DALAM PROVISI
C. DALAM PETITUM
I. Dalam Eksepsi
[3.18] Menimbang bahwa Termohon dalam jawabannya selain membantah dalil pokok permohonan juga mengajukan tiga macam eksepsi, yaitu eksepsi tentang tenggang waktu pengajuan permohonan, eksepsi tentang obscuur libel, dan eksepsi tentang kompetensi absolut;
Eksepsi Tenggang Waktu
[3.19] Menimbang bahwa Termohon dan Pihak Terkait, masing-masing
membantah permohonan Pemohon dengan alasan hukum pengajuan
permohonan Pemohon telah melewati tenggang waktu yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 106 ayat (1) menyatakan, “Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan
kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah”,
dan ayat (2) menyatakan, “Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon”;
b. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah, Pasal 5 menyatakan, “Permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan suara
Pemilukada diajukan ke Mahkamah paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Termohon menetapkan hasil penghitungan suara Pemilukada di daerah yang bersangkutan”;
Bahwa hasil perolehan suara a quo terkadang dimuat dalam berita acara hasil perolehan suara hasil perolehan suara yang berarti objectum litis pemilukada adalah rekapitulasi hasil perolehan suara, bukan penetapan calon terpilih, yang menjadi dasar pengajuan sengketa Pemilukada yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota. Terkadang pula ditetapkan dalam penetapan tersendiri, bahkan terkadang ditetapkan menjadi satu kesatuan antara hasil perolehan suara dengan penetapan calon terpilih.
Bahwa dalam praktiknya, Mahkamah menemukan adanya disvaritas keputusan dan/atau penetapan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota yang menunjukkan perbedaan pemahaman bagi Pemohon dalam mengajukan permohonan sengketa pemilihan umum kepala daerah yang sangat merugikan Pemohon;
Bahwa Mahkamah dalam berbagai putusannya telah menentukan objectum litis yang digariskan undang-undang adalah keputusan atau penetapan Komisi Pemilihan Umum Provinsi/Kabupaten/Kota tentang hasil perolehan suara bagi peserta Pemilukada;
Bahwa fakta hukum menunjukkan Pemohon dengan mendasarkan
permohonannya pada Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Gowa Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Gowa Periode 2010-2015, bertanggal 2 Juli 2010 (vide Bukti P-1), telah mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi pada 7 Juli 2010 sebagaimana tercantum pada Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 263/PAN.MK/2010. Sedangkan Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tingkat Kabupaten Oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Gowa adalah bertanggal 28 Juni 2010 (vide Bukti T-2), dengan demikian, seharusnya tenggang waktu pengajuan permohonan perselisihan hasil pemilihan umum adalah 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal 28 Juni 2010, yaitu Selasa, 29 Juni 2010; Rabu, 30 Juni 2010; dan Kamis, 1 Juli 2010. Karena pengajuan
permohonan Pemohon pada Rabu, 7 Juli 2010, telah melampaui tenggang waktu yang ditentukan, Mahkamah menilai isi eksepsi Pemohon dan Pihak Terkait berdasar dan beralasan hukum, sehingga permohonan Pemohon harus dikesampingkan;
Eksepsi tentang Kompetensi Absolut
[3.20] Menimbang bahwa baik Termohon maupun Pihak Terkait membantah dalil hukum Pemohon dengan menyatakan bahwa Mahkamah tidak berwenang mengadili perkara ini dengan alasan bahwa objectum litis seperti permasalahan ijazah palsu, penggelembungan suara pemilih, ketidaknetralan Pegawai Negeri Sipil, adalah ranah Panwaslu, Kepolisian, atau penegak hukum lainnya;
Bahwa di dalam sengketa Pemilukada dapat dikategorikan beberapa pelanggaran pemilukada, antara lain, pelanggaran administrasi Pemilukada; pelanggaran kode etik; perselisihan hasil Pemilukada; sengketa dalam proses Pemilukada; dan pelanggaran pidana Pemilukada seperti money politic, penganiayaan, intimidasi, yang notabene jenis-jenis pelanggaran a quo masing-masing ditangani oleh instansi yang fungsi dan wewenangnya telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan;
Bahwa Mahkamah dalam menangani sengketa Pemilu maupun Pemilukada telah memaknai dan memberikan pandangan hukum melalui putusan-putusannya dengan memberikan penafsiran yang luas, yaitu dalam penanganan perkara perselisihan hasil pemilihan umum, Mahkamah tidak hanya terpaku pada ketentuan Pasal 106 ayat (1) UU 32/2004 maupun Pasal 4 PMK 15/2008 yang selengkapnya menyatakan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 106 ayat (1) menyatakan, “Keberatan terhadap penetapan hasil pemilihan
kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah”,
dan ayat (2) menyatakan, “Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon”;
b. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah, Pasal 4
menyatakan, “Objek perselisihan hasil Pemilukada adalah hasil penghitungan
suara yang ditetapkan oleh Termohon yang mempengaruhi: a. penentuan Pasangan Calon yang dapat mengikuti putaran kedua Pemilukada; atau b. terpilihnya Pasangan Calon sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah”;
Bahwa dalam mengemban misinya sebagai pengawal konstitusi, tidak dapat memainkan peranannya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan negara dalam memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi warga masyarakat jika dalam menangani sengketa Pemilukada hanya menghitung perolehan suara secara matematis, yang berarti Mahkamah tidak dapat atau dilarang memasuki proses peradilan yang nyata-nyata terbukti adanya suatu tindakan hukum yang mencederai hak asasi manusia, terutama hak politik. Lebih dari itu, apabila Mahkamah diposisikan untuk membiarkan proses pemilu atau pemilukada berlangsung tanpa ketertiban hukum yang pada akhirnya melanggar prinsip pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Jika demikian, maka Mahkamah selaku institusi negara hanya menjadi “tukang stempel” saja dalam menilai kinerja Komisi Pemilihan Umum Provinsi/Kabupaten/Kota, yang hal tersebut melenceng jauh dari filosofi dan tujuan diadakannya peradilan atas sengketa hasil Pemilu;
Bahwa dari pandangan hukum di atas, Mahkamah dalam mengadili sengketa pemilukada tidak hanya membedah permohonan yang hanya melihat hasil perolehan suara an sich, melainkan Mahkamah juga meneliti secara mendalam adanya pelanggaran yang bersifat sistematis, masif, dan terstruktur, dan ini terbukti berbagai Putusan Mahkamah Konstitusi telah memberikan makna hukum dan keadilan dalam penanganan perkara baik dalam rangka pengujian undang-undang maupun dalam perkara perselisihan hasil pemilu ataupun pemilukada; Berdasarkan pandangan hukum di atas maka eksepsi Termohon tentang ruang lingkup kewenangan Mahkamah adalah tidak tepat dan tidak beralasan hukum, sehingga Mahkamah berwenang mengadili pelanggaran Pemilu atau Pemilukada untuk menentukan apakah ada pelanggaran-pelanggaran yang bersifat sistematis, terstruktur dan masif, termasuk penghitungan hasil perolehan suara yang berpengaruh terhadap penetapan hasil Pemilu atau Pemilukada;
Eksepsi tentang Obscuur Libel
[3.21] Menimbang bahwa baik Termohon maupun Pihak Terkait juga mengajukan eksepsi bahwa permohonan Pemohon kabur, tidak jelas, dan
semata-mata hanya asumsi belaka, Mahkamah berpendapat bahwa eksepsi a quo tidak tepat menurut hukum karena substansi eksepsinya berkaitan dengan pokok perkara (bodem geschil) sehingga eksepsi a quo harus dikesampingkan;