• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kini, jilbab telah benar-benar melahirkan makna yang lebih baru lagi. Baik maknanya secara personal maupun umum. Di mana-mana para perempuan, dari berbagai usia mengenakan jilbab dengan gayanya sendiri. Situasi seperti ini tidak lahir dalam setahun atau dua tahun. Semua berjalan perlahan. Orang-orang semakin terbiasa menemukan perempuan berjilbab, di manapun, siapapun. Tak ada lagi ledekan “Ninja” bagi pengguna jilbab. Hal sebaliknya malah dapat terjadi yaitu perempuan muslim yang tidak mengenakan jilbab bisa mengalami pengalaman tidak mengenakkan. Di masa 90-an mungkin tak dapat misalnya, jika ia memasuki wilayah yang jelas-jelas menggunakan Islam sebagai bagian penting, misalnya sekolah atau instansi, mereka harus mengenakan jilbab. Jika tidak mengenakan jilbab, seakan terdapat stigma bahwa mereka belum menjadi perempuan Muslim yang penuh.

Seorang kawan bertanya, “Apa makna jilbabmu sekarang?” Menjawab pertanyaan itu susah-susah gampang. Jilbab bagiku tidak lagi sebatas “kewajiban” atas nama agama ataupun sebagai perlindungan diri dari mata laki-laki. Cara memandang tubuh pun semakin cair seiring dengan pengalaman tubuh yang semakin beragam. Jilbab juga tidak lagi bermakna ketat dan berat seperti masa- masa sebelumnya. Meskipun sebaliknya, wacana jilbab semakin menguat. Ungkapan yang dibawa Mira saat dulu yang menyatakan bahwa jilbab tidak wajib, kini sulit didengar secara biasa saja. Alasan yang panjang dan lebar harus menyertainya jika tidak ingin dianggap sebagai bagian aliran Islam sesat.

Jika kau pergi ke toko buku, di sana dapat kau temukan aneka buku mengenai jilbab (kebanyakan ditulis oleh laki-laki) yang lebih mengedepankan pesan moral di dalamnya. Mereka ingin melihat kita menutup tubuh sedemikian rupa! Padahal mereka tidak tahu jilbab bukan sekadar melaksanakan aturan agama. Ya, ada saja penulis yang seperti itu. Atau kau juga bisa mencoba mengambil satu buku yang mengemukakan mengenai pendapat jilbab dari seorang selebritis misalnya, maka kau akan menemukan betapa jilbab terkadang diletakkan kedalam posisi yang terbatas. Posisi yang selalu ada pada batasan moral. Seakan segala kisah yang ada dibalik jilbab adalah kisah “positif” dan moralis semata. Apakah memang demikian adanya? Oleh karena itu, aku akan mengajakmu “menemui” kawan-kawanku sesama pengguna jilbab dan juga mantan pengguna jilbab. Mereka bukan selebritis. Mereka juga bukan politisi. Mereka adalah perempuan-perempuan yang mudah kau temui sehari-hari.

Mereka, adalah kawan-kawan yang mau berbagi mengenai pengalaman berjilbab. Sebagian besar aku telah mengenal mereka sebelumnya. Beberapa cara

kulakukan agar percakapan mengenai jilbab ini dapat berjalan dengan nyaman, seperti obrolan dua orang perempuan yang tengah curhat saja, bukan tengah melakukan wawancara yang kaku. Ada yang berhasil kulewati dengan nyaman, ada juga yang tidak. Semua bergantung pada berkelindannya obrolan. Masing-masing obrolan berjalan dalam waktu yang berbeda-beda. Ada yang berlangsung hingga tiga jam, bahkan ada juga yang cukup setengah jam saja.

***

Dalam bentangan sehelai kain yang sering disebut sebagai jilbab, kerudung, lalu kemudian hijab, kisah kami bernaung. Kami perempuan berbeda-beda latar belakang dan usia mengalami jilbab dalam rentang waktu tertentu. Bagiku, jilbab yang telah dialami selama hampir 20 tahun, mempunyai warna yang unik. Unik karena sekali waktu terasa begitu bermakna karena merasa menjadi lambang kepatuhan, di sisi lain penuh harapan untuk dapat terlindungi karena menggunakannya. Tetapi di sisi lain, sekali waktu terasa tidak bermakna apa pun selain sebatas cara berdandan tertentu.

Kisah dimulai ketika aku tiba di Kota Jakarta sebelum tengah hari. Tetapi begitu turun dari kereta api yang ber-AC, kurasakan terik hari mulai menyengat. Lagi-lagi aku merasa salah kostum. Tapi apakah aku memang salah kostum? Meski sudah kubuka pakaian luar berupa Cardigan, aku tetap kepanasan. Pada dasarnya tubuhku selalu saja menanggapi rasa panas kota secara tidak bersahabat. Saat ini aku akan menemui Rini di kantornya yang jaraknya lumayan jauh dari stasiun kereta Gambir.

Setelah merasakan teriknya panas matahari di perjalanan, aku bertemu dengan Rini di kantornya. Bukan hanya terpaan AC yang membuatku merasa tidak kegerahan. Tetapi sosok perempuan di depanku membuat gerahku lenyap. Rini, yang saat kuwawancarai masih tercatat sebagai mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tidak mengenakan jilbab atau kerudung. Aku sudah tahu ceritanya dari seorang kawanku yang mengatakan bahwa Rini adalah aktivis perempuan yang telah melepas jilbab belum lama ini. Cara Rini berpakaian sangat santai. Dia mengenakan rok selutut berpotongan lebar dengan padu padan kaos berlengan pendek. Hey, bukankah cara berpakaiannya ini adalah gaya berpakaian favoritku? Seperti saat aku tengah berada di pantai Yogyakarta? Ya, aku tiba-tiba mulai cemburu karena Rini, yang seorang aktivis perempuan, berusia jauh lebih muda daripada aku tetapi sanggup melepas cara berpakaian yang sudah lama akrab dengannya, yaitu jilbab. Rambutnya pun dipotong pendek hingga di atas telinga seperti potongan rambut laki-laki. Sungguh potongan rambut yang sangat berani pula. Kisah hidup seperti apa yang telah dialami oleh Rini sehingga berani memilih gaya yang sekarang?

Aku mulai bertanya, “Bagaimana awal kamu mengenal jilbab?” Rini menuturkan, “Aku sempat mengenakan jilbab permanen saat duduk di SMP. Di Sekolah Dasar pas lagi ngaji aja atau pas acara keluarga disuruh pakai jilbab oleh orang tua. Bukan keluarga pesantren, tapi kakek punya yayasan yang berafiliasi dengan Islam, Islam fundamental banget, literal Al-Qur’an bangetlah. Keluarga besar mengabdi di sana, kecuali orangtuaku. Sempat juga dipaksa mengabdi. Keluargaku mempunyai doktrin bahwa jilbab itu baik, berpahala dan itu ajaran agama. Jadi sejak SMP, aku dimasukkan ke yayasan kakek, dan pakai jilbab di situ,

semi pesantren. Aku juga harus tahajud setiap malam. Lulus SMP masuk pesantren di Banten, 2003. Empat tahun pesantren. 2007 Tmii aliran Gontor juga. Doktrin jilbab makin kental.” Sejujurnya, tak kusangka Rini berasal dari latar belakang keluarga kental keislamannya seperti itu. Apa tanggapan keluargnya jika mengetahui gayanya saat ini? Keberaniannya untuk memilih gaya yang sekarang tentu mempunyai pemicu yang kuat.

“Tapi, tepatnya siapa yang pertama kali mengenalkan jilbab sama kamu?” tanyaku. “Yang menyuruh berjilbab adalah ayahku. Ayah awalnya ngajarin bahwa perempuan harus tutup aurat. Naik kelas 4 SD sudah mulai pakai jilbab. Kalau beres ngaji ditanya ayah. Kalau pakai celana pendek bermasalah. Semakin dewasa semakin sangat dikontrol. SMP kalau keluar rumah ga pakai kerudung dimarahi ayah. Sedangkan, ibu, lebih mau membuka dialog. Tapi sejak ayah naik haji 2008, makin ketat. Di rumah juga ga boleh pakai baju tidur pendek padahal tadinya boleh. Kalau pake celana pendek, ayah ngambil sarung untuk kupakai. Sebenarnya ayah bukan keluaran pesantren tapi mendapat pengaruh dari kakek. Ajaran kakek, apa pun persoalan hidup maka kita harus kembali ke Al-Qur’an. Semuanya dikembalikan ke Al-Qur’an, mentah-mentah tanpa interpretasi. Ayahku Palembang, ibu Jawa. Keluarga ibu di Jawa lebih religius tapi tidak memaksakan. Untuk urusan keagamaan tidak ada pemaksaan. Tante-tantenya ada yang tomboy, pake rok mini, celana pendek, nenek tidak marah. Menurut nenek, mereka sudah diajari agama, mereka tahu mana yang baik/tidak. “ Jilbab telah masuk kedalam kehidupan Rini dengan warna yang cenderung ‘memaksa’ karena kekentalan Islam di keluarganya. Untuk hal semacam ini, aku tidak pernah mengalaminya. Keluargaku bukan keluarga yang mempunyai keterikatan khusus dan kuat dengan

organisasi Islam manapun, bukan pula keluarga santri. Rini mengenal jilbab lebih dahulu dari pihak luar, yaitu keluarga, bukan karena pencarian diri terlebih dahulu.

Dari penuturan Rini lebih lanjut tentang keluarganya, aku semakin sadar bahwa latar belakang keluarga kami sangat jauh berbeda sehingga cara berkenalan dengan jilbab pun sangat berbeda pula. “Ibu, karena ada pemahaman ikut suami, apa yang ayah katakan pasti baik. Sejak saat itu berjilbab permanen. “ Dengan menyimak cara Rini berhadapan dengan jilbab dan orangtua pun sangat berbeda. Dulu ayahku malah cukup heran dengan pilihanku untuk mengenakan jilbab. Aku pun tidak sembunyi-sembunyi untuk mengenakannnya.

Akibat merasa begitu dipaksanya untuk berjilbab, Rini bahkan sempat ketika ia sekolah di pesantren Rini sempat kabur. Rini bak seorang ketua sebuah kelompok anak muda, mengajak serta kawan-kawan sekelasnya untuk melarikan diri. Mereka lari ke daerah pantai. Di sana Rini membuka jilbabnya sambil berkata, “Apaan sih ini? Gue bete banget pake beginian.” Kawan-kawan perempuannya saat itu menegur Rini karena tindakannya melepas jilbab. Rini pada usia belia telah melakukan pemberontakan pertamanya, meski hanya beberapa saat. Rini kemudian kembali mengenakan jilbabnya. Ada rasa bersalah juga pada dirinya karena melepas jilbab. Tetapi pemberontakannya membawanya pada pertanyaan terus menerus mengenai ‘apa itu jilbab’.

Ketika di universitas, pencariannya tentang jilbab dimulai. Rini berpikir, bahwa tradisi jilbab bukan hanya terintegrasi dengan Islam. Banyak budaya yang juga kira-kira punya tradisi menutup tubuh seperti jilbab dalam Islam. Pikirnya,

“Oh tradisi jilbab ternyata tidak dimiliki Islam saja. Kebetulan saja aku berada dalam lingkungan Islam. Yahudi juga berjilbab, kalau begitu jilbab bukan tuntunan agama. Ada semacam budaya yanga berkelanjutan dengan jilbabnya itu.” Rini terus mempertanyakan dan memperluas wawasan tentang jilbab. Pertanyaan seperti cara menutup aurat di Timur Tengah yang berlaku bagi muslim maupun nonmuslim membawanya pada wawasan tentang menutup aurat akibat latar belakang geografis. Faktor seperti terik matahari dan debu di kawasan Timur Tengah adalah faktor-faktor yang mendukung cara menutup aurat sedemikian rupa. Rini menjelaskan juga tentang kalangan yang memahami jilbab sebagai pembacaan literal terhadap surat Annisa, yang diterjemahkan secara mentah lalu dikonsumsi secara mentah juga lalu disebut sebagai kewajiban.

Tetapi Rini menambahkan pikirannya mulai berubah saat bertemu dengan jilbab yang makin beragam. Ia juga menambah banyak literatur soal jilbab, yang menurutnya mulai dari pandangan yang sangat kanan sampai yang kiri sekali. Jilbab menurut Fatima Mernissi, Nasaruddin Umar, Quraish Shihab, juga menurut Musdah Mulia ia lahap. “Aku banyak melihat ulang, pemikiran garis lain, misalnya yang kanan banget seperti tuntunan berjilbab dalam Islam, terbitan buku-buku kanan. Sampai kemudian mengkaji secara sosio-kultural.

Seiring dengan pemahaman dan wawasan yang berubah dan bertambah, demikian juga yang terjadi pada jilbab yang dikenakannya. Rini mulai mengenakan celana panjang. Suatu waktu jilbabnya diikat ke belakang demi kepraktisan. Lalu berubah menjadi semacam sehelai selendang yang menyampir di pundak. Hingga kemudian ketika ia berkesimpulan bahwa jilbab lebih bersifat kontekstual, campuran antara budaya yang kental, Rini mulai berbeda dalama memaknai

jilbabnya. Sejak Oktober 2012 Rini secara permanen melepaskan jilbab dari tubuhnya. Seiring dengan itu, makna jilbab di kepalanya berubah menjadi lebih konseptual. “Jilbab adalah cara menutup diri kita, individu kita sendiri dari hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Misalnya korupsi atau mencuri.”

Dengan berapi-api, Rini berusaha menyimpulkan, “Adanya budaya, ayat- ayat kewajiban. Tapi apa yang disebut menutup aurat? Baik laki-laki maupun perempuan harus menundukkan pandangan. Tidak ada hubungannya dengan fisik karena menutup pandangan. Aku mengkaji ulang, belajar, bertanya: aurat adalah bagian aman diri kita, menutup individu kita dari merugikan orang lain. Tutup diri kita dari hal- hal yang merugikan orang lain misalnya korupsi atau mencuri. Aurat tidak hanya sekadar fisik yang ditutupi. Kesimpulan itu juga bertahap berpengaruh pada caraku berjilbab: awalnya pake celana, jilbab diikat.... per kesimpulan itu mengubah penampilan. Sambil melihat bahwa ada pola yang berbeda dalam penggunaan jilbab. Beda dengan Timur Tengah yang jilbabnya seragam. Sementara Malaysia berbeda, jilbabnya lebih beragam.” Rini juga turut menjelaskan sejarah jilbab di Indonesia, “Awalnya tahun 80-an doktrin jilbab masuk ke Indonesia yaitu pasmina panjang itu. Tudung, orang minang, orang Jawa...jilbab masuk ke indonesia melebur ke indonesia harus melebur seperti itu. Tahap melepas jilbab ga ujug-ujug: rok, celana, jilbab mulai naik. Aurat bukan persoalan fisik semata. Bukan sekadar fisik yang ditutup-tutupi. Tahap aku melepas jilbab itu sangat bertahap juga. Klimaks dari pergulatan itu aku menyimpulkan aurat adalah individu, mampu menghargai tubuh orang lain, diri orang lain. Lalu kemudian melepas jilbab yang ternyata hanya menjadi simbol semata..”

Aku bertanya lagi, “Ketika melepas mulai berubah cara berjilbabnya, bagaimana reaksi lingkunganmu?” Rini menjelaskan: Di pekerjaan responsnya baik-baik saja. Tetapi di kampus, ikut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai Ketua Umum Sekretariat (Desember 2012). Waktu itu diminta isi materi pelatihan kaderisasi HMI cabang Ciputat dan Yogyakarta. Pada saat melepas jilbab Bulan Oktober, teman-teman sudah pada tahu, bikin tulisan difacebookjuga. Tapi ketika diundang isi materi ngga pakai jilbab belum pada tahu. Ketika mengisi materi selama 15 menit, aku diberhentikan, lalu disuruh keluar. Dipanggil fasilitator. Panitia memanggilku, ‘Kak dipanggil fasilitator, penting kak, kak sangat penting.’ Panggilan sudah tiga kali berarti sangat urgent. Di luar ruangan 5 fasilitator laki- laki, menghakimi: ‘kampus kita kampus Islam, dan kampus Islam mengajarkan berjilbab, dan bahwa Islam mengajarkan bahwa HMI adalah Islam, karena kultur kita karena Islam mengajarkan berjilbab, tuntunan Islam. Intinya aku dianggap menyalahi aturan. Tawaran solusi saat itu: lanjutkan mengisi forum dengan mengenakan jilbab. Aku katakan kepada mereka, ini bukan solusi tapi paksaan. Jika aku ikut solusi itu, bisa dibayangkan apa yang ada di kepala peserta, mahasiswa semester satu yang masih polos. Tadinya saya engga pake jilbab isi materi, disuruh keluar oleh fasilitator lalu masuk lagi kedalam pakai jilbab. Mereka akan berpikir bahwa yang tadi (ga pakai jilbab) itu salah, sekarang yang pakai adalah benar. Aku tak mau ambil resiko itu. Lalu aku akhirnya keluar. Aku kaget karena ini HMI Ciputat, bukan Sumatera atau Aceh yang masih konservatif. Itu sebuah pukulan sekaligus refleksi diri bahwa pemaknaan jilbab sedemikian rupa itu sudah telalu jauh dan tidak ada yang menggugat.” Selain pengalaman yang tidak mengenakkan tersebut, Rini juga tiba-tiba saja dipandang berbeda oleh kakak seniornya. Tiba-

tiba seorang senior mengajaknya untuk tidur! Rini berusaha untuk tidak langsung murka saat itu. Ia ajak berdebat kakak seniornya yang kurang ajar itu. Tetapi Rini mengakui bahwa ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman seperti itu.

“Sekarang pandangan Rini terhadap perempuan yang berjilbab bagaimana?” tanyaku. Rini menjawab, “Menghargai sekali. Mereka punya komintmen religi terhadap Tuhan, selama mereka tidak maksain pemahaman ke orang lain. “Aku bertanya lagi, “Masalah di urusan privat bagaimana?” Rini menjelaskan lagi, “Hubungan dengan Tuhan gimana? Aku lebih menikmati Tuhanku sekarang, lebih ramah, Tuhan masa lalu sangat membelenggu. Aku selalu dipenuhi oleh dosa. Kalau buka jilbab selalu merasa dosa, Tuhan saat itu sangat membelengguku. Kalau kritis sedikit takut sesat. Tuhan sangat membelenggu. Sekarang, semakin banyak interaksi, Tuhan rasanya sangat ramah.”

Pertanyaan berikutnya yang kuajukan adalah soal perasaan. “Sekarang merasa lebih baik nggak, Lin?” Rini menjawab, “Mungkin secara pemaknaan iya, tapi ritus sudah berbeda. Puasa Senin-kamis, shalat tahajud, dan lain-lain belum bisa menikmati lagi.” Kini pertanyaan beralih ke soal spesifik tentang tubuh. “Bagaimana Rini memaknai tubuh sekarang?” Rini menjelaskan lagi: Setelah banyak berkenalan dengan tulisan Michel Foucault, soal relasi kuasa, tentang tubuh perempuan, bagaimana penghargaan terhadap tubuh. Tubuh bukan sekadar tubuh tapi integral dengan kemanusiaan. Kalau dulu tubuh perempuan ini adalah sebuah aib yang ditutupi, maka hari ini tidak lagi, tubuh yang harus dihargai yang teritegrasi dengan kemanusiaan. Konsep cantik: cantik adalah yang mampu menghargai isi kepalanya.”

Aku mulai bertanya tentang fenomena jilbab saat ini, “Lalu bagaimana tentang tren jilbab sekarang?” tanyaku. Rini menjawab, “Manis, dan menghabiskan banyak waktu. Itu fesyen saja, turunan pemaknaan, bukan sekadar budaya tapi juga fesyen. Tapi sah-sah aja jilbab dianggap fesyen. Perkembangan pemahaman soal jilbab makin luas, sekalipun tidak semuanya bisa luas. Jilbaber: kanan banget. Sedangkan hijaber, sebagai sebuah fesyen. Ada juga yang beriringan: modis tapi syar’i. “

Ketika aku berefleksi terhadap cara Rini memaknai jilbabnya, perubahan yang dialaminya, lalu mengubah pada caranya mengenakan jilbab, hingga ia melepasnya, aku tidak seperti itu. Makna jilbab terjadi justru karena adanya pengalaman tubuh secara khusus, seperti tidak terlindunginya tubuh dari gangguan laki-laki. Tetapi saat aku mengalami perubahan makna jilbab, tidak begitu berpengaruh terhadap caraku berjilbab. Aku tidak pernah mengalami mengenakan jubah atau baju kurung. Aku tidak pernah mau memilihnya. Terlebih mungkin karena tidak ada yang memaksaku untuk mengenakannya. Semua kupilih sendiri, mulai dari berjilbab hingga cara mengenakannya. Bisa dibilang perubahan jilbab pada diriku hanya terjadi di dalam kepala dan hatiku saja. Meskipun aku mempunyai penyakit migrain yang cukup mengganggu, aku tidak serta merta melepasnya. Bahkan hingga empat tahun lalu, aku tidak pernah memikirkan untuk sekalipun melepasnya, apalagi secara permanen. Hal ini mengingatkanku pada responden lainnya, ia adalah Marlina.

Marlina adalah kawanku semasa aku seringkali menjadi mahasiwa pendengar di jurusan Filsafat dan Teologi, Universitas Parahyangan. Sebenarnya aku baru mengetahui bahwa ia pernah mengenakan jilbab belum lama ini. Ketika

aku sudah mulai sering mendatangi Unpar, Marlina sudah tidak mengenakan jilbab sama sekali. Oleh karena itu aku tertarik untuk menjadikan pengalamannya untuk dipadankan dengan pengalamanku dalam penelitian tentang jilbab ini. Ternyata Marlina mengenakan sejak sekolah menengah. Tetapi ketika suatu waktu karena migrainnya kambuh, ia tidak mengenakan jilbab. Jilbab yang dikenakannya bersifat permanen hingga menjadi mahasiswa di perguruan tinggi sebelumnya. Unpar adalah tempat kedua setelah ia tidak menyelesaikan di tempat pertama. Sebelum masuk Unpar, Marlina masih mengenakan jilbab. Sudah sejak lama pula ternyata Marlina sering mengalami sakit kepala yaitu migrain.

Pembawaan personal Marlina memang begitu santai dan ceria. Termasuk ketika ia menuturkan tentang ihwal ia membuka jilbab. “Saya waktu itu mau nonton ke bioskop sama pacar. Tapi kepala berat karena migrain. Saya coba ah ga pake jilbab. Eh ternyata enak.“ Marlina menuturkannya dengan santai sambil diiringi tawa. Bahkan Marlina mengaku tidak begitu merasa bersalah. “Saya mah buka jilbabnya bukan karena alasan ideologis.” Begitu ia mengatakannya kepadaku dengan santainya. Sosok Marlina maupun latar belakang hidupnya memang tidak sama persis seperti halnya Rini. Jilbab dikenal Marlina juga tanpa paksaan. Sungguh aku takjub dengan cara penyikapan Marlina yang sedemikian santai saat ia melepas jilbab secara permanen itu.

Pengalaman responden lainnya, tak kalah unik dan menariknya. Tetapi sosok dan perjalanan jilbab pada Mariana memiliki banyak kesamaan denganku. Terutama tentang pilihannya untuk tetap mengenakan jilbab meski pandangannya sudah lebih cair. Ia adalah Mariana yang kuwawancarai tepat setelah bertemu Rini

di Jakarta. Mariana lahir di Batang Jawa Tengah. Latar belakang keluarga terkait erat dengan Nahdhatul Ulama (NU). “NU jeklek.” Begitu terang Mariana soal keterikatan keluarganya terhadap tradisi NU. Mariana meskipun lahir di keluarga NU, tetapi karena ia terlambat mendaftar sekolah, akhirnya memilih masuk Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah. Padahal menurut pengakuannya, masyarakat di kampungnya membenci Muhammadiyah sampai-sampai mereka punya selorohan, “Lebih baik menyekolahkan anak di sekolah Kristen daripada di sekolah Muhammadiyah.” Tetapi karena Mariana tidak menemukan sekolah lain, ia masuk sekolah Muhammadiyah tersebut lalu mengikuti aktivitas IRM(Ikatan Remaja Muhammadiyah). Di dalam organisasi tersebut, siswa yang bisa ikut hanyalah siswa teladan. Selain itu, jilbab adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi saat beraktivitas di IRM. Mariana mengakui bahwa selama berada di IRM, ia mendapatkan kedalaman nilai-nilai spiritual.

Cara Mariana mengenakan jilbab tersebut sebenarnya tidak sama dengan aliran NU. Mariana menegaskan bahwa jilbab dalam tradisi NU lebih bersifat batiniah, yaitu “yang penting dijilbabi itu adalah hati.” Pengalaman Mariana yang berasal dari keluarga beraliran NU, menjadi sangat unik karena ia memilih untuk mengenakan jilbab yang menutupi tubuh, yang ukurannya pun serba panjang. Mariana berseloroh bahwa gayanya tersebut karena “tersesat” bersekolah di sekolah yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, lalu aktif berorganisasi di Ikatan Remaja Muhammadiyah yang mewajibkan penggunaan jilbab. Saat itu, tahun 1998, Mariana masih duduk di kelas satu. Tetapi jilbab sudah dikenakannya, dengan

Dokumen terkait