• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP TINDAK

C. Analisis Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Tindak

Sehubungan dengan teori pertanggungjawaban pidana yang digunakan untuk menganalisis permasalahan di dalam penelitian ini, dan sehubungan pula dengan penerapan rumusan tindak pidana yang telah dirumuskan ke dalam unsur-unsurnya pada bab II sekaligus telah membuktikan bahwa pelaku (Sefriansyah Nasution) telah memenuhi rumusan unsur kesalahan (schuld) karena kesengajaan (dolus/opzet) bukan karena kelalaian (culpa) atau karena alasan yuridis lainnya. Maka terhadap pelaku tersebut harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya atas pidana yang dijatuhkan majelis hakim kepadanya.

Teori pertanggungjawaban sebagaimana telah diuraikan pada kerangka teori pada bab I memiliki prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (schuld) merupakan teori pertanggungjawaban yang sangat relevan dengan kasus pembunuhan ini, bagaimana pelaku dapat mempertanggungjawabkan karena sengaja membunuh istrinya sendiri. Inti dalam teori pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan dalam hukum pidana adalah tuntutan pidana baru dapat diajukan oleh JPU jika benar-benar yakin pelaku telah memenuhi syarat kesalahan (yaitu kesengajaan atau kelalaian).

Kesalahan (schuld atau negligence) menurut hukum pidana mencakup kesengajaan dan kelalaian. Secara umum dalam hukum pidana dianut adanya asas

“tidak dipidana jika tidak ada kesalahan” (geen straf zonder schuld) artinya dalam pertanggungjawaban pidana model ini disandarkan pada adanya unsur kesalahan yaitu kesengajaan (dolus) atau kelalaian (culpa).157

Kesengajaan (dolus) merupakan bagian dari kesalahan. Kesalahan pelaku berkaitan dengan kejiwaan yang lebih erat kaitannya dengan suatu tindakan terlarang karena unsur penting dalam kesengajaan adalah adanya niat (mens rea) dari pelaku itu sendiri. Ancaman pidana karena kesengajaan lebih berat dibandingkan dengan kelalaian atau kealpaan (culpa). Bahkan ada beberapa tindakan tertentu, jika dilakukan dengan kealpaan, tidak merupakan tindak pidana, yang pada hal jika dilakukan dengan sengaja, maka hal itu merupakan suatu tindak pidana.158

Sifat pertama dari kesengajaan adalah dolus malus, yakni dalam hal seseorang melakukan tindakan pidana tidak hanya seseorang itu menghendaki tindakannya, tetapi ia juga menginsyafi tindakannya itu dilarang oleh undang-undang dan diancam dengan pidana. Sifat kedua dari kesengajaan yaitu dalam hal seseorang melakukan tindak pidana tertentu cukuplah jika atau hanya menghendaki tindakannya itu.

Artinya ada hubungan yang erat antara kejiwaannya (batin) dengan tindakannya tidak disyaratkan apakah ia menginsyafi bahwa tindakannya itu dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang.159

157Sutan Remy Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, (Jakarta: Grafiti Pers, 2007), hal. 78.

158EY. Kanter, dan SR. Sianturi, Op. cit, hal. 170.

159Ibid, hal. 171.

Dalam perkara a quo terbukti bahwa terpidana sengaja membunuh istrinya dengan seketika itu juga. Artinya niat pelaku muncul pada saat amarahnya bergejolak oleh karena istrinya (korban) tidak mau memperlihatkan isi sms yang masuk ke HP korban kepada pelaku, apalagi korban menghayunkan tangannya ke arah kening pelaku, sehingga semakin membuat emosi pelaku (suaminya). Pada saat itulah muncul atau timbul niat pelaku untuk membunuh korban yang diperlihatkan dengan tindakannya (actus reus) yaitu berusaha mencekek leher korban dan menekankan ke lantai serta mengikatnya dengan sebuah ikat pinggang dan menariknya ke arah yang berlawan hingga korban pun tewas.

Dari teori keseimbangan seperti yang telah dijelaskan di bab II dan berdasarkan kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) serta berdasarkan kesengajaan sebagai kepastian (opzet bij zakerheids bewustzijn), maka dapat dipastikan bahwa maksud dari pelaku dengan tindakannya (actus reus) tersebut dipastikan korban akan mati. Tindakan korban yang tidak mau menunjukkan sms kepada pelaku dan menghayunkan tangannya ke arah pelaku adalah tidak seimbang dengan tindakan yang diberikan pelaku dengan cara demikian sehingga dengan teori yang disinggung pada bab II tentang kesengajaan telah benar-benar terpenuhi oleh pelaku yaitu sengaja (dolus).

Sengaja diartikan sebagai kemauan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diperintahkan oleh undang-undang. Ada 2 (dua) teori yang berhubungan dengan kesengajaan yaitu teori kehendak dan teori pengetahuan (teori membayangkan). Teori kehendak memandang bahwa sengaja adalah kehendak untuk

mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang. Sedangkan menurut paham teori pengetahuan (teori membayangkan) memandang bahwa sengaja apabila suatu akibat yang ditimbulkan karena suatu tindakan yang dibayangkan sebagai maksud tindakan itu dan karena itu tindakan yang bersangkutan dilakukan sesuai dengan bayangan yang terlebih dahulu tidak dibuat.160

Selain kesalahan yang didasarkan pada unsur kesengajaan, unsur lain yang dipenuhi oleh pelaku agar dapat dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana secara umum adalah unsur kelalaian atau kealpaan (culpa). Dikatakan lalai (alpa) harus memiliki karakteristik dengan sengaja melakukan sesuatu yang ternyata salah atau dengan kata lain bahwa pelakunya kurang kewaspadaan dalam melakukan sesuatu hal sehingga mengakibatkan penderitaan atau kematian pada orang lain.

Dalam hal lalai (alpa), pelaku dapat memperkirakan akibat yang akan terjadi dari perbuatannya itu, tetapi ia merasa dapat mencegahnya. Oleh sebab pelaku tidak mengurungkan niatnya untuk berbuat sesuatu itu, maka terhadapnya dapat dipertanggungjawabkan secara pidana karena melakukan perbuatan melawan hukum.161

Kelalaian pada diri pelaku terdapat kekurangan pemikiran, kurang waspada, tidak hati-hati, kekurangan pengetahuan, dan kekurangan kebijaksanaan. Sehingga jika dipandang dari kealpaan yang disadari, ada kelalaian yang berat dan ada kelalaian yang ringan. Kealpaan yang disadari, pelaku dapat atau mampu

160Ibid, hal. 180.

161Ibid, hal. 192.

membayangkan atau memperkirakan akibat yang ditimbulkan perbuatannya namun ketika melakukan tindakannya, tetap saja menimbulkan akibat fatal kepada orang lain walaupun sudah ada tindakan pencegahan dari pelaku. Kelalaian yang tidak disadari bilamana pelaku tidak dapat atau tidak mampu menyadari atau tidak memperkirakan akan timbulnya sesuatu akibat.162

Dipidananya seseorang tidaklah cukup jika seseorang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Walaupun Tetapi dalam perkara a quo tidak terpenuhi kesalahan berdasarkan kelalaian, karena dapat diperlihatkan dari aksi si pelaku dengan cara-cara yang telah melampaui batas sepatutnya, sehingga tidak mungkin lagi tindakan si pelaku dengan mencekek leher korban lalu menekankannya ke lantai dan mengikatnya dengan ikat pinggang dikatakan lalai. Pelaku dalam kondisi ini telah menyadari tindakannya akan kematian korban, maka unsur kesalahan yang paling tepat adalah karena kesengajaan (dolus) bukan karena kelalaian (culpa).

Baik kesengajaan (dolus) maupun kelalaian atau kealpaan (culpa) menurut hukum pidana merupakan suatu perbuatan kesalahan dan tetap dipidana. Oleh sebabnya, dalam pertanggungjawaban pidana harus membuktikan kesalahan terlebih dahulu agar pelakunya dapat dipidana. Kedua unsur kesalahan tersebut dianut dalam hukum pidana secara umum di Indonesia dan sampai saat ini masih tetap dipandang sebagai yang lebih baik dan paling efektif menentukan seseorang dapat atau tidaknya dipidana.

162Ibid, hal. 192-194.

perbuatannya telah memenuhi rumusan delik dalam undang-undang jika tidak terdapat kesalahan, maka terhadapnya tidak dapat dijatuhkan pidana. Tidak akan dapat dipidana seseorang jika kesalahan (kesengajaan atau kealpaan) tidak bisa dibuktikan. Jika ternyata dalam pemidanaan terbukti kesalahan pelaku secara pidana, maka terhadap pelaku dijatuhkan pidana oleh majelis hakim yang memeriksa dan mengadilinya.

Berdasarkan putusan majelis hakim tersebut di atas, maka nyatalah bahwa pelaku/terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang berakibat matinya korban. Bersalah dalam hal ini dimaknai bukanlah suatu kelalaian (culpa) tetapi pelaku telah melakukan kesalahan karena kesengjaan (dolus) menganiaya istrinya sendiri dalam waktu seketika menimbulkan kematian korban. Pertanggungjawaban bagi pelaku/terpidana dalam hal ini dikenakan adalah pertanggungjawaban berdasarkan kesengajaan.

Jika dikaitkan dengan teori hubungan sebab akibat (teori kausalitas), maka faktor penyebab kematian korban harus dilihat dari sebab yang mengakibatkan mati, dan penyebab itu harus dilihat sebagai penyebab yang terdekat. Sebagaimana EY Kanter dan SR Sianturi, mengatakan secara teoritis mengenai penyebab suatu tindak pidana yang menjadi sorotan utama adalah penyebab itu dilarang atau melawan

hukum, penyebab yang terdekat kepada tindak pidana itu yang dipersoalkan dalam teori kausalitas.163

Penyebab itu dapat berupa suatu perbuatan tertentu, pada saat lain berupa suatu kehendak, suatu keadaan, suatu dorongan, dan lain-lain. Contoh pemukulan terhadap si A sehingga luka dan mengakibatkan mati, pencurian kuda andong milik si B mengakibatkan B tidak bisa mencari nafkah, penghinaan terhadap C mengakibatkan C merasa terhina dan sebagainya. Semua contoh ini adalah masuk dalam teori sebab akibat. Suatu akibat pasti adanya penyebabnya.164

Jika penyebab yang terdekat itu sesuatu yang terdapat di dalam hati pelaku, maka jelas adanya hubungan yang erat antara penyebab dan dan kesalahan pelaku.

Sedangkan jika penyebab tersebut berupa sutau perbuatan, maka perbuatan/tindakan itu adalah suatu larangan atau keharusan yang terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana. Dengan perkataan lain, perbuatan itu bertentangan dengan hukum.

Keadaan ini memperlihatkan adanya kaitan antara penyebab dengan sifat melawan hukum dari tindak pidana yang bersangkutan.165

Hubungan sifat melawan hukum dari suatu perbuatan dengan kesahalan (dolus atau culpa) hanya akan bisa dipahami jika suatu perbuatan dilakukan oleh seseorang yang menghendaki terjadinya suatu kejadian. Dengan perkataan lain perbuatan itu merupakan perwujudan dari gerak jasmaniah seseorang, sedangkan

163EY Kanter dan SR Sianturi, Op. Cit., hal. 121.

164Ibid.

165Ibid., hal. 122.

kesalahan tersebut merupakan kenyataan kejiwaan pada orang yang bersangkutan yang memerintahkan gerak tersebut.166

166Ibid.

Hubungan antara sebab-akibat dan sifat melawan hukum dalam perkara a quo, tampak dari penyebabnya yang terdekat yaitu tersangka mengambil ikat pinggang yang tergantung di dinding untuk digunakan mengikat leher korban yang mengakibatkan habisnya nyawa korban (mati). Namun jika diruntut ke belakang, masih banyak penyebab lain yang termasuk sebagai perbuatan melawan hukum seperti, perbuatan tersangka yang mencekik leher korban dengan menggunakan kedua tangan sekuat tenaga dengan posisi secara berhadapan dengan korban hingga lidah korban menjulur, korban kesakitan dan tidak berdaya.

Kemudian tampak pula tindakan yang menarik rambut korban ke belakang hingga korban tersungkur. Kedua faktor ini juga termasuk sebagai penyebab, namun penyebab yang lebih dekat yang mengakibatkan korban mati adalah ketika pelaku menggunakan ikat pinggang untuk mengikat leher korban hingga tidak bernafas.

Penyebab yang terdekat inilai yang mengakibatkan si korban mati.

Pada prinsipnya unsur kesengajaan (dolus) mengandung pidana yang lebih berat daripada kelalaian (culpa) sehingga pantas dan wajar serta patut dijatuhkan kepada terpidana dengan pidana 10 (sepuluh) tahun penjara dengan denda Rp.45.000.000,- (empat puluh lima juta rupiah), itupun majelis hakim telah mempertimbangkan dengan cermat atas dasar pemidanaan pada orientasi utilitarian.

Pertimbangan majelis hakim dalam putusannya membenarkan kejadian pembunuhan tersebut dengan pertimbangan membenarkan bahwa:

1. Korban (Reni Mayasari Lubis) dan pelaku (Sefriansyah Nasution) merupakan pasangan suami istri yang sah (diperoleh dari saksi (Ebta Marlina pemilik rumah kontrakan) tetapi sudah bercerai dan pisah.

2. Evan Darma Surbakti (adik kandung Ebta Marlina) juga membenarkan kejadian pembunuhan itu.

3. Emrizal Siregar (Kepling setempat) membenarkan kejadian itu setelah disampaikan oleh Evan Darma Surbakti kepadanya langusng melihat TKP dan melaporkan kejadian pembunuhan itu ke pihak yang berwajib (Polisi) setempat.

4. Terpidana memberikan keterangan di persidangan bahwa dirinya (terpidana Sefriansyah Nasution) atau pelaku telah menikah pada tahun 2011 dengan korban. Di mana pelaku adalah seorang duda sedangkan korban janda punya anak satu. Dalam membina rumah tangganya sering terjadi percekcokan.

5. Ditambah lagi dengan sebuah kendaraan bermotor roda dua merek honda beat yang dipinjamkan pelaku kepada abang korban tidak dikembalikan atau digadaikan sehingga pelaku dilaporkan oleh pemiliknya melaporkan terdakwa/pelaku ke Polres Labuhan Batu yang semakin menyebabkan terdakwa hidup tidak menentu akhirnya kabur merantau.

6. Majelis hakim di persidangan membenarkan peritiwa pembunuhan itu bermula dari ketika pelaku menanyakan tentang keberadaan kendaraan

bermotor merek honda Beat yang dipinjamkannya kepada abang kandung korban yang dijawab oleh korban dengan sepela, sehingga membuat pelaku agak emosi karena merasa disepelekan. Di saat itu masuk sms dari seseorang ke HP milik korban, karena tidak diberitahukan korban kepada pelaku, membuat pelaku bertambah emosi, hingga dengan masuknya sms kedua semakin membuat pelaku bertambah emosi. Karena semakin curiga dengan melihat kondisi cara berpakaian pelaku yang semakin seksi dan tidak mau memberitahukan apa pekerjaan korban kepada pelaku, pelaku bermaksud hendak melihat isi sms itu dengan mengambil HP korban, korban berlari ke luar kamar, tetapi ditarik pelaku (suaminya) kembali ke kamar dengan memegang rambut korban.

7. Pelaku bertanya lagi tentang isi sms tersebut dengan posisi pelaku masih menarik rambut korban, tidak juga dijawab oleh korban, justru korban menghempaskan tangannya ke belakang hingga mengenai wajah pelaku, yang membuat pelaku semakin emosi dan menarik rambut korban dengan sekuat tenaga lalu mencekek leher korban dengan sekuat tenaga dalam posisi berhadapan hingga menekankannya ke lantai sampai lidah korban ke luar menjulur. Niat korban dalam kondisi ini semakin tampak untuk membunuh istrinya (korban) dengan mengambil sebuah ikat pinggang yang tergantung dan melilitkan pada leher korban dengan menariknya ke arah yang berlawanan hingga pelaku memastikan korban telah mati.

Majelis hakim membenarkan bahwa hubungan antara pelaku dan korban adalah hubungan suami istri yang masih sah dan belum bercerai karena belum ada putusan pengadilan yang memutuskan perceraiannya walaupun dikatakan saksi bahwa keduanya telah bercerai (pisah ranjang) tetapi belum bisa disebut bercerai secara hukum karena menurut majelis hakim belum ada putusan yang yang berkekuatan hukum tetap (inkracht) atas perceraian itu.

Dengan pertimbangan itu, atas dakwaan alternatif yang disusun JPU: dakwaan pertama yaitu Pasal 340 KUH Pidana, dakwaan kedua yaitu Pasal 338 KUH Pidana, dakwaan ketiga yaitu Pasal 351 ayat (1) KUH Pidana, dan dakwaan keempat yaitu Pasal 44 ayat (1) UUPKDRT, maka majelis hakim memilih salah satu di antara dakwaan JPU tersebut dengan membuktikan unsur-unsur tindak pidana yang mencocoki dari fakta-fakta delik di lapangan.

Hasil pembuktian di persidangan, majelis hakim tidak yakin terbukti dan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan pertama, kedua, dan ketiga dalam dakwaan JPU tersebut, sehingga dengan pertimbangan atas masih terdapatnya hubungan suami istri yang sah dan belum dapat ditunjukkan adanya putusan pengadilan atas perceraiannya, maka majelis hakim menjatuhkan putusan terhadap dakwaan alternatif JPU yang keempat.

Majelis hakim sama sekali tidak yakin dengan Pasal 340 KUH Pidana tentang pembunuhan berancana dikenakan kepada terpidana Sefriansyah Nasution tersebut, bahkan disebutkan dalam pertimbangan itu, bahwa tindakan pelaku terhadap istrinya merupakan suatu bentuk penganiayaan yang mengakibatkan matinya korban. Akan

tetapi jika dijatuhkan putusan sebagaimana dalam dakwaan kedua yakni Pasal 338 KUH Pidana tentang pembunuhan biasa tidak dapat diterima secara hukum karena di antara pelaku dan korban masih terkiat hubungan suami istri yang sah.

Demikian pula jika diterapkan Pasal 351 ayat (3) KUH Pidana kepada pelaku juga tidak dapat diterima secara hukum. Memang benar bahwa Pasal 351 ayat (3) KUH Pidana ini mengatur tentang penganiayaan yang mengakibatkan korbannya mati, tetapi pasal ini relevan diterapkan jika di antara palaku dan korban tidak ada hubungan atau ikatan suami istri. Tetapi majelis hakim tidak menjelaskan tentang Pasal 351 ayat (3) KUH Pidana ini untuk penganiayaan yang berlaku umum (lex generalis).

Hasil pemeriksaan majelis hakim terhadap rumusan unsur-unsur sebagaimana dalam dakwaan keempat yaitu Pasal 44 ayat (3) UUPKDRT menyatakan bahwa terpidana telah melakukan “kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan matinya orang”. Sehingga majelis hakim menjatuhkan putusan terhadap terdakwa atas dakwaan alternatif dari JPU pada dakwaan yang keempat yaitu Pasal 44 ayat (3) KUH Pidana tentang penganiayaan atau kekerasan di dalam rumah tangga yang mengakibatkan matinya korban.

Selanjutnya majelis hakim juga mempertimbangkan alasan pemaaft atau alasan peniadaan pidana. Ternyata dalam kasus ini bagi terpidana majelis hakim tidak menemukan adanya asalan pemaaf bagi terpidana oleh karena itu majelis hakim berpendapat “pantas dijatuhkan pidana yang setimpal dengan perbuatannya”. Arti setimpal yang dimaksud di sini majelis tidak menjelaskannya tetapi jika dilihat dari

besarnya jumlah pidana penjara yang dijatuhkan adalah selama 10 (sepuluh) tahun sudah sangat setimpal dengan perbuatannya.

Pidana penjara maksimal dalam Pasal 44 ayat (3) UUPDKRT adalah 15 (lima belas) tahu penjara. Dengan penjatuhan pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun kepada terpidana dipandang sudah sangat setimpal karena terdapat hal-hal yang meringankan terpidana lebih dominan daripada yang memberatkan. Sungguhpun hanya satu hal yang memberatkan yakni perbuatan terpidana dilakukan dengan sangat keji dan kejam serta tidak manusiawi terhadap istrinya sendiri tetapi majelis hakim juga berpendapat terpidana menyesali perbuatannya, berjanji tidak mengulanginya, bersikap sopan di persidangan, dan belum pernah dipidana.

Sehingga dengan pertimbangan majelis hakim yang demikian, maka wajar putusan majelis hakim mengurangi 4 (empat) tahun dari jumlah tuntutan pidana JPU yakni pidana penjara selama 14 (empat belas) tahun. Majelis hakim tidak sependapat dengan JPU yang menuntut terdakwa/terpidana dengan tuntutan pidana penjara selama 14 (empat belas) tahun. Oleh karena pertimbangan majelis hakim dari sisi pemidanaan saat ini orientasi dari memidana bukanlah membalas dendam, nestapa atau penderitaan, tetapi harus dipertimbangkan pada orientasi perbaikan pelaku dan perlindungan terhadap kelaurga korban.

Dari pengurangan jumlah tuntutan pidana penjara tersebut menunjukkan bahwa orientasi pemidanaan yang dimiliki majelis hakim bukan menganut filosofi pemidanaan yang bersifat retributif semata, karena di saping menjatuhkan pidana

perlu pula memperhatikan manfaat lainnya sebagaimana yang dikembangkan oleh aliran atau teori-teori pemidanaan utilitarian.

Menyinggung mengenai teori-teori pemindanaan, banyak para ahli berbeda pandangannya menyikapi tujuan pemidanaan. Menurut David Fogel dari tujuan pemidanaan untuk mengimplementasikan hukum pidana yang didasarkan atas keyakinan bahwa orang-orang bertindak sebagai akibat dari kehendak bebasnya dan harus dianggap sebagai manusia yang bertanggung jawab, berkemuan dan bercita-cita.167 Bersamaan dengan itu, Jan Remmelink mengatakan, pemidanaan berupaya untuk merealisasikan hukum pidana materil dalam proses peradilan yang berarti pemidanaan identiknya dengan hukum acara pidana (hukum pidana formil).168

Teori-teori tentang pemidanaan pada umumnya memberikan postulat pemidanaan mengarah pada suatu bentuk pemberian penderitaan, jika penderitaan yang menjadi tujuan pemidanaan, berarti pemidanaan itu semata-mata untuk sarana pembalasan. Van Hamel mengatakan pemidanaan merupakan suatu penderiataan yang bersifat khusus (een bijonder leed).169 Simon mengatakan pemidanaan merupakan suatu penderitaan yang telah ditentukan oleh undang-undang.170 Sudarto mengatakan, pemidanaan merupakan suatu penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang bersalah.171

167 David Fogel dalam Teguh Prasetyo, Loc. cit.

168 Jan Remmelink, Loc. cit.

169 Van Hamel dalam P.A.F. Lamintang, Hukum Penitensir…Op. cit., hal. 34.

170Ibid., hal. 35.

171Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori…Op. cit., hal. 2.

Teori yang agak lembut tetapi maksudnya tetap sama dengan penderitaan dikemukakan oleh Roeslan Saleh yang mengatakan, pemidanaan merupakan reaksi atas delik dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan oleh negara kepada pembuat delik itu.172 Ted Honderich mengatakan, punishment is an authority’s infliction of penalty, something involving deprivation or distress, on an offender for an offence, pemidanaan merupakan suatu penderitaan dari pihak yang berwenang sebagai hukuman.173

L.H.C. Hulsman dengan teorinya berupaya menyerukan untuk tertib (tot de orde reopen) dengan menyatakan tujuan pemidanaan pada hakikatnya memiliki dua tujuan utama, yakni mempengaruhi tingkah laku (gedragsbeinloeding) dan penyelesaian konflik (conflictoplossing).

Teori-teori pemidanaan yang mengarah kepada suatu bentuk penderitaan sebagaimana telah dikemukakan tersebut di atas terlalu sempit, tidak lain merupakan suatu model pembalasan yang mengakibatkan penderitaan. Teori-teori ini digolongkan pada teori retributif yakni pemidanaan yang mengarah pada pemaksaan untuk menerapkan pidana. Perlu dikembangkan bahwa tujuan pemidanaan tidaklah untuk suatu penderitaan, tetapi di samping tujuannya untuk memberikan penderitaan, juga harus diintegrasikan dengan tujuan perbaikan terhadap pelaku kejahatan.

174

172Ibid.

173Ted Honderich dalam Muhammad Taufik Makarao, Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia, Studi Tentang Bentuk-Bentuk Pidana Khususnya Pidana Cambuk Sebagai Suatu Bentuk Pemidanaan, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), hal. 18.

174Muladi dan Barda Nawawi Arief, Op. cit., hal. 9.

Penyelesaian konflik mengarah pada

perbaikan kerugian yang dialami atau perbaikan hubungan yang dirusak atau pengembalian kepercayaan antar sesama manusia.175

Tujuan pemidanaan dalam penerapan pidana selama ini selalu berkaitan dengan peraturan perundang-undangan. Penerapan pidana tidak mengurangi terjadinya kejahatan, justru menambah kejahatan.176Mengenai tujuan pemidanaan dipandang sinis oleh Jeremy Bentham dengan paham utilitariannya, bahkan beliau mengatakan, “pemidanaan merupakan kejahatan (mischif)”.177 Alasan ini dapat diterima jika dilihat dari sisi manfaat dari diadakannya pemidanaan, sebab pemidanaan akan membawa manfaat jika pemidanaan itu mampu mencegah terjadinya kejahatan yang lebih besar dibandingkan dengan pemidanaan bagi pelaku kejahatan.178

175Muhammad Ekaputra dan Abul Khair, Op. cit, hal. 4.

176Mahmud Mulyadi dan Feri Antoni Surbakti, Politik Hukum Pidana Terhadap Kejahatan Korporasi, (Jakarta: Sofmedia, 2010), hal. 93.

177Syaiful Bakhri, Perkembangan Stelsel Pidana Indonesia, (Yogyakarta: Total Media, 2009), hal. 167.

178 Barbara A. Hudson, Understanding Justice: an Introduction to Ideas, Perpectives and Controversies in Modern Penal Theory, Second Edtition, (Great Britain: Open University Press, 2003), hal. 17-18.

Maksud Bentham di sini teori pemidanaan apapun jenisnya jika tidak membawa manfaat yang lebih besar kepada kelompok terbesar (masyarakat), maka pemidanaan itu adalah tidak berguna bahkan beliau katakan pemidanaan demikian adalah kejahatan (mischif). Ternyata aliran utilitarian ini dalam penjatuhan pidana juga memiliki pandangan tersendiri yang membedakannya dari pandangan teori-teori lain.

Keadilan yang ingin dibentuk oleh kaum utilitarian adalah situasi atau keadaan yang ingin dihasilkan dengan dijatuhkannya pidana dan penjatuhan pidana

Keadilan yang ingin dibentuk oleh kaum utilitarian adalah situasi atau keadaan yang ingin dihasilkan dengan dijatuhkannya pidana dan penjatuhan pidana