BAB II KAJIAN PUSTAKA
G. Dampak Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan pada umumnya memiliki dampak positif dan juga memiliki dampak negatif. Dampak positif alih fungsi lahan adalah majunya pembangunan dan tercukupinya fasilitas-fasilitas baik pendidikan, kesehatan,
Eriska Meidayanti, 2014
Perubahan Orientasi Pekerjaan Sebagai Dampak Alih Fungsi Lahan (Studi Kasus Di Desa Padaasih Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bandung Barat)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |perpustakaan.upi.edu
hiburan, olah raga, transportasi dan sebagainya. Bahkan alih fungsi lahan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan dibangunnya perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik yang bisa menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Namun, alih fungsi lahan secara besar-besaran dapat mengakibatkan dampak negatif. Alih fungsi lahan dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Sumaatmadja (dalam Sudiana, 2012, hlm. 20) mengemukakan bahwa:
Pergeseran fungsi tata guna lahan tanpa memperhatikan kondisi geografis yang meliputi segala faktor fisik dengan daya dukungnya dalam jangka panjang akan membawa dampak negatif terhadap lahan dan lingkungan bersangkutan yang akhirnya pada kegiatan manusia itu sendiri.
Selanjutnya Fajarwanto (2011, hlm. 22-23) mengemukakan bahwa:
Perubahan lingkungan yang terjadi sebagai akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman berupa berkurangnya lahan hijau yang menyebabkan permukaan yang kedap air bertambah, sehingga makin sedikit air yang meresap ke dalam tanah. Rendahnya penambahan air tanah melalui infiltrasi pada musim hujan akan menyebabkan menurunnya pasokan air pada musim kemarau, sementara kebutuhan air irigasi pada musim kemarau meningkat. Dampaknya selain menurunnya luas daerah layanan irigasi, menurunnya intensitas tanaman bahkan dapat menyebabkan kekeringan. Kondisi demikian dapat berdampak terhadap penurunan produksi pangan secara nasional.
Dalam penelitian Marlina (2009) di Desa Padalarang dalam kurun waktu 1998-2007 perubahan penggunaan lahan terjadi sangat cepat. Sebagian besar penggunaan lahan pertanian berubah menjadi pemukiman, sehingga berakibat pada debit air limpasan permukaan di daerah penelitian. Air limpasan (Run Off) dapat diartikan sebagai air yang dalam perjalanannya menuju saluran berada di atas permukaan tanah. Lahan pertanian yang berubah menjadi pemukiman diantaranya tegalan, sawah irigasi dan kebun. Debit limpasan bertambah dalam kurun waktu 10 tahun. Tahun 1998 debit air limpasan penggunaan lahan dan pemukiman sebesar 1.265.873.607 m3/tahun. Kemudian bertambah hampir dua kali lipat menjadi 2.351.747.214 pada 2007. Dalam waktu 10 tahun debit
Eriska Meidayanti, 2014
Perubahan Orientasi Pekerjaan Sebagai Dampak Alih Fungsi Lahan (Studi Kasus Di Desa Padaasih Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bandung Barat)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |perpustakaan.upi.edu
limpasan penggunaan lahan pertanian dan pemukiman bertambah 1.085.873.607 m3. Apabila dihitung setiap tahunnya debit limpasan permukaan bertambah sebesar 108.587.360,7 m3/tahun. Meningkatnya debit air limpasan permukaan dapat merugikan manusia sendiri, karena akan memengaruhi cadangan air dan erosi akan sering terjadi.
Sihaloho (dalam Agustin, 2014, hlm. 4) menjelaskan bahwa konversi lahan berimplikasi pada perubahan struktur agraria. Adapun perubahan yang terjadi, yaitu:
1. Perubahan pola penguasaan lahan. Perubahan yang terjadi akibat konversi yaitu terjadinya perubahan penguasaan tanah. Petani pemilik berubah menjadi penggarap dan penggarap berubah menjadi buruh tani. Implikasi dari perubahan ini adalah buruh tani sulit untuk mendapatkan lahan dan terjadi proses marginalisasi;
2. Perubahan pola penggunaan lahan. Konversi lahan menyebabkan pergeseran tenaga kerja dalam pemanfaatan sumber agraria. Konversi lahan pertanian menyebabkan perubahan pada pemanfaatan tanah dengan intensitas pertanian yang makin tinggi;
3. Perubahan pola hubungan agraria. Tanah yang semakin terbatas menyebabkan berubahnya sistem pembagian hasil, demikian juga munculnya sistem tanah baru, yaitu sistem sewa dan jual gadai;
4. Perubahan pola nafkah agraria. Keterbatasan lahan pertanian dan keterdesakan ekonomi rumah tangga menyebabkan pergeseran mata pencaharian dari pertanian menjadi non pertanian;
5. Perubahan sosial dan komunitas. Konversi lahan menyebabkan kemunduran kemampuan ekonomi (pendapatan yang semakin menurun).
Alih fungsi lahan tidak hanya berdampak terhadap perubahan lingkungan fisik karena perubahan penggunaan lahan, tetapi juga perubahan kondisi sosial bahkan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat karena berubahnya kondisi alam, kegiatan, sumber penghasilan dan perubahan kondisi ekonomi.
Soekanto (2007, hlm. 374) mengemukakan dampak pada sistem sosial budaya diartikan sebagai “pelanggaran terhadap sistem sosial budaya, tubrukan
terhadapnya ataupun benturan. Hal itu berarti bahwa dalam keadaan–keadaan tertentu terjadi masalah-masalah berfungsinya sistem sosial budaya tersebut.”
Eriska Meidayanti, 2014
Perubahan Orientasi Pekerjaan Sebagai Dampak Alih Fungsi Lahan (Studi Kasus Di Desa Padaasih Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bandung Barat)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |perpustakaan.upi.edu
Dampak sosial alih fungsi lahan berupa masalah yang disebabkan oleh faktor ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran. Alih fungsi lahan berarti menyusutnya sarana produksi petani yang menyebabkan berkurang pula pendapatan petani, sehingga petani mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk memenuhi kebutuhannya kemudian petani melakukan perubahan orientasi pekerjaan.
Masyarakat yang pada mulanya bekerja sebagai petani akan mengandalkan pekerjaan pada sektor lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagian masyarakat yang memiliki keahlian akan bekerja pada pekerjaan lain di luar sektor pertanian, seperti sektor industri atau jasa, sementara mereka yang tidak memiliki keahlian lain akan menjadi pengangguran. Kemiskinan dan pengangguran jika dibiarkan dapat memicu masalah sosial lain seperti kejahatan, peperangan dan pelanggaran terhadap norma masyarakat.
Hal lain yang dapat menjadi masalah adalah tingginya tingkat urbanisasi.
Menurut Dirdjosisworo (dalam Naszir, 2008, hlm. 51) “urbanisasi berasal dari
kata urban (kota) yang berarti mengalirnya penduduk dari desa ke kota dalam wilayah suatu Negara tertentu, sehingga terjadilah pemusatan penduduk di
kota-kota besar.”
Meningkatnya alih fungsi lahan menyebabkan banyak penduduk desa yang pergi ke kota karena di kota banyak didirikan pusat-pusat industri yang dapat menyerap tenaga kerja. Hal inilah yang mendorong terjadinya urbanisasi yang menyebabkan ledakan jumlah penduduk di kota. Hal ini seperti pendapat Dwyer, Sing dan Suharso (dalam Naszir, 2008, hlm. 69) berpendapat sama yaitu “sebab
dari perpindahan penduduk desa ke kota adalah karena kekurangan tanah dan
rendahnya pendidikan atau motivasi ekonomi.”
Selain itu Hauser, dkk (dalam Naszir, 2008, hlm. 70) mengemukakan faktor-faktor yang memengaruhi urbanisasi yaitu :
1. Perubahan teknologi yang lebih cepat di bidang pertanian dari pada di bidang bukan pertanian, yang mempercepat arus penduduk dari pedesaan;
Eriska Meidayanti, 2014
Perubahan Orientasi Pekerjaan Sebagai Dampak Alih Fungsi Lahan (Studi Kasus Di Desa Padaasih Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bandung Barat)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |perpustakaan.upi.edu 2. Kegiatan produksi untuk ekspor terpusat di kawasan kota. 3. Pertambahan alami yang tinggi di pedesaan;
4. Susunan kelembagaan yang membatasi daya serap pedesaan, seperti: sistem pemilikan tanah, kebijakan harga dan pajak yang bersifat menganak-emaskan penduduk perkotaan;
5. Layanan pemerintah yang lebih berat pada perkotaan;
6. Kelembagaan (inertia) faktor negatif yang menahan penduduk tetap tinggal di pedesaan;
7. Kebijakan perpindahan penduduk oleh pemerintah dengan tujuan mengurangi arus penduduk dari pedesaan ke perkotaan.
Dampak urbanisasi terhadap masalah perkotaan menurut Naszir (2008, hlm. 91-94) :
1. Melonjaknya jumlah penduduk
Perpindahan penduduk ke perkotaan menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan. Jumlah penduduk yang besar di kota menambah masalah baru terutama kepadatan penduduk akan berpengaruh pada sanitasi lingkungan, pemukiman kumuh, kriminalitas dan lain sebagainya.
2. Menjamurnya sektor informal
Sektor informal timbul sebagai produk perekonomian kota dan adanya urbanisasi. Kegiatan sektor informal ini dapat disebutkan seperti, pedagang kaki lima, penjual surat kabar, pedagang rokok di perempatan jalan yang strategis, dan sebagainya. Mereka yang terjun ke dalam kegiatan sektor informal ini sebagian besar tidak dibekali keterampilan dan bekal yang cukup, oleh karena itu untuk mencukupi kebutuhan hidup dan mempertahankan kehadirannya mereka terjun ke dalam kegiatan sektor informal. Sektor informal didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang bersifat marginal (kecil-kecilan) yang mempunyai beberapa ciri seperti kegiatan yang tidak teratur, tidak tersentuh peraturan, bermodal kecil dan bersifat harian, tempat tidak tetap, berdiri sendiri, berlaku di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah, tidak memerlukan keahlian dan keterampilan khusus, lingkungan kecil/keluarga, dan tidak mengenal sistem perbankan, pembukuan maupun perkreditan.
3. Kemerosotan lingkungan kota
Kemerosotan lingkungan kota dapat dilihat dari semakin banyaknya penduduk pendatang mendiami lokasi-lokasi di luar kemampuan dukungan lingkungan tempat mereka tinggal, akibatnya daerah itu semakin padat, bangunan semakin berhimpitan, penyempitan sungai karena pinggirannya didirikan bangunan liar yang dapat menyebabkan banjir di musim hujan. Selain itu polusi udara akibat tingginya pertambahan kendaraan bermotor dan permasalahan sampah juga
Eriska Meidayanti, 2014
Perubahan Orientasi Pekerjaan Sebagai Dampak Alih Fungsi Lahan (Studi Kasus Di Desa Padaasih Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bandung Barat)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |perpustakaan.upi.edu
menjadi indikator kemerosotan lingkungan akibat tingginya jumlah penduduk di perkotaan akibat urbanisasi.
4. Timbulnya pengangguran, gelandangan dan kriminalitas
Urbanisasi yang mengakibatkan kepadatan dan konsentrasi penduduk yang berlebihan di perkotaan dapat menimbulkan berbagai masalah kebutuhan pokok seperti makanan, lapangan kerja, perumahan, pendidikan dan lain sebagainya. Dahulu di desa-desa tidak dikenal adanya masalah pengangguran dan gelandangan atau sifatnya sangat kecil sekali dan merupakan pengecualian, tetapi sekarang jumlahnya sudah mulai meningkat dan memacu mereka untuk pergi ke kota. Gejala pengangguran, gelandangan, dan kriminalitas di daerah perkotaan sering disebutkan karena produk urbanisasi yang sangat diperhitungkan sebagai indikator masalah dalam pembangunan kota. Alih fungsi lahan dapat menyebabkan pengangguran di desa oleh karena itu mereka bermigrasi ke kota, umumnya mereka yang merupakan pekerja kasar atau petani dengan latar belakang pendidikan yang rendah tidak mudah dalam mencari pekerjaan yang layak sesuai harapan hidup yang layak. Akibatnya mereka asal bekerja untuk mempertahankan hidup di kota, hal ini mendorong timbulnya gelandangan dan kejahatan-kejahatan di kota-kota.
5. Masalah pengadaan perumahan
Tingginya arus urbanisasi akibat alih fungsi lahan pertanian menyebabkan masalah perumahan di perkotaan. Berbeda dengan situasi di desa-desa lahan untuk perumahan masih tersedia dengan harga dan pembangunan perumahan relatif murah; rata-rata keluarga dapat mendirikan rumah mereka yang secara kuantitatif perumahan di pedesaan tidak menjadi masalah, hanya dari segi kualitatif mungkin masih membutuhkan pendidikan teknik konstruksi maupun bangunan, yang sudah tentu berbeda dan bertolak belakang masalahnya dengan kondisi di kota-kota. Jumlah penduduk kota yang bertambah akibat arus urbanisasi menyebabkan kebutuhan terhadap perumahan juga meningkat. Sementara jumlah lahan di perkotaan terbatas dan harga lahan serta pembangunanya relatif mahal, sehingga banyak para pendatang di perkotaan mendirikan bangunan-bangunan liar untuk tempat tinggal. Bangunan liar yang didirikan di lahan yang bukan untuk perumahan dan konstruksi seadanya menyebabkan timbulnya perkampungan-perkampungan kumuh di perkotaan.
Alih fungsi lahan tidak hanya berdampak terhadap perubahan lingkungan fisik karena perubahan penggunaan lahan, tetapi juga perubahan kondisi sosial bahkan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat karena berubahnya kondisi
Eriska Meidayanti, 2014
Perubahan Orientasi Pekerjaan Sebagai Dampak Alih Fungsi Lahan (Studi Kasus Di Desa Padaasih Kecamatan Cisarua
Kabupaten Bandung Barat)
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |perpustakaan.upi.edu
alam, kegiatan, sumber penghasilan dan perubahan kondisi ekonomi. Dampak sosial alih fungsi lahan berupa masalah yang disebabkan oleh faktor ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran. Meningkatnya kemiskinan dan pengangguran di desa dapat menyebabkan meningkatnya arus urbanisasi karena masyarakat pindah dan mencari pekerjaan di kota. Tingginya arus urbanisasi dapat menyebabkan berbagai permasalahan di kota diantaranya dapat menyebabkan melonjaknya pertumbuhan penduduk, menjamurnya sektor informal, kemerosotan lingkungan kota, timbul pengangguran, gelandangan dan kriminalitas serta masalah pengadaan perumahan sehingga menimbulkan lingkungan kumuh di perkotaan.