keempat tetapi di sisi lain JPU tampak tidak yakin sehingga dimuatnya Pasal 340 KUH Pidana pada dakwaan pertama.
Andi Hamzah mengatakan meskipun dikatakan hakim bebas menentukan keputusannya namun tetap terikat pada apa yang didakwakan JPU.100 Salah satu masalah yang dihadapi sekaligus sebagai kendala yang cukup serius bagi profesi hukum khususnya Kejaksaan menurut Sumariyono adalah kualitas pengetahuan profesi hukum.101
Jika kondisi tersebut terjadi pada institusi Kejaksaan, maka produk yang dihasilkannya cenderung akan menimbulkan persoalan di mana persoalan itu akan
100 Andi Hamzah, “Kemandirian dan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman”, Makalah Disampaikan pada: Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII Tema Penagakan Hukum Dalam Era Pembangunan Berkelanjutan, Diselenggarakan Oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Denpasar, Tanggal 14-18 Juli 2003, 2-3.
101 Abdul Kadir Muhammad, Etika Profesi Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997), hal.
67. Masalah lainnya adalah: kecenderungan terjadinya penyalahgunaan profesional hukum;
kecenderungan profesi hukum menjadi kegiatan bisnis; terjadinya penurunan kesadaran dan kepedulian sosial; dan kontinuitas sistem yang sudah usang.
mengarah pada suatu kondisi ketidakprofesionalan JPU dalam menjalankan tugas dan wewenangnya termasuk dalam membuat dakwaan dan melakukan penuntutan.
Lembaga Kejaksaaan merupakan salah satu lembaga profesi hukum yang membutuhkan profesionalisme, maka JPU diperlukan keprofesionalannya dalam membuat dakwaan dan melakukan penuntutan terhadap perkara pidana.102
Antara dakwaan alternatif dan dakwaan subsidairitas masing-masing sama-sama bersifat mengecualikan. Menurut Andi Hamzah, dakwaan alternatif lain halnya dengan dakwaan subsidair, dakwaan alternatif langsung dilakukan pemilihan pasal mana yang didakwakan paling tepat tanpa memperhatikan urutannya, sedangkan dalam dakwaan subsidair menentukan pilihan terlebih dahulu diperiksa adalah dakwaan primair, jika tidak terbukti barulah diperiksa dakwaan subsidair, dan seterusnya. Secara teoritis dakwaan alternatif dan dakwaan subsidairitas berbeda tetapi di dalam prakteknya sering dipersamakan dalam satu pengertian yang sama yaitu dakwaan subsidair saja.103
Bagi JPU diperlukan profesionalismenya di dalam menentukan bentuk-bentuk dakwan khususnya kecermatan dan ketajamannya dalam menentukan dakwaan alternatif atau dakwaan subsidair. Faktor ini berpotensi mengakibatkan fatal dalam persidangan di mana hakim memutuskan suatu dakwaan JPU yang tidak ada kecermatan dan ketajaman JPU dalam menentukan dakwaannya secara baik dan benar.
102 Supriadi, Etika & Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hal. 19, dan hal. 28-147.
103 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana…OP. cit., hal. 190.
Seperti yang dikatakan Andi Hamzah bahwa di dalam praktek jarang sekali JPU membuat dakwaan alternatif yang sesungguhnya yaitu dalam satu dakwaan tercantum satu dua atau lebih perbuatan yang didakwakan yang saling mengecualikan, misalnya dakwaan seperti, “bahwa perbuatan itu dilakukan oleh terdakwa dengan direncanakan terlebih dahulu atau tidak direncanakan terlebih dahulu....”. Dalam hal ini jelas sekali dan nyata bahwa dakwaan ini bersifat alternatif (tidak ada primair maupun subsidiar), sehingga dengan dakwaan alternatif demikian, hakim dapat secara langsung memilih perbuatan yang mana (yang direncanakan atau yang tidak direncanakan) yang terbukti. Maka unsur yang pertama dialnggar adalah Pasal 340 KUH Pidana sedangkan Pasal yang kedua melanggar Pasal 338 KUH Pidana.104
JPU terkendala dalam hal menentukan substansi dakwaan, disebabkan JPU tidak secara langsung mengetahui peristiwa kongkrit tentang tindak pidana terkait.
Untuk menentukan isi dakwaan alternatif dalam surat dakwaannya yang akan didakwakan kepada terdakwa pada kenyataannya (termasuk dalam perkara a quo) mencantumkan isi yang sama atau persis sama atau tetap saja isi dakwaan pertama yang didakwakan pada dakwaan kedua dengan cara copy paste sedangkan pasal-pasal yang dikenakan dalam dakwaan tersebut adalah berbeda.105
104Ibid.
105 Cardiana Harahap, Peranan Kejaksaan Dalam Melakukan Penuntutan Perkara Tindak Pidana Narkotika, Tesis, (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2013), hal. 87 dan hal.
98.
Sebagaimana diketahui bahwa jabatan jaksa adalah jabatan profesi hukum.
Secara umum profesi adalah pekerjaan yang mulia dengan keahlian khusus, menuntut pengetahuan yang tinggi dengan latihan yang istimewa. Sebagai profesional harus betanggung jawab atas segala akibat yang ditimbulkan dari pekerjaan profesi yang dijalankannya itu.106
Eksaminasi sebagai suatu cara untuk meminimalisir ketidakprofesionalan JPU dalam membuat dakwaan dan tuntutan. Eksaminasi berarti melakukan pengujian terhadap isi di dalam surat dakwaan, tidak terkecuali terhadap putusan pengadilan juga boleh dilakukan eksaminiasi. Eksaminasi merupakan sarana bagi pimpinan untuk menilai kecapakan dan kemampuan teknis para jaksa/JPU dalam melaksanakan tugas menyelesaikan perkara-perkara pidana, baik dari sudut teknis yuridis maupun administrasi negara. Tujuannya untuk meningkatkan profesionalisme JPU dan mendapatkan bahan masukan berupa fakta-fakta dan data pelaksanaan hukum materil dan formil dalam penanganan perkara pidana oleh JPU, setidak-tidaknya kelemahan yang bersifat teknis yuridis dan administrasi negara dapat diminimalisir.
Jaksa sebagai jabatan profesi, berarti JPU harus menjalankan tugas mendakwa dan menuntut terdakwa harus didukung dengan suatu keahlian khusus, pengetahuan yang tinggi, dan bertanggung jawab.
107
JPU yang tidak profesional menimbulkan konsekuensi, jika dakwaan dan tuntutan yang dibuatnya tidak mendasarkan pada kriteria profesi hukum yang
106Supriadi, Op. cit., hal. 16-17.
107Yesmil Anwar dan Adang, Sistim Peradilan Pidana, Konsep, Komponen, &
Pelaksanaannya Dalam Penegakan Hukum Di Indonesia, (Bandung: Widya Padjajaran, 2009), hal.
195 dan hal. 210-211. Istilah eksaminasi berasal dari Bahsa Inggris yaitu examination yang berarti ujian atau pemeriksaan.
didasarkan pada nilai-nilai moral, maka berpotensi terhadap produk dakwaan dan tuntutannya menghasilkan dakwaan dan tuntutan yang tidak sempurna, asal-asalan, hanya sekedar menjalankan tugas saja, tidak benar-benar menghayati, merenungkan dan mengamalkan kriteria profesinya. Sehingga perilaku demikian dapat pula berpotensi mempengaruhi putusan pidana, bahkan putusan hakim antar tingkat pengadilan bisa menimbulkan disparitas pidana, apalagi perilaku tersebut telah terjadi secara sistemik di antara oknum sesama aparat penegak hukum menyalahgunakan tugas dan wewenangnya di dalam kerangka sistem peradilan pidana.
Hakim semestinya berpegang teguh pada surat dakwaan yang diajukan oleh JPU.108 Surat dakwaan menjadi landasan pemeriksaan hakim di sidang Pengadilan.
Pemeriksaan di sidang Pengadilan tidak boleh menyimpang dari apa yang dirumuskan di dalam surat dakwaan.109 Walaupun surat dakwaan dapat diubah tetapi harus sesuai dengan ketentuan KUHAP dilakukan sebelum pemeriksaan di sidang Pengadilan.110
Hakim akan melihat faktor apa yang didakwakan, jika dakwaan tersebut membuka lebar dan terlalu luas, maka JPU harus pula membuktikan dakwaan yang terbuka lebar dan luas itu. Oleh karenanya, surat dakwaan harus dibuat ringkas,
108Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 47/K/Kr/1956 tanggal 28 Maret 1957, menentukan bahwa yang menjadi dasar hakim Pengadilan memutus perkara adalah tuduhan (dakwaan) bukan tuduhan atau berkas perkara yang dibuat oleh Polisi.
109M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Edisi Kedia, (Jakarta: Sinar Grafika, 1985), hal. 389. Jika surat dakwaan berisi tuduhan melakukan perampokan di malam hari dengan menggunakan senjata dengan didahului dengan pembongkaran dan penembakan, maka sepanjang ruang lingkup itulah batas-batas pemeriksaan yang dibolehkan di sidang Pengadilan.
110Matteus A. Rogahang, “Suatu Study Tentang Akibat Hukum Dari Surat Dakwaan Kabur Dalam Perkara Pidana”, Journal Lex Crimen, Vol.I/No.4/Okt-Des/2012, hal. 2-3.
cermat, jelas dan tepat terjadinya delik (tindak pidana) yang didakwakan. Kebiasaan JPU menguraikan panjang lebar tentang latar belakang fakta-fakta delik menurut Andi Hamzah tidak perlu bahkan dengan berbuat demikian menurutnya JPU telah membuka arena lebih luas lagi, sehingga JPU harus membuktikan hal-hal yang ditambahkan itu.111
Dalam prakteknya ada 4 (empat) bentuk surat dakwaan yaitu: 1) dakwaan tunggal, 2) dakwaan alternatif, 3) dakwaan kumulatif, dan 4) dakwaan subsidiariras (bersusun lapis). Dakwaan tunggal menurut M. Yahya Harahap disebut juga dengan dakwaan biasa. Dakwaan tunggal hanya berisi satu dakwaan saja. Perumusan dakwaan tunggal umumnya dijumpai dalam tindak pidana yang jelas serta tidak mengandung faktor penyertaan (mededaderschap) atau faktor perbarengan (concurcus) atau alternatif atau faktor subsidiair.112
Dalam menentukan dakwaan tunggal di dalam surat dakwaan, JPU harus benar-benar yakin bahwa dengan dakwaan tunggal tersebut terdakwa tidak lepas dari jeratan hukum sesuai dengan yang didakwakan. Dakwaan tunggal ini mengandung risiko besar, jika dakwaan tunggal tersebut gagal, maka tidak ada alternatif lain bagi hakim kecuali membebaskan terdakwa (vrijspraak).113
Baik pelakunya maupun ketentuan tindak pidana yang dilanggar sedemikian rupa harus jelas dan sederhana, sehingga surat dakwaannya cukup dirumuskan dalam
111Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana....Op. cit, hal. 177.
112M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan..Op. cit, hal. 398. Contohnya dari hasil penyidikan terhadap tindak pidana pencurian biasa sebagaimana diatur dalam Pasal 362 KUH Pidana hanya dilakukan oleh pelaku dengan sendiri.
113Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana, Sutau Tinjauan Khusus Terhadap Surat Dakwaan, Eksepsi dan Putusan Peradilan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 56.
bentuk dakwaan tunggal. Misalnya, suatu perbuatan dilakukan hanya sendiri oleh terdakwa, tidak menyentuh faktor penyertaan atau perbarengan atau alternatif atau subsidiair. Jika demikian halnya, cukup merumuskan dakwaan tunggal dengan uraian secara jelas dan memenuhi syarat perbuatan melawan hukum materil dan formil yang diatur dalam Pasal 142 ayat (2) KUHAP.114
Sedangkan jika dengan menggunakan dakwaan alternatif, maka hakim dapat secara langsung memilih untuk menentukan dakwaan mana yang cocok sesuai dengan yang terbukti di persidangan. Dakwaan alternatif disebut juga dengan dakwan pilihan (keuze tenlastelegging).115 Menurut M. Yahya Harahap dakwaan alternatif ini disebut juga dengan dakwaan yang saling mengecualikan dan memberikan pilihan.116
Dakwaan yang berbentuk alternatif bersifat saling mengecualikan dan memberikan pilihan kepada hakim atau pengadilan untuk menentukan dakwaan mana yang tepat untuk dipertanggungjawabkan kepada terdakwa sehubungan dengan tindak pidana yang dilakukan. Ciri dakwaan alternatif dihubungkan dengan kata sambung
“atau” yang berartti memberikan pilihan bagi hakim untuk menerapkan salah satu di Tujuan dakwaan alternatif adalah untuk mencegah pelaku terlepas atau bebas dari pertanggungjawaban hukum pidana dan memberi pilihan kepada hakim untuk menerapkan hukum yang lebih tepat.
114Pasal 142 ayat (2) KUHAP menentukan: Penuntut umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi:
a. Nama Iengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka;
b. Uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan termpat tindak pidana itu dilakukan.
115Ibid., hal. 57.
116M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan…Op. cit., hal. 400.
antara dakwaan-dakwaan yang diajukan. Dakwaan alternatif inilah yang dibuat JPU dalam kasus a quo.
Sekiranya hakim berpendapat bahwa dakwaan yang pertama tidak tepat atau tidak terbukti, hakim dapat beralih memilih dakwaan kedua, dan berikutnya. Itu sebabnya dakwaan alternatif disebut dengan dakwaan yang memberikan kesempatan kepada hakim memilih salah satu di antara dakwaan yang diajukan dalam surat dakwaan. Risikonya sangat besar, jika salah satu dakwaan latrenatif tidak terbukti, maka terdakwa dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana atau dibebaskan dari dakwaan (vrijspraak).
Dikatakan mengandung risiko besar, sebab cara pemeriksaan dakwaan alternatif yang pertama kali hakim memeriksa dan mempertimbangkan terlebih dahulu adalah dakwaan pada urutan pertama, jika dakwaan pada urutan pertama terbukti, maka pemeriksaan untuk dakwaan selanjutnya tidak perlu diperiksa dan dipertimbangkan lagi oleh hakim. Jika dakwaan pertama ternyata tidak terbukti, maka barulah hakim melanjutkan dakwaan yang selanjutnya dengan ketentuan harus membebaskan terdakwa dari dakwaan pertama yang tidak terbukti tersebut dan menjatuhkan hukum terhadap dakwaan berikutnya yang dianggap terbukti.
Tetapi dalam perkara a quo, majelis hakim tidak menyebutkan di dalam putusannya, bahwa terdakwa dibebaskan dari dakwaan pertama, kedua, dan ketiga, tetapi hanya disebutkan terbukti pada dakwaan keempat. Berdasarkan kajian teoritis, seharusnya majelis hakim harus menyatakan dalam putusannya bebas dari dakwaan
pertama, kedua, dan ketiga, karena yang terbukti dalam perkara a quo adalah dakwaan keempat saja.
Ada kemungkanan majelis hakim melakukan pemeriksaan terhadap dakwaan alternatif dilakukan dengan cara memeriksa dakwaan secara keseluruhan, dari hasil pemeriksaan atas keseluruhan isi dakwaan, maka barulah hakim memilih dakwaan mana yang paling tepat menurutnya untuk dijatuhkan kepada terdakwa. Dengan cara seperti ini juga dibenarkan, tetapi harus disebutkan juga terdakwa dibebaskan dari dakwaan yang tidak terbukti tersebut.
Dalam hal menentukan dakwaan kumulasi atau kumulatif maksudnya adalah surat dakwaan yang disusun berupa rangkaian dari beberapa dakwaan atau disebut juga dengan gabungan dari beberapa dakwaan sekaligus. Dakwaan kumulasi ini dapat dilakukan pada saat yang sama dan dalam pemeriksaan di sidang pengadilan yang sama, kepada terdakwa diajukan gabungan beberapa dakwaan sekaligus. Tata cara pengajuan dakwaan kumulasi disebut juga penggabungan perkara dalam satu surat dakwaan.117
Sehubungan dengan gabungan beberapa dakwaan diatur dalam Pasal 141 KUHAP118
117Ibid., hal. 404.
118Pasal 141 KUHAP menentukan: Penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dan membuatnya dalam satu surat dakwaan, apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan ia menerima beberapa berkas perkara dalam hal:
, sedangkan pemecahan (splitsing) perkara diatur dalam Pasal 142
a. Beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya;
b. Beberapa tindak pidana yang bersangkut-paut satu dengan yang lain;
KUHAP yang terdiri dari beberapa orang didakwa secara terpisah. Dalam hal ini JPU boleh mengajukan dakwaan dalam bentuk kumulasi, baik kumulasi perkaranya, kumulasi terdakwanya maupun sekaligus dengan kumulasi dakwaannya. Untuk lebih mudah dipahami dakwaan yang berbentuk kumulasi biasanya dicantumkan Pasal 55 KUH Pidana tentang delik penyertaan (deelneming) atau mencantumkan Pasal 63, Pasal 64, Pasal 65, Pasal 66 atau Pasal 70 KUH Pidana tentang delik perbarengan (concursus atau samenloop).
Sedangkan bentuk dari surat dakwaan subsidiaritas (subsidiary) terdiri dari dua atau beberapa dakwaan yang disusun dan dijejerkan secara berurutan (berturut-turut), mulai dari dakwaan tindak pidana yang terberat sampai pada dakwaan tindak pidana yang ringan. Sering juga dakwaan subsidiaritas ini disebut dengan dakwaan pengganti, di mana dakwaan urutan kedua (subsidair) menggantikan dakwaan primer.119 Lilik Mulyadi mengatakan dakwaan subsidiariras merupakan dakwaan bersusun lapis atau berlapis-lapis sebagai ciri utamanya dari dakwaan terberat sampai ringan berupa susunan primer, subsider, lebih subsider, lebih-lebih subsider, dan seterusnya.120
Oleh karena dakwaan subsidairitas disebut juga sebagai dakwaan pengganti, berarti dakwaan urutan kedua menggantikan dakwaan dakwaan urutan paling atas.
Sehingga sering dijumpai dalam praktek pengurutan surat dakwaan yang lebih dari
c. Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut-paut satu dengan yang lain, akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya, yang dalam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan.
119Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, cet. 3, (Bandung: PT.
Rafika Aditama, 2003), hal. 402.
120Lilik Mulyadi, Hukum Acara...Op. cit., hal. 74.
dua atau tiga dalam bentuk perumusan dakwaan pidana yang terberat berada pada urutan pertama sebagai dakwaan primair. Disusul kemudian dengan dakwaan yang semakin ringan berupa rumusan dakwaan “subsidair” dan di bawah urutan dakwaan subsidair masih dimungkinkan lagi dakwaan diurutkan secara berjejer, yang perumusannya, “subsidair lagi”, “lebih subsidair lagi”, dan “lebih-lebih subsidair lagi”.
Dakwaan dalam bentuk subsidairitas disusun jika peristiwa tindak pidana yang terjadi menimbulkan suatu akibat dan akibat yang ditimbulkan itu meliputi atau berkaitan erat dengan beberapa ketentuan pidana yang hampir saling berdekatan cara-cara pelaku melakukan delik. Alasan menggunakan dakwaan subsidairitas adalah jika fakta dan akibat yang ditimbulkan pelaku tindak pidana berkaitan (bersesuaian) dengan pasal pidana tertentu, tetapi JPU ragu atau tidak berani menentukan secara pasti bahwa akibat itu telah berkaitan terhadap pasal tersebut.
Seharusnya dalam perkara a quo, JPU membuat atau menyusun surat dakwaannya dalam bentuk subsidiaritas ini, bukan dakwaan alternatif, atau jika menggunakan dakwaan alternatif, maka JPU harus mencantumkan Pasal 44 ayat (3) UUPKDRT dalam dakwaan pertama, tujuannya adalah keyakinan JPU tampak pada dakwaan pertama tersebut. Sedangkan tujuan membuat dakwaan dalam perkara a quo dalam bentuk subsidiaritas agar keragu-raguan JPU untuk mendakwa pasal-pasal yang mana yang relevan tidak menimbulkan pandangan yang negatif terhadap JPU.
Oleh karena itu, JPU harus mengambil sikap untuk membuat dakwaan dalam bentuk subsidairitas dengan pertimbangan, jika di persidangan pengadilan, JPU tidak
mampu membuktikan atau ragu terhadap dakwaan utama, maka telah mempersiapkan dakwaan pengganti (subsidair) sebagai pengganti dakwaan utama (primair). Jika dakwaan subsidair juga gagal dibuktikan, JPU telah menyediakan pula dakwaan penggantinya berupa “subsidair lagi” atau “lebih subsidair lagi” atau lebih-lebih sibsidair lagi”, dan seterusnya. Konsekuensi dari dakwaan subsidairitas ini JPU memasang jerat mulai dari jerat yang kasar sampai yang sehalus-halusnya, dengan perhitungan salah satu jerat harus mengena.